Front Baru Houthi-Saudi Pecah, Minyak Tembus $100: Kenapa Rupiah dan APBN RI Ikut Terseret
Gencatan senjata Houthi-Saudi 4 tahun pecah, Brent sentuh $104-105. Dampaknya nyata: rupiah ke Rp17.900, defisit transaksi berjalan, dan subsidi BBM RI.
Daftar isi9 bagian
Ringkasan Cepat
Gencatan senjata Saudi ArabiaβHouthi yang bertahan hampir empat tahun resmi pecah awal Oktober 2026. Houthi kini menguasai seluruh pesisir Laut Merah Yaman dan mengumumkan blokade laut terhadap kapal-kapal Saudi di Selat Bab al-Mandab β jalur yang dilewati sekitar 10% perdagangan minyak laut dunia.
Brent, patokan harga minyak dunia, sempat menembus $104-105 per barel sebelum turun ke $100-101. Bukan karena minyaknya benar-benar berhenti mengalir, tapi karena biaya asuransi perang kapal tanker melonjak dari di bawah 1% menjadi sampai 7% dari nilai kapal.
Rupiah melemah ke kisaran Rp17.900-an per dolar AS β jauh dari kisaran normalnya di 2024-2025 yang ada di Rp15.800-16.200 β memaksa Bank Indonesia turun tangan lewat intervensi spot dan memperbesar insentif hedging (mengunci kurs lebih awal supaya tidak rugi kalau rupiah makin melemah).
Defisit transaksi berjalan Indonesia (selisih negatif antara uang yang masuk dan keluar dari transaksi barang, jasa, dan pendapatan dengan luar negeri) sudah US$12,5 miliar, setara 3,3% PDB, di kuartal II-2026 β lebih dari tiga kali lipat kuartal sebelumnya.
Setiap kenaikan US$1 harga minyak Indonesia menambah beban APBN sekitar Rp6,8 triliun. Masalahnya, harga itu sudah jauh di atas asumsi anggaran bahkan sebelum front Houthi-Saudi pecah lagi.
Kenapa Gencatan Empat Tahun Ini Bisa Runtuh dalam Semalam
Sejak 2022, Yaman relatif tenang. Saudi Arabia dan Houthi β kelompok bersenjata yang didukung Iran dan menguasai sebagian besar wilayah Yaman utara β menahan diri setelah bertahun-tahun perang proksi yang menghancurkan negara termiskin di jazirah Arab itu. Keseimbangan rapuh itu pecah awal Oktober, dan pemicunya kecil tapi simbolis: Iran menerbangkan pesawat ke Sanaa membawa delegasi Houthi tanpa persetujuan Riyadh, melanggar praktik yang sudah berjalan satu dekade. Saudi membalas dengan menyerang bandara Sanaa.
Houthi tidak tinggal diam. Mereka menembakkan rudal balistik dan drone ke fasilitas minyak Saudi di selatan Riyadh, memicu kebakaran di lokasi sasaran menurut klaim mereka sendiri. Saudi merespons dengan 26 serangan udara ke Sanaa dan 94 serangan dalam 24 jam ke wilayah kendali Houthi. Di tengah baku hantam itu, Houthi melakukan yang disebut media sebagai "serangan kilat": menguasai seluruh pesisir Laut Merah Yaman, termasuk Selat Bab al-Mandab, lalu mengumumkan blokade laut terhadap kapal-kapal Saudi.
Ini bukan Hormuz. Selama ini perhatian publik soal minyak Timur Tengah tersedot ke Selat Hormuz dan perang Amerika Serikat-Israel-Iran yang masih berjalan paralel. Tapi Bab al-Mandab adalah pintu keluar Laut Merah menuju Terusan Suez β jalur pintas Eropa-Asia yang sudah berulang kali terganggu Houthi sejak 2023. Begitu Houthi menguasai penuh pesisirnya, ancaman itu berubah dari gangguan sesekali menjadi kontrol teritorial.
Saudi tidak membiarkan ini berlarut. Mulai 5 Oktober, pasukan pemerintah Yaman yang didukung koalisi Saudi melancarkan kontra-ofensif, mengklaim merebut kembali distrik Dhubab dekat Bab al-Mandab β meski Houthi membantah klaim itu. Koalisi menyebut mengerahkan 100 jet tempur dan mengklaim sudah mengamankan "perlindungan udara" atas selat strategis itu. Status di lapangan masih kontes, bukan kemenangan sepihak siapa pun. Di tengah semua ini, Program Pangan Dunia memperingatkan tiga perempat populasi Yaman sudah tidak mampu memenuhi kebutuhan pangan dasar β pengingat bahwa di balik angka minyak dan rupiah, ada krisis kemanusiaan yang jauh lebih lama dan lebih dalam.
