4.000 Buruh Dirumahkan, Nike Kabur ke Cirebon: Membedah PHK di Pabrik Sepatu yang Menopang Sepertiga Produksi Dunia
4.000 buruh Feng Tay Bandung dirumahkan, Tangerang kehilangan ribuan pekerjaan, Nike pindah ke Cirebon. Ini angka-angka di balik gelombang PHK pabrik sepatu.
Daftar isi9 bagian
Ringkasan Cepat
4.000 dari ~14.000 buruh PT Feng Tay di Kabupaten Bandung β pemasok sepatu Nike β dirumahkan sejak Juni 2026 karena pesanan produksi sudah selesai dan order baru belum turun. PHK permanen sempat mengancam, tapi akhirnya dibatalkan lewat skema jam kerja dipotong dan bonus dipangkas, bukan gaji pokok.
Di Tangerang, Victory Chingluh dan Adis Dimension Footwear β dua pemasok Nike dan Adidas β sudah memangkas sedikitnya 6.800 posisi sejak 2024, dan terus berlanjut dengan relokasi pabrik ke Cirebon dan Jawa Tengah di 2025.
Ini bukan cuma soal order yang mengering: investigasi ProPublica menemukan Nike memangkas 36.000 pekerjaan di area upah tinggi seperti Jakarta, sambil menambah 112.000 pekerjaan di Jawa Tengah dan Jawa Barat dengan upah 45% lebih murah β pergeseran, bukan semata penyusutan.
Nike sendiri sedang berdarah secara global: penjualan di China anjlok 26% sembilan kuartal beruntun, memicu program restrukturisasi "Pace" yang menargetkan penghematan $2,5 miliar sampai 2031 lewat PHK dan efisiensi di seluruh rantai pasoknya β termasuk Indonesia.
PHK nasional JanuariβAgustus 2026 tembus 53.490 orang, manufaktur jadi penyumbang terbesar, dan Jawa Barat konsisten jadi juara β dari 3.339 orang pada April membengkak jadi 10.880 orang empat bulan kemudian.
Pesanan yang Selesai, Pabrik yang Pindah
Ceritanya dimulai sederhana: PT Feng Tay Indonesia, pabrik sepatu olahraga di Kabupaten Bandung yang memasok Nike dan Puma, menghabiskan satu batch produksi β lalu tidak ada pesanan susulan. Sekitar 4.000 dari total 14.000 karyawannya dirumahkan: bukan dipecat, tapi disuruh pulang tanpa kepastian kapan kembali bekerja, sambil perusahaan menunggu order berikutnya dari Nike.
Said Iqbal, Penasihat Khusus Presiden Bidang Ketenagakerjaan β mantan ketua serikat buruh yang kini duduk di lingkaran istana β turun tangan pada pertengahan Juni 2026. "Ada potensi ancaman PHK 4.000 karyawan. Baru potensi ya ancaman PHK 4.000 karyawan," katanya, mencoba meredam kepanikan sambil pemerintah mencoba berkomunikasi dengan Nike lewat jalur serikat buruh internasional β karena pemerintah Indonesia sendiri tidak punya kanal negosiasi langsung dengan pembeli sebesar itu.
Hasilnya, pada 21-22 Juni 2026, PHK massal itu batal. Tapi bukan tanpa ongkos. Feng Tay awalnya mengusulkan memotong setengah upah harian pekerja di hari-hari mereka diliburkan bergilir β langkah yang ditolak karena melanggar aturan ketenagakerjaan. Kompromi akhirnya: jam kerja dipangkas 1-2 hari libur bergilir per minggu, gaji pokok tetap utuh, tapi insentif dan bonus pekerja yang dikurangi. Said Iqbal menyebut perusahaan "akhirnya setuju" setelah diberi pendampingan hukum.
