Ringkasan Cepat

  • Figure AI, startup robot humanoid asal AS, resmi bervaluasi $39 miliar setelah putaran Series C (pendanaan tahap lanjut untuk startup yang sudah terbukti tumbuh) senilai lebih dari $1 miliar — naik 15 kali lipat hanya dalam 18 bulan.
  • Ini bukan cerita satu perusahaan: pendanaan khusus robot humanoid tahun 2026 saja sudah tembus $3,8 miliar, melampaui total sepanjang 2025. Sektor robotik secara luas menyerap $18,8 miliar tahun ini.
  • China justru mendominasi soal jumlah unit: produsen asal China menguasai sekitar 97% pengiriman robot humanoid global di semester I 2026, dengan Unitree baru saja melantai di bursa Shanghai bervaluasi $9 miliar.
  • Ahli robotika senior seperti Rodney Brooks (salah satu pendiri iRobot) justru memperingatkan ini gelembung — dan alasannya bukan sekadar sentimen pasar, tapi keterbatasan teknis nyata.
  • Di Indonesia, pabrik justru sedang tumbuh sementara penyerapan tenaga kerja formalnya menyusut — pola yang jadi makin relevan begitu ongkos robot terus turun mendekati level upah minimum.

Rp15 Triliun untuk Robot yang Baru Bisa Melipat Handuk

Angka $39 miliar itu adalah valuasi pasca-investasi (post-money valuation) — nilai perusahaan setelah dana baru masuk dihitung. September 2025, Figure AI menutup putaran Series C senilai lebih dari $1 miliar, dipimpin Parkway Venture Capital dengan deretan investor yang jarang berkumpul di satu meja: Nvidia, Brookfield Asset Management, Macquarie Capital, Intel Capital, Salesforce, Qualcomm Ventures, sampai T-Mobile Ventures.

Bandingkan dengan Februari 2024, saat Figure baru bervaluasi $2,6 miliar dari putaran Series B senilai $675 juta. Artinya nilainya melonjak 15 kali lipat hanya dalam 18 bulan — kecepatan yang jarang terjadi bahkan di dunia startup AI yang sudah terbiasa dengan valuasi gila-gilaan.

CEO Brett Adcock bilang dana ini untuk "membuka tahap pertumbuhan berikutnya bagi robot humanoid" — dalam praktiknya, memperbesar BotQ (pabrik robot milik Figure sendiri) dan Helix, model AI yang jadi "otak" robotnya. Yang jarang disebut di headline: Figure, seperti hampir semua pemain robot humanoid lain, masih pre-revenue secara signifikan. Valuasinya dibangun di atas ekspektasi masa depan, bukan pendapatan hari ini — pola yang sama persis dengan gelombang pendanaan AI generatif dua tahun lalu.

Bukan Cuma Figure: Perlombaan Modal ke Seluruh Dunia

Figure cuma puncak gunung es. Total pendanaan ekuitas khusus robot humanoid sepanjang sejarah kini mencapai sekitar $8,6 miliar dari 113 putaran — dan hampir separuhnya, sekitar $3,8 miliar, cair sepanjang 2026 saja, sudah melampaui total 2025 yang sekitar $3 miliar. Kalau dihitung dari sektor robotik secara luas (termasuk lengan robot industri dan logistik, bukan cuma humanoid), angkanya membengkak jadi $18,8 miliar tahun ini, dari $15 miliar sepanjang 2025.

Juni 2026, NEURA Robotics dari Jerman menutup Series C senilai hingga $1,4 miliar dipimpin Tether (perusahaan di balik stablecoin USDT), dengan Amazon, Nvidia, dan Bank Investasi Eropa ikut masuk. Ini penting karena menunjukkan uang tidak cuma mengalir dari Silicon Valley — Amerika Serikat, China, dan Jerman kini menguasai sekitar 97% dari total pendanaan robot humanoid global, masing-masing lewat basis investor yang berbeda.

