Lewati ke konten
blabak.

PHK Teknologi Tak Berhenti: Di Balik Angka Oracle, Uber, Nike, dan TikTok September 2026

Oracle, Uber, Nike, hingga TikTok terus PHK di September 2026 — bukan cuma soal AI. Ini pola di baliknya dan artinya buat talenta digital Indonesia.

Yusuf FS12 menit baca

Ringkasan Cepat

  • PHK industri teknologi global sepanjang 2026 sudah menembus 128.536 orang di 299 perusahaan per 10 September — melampaui total sepanjang tahun 2025 (122.606 orang), padahal tahun ini masih tersisa hampir empat bulan.

  • Oracle memulai putaran PHK baru pada 14–15 September 2026: sekitar 2.500 karyawan kehilangan akses Slack jam 4 pagi, jauh sebelum email pemberhentian resmi masuk. Tapi penghematannya diperkirakan cuma US$8–10 miliar per tahun — kecil dibanding komitmen sewa pusat data US$260 miliar dan utang US$129,5 miliar yang sedang ditanggung Oracle demi taruhan AI-nya.

  • Uber memangkas 3.300 orang (10% karyawan) awal September dengan alasan eksplisit "organisasi kami sudah terlalu rumit" — bukan AI — sambil mengalihkan sumber daya ke bisnis robotaxi.

  • TikTok bukan cuma nama asing di daftar ini: perusahaan yang sama menjalankan restrukturisasi besar di Tokopedia, dengan kabar pemangkasan hingga 90% karyawan Tokopedia yang beredar Juli 2026.

  • Survei industri menemukan 59% perusahaan mengaku sengaja "membesar-besarkan" narasi AI dalam pengumuman PHK — karena kedengarannya lebih meyakinkan daripada mengaku salah rekrut atau meleset target pertumbuhan.

PHK Bukan Lagi Alarm, Tapi Jadwal Rutin

Bayangkan bangun jam 4 pagi dan mendapati akun Slack kantormu sudah tidak bisa dibuka — bukan karena error, tapi karena kamu baru saja kehilangan pekerjaan, dan email resminya belum juga masuk. Itu yang dialami sekitar 2.500 karyawan Oracle pada 15 September 2026, beberapa jam sebelum surat pemberhentian resmi mereka terima.

Ini bukan insiden terisolasi. Ini pola yang kini disebut analis ketenagakerjaan sebagai "forever layoff" — PHK yang tidak lagi meledak sekali lalu selesai, tapi berjalan terus-menerus tanpa titik akhir yang jelas. Alih-alih satu pengumuman besar, perusahaan memangkas satu tim di sini, menggabungkan divisi di sana, membiarkan posisi kosong yang ditinggalkan orang resign tidak pernah diisi lagi.

Yang membedakannya dari siklus PHK lama: dulu, PHK identik dengan perusahaan yang sedang kesulitan — rugi, kehabisan kas, terancam bangkrut. Sekarang, PHK terjadi justru saat perusahaan untung besar. Cisco mengumumkan pemangkasan 5% karyawan tak lama setelah mencatat pendapatan rekor. Cloudflare memangkas 20% stafnya di saat pendapatannya sendiri tumbuh 30% per tahun. Fenomena inilah yang membuat Joseph Fuller, profesor Harvard Business School, menyebutnya "continuous tuning" — penyesuaian kecil yang terus-menerus karena tak ada perusahaan yang berani berhenti duluan. "Kalau mereka cuma melakukan penyesuaian kecil-kecil, sementara kompetitor utama mereka all-in (habis-habisan) di AI, mereka bisa bangun suatu pagi dan sudah tertinggal 21-0 sebelum pertandingan dimulai," katanya.

Ada satu detail yang jarang disorot media: makin banyak PHK ini sengaja dibuat kecil. Secara global, pemangkasan di bawah 50 karyawan menyumbang 51% dari seluruh peristiwa PHK pada 2025 — naik dari 38% pada 2015. Angka sekecil itu biasanya lolos dari kewajiban lapor resmi ke otoritas ketenagakerjaan, tidak memicu liputan media, dan tidak memancing kemarahan publik. Artinya, angka PHK yang kamu baca di berita kemungkinan besar cuma puncak gunung es — bagian yang cukup besar untuk tidak bisa disembunyikan.