Harga Minyak Naik Bukan Karena Minyaknya Hilang
Ini bagian yang sering terlewat dari pemberitaan: Brent naik ke $104-105 bukan karena pasokan minyak dunia benar-benar berkurang drastis. Yang melonjak adalah ongkos untuk mengangkutnya dengan aman.
Menurut laporan industri asuransi pelayaran (Insurance Journal), premi asuransi perang untuk tanker yang singgah di Yanbu, Saudi, naik dari di bawah 1% nilai kapal pada awal Juli menjadi sekitar 3% sekarang. Untuk kapal yang harus lewat pelabuhan Saudi lebih selatan β lebih dekat ke jangkauan serangan Houthi di sekitar Bab al-Mandab β premi itu bisa tembus 7%. Dalam angka konkret: satu pelayaran dari Yanbu kini bisa menelan premi asuransi perang sampai $3 juta, dan dari pelabuhan selatan lain atau lewat rute Hormuz bisa sampai $7 juta β padahal sebelum perang ini pecah, angkanya di bawah $100.000. Tambahkan biaya sewa tanker minimal $500.000 per hari dan bahan bakar kapal yang ikut naik, dan jelaslah kenapa harga di pasar global ikut terdongkrak meski barel minyaknya sendiri masih bisa diproduksi.
Tapi di sinilah data yang tampak kontradiktif perlu dijelaskan di tempat yang sama: pada 6-7 Oktober, Brent justru turun dari $105,65 ke $100,20. Alasannya bukan karena konflik mereda, tapi karena dua hal lain menekan ke arah berlawanan β ekspor minyak dari kawasan Teluk yang masih mengalir kuat lewat rute alternatif, dan negara-negara anggota IEA (Badan Energi Internasional) sepakat memprioritaskan pelepasan cadangan diesel untuk menahan lonjakan harga BBM olahan. Jadi harga minyak sekarang bergerak di antara dua gaya tarik: eskalasi militer yang mendorong naik, dan intervensi pasokan yang menahan dari sisi lain. Hasilnya adalah volatilitas di kisaran $100-105, bukan tren satu arah.
Rupiah Rp17.900 dan Defisit yang Sudah Merah Duluan
Buat Indonesia, gejolak ini datang di waktu yang paling buruk. Bank Indonesia mencatat defisit transaksi berjalan β selisih antara uang masuk dan keluar dari perdagangan barang/jasa serta pembayaran ke luar negeri β melebar tajam menjadi US$12,5 miliar atau 3,3% dari PDB di kuartal II-2026. Itu naik dari hanya US$3,6 miliar (1,0% PDB) di kuartal sebelumnya. Penyebab utamanya: defisit neraca minyak dan gas yang membengkak seiring harga minyak dunia naik dan impor BBM ikut mahal, ditambah surplus nonmigas yang menyusut karena impor bahan baku industri domestik masih tinggi.
Ironisnya, neraca pembayaran keseluruhan Indonesia (NPI, yang mencakup juga aliran modal dan investasi) justru membaik β defisit hanya US$0,9 miliar di kuartal II, jauh lebih kecil dari defisit US$9,1 miliar di kuartal I. Ini karena arus masuk investasi portofolio dan langsung masih deras. Tapi itu bukan alasan untuk tenang: NPI yang membaik ditopang modal asing yang bisa kabur kapan saja kalau sentimen global memburuk, sementara defisit transaksi berjalan mencerminkan masalah struktural β Indonesia makin bergantung pada impor energi.
Yang membuat ini lebih rumit: Bank Dunia baru-baru ini memproyeksikan defisit transaksi berjalan Indonesia hanya melebar ke 1,5% PDB untuk keseluruhan 2026 dan 1,7% di 2027. Angka itu jauh lebih kalem dibanding realisasi kuartal II yang sudah 3,3%. Gapnya bukan berarti datanya salah β proyeksi Bank Dunia adalah rata-rata setahun, sementara kuartal II paling terpukul oleh lonjakan harga minyak yang justru baru dimulai pertengahan tahun. Tapi itu juga sinyal bahwa kalau harga minyak tetap tinggi sampai akhir tahun akibat front Houthi-Saudi ini, rata-rata tahunan bisa mendekati β atau melampaui β angka kuartal II yang sudah merah, bukan turun ke proyeksi yang lebih optimistis itu.
