Lewati ke konten
blabak.

Drone Menghantam Kilang Saudi, Rupiah yang Kena Getahnya di Rp18.010

Serangan ke pipa dan kilang Saudi bikin Brent tembus $108, rupiah ambruk ke Rp18.010, dan defisit transaksi berjalan RI rekor. Ini kaitannya ke dompetmu.

Yusuf FS10 menit baca

Ringkasan Cepat

  • Sejak 8 September 2026, serangan berpindah dari kapal-kapal di Selat Hormuz ke jantung produksi minyak Arab Saudi sendiri: Houthi menyerang fasilitas Aramco di Abha, Najran, dan Jizan (73 orang luka-luka), lalu drone menghantam pipa East-West sepanjang 1.200 km pada 11 September yang membawa 4-5 juta barel per hari.

  • Brent crude โ€” patokan harga minyak dunia โ€” sempat menembus $109 per barel dan bertahan di $105-108, level tertinggi sejak perang ini pecah, setelah Trump menolak proposal Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz.

  • Rupiah tembus Rp18.010 per dolar AS pada 29 September 2026, level terlemah sejak awal Agustus, jauh dari kisaran normalnya Rp15.300-16.700 sepanjang 2024-2025.

  • Defisit transaksi berjalan Indonesia (selisih uang yang masuk-keluar dari perdagangan dan transaksi luar negeri) sudah melebar ke rekor USD12,5 miliar di kuartal II-2026, dan harga minyak yang makin panas membuatnya berisiko melebar lagi di kuartal berikutnya.

  • Belanja subsidi dan kompensasi energi pemerintah sampai Agustus 2026 sudah Rp331,4 triliun, naik 52% dibanding periode sama tahun lalu โ€” sementara harga minyak acuan Indonesia (ICP) sudah 29% di atas asumsi APBN.

Bukan Cuma Kapal Tanker Lagi: Serangan Pindah ke Jantung Produksi Saudi

Selama ini, cerita krisis minyak akibat perang Iran selalu berputar di satu tempat: Selat Hormuz, jalur sempit tempat sekitar seperlima minyak dunia lewat kapal tanker. Itu yang bikin harga naik-turun setiap kali ada kabar kapal diserang atau ditahan. Tapi yang terjadi sejak awal September 2026 ini beda level โ€” serangan sekarang menghantam langsung fasilitas produksi Arab Saudi sendiri, jauh dari laut.

Pada 8 September, Houthi melancarkan serangan gabungan rudal balistik dan drone ke fasilitas Aramco di tiga kota sekaligus: Abha, Najran, dan Jizan, plus pangkalan udara di Khamis Mushait. Kilang di Jizan โ€” salah satu yang terbesar di Arab Saudi dengan kapasitas 400.000 barel per hari โ€” sempat terbakar dan sebagian operasinya dihentikan. Setidaknya 73 orang luka-luka, termasuk perempuan dan anak-anak. Houthi bilang ini balasan atas lebih dari 100 serangan udara Saudi ke Yaman dalam tiga hari sebelumnya โ€” jadi ini bukan serangan acak, tapi eskalasi dari perang Yaman yang sudah lama mendidih, yang kini menyeret pasar minyak dunia ikut terbakar.

Tiga hari kemudian, pukulan kedua datang dari arah yang berbeda. Drone menghantam pipa East-West โ€” pipa sepanjang 1.200 km yang menghubungkan ladang minyak Abqaiq di timur dengan pelabuhan ekspor Yanbu di Laut Merah, mengalirkan 4-5 juta barel per hari atau sekitar 4-5% pasokan minyak global. Serangan ini diduga diluncurkan dari provinsi Maysan di tenggara Irak, dan analis keamanan menyebut "kemungkinan besar ini perintah dari Teheran" lewat kelompok bersenjata yang didukung Iran โ€” tujuannya sama dengan Houthi: memaksa Arab Saudi mundur dari perang di Yaman. Menurut analis Saudi Khalid Bartafi, penutupan pipa ini membuat sekitar lima juta barel ekspor "menghilang dari pasar" dalam semalam.

Kenapa ini lebih mengkhawatirkan dibanding drama Hormuz? Karena Hormuz adalah masalah jalur โ€” begitu kapal tanker berani lewat lagi atau ada eskortase militer, minyak tetap bisa mengalir. Tapi ketika pipa dan kilangnya sendiri yang dibom, minyaknya memang tidak ada untuk dialirkan, sampai infrastrukturnya diperbaiki. Itu kenapa dampaknya ke harga lebih bertahan lama.