Uniknya, para penyandang dana bukan cuma modal ventura biasa — Nvidia, Amazon, Microsoft, dan Qualcomm ikut masuk karena melihat robot humanoid sebagai perpanjangan dari taruhan mereka di infrastruktur AI. Chip yang melatih model bahasa besar juga dipakai melatih robot untuk mengenali dan menggenggam benda. Bagi mereka, robot fisik adalah "pelanggan" berikutnya untuk GPU yang sudah mereka jual.

Sementara itu di sisi produksi, China justru unggul telak dari sisi volume, bukan valuasi. AgiBot menyalip Unitree sebagai vendor robot humanoid terbesar dunia di semester I 2026, mengapalkan sekitar 8.400 unit (44% pangsa pasar global), disusul Unitree dengan 5.900 unit (31%). Total, produsen China menguasai sekitar 97% pengiriman unit global periode itu. Unitree sendiri baru saja mencatatkan diri sebagai produsen robot humanoid pertama yang melantai di bursa — IPO di STAR Market Shanghai dengan harga akhir 150,8 yuan per saham, menghimpun sekitar $900 juta dan menempatkan valuasinya di kisaran 61 miliar yuan atau sekitar $9 miliar. Minat investor ritelnya sampai membuat penawaran ini oversubscribed lebih dari 5.500 kali lipat.

Jadi pembagian perannya cukup jelas: Amerika Serikat dan sebagian Eropa memimpin dari sisi modal dan ambisi kecerdasan buatan, China memimpin dari sisi kecepatan produksi massal dan harga murah.

Kenapa Ahli Robotika Sendiri Was-was

Di tengah euforia ini, justru salah satu tokoh robotika paling senior yang menaruh keraguan paling keras. Rodney Brooks — salah satu pendiri iRobot dan mantan profesor MIT — bilang gelombang humanoid ini "ditakdirkan pecah sebagai gelembung." Kritiknya bukan sekadar soal harga saham, tapi soal fisika dan biologi dasar yang menurutnya diabaikan investor.

Pendekatan yang dipakai Tesla dan Figure — melatih robot lewat rekaman video manusia melakukan tugas — disebutnya "pure fantasy thinking" alias khayalan murni. Alasannya: telapak tangan manusia punya sekitar 17.000 reseptor sentuh khusus yang tidak bisa ditandingi sensor robot mana pun saat ini. Pengenalan suara dan gambar bisa maju pesat karena ada puluhan tahun tradisi mengumpulkan data suara dan gambar berkualitas — tapi tradisi serupa untuk "data sentuhan" nyaris tidak ada.

Ada juga soal fisika yang lebih mengerikan: robot humanoid seukuran manusia dewasa butuh energi besar cuma untuk tetap berdiri tegak. Brooks memperingatkan, robot berukuran dua kali lipat model sekarang akan menghasilkan delapan kali energi berbahaya saat terjatuh — risiko keselamatan yang menurutnya belum benar-benar dihitung serius oleh industri yang terburu-buru mengejar skala produksi.

Bessemer Venture Partners — salah satu modal ventura yang justru ikut mendanai sektor ini — punya istilah lebih halus: ini "momen GPT-2,5 untuk robotika". Maksudnya, kemampuannya sudah nyata dan terus membaik, tapi jarak menuju keandalan 99,9% yang dibutuhkan untuk deployment produksi sungguhan masih lebar. Beberapa analis bahkan memperingatkan risiko kelebihan kapasitas — pabrik-pabrik robot dibangun lebih cepat dari pesanan riil yang masuk. Bahkan pemerintah China sendiri, menurut sejumlah laporan, mulai was-was soal gelembung di sektor kebanggaan nasionalnya ini.

