Lewati ke konten
blabak.

Ekonomi Berbentuk K: Saat yang Atas Tumbuh 8%, yang Bawah Jalan di Tempat

RI tumbuh 5%, tapi kelas menengah menyusut, upah mandek 8 tahun, ritel melambat. Ini kenapa 'K-shaped economy' global kini nyata di dompetmu.

Yusuf FS10 menit baca

Ringkasan Cepat

  • Survei Bank Indonesia mencatat pertumbuhan ekonomi kelompok pengeluaran atas mencapai 8% (dibanding periode sama tahun lalu) pada kuartal I-2026, sementara kelompok menengah dan bawah cuma tumbuh 3,5–3,6% β€” jarak yang nyaris dua kali lipat.

  • Kelas menengah Indonesia menyusut dari 57,33 juta orang (2019) menjadi 46,7 juta orang (2025), kehilangan lebih dari 10 juta orang dalam enam tahun β€” kebanyakan turun kelas, bukan jadi miskin.

  • Upah riil (upah yang sudah disesuaikan dengan kenaikan harga barang) rata-rata turun 1,1% per tahun sejak 2018 menurut Bank Dunia β€” artinya delapan tahun kesejahteraan dari gaji nyaris tidak bergerak, bahkan mengecil.

  • Penjualan ritel nasional hanya tumbuh 0,5% (dibanding tahun lalu) pada Agustus 2026 menurut Bank Indonesia, jauh melambat dan bahkan terkontraksi 0,1% dibanding bulan sebelumnya.

  • Rasio gini resmi BPS justru turun ke 0,363 (September 2025), tapi dikritik dua lembaga riset karena metodenya mengukur pengeluaran, bukan pendapatan atau kekayaan orang superkaya.

Dua Jalur yang Makin Menjauh

Istilah "K-shaped economy" lahir dari krisis Covid-19 tahun 2020, dipakai ekonom untuk menggambarkan pemulihan yang tidak merata: satu garis menanjak ke atas (kelompok yang punya aset, saham, properti, atau pekerjaan berpenghasilan tinggi), satu garis menukik ke bawah (kelompok yang mengandalkan gaji dan pekerjaan rentan). Sejak itu istilahnya tidak pernah benar-benar hilang. Laporan World Inequality 2026 mencatat, secara global, 10% populasi dunia kini menguasai 90% kekayaan dunia, dan kurang dari 60.000 orang paling kaya di planet ini punya kekayaan tiga kali lipat gabungan separuh populasi dunia yang paling miskin. Di Amerika Serikat, negara asal istilah ini populer, 10% orang terkaya menyumbang hampir separuh dari seluruh belanja konsumen pada 2025.

Yang sering terlewat: Indonesia punya versi K-nya sendiri, dan angkanya baru-baru ini keluar dari survei konsumen Bank Indonesia. Pada kuartal pertama 2026, pertumbuhan ekonomi riil kelompok pengeluaran atas tercatat 8% dibanding periode sama tahun lalu. Kelompok menengah dan bawah? Hanya 3,5–3,6%. Ini bukan cuma soal siapa tumbuh lebih cepat β€” ini soal dua ekonomi yang mulai berjalan di jalur berbeda di dalam satu negara yang headline-nya sama-sama disebut "tumbuh 5%".

Selama ini media sering menulis kelas menengah menyusut di satu artikel, ritel melambat di artikel lain, dan upah stagnan di artikel ketiga β€” seolah tiga cerita yang berdiri sendiri. Begitu dibaca lewat bingkai K-shape, ketiganya ternyata satu gerigi yang sama: mesin yang menggerakkan pertumbuhan 5% itu makin kecil porsi orangnya, dan makin besar porsi yang cuma menonton dari pinggir.

Kelas Menengah yang Menguap

Data Badan Pusat Statistik (BPS), diolah Mandiri Institute, menunjukkan jumlah kelas menengah Indonesia turun dari 57,33 juta orang (21,45% populasi) pada 2019, menjadi 47,85 juta pada 2024, lalu 46,7 juta pada 2025 β€” penurunan 1,1 juta orang hanya dalam setahun terakhir, penurunan tercepat sejak 2019. Kabar baiknya, sebagian besar dari mereka tidak jatuh jadi miskin. Kabar yang kurang baik: mereka turun ke kelompok "aspiring middle class" (kelompok hampir-menengah, berpenghasilan di bawah ambang kelas menengah tapi di atas garis kemiskinan), yang jumlahnya kini membengkak jadi 142 juta orang β€” lebih dari separuh penduduk Indonesia.

Bhima Yudhistira, Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), menyebut Indonesia kehilangan 10 juta kelas menengah dalam satu dekade. Koleganya, Nailul Huda, punya catatan yang lebih pedas: kelompok ini menanggung beban pajak paling berat secara proporsional, tapi paling sedikit menikmati manfaat dari pajak yang mereka bayar β€” kombinasi yang membuat mereka terus tergerus dari tahun ke tahun.