Oracle dan Amazon: Ongkos Kecil untuk Taruhan Raksasa

Oracle adalah contoh paling telanjang dari logika ini. Sepanjang tahun fiskal yang berakhir Mei 2026, jumlah karyawan Oracle turun dari sekitar 162.000 menjadi 141.000 — sekitar 21.000 orang atau 13% dari total tenaga kerja hilang dalam setahun. Putaran September ini adalah gelombang kedua tahun ini, dan rumor internal menyebut tambahan 7.000–10.000 posisi bisa menyusul, meski belum dikonfirmasi resmi oleh perusahaan.

Di sinilah bagian yang jarang dibaca orang: belanja modal Oracle untuk tahun fiskal 2026 melonjak ke US$55,7 miliar, naik tajam dari US$21,2 miliar tahun sebelumnya — hampir tiga kali lipat, hampir seluruhnya untuk membangun pusat data AI. Untuk mendanainya, Oracle meminjam US$43 miliar di pasar utang dan menjual saham senilai US$5 miliar dalam setahun terakhir, dengan total utang kini mencapai US$129,5 miliar plus komitmen sewa pusat data sebesar US$260 miliar untuk tahun-tahun ke depan. Biaya restrukturisasi PHK-nya sendiri sudah membengkak jadi US$2,8 miliar dari estimasi awal US$2,1 miliar.

Nah, penghematan tahunan dari seluruh gelombang PHK ini diperkirakan analis cuma US$8–10 miliar. Bandingkan dengan defisit arus kas Oracle yang sudah US$23,7 miliar lebih besar dari yang mereka hasilkan tahun ini. PHK Oracle secara matematis tidak menyelamatkan perusahaan dari krisis kas — itu cuma memangkas sedikit pengeluaran sambil investor melihat manajemen "serius" soal efisiensi, di tengah taruhan utang jumbo yang jauh lebih besar risikonya.

Amazon bergerak dengan logika serupa meski skalanya berbeda. PHK terbaru di September ini "hanya" 121 posisi di Washington — termasuk seorang wakil presiden legal dan sejumlah manajer software senior — tapi itu potongan kecil dari total 30.000 pekerjaan korporat yang sudah dipangkas Amazon sejak Oktober 2025, termasuk 16.000 sekaligus pada Januari 2026. Divisi yang terdampak justru mencakup AWS dan tim AI sendiri — bukti bahwa investasi besar-besaran ke AI dan pemangkasan tim yang membangun AI itu bisa terjadi bersamaan di perusahaan yang sama.

Uber, Nike, TikTok: Ketika Alasannya Bukan AI, Tapi "Terlalu Rumit"

Tidak semua PHK 2026 memakai label AI — dan justru itu yang membuat pola ini lebih menarik untuk dibedah.

Uber memangkas 3.300 orang, 10% dari total 34.000 karyawannya, awal September 2026. CEO Dara Khosrowshahi tidak menyebut AI sama sekali sebagai alasan utama — dia bilang organisasi Uber sudah terlalu rumit setelah bertahun-tahun tumbuh cepat. Jumlah manajer dipangkas sekitar 20%, tim-tim digabung, dan karyawan remote diminta pindah ke kantor pusat di New York atau San Francisco dengan kebijakan tiga hari kerja di kantor. Sumber dayanya dialihkan ke ridesharing, delivery, dan — ini yang penting — robotaxi. Uber sedang bertaruh pada masa depan di mana lebih sedikit manusia dibutuhkan untuk mengelola operasional pengemudi, karena pengemudinya sendiri berpotensi digantikan mobil otonom.

Nike, yang bukan perusahaan teknologi, justru menunjukkan seberapa jauh pola ini menyebar. April 2026, Nike memangkas 1.400 posisi — putaran kedua tahun itu setelah 775 orang di Januari, jadi total sekitar 2.175 dalam satu tahun. Fokusnya: tim teknologi internal, dalam rangka strategi "Win Now" untuk memodernisasi manufaktur Air, memindahkan sebagian operasi Converse, dan mengintegrasikan tim rantai pasok material ke tim alas kaki dan apparel. Ini sinyal bahwa restrukturisasi digital bukan cuma urusan Silicon Valley — raksasa sportswear pun merampingkan lapisan digital dan IT internalnya.

