Ringkasan Cepat
- Sepanjang Mei 2026, hampir semua platform besar — Shopee, Tokopedia, TikTok Shop — kompak menaikkan biaya: tarif ongkir gratis, biaya logistik per pesanan, sampai batas komisi.
- Ini langsung menggerus margin UMKM yang sudah tipis. Di TikTok Shop, total potongan bisa mencapai 15–30% dari harga jual; di website sendiri, biaya cuma sekitar 2,5%.
- Pemerintah merespons cepat: Menteri UMKM melarang sementara kenaikan biaya, dan menyiapkan aturan yang menyeragamkan komponen biaya jadi tiga kategori.
- Tapi ada jebakan: Shopee sendiri menguasai 54% pasar e-commerce Indonesia (GMV Rp539,7 triliun di 2025). Keluar dari marketplace tanpa kanal pengganti yang siap = kehilangan akses ke jutaan pembeli.
- Solusi paling realistis bukan “kabur” atau “bertahan pasrah”, tapi diversifikasi bertahap.
Yang sebenarnya terjadi pada margin seller
Headline-nya sederhana: “Biaya marketplace naik.” Tapi yang tidak terlihat dari headline adalah seberapa dalam biaya itu memakan keuntungan penjual.
Mari pakai contoh konkret. Kamu menjual produk fashion seharga Rp200.000 dengan modal Rp100.000 — artinya margin kotormu Rp100.000. Di Shopee, dengan potongan admin 10% plus iklan 5%, kamu kehilangan sekitar Rp30.000, sisa untung Rp70.000. Di TikTok Shop, dengan komisi 8% plus komisi affiliate 10%, potongannya Rp36.000, untung tinggal Rp64.000. Sekarang bandingkan dengan jual di website sendiri: biaya payment gateway (jasa pemroses pembayaran online) cuma sekitar 2,5%, atau Rp5.000 — untung bersih Rp95.000.
Selisihnya brutal. Dari produk yang sama, keuntungan di TikTok Shop hanya dua pertiga dari keuntungan di toko sendiri. Dan ini belum menghitung kenaikan terbaru. Untuk UMKM dengan margin yang memang sudah tipis, tambahan beberapa persen ini bisa jadi pembeda antara untung dan rugi.
Yang membuatnya makin berat: kenaikan terjadi serentak. Ketika hanya satu platform yang naik, seller bisa pindah ke yang lain. Ketika semua naik bersamaan, tidak ada tempat lari di dalam ekosistem marketplace.
Kenapa platform bisa seberani ini
Jawabannya satu kata: dominasi.
Menurut laporan Momentum Works “Ecommerce in Southeast Asia 2026”, Shopee menguasai 54% pasar e-commerce Indonesia sepanjang 2025 — naik tajam dari 46% di 2024. Nilai transaksinya (GMV, total nilai barang yang terjual lewat platform) menembus Rp539,7 triliun. Di posisi kedua, gabungan TikTok Shop dan Tokopedia memegang 38% pasar dengan GMV sekitar Rp380 triliun. Artinya, dua kekuatan ini saja menguasai 92% pasar.
Inilah angka di balik angka. Ketika dua pemain menguasai 92% pasar, posisi tawar seller nyaris nol. Sementara pemain lama yang dulu jadi alternatif justru menyusut: Lazada turun ke 6%, Blibli ke 3%, dan Bukalapak — yang di 2024 masih menyumbang 10% — bahkan hilang dari daftar pemain utama 2025.
Konsolidasi pasar inilah yang membuat kenaikan biaya jadi mungkin. Tanpa pesaing berarti yang bisa menampung seller yang kabur, platform dominan punya ruang menaikkan biaya tanpa takut kehilangan penjual.
Pemerintah turun tangan — tapi aturannya belum terbit
Tekanan dari seller cukup keras sampai pemerintah bergerak. Pada pertengahan Mei 2026, Menteri UMKM Maman Abdurrahman menegaskan pemerintah untuk sementara melarang platform marketplace menaikkan biaya layanan ke pelaku UMKM.
Lebih jauh, Kementerian UMKM menyiapkan Peraturan Menteri tentang Perlindungan dan Peningkatan Daya Saing UMKM. Rencananya, semua biaya akan dipadatkan jadi tiga kategori: biaya pendaftaran, biaya layanan, dan biaya promosi. Aturan ini juga akan mewajibkan platform mengumumkan kenaikan biaya jauh hari — misalnya tiga bulan sebelum berlaku.
