Ringkasan Cepat

  • Danantara membentuk holding maskapai BUMN dengan Garuda Indonesia sebagai induk, membawahi Citilink dan Pelita Air — yang dikeluarkan (spin-off) dari Pertamina agar perusahaan energi itu kembali fokus ke bisnis intinya.
  • Target awalnya rampung kuartal I hingga semester I 2026, tapi pemberitaan terbaru mengindikasikan pembentukannya bergeser ke tahun depan — pertanda menyatukan tiga maskapai tidak sesederhana di atas kertas.
  • Hampir bersamaan, Garuda meneken kerja sama codeshare dengan Scandinavian Airlines (SAS) di ajang IATA AGM di Rio de Janeiro, membuka akses Jakarta dan Bali ke Copenhagen, Stockholm, dan Oslo. Tiket sudah dijual sejak 9 Juni, perjalanan mulai 15 Juni 2026.
  • Logika di balik holding: hapus persaingan internal antar-maskapai negara, satukan sistem pemesanan dan armada, dan perkuat daya saing regional di tengah gejolak harga avtur dan kurs.
  • Buat pelaku usaha pariwisata, eksportir, dan pekerja sektor penerbangan, dua langkah ini menentukan seberapa terhubung Indonesia dengan dunia — dan seberapa sehat maskapai yang menerbangkannya.

Satu payung untuk tiga maskapai negara

Selama bertahun-tahun, negara punya keanehan di langit: tiga maskapai pelat merah yang sebagian saling bersaing memperebutkan penumpang yang sama. Garuda Indonesia, anak usahanya Citilink, dan Pelita Air — yang selama ini menjadi lini bisnis Pertamina — kerap terbang ke tujuan yang sama, dengan pesawat masing-masing yang tidak selalu penuh.

Managing Director Danantara, Rohan Hafas, memberi contoh yang mudah dibayangkan: di rute Surabaya, Citilink, Pelita, dan Garuda sama-sama terbang ke sana — jadi kenapa tidak disatukan dalam lebih sedikit penerbangan? Kalau masing-masing hanya terisi 60%, menggabungkannya bisa membuat satu penerbangan penuh, alih-alih tiga penerbangan setengah kosong yang sama-sama merugi.

Itulah inti pembentukan holding: Garuda jadi induk, Citilink dan Pelita Air di bawahnya. Pelita Air dipisahkan dari Pertamina supaya perusahaan minyak negara itu bisa kembali fokus ke energi. Manfaat yang dijanjikan konkret: satu sistem pemesanan, satu program poin (GarudaMiles), tiket dan kursi yang bisa saling tukar antar-maskapai, serta armada gabungan yang mengatasi keterbatasan pesawat masing-masing. Tujuan besarnya, kata Managing Director Danantara Febriany Eddy, adalah menghapus kanibalisasi — persaingan internal antar-perusahaan negara yang selama ini saling memakan.

Kenapa jadwalnya molor

Awalnya, holding ini ditargetkan rampung pada kuartal I, lalu mundur ke semester I 2026. Pemberitaan terbaru pertengahan Juni mengindikasikan pembentukannya bergeser lagi ke tahun depan. Ini bukan sekadar birokrasi lambat.

Menyatukan tiga maskapai berarti menyatukan tiga sistem pembukuan, struktur saham, dan — yang paling sensitif — beban keuangan. Garuda sendiri baru keluar dari masa berat: restrukturisasi besar pada awal dekade ini sempat memaksanya menutup puluhan rute. Kekhawatiran pasar yang wajar: jangan sampai holding justru menyeret Citilink dan Pelita Air yang relatif lebih sehat ke dalam masalah lama Garuda. Chief Operating Officer Danantara, Dony Oskaria, menegaskan proses penyehatan Garuda terus dimonitor ketat agar maskapai pelat merah lain tidak jadi korban. Dengan kata lain, kehati-hatian inilah yang membuat jadwalnya melar — dan itu mungkin pertanda baik, bukan buruk.

Pintu baru ke Eropa Utara

Di tengah urusan dalam negeri itu, Garuda justru melangkah keluar. Pada 8 Juni 2026, di sela pertemuan tahunan asosiasi maskapai dunia (IATA AGM) di Rio de Janeiro, Garuda meneken kerja sama codeshare dengan Scandinavian Airlines.

Codeshare artinya berbagi nomor penerbangan: penumpang bisa membeli satu tiket yang mencakup penerbangan kedua maskapai, sehingga perjalanan terasa mulus meski berpindah pesawat. Lewat kerja sama ini, penumpang dari Jakarta (CGK) dan Bali (DPS) bisa terhubung ke tiga ibu kota Skandinavia — Copenhagen, Stockholm, Oslo — dengan transit lewat hub Amsterdam dan Tokyo Haneda, dan mulai musim dingin 2026/2027 ditambah Bangkok. Tiket mulai dijual 9 Juni, perjalanan pertama 15 Juni 2026 — tepat sebelum musim liburan musim panas Eropa dan liburan pertengahan tahun di Indonesia.

