Prabowo Bongkar Aturan Ekspor Sendiri, Sinyal Musuh Sebenarnya Bukan Cuma Tarif Trump
Prabowo perintahkan bongkar aturan ekspor & longgarkan impor bahan baku. Sinyalnya: birokrasi domestik kini ancaman lebih nyata dari tarif AS 19%.
Daftar isi9 bagian
Ringkasan Cepat
Presiden Prabowo memerintahkan Menko Airlangga Hartarto menyisir ulang aturan yang menghambat ekspor, termasuk melonggarkan impor bahan baku untuk produksi barang ekspor dan menghapus sistem kuota impor yang dinilai cuma menguntungkan segelintir pemegang izin.
Sinyal di baliknya lebih penting dari kebijakannya sendiri: pemerintah akhirnya mengakui ancaman terbesar eksportir bukan cuma tarif Amerika Serikat (AS) 19% β yang justru sudah paling murah di ASEAN β melainkan birokrasi dan biaya di rumah sendiri.
Industri tekstil-garmen jadi sasaran utama relaksasi, lewat percepatan Pertek (pertimbangan teknis, dokumen syarat yang harus dikantongi pengusaha sebelum izin impor bahan baku diproses) dan penindakan barang impor ilegal yang mengganggu produsen domestik.
Di balik makro yang terlihat sehat, ada yang lebih mengkhawatirkan: utilisasi pabrik tekstil nasional tertahan di 50% akibat banjir barang impor China, sementara PHK di sektor padat karya ini sudah menembus puluhan ribu orang sepanjang 2026.
Ekonom INDEF skeptis: tanpa membenahi biaya logistik, energi, dan otomatisasi yang masih kalah dari Vietnam-Bangladesh, serta tanpa menindak dumping China, deregulasi impor bahan baku saja belum cukup menyelamatkan eksportir.
Tarif Sudah Paling Murah di ASEAN, Tapi Kenapa Industri Masih Megap-megap?
Coba tebak: dari semua negara pesaing tekstil di Asia Tenggara, siapa yang kena tarif AS paling ringan sekarang? Jawabannya Indonesia. Setelah negosiasi panjang yang akhirnya diteken lewat Agreement on Reciprocal Trade (ART) pada 19 Februari 2026, tarif resiprokal AS untuk produk Indonesia turun dari 32% menjadi 19%. Bandingkan dengan Vietnam yang masih kena sekitar 20%, Bangladesh 35%, serta Thailand dan Kamboja yang dikenai 36%. Di atas kertas, Indonesia sedang pegang kartu terbaik di meja.
Tapi kartu bagus tidak otomatis menang kalau mejanya sendiri berantakan. Pasar AS menyerap sekitar 42,6% dari total ekspor garmen dan tekstil Indonesia β hampir separuh nasib industri ini bergantung ke satu negara. Masalahnya, fasilitas tarif 0% lewat skema kuota tarif (TRQ, mekanisme kuota impor dengan tarif lebih rendah) hanya berlaku untuk bahan baku kapas dan turunannya di hulu. Begitu sampai ke produk jadi seperti pakaian, tarifnya tetap 19%. Jadi keuntungan dari negosiasi dagang ini sebenarnya cuma menolong sebagian rantai produksi, bukan seluruhnya.
Di level makro, data Badan Pusat Statistik (BPS) sebenarnya tidak buruk. Ekspor Indonesia JanuariβSeptember 2026 mencapai US$221,23 miliar, tumbuh 5,58% dibanding periode sama tahun lalu. Ekspor nonmigas naik 6,30% jadi US$212,27 miliar, ditopang sektor industri pengolahan yang tumbuh 8,93% dengan andil 7,15% terhadap total ekspor. Tapi di sinilah pentingnya tidak berhenti di headline: pendorong utama pertumbuhan itu adalah komoditas seperti tembaga dan manufaktur umum, bukan tekstil-garmen yang justru sektor paling padat karya dan paling banyak menyerap buruh. Angka nasional yang hijau bisa menutupi sektor yang sebenarnya sedang sekarat.
Birokrasi yang Dibongkar: dari Kuota Impor sampai Sertifikat Halal Kulit
Arahan Prabowo ini bukan pidato kosong tanpa detail. Saat membuka Trade Expo Indonesia ke-41 pada 14 Oktober 2026, Presiden menegaskan: "Prosedur ekspor jangan berbelit. Peraturan Teknis (Pertek) yang menghambat harus segera disimplifikasi untuk kemajuan ekspor." Airlangga kemudian menegaskan ulang arahan itu awal November: pemerintah sedang menyiapkan kebijakan kemudahan impor untuk tujuan ekspor β artinya, bahan baku yang akan diolah lagi jadi barang ekspor, bukan membuka kran impor barang jadi.