Jejak penyusutan ini juga terlihat di jalan raya, meski tidak sesederhana "orang kaya tetap belanja, orang miskin berhenti belanja". Penjualan mobil baru di Indonesia terus merosot karena basis pembeli utamanya β€” rumah tangga kelas menengah yang membeli dengan kredit cicilan β€” makin tipis. Sementara itu, penjualan sepeda motor justru mencetak rekor tertinggi sejak 2020 di angka 6,4 juta unit. Bukan karena motor sedang tren, tapi karena ia bergeser dari gaya hidup jadi kebutuhan pokok transportasi bagi kelompok yang makin berhati-hati dengan uangnya. Mobil butuh keyakinan jangka panjang soal pendapatan; motor cuma butuh kebutuhan hari ini.

Kerja Ada, Tapi Mutunya Anjlok

Angka pengangguran Indonesia sebenarnya membaik β€” turun ke kisaran 4,65–4,9% sepanjang 2025–2026. Tapi angka ini menyembunyikan masalah yang lebih dalam, dan inilah bagian yang paling jarang dibahas tuntas. Bank Dunia mencatat porsi pekerja Indonesia yang berpenghasilan setara kelas menengah merosot dari 14,5% pada 2018 menjadi hanya sedikit di atas 7% pada 2025 β€” artinya porsi pekerja yang gajinya cukup disebut "kelas menengah" terpangkas lebih dari separuh hanya dalam tujuh tahun. Dari seluruh lapangan kerja baru yang tercipta antara Agustus 2024 dan Agustus 2025, hampir separuhnya terserap ke sektor produktivitas rendah seperti pertanian dan akomodasi-makanan minuman, sementara sektor berketerampilan tinggi seperti jasa keuangan justru stagnan atau mengecil.

Lebih tajam lagi: berdasarkan data yang diolah dari BPS, jika rata-rata penambahan pekerja formal baru sepanjang 2022–2025 mencapai 366.000 orang per tahun, maka pada Februari 2026 angka itu ambruk jadi hanya sekitar 38.000 β€” anjlok 86%. Porsi pekerja formal pun turun ke 40,58% pada periode yang sama, mendekati titik di mana pekerja informal (tanpa kontrak, tanpa jaminan sosial penuh, tanpa pesangon) justru jadi mayoritas. Penyebabnya bertumpuk: bahan baku mahal, gangguan pasokan global, rupiah yang melemah, membuat banyak perusahaan masuk fase menahan rekrutmen sambil menunggu kejelasan.

Di sisi lain, gelombang PHK terus berlanjut. Data Jaminan Kehilangan Pekerjaan (JKP) mencatat 79.302 pekerja terdampak PHK sepanjang Januari–November 2025 β€” melampaui total sepanjang 2024 (77.965 orang), padahal belum genap setahun. Kebangkrutan Sritex, raksasa tekstil yang pernah mempekerjakan lebih dari 11.000 karyawan, jadi simbol paling nyata dari industri padat karya yang kolaps dihantam kombinasi biaya produksi tinggi dan banjir barang impor murah.

Gaji yang Beku Delapan Tahun, Ritel yang Mulai Batuk

Inilah titik sambung yang menjelaskan kenapa pertumbuhan tinggi tidak terasa di dompet kebanyakan orang. Upah riil pekerja Indonesia β€” upah nominal yang sudah dikurangi efek kenaikan harga barang β€” turun rata-rata 1,1% per tahun sejak 2018 menurut Bank Dunia. Secara kumulatif sampai 2024 saja, itu berarti daya beli dari gaji seorang pekerja sudah susut lebih dari 6% dibanding enam tahun sebelumnya, dan laporan terbaru soal dua tahun pemerintahan Prabowo masih memakai kata yang sama: stagnan. Delapan tahun gaji jalan di tempat, sementara harga sewa, transportasi, pendidikan anak, dan cicilan terus naik.

Rantai akibatnya bisa ditebak. Survei konsumen Bank Indonesia pada 2026 menunjukkan indeks daya beli kelompok pengeluaran bawah merosot ke -1,0 (dari -0,6 setahun sebelumnya), kelompok menengah turun dari -0,6 ke -0,9, sementara kelompok atas relatif stabil di sekitar -0,1. Rata-rata porsi pendapatan yang dihabiskan untuk konsumsi dasar naik ke 74,9% pada September 2026 β€” artinya makin sedikit sisa untuk ditabung atau dibelanjakan untuk hal di luar kebutuhan pokok. Satu-satunya kelompok yang porsinya justru turun sedikit adalah kelompok berpengeluaran Rp1–2 juta per bulan β€” bukan karena mereka makin longgar, tapi karena mereka sudah di titik minimum, tak ada lagi yang bisa dipangkas atau ditambah.

