Ringkasan Cepat
- Konflik AS-Israel vs Iran yang dimulai akhir Februari 2026 mendorong harga minyak mentah Brent menembus $105/barel — jauh di atas asumsi APBN 2026 yang hanya $70/barel.
- Setiap kenaikan $1/barel harga minyak menambah beban anggaran negara sekitar Rp10,3 triliun melalui pembengkakan subsidi energi.
- Dalam skenario moderat, kenaikan $15/barel dari asumsi APBN bisa melebarkan defisit anggaran lebih dari Rp100 triliun.
- Rupiah melemah ~6% sejak awal tahun, dan Indonesia sebagai net importer minyak merasakan tekanan ganda: impor makin mahal, ekspor tertekan.
- Risiko bukan hanya pada APBN — biaya logistik, transportasi, dan bahan baku berbasis energi sudah mulai naik di tingkat bisnis.
Asumsi $70 yang Ketinggalan Zaman
APBN 2026 disusun dengan asumsi harga minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP) di kisaran $70 per barel. Angka itu bukan asal tebak — di sepanjang 2025, harga minyak relatif stabil dan proyeksi awal 2026 masih wajar.
Lalu datang konflik.
Operasi militer AS dan Israel terhadap Iran yang dimulai akhir Februari 2026 langsung mengubah kalkulasi pasar energi dunia. Iran merespons dengan menutup Selat Hormuz — jalur sempit yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak global setiap harinya. Ketika jalur itu terganggu, harga bukan hanya naik karena pasokan berkurang. Harga naik karena pasar panik.
Pada Mei 2026, minyak Brent tercatat di kisaran $105 dan WTI di sekitar $100 per barel — naik lebih dari 50 persen dari asumsi APBN yang dipakai pemerintah. Ini bukan sekadar angka di layar trading. Ini adalah tekanan nyata yang langsung menghantam anggaran negara.
Dari Selat Hormuz ke Anggaran Subsidi di Jakarta
Indonesia adalah net importer minyak — artinya negara ini membeli lebih banyak minyak dari luar negeri dibanding yang diproduksi sendiri. Ketergantungan ini membuat setiap lonjakan harga minyak global langsung terasa di neraca keuangan negara.
Simulasi yang dilakukan lembaga analis fiskal menunjukkan: setiap kenaikan $1/barel dari asumsi APBN menambah pengeluaran negara sekitar Rp10,3 triliun. Sementara tambahan penerimaan dari sektor migas hanya sekitar Rp5,3 triliun. Selisihnya — sekitar Rp5 triliun per $1 kenaikan — langsung memperlebar defisit.
Dengan harga saat ini yang sudah $35/barel di atas asumsi, kalkulasinya tidak menggembirakan. Dalam skenario moderat di mana harga rata-rata akhir tahun berada di kisaran $85/barel, defisit bisa melebar lebih dari Rp100 triliun. Dalam skenario berat jika harga rata-rata menembus $100/barel, angkanya bisa melampaui Rp200 triliun.
Pemerintah memang punya beberapa penyangga: penerimaan bea keluar komoditas yang ikut naik, serta potensi penghematan belanja di pos lain. Tapi ruang manuvernya tidak tak terbatas.
Dua Sisi Tekanan: APBN dan Bisnis
Yang sering luput dari diskusi adalah bahwa tekanan tidak hanya jatuh ke APBN. Ia juga jatuh langsung ke bisnis.
Harga minyak yang tinggi berarti biaya transportasi naik. Truk yang mengangkut barang dari gudang ke toko, kapal yang membawa komponen elektronik dari pelabuhan, motor kurir yang mengantarkan pesanan — semua bergantung pada bahan bakar. Ketika harga energi naik, biaya logistik ikut naik, dan itu tercermin dalam harga barang konsumen.
Ekonom dari LPEM UI menghitung bahwa setiap kenaikan harga minyak 10 persen bisa memangkas pertumbuhan ekonomi Indonesia sekitar 0,1 poin persentase per tahun, terutama lewat pelebaran defisit ekspor neto. Bagi Indonesia yang saat ini menjaga target pertumbuhan di kisaran 5%, setiap 0,1 persen itu berarti.
