Ringkasan Cepat

  • Harga cabai rawit merah menembus Rp81.300 per kg pada 25 Mei 2026 — naik tajam dari kisaran Rp65.000-an di awal bulan. Sebagai konteks, harga "normal" cabai rawit biasanya di kisaran Rp40.000–50.000 per kg.
  • Daging sapi kualitas I bertahan tinggi di sekitar Rp147.000–151.000 per kg menjelang Idul Adha 27 Mei 2026.
  • Minyak goreng kemasan masih bertengger di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah — dipicu kenaikan biaya kemasan yang bahan bakunya masih impor.
  • Beras justru relatif stabil, bahkan sebagian turun — bukti tekanan harga tidak merata di semua komoditas.
  • Pemicunya kombinasi: lonjakan permintaan musiman Idul Adha, gangguan distribusi & produksi hortikultura, plus efek rupiah lemah ke bahan baku impor.

Bukan sekadar "harga naik jelang lebaran"

Setiap menjelang hari raya, harga pangan naik — itu cerita lama. Tapi tahun ini ada lapisan yang membuat kenaikannya lebih tajam dari biasanya, dan menariknya, tidak semua komoditas naik. Beberapa justru turun. Memahami mana yang naik dan kenapa jauh lebih berguna daripada sekadar mengeluh harga mahal.

Lihat polanya. Yang melonjak paling tajam adalah kelompok hortikultura — cabai dan bawang. Cabai rawit merah, misalnya, merangkak naik hampir setiap pekan sepanjang Mei: dari Rp65.350 per kg pada 9 Mei, ke Rp78.500 pada 14 Mei, lalu tembus Rp81.300 pada 25 Mei. Naiknya konsisten, bukan lompatan satu hari.

Sementara itu, beras — bahan pokok paling vital — justru relatif tenang. Beras medium bahkan stabil di kisaran Rp16.000-an, dan beberapa jenis sempat turun. Perbedaan ini bukan kebetulan. Ia menceritakan sesuatu tentang akar masalahnya.

Kenapa cabai meledak tapi beras tenang?

Jawabannya ada pada karakteristik masing-masing komoditas.

Cabai dan sayuran hortikultura sangat sensitif terhadap cuaca dan distribusi. Mereka cepat busuk, tidak bisa disimpan lama, dan panennya gampang terganggu hujan atau kemarau. Saat distribusi atau produksi tersendat, harganya langsung meroket — dan saat panen melimpah, langsung anjlok. Inilah kenapa cabai dikenal sebagai "biang inflasi" yang paling bergejolak.

Beras berbeda. Ia bisa disimpan berbulan-bulan, punya cadangan pemerintah (Bulog), dan produksinya jauh lebih besar dan stabil. Jadi meski permintaan naik jelang hari raya, stoknya cukup untuk meredam lonjakan harga.

Tambahkan satu faktor lagi: permintaan musiman. Menjelang Idul Adha, kebutuhan bumbu masak dan daging melonjak karena banyak rumah tangga memasak dalam jumlah besar. Permintaan tinggi bertemu pasokan hortikultura yang ketat — hasilnya, harga cabai dan daging sapi terbang.

Jejak rupiah lemah di botol minyak goreng

Ada satu komoditas yang kenaikannya bercerita soal hal lebih besar: minyak goreng kemasan, yang sampai akhir Mei masih bertahan di atas HET.

Yang menarik, penyebabnya bukan kelangkaan minyak sawit — Indonesia justru produsen sawit terbesar dunia. Menurut pedagang pasar, pemicunya adalah biaya kemasan yang bahan bakunya masih banyak diimpor. Saat rupiah melemah ke kisaran Rp17.800 per dolar, biaya impor kemasan plastik membengkak, dan kenaikan itu diteruskan ke harga jual.

Ini contoh nyata bagaimana rupiah lemah merembes diam-diam ke dompet rumah tangga — bukan lewat barang impor langsung, tapi lewat komponen kecil seperti kemasan. Sekitar 30–40% kebutuhan pangan dan bahan industri Indonesia masih bergantung pasokan luar negeri, sehingga saat rupiah turun, efeknya menjalar ke banyak titik tak terduga.

Apakah ini akan jadi inflasi yang lebih besar?