Hasil akhirnya: penjualan ritel nasional yang biasanya jadi penanda kesehatan konsumsi domestik, hanya tumbuh 0,5% dibanding tahun lalu pada Agustus 2026 menurut Bank Indonesia β€” dan secara bulanan malah terkontraksi 0,1%. Bank Indonesia sendiri memproyeksikan pelemahan ini berlanjut sampai akhir tahun. Upah mandek, daya beli kelompok bawah-menengah merosot, ritel melambat β€” tiga data yang tampak terpisah, ternyata satu rantai sebab-akibat yang sama.

Kenapa Rasio Gini Bilang Ketimpangan Mengecil?

Di sinilah pembaca yang teliti pasti bertanya: kalau semua data di atas menunjukkan kesenjangan makin tajam, kenapa rasio gini resmi BPS justru turun dari 0,375 (Maret 2025) ke 0,363 (September 2025) β€” angka yang bahkan disebut pemerintah sebagai perbaikan? Jawabannya ada di cara menghitungnya, dan ini yang bikin dua lembaga riset, Celios dan INDEF, sama-sama mengkritik keras.

Rasio gini BPS dihitung dari data pengeluaran rumah tangga, bukan pendapatan apalagi kekayaan. Masalahnya, orang-orang paling kaya punya pola konsumsi yang tidak proporsional dengan pendapatan atau kekayaan mereka β€” mereka menyimpan dan menginvestasikan sebagian besar uangnya, bukan membelanjakan semuanya setiap bulan, sehingga pengeluaran mereka tidak mencerminkan seberapa jauh mereka sebenarnya di depan. Celios, dalam studi terpisah tahun 2024, menemukan harta 50 orang terkaya Indonesia setara dengan gabungan harta sekitar 50 juta penduduk Indonesia lainnya β€” hampir seperlima populasi negara ini. Angka seperti itu tidak akan pernah terlihat dalam rasio gini berbasis pengeluaran, karena metodenya memang tidak dirancang untuk menangkapnya. Rasio gini kekayaan (bukan pengeluaran), kalau dihitung, diperkirakan jauh lebih tinggi dari 0,363.

Jadi ketimpangan pengeluaran sehari-hari memang sedikit menyempit β€” mungkin karena kelompok bawah-menengah sama-sama menekan belanja mereka ke titik minimum yang serupa. Tapi ketimpangan kekayaan dan pendapatan, yang justru menjadi mesin dari fenomena K-shape, tidak ikut tercatat di angka itu.

Bukan Cuma Kaya-Miskin, Tapi Juga Soal Alamat

K-shape di Indonesia punya satu dimensi lagi yang jarang disinggung: lokasi. Jawa dan Sumatra bersama-sama menyumbang sekitar 80% ekonomi nasional, dengan Jawa sendirian menyumbang 56,93% pada 2025. Ironisnya, pertumbuhan tercepat secara persentase justru datang dari luar Jawa β€” Maluku Utara dan Sulawesi Tengah, didorong hilirisasi nikel β€” tapi basisnya kecil, dan manfaatnya belum merata ke infrastruktur digital, pendidikan, atau layanan kesehatan di kawasan timur Indonesia yang masih jauh tertinggal dari Jawa-Sumatra.

Dalam perbandingan regional, Sustainable Trade Index 2025 yang disusun Hinrich Foundation bersama IMD World Competitiveness Center menempatkan Indonesia di bawah Vietnam (indeks ketimpangan 3,6) dan Malaysia (3,8) dalam indikator pemerataan pembangunan ekonomi, dengan indeks ketimpangan Indonesia di 4,2 β€” semakin tinggi angkanya, semakin tidak merata distribusi kesempatan ekonominya. Artinya, dibanding dua tetangga terdekat yang sering disandingkan dalam isu daya saing ASEAN, Indonesia justru kalah soal pemerataan, bukan cuma soal pertumbuhan.

Apa Artinya Buat Kamu

Kalau kamu masih karyawan dan ingin mulai usaha

Jangan lagi menyasar "kelas menengah" sebagai satu pasar besar yang homogen β€” data di atas menunjukkan kelompok itu sendiri yang paling tergerus. Dua posisi yang relatif lebih aman: melayani kelompok atas yang belanjanya masih tumbuh 8% (lebih sedikit pembeli, tapi daya beli dan loyalitasnya lebih stabil), atau melayani kebutuhan dasar massal dengan harga ketat untuk kelompok yang jumlahnya terus membesar (142 juta orang aspiring middle class) tapi sangat sensitif harga. Zona tengah β€” produk gaya hidup kelas menengah yang biasanya dibeli dengan cicilan jangka panjang, seperti yang terjadi pada mobil baru β€” justru yang paling berisiko sekarang. Mulai sebagai sampingan dulu sambil validasi segmen yang kamu sasar benar-benar tumbuh, jangan langsung resign.

