Inflasi Inti Naik ke 2,92%, Pemerintah Malah Turunkan Harga BBM Nonsubsidi & Fuel Surcharge
Inflasi inti naik ke 2,92% dipicu emas & minyak goreng, tapi relief Pertamax dan fuel surcharge sudah dibalik pasar hanya sebulan kemudian.
Daftar isi9 bagian
Ringkasan Cepat
Inflasi inti Indonesia naik ke 2,92% pada Agustus 2026 (dibanding periode sama tahun lalu), dari 2,76% di Juli — didorong harga emas perhiasan yang melonjak 38,9% dan minyak goreng yang naik 7,6%, bukan oleh bahan bakar.
Persis di hari data itu dirilis, 1 September 2026, harga Pertamax Turbo dan sejenisnya justru naik lagi, dan batas atas fuel surcharge tiket pesawat domestik dinaikkan dari 30% ke 40% — padahal baru sebulan sebelumnya keduanya dipangkas sebagai "relief".
Ironinya bersifat teknis: inflasi inti dan harga BBM ada di keranjang statistik yang berbeda. Memangkas Pertamax menurunkan komponen "harga yang diatur pemerintah", tapi secara definisi tidak menyentuh inflasi inti sama sekali.
Menurut riset INDEF, dampak Pertamax lebih terasa ke daya beli ketimbang ke angka inflasi, karena bobotnya kecil di keranjang belanja dan penggunanya mayoritas pemilik kendaraan pribadi kelas menengah-atas.
Sementara itu indeks daya beli kelas menengah-bawah terus memburuk dan Menteri Keuangan sudah menegaskan tidak ada stimulus khusus untuk kelas menengah.
Dua Kabar yang Turun Bareng, Padahal Tidak Nyambung
1 September 2026, Badan Pusat Statistik mengumumkan inflasi umum Agustus tembus 3,19% dibanding Agustus tahun lalu, naik dari 2,88% di Juli. Di dalamnya ada inflasi inti yang naik ke 2,92%, level tertinggi sejak awal tahun. Di hari yang sama, secara kebetulan yang terasa ironis, Pertamina menaikkan lagi harga Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex, sementara Kementerian Perhubungan menaikkan batas maksimal fuel surcharge (biaya tambahan bahan bakar yang dibebankan ke tiket pesawat ekonomi domestik, dihitung dari persentase tarif batas atas) dari 30% menjadi 40%.
Yang membuat ini terasa aneh: baru sebulan sebelumnya, tepatnya 1 Agustus 2026, pemerintah menurunkan harga Pertamax reguler dari Rp16.250 ke Rp15.950 per liter dan memangkas fuel surcharge dari 50% ke 30% — langkah yang saat itu digembar-gemborkan sebagai bantalan buat daya beli masyarakat. Jadi dalam rentang sebulan, cerita kebijakannya berbalik total: dari "kami meringankan" jadi "harga naik lagi", tepat ketika data resmi mengonfirmasi tekanan harga sedang memburuk.
Pertanyaannya bukan cuma "kenapa pemerintah menurunkan harga BBM saat inflasi naik" — pertanyaan yang lebih tajam adalah kenapa penurunan itu tidak pernah benar-benar menahan laju inflasi inti, dan siapa yang sebenarnya menikmati manfaat dari kebijakan yang umurnya cuma sebulan itu.
Kenapa Inflasi Inti Naik Itu Bukan Salah Bensin
Inflasi inti mengukur harga barang dan jasa yang pergerakannya ditentukan permintaan dan penawaran jangka panjang — bukan oleh gejolak musiman (harga pangan yang naik-turun karena panen atau cuaca) atau oleh keputusan harga yang diatur pemerintah (BBM, listrik, tarif angkutan). Dua kelompok terakhir ini punya nama sendiri dalam statistik BPS: "harga bergejolak" dan "harga yang diatur pemerintah". Dan di sinilah letak kuncinya: harga BBM ada di kelompok kedua, bukan di inflasi inti.
Buktinya ada di data yang sama. Komponen harga yang diatur pemerintah pada Agustus 2026 justru turun ke 3,32% dari 3,58% di Juli — persis mencerminkan efek penurunan harga BBM di Agustus. Tapi inflasi inti, yang mengukur hal yang sama sekali berbeda, tetap naik ke 2,92%. Dua data yang tampak berlawanan ini sebenarnya konsisten — cuma mengukur dua hal yang tidak saling memengaruhi secara langsung. Memangkas Pertamax berhasil menahan inflasi harga-diatur-pemerintah, tapi secara desain tidak akan pernah menurunkan inflasi inti.