Ada beberapa poin konkret yang muncul dari arahan ini. Pertama, Pertek untuk impor bahan baku tekstil akan direview karena prosesnya yang rumit selama ini membuat pengusaha tidak bisa memastikan pasokan datang tepat waktu β padahal industri tekstil sangat bergantung pada pesanan musiman yang butuh respons cepat. Kedua, Prabowo minta sistem kuota impor dihapus karena dinilai hanya menguntungkan segelintir perusahaan yang kebetulan memegang izin, bukan industri secara luas. Ketiga, ada relaksasi sertifikasi halal untuk bahan berbasis kulit, yang relevan bukan hanya untuk tekstil tapi juga industri sepatu.
Di sisi hilir, pemerintah diminta menertibkan barang impor ilegal, terutama pakaian bekas kiloan ("balpres") yang menurut Airlangga "sangat mengganggu produsen-produsen garmen di dalam negeri." Dirjen Bea Cukai sudah diminta langsung menindaknya. Ada juga paket ketenagakerjaan: skema Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT) khusus untuk sektor tekstil dan garmen yang permintaannya musiman, plus pembebasan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) untuk perusahaan penyedia tenaga kerja outsourcing di sektor ini. Danantara, lembaga pengelola investasi negara, juga disebut berencana membentuk BUMN Tekstil baru yang terintegrasi dalam satu kawasan industri.
Penting dicatat, ini bukan upaya pertama. Kementerian Perdagangan sudah menerbitkan Permendag Nomor 5 dan 6 Tahun 2026 sejak 1 April 2026, yang memangkas sejumlah syarat ekspor β misalnya menghapus syarat Eksportir Terdaftar untuk timah industri dan kewajiban realisasi ekspor minimal untuk batu bara. Artinya, arahan Prabowo kali ini adalah eskalasi dari upaya deregulasi yang sudah berjalan setengah tahun β sekaligus pengakuan diam-diam bahwa upaya sebelumnya belum cukup menyelamatkan eksportir yang makin tertekan.
Angka yang Bikin Mikir: Utilisasi Pabrik Tekstil Cuma 50%
Di sinilah letak masalah yang tidak muncul di headline manapun. Kalangan pengusaha tekstil melaporkan utilisasi kapasitas produksi pabrik mereka tertahan di kisaran 50% β jauh di bawah level sehat sebuah fabrik yang biasanya butuh beroperasi di atas 70-80% supaya ongkos tetap efisien. Penyebabnya bukan tarif AS, tapi banjir barang impor yang masuk lewat pintu lain: China.
Komite Anti Dumping Indonesia (KADI) menemukan praktik dumping (menjual barang di pasar luar negeri dengan harga jauh di bawah harga wajar untuk merebut pasar) oleh lebih dari 38 perusahaan China, dengan margin dumping 42-45% khusus untuk produk benang. Perjanjian dagang bebas ASEAN-China membuat tarif impor banyak produk tekstil dan pakaian jadi dari China ke Indonesia nol atau sangat rendah. Ditambah kapasitas produksi China yang kelebihan pasokan pasca-pandemi, barang-barang itu masuk dengan harga yang bahkan lebih murah dari ongkos produksi pabrikan lokal sendiri. Impor nonmigas dari China pun melonjak jadi 42,38% dari total impor Indonesia sepanjang Januari-Juli 2026 β porsi yang sangat besar untuk satu negara asal.
Inilah kenapa relaksasi impor bahan baku untuk ekspor, walau penting, hanya menyelesaikan separuh masalah. Kalau hulu (bahan baku) dipermudah tapi hilir (produk jadi) tetap kebanjiran barang dumping China yang lebih murah, pabrik lokal tetap kalah saing di pasar dalam negeri sebelum sempat berpikir soal ekspor. Dua masalah ini β birokrasi impor bahan baku dan dumping produk jadi β perlu ditangani bersamaan, bukan bergantian.
Dampaknya sudah terasa di angka ketenagakerjaan. Data Kementerian Ketenagakerjaan mencatat sekitar 83.000 pekerja terkena PHK hingga akhir Oktober/awal November 2026, dengan jumlah terbesar berasal dari industri padat karya berorientasi ekspor seperti tekstil, garmen, dan sepatu β merek-merek seperti Nike, Adidas, Puma, Uniqlo, dan Ralph Lauren termasuk yang disebut terdampak di sisi rantai pasok. Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI), Said Iqbal, memperkirakan angka itu akan menembus 90.000 orang sebelum akhir tahun. Di Jawa Tengah saja, PHK sudah mencapai 6.604 orang hingga Juli 2026, dan sektor tekstil-garmen menyumbang 51,4% dari total itu. Ini belum termasuk bayang-bayang kolapsnya Sritex pada awal 2025 yang memberhentikan hampir 11.000 karyawan β sebuah peringatan bahwa pabrik tekstil besar sekalipun tidak kebal dari tekanan ini.