Tekanan ini langsung menjalar ke rupiah. Mata uang kita terdepresiasi 7,74% sejak awal tahun hingga akhir September 2026, dan pada 1 Oktober ditutup di Rp17.966 β mendekati level psikologis Rp18.000 yang belum pernah ditembus. Bank Indonesia merespons dengan intervensi tiga jalur: pasar spot, DNDF (transaksi jual-beli valas berjangka tanpa penyerahan fisik dolar), dan swap. Mereka juga memperbesar insentif hedging bagi korporasi β diskon premi untuk instrumen swap dinaikkan sampai 25% untuk tenor 12 bulan, dan untuk DNDF sampai 30%. Hasilnya sempat terlihat: rupiah balik menguat ke Rp17.882-17.894 pada 2 Oktober, dibantu juga oleh koreksi sementara harga minyak. Tapi "menguat" di sini relatif β tetap jauh dari kisaran Rp15.800-16.200 yang jadi patokan normal 2024-2025.
Beban Tersembunyi: Rp526 Triliun dan Harga Pertamax yang "Dibekukan"
Sekarang bagian yang paling jarang dibahas di headline: beban fiskal yang sudah menumpuk sebelum front Houthi-Saudi ini pecah. APBN 2026 disusun dengan asumsi harga minyak Indonesia (ICP) di $70 per barel β sudah lebih rendah dari asumsi 2025 yang $82, sebagai antisipasi. Realitasnya meleset jauh: ICP rata-rata Januari-Mei 2026 sudah $91,8, lalu Agustus tercatat $89,43, naik dari $81,68 di Juli. Artinya, bahkan sebelum eskalasi Houthi-Saudi awal Oktober ini, harga minyak yang dibayar Indonesia sudah $20 lebih mahal dari yang dianggarkan.
Kementerian Keuangan menghitung setiap kenaikan US$1 ICP menambah belanja negara sekitar Rp10,3 triliun, sementara tambahan penerimaan negara (dari pajak dan bagi hasil migas) hanya sekitar Rp3,5 triliun. Selisihnya, Rp6,8 triliun, langsung menambah defisit. Dengan tekanan harga sekarang, proyeksi beban subsidi dan kompensasi energi bisa naik Rp200 triliun dari rencana awal, menuju Rp526 triliun β hampir seperempat dari total belanja negara.
Di sinilah muncul data yang tampak kontradiktif dan perlu dijelaskan sekaligus: pemerintah memastikan harga BBM bersubsidi tidak naik sampai akhir tahun, dan Pertamina bahkan menahan harga Pertamax (BBM nonsubsidi) tetap Rp15.950 per liter pada 1 Oktober β padahal proyeksi berdasarkan harga acuan Singapura (MOPS) yang naik sekitar 14% dalam sebulan semestinya mendorong Pertamax naik sampai 11%, ke sekitar Rp17.704. Kenapa tidak naik? Karena ini keputusan politik, bukan keputusan pasar β pemerintah memilih menyerap selisihnya lewat anggaran kompensasi energi, yang pada akhirnya kembali ke angka Rp526 triliun di atas. Harga di pompa bensin tenang, tapi tekanannya dipindahkan ke APBN.
Ekonom senior INDEF memperingatkan bahwa kenaikan harga minyak dunia yang terus-menerus ini berpotensi memicu inflasi dan bahkan gejolak sosial jika pada akhirnya pemerintah terpaksa menyesuaikan harga BBM subsidi β sebuah skenario yang selama ini ditahan dengan subsidi makin membengkak, tapi punya batas kemampuan fiskal. Ini bukan prediksi pasti, tapi peringatan yang pantas didengar: menahan harga di permukaan tidak menghilangkan tekanannya, hanya memindahkannya ke tempat lain.
Apa Artinya Buat Kamu
Kalau kamu masih karyawan dan ingin mulai usaha
Ini bukan waktu ideal untuk memulai usaha yang bahan bakunya impor murni atau sangat tergantung BBM nonsubsidi untuk logistik β margin kamu akan langsung tergerus kombinasi rupiah lemah dan ongkos energi naik. Tapi bukan berarti harus menunggu. Kalau rencana usahamu memang jalan, mulai dengan skala kecil dan kontrak jangka pendek dulu, supaya kamu tidak terikat harga pasokan dolar untuk komitmen setahun ke depan di saat kursnya masih bergerak liar. Pertimbangkan juga usaha yang justru diuntungkan situasi ini β jasa efisiensi energi, logistik rute alternatif, atau produk substitusi impor β karena permintaan terhadap solusi hemat energi biasanya naik justru saat ongkos energi mahal.
Kalau kamu sudah punya bisnis
Kalau bisnismu punya kewajiban dalam dolar β beli bahan baku impor, bayar sewa alat berdenominasi USD, atau punya utang valas β saatnya serius mengevaluasi hedging, bukan menunda. Insentif dari BI untuk instrumen swap dan DNDF sedang diperbesar, artinya biayanya sedang lebih murah dari biasanya untuk mengunci kurs. Cek juga kontrak pemasok: kalau klausulnya mengikuti harga minyak dunia atau kurs dolar secara otomatis, ini saat tepat untuk negosiasi ulang skema harga atau mencari pemasok alternatif yang lebih tahan gejolak. Jangan menunggu sampai rupiah tembus Rp18.000 untuk mulai bertindak β saat itu biaya hedging biasanya sudah lebih mahal karena permintaannya ikut melonjak.