Ongkos Robot vs Upah Buruh: Matematika yang Menentukan

Di balik semua euforia dan kritik itu, ada satu pertanyaan yang lebih membumi: kapan robot benar-benar lebih murah dari manusia? Agility Robotics, pembuat robot Digit, mengaku ongkos operasional robotnya saat ini masih $10-25 per jam tergantung cara pabrik menerapkannya — mereka menargetkan turun ke $2-3 per jam "dalam waktu dekat". Sebagai pembanding, upah minimum pekerja level pemula di pabrik Agility sendiri di Amerika Serikat sekitar $20 per jam. Artinya di AS, robot baru akan benar-benar kompetitif kalau kurva biayanya benar-benar turun sesuai target.

Sekarang bandingkan dengan Indonesia. Upah minimum provinsi (UMP) DKI Jakarta 2026 ditetapkan Rp5.729.876 per bulan. Kalau dibagi 173 jam kerja standar per bulan — rumus resmi yang dipakai untuk menghitung upah per jam di Indonesia — angkanya jadi sekitar Rp33.100 per jam. Proyeksi industri untuk ongkos operasional robot humanoid termurah di masa depan (sekitar $2 per jam) disebut setara sekitar Rp35.800 per jam.

Dua angka itu nyaris identik. Ini bukan berarti robot akan menggantikan buruh Jakarta bulan depan — ongkos robot hari ini masih jauh lebih mahal dari upah minimum manapun di Indonesia. Tapi ini menjelaskan kenapa titik impas ekonomi robot humanoid, begitu kurva biayanya benar-benar turun seperti yang dijanjikan investor, justru lebih cepat tercapai di negara berupah rendah seperti Indonesia dibanding di pabrik Amerika yang upahnya jauh lebih tinggi — sebuah ironi yang jarang dibahas di narasi "robot menyelamatkan Indonesia dari kekurangan tenaga kerja".

Pabrik RI Tumbuh, tapi Kok Makin Sedikit yang Direkrut?

Ini yang bikin momen sekarang terasa lebih genting dari sekadar tren global yang jauh. Data Badan Pusat Statistik (BPS) untuk Indeks Kepercayaan Bisnis Manufaktur (IKBM) kuartal II 2026 menunjukkan pola yang aneh: indeks keseluruhan naik ke 52,31 dari 51,37 di kuartal I — artinya industri manufaktur sedang ekspansif. Tapi komponen tenaga kerjanya justru turun ke 49,92 dari 50,57, kembali masuk zona kontraksi (di bawah 50 berarti menyusut).

Pabrik makin sibuk, tapi enggan menambah orang. Pola serupa muncul di data PMI Manufaktur bulanan: Juni 2026 sempat anjlok ke 46,9 — kontraksi terburuk dalam sembilan bulan yang memicu gelombang PHK — sebelum membaik lagi ke 50,2 di Juli, saat produsen mulai merekrut lagi meski masih terbatas. Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia memproyeksikan tambahan PHK 15.300-20.300 pekerja di kuartal II 2026, dengan manufaktur menyumbang 8.700-12.100 orang. Data BPJS Ketenagakerjaan bahkan mencatat 126.000 pekerja jadi non-aktif akibat PHK sampai Mei 2026 — lebih tinggi dari catatan resmi pemerintah.

Perlu jujur di sini: Apindo (Asosiasi Pengusaha Indonesia) menyebut pemicu utama gelombang PHK ini adalah pelemahan rupiah, kenaikan biaya produksi, dan gangguan rantai pasok global — bukan otomasi robot secara langsung. Robot humanoid belum jadi penyebab PHK di Indonesia hari ini. Tapi pola "jobless growth" (ekonomi tumbuh tanpa dibarengi penyerapan tenaga kerja sepadan) yang sudah terjadi ini adalah lahan yang subur begitu ongkos otomasi terus turun.

Adopsi robotik di Indonesia sejauh ini memang masih tahap awal dan hati-hati. Lewat kemitraan dengan Halo Robotics, lini robot Unitree (termasuk model quadruped dan humanoid) kini tersedia di Indonesia lengkap dengan garansi dan pelatihan lokal. Robot mulai diuji coba di sektor tambang dan kilang minyak untuk tugas inspeksi, serta di pabrik untuk dokumentasi visual — bukan menggantikan operator, setidaknya untuk sekarang. Fokus otomasi nasional condong ke hilirisasi nikel, industri makanan-minuman, dan tekstil modern.