TikTok/ByteDance memangkas 625 karyawan sepanjang 2026 (1,6% dari total tenaga kerja) — angka yang relatif kecil dibanding Oracle atau Amazon, tapi tersebar di lokasi-lokasi spesifik yang menunjukkan pola konsolidasi wilayah: seluruh kantor Nashville ditutup (250 orang dari tim moderasi konten, efektif 5 Oktober 2026), 75 posisi di area Seattle terkait TikTok Shop dan e-commerce (mulai dari manajer anti-fraud sampai data scientist), dan wacana pemangkasan 300 posisi di hub Eropa, Dublin, untuk mengonsolidasikan layanan data AI dan quality assurance ke wilayah lain. Selama 18 bulan terakhir, divisi trust & safety, e-commerce, musik, dan gaming semua kena giliran.

Dari Silicon Valley ke Tokopedia: PHK yang Sampai ke Halaman Rumah

Di sinilah cerita berhenti jadi berita luar negeri. TikTok memegang 75,01% saham Tokopedia sejak Januari 2024 lewat akuisisi senilai US$1,5 miliar, dan integrasi TikTok Shop ke dalam Tokopedia butuh perampingan tim R&D, operasional, dan produk dari dua entitas yang dulunya bersaing. Juli 2026, kabar beredar bahwa restrukturisasi ini memangkas hingga 90% karyawan Tokopedia — angka yang belum dikonfirmasi resmi secara rinci oleh manajemen, meski GoTo (yang kini tinggal memegang 24,99% saham Tokopedia sebagai pemegang saham minoritas) menyatakan langkah ini "tidak berdampak material" terhadap kinerja keuangannya sendiri. Tokopedia mengaku memberi paket kompensasi transisi dan memindahkan sebagian karyawan ke unit usaha lain dalam ekosistem TikTok-Tokopedia.

Ini bukan kasus pertama. Sejak 2023, gelombang PHK di sektor teknologi dan manufaktur Indonesia — dari Sritex sampai TikTok-Tokopedia — dilaporkan media bisnis nasional telah menembus lebih dari 254.000 posisi, cukup besar hingga pemerintah membentuk satuan tugas mitigasi PHK setelah serikat pekerja memperingatkan risiko hingga 150.000 pekerjaan tambahan. Jadi ketika nama-nama seperti Oracle, Uber, atau TikTok muncul di headline PHK global, bagi talenta digital Indonesia itu bukan cuma berita — beberapa di antaranya adalah kantor tempat mereka atau kolega mereka bekerja.

Alasan di Balik Alasan: Skeptisisme yang Perlu Kamu Tahu

Sebelum kamu menyimpulkan "AI menggantikan semua orang," ada baiknya menimbang argumen sebaliknya — karena bukti pendukungnya juga kuat.

Babak Hodjat, Chief AI Officer di Cognizant, menyebut AI kerap dijadikan "kambing hitam" dalam restrukturisasi yang sebenarnya sudah direncanakan karena alasan finansial lama, bukan murni dampak teknologi baru. Riset Forrester menemukan jurang antara klaim dan kenyataan: banyak perusahaan mengumumkan PHK dengan alasan "adopsi AI," padahal sistem AI yang mereka sebut-sebut belum sepenuhnya dibangun, apalagi teruji di lapangan — fenomena yang oleh sejumlah analis disebut AI washing. Survei industri bahkan menemukan 59% perusahaan mengaku sengaja menonjolkan narasi AI dalam pengumuman PHK karena "terlihat lebih baik" ketimbang mengaku terlalu agresif merekrut saat pandemi lalu terpaksa mengoreksinya. Fenomena "boomerang" pun nyata: sekitar separuh perusahaan yang menggantikan pekerja dengan AI akhirnya merekrut kembali staf dengan biaya yang justru lebih mahal dari sebelumnya. Torsten Slok, ekonom Apollo Global Management, bahkan berargumen AI bisa menciptakan lebih banyak pekerjaan dalam jangka panjang lewat efek yang disebut Jevons Paradox — ketika teknologi membuat sesuatu lebih murah dan efisien, permintaan justru meningkat, bukan menyusut.

Tapi jangan salah baca ini sebagai "tenang saja, semuanya cuma spin." Goldman Sachs, dalam survei ke kliennya, mencatat baru 11% perusahaan yang benar-benar sudah melakukan PHK langsung karena AI hari ini — tapi memproyeksikan rata-rata pengurangan tenaga kerja 4% dalam setahun ke depan, melonjak hingga 11% dalam tiga tahun, dengan sektor keuangan paling terpukul (14%) disusul teknologi (sekitar 10%). Artinya: gelombang yang sedang terjadi sekarang, menurut proyeksi ini, baru permulaan — bukan puncaknya.

