Lewati ke konten
blabak.

BBM Nonsubsidi Naik Lagi, Pertalite Dibekukan: Siapa Sebenarnya yang Nombok?

Nonsubsidi naik hingga 20% imbas minyak dunia $100 dan rupiah Rp17.900, sementara Pertalite-Biosolar dibekukan. Ini siapa yang menanggung selisihnya.

Yusuf FS10 menit baca

Ringkasan Cepat

  • Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex naik 7–20% sejak 1 September 2026 — Dexlite jadi yang paling parah, dari Rp19.700 ke Rp23.700 per liter. Harga yang "diumumkan lagi naik" pada 25 September sebenarnya cuma angka yang sama bertahan, bukan kenaikan baru.

  • Pertalite (Rp10.000) dan Biosolar (Rp6.800) dipastikan tidak naik sampai akhir 2026, langsung atas perintah Presiden Prabowo — meski harga minyak dunia sudah jauh melewati asumsi APBN.

  • Pemicunya bukan cuma soal domestik: harga minyak dunia tembus US$100–106 per barel gara-gara eskalasi di Selat Hormuz dan serangan ke kilang Rusia, jauh di atas asumsi ICP APBN 2026 yang cuma US$70. Rupiah pun melemah ke sekitar Rp17.900/dolar, di luar rentang asumsi Rp16.500–16.900.

  • Pembekuan harga Pertalite justru memicu efek balik: konsumen kelas menengah "turun kasta" ke BBM subsidi karena selisih harga makin lebar, mendorong konsumsi Pertalite naik dua digit dan kuota tahunan terancam jebol sebelum Desember.

  • Realisasi subsidi dan kompensasi energi ke Pertamina-PLN sudah Rp331,4 triliun per Agustus 2026, melonjak 52% dari tahun lalu — sekitar 87% dari pagu setahun, padahal anggaran masih harus menutup empat bulan tersisa.

Angka yang Benar-Benar Naik, dan yang Cuma Terlihat Naik Lagi

Mari luruskan dulu satu hal, karena ini penting sebelum masuk ke angka yang lebih besar. Sepanjang September 2026, media ramai memberitakan dua "tanggal keramat" harga BBM: 1 September dan 25 September. Kalau kamu cuma baca judulnya, kesannya BBM nonsubsidi naik dua kali berturut-turut dalam sebulan.

Faktanya tidak begitu. Kenaikan sungguhan cuma terjadi sekali, di awal bulan. Pada 1 September 2026, Pertamina Patra Niaga menaikkan Pertamax Turbo dari Rp18.300 ke Rp19.600 per liter (naik 7,1%), Dexlite dari Rp19.700 ke Rp23.700 (naik 20,3%, kenaikan rupiah terbesar), dan Pertamina Dex dari Rp21.150 ke Rp25.200 (naik 19,1%). Sehari setelahnya, Pertamax Green 95 menyusul naik dari Rp16.600 ke Rp19.150. Hanya Pertamax reguler (RON 92) yang bertahan di Rp15.950.

Nah, di 25 September, angka-angka itu masih persis sama — Pertamina memang rutin merilis "update harga BBM hari ini" tiap beberapa hari, dan ketika harga yang sudah naik ternyata tetap tinggi, judul beritanya gampang salah dibaca sebagai kenaikan baru. Jadi bukan dua kali pukulan, tapi satu pukulan besar yang bertahan sebulan penuh. Sekadar catatan sejarah: Pertamina Dex bahkan pernah lebih mahal lagi, tembus Rp27.900 pada Mei 2026, jadi harga sekarang bukan rekor — cuma kembali naik setelah sempat turun.

Yang justru perlu kamu waspadai adalah apa yang menanti di depan. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia sudah mewanti-wanti bahwa harga nonsubsidi "akan mengikuti harga pasar" alias ICP (Indonesian Crude Price, patokan harga minyak mentah acuan Indonesia). Peneliti Universitas Padjadjaran, Yayan Satyakti, memproyeksikan Oktober 2026 nonsubsidi naik lagi 5–11% — Pertamax Turbo bisa ke Rp21.450, Dexlite ke Rp25.000, Pertamina Dex ke Rp26.600. Jadi "tenang sesaat" di 25 September itu justru masa jeda sebelum putaran kenaikan berikutnya, bukan tanda harga sudah stabil.

Dari Selat Hormuz sampai ke SPBU Dekat Rumahmu

Kenapa nonsubsidi bisa naik segila ini? Karena dua faktor pembentuk harganya sama-sama memburuk bersamaan, dan keduanya berasal dari jauh di luar Indonesia.

