Ringkasan Cepat
- Secara global, proporsi PHK skala kecil (di bawah 50 orang per putaran) naik dari 38% pada 2015 menjadi lebih dari 51% pada 2025, menurut laporan Glassdoor Worklife Trends 2026 — pergeseran struktural, bukan efek satu resesi.
- Perusahaan paling untung sekalipun ikut memangkas: Meta membukukan laba kuartalan rekor US$56,3 miliar (sekitar Rp930 triliun) tapi tetap memberhentikan 8.000 karyawan; Amazon mencatat penjualan bersih US$181,5 miliar dan tetap memangkas 16.000 posisi kantor.
- Indonesia belum punya satu "badai PHK" yang jadi headline nasional sepanjang 2026 — tapi data di baliknya mengkhawatirkan: indeks manufaktur jatuh ke zona kontraksi, sub-indeks tenaga kerjanya minus lima bulan beruntun, dan hitungan PHK versi Apindo lima kali lipat lebih tinggi dari catatan resmi Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker).
- Tokopedia adalah contoh paling telanjang di Indonesia: dari sekitar 2.500 karyawan sebelum diakuisisi TikTok, tersisa sekitar 10%-nya lewat rentetan pemangkasan kecil selama lebih dari dua tahun — tanpa satu pun pengumuman "PHK massal".
- Dampaknya ke pekerja beda sifat: bukan trauma sesaat yang bisa dipulihkan lalu move on, tapi kecemasan kronis yang tak pernah punya titik akhir — dan justru itu yang membuat pola ini lebih berbahaya buat kesehatan mental dibanding PHK besar sesekali.
Menghitung yang Hilang Diam-Diam dari Tokopedia
Coba hitung mundur bareng kami. Sebelum TikTok mengambil alih kendali operasional Tokopedia lewat kesepakatan senilai US$1,5 miliar awal 2024, perusahaan itu punya sekitar 2.500 karyawan. Lalu pada Juni 2024, sekitar 450 orang dirumahkan. Pertengahan 2025, sekitar 180 orang lagi. Tak lama setelah itu, sekitar 240 orang lagi. Juli 2026, laporan menyebut divisi teknologinya tinggal menyisakan sekitar 35 orang dari tim yang dulu berjumlah sekitar 1.100 orang.
Jumlahkan semua putaran itu dan totalnya sebanding dengan satu PHK massal besar. Tapi karena datang bertahap — masing-masing di bawah ambang yang biasanya memicu berita "PHK massal" — tak satu pun momen itu pernah jadi headline nasional yang sebanding dengan skala sebenarnya. TikTok sendiri membantah ada PHK massal dan menyebut yang terjadi adalah mobilitas internal serta program pengunduran diri sukarela, sambil tetap membuka sekitar 100 lowongan baru di Indonesia. Dua klaim itu bisa sama-sama benar — dan itulah persisnya yang membuat pola ini sulit dilawan: tidak ada satu titik yang bisa ditunjuk sebagai "krisis", hanya penyusutan yang berjalan pelan dan konsisten.
Inilah yang oleh riset ketenagakerjaan global mulai disebut "forever layoffs" — PHK yang tak pernah benar-benar berhenti.
Apa Itu "Forever Layoffs" dan Kenapa Istilahnya Baru Muncul Sekarang
Istilah ini dipopulerkan Glassdoor lewat laporan Worklife Trends 2026: alih-alih satu gelombang besar yang menghantam lalu reda, perusahaan kini memangkas tenaga kerja dalam putaran-putaran kecil yang terus berulang setiap kuartal, kadang setiap bulan. Data mereka menunjukkan pergeseran yang cukup tajam — pada 2015, hanya 38% dari seluruh peristiwa PHK yang berukuran kecil (di bawah 50 orang). Pada 2025, angka itu sudah lewat 51%.
Kenapa perusahaan memilih pola ini? Salah satu alasannya teknis: di Amerika Serikat, ada aturan bernama WARN Act yang mewajibkan perusahaan memberi pemberitahuan 60 hari sebelum PHK massal dalam skala tertentu — kewajiban yang otomatis mengundang perhatian media dan regulator. PHK kecil di bawah ambang itu tidak memicu kewajiban serupa, sehingga bisa dilakukan senyap, berulang, dan nyaris tanpa sorotan publik.
