Pengusaha Sudah Wanti-Wanti: Harga Barang Bakal Naik Lagi Jelang Nataru
Pengusaha ritel sinyalkan harga barang naik kuartal IV 2026 akibat rupiah lemah, logistik, dan energi — pas Nataru, pas daya beli lagi megap-megap.
Daftar isi9 bagian
Ringkasan Cepat
Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI), Alphonzus Widjaja, memberi sinyal harga barang di mal dan ritel bisa naik signifikan mulai Oktober 2026 — untuk sejumlah kategori bahkan di atas 30%.
Ini bukan harga yang sudah naik seperti cabai atau BBM. Ini peringatan soal apa yang bakal terjadi begitu stok baru masuk toko menjelang Nataru.
Biang keroknya ada empat yang saling tumpuk: ongkos logistik, energi, bahan baku, dan rupiah yang terus melemah — sempat menembus Rp18.012 per dolar AS akhir September 2026, jauh di atas kisaran normalnya di 2024–2025 yang ada di Rp15.800–16.200.
Survei Bank Indonesia sendiri menyimpan sinyal yang lebih mengkhawatirkan dari headline: pengusaha memprediksi harga bakal naik, tapi ekspektasi penjualan mereka sendiri malah anjlok — kombinasi yang biasa disebut gejala stagflasi mini (harga naik, tapi aktivitas ekonominya justru melambat).
Semua ini terjadi saat daya beli kelas bawah belum pulih dan gelombang PHK manufaktur belum reda, tepat di musim belanja Nataru dan menjelang Ramadan 2027.
Peringatan dari Orang yang Isi Rak Toko, Bukan dari Belakang Meja Ekonom
Yang membuat peringatan ini beda dari prediksi ekonom biasa: datangnya dari orang yang setiap hari mengisi stok dan menentukan harga label. Alphonzus Widjaja menyebut kenaikan harga barang di pusat belanja diperkirakan terjadi signifikan pada triwulan IV 2026, bersamaan dengan masuknya stok baru untuk musim Natal, Tahun Baru, Imlek, hingga Ramadan 2027. Untuk sejumlah kategori, kenaikannya diperkirakan bisa di atas 30 persen.
Logikanya sederhana tapi sering terlewat: barang yang dipajang di rak bulan Oktober-Desember bukan diproduksi hari itu juga. Barang-barang itu dipesan dan diproduksi sejak kuartal II dan III, saat biaya bahan baku, energi, dan ongkos angkut sudah telanjur naik. Jadi efeknya baru kelihatan di harga jual belakangan — seperti efek domino yang lambat tapi pasti sampai ke konsumen.
Untuk barang impor, efeknya malah sudah kelihatan lebih dulu. Dalam dua bulan terakhir sampai pertengahan tahun, peritel sudah menaikkan harga barang impor 5–10 persen, murni imbas pelemahan rupiah. Sektor manufaktur dan perdagangan ritel disebut paling rentan menanggung kenaikan biaya produksi ini, bersama industri makanan dan minuman.
Menariknya, pengusaha mal tidak cuma pasrah. Mereka sudah menyiapkan tiga siasat: cari bahan baku alternatif yang lebih murah, mengecilkan kemasan produk supaya harga di label tetap terlihat sama (nanti kita bahas lebih jauh soal ini), dan memperbanyak promosi diskon untuk menahan konsumen agar tidak kabur. APPBI juga mendesak pemerintah memprioritaskan kebutuhan dalam negeri, mengingat konsumsi rumah tangga menyumbang sekitar 57 persen pertumbuhan ekonomi nasional — artinya kalau daya beli ambrol, pertumbuhan ekonomi ikut kena getahnya.
Dari Selat Hormuz ke Rak Minimarket
Kalau mau cari satu variabel yang paling susah dikendalikan dari keempat biang kerok tadi, jawabannya rupiah. Pada 29 September 2026, rupiah sempat menyentuh Rp18.012 per dolar AS secara intraday sebelum ditutup di Rp17.981 — level yang jauh di atas proyeksi Bank Indonesia sendiri untuk akhir tahun ini, yakni Rp17.300–17.800, apalagi dibandingkan kisaran normal 2024–2025 yang ada di Rp15.800–16.200.
