Mandiri Spending Index: Belanja Riil Cuma Tumbuh 1,4%, Kelas Bawah Paling Tertekan
Belanja riil masyarakat RI cuma tumbuh 1,4% di September, restoran melambat tajam sementara mobilitas & supermarket masih kuat. Ini artinya buat bisnismu.
Daftar isi10 bagian
Ringkasan Cepat
Mandiri Spending Index (indeks belanja masyarakat yang dirilis Bank Mandiri Institute) mencatat belanja masyarakat September 2026 tumbuh 5,5% dibanding periode sama tahun lalu (YoY) secara nominal — tapi setelah disesuaikan dengan kenaikan harga-harga yang mereka beli, pertumbuhan riilnya cuma 1,4%, melambat dari 1,8% pada Agustus.
Pola belanja makin selektif: belanja mobilitas (transportasi, bensin, otomotif) tumbuh 6,6% dan supermarket 4,5%, tapi belanja restoran melambat tajam dari 6,1% tahun lalu jadi cuma 4,7% — orang masih harus bergerak dan masih harus makan di rumah, tapi mulai menahan diri untuk makan di luar.
Indeks tabungan kelompok bawah ala Mandiri Institute jatuh ke level terendah sejak Januari 2024, sementara porsi pendapatan yang berhasil ditabung merosot dari 18,2% (April) ke 15,4% (September) — tabungan sedang dikeringkan untuk menutup kebutuhan harian.
Di permukaan, data makro masih terlihat hijau: ekonomi tumbuh 5,29% pada kuartal II-2026 dan konsumsi rumah tangga tumbuh 5,06%. Tapi di bawahnya, 63.789 pekerja kena PHK sepanjang Januari–September 2026 dan inflasi pangan tembus 5,03%, jauh di atas inflasi umum 3,28%.
Pemerintah menyatakan daya beli tidak melemah, tapi data lapangan — penjualan mobil yang anjlok, meningkatnya pinjaman daring dan gadai untuk bertahan hidup — berbicara sebaliknya.
Angka Resmi vs Angka yang Sebenarnya Dirasakan
Kalau kamu cuma baca judul berita, ekonomi Indonesia kedengarannya baik-baik saja. Mandiri Institute melaporkan belanja masyarakat September 2026 masih tumbuh 5,5% YoY secara nominal. Angka itu memang melambat dari 6,5% pada Agustus, tapi tetap positif — dan laju positif biasanya dibaca sebagai sinyal aman.
Masalahnya, angka nominal itu belum dikurangi dengan kenaikan harga barang yang sebenarnya dibeli orang. Setelah disesuaikan dengan inflasi riil konsumsi, pertumbuhan belanja September cuma 1,4% — hampir stagnan, dan lebih lambat dari 1,8% pada Agustus. Dalam bahasa sederhana: orang memang membelanjakan lebih banyak rupiah dibanding tahun lalu, tapi uang ekstra itu sebagian besar habis dimakan kenaikan harga, bukan dipakai untuk membeli lebih banyak barang atau jasa.
Ini bukan penurunan satu bulan yang kebetulan. Mandiri Institute mencatat indeks belanja mingguan sudah terkoreksi empat pekan berturut-turut sampai akhir September, dengan indeks di pekan keempat September berada di level 122,9 — turun 0,35% dibanding pekan sebelumnya. Artinya pelambatan ini sudah jadi tren, bukan noise.
Yang Masih Dibeli, dan Yang Mulai Ditunda
Bagian paling informatif dari laporan ini bukan angka totalnya, tapi bagaimana angka itu terpecah per kategori. Dan di sinilah polanya jadi jelas: orang Indonesia tidak berhenti belanja, mereka cuma makin pilih-pilih soal belanja apa.
Kategori yang berhubungan dengan "harus" — kebutuhan yang tidak bisa ditunda — justru tumbuh kencang. Belanja mobilitas (transportasi, bensin, kendaraan) naik 6,6% YoY, jauh di atas 2,6% pada periode yang sama tahun lalu. Belanja bensin naik 7,1%, belanja otomotif 6,3%. Belanja supermarket naik 4,5%, berbalik dari kontraksi -0,6% setahun lalu — porsinya dari total belanja pun naik dari 16,3% jadi 17,4%. Orang tetap harus ke kantor, anak tetap harus sekolah, dapur tetap harus masak — ini bukan pilihan, ini kewajiban.