Skalanya bukan main-main. Sepanjang 11 bulan pertama 2025 saja, ada 1,17 juta PHK yang diumumkan di Amerika Serikat — naik 54% dibanding periode yang sama 2024, dan baru keenam kalinya sejak 1993 angka tahunan setinggi ini terlampaui (terakhir kali pada 2001, 2002, 2003, 2009, dan 2020 saat pandemi). November 2025 sendiri mencatat 71.321 PHK, tertinggi untuk bulan itu sejak 2022. Yang membuat gambarannya makin suram: rencana perekrutan baru cuma 497.151 posisi sampai November — turun 35% dibanding tahun sebelumnya dan terendah sejak 2010. Pintu keluar terus terbuka, pintu masuk makin sempit.
Kenapa Ini Lebih Menakutkan Daripada PHK Massal
Secara matematis, mungkin terdengar sama saja — toh angka orang yang kehilangan pekerjaan bisa jadi setara. Tapi secara psikologis, bedanya besar. PHK massal, sepahit apa pun, punya titik akhir: karyawan yang selamat tahu badai sudah lewat, bisa mulai pulih dan fokus kerja lagi. Forever layoffs tidak memberi itu.
"Karyawan tetap dalam kekhawatiran tentang keamanan kerja dan tidak dapat fokus bekerja," kata Daniel Zhao, ekonom senior Glassdoor, menjelaskan efek ini. Ia juga mencatat bahwa data penolakan tawaran kerja menunjukkan pencari kerja kini "menerima pekerjaan apa pun, bukan pekerjaan yang tepat" — tanda keputusasaan yang meluas. Riset Glassdoor menemukan penyebutan "PHK" dan "ketidakamanan kerja" dalam ulasan karyawan di platform mereka lebih tinggi dibanding Maret 2020, saat pandemi baru mulai memukul dunia kerja. Kepercayaan pada pemimpin senior perusahaan pun menurun, dengan deskripsi seperti "salah arah" dan "munafik" makin sering muncul sejak 2024.
Ada satu pola tambahan yang membuat forever layoffs terasa lebih tidak adil: bentuknya seperti ekonomi berbentuk huruf K — dua arah berlawanan sekaligus. Di Amerika Serikat, perusahaan besar memangkas karyawan sambil terus menambah tenaga kerja di titik lain (data ADP November 2025 mencatat penambahan 90.000 pekerjaan), sementara usaha kecil justru mengalami kontraksi tajam, kehilangan 120.000 pekerjaan pada periode yang sama. Yang untung tetap untung sambil tetap memangkas; yang kecil makin terjepit tanpa ada yang menyorotnya.
Untung Rekor, PHK Tetap Jalan
Bagian paling mengganggu dari tren ini: perusahaan yang melakukannya bukan yang sedang kesulitan. Meta membukukan laba bersih kuartalan rekor US$56,3 miliar pada awal 2026 — sekaligus memberikan opsi saham senilai hingga US$921 juta per orang kepada enam eksekutifnya — lalu memangkas 8.000 posisi, sekitar 10% dari total karyawannya. Amazon mencatat penjualan bersih US$181,5 miliar pada kuartal pertama 2026, namun tetap menghilangkan sekitar 16.000 peran di level korporat. Alasan yang paling sering dikutip perusahaan: efisiensi lewat kecerdasan buatan (AI). Sebanyak 54% dari seluruh peristiwa PHK di 2026 secara eksplisit menyebut AI, otomatisasi, atau machine learning sebagai faktor — lompatan tajam dari cuma 7% pada Januari tahun yang sama.
Pola ini cukup mencolok sampai memancing perhatian politik. Senator AS Elizabeth Warren membuka penyelidikan formal pada Juli 2026 terhadap Meta, Microsoft, dan perusahaan lain yang memangkas karyawan di tengah kondisi finansial yang ia sebut kuat. Pesan yang tersirat: PHK sekarang bukan lagi soal bertahan hidup perusahaan, tapi soal menjaga margin keuntungan tetap tinggi sambil menuang ratusan miliar dolar ke infrastruktur AI — dan tenaga kerja jadi variabel yang paling gampang ditekan untuk membiayainya.
Jangan Buru-Buru Percaya Ini Naik Terus
Di sinilah perlu direm sedikit. Narasi "forever layoffs" gampang terdengar seperti tren yang terus memburuk tanpa henti — padahal datanya lebih rumit dari itu. Laporan bulanan Challenger, Gray & Christmas, lembaga pelacak PHK tertua di Amerika Serikat, justru mencatat perusahaan-perusahaan AS hanya mengumumkan 33.429 pemangkasan pada Juli 2026 — angka bulanan terendah dalam dua tahun terakhir. AI tetap jadi alasan paling sering disebut selama lima bulan berturut-turut, tapi volumenya mendingin, sesuai pola musiman yang juga terjadi tahun-tahun sebelumnya.
