Ringkasan Cepat

  • Indonesia resmi menempati peringkat pertama dunia dalam sektor modest fashion berdasarkan Laporan SGIE (State of Global Islamic Economy) 2024/2025 — menggeser Malaysia, Italia, Turki, dan Singapura.
  • Ekspor modest fashion Indonesia sepanjang Januari–Oktober 2025 mencapai USD 7,1 miliar, tumbuh 3,9% — tapi pasar GCC (negara-negara Teluk Arab) masih jauh dari digarap optimal.
  • Saudi Vision 2030 membuka pasar baru yang besar: meningkatnya partisipasi perempuan Saudi di pasar kerja (kini 35%) menciptakan permintaan baru untuk modest fashion profesional.
  • CEPA Indonesia–UAE sudah berlaku sejak September 2023 — bea masuk ke UAE sudah mendekati 0% untuk banyak produk Indonesia, termasuk garmen.
  • Hambatan utama: sertifikasi halal untuk produk fashion baru diwajibkan Oktober 2026, persaingan dari Malaysia, Turki, dan Vietnam yang bergerak lebih agresif.

Dari Peringkat 3 ke Peringkat 1 — Seberapa Jauh Indonesia Sudah Bergerak

Empat tahun lalu, di laporan SGIE 2021, Indonesia masih di peringkat ketiga untuk modest fashion — di belakang Turki dan Malaysia. Di laporan terbaru 2024/2025, Indonesia sudah di puncak. Ini bukan sekadar perubahan angka — ada ekosistem nyata yang dibangun di belakangnya.

Kemendag lewat program Jakarta Muslim Fashion Week (JMFW) sudah memfasilitasi business matching yang melibatkan lebih dari 1.100 UMKM dengan buyer internasional di 33 negara, dengan nilai transaksi yang mencapai USD 134,40 juta atau sekitar Rp2,1 triliun. Di JMFW 2026 (November 2025) saja, total transaksi mencapai USD 19,51 juta — hampir dua kali lipat target awal USD 10 juta, dengan 37,97% dari transaksi itu datang dari UMKM.

Yang membuat posisi Indonesia kuat secara struktural: negara ini tidak hanya punya pasar domestik terbesar (230+ juta Muslim), tapi juga punya industri manufaktur garmen yang sudah matang, ekosistem desainer yang terus berkembang, dan pemerintah yang mulai serius mendorong ekspor dengan program yang konkret.


Pasar GCC: Besar, Terbuka, tapi Belum Digarap

GCC adalah singkatan untuk Gulf Cooperation Council — blok enam negara Teluk Arab: Arab Saudi, UAE, Qatar, Kuwait, Bahrain, dan Oman. Total populasinya tidak besar, tapi daya belinya luar biasa.

Atase Perdagangan RI di Riyadh, Zulvri Yenni, mengungkapkan pada Mei 2026 bahwa program Saudi Vision 2030 sedang mengubah struktur ekonomi Arab Saudi secara fundamental — mengurangi ketergantungan pada minyak dan membangun sektor industri, pariwisata, dan ekonomi digital yang baru.

Satu data yang menarik perhatian: partisipasi perempuan Saudi di pasar kerja kini sudah mencapai 35%. Perempuan yang bekerja membutuhkan pakaian yang berbeda dari pakaian di rumah: modest, profesional, berkualitas, dan mengikuti tren. Ini adalah segmen yang belum ada 10 tahun lalu, dan sekarang terbuka lebar.

Di UAE, CEPA Indonesia–UAE yang berlaku sejak September 2023 sudah mengeliminasi bea masuk hampir 100% untuk ekspor Indonesia ke UAE secara bertahap. Ini membuat produk fashion Indonesia bisa landed di Dubai dengan harga yang jauh lebih kompetitif.


Kenapa Ekspor Masih Jauh dari Potensi

Persaingan yang bukan main serius. Malaysia, Turki, dan Vietnam tidak diam. Malaysia secara historis sudah lebih lama di pasar GCC. Turki punya kekuatan desain yang sudah diakui di pasar Timur Tengah selama puluhan tahun. Vietnam punya keunggulan harga produksi yang agresif.

Kesiapan sertifikasi halal. Mulai Oktober 2026, sertifikasi halal untuk produk fashion diwajibkan di Indonesia. Ini sebenarnya kabar baik untuk ekspor ke pasar GCC — karena negara-negara Teluk membutuhkan bukti sertifikasi. Tapi banyak UMKM belum siap dengan proses dan biaya sertifikasi ini.