Lalu apa yang benar-benar mendorong inflasi inti naik? Emas perhiasan naik 38,9% dibanding tahun lalu — lebih dari 13 kali lipat laju inflasi inti itu sendiri — karena harga emas dunia yang sepanjang 2026 berkali-kali cetak rekor, sempat menembus US$5.589 per ons di awal tahun, didorong investor global yang lari ke aset aman di tengah rentetan ketegangan geopolitik: dari invasi AS ke Venezuela, ambisi mengambil alih Greenland, sampai memburuknya hubungan dengan Brasil, Kolombia, dan Spanyol. Minyak goreng naik 7,6%, sebagian besar gara-gara kebijakan dalam negeri sendiri: pemerintah tengah menaikkan mandat campuran biodiesel dari B40 ke B50, yang butuh tambahan sekitar 4 juta ton minyak sawit mentah per tahun — pasokan yang sama yang juga dipakai untuk minyak goreng. Jadi ironi yang lebih dalam justru ini: tangan pemerintah yang menaikkan mandat biodiesel ikut mengerek harga minyak goreng, sementara tangan yang lain memotong harga Pertamax — dua kebijakan berjalan berlawanan arah, di kementerian yang berbeda.
Relief yang Umurnya Sebulan
Kisah Pertamax sendiri sebenarnya berawal dari guncangan, bukan kemurahan hati. Pada 10 Juni 2026, harga Pertamax reguler melonjak dari Rp12.300 ke Rp16.250 per liter — kenaikan 32% dalam sekali penyesuaian, yang menurut ekonom INDEF Abra Talattov langsung memaksa rumah tangga kelas menengah menekan pos belanja lain demi menutup biaya mobilitas. Tekanan publik itulah yang mendorong pemerintah menggulirkan delapan kebijakan stimulus senilai Rp26,34 triliun untuk semester II 2026, dan yang membuat Kemenhub serta Pertamina ikut melonggarkan harga BBM nonsubsidi dan fuel surcharge begitu ada ruang di formula harga mereka.
Ruang itu sempat terbuka karena harga avtur — bahan bakar pesawat — turun tajam dari Rp29.116 per liter pada Mei ke Rp21.892 per liter pada awal Agustus. Dari situlah fuel surcharge bisa dipangkas ke 30%, dan Pertamax Turbo ikut turun bertahap dari Rp20.750 di Juni ke sekitar Rp18.300 di Agustus. Tapi ruang itu tertutup secepat ia terbuka: memasuki September, harga avtur nasional melompat 6,5% jadi Rp23.315 per liter, dipicu serangan terhadap kapal tanker di Selat Hormuz di tengah eskalasi ketegangan Amerika Serikat dan Iran — jalur yang dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak dunia. Harga minyak mentah Brent sempat menyentuh US$107,63 per barel pada 11 September, level tertinggi dalam beberapa pekan terakhir. Fuel surcharge pun langsung dinaikkan lagi ke 40%, dan Pertamax Turbo kembali ke Rp19.600.
Jadi relief yang tadinya dibingkai sebagai kebijakan untuk meringankan rakyat, sebenarnya cuma mengikuti fluktuasi harga komoditas global yang tidak dikendalikan Jakarta. Ia turun ketika pasar sedang baik, dan naik lagi begitu pasar berbalik — bukan hasil keputusan politik yang berkomitmen menjaga harga tetap murah. Kebetulan yang lebih besar: harga emas yang mengerek inflasi inti, dan harga minyak yang membalikkan relief BBM, sama-sama lahir dari tahun yang penuh gejolak geopolitik global — hanya lewat jalur yang berbeda.
Siapa yang Benar-Benar Ketiban Untung
Di sinilah perdebatan ekonom terbelah. CORE Indonesia menilai penurunan harga Pertamax memberi sentimen positif bagi inflasi dan patut diapresiasi sebagai langkah pemerintah menjaga daya beli. Tapi INDEF punya catatan yang lebih tajam: dampak riil kebijakan ini kepada inflasi headline kecil, karena Pertamax hanya berbobot tipis di keranjang belanja Indeks Harga Konsumen, dan penggunanya mayoritas adalah pemilik kendaraan pribadi serta penumpang pesawat — kelompok kelas menengah-atas ke atas, bukan kelompok yang paling rentan.