Dari $72 ke $108 dalam Tujuh Bulan

Untuk melihat betapa jauh perjalanan harga minyak tahun ini, bandingkan dua angka: harga solar (diesel) di Amerika sempat berada di sekitar $72 per barel setara pada Februari 2026, sebelum perang ini benar-benar memanas. Setelah rentetan serangan ke infrastruktur Saudi bulan September, Brent crude โ€” harga acuan minyak dunia yang jadi patokan hampir semua kontrak โ€” melompat melewati $104, sempat menyentuh $109, dan pada akhir pekan lalu (28-29 September) masih bertahan di kisaran $105-108,5 per barel. Ini level tertinggi sejak perang Iran-Israel-AS ini dimulai.

Yang membuat harga tidak juga turun bukan cuma soal pasokan yang hilang, tapi juga soal harapan yang pupus. Trump menolak proposal terbaru Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz menjelang pembicaraan di New York โ€” artinya tidak ada sinyal gencatan senjata dalam waktu dekat, dan pasar membaca ini sebagai konflik yang akan berlarut sampai lewat pemilu paruh waktu AS di November. Arab Saudi memang sudah berhasil memulihkan sebagian aliran minyak lewat pipa yang diperbaiki, kembali ke sekitar 3,5 juta barel per hari โ€” tapi itu masih di bawah kapasitas penuh 4-5 juta barel, dan pasar tahu fasilitas ini rentan diserang lagi kapan saja.

Di sinilah letak bedanya dengan gejolak minyak sebelumnya di tahun ini. Pada Februari-Maret, saat harga Brent naik ke $91,8 (naik 27% dalam sepekan), itu dipicu ketakutan pasar terhadap kemungkinan perang meluas. Sekarang harga bertahan tinggi bukan karena ketakutan, tapi karena kerusakan fisik yang sudah terjadi dan belum sepenuhnya diperbaiki. Beda antara "takut kebakaran" dan "rumahnya memang sedang terbakar."

Rp18.010: Ketika Perang Orang Lain Mampir ke Dompet Kita

Selasa, 29 September 2026, rupiah menembus Rp18.010-18.012 per dolar AS โ€” level terlemah sejak awal Agustus tahun ini, jauh di atas kisaran normalnya Rp15.300-16.700 sepanjang 2024-2025. Bank Indonesia menyebut kombinasi tiga tekanan sekaligus: harga minyak dunia yang melonjak, imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS yang naik karena ekspektasi kebijakan The Fed, dan permintaan dolar dari importir menjelang akhir kuartal III.

Yang menarik, cara Bank Indonesia merespons kali ini berbeda dari biasanya. Biasanya bank sentral langsung "gelontorkan" cadangan devisa lewat pasar spot untuk menahan pelemahan. Tapi per 28 September, porsi intervensi lewat pasar spot dikurangi jadi hanya sekitar 30%, dengan sisanya dialihkan ke instrumen NDF dan DNDF (kontrak yang mengunci nilai tukar untuk transaksi masa depan tanpa harus menyerahkan dolar fisik sekarang). Ini cara bank sentral menahan rupiah tanpa menguras cadangan devisa yang saat ini sekitar USD146,5 miliar, setara 5,4 bulan impor โ€” angka yang masih dianggap aman, tapi bukan berarti tak terbatas kalau tekanan terus berlanjut.

Riset MUFG bahkan mencatat bahwa penopang utama rupiah selama ini โ€” aliran dana investor asing yang masuk lewat surat utang Bank Indonesia (SRBI) โ€” kemampuannya untuk terus mendorong penguatan rupiah "mungkin mulai memudar" di tengah yield AS dan harga minyak yang sama-sama naik. Kepemilikan asing di SRBI sudah mendekati 27%, mendekati level tertinggi akhir 2024. Artinya, salah satu bantal pengaman utama rupiah sudah cukup penuh terisi โ€” ruang untuk menyerap kejutan baru makin sempit.

Defisit yang Sudah Rekor, Sekarang Ditambah Beban Baru

Ini bagian yang menghubungkan semuanya. Sebelum serangan ke infrastruktur Saudi terjadi, defisit transaksi berjalan Indonesia (selisih antara uang yang masuk dari ekspor/investasi dan yang keluar untuk impor/pembayaran ke luar negeri) di kuartal II-2026 sudah melebar tajam ke USD12,5 miliar atau 3,3% dari PDB โ€” naik lebih dari tiga kali lipat dari USD3,6 miliar (1% PDB) di kuartal sebelumnya. Ini level terdalam sejak setidaknya 2004, melampaui rekor lama USD10,1 miliar di kuartal II-2013. Penyebab utamanya sudah kelihatan sejak awal: defisit dagang minyak dan gas yang melebar karena impor minyak makin mahal, plus surplus dagang non-migas yang menipis.