Tapi ada catatan penting yang jujur harus disampaikan: sampai akhir Mei 2026, aturan konkret yang langsung melindungi margin seller belum terbit. Larangan kenaikan sifatnya sementara dan imbauan; penegakannya belum jelas.
Keluar dari marketplace? Hati-hati jebakan “risiko konsentrasi”
Membaca semua ini, sebagian seller langsung berpikir: ya sudah, keluar saja, jualan di website sendiri yang biayanya cuma 2,5%. Logikanya benar secara angka, tapi keliru secara strategi — setidaknya kalau dilakukan mendadak.
Inilah yang disebut risiko konsentrasi, dan ironisnya bisa terjadi di dua arah. Seller yang terlalu bergantung pada satu marketplace rentan terhadap kenaikan biaya. Tapi seller yang langsung mematikan semua toko marketplace-nya juga berisiko — dia kehilangan trafik besar yang sudah bertahun-tahun dibangun. Website sendiri mungkin hemat biaya, tapi tidak ada pembeli yang lewat kalau tidak ada yang tahu alamatnya.
Jadi pertanyaannya bukan “marketplace atau mandiri”, tapi “bagaimana mengurangi ketergantungan secara bertahap tanpa kehilangan penjualan yang sudah ada.”
Apa Artinya Buat Kamu
Kalau kamu masih karyawan dan ingin mulai usaha online
Kabar baik: kamu mulai dari titik nol, jadi tidak terjebak ketergantungan. Bangun dari awal dengan pola pikir multi-kanal. Pakai marketplace untuk menjaring pembeli baru, tapi sejak hari pertama, kumpulkan kontak pelanggan — nomor WhatsApp, follower media sosial — supaya kamu punya hubungan langsung yang tidak dipotong komisi. Hitung margin dengan asumsi potongan platform 15–20%, bukan angka optimis.
Kalau kamu sudah jualan di marketplace
Jangan kabur, tapi mulai diversifikasi sekarang. Langkah konkret: aktifkan kanal mandiri (WhatsApp catalog, Instagram Shop, atau website sederhana) secara paralel, dan arahkan pelanggan setia ke sana dengan insentif kecil. Targetnya bukan meninggalkan marketplace, tapi mengurangi porsinya dari 100% menjadi, misalnya, 70% — sisanya dari kanal yang biayanya lebih murah dan hubungannya langsung.
Yang Perlu Dipantau
- Pengundangan Permenaker UMKM: Masih menunggu di Sekretariat Negara. Begitu terbit, baca detail tiga kategori biaya.
- Revisi Permendag 31/2023: Apakah sinkron atau tumpang tindih dengan aturan Kementerian UMKM.
- Apakah larangan kenaikan ditegakkan: Pantau apakah platform benar-benar menahan kenaikan, atau diam-diam tetap menyesuaikan biaya lewat komponen lain.
- Pergeseran pangsa pasar: Apakah dominasi Shopee terus membesar.
- Struktur biaya tiap platform: Cek berkala — komisi dan biaya layanan sering berubah diam-diam.
Penutup
Kenaikan biaya marketplace ini sebenarnya menyingkap kebenaran yang tidak nyaman: ketika sebuah pasar dikuasai oleh dua-tiga pemain, yang ada di posisi paling lemah adalah jutaan penjual kecil yang menggantungkan hidup di sana. Pemerintah sudah bergerak, tapi regulasi butuh waktu, dan margin bisnismu tidak bisa menunggu.
Kabar baiknya, kamu tidak sepenuhnya tak berdaya. Kekuatan terbesar seller bukan ada di platform — tapi di hubungan dengan pelanggan yang sudah percaya. Marketplace memang menyediakan trafik, tapi loyalitas pelanggan adalah aset yang bisa kamu bawa ke mana pun. Mulai pindahkan sebagian dari mereka ke kanal yang kamu kendalikan sendiri — pelan-pelan, sebelum kenaikan berikutnya datang.
Sumber
- UKM Indonesia — “Biaya Marketplace Naik Mei 2026, Seller UMKM Harus Tahu Strategi Bertahan Ini”
- Bisnis Indonesia — “Pangsa Pasar E-commerce 2025: Shopee-TikTok Gerus Bukalapak, Blibli, dan Lazada”
- Momentum Works — “Ecommerce in Southeast Asia 2026” (via CNBC Indonesia)
- Merdeka — “Pemerintah Larang Marketplace Naikkan Biaya Layanan”
- Webekspor — “Biaya Admin Marketplace Indonesia 2026”