Pertama, harga minyak dunia. Brent sempat tembus US$101–106 per barel di September 2026, dipicu rentetan eskalasi geopolitik: Iran mengklaim menyita dua kapal kontainer di Selat Hormuz (jalur pelayaran sempit tempat sekitar seperlima pasokan minyak dunia lewat), kelompok Houthi Yaman menembakkan rudal dan drone ke Riyadh, dan Ukraina menyerang fasilitas pengilangan minyak Rusia sehingga pasokan global makin ketat. Angka ini jauh di atas asumsi dasar APBN 2026 yang mematok ICP hanya US$70 per barel — bahkan rata-rata Januari-Mei 2026 saja sudah US$91,86, sebelum konflik terbaru ini pecah.

Kedua, rupiah ambruk bersamaan. Sepanjang 22–26 September 2026, rupiah berkutat di kisaran Rp17.884–17.917 per dolar AS, tertekan kombinasi kenaikan imbal hasil obligasi AS, penguatan dolar global, dan ketidakpastian pasokan minyak akibat konflik yang sama. Bandingkan dengan asumsi resmi APBN 2026 yang dipatok Rp16.500–16.900, apalagi dengan rata-rata kurs 2024 yang masih di Rp15.840. Rupiah sekarang sudah lebih dari Rp1.000 di luar batas atas asumsi pemerintah sendiri.

Kombinasi minyak mahal dan rupiah lemah ini menohok ganda: ongkos mengimpor dan mengolah minyak jadi BBM makin mahal dalam rupiah, dan karena harga BBM nonsubsidi memang didesain mengikuti formula pasar (bukan dipatok pemerintah), kenaikan itu langsung diteruskan ke konsumen — sementara BBM subsidi yang harganya dipatok pemerintah, tidak.

Kenapa Pertalite Dibekukan — dan Siapa yang Menombok Selisihnya

Di sinilah bagian yang jarang dijelaskan tuntas: pembekuan Pertalite dan Biosolar bukan berarti biayanya menghilang. Biayanya cuma pindah tangan — dari dompet konsumen ke APBN.

Realisasi belanja subsidi dan kompensasi energi (mencakup BBM, LPG 3 kg, dan listrik) yang dibayarkan pemerintah ke Pertamina dan PLN sudah mencapai Rp331,4 triliun per akhir Agustus 2026. Angka ini melonjak 52% dibanding periode sama tahun lalu yang "cuma" Rp218 triliun. Kalau dibandingkan dengan pagu subsidi dan kompensasi energi tahun ini sebesar Rp381,3 triliun, realisasi delapan bulan itu sudah menyerap sekitar 87% dari jatah setahun — padahal tahun anggaran masih menyisakan empat bulan lagi.

Lonjakan ini konsekuensi langsung dari gap antara asumsi dan kenyataan yang sudah disebut di atas: begitu ICP dan kurs riil jauh melampaui asumsi APBN, selisih antara harga keekonomian BBM subsidi dan harga jual Rp10.000/Rp6.800 yang dipatok itu harus ditanggung negara sebagai kompensasi ke Pertamina. Untuk menjaga arus kas Pertamina dan PLN tetap sehat, Kementerian Keuangan bahkan mengubah skema pembayaran dari kuartalan jadi bulanan. Kalau tekanan berlanjut, pemerintah mengaku masih punya bantalan dana Rp420 triliun dalam bentuk Sisa Anggaran Lebih (SAL, sisa dana APBN tahun-tahun sebelumnya yang belum terpakai) untuk menambal kalau diperlukan.

Jadi ketika Bahlil bilang "harga Pertalite dan Biosolar tidak akan naik sampai akhir tahun, itu perintah Presiden," yang sebenarnya terjadi adalah pemerintah memilih menahan gejolak di sisi konsumen dengan cara membiarkan APBN menyerap gejolaknya lebih dulu.

Ironi di Baliknya: Makin Dibekukan, Makin Diserbu

Tapi kebijakan ini punya efek balik yang sedang terjadi persis sekarang, dan justru inilah yang bikin masalahnya lebih rumit dari sekadar "rakyat kecil dilindungi, kelas atas menanggung." Semakin lebar selisih harga antara nonsubsidi dan Pertalite, semakin banyak orang yang tadinya mampu beli Pertamax memilih "turun kelas" ke Pertalite — bukan karena mereka miskin, tapi karena selisihnya sayang dilewatkan.

Data BPH Migas (Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi) menunjukkan konsumsi Pertalite rata-rata mencapai 85.589 kiloliter per hari pada Juli 2026, naik 12% dari periode sebelum kenaikan Pertamax, dan masih bertahan tinggi di 84.368 kiloliter per hari pada Agustus. Ekonom CORE Indonesia mencatat pangsa konsumsi Pertalite di antara total pengguna BBM naik dari 75% (Januari–Mei 2026) menjadi 80% pada Juli 2026. Kalau Pertamax terus mendekati Rp20.000 sementara Pertalite tertahan di Rp10.000, selisihnya bisa tembus lebih dari Rp9.000 per liter — insentif migrasi yang makin sulit ditolak, bahkan oleh orang yang sebenarnya tidak berhak menikmati subsidi.