Yang menarik bukan sekadar destinasinya, tapi pasarnya. Eropa Utara selama ini relatif kurang tergarap dibanding Eropa Barat dalam arus wisatawan dan bisnis ke Indonesia. Wakil Direktur Utama Garuda, Thomas Oentoro, menyebut kemitraan ini membuka peluang baru bagi pariwisata, perdagangan, investasi, dan mobilitas masyarakat antarwilayah. Untuk anggota loyalitas, poin GarudaMiles dan EuroBonus SAS kini bisa saling dikumpulkan dan ditukar.

Apa Artinya Buat Kamu

Kalau kamu masih karyawan dan ingin mulai usaha

Konektivitas baru adalah peluang. Rute ke Skandinavia membuka pintu dua arah: turis Nordik yang berdaya beli tinggi datang ke Bali dan destinasi lain, sekaligus akses lebih mudah bagimu untuk menjajaki pasar atau pemasok di Eropa Utara. Kalau kamu menimbang usaha di sektor pariwisata, kuliner, kerajinan, atau ekspor produk lokal, perhatikan profil wisatawan Nordik — mereka cenderung mencari pengalaman autentik dan produk berkelanjutan. Itu celah yang bisa kamu isi.

Kalau kamu sudah punya bisnis

Untuk bisnis pariwisata, perhotelan, dan biro perjalanan: siapkan diri menyambut segmen pasar baru dari Skandinavia, termasuk materi pemasaran dan layanan yang sesuai preferensi mereka. Untuk eksportir: jalur penumpang yang lebih kuat sering jadi pendahulu jalur dagang dan investasi yang lebih erat. Dan untuk siapa pun yang sering bepergian dinas, konsolidasi maskapai negara — jika berhasil — berarti jaringan domestik yang lebih efisien dan jadwal yang lebih terintegrasi, meski dalam jangka pendek bisa ada penyesuaian rute saat penggabungan berjalan.

Kalau kamu bekerja di sektor penerbangan atau jasa terkait

Konsolidasi besar selalu membawa dua sisi: efisiensi yang dijanjikan kadang berarti perampingan rute atau peran yang tumpang tindih. Tapi holding yang sehat juga bisa menstabilkan industri yang selama ini rapuh terhadap gejolak harga avtur dan kurs. Pantau bagaimana integrasi armada dan rute dijalankan — di situ letak peluang sekaligus risiko bagi karier di sektor ini.

Yang Perlu Dipantau

  • Jadwal final pembentukan holding. Apakah benar bergeser ke tahun depan, dan apakah penyehatan keuangan Garuda cukup matang sebelum penggabungan.
  • Rencana penambahan armada. Danantara dikabarkan mengkaji pembelian puluhan pesawat Boeing untuk Garuda — sinyal seberapa serius ekspansi yang direncanakan.
  • Realisasi rute Garuda–SAS. Seberapa cepat penumpang benar-benar memakai jalur ini, dan apakah ada penerbangan langsung menyusul codeshare via hub.
  • Kinerja keuangan Garuda. Indikator paling jujur apakah transformasi maskapai pelat merah benar-benar berbalik arah.

Penutup

Dalam satu bulan, Garuda mengerjakan dua hal yang tampak berlawanan: merapikan rumah di dalam negeri lewat holding, dan melebarkan sayap ke luar lewat Skandinavia. Keduanya adalah taruhan transformasi — dan keduanya butuh eksekusi yang jauh lebih sulit daripada pengumumannya. Pelajaran yang lebih luas buat pelaku usaha: konsolidasi dan ekspansi bukan strategi yang saling bertentangan, melainkan dua sisi dari perusahaan yang sedang berusaha sehat. Pertanyaannya selalu sama, baik untuk maskapai negara maupun untuk usahamu sendiri: apakah efisiensi yang dijanjikan benar-benar terwujud di lapangan, atau berhenti sebagai janji di atas siaran pers. Jawabannya, seperti biasa, baru terlihat dalam beberapa bulan ke depan.


Sumber

  • Tempo, Liputan6, Koran BUMN — pembentukan holding maskapai BUMN, Garuda sebagai induk Citilink & Pelita Air, dan target waktunya
  • Danantara (Rohan Hafas, Dony Oskaria, Febriany Eddy) — rasionalisasi rute, efisiensi sistem, dan pemantauan penyehatan Garuda
  • SAS / Garuda Indonesia (via Liputan6, Bisnis Indonesia, Travel Radar) — codeshare Indonesia–Skandinavia, hub Amsterdam/Tokyo/Bangkok, dan jadwal penjualan tiket
  • IndoAviation — spin-off Pelita Air dari Pertamina