Yang jarang disorot: Feng Tay bukan kasus pertama. Di Tangerang, dua pabrik pemasok Nike dan Adidas sudah lebih dulu berdarah sejak 2024. Victory Chingluh β bagian dari Ching Luh Group asal Taiwan yang juga memproduksi untuk Adidas, FootJoy, Mizuno, dan Reebok β memangkas 2.000 posisi di pabrik Cikupa sejak Januari 2025. Adis Dimension Footwear, mitra lama Nike, lebih dulu memotong 1.500 pekerja di pabrik Balaraja pada 2024. Totalnya 3.500 pekerjaan hilang di dua pabrik itu saja β dan itu baru babak pertama.
Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Banten saat itu menegaskan PHK ini murni soal "industri yang melambat," bukan sengketa upah dengan buruh. Tapi babak keduanya datang cepat: Maret 2025, Victory Chingluh kembali memangkas 2.300 pekerja, dan Kementerian Perindustrian mengonfirmasi perusahaan sedang merelokasi sebagian produksinya ke Cirebon. Oktober 2025, giliran 3.000 pekerja lagi dirumahkan seiring pabrik baru dibuka di Jawa Tengah. Dalam waktu kurang dari dua tahun, satu grup pabrik saja kehilangan lebih dari 7.000 posisi di Tangerang-Banten.
Kenapa Nike dan Adidas Mengerem Order
Ada dua kekuatan yang bertabrakan di sini, dan keduanya penting untuk dipahami bersama supaya tidak salah baca.
Pertama, Nike sendiri sedang dalam krisis global β ini bukan cuma soal Indonesia. Laporan keuangan kuartal pertama tahun fiskal 2027 (periode yang berakhir Agustus 2026) menunjukkan laba Nike turun 2% jadi $712 juta dan pendapatan turun 4% jadi $11,2 miliar. Penyebab utamanya: penjualan di China β pasar yang menyumbang sekitar 15% pendapatan tahunan Nike β anjlok 26% dan sudah merosot sembilan kuartal berturut-turut. Nike merespons dengan program restrukturisasi bernama "Pace": PHK global dengan ongkos pesangon $300 juta, target hemat kumulatif $2,5 miliar sampai 2031, plus investasi baru dibangun di Bengaluru, India β bukan Indonesia. Ketika brand sebesar ini memangkas ongkos di kantor pusat, getarannya otomatis sampai ke pabrik-pabrik pemasok, termasuk yang di Bandung dan Tangerang.
Kedua, ada tarif dagang Amerika Serikat. Tarif resiprokal 19% yang dikenakan Presiden Trump terhadap Indonesia sebenarnya lebih ringan dibanding Vietnam (20%), Malaysia (25%), Thailand dan Kamboja (36%), bahkan Laos (40%) β secara teori ini keunggulan kompetitif buat Indonesia. Tapi faktanya, ekspor alas kaki Indonesia ke AS tetap anjlok lebih dari 20%, bahkan turun 23,14% pada Agustus-September 2025 dibanding periode sama tahun sebelumnya. Kontradiksi ini sebenarnya masuk akal kalau digabung: tarif yang lebih rendah membuat Indonesia relatif lebih kompetitif dibanding Vietnam atau Kamboja, tapi itu tidak menolong kalau pembelinya sendiri β Nike β sedang mengerem belanja secara global karena masalahnya ada di China, bukan di ongkos produksi Asia Tenggara.
Data ekspor sepanjang 2026 pun naik-turun tajam. Industri alas kaki sempat tumbuh 8,25% secara kumulatif di semester I 2026, bahkan melonjak 33% secara tahunan pada April 2026 β kemungkinan besar karena eksportir mempercepat pengiriman sebelum aturan tarif baru berlaku penuh (istilah ekonominya front-loading: beli atau kirim lebih banyak sekarang karena takut ongkosnya naik nanti). Tapi begitu dorongan sesaat itu habis, tren membalik: kumulatif Januari-Agustus 2026 ekspor alas kaki justru turun 9,45% dibanding periode sama tahun lalu. Alas kaki tetap jadi penyumbang surplus dagang nonmigas terbesar Indonesia β sekitar $4,33 miliar sepanjang Januari-Agustus 2026 β tapi arah tren nilainya menurun, bukan tanda industri ini baik-baik saja.
