Lewati ke konten
blabak.

Daya Beli Menengah-Bawah Makin Tertekan: Penjualan Ritel Melambat ke 0,5%, Upah Riil Mandek 8 Tahun

IPR RI melambat ke 0,5% YoY, upah riil stagnan sejak 2018. Data menunjukkan ekonomi kini ditopang kelas atas—ini artinya buat ritel di kuartal IV.

Yusuf FS10 menit baca

Ringkasan Cepat

  • Bank Indonesia memperkirakan Indeks Penjualan Riil (IPR, indikator resmi penjualan eceran nasional) Agustus 2026 hanya tumbuh 0,5% dibanding periode sama tahun lalu — melambat dari 1,1% di Juli dan jauh di bawah rata-rata pertumbuhan IPR sepanjang 2024 yang berkisar 1,5%–5,8%.

  • Upah riil pekerja Indonesia (upah setelah dikurangi efek inflasi) turun rata-rata 1,1% per tahun sejak 2018, menurut Bank Dunia — dan yang mengejutkan, pekerja terampil justru kena hantaman terbesar, minus 2,3% per tahun.

  • Kelas menengah RI menyusut dari 57 juta orang (2019) menjadi 46,7 juta (2025), sementara pendapatan kelas atas tumbuh 8% di kuartal I 2026 — lebih dari dua kali lipat laju kelas menengah dan bawah yang cuma 3,5%–3,6%.

  • Ada kontradiksi yang perlu diluruskan di tempat yang sama: keyakinan konsumen sempat naik ke 118,5 di September, tapi porsi utang rumah tangga ikut naik sementara porsi tabungan turun — orang "optimis" secara survei, tapi keuangannya makin sesak.

  • Sekitar 60% pengunjung mal di Indonesia adalah kelas menengah bawah — jadi kalau kantong mereka menipis, strategi ritel kuartal IV nyaris pasti bertumpu pada diskon besar-besaran, bukan kenaikan margin.

Angka yang Terlihat Kecil, Tapi Trennya yang Bahaya

Kalau cuma lihat angkanya sendirian, 0,5% pertumbuhan penjualan ritel terdengar biasa saja — toh masih positif, bukan kontraksi. Tapi taruh angka itu di sebelah bulan-bulan sebelumnya dan gambarnya berubah. Juni 2026 sempat kontraksi 3%, Juli membaik ke 1,1%, dan Agustus diperkirakan Bank Indonesia justru melambat lagi ke 0,5% — pola naik-turun yang gagal menemukan momentum, bukan pemulihan yang stabil.

Bandingkan dengan kondisi normal: sepanjang 2024, pertumbuhan IPR bulanan berkisar 1,5% sampai 5,8%, bahkan sempat menyentuh 5,8% YoY di Agustus tahun itu berkat efek promo HUT RI. Artinya level 0,5% sekarang bukan cuma "melambat", tapi berada di titik terlemah dalam rentang waktu yang cukup panjang. Secara bulanan (dibanding bulan sebelumnya), penjualan Agustus 2026 bahkan terkontraksi tipis 0,1%.

Yang menahan angka ini tidak jatuh lebih dalam pun bukan kebutuhan pokok masyarakat luas, melainkan kelompok suku cadang dan aksesoris kendaraan yang tumbuh 10,1% — segmen yang lebih dekat dengan konsumen kelas menengah-atas yang punya kendaraan pribadi. Sementara itu, kelompok makanan, minuman, dan tembakau — proksi paling dekat dengan belanja harian rakyat kebanyakan — cuma tumbuh 0,7%. Secara wilayah pun timpang: Manado melesat 24,1% dan Medan 21,6%, tapi ini menunjukkan pemulihan yang terpusat di kota-kota tertentu, bukan tren nasional yang merata.