Belum tentu — tapi tandanya patut diwaspadai. Inflasi resmi Indonesia per April 2026 masih jinak di 2,42%, jauh di dalam sasaran Bank Indonesia. Tapi ekonom memproyeksikan tekanan harga bulanan Mei sedikit naik dibanding April, terutama dari kelompok pangan bergejolak.

Bedanya, lonjakan harga cabai dan daging jelang hari raya biasanya bersifat sementara — turun lagi setelah puncak permintaan lewat. Yang lebih perlu dikhawatirkan adalah tekanan harga yang bersumber dari rupiah lemah (seperti kasus minyak goreng), karena ini bisa bertahan lebih lama selama kurs belum stabil.


Apa Artinya Buat Kamu

Kalau kamu masih karyawan dan ingin mulai usaha kuliner

Bisnis makanan terlihat menggiurkan karena permintaan selalu ada, tapi pelajaran dari bulan ini jelas: marginmu sangat rentan terhadap harga bahan baku yang bergejolak. Sebelum mulai, pahami komoditas mana yang harganya stabil (beras, sebagian protein) dan mana yang liar (cabai, bawang, sayuran). Rancang menu yang tidak 100% bergantung pada bahan bergejolak, dan biasakan menghitung harga pokok per porsi secara berkala, bukan sekali di awal.

Kalau kamu sudah punya bisnis F&B atau katering

Tiga langkah praktis. Pertama, amankan pasokan bahan utama lebih awal saat ada momen harga turun — terutama yang bisa disimpan. Kedua, daripada menaikkan harga jual mendadak (yang bikin pelanggan kabur), pertimbangkan menyesuaikan porsi atau komposisi menu secara halus. Ketiga, bangun hubungan dengan lebih dari satu pemasok supaya kamu tidak tersandera saat satu pemasok menaikkan harga. Di bisnis margin tipis seperti F&B, kelincahan mengelola bahan baku adalah pembeda antara untung dan rugi.

Kalau kamu konsumen biasa

Belanja lebih cerdas dengan mengikuti pola: harga cabai dan daging biasanya turun lagi beberapa hari setelah puncak Idul Adha lewat, jadi tunda pembelian dalam jumlah besar kalau tidak mendesak. Untuk bumbu, pertimbangkan cabai/bawang yang dikeringkan atau dibekukan sebagai cadangan saat harga segar meroket. Dan perhatikan: kalau melihat minyak goreng di atas HET, itu bukan ulah pedagang nakal semata — ada faktor biaya kemasan impor di baliknya.


Yang Perlu Dipantau

  • Harga pangan pasca-Idul Adha (akhir Mei–awal Juni) — apakah cabai dan daging turun kembali seperti pola biasanya.
  • Data inflasi Mei dari BPS awal Juni — penentu apakah lonjakan pangan ini terbawa ke inflasi resmi.
  • Pergerakan rupiah — selama lemah, tekanan ke komoditas berbahan impor (termasuk kemasan) akan bertahan.
  • Pasokan dan distribusi hortikultura — gangguan cuaca atau logistik bisa memperpanjang harga tinggi cabai.
  • Langkah Bulog dan pemerintah menjaga stok dan operasi pasar murah.

Penutup

Mahalnya dapur bulan ini bukan satu cerita, tapi tiga cerita yang kebetulan terjadi bersamaan: permintaan hari raya, hortikultura yang memang gampang bergejolak, dan rupiah lemah yang menyusup lewat kemasan. Membedakan ketiganya penting — karena dua yang pertama bersifat sementara, sedangkan yang ketiga bisa bertahan.

Buat pelaku usaha, ini pengingat bahwa di bisnis pangan, yang menentukan bukan seberapa ramai pelangganmu, tapi seberapa lincah kamu mengelola biaya bahan baku yang naik-turun. Yang paham polanya, dia yang bertahan saat harga liar.


Sumber

  • Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Bank Indonesia — data harga pangan harian Mei 2026
  • Suara.com / Kontan — laporan harga pangan nasional Mei 2026
  • Liputan6 / Berita Keuangan Indonesia — harga cabai rawit & komoditas pokok
  • Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi) — penjelasan harga minyak goreng & ketergantungan impor
  • Lodpost — dampak pelemahan rupiah terhadap harga pangan