Kapasitas ekspor langsung yang terbatas. Sebagian besar UMKM fashion Indonesia menjual ke buyer internasional lewat perantara atau aggregator. Ini mengurangi margin dan mengurangi kontrol atas branding.

Tantangan logistik. Rerouting jalur pengiriman akibat konflik di Laut Merah menambah waktu tempuh pengiriman ke GCC lebih dari sebulan dan biaya war risk surcharge ribuan dolar per kontainer.


Peluang yang Masih Belum Diambil

Modest fashion untuk pasar kerja. Perempuan profesional di GCC membutuhkan pakaian modest yang bisa dipakai di kantor modern — bukan hanya abaya tradisional. Segmen ini tumbuh seiring peningkatan partisipasi kerja perempuan.

Modest fashion untuk pasar non-Muslim di Barat. Di Eropa dan Amerika, ada segmen konsumen yang mencari pakaian modest karena alasan pribadi, budaya, atau estetika — bukan agama. Indonesia sudah mulai mendapat buyer dari Inggris, Afrika Selatan, dan Meksiko.

E-commerce cross-border ke MENA. Selama Ramadan 2024, transaksi e-commerce di pasar MENA tumbuh 23% dan nilai transaksinya naik 13%. Marketplace seperti Amazon.ae dan noon.com sudah menerima seller dari Indonesia — ini kanal yang bisa dimanfaatkan tanpa harus hadir fisik di GCC terlebih dahulu.


Apa Artinya Buat Kamu

Kalau kamu masih karyawan dan ingin mulai usaha

Modest fashion adalah salah satu dari sedikit segmen industri Indonesia yang sudah diakui peringkat pertama dunia. Ini adalah angin belakang yang jarang ada. Titik masuk paling realistis untuk pemula: menjadi pemasok atau subkontraktor untuk brand modest fashion yang sudah lebih besar dan sedang ekspansi ekspor.

Kalau kamu sudah punya bisnis di sektor fashion atau retail

Dua langkah konkret yang bisa dimulai sekarang: pertama, daftar program UMKM BISA Ekspor Kemendag — program ini mempertemukan pelaku usaha dengan buyer dari 33 negara. Kedua, mulai proses sertifikasi halal untuk produkmu sekarang, sebelum Oktober 2026 menjadi kewajiban.


Yang Perlu Dipantau

  • Implementasi kewajiban sertifikasi halal untuk fashion mulai Oktober 2026 — regulasi ini akan memengaruhi seluruh rantai produksi garmen Indonesia.
  • Penyelesaian perundingan Indonesia–EU CEPA — jika selesai, produk fashion Indonesia masuk ke 27 negara Uni Eropa dengan tarif 0%.
  • Perkembangan JMFW 2027 dan program business matching — ini adalah barometer terkuat untuk melihat apakah nilai transaksi ekspor terus naik.
  • Gerakan kompetitor regional — Malaysia dan Turki secara aktif menambah kapasitas ekspor ke GCC.

Penutup

Indonesia sudah punya gelar juara dunia untuk modest fashion. Yang sekarang dibutuhkan bukan lagi pembuktian — tapi eksekusi. Gelar peringkat 1 yang tidak diterjemahkan menjadi ekspor yang tumbuh dan brand yang dikenal di pasar GCC hanya akan menjadi statistik yang menarik di presentasi pemerintah. Yang membedakan negara yang benar-benar menguasai pasar global dari yang hanya menempati peringkat di laporan adalah siapa yang masuk lebih dalam ke pasar itu — lebih cepat, lebih siap, dan dengan produk yang benar-benar diinginkan pembeli.


Sumber

  • Kemendag via Fimela.com — "JMFW 2026: Meneguhkan Indonesia sebagai Pusat Modest Fashion Dunia"
  • Kompas.com — "JMFW 2026 Catat Transaksi 19,51 Juta Dollar" (November 2025)
  • SWA.co.id — "Peluang Ekspor Nonmigas Indonesia ke Arab Saudi Kian Besar" (Mei 2026)
  • Koran Jakarta — "Kemendag Ajak Pelaku Usaha Ambil Peluang Ekspor ke Arab Saudi" (Mei 2026)
  • Indonesia Senang — "Jakarta Modest Summit 2026" (Desember 2025)
  • Kemenperin — "Kemenperin Pacu Inovasi IKM Demi Tangkap Peluang Modest Fashion Global"