Ringkasan Cepat
- Ekspor China ke AS anjlok 16% di Q1 2026 akibat perang dagang; barang yang tidak bisa masuk AS dialihkan ke ASEAN dan pasar berkembang
- Ekspor China ke ASEAN naik 29,4% dibanding periode yang sama tahun lalu — Indonesia jadi salah satu sasaran utama
- Impor produk China ke Indonesia naik 25% lebih, khususnya mesin, baja, elektronik, dan tekstil
- Industri manufaktur Indonesia yang bersaing produk serupa menghadapi tekanan ganda: produk China lebih murah dan lebih banyak
- Tapi ada juga sisi lain: Indonesia bisa jadi "connector economy" kalau bisa manfaatkan bahan baku murah China untuk produk ekspor ke AS dan Eropa
Di Balik Kemerosotan Ekspor China ke AS
Setiap kali AS menaikkan tarif ke China, ada pertanyaan yang selalu muncul: barang-barang itu ke mana perginya?
Di Q1 2026, ekspor China ke AS turun 16% dibanding periode yang sama tahun lalu — salah satu penurunan terbesar dalam sejarah perdagangan bilateral kedua negara. Ini bukan karena China tiba-tiba berhenti berproduksi. Kapasitas manufaktur China tidak kemana-mana. Yang berubah adalah arah pengirimannya.
Data menunjukkan China mengalihkan arus ekspor ke ASEAN dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Ekspor China ke ASEAN naik 29,4% dibanding periode yang sama tahun lalu — didorong antara lain oleh lonjakan ke Vietnam (+26,4%) yang sudah lama berfungsi sebagai transit hub.
Indonesia bukan pengecualian. Impor dari China ke Indonesia naik signifikan, dengan penelitian menunjukkan lonjakan sekitar 25% untuk barang-barang industri.
Kenapa Indonesia Jadi Sasaran yang Menarik bagi China?
Ada beberapa alasan struktural kenapa Indonesia menjadi target pengalihan ekspor China.
Pertama, ACFTA (perjanjian dagang ASEAN–China) yang sudah berlaku sejak 2010 memberikan akses pasar dengan tarif rendah atau nol ke Indonesia. Artinya China bisa masuk tanpa hambatan bea masuk yang signifikan. Lebih dari dua dekade sejak perjanjian ini ditandatangani, para ekonom mencatat bahwa ACFTA telah melebarkan surplus perdagangan China dengan hampir semua negara ASEAN — termasuk Indonesia.
Kedua, Indonesia adalah pasar besar dengan daya beli yang sedang tumbuh. 280 juta konsumen adalah target yang sangat menarik bagi produsen China yang butuh jalur penjualan baru.
Ketiga, dalam kondisi rupiah melemah ke Rp18.000/dolar, produk impor semua jadi lebih mahal dalam rupiah — tapi produk China yang sudah murah dari asalnya tetap paling kompetitif dibanding produk sejenis dari negara lain.
Siapa yang Kena Paling Keras?
Bukan semua industri terdampak sama. Ada pola yang jelas.
Industri yang paling rentan:
Tekstil dan produk tekstil (TPT) — sudah berjuang keras sepanjang 2026. Produk tekstil China yang diproduksi dengan skala raksasa dan biaya rendah langsung bersaing di segmen yang sama dengan produsen lokal.
Baja dan logam olahan — China memiliki masalah kelebihan kapasitas (excess capacity, artinya pabrik mereka memproduksi lebih banyak dari yang bisa diserap pasar dalam negeri) di baja yang paling besar di dunia. OECD sudah memperingatkan bahwa ASEAN berisiko menjadi "dumping ground" — tempat pembuangan baja murah China yang tidak bisa masuk ke AS dan Eropa.
Elektronik dan komponen — mesin dan peralatan listrik adalah salah satu kategori impor terbesar dari China ke Indonesia.
Furnitur dan produk rumah tangga — segmen yang persis bersaing dengan produk UMKM lokal di marketplace.
Industri yang justru diuntungkan:
Produsen yang menggunakan bahan baku dari China untuk membuat produk jadi yang diekspor ke AS atau Eropa — mereka justru bisa dapat bahan baku lebih murah.
Importir dan retailer yang menjual produk China ke konsumen Indonesia — jangka pendek, mereka untung dari banjir barang murah.
Angka yang Tidak Terlihat di Headline
Di balik data ekspor ada dinamika yang lebih mencemaskan. Surplus perdagangan Indonesia dengan AS dan beberapa negara maju memang terlihat positif — tapi defisit perdagangan Indonesia dengan China terus melebar. Pada paruh pertama 2025, defisit perdagangan Indonesia dengan China mencapai $6,3 miliar — dua kali lipat dari periode yang sama tahun sebelumnya.
Ini adalah pola "double squeeze" (tekanan ganda): dari atas, produk Indonesia ditolak atau dikenakan tarif lebih tinggi di AS (via Section 301 forced labor). Dari bawah, pasar domestik Indonesia dibanjiri produk China.
Dan yang membuat ini lebih kompleks: banyak dari produk China yang masuk ke Indonesia bukan untuk konsumsi lokal saja. Ada yang "cuci alamat" — di-reimport seolah produk Indonesia — untuk masuk ke pasar AS dengan tarif yang lebih rendah dibanding produk langsung dari China. USTR mengidentifikasi ini sebagai salah satu celah dalam sistem perdagangan global yang sedang mereka tutup.