Penyebabnya bertumpuk: kekhawatiran inflasi global, kebutuhan dolar dari importir menjelang akhir kuartal, arus keluar dana asing dari pasar negara berkembang (capital outflow), potensi The Fed—bank sentral Amerika—kembali mengetatkan kebijakan moneter, dan harga minyak dunia yang naik ke US$108 per barel akibat ketegangan di Selat Hormuz, jalur pelayaran minyak paling vital di dunia. Sempat memuncak di US$126 per barel awal tahun ini saat krisis geopolitik di kawasan itu memutus sekitar 20 persen pasokan minyak global, sebelum mereda dan naik lagi menjelang akhir September.
Di sinilah angka yang jarang disorot media: sekitar 71,45 persen dari total impor Indonesia Januari-Juli 2026 — atau US$116,7 miliar dari US$163,3 miliar — adalah bahan baku dan bahan penolong, bukan barang jadi mewah seperti yang sering dibayangkan orang. Artinya pelemahan rupiah bukan cuma soal ponsel atau tas impor jadi lebih mahal, tapi komponen yang menyusun hampir semua barang buatan dalam negeri.
Efeknya konkret dan langsung kena dapur rumah tangga: produk berbasis gandum dan kedelai impor seperti mie, roti, tahu, dan tempe ikut naik; pakan ternak impor yang lebih mahal mendorong harga ayam dan telur; obat-obatan, elektronik, dan suku cadang kendaraan pun sama. Ekonom INDEF, Rizal Taufikurahman, mengingatkan bahwa masalah utamanya bukan sekadar level kurs, melainkan kecepatan dan persistensi pelemahannya — ia menyarankan Bank Indonesia memprioritaskan intervensi pasar ketimbang buru-buru menaikkan suku bunga acuan.
Tapi kenyataannya, beberapa ekonom memperkirakan Bank Indonesia tetap akan menaikkan BI Rate sekali lagi ke 6,00 persen di akhir tahun untuk meredam rupiah. Trade-off-nya jelas: suku bunga naik berarti cicilan KPR dan kendaraan ikut naik, dan biaya modal kerja UMKM yang mengandalkan pinjaman bank jadi lebih mahal — persis di saat mereka butuh modal ekstra untuk stok Nataru.
Pengusaha Sendiri Bingung: Harga Mau Naik, Tapi Penjualan Melempem
Ada satu kontradiksi data yang jarang dibahas tapi justru paling jujur menggambarkan situasinya. Indeks manajer pembelian (PMI) manufaktur Indonesia versi S&P Global justru menguat tajam ke 52,4 pada September 2026, dari 49,8 di Agustus — ekspansi terkuat dalam tujuh bulan, didorong pesanan baru dan ekspor yang membaik. Di atas kertas, ini kabar baik.
Tapi di saat yang sama, Indeks Kepercayaan Industri (IKI) yang mengukur optimisme pelaku industri dalam negeri justru melambat. Produksi naik, tapi keyakinan pelaku usaha terhadap prospek ke depan menurun — sinyal bahwa kenaikan produksi bulan ini bisa jadi cuma dorongan sesaat, bukan tren yang akan bertahan sampai akhir tahun.
Sinyal paling tajam justru keluar dari survei ekspektasi usaha Bank Indonesia sendiri. Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) — ukuran seberapa yakin pelaku usaha bahwa harga akan naik — melonjak ke 163,2 pada September, dari 157,2 di Agustus. Tapi Indeks Ekspektasi Penjualan (IEP) mereka justru anjlok dari 162,4 ke 137,8 pada periode yang sama. Dengan kata lain: pengusaha sendiri memprediksi harga jualan mereka akan naik, sementara mereka sendiri juga memprediksi penjualan bakal melemah. Ini kombinasi yang oleh ekonom biasa disebut mengarah ke stagflasi — ketika harga naik tapi aktivitas ekonomi justru melambat, bukan karena permintaan yang kuat, tapi karena biaya yang terpaksa dibebankan ke konsumen akhir.
Kelas Menengah-Bawah yang Sudah Megap-Megap Duluan
Semua tekanan harga ini datang ke rumah tangga yang kondisinya sudah rapuh sebelum Oktober tiba. Indeks daya beli kelompok berpendapatan rendah turun ke -1,0 pada April 2026, dari -0,6 di periode yang sama tahun sebelumnya. Kelompok kelas menengah juga tertekan, turun dari -0,6 menjadi -0,9. Angka negatif ini berarti daya beli kelompok tersebut masih di bawah titik normalnya — belum benar-benar pulih, apalagi siap menghadapi kenaikan harga baru.
