Lewati ke konten
blabak.

Goldman Sachs: Obat Pelangsing Bisa Kerek PDB AS 1 Persen — Lalu Kenapa Indonesia Harus Peduli?

Goldman Sachs klaim obat GLP-1 bisa kerek PDB AS 1%. Di baliknya ada pasar $95 miliar, data obesitas RI yang membingungkan, dan Bali jadi destinasi beli murah.

Yusuf FS12 menit baca

Ringkasan Cepat

  • Goldman Sachs memperkirakan PDB (produk domestik bruto) AS bisa tumbuh ekstra 1 persen jika 60 juta warga Amerika memakai obat pelangsing berbasis GLP-1 (Ozempic, Wegovy, Zepbound, Mounjaro) pada 2028 — logikanya, obesitas menggerus produktivitas individu lebih dari 3 persen, dan dengan prevalensi obesitas AS di atas 40 persen, itu setara hilangnya lebih dari 1 persen output nasional.

  • Industri ini sudah bergerak lebih cepat dari jadwal: pil oral Wegovy yang baru rilis Januari 2026 langsung melampaui ekspektasi analis, sementara pendapatan Zepbound dan Mounjaro milik Eli Lilly melonjak 48 persen di kuartal II 2026 menjadi sekitar US$23 miliar dalam tiga bulan saja.

  • Tapi Goldman Sachs sendiri baru memangkas proyeksi ukuran pasar obat ini dari US$130 miliar menjadi US$95 miliar pada 2030 — dan riset independen lain menemukan GLP-1 memang menurunkan absen sakit, tapi belum terbukti menaikkan partisipasi kerja dalam empat tahun pengamatan.

  • Di Indonesia, prevalensi obesitas dewasa versi Kemenkes sudah 23,4 persen (2023) — tapi harga obatnya Rp2,3 juta sampai Rp6 juta per bulan, nyaris menghabiskan sebulan penuh gaji minimum Jakarta, dan BPJS Kesehatan belum menanggungnya sama sekali.

  • Ironisnya, alih-alih jadi korban pasar gelap seperti yang marak di Brasil, Bali justru berkembang jadi destinasi "wisata obat pelangsing" bagi turis asing yang memburu harga lebih murah — menunjukkan siapa yang sebenarnya paling diuntungkan dari ekonomi obat ini.

Klaim yang Bikin Wall Street Berhenti Sejenak

Jan Hatzius, kepala ekonom Goldman Sachs, bukan tipe yang gampang melempar angka sembarangan. Jadi ketika dia bilang obat pelangsing bisa jadi salah satu pendorong pertumbuhan ekonomi AS, pasar memperhatikan.

Logikanya sederhana tapi berani: kesehatan buruk membuat orang keluar dari angkatan kerja, kerja lebih sedikit jam, atau produktif lebih rendah saat bekerja. Obesitas, menurut hitungan Goldman, menggerus produktivitas tiap individu lebih dari 3 persen. Kalikan dengan fakta bahwa lebih dari 40 persen orang dewasa AS tergolong obesitas, hasilnya: ekonomi Amerika kehilangan lebih dari 1 persen output nasionalnya hanya karena satu kondisi kesehatan ini.

Kalau logika itu dibalik — obesitas turun karena cukup banyak orang rutin minum obat GLP-1 — maka output yang hilang itu bisa kembali. Goldman memproyeksikan skenario di mana 60 juta warga AS memakai obat ini pada 2028 (dari rentang estimasi 10–70 juta pengguna), PDB AS bisa tumbuh ekstra 1 persen. Bahkan skenario lebih konservatif, 35 juta pengguna, menurut Goldman tetap cukup mendorong produktivitas untuk menambah 0,4 persen PDB.

Angka ini perlu konteks biar tidak kebablasan dibaca. Hatzius juga pernah menyebut PDB AS berpotensi lebih dari 10 persen lebih tinggi secara jangka panjang kalau masalah kesehatan sama sekali tidak membatasi pasokan tenaga kerja — itu angka ambisi jangka sangat panjang, bukan proyeksi tahun depan. Dan ada pula estimasi terpisah bahwa kombinasi inovasi kesehatan berbasis AI plus GLP-1 bisa mengangkat level PDB AS 1,3 persen, setara US$360 miliar per tahun, dengan rentang 0,6–3,2 persen — jadi angka "1 persen" yang viral itu satu dari beberapa skenario Goldman, bukan satu-satunya kesimpulan.