Respons Indonesia: Antara Terlambat dan Belum Cukup
Pemerintah Indonesia sadar dengan risiko ini. Kemendag sudah dan sedang merevisi Permendag 31/2023 tentang regulasi e-commerce — salah satu tujuannya adalah memberikan prioritas kepada produk dalam negeri dan membatasi arus produk impor di marketplace digital.
Tapi regulasi marketplace adalah solusi parsial. Persoalan yang lebih besar ada di level kebijakan industri: apakah Indonesia punya strategi untuk memastikan bahwa banjir barang murah China ini tidak mematikan industri manufaktur lokal yang sudah babak belur oleh PHK dan kontraksi PMI?
Beberapa negara ASEAN sudah bergerak lebih cepat. Vietnam, meski juga menjadi sasaran, justru berhasil memposisikan diri sebagai "connector economy" — menyerap investasi manufaktur China untuk memproduksi barang yang kemudian diekspor ke AS. Ini bukan tanpa risiko (AS sudah mengincar Vietnam untuk masalah yang sama), tapi menunjukkan bahwa ada cara lain membaca situasi ini.
Apa Artinya Buat Kamu
Kalau kamu masih karyawan dan ingin mulai usaha
Situasi ini sebenarnya menawarkan dua jenis peluang berbeda. Pertama, jika kamu ingin membangun bisnis yang bersaing langsung dengan produk China (harga, volume, komoditas), itu bukan medan yang bagus untuk pemain baru tanpa skala besar. Kedua, jika kamu bisa memanfaatkan komponen atau bahan baku China untuk membangun produk dengan nilai tambah tinggi — desain unik, kustomisasi, atau targeting segmen yang tidak dilayani China — justru ini timing yang menarik karena bahan baku jadi lebih murah.
Kalau kamu sudah punya bisnis
Ada tiga pertanyaan yang perlu kamu jawab sekarang:
Apakah produkmu langsung bersaing dengan produk China di segmen harga yang sama? Kalau ya, kamu perlu strategi diferensiasi yang jelas — karena persaingan harga saja tidak akan bisa dimenangkan melawan produsen dengan skala seperti China.
Apakah kamu bisa menggunakan bahan baku dari China yang sekarang lebih mudah diakses untuk meningkatkan margin atau kualitas produk? Ini celah yang sering diabaikan.
Apakah bisnismu berjualan di marketplace? Kalau ya, pantau perkembangan regulasi Kemendag dan Kementerian UMKM — kebijakan yang memberi prioritas produk lokal di algoritma marketplace sedang dalam proses pengesahan dan bisa jadi angin segar.
Kalau kamu bekerja di sektor manufaktur
Data PHK manufaktur yang mencapai 23.470 orang Januari–Mei 2026 bukan hanya soal konflik Timur Tengah dan biaya energi — tekanan produk China yang masuk adalah faktor struktural yang lebih persisten. Sektor tekstil, baja, dan elektronik adalah yang paling rentan. Diversifikasi skill ke fungsi yang tidak bisa digantikan oleh produk impor — desain, QA (quality assurance), manajemen distribusi lokal, atau perpindahan ke sektor layanan — menjadi opsi yang semakin masuk akal.
Yang Perlu Dipantau
- Revisi Permendag 31/2023 — regulasi e-commerce baru yang akan menentukan seberapa banyak produk lokal mendapat proteksi di marketplace digital
- Data impor BPS Q2 2026 — apakah lonjakan impor dari China berlanjut atau mulai direm oleh regulasi
- Kebijakan antidumping Kemendag — apakah pemerintah akan menerapkan bea antidumping (tarif tambahan untuk produk yang dijual di bawah harga pasar wajar) ke produk baja dan tekstil China
- Perkembangan Section 301 USTR terhadap Indonesia — jika AS mengidentifikasi produk transshipment China via Indonesia, ini bisa jadi masalah baru
- Investasi manufaktur China di Indonesia — beda antara investasi yang membangun nilai tambah vs yang sekadar "bypass" untuk akses pasar AS
Penutup
Perang dagang AS–China bukan cerita yang cuma relevan untuk diplomat dan ekonom. Efeknya nyata di rak toko, di harga besi di toko bangunan, di daftar pesanan pabrik di Karawang dan Surabaya.
Yang membedakan negara yang keluar sebagai pemenang dari situasi ini adalah bukan yang paling keras menutup pintu terhadap barang China — tapi yang paling cepat menemukan cara memanfaatkan apa yang bisa dimanfaatkan, sambil melindungi industri yang tidak bisa bertahan sendiri. Indonesia punya kedua kebutuhan itu sekaligus, dan belum punya strategi yang cukup jelas untuk keduanya.
Sumber
- CNBC Indonesia — "China Ditolak AS, ASEAN Jadi Sasaran: Barang Murah China Membanjir — Indonesia Waspada"
- China Briefing — "China's Economy in 2026 Rebounds on Back of Trade, Tech"
- The Diplomat — "16 Years On, ACFTA Widens Indonesia-China Trade Imbalance" (Februari 2026)
- Asia Society — "ASEAN Caught Between China's Export Surge and Global De-Risking"
- Market Research Indonesia — "Chinese Reroutes & Indonesia Trade Diversion Effects"
- J.P. Morgan Private Bank — "2026 Asia Outlook"
- Lowy Institute — "ASEAN Countries Confront Chinese Export Glut"