Bukan Cuma Order Turun β Ini Juga Soal Upah
Di sinilah bagian yang paling jarang muncul di headline, dan paling penting untuk dipahami kritis.
Investigasi ProPublica bersama The Oregonian/OregonLive yang terbit Maret 2026 menemukan sesuatu yang mengubah cara baca keseluruhan cerita ini: Nike tidak sekadar mengurangi total produksinya di Indonesia. Perusahaan memangkas sekitar 36.000 pekerjaan di wilayah berupah lebih tinggi seperti Jakarta (sekitar $300 per bulan), sambil menambah sekitar 112.000 pekerjaan di Jawa Tengah dan Jawa Barat dengan upah sekitar $165 per bulan β 45% lebih murah, tanpa biaya hidup yang turun sebanding. Secara agregat, jumlah pekerjaan Nike di Indonesia justru tumbuh. Yang hilang bukan jumlah pekerjaannya, tapi di mana pekerjaan itu berada dan berapa yang dibayarkan.
Aktivis buruh yang diwawancarai ProPublica menyebut pergeseran geografis ini "sangat mengkhawatirkan" justru karena Jakarta dan Tangerang punya kehadiran serikat pekerja yang jauh lebih kuat dibanding Cirebon atau Brebes. Memindahkan pabrik bukan cuma soal cari upah murah β tapi juga menjauh dari basis organisasi buruh yang biasa menuntut kenaikan upah dan kondisi kerja lebih baik.
Ketua Aprisindo (Asosiasi Persepatuan Indonesia) Eddy Widjanarko sendiri terang-terangan mengonfirmasi logika ini: "Di Jawa Tengah upahnya setengah dari Tangerang dan Bekasi." Upah minimum Tangerang pada 2025 sekitar Rp5,06 juta, sementara Cirebon sekitar Rp2,6 juta dan Brebes hanya Rp1,88 juta β selisih yang cukup besar untuk membuat pabrik padat karya rela membongkar pabrik dan membangun ulang dari nol di tempat lain. Aprisindo bahkan meminta pemerintah tidak menaikkan upah minimum tahun 2026 di wilayah industri sepatu, meski formula nasional akhirnya tetap menaikkan UMP rata-rata 5,9%.
Nike, lewat pernyataan resminya, mengklaim bekerja sama dengan pemasok soal pesangon sesuai hukum dan menyebut pekerja di pemasok-pemasok strategisnya rata-rata digaji dua kali upah minimum secara global β meski mengakui ada variasi di tiap negara. Direktur Kebijakan Publik Celios, Media Wahyudi Askar, melihat pola yang lebih besar: gelombang PHK ini menunjukkan pertumbuhan ekonomi yang tidak inklusif, karena sumber pertumbuhan sekarang datang dari sektor yang tidak padat karya seperti nikel dan tambang, sementara investasi ke industri padat karya seperti alas kaki justru menyusut.
Angka yang Jarang Disebut: Tumbuh di Atas Kertas, Menyusut di Lantai Pabrik
Data makro Indonesia sebenarnya terlihat baik-baik saja kalau dilihat sekilas. Indeks Manajer Pembelian (PMI) manufaktur sempat jatuh ke zona kontraksi di 49,8 pada Agustus 2026, tapi langsung melesat kembali ke 52,4 pada September 2026 β level tertinggi dalam tujuh bulan, didorong lonjakan pesanan baru dan ekspor.
Tapi ada satu komponen yang tidak ikut pulih: tenaga kerja. Survei Prospek Manufaktur BPS mencatat komponen ketenagakerjaan industri manufaktur justru masuk zona kontraksi di 49,92 pada kuartal II 2026 β turun dari 50,57 di kuartal sebelumnya β persis ketika indeks keseluruhan industri justru ekspansif di 52,31. Dengan kata lain: produksi naik, pesanan naik, tapi perusahaan memilih tidak menambah β bahkan mengurangi β jumlah karyawan. Ini "pertumbuhan tanpa pekerjaan" yang tidak kelihatan kalau cuma membaca headline PMI.