Kalau kamu sudah punya bisnis

Cek ulang berapa persen pelangganmu yang bergantung pada kredit atau cicilan jangka panjang β€” itu segmen paling rentan terhadap pelambatan upah riil dan daya beli kelompok menengah-bawah yang sudah terjadi delapan tahun. Siapkan opsi varian produk dengan harga lebih terjangkau untuk menahan pelanggan yang turun kelas, tanpa harus mengorbankan lini premium kalau basis pelangganmu memungkinkan. Jika bisnismu padat karya (tekstil, garmen, sepatu, furnitur), waspadai kombinasi tiga tekanan yang sudah menjatuhkan banyak pabrik: bahan baku impor yang mahal, rupiah yang fluktuatif, dan banjir barang impor murah yang bersaing langsung dengan produkmu di pasar domestik.

Kalau kamu pekerja biasa, bukan pengusaha

Cek apakah kenaikan gajimu benar-benar mengikuti kenaikan harga barang, bukan cuma naik di atas kertas. Data delapan tahun terakhir menunjukkan kenaikan nominal sering tidak cukup menutup inflasi, apalagi biaya hidup yang naik lebih cepat dari inflasi resmi di kota-kota besar. Kalau pekerjaanmu ada di sektor padat karya atau rantai pasok yang bergantung bahan baku impor, risiko PHK nyata β€” ada baiknya mulai membangun sumber pendapatan kedua sebelum, bukan sesudah, kabar buruk datang. Dan karena rata-rata orang Indonesia kini menghabiskan hampir 75% pendapatannya hanya untuk konsumsi dasar, jangan tunggu sampai itu terjadi padamu untuk mulai menyisihkan dana darurat β€” ruang geraknya makin tipis dari tahun ke tahun.

Yang Perlu Dipantau

  • Keputusan UMP/UMK 2027, biasanya diumumkan pemerintah akhir November 2026 β€” penentu apakah tren upah riil delapan tahun ini mulai berbalik atau berlanjut.

  • Rilis pertumbuhan ekonomi kuartal III-2026 oleh BPS, awal November 2026 β€” lihat apakah jarak pertumbuhan kelompok atas dan bawah makin melebar atau mulai menyempit.

  • Survei Konsumen Bank Indonesia bulanan, dirilis setiap awal bulan β€” pantau khusus indeks daya beli kelompok pengeluaran Rp1–4 juta, segmen yang paling dekat dengan titik jenuh.

  • Pembahasan RUU Ketenagakerjaan di DPR, yang akan menentukan nasib perlindungan pekerja formal dan industri padat karya yang sedang berguguran.

  • Rilis Susenas semester II-2026 oleh BPS (diperkirakan awal 2027) β€” akan menjawab apakah penyempitan rasio gini berlanjut, atau hanya anomali satu periode.

Penutup

Pertumbuhan 5% itu nyata, dan bukan rekayasa statistik. Yang jadi masalah adalah angka itu sekarang mewakili dua ekonomi yang berjalan berlawanan arah, dirata-rata jadi satu angka yang terdengar baik di headline. Pertanyaannya bukan lagi apakah ekonomi Indonesia tumbuh β€” tapi di cabang huruf K yang mana kamu sedang berdiri sekarang, dan apa yang sudah kamu siapkan kalau cabang itu ternyata yang menukik ke bawah.

Sumber

  • Bank Indonesia β€” Survei Konsumen dan Indeks Penjualan Riil 2026

  • Bank Dunia (World Bank) β€” Indonesia Economic Prospects, Juni & Desember 2025

  • BPS (Badan Pusat Statistik) β€” Data Rasio Gini Maret & September 2025, data ketenagakerjaan

  • Mandiri Institute β€” Olahan data kelas menengah dari BPS

  • Celios (Center of Economic and Law Studies) β€” Studi ketimpangan kekayaan 2024, kritik metodologi rasio gini

  • INDEF (Institute for Development of Economics and Finance) β€” Catatan kritis fiskal dan ekonomi 2026

  • Investor Daily β€” Laporan upah riil stagnan dua tahun pemerintahan Prabowo

  • Kompas, CNBC Indonesia β€” Analisis fenomena ekonomi berbentuk K

  • World Inequality Report 2026 β€” Data ketimpangan kekayaan global

  • Hinrich Foundation & IMD World Competitiveness Center β€” Sustainable Trade Index 2025

  • Data Satu Kemenaker / Jaminan Kehilangan Pekerjaan (JKP) β€” Data PHK 2025