Yang melambat justru kategori yang sifatnya "boleh ditunda". Belanja restoran — biasanya salah satu kategori dengan pertumbuhan tercepat di antara semua yang dipantau Mandiri Institute — melambat dari 6,1% jadi 4,7% YoY, meski porsinya dari total belanja masih naik tipis dari 19,0% jadi 19,6% karena harga makanan di luar ikut naik. Belanja leisure/rekreasi dan tiket pesawat sama-sama stagnan, padahal tahun lalu keduanya masih tumbuh 3,7% dan 0,5%. Fashion cuma naik 3,1%. Ketua Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) bahkan secara terbuka menyebut sektor fashion akan terus tertekan karena konsumen "tidak ada kebutuhan mendesak" untuk membeli baju baru.
Pola ini konsisten dengan temuan survei CEO (Indonesia CEO Confidence Index, ICCI) edisi Oktober 2026: para bos perusahaan menilai daya beli mulai membaik, tapi konsumen kini jauh lebih selektif dan mencari produk dengan harga per unit lebih murah. Survei yang sama mencatat 81% masyarakat pada Agustus 2026 mengaku cemas dengan kenaikan harga kebutuhan pokok. Konsumen tidak kabur dari pasar — mereka cuma mengubah urutan prioritas belanjanya.
Tabungan Kelas Bawah Mengering Duluan
Kalau breakdown kategori menunjukkan "apa" yang diubah masyarakat, Mandiri Saving Index menunjukkan "dari mana" uang penyesuaian itu berasal — dan jawabannya mengkhawatirkan.
Indeks tabungan kelompok berpendapatan bawah versi Mandiri Institute berada di kisaran level terendah sejak Januari 2024, turun dari 73,3 pada September 2025 dan 83,2 pada September 2024. Bandingkan dengan kelompok menengah yang indeksnya relatif stabil di 100,1, dan kelompok atas yang justru naik ke 94,4. Tekanannya tidak merata — makin ke bawah lapisan ekonomi, makin dalam lukanya.
Lebih mengkhawatirkan lagi: porsi pendapatan yang berhasil disisihkan untuk ditabung turun dari 18,2% pada April jadi hanya 15,4% pada September — level terendah sepanjang Januari–September 2026. Sebaliknya, porsi pendapatan yang langsung habis untuk konsumsi naik dari 74,2% jadi 74,9%. Ini bukan tanda orang jadi lebih konsumtif karena percaya diri secara finansial. Ini tanda uang masuk makin sedikit menyisakan ruang untuk ditabung, karena hampir semuanya terserap untuk bertahan hidup hari ini.
Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira, menyebut fenomena ini dengan lugas: untuk bertahan hidup, masyarakat kini mengandalkan utang jangka pendek. Transaksi gadai dan pinjaman daring (pinjol) melonjak tajam, sementara kredit pemilikan rumah (KPR) — biasanya indikator keyakinan finansial jangka panjang — justru melambat. Menariknya, porsi pendapatan yang dipakai untuk membayar cicilan dalam data Mandiri Institute malah sedikit turun, dari 10,0% jadi 9,7% — bukan karena utang berkurang, tapi kemungkinan karena akses kredit formal (kartu kredit, KTA) mengetat duluan, mendorong orang ke jalur informal yang lebih mahal dan lebih berisiko seperti pinjol dan gadai.
Mengapa PDB Masih Hijau Padahal Dompet Menipis
Pertanyaan wajar yang muncul: kalau daya beli melemah separah ini, kenapa data pertumbuhan ekonomi Indonesia masih terlihat baik? Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi tumbuh 5,29% pada kuartal II-2026, dengan konsumsi rumah tangga tumbuh 5,06% dan menyumbang 53,32% dari total PDB. Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, bahkan menyebut ini mencerminkan daya beli yang "secara umum masih terjaga."
Jawabannya ada pada siapa yang menopang rata-rata itu. Data makro agregat menggabungkan semua kelompok ekonomi jadi satu angka — dan kelompok atas yang porsi belanjanya jauh lebih besar per orang, cukup kuat untuk menutupi pelemahan di kelompok bawah yang jumlahnya lebih banyak tapi nilai belanja per kepala lebih kecil. Belanja pemerintah dan investasi juga ikut menopang pertumbuhan, bukan cuma konsumsi rumah tangga organik. Jadi angka 5,29% itu benar, tapi dia menyembunyikan jurang di dalamnya — ini persis kenapa breakdown Mandiri Spending Index penting: dia membuka jurang yang angka agregat PDB cenderung menutup.
Di sisi tenaga kerja, tekanannya nyata. Kementerian Ketenagakerjaan mencatat 63.789 pekerja terkena PHK sepanjang Januari–September 2026 berdasarkan data klaim Jaminan Kehilangan Pekerjaan (JKP), naik dari 53.490 pada posisi Agustus. Jawa Barat menyumbang PHK terbanyak dengan 13.044 orang, diikuti Banten (7.733), Jawa Timur (6.154), Jawa Tengah (5.585), dan DKI Jakarta (4.587) — lima provinsi dengan basis industri manufaktur dan padat karya terbesar di negeri ini.