Catat baik-baik: ini semua proyeksi khusus Amerika Serikat, bukan dunia, bukan ASEAN. Soal kenapa itu penting akan terasa begitu kita bergeser ke Indonesia.

Dari Jarum ke Pil, dari Niche ke Mesin Makro

Lima tahun lalu, GLP-1 masih dikenal sebagai obat diabetes niche. Sekarang industri ini tumbuh lebih cepat dari jadwal siapa pun.

Novo Nordisk meluncurkan versi pil oral Wegovy di AS pada Januari 2026, dan hasilnya mengejutkan bahkan analis sendiri — penjualan kuartal pertama mencapai 2,26 miliar kroner Denmark, jauh di atas estimasi 1,16 miliar kroner. Sampai paruh pertama 2026, penjualan pil Wegovy sudah tembus 5,4 miliar kroner, dan Wegovy kini menguasai 65 persen dari seluruh resep baru obat pelangsing di AS.

Eli Lilly, pesaing utamanya, tidak kalah agresif. Unit kardiometabolik mereka yang menaungi Zepbound dan Mounjaro membukukan hampir US$40 miliar pendapatan sepanjang 2025. Di kuartal II 2026, pendapatan unit ini melonjak 48 persen jadi sekitar US$23 miliar dalam satu kuartal saja, dengan Mounjaro dan Zepbound masing-masing tumbuh 125 persen dan 80 persen dibanding periode sama tahun lalu. Ini bukan lagi obat niche — ini sudah jadi salah satu lini bisnis terbesar di industri farmasi global, dengan pasar GLP-1 secara keseluruhan diperkirakan mencapai US$82 miliar tahun ini dan diproyeksikan tembus US$185 miliar pada 2033.

Tapi di sinilah bagian yang jarang dikutip media: Goldman Sachs sendiri — bank yang sama yang bikin klaim 1 persen PDB — baru saja memangkas proyeksi ukuran pasar obat ini dari US$130 miliar menjadi US$95 miliar pada 2030. Alasannya bukan karena obatnya tidak laku, justru sebaliknya: harga per unit turun lebih cepat dari dugaan karena persaingan dan tekanan asuransi, sementara pasar di luar AS tumbuh lewat pil murah, bukan suntikan mahal. Proyeksi pasar AS sendiri dipangkas dari US$95 miliar ke US$70 miliar, sementara proyeksi di luar AS justru dinaikkan dari US$35 miliar ke US$50 miliar.

Ada juga peringatan biaya dari arah lain. Ekonom MIT Jonathan Gruber menghitung, kalau 40 persen orang obesitas di AS memakai obat ini dengan harga sekarang — sekitar US$15.000 per orang per tahun — tagihannya bisa lebih dari US$1 triliun per tahun, hampir menyamai seluruh anggaran program Medicare. Dan riset dari CEPR (Centre for Economic Policy Research) menemukan sesuatu yang mengganjal narasi produktivitas Goldman: GLP-1 memang terbukti menurunkan hari sakit secara signifikan, tapi dalam pengamatan empat tahun, tidak ditemukan efek berarti pada partisipasi kerja, keputusan tetap bekerja, atau total pendapatan. Artinya klaim besar soal produktivitas itu masih bergantung pada satu variabel yang belum ada datanya: apakah orang akan terus minum obat ini bertahun-tahun, atau berhenti begitu efek sampingnya terasa atau harganya naik.

Dari Wall Street ke Jakarta: Kenapa Indonesia Jadi Incaran

Novo Nordisk dan Eli Lilly tahu betul paten obat andalan mereka mulai habis masa perlindungannya di awal 2030-an. Begitu itu terjadi, versi generik akan membanjiri pasar dan margin mereka di AS dan Eropa akan tergerus. Jadi strategi jangka panjangnya jelas: cari pasar baru dengan populasi besar dan tren obesitas yang masih naik — dan Indonesia masuk daftar itu.

Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 milik Kemenkes mencatat prevalensi obesitas orang dewasa (18 tahun ke atas) naik dari 21,8 persen pada 2018 menjadi 23,4 persen pada 2023 — lebih dari satu dari lima orang dewasa Indonesia. Angkanya timpang gender: 31,2 persen pada perempuan, 15,7 persen pada laki-laki. Dan kelompok dengan prevalensi tertinggi bukan masyarakat umum, melainkan PNS, TNI, Polri, dan pegawai BUMN, di angka 32 persen — kemungkinan karena pola kerja duduk lama dan akses ke makanan kantin yang kurang sehat.