Delapan Tahun Tanpa Kenaikan yang Berarti

Kalau IPR adalah foto sesaat, stagnasi upah riil adalah rekaman jangka panjang yang menjelaskan kenapa fotonya suram. Bank Dunia, dalam laporan Indonesia Economic Prospects edisi Desember 2025, mencatat upah riil pekerja Indonesia turun rata-rata 1,1% per tahun sepanjang 2018–2024. Direktur Bank Dunia untuk Indonesia dan Timor-Leste, Carolyn Turk, menyebutnya langsung: "Kami juga mengamati bahwa upah riil cenderung menurun sejak 2018."

Di sinilah bagian yang sering luput dari headline: penurunan itu tidak merata, dan yang paling parah bukan yang paling miskin. Pekerja berketerampilan tinggi mengalami penurunan upah riil terdalam, minus 2,3% per tahun — lebih dari dua kali lipat penurunan pekerja berketerampilan menengah (minus 1,1%). Pekerja informal atau berketerampilan rendah justru masih naik tipis, 0,3% per tahun. Logikanya berbalik dari yang biasa dibayangkan: bukan kelompok paling bawah yang paling tergerus, tapi kelas pekerja terdidik yang selama ini dianggap "aman".

Penjelasannya ada di ke mana lapangan kerja baru bermuara. Dari total penyerapan tenaga kerja baru sebesar 1,3% dalam periode itu, mayoritas justru terkonsentrasi di sektor pertanian (tambah 0,49 juta pekerja) dan akomodasi-makanan-minuman (tambah 0,42 juta) — dua sektor dengan upah rata-rata cuma Rp2,55 juta per bulan, jauh di bawah rata-rata upah nasional Rp3,33 juta. Ekonomi menyerap tenaga kerja, tapi ke posisi yang bayarannya lebih rendah dari rata-rata. Ini yang membuat pendapatan agregat tumbuh di atas kertas sementara daya beli riil per kepala justru tergerus.

Situasi ini bertautan langsung dengan gelombang PHK yang terus berjalan sepanjang 2026: Kementerian Ketenagakerjaan mencatat sekitar 53 ribu pekerja terkena pemutusan hubungan kerja dari Januari hingga Agustus, menyusul rekor 88.519 PHK sepanjang 2025 — tertinggi dalam tiga tahun terakhir, terpusat di industri tekstil, garmen, dan manufaktur padat karya. Sebagian pekerja yang ter-PHK dari sektor formal bergaji menengah itulah yang kemudian terserap ke sektor informal bergaji lebih rendah — memperkuat siklus stagnasi upah dari sisi lain.

Siapa yang Sebenarnya Masih Belanja

Kalau konsumsi nasional masih bertahan tumbuh di atas 5% pada kuartal I 2026, pertanyaannya: siapa yang menariknya? Data dari riset ekonom BRI menunjukkan jawabannya cukup jelas. Pendapatan kelompok kelas atas tumbuh 8,0% dibanding periode sama tahun lalu pada kuartal I 2026, sementara kelas menengah hanya 3,5% dan kelas bawah 3,6% — kelompok atas tumbuh lebih dari dua kali lipat kelompok lainnya.

Kesenjangan itu makin tajam kalau dilihat dari sisi tabungan. Pada April 2026, tabungan nasabah kelas atas (saldo di atas Rp2 miliar) tumbuh 15,99% dibanding tahun sebelumnya. Bandingkan dengan kelas menengah-atas (saldo Rp500 juta–Rp2 miliar) yang cuma tumbuh 3,04%, dan kelas menengah-bawah (Rp100–500 juta) di 3,15%. Orang kaya bukan cuma belanja lebih banyak, mereka juga menumpuk aset lebih cepat — sementara mayoritas penduduk nyaris jalan di tempat.