Artinya, siapa yang paling merasakan manfaat penurunan Pertamax dan fuel surcharge adalah orang yang sudah punya mobil dan yang cukup sering naik pesawat. Kelompok yang justru paling tertekan sekarang — pekerja sektor padat karya yang kena PHK, keluarga yang menahan belanja gara-gara harga emas dan minyak goreng naik — sebagian besar tidak memakai Pertamax dan jarang terbang. Data lewat klaim Jaminan Kehilangan Pekerjaan (asuransi PHK) mencatat sekitar 43.000 pekerja terdampak PHK sejak awal 2026, terutama di tekstil, garmen, alas kaki, dan manufaktur — sektor padat karya yang selama ini jadi tulang punggung lapangan kerja formal. Angka riil di lapangan diperkirakan jauh lebih besar karena data ini hanya mencakup peserta program tersebut.
Riset Kantor Kepala Ekonom BRI untuk kuartal I 2026 memperjelas kesenjangannya: konsumsi kelas atas tumbuh 8,0% dibanding tahun lalu, sementara kelas menengah cuma 3,5% dan kelas bawah 3,6% — jauh di bawah rata-rata 4,5%-4,9% pada periode 2023-2025. Indeks daya beli kelas bawah pun anjlok ke -1,0 pada April 2026 (dari -0,6 setahun sebelumnya), kelas menengah ke -0,9 (dari -0,6), sementara kelas atas nyaris tak bergeming di -0,1. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, saat ditanya kenapa belum ada stimulus khusus kelas menengah, menjawab lugas: "Harusnya yang mampu kan nggak dikasih bantuan sosial, untuk membantu orang yang betul-betul kesulitan." Ia menambahkan kelas menengah tetap mendapat manfaat dari subsidi energi umum dan diproyeksikan membaik pada 2027.
Jawabannya jujur secara fiskal, tapi tidak menjawab pertanyaan orang yang gajinya stagnan sementara harga emas mahar pernikahan dan minyak goreng untuk usaha warung naik terus.
Apa Artinya Buat Kamu
Kalau kamu masih karyawan dan ingin mulai usaha
Jangan menghitung proyeksi biaya logistik atau perjalanan dinas berdasarkan harga BBM dan fuel surcharge hari ini — keduanya baru terbukti bisa berbalik arah dalam hitungan minggu begitu harga minyak dunia bergejolak. Kalau rencana usahamu bergantung pada bahan baku yang terkait emas (perhiasan, aksesori) atau minyak nabati (F&B, gorengan, katering), masukkan skenario harga naik 5-10% ke perhitungan modal awal, bukan skenario harga tetap murah. Dan sebelum resign, ingat gelombang PHK sedang menghantam sektor padat karya — punya dana darurat minimal 6 bulan biaya hidup jauh lebih penting sekarang daripada buru-buru lompat penuh waktu.
Kalau kamu sudah punya bisnis
Kalau margin bisnismu terbantu oleh fuel surcharge atau Pertamax yang lebih murah bulan lalu, jangan kunci kontrak jangka panjang dengan asumsi itu bertahan — kenaikan ke 40% dan Rp19.600 per liter di awal September membuktikan jendela murah itu bisa menutup dalam sebulan. Untuk bahan baku yang mengandung minyak sawit atau berkaitan dengan harga emas dunia, pertimbangkan kontrak harga tetap dengan pemasok atau beli stok lebih awal selama harga masih relatif rendah. Pantau juga keputusan suku bunga acuan Bank Indonesia — kalau naik untuk mengantisipasi kebijakan bank sentral AS, biaya kredit modal kerja ikut naik, menambah tekanan di atas inflasi inti yang sudah mengerek harga bahan baku.