Jadi mana yang benar? Keduanya, dan itu justru inti soal forever layoffs. Bukan berarti jumlah PHK selalu naik dari bulan ke bulan — itu klaim yang gampang dipatahkan data. Yang berubah adalah baseline-nya tidak pernah kembali ke nol. Dulu, PHK adalah kejadian yang jarang lalu diikuti periode tenang berbulan-bulan. Sekarang, selalu ada perusahaan di suatu tempat yang sedang memangkas — kecil-kecilan, tersebar, dan nyaris tak pernah benar-benar berhenti sepenuhnya. Itu yang membuat rasa aman kerja sulit dibangun kembali, bahkan saat headline sedang sepi.
Sinyal yang Sama Mulai Terlihat di Indonesia
Sejauh ini semua data di atas berasal dari Amerika Serikat dan sektor teknologi global — penting digarisbawahi karena Indonesia punya struktur ekonomi dan pasar kerja yang berbeda. Tapi beberapa sinyal serupa mulai muncul di sini, meski dengan wajah lokal.
Indeks PMI manufaktur Indonesia — survei yang mengukur aktivitas pabrik, dengan angka di atas 50 berarti ekspansi dan di bawah 50 berarti kontraksi — jatuh ke 49,1 pada April 2026, level terendah dalam sembilan bulan dan kontraksi pertama setelah delapan bulan ekspansi berturut-turut. Ekonom S&P Global, Usamah Bhatti, mengaitkannya dengan tekanan inflasi biaya bahan baku di tengah konflik di Timur Tengah yang mendorong ongkos produksi ke level tertinggi dalam empat tahun. Yang lebih relevan buat topik ini: sub-indeks tenaga kerja dalam survei itu berada di zona kontraksi selama lima bulan beruntun sejak Februari 2026, dengan laju PHK pada Juni tercatat tercepat sejak September 2021 — bukan satu ledakan, tapi tekanan yang menetap bulan demi bulan.
Lalu ada kesenjangan data yang mencurigakan. Kemnaker mencatat 23.470 pekerja terkena PHK sepanjang Januari–Mei 2026 lewat mekanisme pelaporan wajib perusahaan. Tapi Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), memakai data klaim nonaktif dari BPJS Ketenagakerjaan, mencatat angka jauh lebih besar: 126.000 pekerja pada periode yang sama — lima kali lipat lebih tinggi. Sekitar 50.000 orang di antaranya sudah mengajukan klaim Jaminan Hari Tua dengan alasan PHK. Kesenjangan ini masuk akal begitu dipikirkan lewat lensa forever layoffs: pelaporan wajib menangkap PHK besar yang diumumkan resmi, sementara data BPJS menangkap realitas yang lebih senyap — orang-orang yang berhenti kerja sedikit demi sedikit, perusahaan demi perusahaan, tanpa pernah melewati ambang yang wajib dilaporkan.
Ada satu kontradiksi lagi yang layak dijelaskan langsung di sini, bukan ditunda ke paragraf lain: Badan Pusat Statistik (BPS) justru mencatat Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) turun ke 4,68% pada Mei 2026, membaik dari 4,85% pada Agustus 2025. Sekilas ini bertentangan dengan cerita PHK yang meningkat. Penjelasannya ada di metodologi: BPS menghitung siapa pun yang bekerja minimal satu jam dalam seminggu — termasuk pekerjaan informal serba-serabutan — sebagai "bekerja". Ketika pekerja formal terkena PHK dan terpaksa jualan online, jadi ojek daring, atau buka warung kecil-kecilan supaya dapur tetap ngebul, secara statistik mereka tetap terhitung "bekerja", walau kualitas dan keamanan pekerjaannya jauh menurun. Data resmi bisa membaik di permukaan sementara keamanan kerja riil di lapangan justru menipis.