Ini pula yang membuat kelas menengah Indonesia terus menyusut secara jumlah. Berdasarkan data BPS yang diolah Mandiri Institute, jumlah penduduk kelas menengah turun dari sekitar 57 juta orang pada 2019 menjadi 47,9 juta pada 2024, lalu turun lagi jadi 46,7 juta pada 2025 — proporsinya terhadap total populasi tergerus dari 17,1% ke 16,6% hanya dalam setahun. Sebaliknya, kelompok "aspiring middle class" (kelompok yang secara ekonomi belum cukup mapan tapi berambisi naik kelas) justru bertambah 4,5 juta orang dan kini mencakup 50,4% populasi — lebih banyak orang yang mengejar status kelas menengah, tapi makin sedikit yang benar-benar sampai dan bertahan di sana. Mandiri Institute memperkirakan setiap penyusutan 1–2 juta rumah tangga kelas menengah bisa menahan pertumbuhan ekonomi 0,1–0,3 poin persentase.

Yakin di Survei, Tercekik di Dompet

Di sinilah data yang tampak bertentangan perlu diluruskan sekaligus, bukan di paragraf terpisah. Riset Mirae Asset Sekuritas pada 21 September 2026 mencatat Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) justru naik ke 118,5 — level yang menandakan optimisme, karena masih di atas ambang batas 100. Tapi survei Bank Indonesia untuk Juli 2026 menunjukkan arah sebaliknya: IKK turun ke 116,8 dari 117,8 di bulan sebelumnya, dengan persepsi kondisi ekonomi saat ini melemah ke 107,9 dari 109,2.

Dua data ini bukan berarti salah satu salah. IKK adalah survei sentimen — bertanya apakah orang "merasa" optimis soal masa depan — dan bisa naik-turun bulanan karena faktor musiman atau berita ekonomi terbaru. Yang lebih menjelaskan kondisi riil rumah tangga adalah data alokasi pendapatan pada periode survei Juli 2026 tadi: porsi pendapatan yang dipakai untuk konsumsi turun tipis ke 72,7% dari 73%, porsi tabungan turun ke 16,8% dari 17% — tapi porsi untuk membayar cicilan utang justru naik ke 10,5% dari 10%.

Kepala ekonom Bank Permata membaca ini sebagai "sinyal peringatan bahwa ketahanan keuangan rumah tangga mulai menipis." Ia menegaskan bahwa penurunan kemampuan mencicil utang — bukan inflasi yang melebar — adalah kendala sesungguhnya saat ini, dan mencatat penjualan ritel rumah tangga sempat terkontraksi 3,9% YoY pada Mei. Artinya orang boleh saja "yakin" ekonomi akan membaik enam bulan lagi, tapi hari ini mereka sudah menggeser uang dari tabungan ke cicilan utang — pola klasik rumah tangga yang mulai gali lubang tutup lubang.

Bukan Cuma Soal Daya Beli, Tapi Beban di Sisi Usaha

Penting juga melihat ini dari sisi dunia usaha, karena PHK dan stagnasi upah bukan cuma soal "konsumen kurang uang" — ada rantai sebab-akibat di sisi produksi. Kalangan pengusaha menunjuk beban perpajakan yang rumit, pungutan tidak resmi yang menggerus margin, pelemahan rupiah yang membuat bahan baku impor makin mahal, hingga rasio ICOR Indonesia (jumlah modal yang dibutuhkan untuk menghasilkan satu rupiah output ekonomi) yang berada di kisaran Rp5,7–6,5, jauh lebih boros dibanding Vietnam yang hanya Rp3,6–4,6. Artinya, modal yang sama menghasilkan output ekonomi jauh lebih sedikit di Indonesia — dan itu tercermin pada lambatnya penciptaan lapangan kerja formal bergaji layak.

Konteksnya makin berat karena rupiah pada akhir September 2026 melemah ke kisaran Rp17.900–18.000 per dolar AS — jauh di atas kisaran normalnya sepanjang 2024–2025 yang berada di Rp15.800–16.200. Bagi peritel yang bergantung pada barang atau bahan baku impor jelang musim belanja akhir tahun (Natal dan Tahun Baru), ini artinya biaya pokok penjualan naik justru di saat daya beli konsumen sedang lemah — kombinasi yang menekan margin dari dua arah sekaligus.