Data Kementerian Ketenagakerjaan memperkuat gambaran ini. PHK nasional melonjak dari 8.389 orang pada kuartal pertama 2026 menjadi 53.490 orang pada Januari-Agustus 2026 β hampir berlipat enam dalam delapan bulan. Manufaktur konsisten jadi sektor penyumbang PHK terbesar, dan Jawa Barat β rumah bagi Feng Tay dan sederet pabrik alas kaki lain β selalu memimpin daftar provinsi dengan PHK tertinggi, dari 3.339 orang pada April membengkak jadi 10.880 orang pada Agustus, sekitar seperlima dari total PHK nasional datang dari satu provinsi saja.
Sebagai pembanding skala: industri alas kaki secara nasional mempekerjakan sekitar 960.000 orang secara langsung, menurut Aprisindo. Celios sempat memproyeksikan skenario terburuk β bila tarif AS jadi 32% (sebelum akhirnya dinegosiasikan turun ke 19%) β bisa memangkas 1,2 juta lapangan kerja lintas sektor ekspor, termasuk 191.000 di industri tekstil dan produk tekstil. Angka realisasi saat ini jauh di bawah skenario terburuk itu, tapi kasus Feng Tay dan Victory Chingluh menunjukkan risikonya nyata, bukan sekadar simulasi di atas kertas.
Apa Artinya Buat Kamu
Kalau Kamu Masih Karyawan dan Ingin Mulai Usaha
Industri padat karya ekspor seperti alas kaki dan garmen sedang tidak dalam fase ekspansi β ini bukan waktu ideal untuk menjadikan bisnis subkontraktor brand global besar sebagai rencana utama kalau kamu baru mulai. Kalaupun kamu punya keahlian atau jaringan di sektor ini, pertimbangkan dulu: apakah kamu akan bergantung pada satu atau dua brand besar sebagai pembeli tunggal? Konsentrasi pembeli sebesar itu rentan terhadap keputusan sepihak perusahaan di Beaverton atau Herzogenaurach yang sama sekali di luar kendalimu. Lebih aman mencari ceruk dengan basis pembeli domestik atau diversifikasi pasar ekspor, bukan menggantungkan diri pada satu brand sepatu olahraga global.
Kalau Kamu Sudah Punya Bisnis
Buat pemilik pabrik subkontraktor garmen atau alas kaki, tekanan arus kas akibat order yang menyusut adalah risiko nyata β kasus Feng Tay menunjukkan bahkan pabrik besar dengan 14.000 karyawan bisa kehabisan pesanan dalam hitungan bulan. Pertimbangkan skema mitigasi serupa yang dipakai Feng Tay (pengurangan hari kerja dan insentif, bukan PHK permanen) sebagai opsi legal yang lebih murah ketimbang pesangon massal, sambil tetap menjaga hubungan baik dengan serikat pekerja β karena cara Feng Tay menyelesaikan ini lewat negosiasi, bukan konfrontasi, justru yang membuat bisnisnya tetap jalan. Di sisi lain, pergeseran pabrik ke Cirebon dan Jawa Tengah membuka peluang bagi pengusaha logistik, kontraktor bangunan pabrik, dan penyedia tenaga kerja terlatih di wilayah-wilayah itu β tapi ingat, upah murah yang jadi daya tarik hari ini bisa jadi alasan brand pindah lagi lima tahun ke depan begitu upah di sana mulai naik.
Dampak yang Lebih Luas
Bagi masyarakat umum di Jawa Barat dan Banten, ini bukan sekadar statistik. Satu pabrik sepatu yang menyerap belasan ribu pekerja biasanya menghidupi ekonomi satu kecamatan β dari warung makan, kos-kosan, sampai angkutan umum di sekitarnya. Ketika order berhenti atau pabrik pindah ke kabupaten lain, efek gandanya menyebar jauh melampaui angka PHK itu sendiri. Pemerintah daerah di wilayah yang ditinggalkan perlu mulai memikirkan diversifikasi ekonomi lokal, bukan hanya berharap pabrik baru datang menggantikan yang pergi.