Apa Artinya Buat Kamu

Kalau kamu masih karyawan dan ingin mulai usaha

PHK di perusahaan besar bukan bukti keahlianmu tidak berharga — itu bukti model kerja korporat besar sedang berubah bentuk. Kalau kamu mempertimbangkan lompat ke jalur lepas (freelance) atau usaha sendiri, timing-nya cukup masuk akal: permintaan tenaga kontrak lepas untuk peran teknis seperti pengembang software, data, dan desain terus naik, karena startup kecil dan UMKM butuh kapasitas tanpa komitmen gaji penuh waktu. Data pemerintah mencatat pekerja paruh waktu di Indonesia sudah mencapai 38,35 juta orang per Februari 2026, naik 0,73 juta orang dalam setahun — dan lebih dari 60% pekerja lepas didominasi generasi milenial dan Gen Z, kelompok usia yang sama dengan mayoritas talenta digital.

Tapi jangan lompat penuh tanpa jaring pengaman. Status pekerja gig di Indonesia masih dianggap "mitra," bukan pekerja formal — artinya tidak ada BPJS Ketenagakerjaan otomatis, tidak ada pesangon, tidak ada cuti berbayar. RUU Perlindungan Pekerja Ekonomi Gig memang sudah masuk Prolegnas Prioritas 2026, tapi belum jadi undang-undang. Sebelum berhenti total dari kerja tetap, bangun dana darurat minimal enam bulan pengeluaran, diversifikasi ke lebih dari satu klien atau platform (Upwork, Fiverr, atau platform lokal), dan urus BPJS mandiri sendiri sejak hari pertama — jangan tunggu regulasi yang belum tentu datang tepat waktu.

Kalau kamu sudah punya bisnis

Ini momentum untuk merekrut talenta digital berpengalaman dengan biaya lebih realistis, karena banyak profesional eks-korporasi besar kini mencari proyek atau kontrak paruh waktu, bukan cuma posisi tetap. Pertimbangkan model fractional — mempekerjakan pakar senior (misalnya data engineer atau spesialis AI) secara paruh waktu lintas beberapa klien — daripada memaksakan satu posisi penuh waktu yang mahal.

Tapi hati-hati juga terhadap godaan ikut-ikutan tren "potong tim, ganti AI." Temuan Forrester soal jurang antara klaim AI dan sistem yang benar-benar berfungsi adalah peringatan nyata: banyak perusahaan yang buru-buru memangkas SDM demi narasi AI akhirnya harus merekrut ulang dengan biaya lebih mahal. Uji dulu betul-betul apakah alat AI yang kamu andalkan benar-benar menggantikan kapasitas manusia sebelum memutus hubungan kerja. Kalau bisnismu mulai banyak menggunakan pekerja lepas, siapkan juga sistem administrasi yang adaptif — perubahan regulasi soal status pekerja gig di masa depan bisa mengubah kewajibanmu terhadap mereka.

Buat masyarakat luas: kesenjangan yang tak terlihat di angka nasional

Ada kontradiksi yang perlu dijelaskan di sini, bukan dibiarkan menggantung: Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) nasional Indonesia justru turun jadi 4,68% per Februari 2026 (7,24 juta orang dari total angkatan kerja 154,91 juta), membaik dari tahun sebelumnya. Kalau begitu, di mana letak krisisnya? Jawabannya: TPT nasional mengagregasi seluruh angkatan kerja, yang sebagian besar bekerja di sektor informal, pertanian, dan jasa — bukan cuma korporasi teknologi formal. PHK di sektor tech-corporate memang tajam dan menyakitkan bagi yang mengalaminya, tapi jumlahnya relatif kecil dibanding total angkatan kerja nasional sehingga nyaris tak menggoyang angka headline. Ini yang oleh sejumlah ekonom disebut pasar kerja berbentuk "K" — satu jalur formal-digital menyempit, sementara jalur informal dan gig menampung sebagian arusnya.

Sementara itu, Indonesia diperkirakan membutuhkan 9 juta talenta digital sampai 2030, sementara jalur pendidikan formal cuma sanggup memasok sekitar 6 juta — kesenjangan 3 juta orang yang justru berpotensi diisi oleh talenta yang "terlempar" dari korporasi besar lewat PHK, asal mereka punya jalur reskilling dan perlindungan sosial yang memadai. Tanpa itu, risikonya bukan cuma kehilangan pekerjaan sesaat, tapi terjebak permanen di ekonomi lepas tanpa jaring pengaman — sementara negara lain seperti Australia sudah mulai menetapkan pendapatan minimum untuk kurir platform, sesuatu yang di Indonesia masih sebatas rancangan undang-undang.