Yang membuat kondisi ini rawan disebut "twin deficit" (defisit ganda: defisit transaksi berjalan dan defisit fiskal terjadi bersamaan) โ€” sebuah kondisi yang membuat cadangan devisa tertekan dari dua arah sekaligus. Untungnya, surplus di neraca modal dan finansial sebesar USD12 miliar di kuartal II (dari dana asing yang masuk lewat investasi langsung dan portofolio) berhasil menutup sebagian besar lubang itu. Tapi ini bukan jaminan untuk kuartal III, ketika Brent sudah $30 lebih mahal dibanding rata-rata kuartal II.

Di sinilah muncul perbedaan pandangan yang jujur perlu disebut, bukan ditutup-tutupi. Kepala ekonom salah satu bank besar menilai defisit "akan cenderung menyempit" seiring perbaikan prospek ekspor komoditas. Tapi kepala riset makro bank lain justru memproyeksikan defisit bisa melebar ke 2,5-3,0% PDB sepanjang 2026, didorong impor yang tetap tinggi di tengah permintaan global yang lesu. Keduanya punya argumen valid โ€” dan itu justru menunjukkan betapa tidak pastinya arah ekonomi Indonesia selama harga minyak masih ditentukan oleh drone di langit Saudi, bukan oleh fundamental dalam negeri.

Siapa yang Akhirnya Menanggung Selisihnya

APBN 2026 disusun dengan asumsi harga minyak Indonesia (ICP, harga rata-rata minyak mentah produksi dalam negeri yang jadi patokan hitung subsidi) sebesar $70 per barel. Realisasinya di Agustus sudah $89,43, dan rata-rata Januari-September bertengger di $90,6 โ€” 29% di atas asumsi. Sebagian ekonom bahkan memperkirakan ICP September bisa mencapai $100-104 mengikuti lonjakan Brent terbaru.

Selisih itu tidak menguap begitu saja โ€” ia berpindah jadi tagihan subsidi. Belanja subsidi dan kompensasi energi ke Pertamina dan PLN sampai akhir Agustus 2026 sudah mencapai Rp331,4 triliun, melonjak Rp113 triliun atau 52% dibanding periode sama tahun lalu (Rp218 triliun). Penyebabnya rangkap tiga: harga minyak mentah yang naik, rupiah yang melemah (karena beli minyak pakai dolar, makin lemah rupiah makin mahal ongkosnya dalam rupiah), dan volume konsumsi BBM-LPG-listrik bersubsidi yang tetap tumbuh. Pemerintah memilih menahan harga BBM subsidi tetap di tempat demi menjaga daya beli masyarakat โ€” tapi itu berarti pemerintah yang menanggung selisih harga, bukan konsumen, dan itu pilihan yang membuat ruang fiskal makin sempit untuk belanja lain.

Dampaknya sudah terasa di lantai pabrik. CORE memperkirakan eskalasi harga energi ini bisa mendorong kenaikan harga di 185 sektor industri, dengan konstruksi (+3,56%) dan makanan-minuman (+3,46%) paling terpukul. Sepanjang Januari-April 2026 saja, 15.425 pekerja sudah terkena PHK, dengan sektor garmen, alas kaki, dan elektronik paling rentan karena bergantung pada bahan baku plastik dan minyak impor โ€” harga plastik sempat naik lebih dari 50%, biaya logistik naik 15-20%. Direktur Celios Bhima Yudhistira memperingatkan potensi stagflasi (harga naik tapi ekonomi justru melambat) โ€” kombinasi terburuk karena masyarakat menanggung harga lebih mahal tanpa kenaikan pendapatan yang sepadan. INDEF bahkan memproyeksikan pertumbuhan ekonomi bisa melambat ke kisaran 5% kalau konflik dan lonjakan energi ini berlanjut sampai akhir tahun.

Apa Artinya Buat Kamu

Kalau kamu masih karyawan dan ingin mulai usaha

Ini bukan waktu terbaik untuk memulai usaha yang bahan bakunya impor dan tergantung ongkos kirim โ€” biaya logistik dan plastik sedang di puncaknya, dan margin di sektor itu sedang ditekan dari segala arah. Kalau tetap ingin mulai, pertimbangkan model usaha yang bahan bakunya lokal dan tidak terlalu sensitif terhadap kurs dolar, atau tunda dulu belanja modal besar sampai ada kejelasan arah konflik pasca pemilu paruh waktu AS di November. Sambil menunggu, ini juga momen bagus untuk membangun tabungan darurat dalam bentuk yang tidak ikut tergerus pelemahan rupiah, karena kenaikan harga BBM dan transportasi cepat atau lambat akan menekan daya beli, termasuk daya beli kamu sendiri sebagai calon konsumen bisnismu.