Dari Etalase Mal ke Meja Rapat Ritel Kuartal IV

Semua data di atas berujung pada satu pertanyaan praktis: bagaimana peritel menghadapi kuartal IV 2026? Jawabannya sudah mulai terlihat dari sekarang. Komposisi pengunjung pusat perbelanjaan di Indonesia didominasi kelas menengah bawah sekitar 60%, kelas menengah 35%, dan kelas atas hanya 5% — artinya mayoritas mutlak trafik ritel justru berasal dari segmen yang paling tertekan daya belinya.

Strategi yang muncul pun konsisten: diskon, bundling, program loyalitas, dan kampanye digital yang lebih agresif menjelang dan selama kuartal IV, termasuk gelaran Indonesia Shopping Festival (ISF) 2026 yang diproyeksikan Himpunan Penyelenggara Pusat Perbelanjaan Indonesia (HIPPINDO) bisa mendongkrak penjualan ritel hingga 20%. Kementerian Perdagangan pun secara terbuka mendorong diskon ritel sebagai instrumen menjaga daya beli, bukan cuma strategi bisnis individual peritel.

Tapi ada nuansa penting: segmen yang diuntungkan bukan seluruh ritel secara merata. Produk kebutuhan pokok, kesehatan, dan barang dengan value-for-money kuat diproyeksikan tetap tumbuh, sementara produk discretionary (barang bukan kebutuhan pokok, seperti fesyen non-esensial atau elektronik gaya hidup) lebih rentan tertekan. Untuk peritel, ini bukan lagi soal "kapan daya beli pulih", tapi soal menyesuaikan portofolio produk dan intensitas promosi terhadap realitas bahwa pemulihan itu kemungkinan besar tidak akan merata sampai akhir tahun.

Apa Artinya Buat Kamu

Kalau kamu masih karyawan dan ingin mulai usaha

Data upah riil yang stagnan delapan tahun bukan alasan untuk buru-buru resign dan all-in ke bisnis, tapi juga sinyal jujur bahwa menunggu kenaikan gaji signifikan dari jalur karier konvensional makin tidak realistis untuk banyak orang, terutama pekerja skill menengah yang justru paling tergerus. Kalau kamu mau mulai usaha sampingan, targetkan segmen yang terbukti masih tumbuh di data ini: kebutuhan pokok, kesehatan, dan produk value-for-money — bukan barang gaya hidup yang pertama kali dipangkas orang saat anggaran menipis. Mulai kecil sambil tetap bekerja, karena pasar sedang tidak memberi ruang untuk coba-coba dengan modal besar di segmen discretionary.

Kalau kamu sudah punya bisnis

Kalau bisnismu menyasar kelas menengah-bawah, kuartal IV ini kemungkinan besar akan jadi ajang bertahan lewat volume, bukan margin — siapkan strategi harga dan promo yang benar-benar dihitung, bukan sekadar ikut-ikutan diskon massal yang malah menggerus profitabilitas. Sebaliknya, kalau basis pelangganmu ada di segmen menengah-atas atau atas, data ini justru menunjukkan ruang tumbuh yang lebih stabil — pertumbuhan pendapatan dan tabungan kelompok ini jauh lebih sehat. Yang paling penting: jangan asumsikan "daya beli akan pulih sendiri" jadi dasar proyeksi cashflow-mu untuk tiga bulan ke depan; rencanakan skenario konservatif dulu.

Kalau kamu konsumen kelas menengah biasa

Kenaikan porsi cicilan utang di tengah tabungan yang menipis adalah pola yang menurut ekonom sendiri jadi sinyal bahaya, bukan solusi. Kalau kamu merasa mulai mengandalkan cicilan atau paylater untuk menutup pengeluaran bulanan rutin (bukan barang besar sesekali), itu waktunya mengerem, bukan menambah tenor baru — karena data menunjukkan tren ini sedang meluas, bukan kasus individual.