Ada sisi lain yang perlu dicatat juga. Kenaikan harga minyak global turut mengerek harga komoditas energi lain, termasuk batu bara. Indonesia sebagai eksportir batu bara terbesar di dunia justru menerima windfall (keuntungan tak terduga) dari kondisi ini. Artinya, dampaknya tidak sepenuhnya satu arah.
Mengapa Rupiah Ikut Terpukul
Ada efek berantai yang sering tidak dilihat sebagai satu kesatuan: harga minyak naik → biaya impor membengkak → neraca transaksi berjalan memburuk → tekanan terhadap rupiah meningkat.
Rupiah sudah melemah sekitar 6 persen sejak awal 2026, sempat menyentuh Rp17.784 per dolar — level terlemah dalam sejarah perdagangan. Pelemahan ini bukan semata soal harga minyak, tapi konflik Timur Tengah menjadi salah satu pendorong utamanya.
Dan pelemahan rupiah sendiri menjadi tekanan baru: impor bahan baku jadi lebih mahal, inflasi impor (imported inflation — kenaikan harga barang akibat nilai tukar melemah) mulai terasa, dan Bank Indonesia terpaksa menaikkan suku bunga acuan 50 basis poin ke 5,25% pada Mei 2026 untuk menstabilkan mata uang.
Apa Artinya Buat Kamu
Kalau kamu masih karyawan dan ingin mulai usaha
Kondisi ini sebenarnya tidak harus menjadi penghalang untuk memulai — tapi harus menjadi penentu bidang apa yang kamu masuki. Bisnis yang berbasis jasa, digital, atau produk lokal dengan rantai pasok pendek justru lebih tahan. Sekarang adalah waktu yang tepat untuk benar-benar memetakan dari mana bahan baku dan distribusimu akan berasal.
Kalau kamu sudah punya bisnis
Langkah paling mendesak adalah review struktur biaya operasional — khususnya pos transportasi, bahan bakar, dan bahan baku impor. Jika memungkinkan, lakukan hedging biaya energi, yaitu mengunci harga bahan bakar atau bahan baku di awal dengan kontrak jangka tetap.
Kalau kamu konsumen biasa
Kenaikan harga energi global itu akhirnya sampai juga ke harga barang di toko. Tidak semua produsen langsung menaikkan harga, tapi banyak yang mengurangi ukuran kemasan sambil mempertahankan harga — apa yang disebut shrinkflation (penyusutan isi produk tanpa penurunan harga).
Yang Perlu Dipantau
- Perkembangan negosiasi AS-Iran: Setiap sinyal de-eskalasi bisa langsung menurunkan harga minyak signifikan.
- Rilis ICP (Indonesian Crude Price) bulanan dari Kementerian ESDM.
- Pengumuman APBN-Perubahan 2026: Kemungkinan disesuaikan pertengahan tahun.
- Harga BBM non-subsidi: Pertamina biasanya menyesuaikan mengikuti pergerakan ICP.
Penutup
Konflik di Timur Tengah bukan pertama kali mengguncang ekonomi global — dan bukan yang terakhir. Yang berbeda kali ini adalah timing-nya: bertepatan dengan rupiah yang sedang lemah, defisit neraca pembayaran yang sudah melebar, dan APBN yang disiapkan untuk dunia yang lebih tenang.
Pemerintah punya cadangan devisa $148 miliar yang memberi bantalan cukup kuat. Tapi bantalan tidak sama dengan solusi. Yang bisa dilakukan sekarang: rencanakan dengan asumsi harga energi tinggi setidaknya hingga akhir 2026.
Sumber
- LPEM UI — Dampak Perang Iran-AS terhadap Perekonomian Indonesia
- Bank Indonesia — Rilis NPI Triwulan I 2026 (22 Mei 2026)
- UGM Ekonomi — Indonesia's Economic Strength Amid Rising Global Oil Prices
- Dunia Energi — Potensi Dampak Perang Iran vs Israel-AS terhadap Ketahanan Energi dan APBN
- CNBC Indonesia — PMI Manufaktur RI Kontraksi: Terburuk 9 Bulan