Dampak yang lebih luas ke masyarakat
Buat masyarakat umum, risikonya belum terasa di harga BBM β karena pemerintah sengaja menahannya. Tapi tekanan itu tidak hilang, cuma pindah ke pos lain: anggaran subsidi yang makin besar berarti makin sedikit ruang fiskal untuk belanja lain seperti infrastruktur, kesehatan, atau bantuan sosial di tahun-tahun berikutnya. Kalau kamu punya tabungan atau rencana belanja besar dalam dolar (sekolah anak di luar negeri, misalnya), ini momentum untuk mempercepat konversi sebelum rupiah melemah lebih jauh, bukan menunggu berharap kembali ke Rp16.000-an dalam waktu dekat.
Yang Perlu Dipantau
Status Bab al-Mandab: apakah kontra-ofensif Saudi-Yaman berhasil merebut kembali kendali penuh selat, atau Houthi mempertahankan blokadenya β ini penentu utama arah Brent dalam beberapa minggu ke depan.
Rilis EIA Short-Term Energy Outlook bulanan: proyeksi Brent $105/barel untuk kuartal IV-2026 akan direvisi tiap bulan sesuai eskalasi di lapangan.
Data neraca pembayaran kuartal III-2026 dari Bank Indonesia, biasanya dirilis sekitar pertengahan-akhir November β akan menjawab apakah defisit transaksi berjalan terus melebar atau mulai terkendali.
Keputusan harga BBM nonsubsidi Pertamina setiap tanggal 1: tiap bulan harga ditahan adalah tiap bulan beban kompensasi energi di APBN bertambah.
Pergerakan rupiah di kisaran Rp17.900-18.000 dan frekuensi intervensi BI β kalau intervensi makin sering dan agresif, itu sinyal tekanan belum mereda.
Penutup
Yang terjadi di Bab al-Mandab terasa jauh, tapi mekanismenya sangat dekat: setiap kali kapal tanker membayar lebih untuk asuransi perang, setiap kali rupiah melemah seperseratus poin, dan setiap kali pemerintah menahan harga Pertamax demi ketenangan politik, ada angka yang sedang bergerak diam-diam di balik APBN β Rp6,8 triliun per dolar, Rp526 triliun total. Konflik ini mungkin berakhir dalam hitungan minggu atau berlarut setahun, tapi beban yang sudah terbentuk dari asumsi harga minyak yang meleset sejak awal tahun tidak akan hilang begitu saja. Sikap paling realistis bukan menunggu harga BBM atau rupiah kembali "normal", tapi menata ulang biaya dan kontrakmu seolah-olah level sekarang inilah yang baru.
Sumber
ABC News Australia β Houthi-Saudi-Yemen hostilities escalation report
The Hill β Houthi strikes on Saudi oil tankers in Red Sea
Al Jazeera β Houthis control key shipping route along Yemen's Red Sea coast; Yemen war escalates
NBC News β Houthis capture Yemen's Red Sea coastline on Bab al-Mandab Strait
CNBC β Oil prices today: Brent, WTI, Hormuz; Oil fell as traders weigh strong Mideast exports against Gulf tensions
Insurance Journal β Saudi oil export strategy hits new hurdle as Red Sea insurance costs soar
Kontan β BI catat defisit transaksi berjalan Indonesia melebar jadi US$12,5 miliar kuartal II
CNBC Indonesia β Bank Dunia proyeksi defisit transaksi berjalan Indonesia melebar; Defisit transaksi berjalan tembus US$12,5 M, ancaman besar buat rupiah
Antara News β Bank Indonesia boosts synergy as rupiah dips to Rp17.900 per USD
Suara.com β Rupiah berotot hingga akhir perdagangan ke level Rp17.882
Tempo β Harga minyak mentah ICP di RAPBN 2026 disepakati 70 dolar AS per barel
Kumparan β Harga minyak mentah di atas asumsi APBN 2026, subsidi berpotensi jebol Rp81 triliun
Bloomberg Technoz β Harga BBM Pertamax diproyeksi naik hingga 11% pada Oktober 2026
Monitorday β Ekonom senior INDEF nilai kenaikan harga minyak berpotensi picu inflasi dan gejolak sosial
Jakarta Globe β Indonesia hit by triple shock as oil tops $100, rupiah weakens, costs climb