Yang Perlu Dipantau

  • Rilis resmi IPR September 2026 dari Bank Indonesia, biasanya keluar awal-pertengahan Oktober — apakah tren pelambatan berlanjut atau terbantu efek awal musim promo Nataru.

  • Survei Keyakinan Konsumen BI untuk Agustus dan September 2026, untuk melihat apakah kenaikan versi Mirae Asset bertahan atau kembali turun seperti versi BI bulan Juli.

  • Data PHK bulanan Kementerian Ketenagakerjaan — apakah tren 53 ribu PHK Januari-Agustus 2026 terus bertambah menjelang akhir tahun.

  • Hasil penjualan riil Indonesia Shopping Festival 2026 — perhatikan bukan cuma angka trafik, tapi rata-rata nilai belanja per transaksi, untuk membedakan pemulihan asli dari sekadar efek diskon.

  • Pergerakan rupiah terhadap dolar AS — jika terus bertahan di atas Rp18.000, tekanan biaya pokok penjualan bagi peritel yang mengimpor barang jelang Nataru akan makin nyata.

  • Laporan Indonesia Economic Prospects Bank Dunia edisi berikutnya, untuk update apakah tren penurunan upah riil 1,1% per tahun masih berlanjut di data 2025.

Penutup

Angka 0,5% pada Indeks Penjualan Riil dan upah riil yang tak beranjak selama hampir satu dekade sebenarnya bercerita hal yang sama: ekonomi Indonesia hari ini tumbuh, tapi pertumbuhannya makin dinikmati segelintir orang, sementara mayoritas penduduk berjalan di tempat atau mundur pelan-pelan. Itu bukan situasi yang bisa diselesaikan lewat diskon musiman atau festival belanja semata — karena kalau sumber masalahnya ada di upah dan lapangan kerja, solusi tempelan hanya menunda, bukan menyembuhkan. Kalau kamu punya bisnis atau posisi untuk mengambil keputusan, anggap ini bukan berita buruk untuk dilewati, tapi peta yang menunjukkan dengan tepat di mana harus berhati-hati dan di mana masih ada ruang tumbuh.

Sumber

  • Bank Indonesia — Survei Penjualan Eceran Agustus 2026

  • CNBC Indonesia — BI: Penjualan Eceran Juli 2026 Tumbuh 1,1%

  • RRI — BI Laporkan Penjualan Eceran per Agustus 2026 Terindikasi Melambat

  • Investor Trust — Ekonomi Indonesia Ditopang Kelas Atas, Daya Beli Menengah Bawah Kian Tertekan (data OCE Group BRI)

  • Kontan — Keyakinan Konsumen Turun, Lampu Kuning bagi Pelemahan Daya Beli

  • IDX Channel — Daya Beli Tertekan, Pemulihan Konsumsi Indonesia Masih Terbatas (riset Mirae Asset Sekuritas)

  • CNBC Indonesia — Bank Dunia Peringatkan Pekerja RI Digaji Murah, Upah Turun Sejak 2018

  • CNBC Indonesia — Tanpa Sadar, Upah Pekerja RI Diam-diam Turun (kutipan Carolyn Turk, World Bank)

  • Bank Dunia — Indonesia Economic Prospects, Desember 2025

  • Detik Finance — PHK dan Matinya Daya Tahan Sektor Riil

  • Asatu News / Koran Manado — Jumlah Kelas Menengah Indonesia Menyusut Jadi 46,7 Juta Orang (data BPS diolah Mandiri Institute)

  • Bisnis Indonesia — Core Ungkap Daya Beli Kelas Menengah Bawah Masih Tertekan jelang Lebaran 2026

  • Periskop — Jaga Daya Beli Kelas Menengah, INDEF Minta Pemerintah Siapkan Stimulus Fundamental

  • Antara News — HIPPINDO: ISF 2026 Berpotensi Naikkan Penjualan Ritel hingga 20 Persen

  • Market Bisnis / Faktual Indonesia — Pergerakan Nilai Tukar Rupiah, September 2026