Selama bertahun-tahun, startup dinilai dari seberapa cepat mereka tumbuh — bukan seberapa sehat. Sekarang investor mengubah pertanyaannya. Dan jawaban yang paling diminati ternyata berwarna hijau.


Ringkasan Cepat

  • Total pendanaan startup Indonesia sepanjang 2025 hanya US$340 juta — anjlok jauh dari era euforia 2021.
  • Investor kini selektif: bukan modal yang minim, tapi standar yang lebih tinggi — mereka mencari startup dengan fundamental bisnis yang sehat, bukan sekadar pertumbuhan cepat.
  • Arus modal bergeser ke sektor "dampak": green tech, agritech, dan healthtech dinilai menawarkan pertumbuhan stabil yang sejalan tren keberlanjutan global.
  • Startup green tech Indonesia sudah memimpin di kawasan — Xurya menarik pendanaan US$88 juta untuk model sewa panel surya.
  • Gelombang AI menurunkan biaya membangun startup, membuka jalan bagi pendiri baru meski iklim pendanaan ketat.

Angka yang menjelaskan pergeseran

Mari mulai dari satu angka yang menggambarkan keseluruhan cerita. Sepanjang 2025, total pendanaan startup Indonesia hanya mencapai US$340 juta — sekitar Rp5,72 triliun. Untuk konteks: pada puncak euforia 2021, pendanaan startup mengalir jauh lebih deras. Indonesia bahkan kini hanya menyumbang 6,3% dari total investasi startup di Asia Tenggara, kalah jauh dari Singapura yang mengumpulkan sekitar US$4,20 miliar.

Sekilas, ini terdengar seperti kabar suram — "tech winter", musim dingin teknologi, ketika dana investor mengering. Tapi membacanya begitu saja akan melewatkan poin pentingnya.

Indonesian Digital Empowering Community (Idiec) menilai kondisi ini bukan berarti pendanaan semakin minim, melainkan investor kini lebih cermat memilih startup yang punya potensi keberlanjutan bisnis. Ketua Umum Idiec Tesar Sandikapura menyatakan euforia pendanaan seperti 2021 belum akan kembali dalam waktu dekat.

Pergeserannya bukan dari "banyak uang" ke "sedikit uang". Pergeserannya dari "uang untuk siapa saja yang tumbuh cepat" ke "uang untuk yang bisa membuktikan bisnisnya sehat".

Apa yang sebenarnya berubah di kepala investor

Selama era bakar uang, logika investasi startup sederhana: kuasai pasar secepat mungkin dengan subsidi besar, urusan untung belakangan. Banyak startup tumbuh raksasa tanpa pernah benar-benar untung — dan investor membiarkannya, karena yang dikejar adalah pangsa pasar.

Sekarang logika itu runtuh. Memasuki 2026, ekosistem startup Indonesia menunjukkan pertumbuhan yang lebih stabil, dengan investor yang menekankan keberlanjutan profit dibanding sekadar pertumbuhan cepat. Pertanyaan yang dulu ditunda — "kapan bisnis ini untung?" — kini ditanyakan di awal.

Konsekuensinya, startup dituntut memikirkan unit ekonomi yang sehat: memastikan setiap rupiah yang dibelanjakan menghasilkan nilai yang sepadan dan berkontribusi pada profitabilitas. Tidak ada lagi kemewahan tumbuh sambil rugi tanpa batas waktu.

Bagi sebagian orang, ini terdengar seperti pengetatan yang menyakitkan. Tapi sebenarnya ini pendewasaan. Ekosistem yang menyeleksi berdasarkan kesehatan bisnis menghasilkan persaingan yang lebih berkualitas dan berorientasi jangka panjang.

Kenapa green tech jadi sorotan

Di sinilah arah uang menjadi menarik. Ketika investor mencari bisnis yang tahan lama dan punya alasan kuat untuk tumbuh, mereka mengarahkan modal ke sektor "dampak" — agritech, healthtech, dan terutama climate-tech atau green tech. Sektor-sektor ini dinilai menawarkan peluang pertumbuhan yang stabil dan sejalan dengan tren keberlanjutan global.

Green tech sendiri sederhananya adalah pemanfaatan teknologi untuk menciptakan solusi ramah lingkungan — efisiensi energi, energi terbarukan, pengelolaan sampah, hingga ekonomi sirkular (model ekonomi yang berusaha mendaur ulang dan meminimalkan limbah, bukan sekadar pakai-buang).

Dan kabar baiknya: Indonesia bukan pendatang baru di sini. Dalam daftar startup green tech yang menonjol di Asia Tenggara, Indonesia justru mendominasi. Startup seperti Xurya, SUN Energy, dan Jejakin menarik minat investor secara signifikan. Xurya memimpin dengan pendanaan sekitar US$88 juta — modelnya cerdas: menyewakan panel surya, sehingga perusahaan bisa beralih ke energi bersih tanpa harus mengeluarkan investasi awal yang besar.

Ada juga model lain yang konkret. Jejakin membangun platform untuk menghitung dan mengelola jejak karbon — seberapa besar emisi yang dihasilkan sebuah bisnis atau individu — dan terlibat dalam pengembangan Bursa Karbon Indonesia. Rekosistem menghadirkan aplikasi pengelolaan sampah yang menghubungkan masyarakat, bank sampah, dan pengelola daur ulang.

Pergeseran ini bukan kebetulan. Pemerintah juga aktif mendorongnya — di forum ekonomi dunia, Indonesia menegaskan posisinya sebagai tujuan investasi berkelanjutan, di tengah arus modal global yang memang sedang bergeser ke pembiayaan ramah lingkungan.