Bahlil sendiri mengakui pemerintah "masih terus menghitung" berapa besar potensi kuota Pertalite bakal jebol, tanpa angka pasti. Sebagai gambaran soal siapa yang selama ini menikmati Pertalite: Bahlil pernah mengeluhkan kasus mobil Mitsubishi Pajero yang mengisi 700 liter BBM subsidi di Makassar — anekdot yang jadi simbol betapa bocornya sasaran subsidi ini sebelum krisis harga sekarang bikin masalahnya makin besar.

Wacana solusinya — membatasi pembelian Pertalite berdasarkan desil ekonomi (kelompok pengeluaran rumah tangga, biasanya diranking 1 sampai 10 dari termiskin ke terkaya) untuk desil 9-10, atau berdasarkan jenis kendaraan — ditargetkan berlaku akhir 2026, tapi sampai sekarang belum ada aturan resmi. Ekonom INDEF Esther Sri Astuti bahkan meragukan waktunya: pembatasan di saat daya beli kelas menengah sedang melemah berisiko justru menekan kelompok yang sebenarnya butuh, karena sistem desil dianggap belum cukup presisi membedakan siapa yang benar-benar mampu.

Siapa yang Benar-Benar Menanggung Selisihnya

Kalau ditotal, setidaknya ada tiga pihak yang menanggung ongkos situasi ini, dengan cara yang berbeda-beda.

Kelas menengah-atas pengguna kendaraan pribadi nonsubsidi menanggung kenaikan langsung dan harian. Mobil yang mengisi Pertamax Turbo 50 liter sebulan kena tambahan sekitar Rp65.000; kalau pakai mobil diesel dengan Pertamina Dex, tambahannya bisa lebih dari Rp200.000 sebulan untuk pemakaian serupa.

Industri logistik dan transportasi barang menanggung yang paling berat secara operasional, karena truk dan armada distribusi banyak yang memakai Dexlite. Kenaikan Rp4.000 per liter berarti truk yang mengisi 200 liter seminggu menanggung tambahan biaya sekitar Rp800.000 per minggu, atau lebih dari Rp3 juta sebulan — sementara menurut keluhan sejumlah pengusaha angkutan, tarif jasa pengiriman belum tentu ikut naik secepat itu. CORE Indonesia menilai dampak ke inflasi nasional relatif terbatas karena mayoritas masyarakat masih pakai BBM subsidi, tapi mengakui risiko rambatan biaya distribusi ke harga barang tetap ada, meski tarif angkutan umum diperkirakan tetap stabil karena mayoritas armadanya masih pakai Biosolar.

APBN menanggung porsi terbesar dan paling tersembunyi — lewat Rp331,4 triliun subsidi dan kompensasi yang sudah dibayarkan, dan berpotensi terus membengkak kalau migrasi konsumen ke Pertalite tidak segera dikendalikan.

Apa Artinya Buat Kamu

Kalau kamu masih karyawan dan ingin mulai usaha

Kalau rencana bisnismu melibatkan pengiriman atau mobilitas — katering, jasa antar, reseller yang kirim barang sendiri — hitung ulang struktur biaya operasionalmu dengan asumsi BBM nonsubsidi masih akan naik 5-11% lagi di Oktober, bukan dengan harga hari ini. Kalau kendaraan operasionalmu bisa pakai Pertalite (motor, mobil kecil di bawah kapasitas mesin tertentu) dan kamu memang berhak, itu tetap jadi opsi paling stabil sampai akhir tahun karena harganya dijamin pemerintah. Tapi jangan andalkan strategi ini jangka panjang — begitu aturan pembatasan desil atau jenis kendaraan resmi berlaku, celah ini bisa tertutup kapan saja.

Kalau kamu sudah punya bisnis

Kalau armadamu bergantung pada Dexlite atau Pertamina Dex, saatnya evaluasi tarif pengiriman atau kontrak logistikmu sekarang, sebelum kenaikan Oktober betulan terjadi — bukan sesudahnya. Perusahaan yang menunggu sampai margin benar-benar tergerus baru menaikkan tarif biasanya kalah cepat dari kompetitor yang sudah menyesuaikan formula biaya bahan bakar (fuel surcharge) sejak awal. Pertimbangkan juga efisiensi rute dan konsolidasi pengiriman untuk menekan konsumsi per unit barang, karena ruang untuk menekan Pertamina agar menurunkan harga jelas tidak ada — arahnya cuma satu: mengikuti pasar global yang sedang bergejolak.