Ironisnya, laporan IMF Juni 2026 justru menyebut Indonesia tertinggal dari Vietnam dalam menarik relokasi pabrik dari China, salah satunya karena biaya tenaga kerja per unit produksi yang relatif tinggi dibanding pesaing kawasan. Ini menciptakan tekanan ganda yang jarang disadari: Indonesia kalah bersaing menarik investasi padat karya karena dianggap "mahal", sekaligus berpotensi jadi target menarik untuk otomasi begitu ongkos robot terus turun — dua tekanan yang sama-sama mengarah ke berkurangnya lapangan kerja manufaktur berbasis manusia.

Pemerintah lewat Kemenperin bersikukuh Industri 4.0, termasuk robotika, "tidak akan menggantikan tenaga kerja dengan mesin" dan justru membuka lapangan kerja baru — sambil menjalankan program mencetak "operator robotik" untuk industri kecil-menengah. INDEF lewat ekonomnya, Bhima Yudhistira, punya pandangan lebih hati-hati: otomasi dan AI diperkirakan berdampak negatif pada 50-60% pekerjaan yang ada, sejalan dengan proyeksi ILO bahwa sekitar 56% pekerjaan di Indonesia berisiko terdampak otomasi dalam 20 tahun ke depan. Risiko terbesarnya bukan hilangnya semua pekerjaan sekaligus, tapi polarisasi pasar kerja: pekerjaan berupah tinggi untuk segelintir tenaga ahli digital, dan pekerjaan berupah rendah untuk mayoritas pekerja informal.

Apa Artinya Buat Kamu

Kalau Kamu Masih Karyawan dan Ingin Mulai Usaha

Jangan buru-buru terjun ke bisnis "jual-beli robot humanoid" — pasar ini masih didominasi pemain bermodal miliaran dolar dan siklus produk yang berubah tiap beberapa bulan, bukan tempat yang ramah untuk pemain kecil baru. Peluang yang lebih realistis ada di lapisan pendukung: jasa integrasi otomasi untuk pabrik skala menengah, pelatihan operator robotik (yang sudah jadi program resmi Kemenperin), atau layanan purnajual dan pemeliharaan seperti yang dijalankan Halo Robotics untuk Unitree. Ini pasar yang tumbuh lebih pelan tapi jauh lebih realistis untuk dimasuki dengan modal terbatas, dan permintaannya justru naik seiring makin banyak pabrik mencoba otomasi tanpa tahu cara merawatnya.

Kalau Kamu Sudah Punya Bisnis

Kalau bisnismu bergantung pada tenaga kerja manual berulang (packing, sortir, inspeksi visual, angkut-angkat), mulai petakan proses mana yang paling mahal secara jangka panjang dan paling mudah distandardisasi — itu yang duluan jadi target otomasi, entah lewat robot humanoid atau (lebih realistis untuk sekarang) lengan robot dan sistem konveyor otomatis yang sudah jauh lebih murah dan terbukti. Jangan tergoda beli robot humanoid mahal karena FOMO investasi global — ongkosnya di Indonesia saat ini masih jauh di atas upah buruh, jadi belum masuk akal secara bisnis untuk sebagian besar skala UKM. Yang lebih penting justru menyiapkan skema retraining untuk pekerja yang tugasnya paling berisiko tergantikan lebih dulu, supaya transisinya tidak mendadak dan mahal secara reputasi.

Kalau Kamu Pekerja Manufaktur atau Sektor yang Berisiko Otomasi

Data BPS soal komponen tenaga kerja yang kontraksi meski produksi ekspansif adalah sinyal paling jujur yang bisa kamu pegang — bukan proyeksi robot humanoid yang masih bertahun-tahun lagi, tapi pola nyata hari ini: perusahaan tumbuh tapi menahan rekrutmen. Skill yang paling aman bukan yang sekadar "anti-robot" tapi yang butuh penilaian kontekstual dan koordinasi antarmanusia — pengawasan kualitas kompleks, penanganan masalah tak terduga, negosiasi dengan pemasok. Kalau posisimu murni pekerjaan berulang dengan variasi rendah, sekaranglah waktu paling murah untuk mulai belajar keterampilan tambahan, bukan setelah PHK terjadi.