Yang Perlu Dipantau

  • Laporan kuartalan Oracle berikutnya (sekitar pertengahan Desember 2026, kuartal fiskal kedua) — akan terlihat apakah rumor tambahan 7.000–10.000 pemangkasan terkonfirmasi atau tidak.

  • Total akhir tahun tracker layoffs.fyi dibanding proyeksi sekitar 210.500 PHK teknologi global sepanjang 2026 — apakah pace 17.542 PHK per bulan terus bertahan sampai Desember.

  • Kepastian penutupan hub TikTok di Dublin (sekitar 300 posisi) yang masih berstatus wacana sejak Juli 2026.

  • Laporan keuangan GoTo kuartal III 2026 (sekitar awal November) — untuk menguji klaim bahwa PHK Tokopedia "tidak berdampak material."

  • Rilis data Sakernas BPS Agustus 2026 (sekitar awal November 2026) — akan menunjukkan apakah tren pekerja paruh waktu dan lepas terus naik, dan ke arah mana TPT nasional bergerak.

  • Pembahasan RUU Perlindungan Pekerja Ekonomi Gig di DPR, yang masuk Prolegnas Prioritas 2026 — akan menentukan status hukum jutaan pekerja lepas Indonesia ke depan.

Penutup

Yang berubah dari gelombang PHK 2026 bukan cuma siapa yang kena, tapi logika di baliknya: dulu PHK adalah tanda darurat yang datang lalu pergi, sekarang jadi alat manajemen rutin yang berjalan tanpa akhir — kadang dibungkus alasan AI, kadang tidak, tapi sama-sama menandakan perusahaan besar tak lagi berjanji memberi rasa aman jangka panjang kepada siapa pun. Buat talenta digital Indonesia, itu artinya masa depan karier bukan lagi soal mencari kursi paling aman di kantor paling besar, tapi soal membangun cukup banyak kaki — klien, keahlian, jaring pengaman sendiri — supaya saat satu goyang, kamu tidak ikut jatuh.

Sumber

  • Deccan Herald — Oracle layoffs 2026: Tech giant fires staff in 6 am termination email

  • Newsgram — Oracle Layoffs: Woman Says Husband Was Laid Off After 12 Years

  • The Register — Oracle's layoff train rolls on

  • Qz / Tech Insider / Briefs — laporan belanja modal, utang, dan biaya restrukturisasi Oracle 2026

  • TechCrunch — Uber is laying off 10% of staff, or 3,300 people

  • American Bazaar Online — Uber to cut 3,300 jobs in major restructuring

  • CNBC — Nike cuts 1,400 roles in second round of layoffs this year

  • CIO Dive — Nike cuts 1,400 roles as it reshapes technology team

  • GeekWire — TikTok cuts 75 jobs in Seattle area, hitting e-commerce teams

  • Bloomberg — TikTok Eyes About 300 More Job Cuts at European Hub in Dublin

  • The Global Statistics / LayoffHedge — data agregat PHK TikTok/ByteDance 2026

  • GeekWire — Amazon lays off 121 workers across corporate and fulfillment jobs in Washington state

  • CNBC — Burnout, frustration and heartbreak: Amazon layoffs take their toll

  • American Bazaar Online — Major layoffs of 2026: Amazon, Meta, Oracle, Microsoft and more

  • Layoffs.fyi — 2026 Tech Layoffs (data agregat)

  • Yahoo Finance / Fortune — Welcome to the era of the forever layoff; AI washing and forever layoffs

  • Kompas Tekno — AI Tak Menggantikan Pekerjaan Manusia, tapi Kenapa Banyak PHK?

  • Kontan — Goldman Sachs: Gelombang PHK Akibat AI Akan Meledak 3 Tahun Lagi

  • CNBC Indonesia / Kompas Money — GoTo Buka Suara Soal Kabar PHK 90% Karyawan Tokopedia

  • Jakarta Globe — Indonesia's Biggest Layoffs Since 2025: From Sritex to TikTok-Tokopedia

  • BPS — Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Februari 2026 sebesar 4,68 persen

  • Kubu.id — Lonjakan Freelance di Indonesia: 60% Didominasi Milenial dan Gen Z

  • Antara News — Celios soroti pentingnya jamsos bagi pekerja industri padat karya

  • Bisnis.com — PR Regulasi Ojol Indonesia Usai Australia Patok Penghasilan Minimum Kurir