Indeks Keyakinan Konsumen versi Bank Indonesia pun menurun dari 117,8 menjadi 116,8 pada Juli 2026. Angka itu memang masih di atas 100 (artinya mayoritas konsumen masih optimis), tapi arah tren yang menurun menunjukkan rumah tangga mulai lebih berhati-hati memandang beberapa bulan ke depan — tepat sebelum gelombang kenaikan harga Q4 ini tiba. Inflasi tahunan September 2026 pun sudah mencapai 3,28 persen, tertinggi sepanjang tahun ini, didorong harga cabai, ayam, beras, dan telur — dan ini belum memasukkan efek penuh pelemahan rupiah yang baru akan terasa di harga barang ritel pada kuartal berikutnya.
Di pasar kerja, ada kejanggalan data yang patut dicurigai. Kementerian Ketenagakerjaan mencatat 32.389 orang kena PHK secara resmi sampai Juni 2026. Tapi data BPJS Ketenagakerjaan menunjukkan jumlah pekerja nonaktif akibat PHK sudah mencapai 126.000 orang hingga Mei 2026 — hampir empat kali lipat lebih tinggi dari angka pemerintah. Gap sebesar ini biasanya berarti banyak PHK terjadi secara informal atau tidak terdaftar resmi, sehingga pekerja yang terdampak tidak masuk hitungan bantuan apa pun. Sektor tekstil, garmen, dan alas kaki disebut paling rentan karena bergantung pada bahan baku kapas impor dari Australia, Brasil, dan Amerika Serikat — rute pasokan yang justru makin mahal akibat rupiah lemah.
Yang membuat situasi lebih genting, 87,7 juta orang atau 59,4 persen dari total pekerja Indonesia per Februari 2026 berstatus pekerja informal. Mereka tidak punya pesangon, tidak punya jaring pengaman sosial formal — begitu permintaan melemah atau harga kebutuhan naik, merekalah yang pertama menyerap pukulannya tanpa bantalan apa pun.
Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira, mengingatkan efek berantainya: kenaikan harga bahan pokok — ia mencontohkan minyak goreng yang naik Rp4.000–8.000 per liter atau 25–30 persen — bisa membuat kelompok rentan jatuh di bawah garis kemiskinan. Yang lebih halus dan jarang disadari konsumen: fenomena shrinkflation, di mana produsen mengecilkan isi kemasan tanpa menaikkan harga label. Kemasan 1 kilogram jadi 770 gram, sirup 650 mililiter jadi 460 mililiter, kecap manis 600 mililiter jadi 520 mililiter. Secara statistik resmi, ini tidak tercatat sebagai inflasi harga — tapi bagi dompet rumah tangga, efeknya persis sama saja: uang yang sama kini membeli lebih sedikit.
Apa Artinya Buat Kamu
Kalau kamu masih karyawan dan ingin mulai usaha
Jangan hitung modal kerja pakai asumsi kurs lama. Kalau rencana usahamu butuh bahan baku impor — mulai dari bahan kue, kain, sampai komponen elektronik — hitung ulang struktur biaya dengan asumsi rupiah di Rp17.500–18.000, bukan Rp16.000-an seperti dua tahun lalu, supaya kamu tidak kaget begitu order pertama masuk. Pertimbangkan dulu model usaha yang komponen impornya minim — jasa, produk berbahan lokal — sebagai pijakan awal sebelum masuk ke bisnis yang padat bahan baku impor. Dan jangan tergoda ikut arus stok besar-besaran menjelang Nataru: data IEP yang anjlok berarti kompetitor kemungkinan juga akan banting harga lewat diskon, bukan menaikkannya — kamu bisa kalah modal sebelum sempat untung.
Kalau kamu sudah punya bisnis
Kunci kontrak pasokan sekarang, sebelum kenaikan biaya di kuartal IV benar-benar penuh terasa — ini persis yang disarankan APPBI ke anggotanya sendiri. Kalau bisnismu rutin impor, pertimbangkan hedging, yaitu mengunci nilai tukar di depan supaya tidak rugi besar kalau rupiah makin melemah saat jatuh tempo pembayaran. Evaluasi jujur: lebih baik naikkan harga label secara transparan, atau terapkan shrinkflation dengan risiko reputasi kalau ketahuan konsumen? Siapkan juga cashflow untuk skenario BI Rate naik ke 6 persen — cicilan kredit modal kerja ikut naik, dan ini bukan waktu yang tepat untuk menambah utang jangka pendek tanpa hitungan matang.