Yang Perlu Dipantau
Kepastian order baru Feng Tay dari Nike β skema pengurangan hari kerja ini bersifat sementara; kalau order tak kunjung datang dalam beberapa bulan ke depan, opsi PHK permanen bisa kembali muncul.
Rilis PMI Manufaktur Indonesia Oktober 2026 oleh S&P Global, biasanya awal bulan β akan menunjukkan apakah rebound September berlanjut atau cuma sesaat.
Data PHK Kemnaker bulanan lewat Portal Satu Data Ketenagakerjaan β perhatikan apakah tren akselerasi di Jawa Barat terus berlanjut atau mulai melandai.
Negosiasi tarif dagang Indonesia-AS β upaya pemerintah menekan tarif alas kaki dan tekstil ke 0% masih berjalan; hasilnya akan langsung memengaruhi keputusan order brand global ke pabrik Indonesia.
Laporan keuangan kuartal berikutnya Nike (sekitar Desember 2026) β akan jadi indikator apakah restrukturisasi "Pace" sudah mulai menstabilkan order global, termasuk ke pemasok Indonesia.
Penutup
Headline tentang PHK pabrik sepatu biasanya berhenti di angka "ribuan buruh dirumahkan" β seolah ini kecelakaan ekonomi yang tiba-tiba terjadi. Padahal polanya sudah berjalan dua tahun, dan separuh ceritanya bukan tentang order yang hilang, melainkan tentang order yang sengaja dipindahkan ke tempat yang lebih murah membayar pekerjanya. Kalau kamu bekerja atau berbisnis di rantai pasok industri padat karya, pelajaran paling jujur dari kasus Feng Tay dan Victory Chingluh bukan "tunggu order pulih" β tapi "jangan taruh semua risikomu di tangan satu pembeli yang keputusannya dibuat di negara lain."
Sumber
Jakarta Globe β "4,000 Workers at Nike Supplier in Indonesia Sent Home as New Orders Dry Up"
SGI Europe & Apparel Resources β "Indonesia's Footwear Industry Is Hurt as Nike and Adidas Factory Makes Layoffs"
Kompas β "Said Iqbal: 4.000 Buruh Pabrik Pemasok Nike di Bandung Terancam PHK"
Detik Finance β "Produsen Sepatu Nike di Bandung Batal PHK 4.000 Buruh"
Katadata β "Upah Murah Jadi Alasan Pabrik Sepatu Nike-Adidas Migrasi dari Tangerang"
Tribunnews β "Produsen Sepatu Nike PT Victory Cingluh Kembali PHK 2.300 Buruh, Kemenperin: Relokasi ke Cirebon"
Business & Human Rights Resource Centre (mengutip ProPublica/The Oregonian) β "Nike Accused of Shifting Production to Regions With Lower Minimum Wage"
CNBC Indonesia β "Kabar Buruk Awal September: PMI Manufaktur RI Kontraksi, PHK Naik" dan "Raja Sepatu Nike Berdarah-darah, Laba Turun-PHK Massal Mengintai"
Bisnis Indonesia β "BPS Catat Manufaktur Kuartal II/2026 Ekspansif, Tapi Tenaga Kerja Susut" dan "Industri Padat Karya Jadi Sektor Paling Rentan Kena PHK"
Bloomberg Technoz β "Ekspor Alas Kaki RI Ambruk Digebuk Tarif, PHK Mengintai"
Katadata β "Celios Perkirakan 1,2 Juta Pekerja Bakal Kena PHK Akibat Tarif Trump"
GoodStats (data Kemnaker) β "PHK Naik 84%, Ini 10 Provinsi dengan Angka PHK Tertinggi di Indonesia 2026"
DataIndonesia.id β "Di Tengah Ancaman Tarif AS, Ekspor Alas Kaki Indonesia Melonjak 33% pada April 2026"