Sementara itu, meski upah minimum provinsi (UMP) 2026 dinaikkan rata-rata 6-7%, kenaikan itu kalah cepat dari inflasi pangan yang tembus 5,03% — jauh di atas inflasi umum 3,28%. Harga beras naik 6,04% YoY di tingkat penggilingan, menembus Rp15.769 per kg di eceran, didorong penurunan produksi gabah kering panen. Untuk kelompok bawah yang porsi pengeluarannya paling besar justru untuk pangan, kenaikan harga beras dan cabai terasa jauh lebih berat dibanding yang tercermin di angka inflasi nasional.
Klaim "Daya Beli Aman" dan Kenapa Datanya Bertentangan
Pemerintah punya versi cerita yang berbeda. Wakil Menteri Koordinator Perekonomian, Dradjad Hari Wibowo, menyatakan daya beli tidak melemah dan memproyeksikan laba emiten sektor konsumen akan naik hampir 6% pada kuartal III-2026 — meski dia tidak menjelaskan apakah kenaikan itu dibandingkan tahunan atau bulanan, sebuah detail yang sebenarnya penting untuk menilai apakah klaimnya kuat. Penjualan sepeda motor pada September 2026 juga mencetak rekor tertinggi tahun ini dengan 654.343 unit — angka yang sering dipakai sebagai bukti daya beli baik-baik saja.
Tapi data lain bercerita sebaliknya, dan keduanya sebenarnya bisa benar sekaligus kalau dibaca dengan tepat: penjualan motor memang rekor, tapi itu justru konsisten dengan narasi downgrade — orang beralih dari mobil ke motor karena lebih murah. Penjualan mobil sepanjang Januari–September 2026 cuma 679.020 unit, jauh di bawah 1.005.802 unit yang tercatat tahun 2023, membuat target penjualan tahun ini direvisi turun ke 850.000 unit. Jadi "rekor penjualan motor" dan "daya beli melemah" bukan kontradiksi — itu dua sisi dari fenomena yang sama: masyarakat kelas menengah-bawah menurunkan kelas pembelian mereka, bukan berhenti membeli.
Bhima Yudhistira dari Celios menilai komunikasi defensif pemerintah justru berisiko memperburuk krisis kepercayaan, karena pasar dan masyarakat membaca ketidakcocokan antara klaim pejabat dan kondisi riil sebagai tanda tidak ada mitigasi kebijakan konkret. Menurutnya tekanan terberat dialami kelompok menengah-bawah, didorong kombinasi minimnya lapangan kerja formal baru, inflasi pangan yang fluktuatif, dan hilangnya diskon tarif listrik yang sempat jadi bagian stimulus kuartal I-2026.
Apa Artinya Buat Kamu
Kalau kamu masih karyawan dan ingin mulai usaha
Hindari membuka usaha F&B kelas menengah ke atas (kafe konsep, restoran dengan harga per porsi di atas rata-rata) dalam 2-3 bulan ke depan — ini kategori yang paling jelas melambat, dan konsumen sedang menunda belanja di kategori "boleh ditunda". Kalau kamu tertarik di F&B, segmen yang lebih aman justru warung makan harga terjangkau atau katering kantor/sekolah dengan margin kecil tapi volume stabil, karena orang tetap harus makan — mereka cuma menggeser dari restoran ke rumah atau warung.
Pertimbangkan sektor yang datanya justru tumbuh: jasa yang menempel ke mobilitas (bengkel motor, jual spare part, jasa antar-jemput, isi ulang bensin/charging kendaraan listrik) atau ritel kebutuhan harian ala minimarket/sembako. Tapi jangan masuk dengan modal besar dan utang — kalau kamu baru mulai sambil masih jadi karyawan, mulai kecil, uji pasar dulu, dan jangan berharap pertumbuhan secepat dua tahun lalu.
Kalau kamu sudah punya bisnis
Kalau bisnismu di F&B atau ritel non-esensial (fashion, leisure), ini saatnya jujur ke diri sendiri soal pertumbuhan: jangan pasang target omzet berdasarkan tren tahun lalu. Pelambatan dari 6,1% ke 4,7% di restoran bukan fluktuasi sesaat — ini tren empat pekan berturut-turut. Pertimbangkan reformulasi menu dengan harga per porsi lebih terjangkau, bundling, atau porsi lebih kecil dengan harga lebih rendah, mengikuti pola "downgrade" yang sudah terjadi di kategori lain seperti otomotif.