Dampak ke masyarakat luas
Anggaran rumah tangga akan tertekan dari dua arah sekaligus: harga pangan yang sudah naik duluan, ditambah harga barang ritel dan kebutuhan Nataru yang baru akan naik Oktober-Desember ini. Mulai cek berat dan isi kemasan, bukan cuma harga di label, karena shrinkflation membuat kenaikan harga riil tidak selalu kelihatan di angka. Kalau kamu bekerja di sektor padat karya seperti tekstil, garmen, atau manufaktur berorientasi ekspor, perhatikan betul sinyal PHK di tempat kerjamu — gap antara data Kemnaker dan BPJS Ketenagakerjaan menunjukkan risiko ini lebih besar dari yang terlihat di berita.
Yang Perlu Dipantau
Rilis inflasi BPS awal November 2026 (data Oktober) — titik pertama untuk melihat apakah efek rupiah mulai muncul di angka resmi.
Keputusan Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia soal BI Rate tiap bulan, terutama sinyal kenaikan menuju 6 persen di akhir tahun.
Pergerakan rupiah menjelang keputusan suku bunga The Fed dan perkembangan ketegangan di Selat Hormuz yang memengaruhi harga minyak dunia.
Data PHK dari Kemnaker dan BPJS Ketenagakerjaan kuartal IV 2026 — perhatikan apakah gap antara keduanya makin melebar.
Survei Penjualan Eceran Bank Indonesia bulan Oktober, khususnya apakah Indeks Ekspektasi Penjualan terus turun atau justru rebound menjelang musim belanja Nataru.
Penutup
Pengusaha mal sebenarnya sedang berbuat baik dengan memberi peringatan ini tiga bulan lebih awal, bukan mendadak muncul di struk kasir bulan Desember. Yang berubah bukan lagi pertanyaan apakah harga akan naik Oktober-Desember ini — jawabannya sudah jelas dari mulut orang yang mengisi rak toko sendiri. Pertanyaan yang lebih berguna untuk kamu tanyakan sekarang: apakah anggaran Nataru-mu sudah disesuaikan dengan kenyataan itu, sebelum rak-rak toko lebih dulu menyesuaikan harganya untukmu.
Sumber
Bisnis Indonesia — "Siap-siap! Pengusaha Beri Sinyal Harga Barang Naik Mulai Oktober-Desember 2026"
Bisnis Indonesia — "Harga Barang Impor Naik hingga 10% Imbas Pelemahan Rupiah"
CNBC Indonesia — "Harga Barang Ritel Berpotensi Naik Mulai Oktober 2026, Ini Pemicunya"
CNBC Indonesia — "Waspada Akhir Tahun, Harga-Harga Diperkirakan Naik Lagi"
Antara News — "APPBI: Harga Barang Berpotensi Naik Mulai Oktober 2026"
Kompas.id — "Pengusaha Mal Perkirakan Kenaikan Harga Tembus 30 Persen Jelang Akhir Tahun"
CNN Indonesia — "Bahaya Rupiah Tembus Rp18 Ribu Mengintai Kantong Masyarakat"
CNN Indonesia — "BPS Catat Inflasi RI 3,28 Persen di September 2026"
Bloomberg Technoz — "Daya Beli, Manufaktur, dan Ujian Pertumbuhan Semester II-2026"
CNBC Indonesia — "Kabar Baik Awal Oktober: PMI Manufaktur RI Ngebut, Tertinggi 7 Bulan"
The Iconomics — "PMI Manufaktur September Naik Signifikan, Sebaliknya IKI Melambat"
Bisnis Indonesia — "Proyeksi BI Rate September 2026: Dilema Ketika Tekanan Eksternal Menguat"
Bisnis Indonesia — "Alarm PHK Sektor Manufaktur Belum Mereda"
VOA Indonesia — "Kemenaker: Hampir 46 Ribu Di-PHK Sejak Januari"
iNews — "Harga Bahan Pokok Naik Jelang Nataru, Ekonom: Dapat Lemahkan Daya Beli Masyarakat"
Kontan — "Harga Produk Berpotensi Melonjak, Kadin Khawatirkan Daya Beli Masyarakat Melemah"
Kbeonline — "Isi Makin Sedikit! 10 Fakta Shrinkflation yang Diam-Diam Bikin Belanja Makin Mahal"
Databoks Katadata — "PMI Manufaktur Indonesia Resilien Jadi 52,4 pada September 2026"