Tapi ada kejanggalan yang perlu diluruskan di sini juga, bukan di paragraf lain: data internasional dari NCD-RisC dan World Obesity Federation justru menempatkan Indonesia hanya di angka 11,52 persen pada 2022 — bahkan masuk delapan negara dengan obesitas terendah secara global. Dua angka ini sama-sama benar, bedanya cuma standar ukur. Kemenkes memakai ambang indeks massa tubuh (IMT) 27 ke atas untuk kategori obesitas, sementara standar internasional memakai ambang 30 ke atas; kelompok usia yang disurvei pun beda (18+ versus 20+). Orang dengan IMT 27–30 masuk hitungan "obesitas" di data nasional, tapi dianggap sekadar "kelebihan berat badan" di standar global.

Dampaknya ke cerita ini konkret: secara radar pemetaan pasar global, Indonesia terlihat "aman" dan bukan prioritas. Tapi secara domestik, basis pasien potensial jauh lebih besar dari yang tampak di laporan internasional manapun yang dipakai analis farmasi global untuk menyusun strategi ekspansi. Ini pasar yang belum sepenuhnya terpetakan — dan itu justru yang biasanya menarik perhatian raksasa farmasi lebih awal, sebelum pesaing masuk.

Secara regulasi, BPOM sudah membuka jalan. Wegovy terdaftar resmi khusus untuk manajemen berat badan/obesitas. Mounjaro (tirzepatide) juga sudah mendapat persetujuan BPOM. Ozempic agak beda nasib: izin edarnya hanya untuk diabetes tipe 2, sehingga pemakaiannya untuk diet tanpa indikasi diabetes tergolong off-label — dipakai di luar izin resmi, meski praktiknya sudah jamak terjadi lewat resep dokter. Novo Nordisk Indonesia pun sudah bergerak membangun fondasi pasar lebih dulu, lewat kampanye kerja sama dengan UNICEF soal pencegahan obesitas anak dan upaya mengubah stigma seputar obesitas — pola klasik perusahaan farmasi membuka jalan penerimaan sosial sebelum penjualan besar-besaran dimulai.

Harga, BPJS, dan Siapa yang Benar-Benar Sanggup Beli

Di sinilah logika makro Goldman bertabrakan dengan realita mikro Indonesia.

Harga obat ini di pasar Indonesia berkisar Rp2,3 juta sampai Rp3,7 juta per pen untuk Wegovy, Rp2,6 juta sampai Rp6 juta per bulan untuk Ozempic (setara Rp31–37 juta per tahun), dan Rp3,5 juta sampai Rp6 juta per bulan untuk Mounjaro tergantung dosis. Bandingkan dengan Upah Minimum Provinsi (UMP) DKI Jakarta 2026 yang baru naik jadi Rp5.729.876 per bulan — salah satu UMP tertinggi di Indonesia. Artinya, satu bulan dosis obat pelangsing ini saja bisa menghabiskan 40 persen sampai lebih dari seluruh gaji minimum pekerja Jakarta, belum lagi di provinsi lain yang UMP-nya jauh di bawah itu.

BPJS Kesehatan sampai sekarang belum menanggung obat-obatan GLP-1 ini, dengan alasan belum lolos uji efektivitas biaya (Health Technology Assessment atau HTA) dibanding alternatif yang jauh lebih murah seperti metformin. Jadi untuk saat ini, akses ke obat yang menurut Goldman bisa jadi mesin produktivitas nasional di AS, di Indonesia praktis hanya terjangkau kelas menengah atas yang bisa bayar sendiri atau punya asuransi swasta premium.

Ini kebalikan tepat dari cerita makro Amerika. Di AS, pertanyaannya adalah seberapa cepat harga turun dan asuransi memperluas cakupan supaya efek produktivitas benar-benar terasa di skala puluhan juta orang. Di Indonesia, pertanyaannya lebih mendasar: siapa yang mampu beli duluan, dan apakah manfaat kesehatannya akan pernah menetes ke kelompok dengan prevalensi obesitas tertinggi — yang justru pekerja kantoran kelas menengah dengan gaji pas-pasan, bukan kelompok elite yang sudah lebih dulu punya akses ke gym dan ahli gizi pribadi.