Kalau kamu sudah punya bisnis

Kalau bisnismu bergantung pada bahan baku impor atau ongkos energi (manufaktur, ritel dengan rantai pasok panjang, transportasi/logistik), saatnya serius mempertimbangkan hedging valas (mengunci kurs pembelian dolar di harga sekarang lewat kontrak forward, supaya kalau rupiah makin lemah kamu tidak kena tambahan biaya mendadak) โ€” jangan tunggu sampai rupiah tembus Rp18.500 baru bergerak. Re-pricing produk juga perlu dipikirkan lebih awal dan transparan ke pelanggan, daripada menahan harga sampai margin habis lalu terpaksa naik drastis sekaligus. Kalau kamu di sektor padat energi atau padat bahan baku plastik/minyak, mulai petakan pemasok alternatif atau substitusi bahan baku sekarang, karena kondisi ini kemungkinan bertahan sampai minimal kuartal IV.

Buat masyarakat luas

Karena pemerintah masih menahan harga BBM bersubsidi, dampak ke harga di SPBU belum langsung terasa โ€” tapi ruang fiskal yang makin sempit berarti anggaran untuk hal lain (infrastruktur, bantuan sosial, kesehatan) yang berpotensi tergerus untuk menutup selisih subsidi energi. Kenaikan harga di 185 sektor yang diproyeksikan CORE juga berarti barang-barang sehari-hari, khususnya makanan-minuman dan bahan bangunan, punya risiko naik dalam beberapa bulan ke depan meski BBM subsidi tak naik. Ini waktu yang tepat untuk lebih disiplin soal anggaran rumah tangga, bukan menunggu sampai kenaikan harga benar-benar terjadi di rak-rak toko.

Yang Perlu Dipantau

  • Perbaikan pipa East-West dan pemulihan produksi Saudi โ€” apakah Aramco bisa kembali ke kapasitas penuh 4-5 juta barel per hari, atau tetap tertahan di 3,5 juta barel seperti sekarang.

  • Hasil pembicaraan Iran-AS soal Selat Hormuz โ€” apakah ada titik terang sebelum pemilu paruh waktu AS di November 2026, atau justru buntu berkepanjangan.

  • Rilis ICP (Indonesian Crude Price) bulan September oleh Kementerian ESDM, biasanya awal bulan berikutnya โ€” akan menentukan seberapa besar tambahan beban subsidi di kuartal IV.

  • Data neraca pembayaran kuartal III-2026 dari Bank Indonesia (biasanya rilis awal November) โ€” untuk melihat apakah defisit transaksi berjalan melebar lagi dari USD12,5 miliar atau justru mereda.

  • Level cadangan devisa bulanan BI โ€” kalau turun tajam dari USD146,5 miliar, itu tanda intervensi rupiah mulai menggerus bantalan yang ada.

Penutup

Perang di Timur Tengah dulu terasa jauh โ€” soal kapal tanker di selat yang namanya saja baru kita kenal lewat berita. Sekarang jaraknya sudah sedekat rupiah di dompetmu yang tembus Rp18.010, dan sedekat keputusan pemerintah menahan atau menaikkan harga BBM bersubsidi. Yang perlu kamu pegang bukan harapan bahwa ini akan cepat selesai, tapi kesiapan bahwa harga energi tinggi kemungkinan jadi kenyataan yang harus dihitung dalam rencana keuanganmu sampai setidaknya akhir tahun ini โ€” siapa yang lebih dulu menyesuaikan diri, dialah yang lebih sedikit terkejut nanti.

Sumber

  • Al Jazeera โ€” "Saudi Arabia shuts critical oil pipeline after drone attack: What happened"

  • NPR & CNN โ€” "Houthi attacks on Saudi Arabia ignite fires at oil facilities and wound 73 people"

  • Kontan โ€” "BI Catat Defisit Transaksi Berjalan Indonesia Melebar Jadi US$12,5 Miliar Kuartal II"

  • CNBC Indonesia โ€” "Defisit Transaksi Berjalan Tembus $12,5 M, Ekonomi RI Baik-Baik Saja?"

  • CNBC Indonesia โ€” "Harga Minyak Mentah RI (ICP) Naik US$89,43/Barel, Ini Pemicunya"

  • Bisnis.com โ€” "Ditekan Harga Minyak-Rupiah, Belanja Subsidi dan Kompensasi Melonjak Rp113 Triliun"

  • Suara.com โ€” "Rupiah Tembus Rp18.012, BI Salahkan Kondisi Global" & "Rupiah Dekati Rp18.000, BI Pilih Kurangi Intervensi di Pasar Valuta Asing"

  • MUFG Research โ€” IndonesiaPulse: "The Limits of Oil Shock Buffers for the Rupiah"

  • Kompas โ€” "CORE: Konflik Iran Bisa Picu Kenaikan Harga 185 Sektor Industri di Indonesia"

  • GoodStats & Tandaseru.id โ€” data PHK 2026 dan dampak konflik Timur Tengah ke industri plastik-minyak