Contoh di lapangan tersebar lintas sektor, bukan terkonsentrasi di satu industri — ciri khas lain forever layoffs. Di manufaktur padat karya, Feng Tay Indonesia merumahkan sekitar 4.000 pekerja alas kaki pada Juni 2026 sambil menunggu order baru, dan Sumber Graha Sejahtera memberhentikan sekitar 1.000 karyawan karena permintaan kayu lapis global melemah. Di sektor teknologi, selain Tokopedia, Shopee memangkas ratusan posisi developer secara global — sekitar 8% dari tenaga kerja pengembangnya — dan Lazada memangkas sekitar 5% dari total karyawannya lewat tinjauan strategis pertengahan 2026. Di media, ratusan posisi dilaporkan hilang di Kompas TV, CNN Indonesia TV, tvOne, Emtek Group, MNC Group, hingga RRI dan TVRI di tengah restrukturisasi dan efisiensi anggaran. Lembaga riset Celios memproyeksikan total PHK 2026 bisa tembus lebih dari 100.000 orang, naik dari sekitar 88.000 tahun sebelumnya, didorong tekanan biaya energi, pelemahan rupiah, dan defisit fiskal yang melebar. CORE bahkan memproyeksikan tambahan 15.300–20.300 PHK di kuartal kedua 2026 saja, terbesar di manufaktur, akibat rembesan konflik global ke industri domestik.
Survei Litbang Kompas pada April 2026 menangkap suasana batin di baliknya: 28,4% responden mengaku ada fenomena PHK di sekitar mereka — menimpa diri sendiri, keluarga, atau kerabat — dan sekitar delapan dari sepuluh responden mengaku kesulitan mencari pekerjaan baru di daerah tempat tinggal mereka. Ini bukan lagi cerita tentang satu sektor yang sedang goyah, tapi kecemasan yang menyebar tipis ke banyak rumah tangga sekaligus.
Apa Artinya Buat Kamu
Kalau kamu masih karyawan dan ingin mulai usaha
Jangan menunggu sinyal "aman" untuk mulai — dalam pola forever layoffs, sinyal itu mungkin tidak akan pernah datang secara jelas. Justru sebaliknya: manfaatkan selagi masih ada gaji tetap dan akses ke Jaminan Kehilangan Pekerjaan (JKP) sebagai jaring pengaman, untuk memvalidasi ide usaha sampingan tanpa harus bertaruh seluruh penghasilan sekaligus. Mulai kecil, uji dengan uang dan waktu yang bisa kamu relakan, bukan dengan mengorbankan pekerjaan utama dulu.
Perhatikan juga posisi kerjamu di dalam perusahaan: apakah fungsimu sering disebut dalam alasan PHK di sektor sejenis (customer service, data entry, QA testing, dan pekerjaan administratif rutin paling sering disebut rentan terhadap otomatisasi AI)? Kalau iya, momentum membangun penghasilan alternatif jadi lebih mendesak, bukan sekadar pilihan. Siapkan dana darurat yang lebih tebal dari standar umum 3–6 bulan pengeluaran — dalam pola PHK bertahap, kamu mungkin tidak dapat pesangon besar sekaligus karena putaran pemangkasan kecil sering kali menyasar individu atau tim kecil, bukan lewat skema pesangon massal yang biasanya lebih terstruktur secara hukum.
Kalau kamu sudah punya bisnis
Kalau bisnismu ada di sektor padat karya yang tertekan PMI kontraksi — tekstil, alas kaki, furnitur, manufaktur berbasis ekspor — jaga arus kas ketat dan hindari menambah tenaga kerja tetap saat permintaan sedang naik sesaat; pertimbangkan skema kerja fleksibel atau kontrak musiman dulu sebelum komit jangka panjang. Pantau kenaikan biaya bahan baku dan pergerakan rupiah secara rutin, karena itu yang paling sering memicu keputusan efisiensi mendadak di industri ini.
Kalau bisnismu di sektor jasa atau digital yang tergoda ikut tren "efisiensi lewat AI", pikirkan dua kali sebelum meniru pola pemangkasan kecil berulang tanpa komunikasi jelas ke tim yang tersisa. Biaya yang sering diabaikan dari forever layoffs adalah erosi kepercayaan dan produktivitas — karyawan yang terus-menerus was-was cenderung menahan usaha maksimal ("ghost working") dan lebih gampang resign begitu ada tawaran lain, bahkan sebelum kamu sempat memangkas mereka. Kalau efisiensi memang perlu, satu putaran yang jelas dan transparan biasanya lebih murah secara jangka panjang dibanding lima putaran kecil yang membuat semua orang, termasuk yang bertahan, sibuk mencari jalan keluar.