Pasar Gelap vs Wisata Obat: Dua Wajah Arbitrase Harga

Ketika harga obat sama bisa berbeda jauh antarnegara, pasti ada yang mencari celah — dan polanya sudah terlihat di luar Indonesia.

Di perbatasan Brasil-Paraguay, obat GLP-1 jadi barang selundupan primadona baru. Otoritas Brasil mencatat 76.000 unit disita sepanjang paruh pertama 2026 saja — hampir tiga kali lipat total sitaan sepanjang 2025. Bandar yang sebelumnya menyelundupkan rokok beralih ke obat ini karena alasan sederhana: ukurannya kecil, gampang disembunyikan di sol sepatu atau botol sampo, tapi nilai jualnya tinggi karena selisih harga antarnegara. Risikonya nyata — obat ini butuh penyimpanan suhu terkontrol, dan produk palsu di jalur gelap bisa mengandung zat berbahaya yang tidak diketahui penggunanya.

Indonesia belum menunjukkan pola penyelundupan sebesar itu. Tapi muncul fenomena yang justru arahnya terbalik: Bali berkembang jadi destinasi "wisata obat pelangsing". Klinik-klinik di Denpasar, Kuta, Seminyak, Nusa Dua, hingga Canggu menawarkan Ozempic, Wegovy, dan Mounjaro kepada turis asing yang mencari harga lebih murah dan akses lebih mudah dibanding negara asal mereka, yang sering kali punya antrean panjang atau harga jauh lebih mahal. Secara bisnis ini legal selama lewat resep dokter dan klinik berizin. Tapi risikonya tetap ada: wisatawan yang datang-pergi dalam hitungan hari sulit mendapat pengawasan dosis dan tindak lanjut medis jangka panjang yang semestinya menyertai obat sekuat ini.

Dua pola ini — pasar gelap di Amerika Latin dan wisata obat di Bali — sebenarnya cerita yang sama: ketika harga sebuah obat berbeda drastis antarnegara, uang dan orang akan mengalir ke celah harga itu, legal atau tidak. Variabel yang menentukan siapa untung dari ekonomi obat pelangsing global bukan cuma soal berapa persen PDB AS naik, tapi soal di negara mana harganya paling murah dan pengawasannya paling longgar.

Apa Artinya Buat Kamu

Kalau kamu masih karyawan dan ingin mulai usaha

Jangan tergoda jadi "reseller" titip beli obat ini dari luar negeri atau jalur tanpa resep — ini bukan skincare atau suplemen biasa. Obat seperti Mounjaro dan Ozempic butuh resep dokter spesialis dan penyimpanan dingin yang ketat; menjualnya lewat marketplace tanpa izin resmi berisiko pidana dan, seperti terbukti di Brasil, membuka pintu bagi produk palsu yang berbahaya.

Peluang yang lebih realistis ada di sekitarnya: layanan pendamping yang legal, seperti program nutrisi dan latihan kekuatan untuk pasien pasca-GLP-1 (obat ini sering menyebabkan kehilangan massa otot, bukan cuma lemak, sehingga butuh pendampingan fitness khusus), atau platform konsultasi obesitas berbasis telemedicine yang bekerja sama dengan dokter berizin. Tapi jujur saja: ini bukan bisnis sampingan modal kecil — butuh kerja sama resmi dengan tenaga medis dan pemahaman regulasi kesehatan yang ketat.

Kalau kamu sudah punya bisnis

Kalau bisnismu di sektor makanan dan minuman, ini sinyal yang layak dipantau meski belum mendesak. Di AS, penetrasi GLP-1 yang sudah masif mulai mengubah kebiasaan konsumsi — porsi lebih kecil, minuman manis turun, dan beberapa produsen makanan kemasan sudah mulai menyesuaikan ukuran porsi dan formulasi rendah kalori sebagai respons langsung. Di Indonesia, dampak ini kemungkinan besar masih jauh di depan — mengingat harga obat yang mahal dan BPJS belum menanggung — tapi tren global biasanya butuh waktu 3-5 tahun untuk merembet ke pasar negara berkembang, jadi ini saat yang tepat untuk mulai memantau, bukan panik.