Yang Perlu Dipantau

  • Realisasi produksi komersial Figure lewat BotQ — apakah target pengiriman unit ke rumah dan bisnis benar-benar tercapai tahun ini, atau meleset seperti janji-janji robotika sebelumnya.
  • Performa saham Unitree pasca-listing di STAR Market Shanghai — indikator apakah antusiasme investor ritel China bertahan begitu laporan keuangan riil mulai dibuka ke publik.
  • Rilis data BPS IKBM dan PMI Manufaktur Indonesia kuartal III 2026 (biasanya awal November) — apakah pola "produksi naik, tenaga kerja turun" berlanjut atau membalik.
  • Laporan lanjutan CORE Indonesia dan BPJS Ketenagakerjaan soal tren PHK manufaktur semester II 2026.
  • Kebijakan konkret Kemenperin/Kemnaker soal insentif atau proteksi tenaga kerja terkait otomasi — sejauh ini baru retorika "tidak akan menggantikan", belum ada regulasi mengikat.

Penutup

Robot humanoid belum akan menggantikan buruh pabrik di Karawang atau Bekasi bulan depan — ongkosnya masih jauh lebih mahal dari upah minimum, dan kritik teknis dari orang seperti Rodney Brooks patut ditanggapi serius, bukan diabaikan. Tapi arah kurva biayanya sudah jelas menurun, dan yang membuat Indonesia rentan bukan robotnya, melainkan pola yang sudah terjadi lebih dulu tanpa robot sama sekali: pabrik tumbuh, rekrutmen tidak. Pertanyaan yang perlu dijawab bukan lagi "apakah robot akan datang", tapi "apakah Indonesia punya kebijakan tenaga kerja yang siap sebelum kurva biaya itu benar-benar bertemu upah minimum" — dan sejauh ini, jawabannya masih berupa janji, bukan rencana.

Sumber

  • Intel Capital / PR Newswire — Figure Exceeds $1B in Series C Funding at $39B Post-Money Valuation
  • Value Add VC — Humanoid Robot Race Tracker & Robotics Funding Record 2026
  • Tech Funding News — Top Humanoid Robot Startups 2026, Ranked by Total Funding
  • TechCrunch — Famed Roboticist Says Humanoid Robot Bubble Is Doomed to Burst
  • South China Morning Post — AgiBot Overtakes Unitree as Top Global Humanoid Robot Vendor
  • CNBC — China Built Robots That Can Do Backflips, But Can They Make Money?
  • People's Daily / Shanghai Stock Exchange — Unitree IPO Draws Spotlight to China's Humanoid Robot Sector
  • Goldman Sachs Research — The Global Market for Humanoid Robots Could Reach $38 Billion by 2035
  • Morgan Stanley (via Humanoid.guide) — $5 Trillion Humanoid Market oleh 2050
  • Bisnis Indonesia — BPS Catat Manufaktur Kuartal II/2026 Ekspansif, Tapi Tenaga Kerja Susut
  • CNBC Indonesia — PMI Manufaktur RI Kontraksi Terburuk 9 Bulan; Kabar Baik Awal Agustus PMI Bangkit
  • Kompas — IMF: Indonesia Tertinggal dari Vietnam dalam Relokasi Pabrik; Robot Canggih Siap Masuk Tambang dan Kilang Minyak
  • VOA Indonesia / Asosiasi AI Indonesia — Memetakan Dampak Kecerdasan Buatan bagi Sektor Tenaga Kerja (kutipan INDEF)
  • Kementerian Perindustrian RI — Making Indonesia 4.0 dan Program Cetak Operator Robotik