Kalau kamu resah karena PHK di sekitarmu tapi belum kena
Kamu tidak salah baca situasi. Data yang tampak baik-baik saja di permukaan (TPT turun) tidak berarti keamanan kerja membaik — itu sering kali cuma berarti lebih banyak orang terdorong ke pekerjaan informal yang kurang terlindungi. Cek hak-hakmu soal JKP dan JHT sebelum butuh, bukan sesudah, dan ikuti data ketenagakerjaan resmi tiap kuartal supaya keputusan finansialmu — kredit, cicilan, pindah kerja — tidak dibuat berdasarkan asumsi bahwa keadaan "pasti baik-baik saja selama belum ada berita PHK massal".
Yang Perlu Dipantau
- Rilis PMI Manufaktur Indonesia awal September 2026 (data Agustus) — apakah kontraksi tenaga kerja berlanjut ke bulan keenam.
- Data resmi PHK Kemnaker dan angka pembanding versi Apindo/BPJS Ketenagakerjaan, biasanya diperbarui tiap bulan — perhatikan apakah kesenjangan lima kali lipat itu melebar atau menyempit.
- Laporan bulanan Challenger, Gray & Christmas untuk data September 2026 di Amerika Serikat, penanda apakah pendinginan Juli tadi bertahan atau cuma jeda musiman.
- Musim laporan keuangan kuartal III Big Tech (Oktober–November 2026) — apakah PHK berlanjut meski laba tetap tinggi, pola yang paling banyak dikritik tahun ini.
- Update proyeksi CORE dan Celios untuk semester II 2026, khususnya dampak pelemahan rupiah dan biaya energi ke sektor padat karya domestik.
Penutup
Yang membuat forever layoffs berbeda bukan jumlah orang yang kehilangan pekerjaan — itu bisa diperdebatkan naik-turun dari bulan ke bulan. Yang berubah adalah rasa aman itu sendiri tidak lagi bisa disandarkan pada tidak adanya berita buruk. Selama ini kita belajar membaca sinyal bahaya lewat headline besar: pabrik tutup, ribuan orang dirumahkan sekaligus, baru waspada. Pola baru ini sengaja dirancang untuk tidak pernah cukup besar untuk jadi headline — dan justru di situlah bahayanya bersembunyi. Sikap yang paling masuk akal sekarang bukan menunggu alarm berbunyi, tapi berhenti berharap alarm itu akan pernah benar-benar berbunyi.
Sumber
- Yahoo Finance — "The 'forever layoffs' era hits a recession trigger"
- The HR Digest — "The Curse of the Forever Layoffs Is Upon Us"
- Glassdoor — Worklife Trends 2026 (dikutip via Inc., Quasa Media)
- TechCrunch — "Monday.com is the latest tech company to blame AI for layoffs"
- Yahoo Finance/Moneywise — Meta executive pay dan PHK 8.000 posisi
- Invezz — "Big Tech layoffs 2026: Amazon, Meta, Microsoft and the AI trade-off"
- Challenger, Gray & Christmas — Laporan Job Cuts Juli 2026
- CNBC Indonesia — "PMI Manufaktur RI Kontraksi Terburuk 9 Bulan, Perusahaan Mulai PHK"
- Bisnis.com — "Alarm PHK Sektor Manufaktur Belum Mereda"
- CNN Indonesia — "Apindo Beber 126 Ribu Pekerja RI Kena PHK Sepanjang Januari–Mei 2026"
- Bloomberg Technoz — "PHK 126 Ribu Per Mei, Apindo Yakinkan Tak Cuma di RI"
- Aktual.com — "Januari-Mei 2026 PHK Capai 126 Ribu Pekerja, Lebih Tinggi 5 Kali Lipat dari Laporan Kemnaker"
- Badan Pusat Statistik (BPS) — Rilis Tingkat Pengangguran Terbuka Mei 2026
- Antara News — "CORE: Risiko PHK Naik pada Kuartal II 2026 Imbas Konflik Global"
- Asatunews — "Ekonom Peringatkan Potensi PHK Massal 100 Ribu Pekerja Tahun 2026" (Celios)
- Jakarta Globe — "Indonesia's Biggest Layoffs Since 2025: From Sritex to TikTok-Tokopedia"
- CNBC Indonesia — "Buruh Ungkap 15.425 Orang Kena PHK di 2026"
- Kompas — Survei Litbang Kompas, April 2026
</markdown>