Kalau bisnismu di kategori yang masih tumbuh (sembako, mobilitas, kebutuhan pokok), ini momentum untuk ekspansi hati-hati — tapi perhatikan cashflow pelangganmu. Data menunjukkan masyarakat makin mengandalkan pinjol dan gadai untuk belanja harian, jadi kalau kamu menjual secara kredit atau cicilan (termasuk lewat paylater — fasilitas "beli sekarang bayar nanti"), risiko kredit macet ikut naik. Perketat verifikasi kemampuan bayar, jangan cuma kejar volume penjualan.
Kalau kamu bagian dari masyarakat umum yang terdampak
Kalau kamu merasa gaji makin terasa kecil belakangan ini, data ini mengonfirmasi itu bukan perasaanmu saja — upah minimum naik di atas kertas, tapi kenaikan itu kalah cepat dari inflasi pangan. Prioritaskan dulu menjaga arus kas harian ketimbang menambah utang konsumtif baru, apalagi lewat pinjol atau paylater yang bunganya jauh lebih mahal dari kredit formal. Kalau memungkinkan, cari sumber pendapatan tambahan di sektor yang masih tumbuh (jasa mobilitas, UMKM kebutuhan pokok) sebagai bantalan, bukan menunggu kondisi membaik sendiri.
Yang Perlu Dipantau
Rilis data PDB kuartal III-2026 dari BPS, diperkirakan awal November 2026 — akan menunjukkan apakah pelambatan konsumsi di kuartal III sudah tercermin di angka resmi.
Mandiri Spending Index edisi Oktober 2026, biasanya dirilis Mandiri Institute akhir bulan — penentu apakah tren empat pekan melambat berlanjut atau berbalik arah menjelang musim libur akhir tahun.
Data PHK Kemnaker untuk Oktober 2026, karena angka 63.789 masih bisa bertambah mengingat pekerja punya waktu hingga enam bulan untuk melapor klaim JKP.
Inflasi Oktober 2026 dari BPS, khususnya komponen pangan, untuk melihat apakah tekanan harga beras dan cabai mereda atau justru memburuk menjelang Nataru (Natal-Tahun Baru).
Keputusan UMP 2027 yang biasanya diumumkan akhir November — akan jadi penentu apakah upah riil kelompok bawah bisa mengejar inflasi pangan di tahun depan.
Penutup
Angka PDB yang hijau dan angka tabungan kelas bawah yang mengering bisa sama-sama benar pada waktu yang sama — itulah tepatnya yang membuat data Mandiri Spending Index ini penting dibaca sampai ke detailnya, bukan cuma judulnya. Belanja nasional memang masih tumbuh di atas kertas, tapi pertumbuhan itu ditopang oleh kelompok yang jumlahnya lebih sedikit sementara kelompok yang jumlahnya lebih banyak justru menggerus tabungan mereka sendiri untuk bertahan. Kalau kamu pelaku usaha, bedakan rencana bisnismu berdasarkan kategori mana tempatmu berdiri — jangan berdasarkan angka pertumbuhan ekonomi nasional yang terlihat baik di permukaan.
Sumber
Kontan: "Mandiri Spending Index: Belanja Masyarakat Melambat, Keuangan Kelas Bawah Tertekan"
Kontan: "Daya Beli Masyarakat Mulai Pulih, Tapi CEO Sebut Konsumen Makin Selektif" (Indonesia CEO Confidence Index Oktober 2026)
CNBC Indonesia: "Tabungan Warga Miskin Makin Tipis, Anjlok ke Level Terendah"
CNBC Indonesia: "Pemerintah Klaim Warga RI Punya Duit Buat Belanja, Bagaimana Faktanya?"
Jawa Pos (Prokalteng): "Daya Beli Menurun, Masyarakat Kian Andalkan Utang Jangka Pendek" (kutipan Celios/Bhima Yudhistira)
Antara News: "Ekonom: Daya Beli Kelas Menengah Bawah Kunci Ekonomi Semester II"
Media Indonesia: "BPS: Konsumsi Rumah Tangga Tetap Solid, Jadi Penopang Pertumbuhan Ekonomi 5,29 Persen"
Investor Trust: "BPS: Inflasi September 2026 Tembus 0,30%, Tahunan 3,28%"
Pajak Online: "Inflasi Pangan Tembus 5,03%, Harga Kebutuhan Pokok Jadi Perhatian Pemerintah"
CNN Indonesia: "Kemnaker: 63.789 Orang Kena PHK hingga September 2026, Jabar Terbanyak"
Kontan: "UMP Naik 6–7% di 2026, Upah Riil Pekerja Justru Terus Tergerus"