Kalau kamu cuma mau bertahan dan menjaga dompet bulan ini
Kalau kamu tidak punya mobil pribadi dan jarang naik pesawat, penurunan harga Pertamax dan fuel surcharge nyaris tidak menyentuhmu secara langsung — tapi kenaikan harga emas dan minyak goreng tetap memukul, apalagi kalau ada rencana pernikahan atau hajatan yang butuh emas sebagai mahar atau tabungan. Tunda pembelian emas untuk investasi jangka pendek selama harganya masih ikut arus gejolak global yang tidak bisa diprediksi. Kalau kamu bekerja di sektor padat karya seperti tekstil atau garmen, mulai bangun keahlian atau jaringan cadangan sekarang — jangan menunggu sampai PHK benar-benar datang ke mejamu.
Yang Perlu Dipantau
Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia 22-23 September 2026 — apakah BI-Rate ditahan di 5,75% atau naik lagi mengantisipasi kebijakan suku bunga The Fed.
Rilis data inflasi September 2026 oleh BPS, biasanya awal Oktober — kunci untuk melihat apakah inflasi inti terus naik atau mulai mereda seiring pergerakan harga emas.
Evaluasi bulanan fuel surcharge oleh Kementerian Perhubungan setiap awal bulan, mengikuti rata-rata harga avtur nasional periode sebelumnya.
Eskalasi ketegangan Amerika Serikat-Iran di Selat Hormuz — jika memburuk, harga minyak dan avtur berisiko naik lebih jauh dan membatalkan sisa relief BBM yang ada.
Data klaim Jaminan Kehilangan Pekerjaan bulan-bulan berikutnya, sebagai indikator apakah gelombang PHK di sektor padat karya mereda atau meluas.
Penutup
Penurunan harga Pertamax dan fuel surcharge itu nyata, tapi ia bukan kebijakan yang dirancang untuk melawan inflasi inti — ia cuma kebetulan ikut arus harga komoditas global yang naik-turun di luar kendali siapa pun di Jakarta. Yang membuatnya terasa seperti ironi bukan karena pemerintah salah langkah, tapi karena headline "harga BBM turun" dan "inflasi naik" dibaca seolah satu cerita, padahal keduanya mengukur dua dunia yang nyaris tidak bersinggungan. Kalau kamu mau tahu apakah dompetmu benar-benar lebih ringan, jangan tanya harga di pom bensin — tanya harga emas di toko perhiasan dan minyak goreng di warung, karena di sanalah inflasi yang sesungguhnya sedang bekerja.
Sumber
Dewan Ekonomi Nasional — Laporan Inflasi Bulan September 2026
Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian — Delapan Kebijakan Stimulus Q2 dan Semester II-2026
Badan Pusat Statistik — Rilis Inflasi Agustus 2026
CNBC Indonesia — Inflasi Inti Bergerak ke 2,92%: Terkerek Harga Emas, Laptop-Oli Mesin
CNBC Indonesia — Fuel Surcharge Dipangkas Jadi 30%, Harga Tiket Pesawat Bakal Turun
CNBC Indonesia — Fuel Surcharge Tiket Pesawat Naik Jadi 40% Efek Ledakan Harga Avtur
Tempo — Maksimal Fuel Surcharge Tiket Pesawat Turun Jadi 30 Persen
Tempo — Indef Nilai Kenaikan Harga Pertamax Pengaruhi Daya Beli
Antara News — CORE: Harga Pertamax Turun Beri Sentimen Positif bagi Inflasi
Antara News — Harga BBM Naik 1 September 2026, Pertamax Turbo Tembus Rp19.600
Viva — Daftar Harga BBM Pertamina Terbaru Juli 2026
Industry.co.id — Harga Minyak Mentah 11 September 2026: Brent Tembus US$107,63
Aktualita — Harga Avtur Naik 6,5 Persen Jadi Rp23.315 per Liter
Investor Trust — Ekonomi Indonesia Ditopang Kelas Atas, Daya Beli Menengah Bawah Kian Tertekan (mengutip Quarterly Economic Outlook OCE BRI)
Periskop.id — Menkeu Ungkap Alasan Belum Adanya Stimulus Khusus untuk Kelas Menengah
Tempo — Gelombang PHK Jadi Gambaran Nyata Tekanan Ekonomi
Kompas — Mengapa Harga Minyak Goreng Naik? Ini Penjelasan Pakar Ekonomi
Kompas — BI Rate Diproyeksi Tetap 5,75 Persen meski The Fed Naikkan Suku Bunga
Bank Indonesia — Target Inflasi 2,5%±1% 2026-2027