Kalau bisnismu di apotek atau klinik kesehatan dan estetika, pastikan hanya menjual produk dengan status BPOM yang sah sesuai indikasinya — ingat, Ozempic resmi hanya untuk diabetes, bukan untuk diet, dan menjualnya khusus sebagai obat pelangsing berisiko hukum maupun reputasi.

Kalau kamu mempertimbangkan ikut tren obat ini

Hitung dulu angkanya dengan jujur: Rp2,3 juta sampai Rp6 juta per bulan bukan recehan, BPJS tidak menanggung, dan manfaat jangka panjangnya — menurut riset CEPR di negara lain — belum terbukti kuat kalau pemakaiannya tidak konsisten bertahun-tahun. Jangan beli lewat jalur tanpa resep atau klinik tak jelas asal-usulnya; risiko produk palsu itu nyata, bukan menakut-nakuti kosong.

Yang Perlu Dipantau

  • Laporan kuartal III 2026 Novo Nordisk dan Eli Lilly (biasanya terbit akhir Oktober–awal November) — lihat apakah tren pil oral murah terus menggerus dominasi suntikan mahal.

  • Perkembangan kajian Kemenkes soal pemasukan GLP-1 ke pedoman terapi obesitas nasional, dan kemungkinan proses Health Technology Assessment oleh BPJS Kesehatan.

  • Rilis data kesehatan nasional berikutnya dari Kemenkes untuk melihat apakah tren obesitas 23,4 persen masih naik atau mulai melandai.

  • Revisi lanjutan proyeksi pasar GLP-1 dari Goldman Sachs — mereka sudah memangkas sekali dari US$130 miliar ke US$95 miliar untuk 2030, dan ada kemungkinan direvisi lagi seiring data penjualan riil masuk.

  • Perkembangan razia obat ilegal GLP-1 di kawasan ASEAN, sebagai indikator dini apakah pola pasar gelap ala Brasil mulai merembet ke jalur perdagangan regional.

Penutup

Matematika Goldman Sachs mungkin benar di atas kertas: obesitas memang mahal, dan obat yang menguranginya memang bisa menggerakkan ekonomi sebesar negara. Tapi yang menentukan siapa benar-benar menikmati manfaat itu bukan kimia di dalam pen suntikan atau pil oralnya — melainkan siapa yang mampu membayar dan negara mana yang mengatur aksesnya dengan adil. Di Indonesia, jurang itu sudah kelihatan jelas sebelum obatnya sendiri sempat jadi arus utama: harga setinggi gaji minimum, BPJS yang masih diam, dan Bali yang justru melayani dompet turis asing lebih dulu ketimbang kantong pekerja lokal yang datanya sendiri menunjukkan satu dari lima orang dewasa membutuhkannya.

Sumber

  • Yahoo Finance — Weight-loss drugs could boost US GDP by 1% in coming years, Goldman says

  • Benzinga — Goldman Sachs Economist: Weight-Loss Drugs Could Be Key To US Economic Growth

  • CNBC — Novo Nordisk Q1 2026 earnings: Wegovy sales jump; Weight-loss wars go global as Novo Nordisk bets big on its Wegovy pill

  • BioPharma Dive — Novo hikes guidance on Wegovy pill's fast sales start; Lilly climbs, Novo falls as obesity drug battle intensifies

  • Goldman Sachs Insights — The anti-obesity drug market may prove smaller than expected

  • Grand View Research — GLP-1 Agonists Weight Loss Drugs Market Report 2025–2030

  • CEPR (VoxEU) — GLP-1 treatment reduces sickness absence

  • CNBC Indonesia — Obat Pelangsing Diburu di Pasar Gelap, Bandar Cuan Besar

  • Kemenkes/Antara News — Kemenkes: Kasus obesitas di Indonesia melonjak dalam 10 tahun terakhir

  • Detik Health — Indonesia Masuk 8 Negara dengan Obesitas Terendah, Data Kemenkes Kok Beda? Ini Faktanya

  • Kompas Money — Gaji UMR Jakarta 2026 Naik 6,17 Persen, UMP Jadi Rp5.729.876

  • NadiHealth — Harga Obat GLP-1 di Indonesia 2026 — Perbandingan Ozempic, Wegovy, Victoza, Trulicity

  • Inke Maris / Novo Nordisk Indonesia — Novo Nordisk Indonesia dorong peningkatan pemahaman obesitas untuk mengubah stigma