Sisi yang perlu dibaca dengan jujur

Supaya tidak terdengar terlalu manis, ada beberapa catatan kritis.

Pertama, minat tidak sama dengan pemahaman. Sebuah survei menemukan minat anak muda Indonesia terhadap green tech tinggi, tapi pemahaman yang benar-benar mendalam masih jauh lebih rendah. Antusiasme ada; kompetensi teknisnya masih perlu dibangun.

Kedua, green tech bukan jaminan sukses otomatis. Sektor ini dipilih investor karena dinilai tahan lama, bukan karena mudah. Banyak solusi hijau butuh modal besar di awal dan baru menghasilkan dalam jangka panjang. Startup green tech tetap harus membuktikan unit ekonomi yang sehat — standar yang sama berlakunya seperti sektor lain.

Ketiga, kepercayaan investor belum sepenuhnya pulih. Idiec menyebut kebangkitan pendanaan kemungkinan baru terjadi jika ada "exit besar" — startup yang berhasil melantai di bursa lewat IPO atau diakuisisi dengan nilai tinggi. Selama itu belum terjadi, iklim pendanaan akan tetap ketat.

Modal baru: AI yang memangkas biaya

Ada satu faktor yang membuat 2026 tetap menarik bagi pendiri baru meski pendanaan ketat. Gelombang AI sudah menurunkan biaya membangun startup secara drastis — usaha yang dulu butuh tim 5–10 developer kini bisa dibangun oleh satu-dua orang dengan bantuan AI.

Ini mengubah persamaan. Kalau biaya membangun produk turun drastis, startup tidak lagi butuh modal raksasa hanya untuk memulai. Itu cocok dengan iklim investor yang selektif: kamu bisa membuktikan bisnismu sehat dengan modal kecil dulu, baru mencari pendanaan besar setelah ada bukti.


Apa Artinya Buat Kamu

Kalau kamu masih karyawan dan ingin mulai usaha

Justru ini momen yang masuk akal untuk memulai — bukan meski iklim pendanaan ketat, tapi karena itu. Biaya membangun produk sedang rendah berkat AI, dan investor sedang menghargai bisnis yang sehat sejak awal. Artinya kamu tidak perlu mimpi mengumpulkan miliaran rupiah dulu. Mulai kecil, buktikan ada orang yang benar-benar mau membayar produkmu, jaga agar pengeluaran selalu menghasilkan nilai. Kalau idemu menyentuh masalah lingkungan atau efisiensi energi, kamu kebetulan berada di sektor yang sedang dicari modal.

Kalau kamu sudah punya bisnis

Pelajaran dari pergeseran ini berlaku untuk semua usaha, bukan hanya startup: pertumbuhan yang dibiayai kerugian terus-menerus bukan model yang tahan lama. Fokus pada unit ekonomi yang sehat — pastikan setiap penjualan benar-benar memberi margin. Selain itu, perhatikan sisi keberlanjutan bukan sebagai beban, tapi sebagai nilai jual: efisiensi energi memangkas biaya, dan makin banyak mitra serta konsumen yang menghargai praktik ramah lingkungan.

Kalau kamu seorang profesional di bidang teknologi

Sektor green tech, agritech, dan healthtech sedang menjadi tujuan modal — dan modal mengikuti talenta. Kalau kamu berkarier di bidang teknologi, membangun keahlian yang relevan dengan keberlanjutan — dari data energi sampai sistem pengukuran karbon — bisa menempatkanmu di sektor yang sedang tumbuh, bukan yang sedang menyusut.


Yang Perlu Dipantau

  • "Exit besar" pertama — IPO atau akuisisi besar yang sukses akan jadi penentu apakah kepercayaan investor pulih.
  • Pendanaan green tech sepanjang 2026 — apakah pergeseran ke sektor dampak benar-benar terlihat di angka, bukan sekadar narasi.
  • Perkembangan Bursa Karbon Indonesia — infrastruktur ini menentukan masa depan banyak startup climate-tech.
  • Total pendanaan startup Indonesia vs kawasan — apakah posisi 6,3% Asia Tenggara membaik atau tetap tertinggal dari Singapura.

Penutup

Mudah membaca anjloknya pendanaan startup sebagai kabar buruk. Tapi yang sebenarnya terjadi lebih sehat dari itu: ekosistem yang selama bertahun-tahun menghargai kecepatan kini mulai menghargai ketahanan.

Startup yang lahir di era ini tidak akan tumbuh secepat generasi 2021 — tapi mereka juga tidak akan ambruk secepat itu. Dan kalau gelombang berikutnya benar-benar berwarna hijau, Indonesia punya posisi awal yang bagus: cadangan sumber daya alam yang besar, dan startup yang sudah memimpin di kawasan. Yang menentukan sekarang bukan seberapa banyak uang yang bisa dikumpulkan, tapi seberapa nyata masalah yang berhasil dipecahkan.


Sumber

  • Sultra Media / DealStreetAsia — Pendanaan Startup Indonesia 2026: Selektif, Bukan Minim
  • Teknologi.id — 10 Startup Indonesia yang Mendorong Green Tech & Sustainability
  • ZonaEBT — 9 Startup Greentech Asia Tenggara
  • Zona Usaha — Perkembangan Startup Indonesia 2026: Tren dan Peluang
  • Founder Plus — 20 Ide Bisnis Startup Indonesia 2026
  • BKPM — Indonesia Perkuat Posisi sebagai Tujuan Investasi Berkelanjutan di WEF
  • Ade Parlaungan Nasution — Startup Indonesia: Ketidakpastian dan Peluang Berkelanjutan