Kalau kamu masyarakat umum yang sekadar mengisi bensin harian

Kalau kendaraanmu masih pakai Pertalite, kamu memang relatif aman sampai akhir tahun — tapi jangan kaget kalau ke depan ada verifikasi lebih ketat soal siapa yang berhak membelinya, terutama kalau kamu memakai kendaraan bermesin besar atau tergolong kelompok ekonomi atas. Kalau kamu pengguna Pertamax Turbo atau Pertamina Dex karena alasan performa kendaraan, ini saat yang tepat mengevaluasi apakah upgrade itu masih sepadan dengan selisih harga yang makin lebar tiap bulan.

Yang Perlu Dipantau

  • Update harga BBM 1 Oktober 2026 — akan jadi bukti nyata apakah proyeksi kenaikan 5-11% dari peneliti Unpad benar-benar terealisasi, dan seberapa besar realisasinya di tiap jenis BBM.

  • Perkembangan harga minyak dunia dan situasi Selat Hormuz/Timur Tengah — karena inilah akar penyebab langsung, bukan kebijakan domestik.

  • Kurs rupiah terhadap dolar AS — kalau terus tertahan di atas Rp17.800-17.900, tekanan ke formula harga BBM nonsubsidi berikutnya makin besar.

  • Aturan resmi pembatasan Pertalite berdasarkan desil atau jenis kendaraan — ditargetkan berlaku akhir 2026, tapi belum ada kepastian tanggal maupun mekanisme teknisnya.

  • Data realisasi kuota Pertalite dan Biosolar dari BPH Migas — untuk melihat apakah konsumsi terus melampaui kuota tahunan sebelum Desember, yang akan jadi pemicu berikutnya bagi pembengkakan subsidi.

Penutup

Headline yang beredar bikin ini terdengar seperti cerita sederhana: yang kaya kena naik, yang biasa aman. Tapi kalau kamu lihat lebih dalam, pembekuan harga Pertalite bukan solusi yang menghilangkan bebannya — dia cuma memindahkannya ke APBN sekarang, dan berisiko memindahkannya lagi ke kuota subsidi yang jebol nanti, karena semakin lebar selisih harga, semakin banyak orang yang "sengaja" pindah ke jalur subsidi meski sebenarnya mampu bayar lebih. Kalau kamu ingin bersikap jujur soal ini: jangan cuma senang harga Pertalitemu aman sampai Desember, tapi juga tanya siapa yang sebenarnya membayar selisih itu — karena jawabannya, cepat atau lambat, kembali ke kita semua lewat APBN.

Sumber

  • Bisnis Indonesia — Update Harga BBM Hari Ini 25 September, Pertamax Turbo Cs Naik

  • Kompas — Harga Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex Naik Mulai 1 September 2026

  • CNBC Indonesia — Harga BBM Resmi di SPBU Pertamina, Shell-BP, Berlaku 25 September 2026

  • Investor Trust — Bahlil Luruskan Hoaks Harga BBM Naik, Pertalite dan Biosolar Dipastikan Tak Naik hingga Akhir Tahun

  • Okezone Economy — Bahlil Buka Suara soal Harga BBM Nonsubsidi Bakal Naik Lagi

  • Antara News — Pakar Proyeksi Harga BBM Nonsubsidi Naik 5–11 Persen pada Oktober

  • IDX Channel / Infobanknews — Subsidi dan Kompensasi Energi Tembus Rp331 Triliun hingga Agustus 2026

  • Infobanknews — Subsidi Energi di RAPBN 2026 Membengkak Jadi Rp381 Triliun

  • Tempo — Harga Minyak Mentah ICP di RAPBN 2026 Disepakati 70 Dolar AS per Barel

  • CNBC Indonesia — Harga Minyak RI (ICP) Rata-Rata Januari-Mei 2026 Tembus US$91,8/Barel

  • Antara News — BI Sepakat Asumsi Rupiah pada APBN 2026 Sebesar Rp16.500–Rp16.900

  • Bisnis Market — Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar AS 22–26 September 2026

  • Media Indonesia — Harga Minyak Dunia Tembus US$100 per Barel akibat Geopolitik

  • Liputan6 — Warga Beralih ke Pertalite, Bahlil Hitung Potensi Kelebihan Kuota Subsidi

  • Fortune Indonesia — Konsumsi BBM Subsidi Melonjak pada Juli 2026

  • Bisnis Insight — CORE: Dampak BBM Nonsubsidi Terbatas ke Inflasi dan Daya Beli

  • CNBC Indonesia — Subsidi BBM Cs Tidak Tepat Sasaran, Begini Data Ekonom

  • VOI — Pembatasan Pertalite Dinilai Kurang Tepat Lantaran Kelas Menengah Sedang Turun