Kenapa Skeptisisme Masih Beralasan
Bukan berarti semua pihak optimis. Peneliti INDEF menilai sebagian besar narasi deregulasi ini masih berat di retorika dan belum cukup didukung penjelasan teknis-fiskal yang konkret β misalnya, belum jelas berapa lama proses Pertek akan dipangkas, atau kapan aturan turunannya benar-benar terbit. Kendali negara yang lebih kuat atas sektor ekspor strategis, menurut INDEF, juga belum tentu menyelesaikan praktik jual di bawah harga pasar yang justru datang dari luar β bukan dari eksportir Indonesia sendiri.
Celios bahkan punya hitungan yang lebih ekstrem dari skenario sebelum negosiasi tarif selesai: pada saat tarif AS masih berpotensi 32%, mereka memperkirakan potensi kehilangan serapan kerja hingga 1,2 juta orang, penurunan nilai ekspor Rp105,98 triliun, dan koreksi pendapatan masyarakat Rp143,87 triliun. Angka itu sebagian sudah tidak relevan sejak tarif turun ke 19%, tapi tetap jadi pengingat seberapa rentan sektor ini terhadap kombinasi tekanan eksternal dan internal sekaligus. Yang jadi catatan kritis: kalau Permendag 5 dan 6 Tahun 2026 sudah berlaku sejak April tapi angka PHK tetap naik sampai November, itu tanda bahwa masalahnya bukan cuma kurang aturan baru β tapi eksekusi dan kecepatan implementasi aturan yang sudah ada.
Apa Artinya Buat Kamu
Kalau kamu masih karyawan dan ingin mulai usaha
Kalau relaksasi Pertek dan penghapusan kuota impor benar-benar terealisasi, biaya dan waktu untuk mengimpor bahan baku produksi ekspor bisa turun signifikan β ini peluang nyata buat yang mau masuk ke rantai pasok ekspor. Tapi jangan nekat head-to-head di produk komoditas massal seperti kain polos atau pakaian dasar, karena di situ kamu akan langsung berhadapan dengan barang dumping China yang harganya bahkan di bawah ongkos produksi normal. Lebih realistis cari ceruk bernilai tambah β misalnya produk dengan sertifikasi khusus, desain custom, atau jadi pemasok tier-2/tier-3 untuk eksportir besar yang butuh fleksibilitas kapasitas. Sebelum serius, pantau dulu terbitnya aturan turunan resminya β sampai 8 November 2026, ini masih berupa arahan, belum regulasi yang bisa langsung dipakai.
Kalau kamu sudah punya bisnis
Untuk eksportir tekstil-garmen yang sudah berjalan, momen ini layak dipakai menghitung ulang: berapa lama proses Pertek kamu sekarang, dan apakah pelonggaran yang dijanjikan benar-benar memangkas waktu itu. Manfaatkan keunggulan tarif AS 19% yang lebih rendah dari Vietnam dan Bangladesh untuk bergerak ke produk bernilai tambah, bukan tetap bertahan di komoditas dasar yang paling rentan terhadap tekanan harga dumping. Kalau kamu mengandalkan bahan berbasis kulit, cek skema sertifikasi halal yang disebut akan dilonggarkan. Soal skema PKWT musiman dan bebas PPN outsourcing, itu bisa jadi alat mengatur ongkos tenaga kerja saat order naik-turun β tapi jangan taruh seluruh strategi bisnis di atas kebijakan yang belum final bentuk hukumnya.
Kalau kamu pekerja di sektor manufaktur berorientasi ekspor
Skema PKWT musiman yang baru berarti kontrak kerja berpotensi lebih fleksibel bagi perusahaan β tapi fleksibel bagi perusahaan sering berarti kurang stabil bagi pekerja. Kalau kamu di sektor tekstil-garmen-sepatu, ini saatnya rutin cek status perusahaan tempat kerja, pastikan hak Jaminan Kehilangan Pekerjaan (JKP) kamu aktif, dan ikuti perkembangan lewat serikat pekerja soal isu pesangon yang menurut KSPI masih sering tidak jelas penyelesaiannya saat pabrik tutup.
Yang Perlu Dipantau
Terbitnya aturan turunan resmi β Permendag, Peraturan Pemerintah, atau Peraturan Menteri Keuangan yang mengatur detail pelonggaran Pertek dan penghapusan kuota impor. Sampai awal November 2026 ini masih arahan lisan, belum payung hukum.
Data ekspor BPS Oktober 2026, biasanya rilis pertengahan November β lihat apakah tren pertumbuhan manufaktur/tembaga tetap menutupi pelemahan sektor tekstil-garmen.
Angka PHK resmi akhir November 2026 dari Kemnaker dan KSPI β konfirmasi apakah benar menembus 90.000 orang seperti proyeksi Said Iqbal.
Keputusan KADI soal bea masuk antidumping untuk produk tekstil dan benang asal China β ini penentu apakah banjir barang dumping akan direm di hilir, melengkapi relaksasi di hulu.
Progres pembentukan BUMN Tekstil Danantara β apakah betul-betul terbentuk atau sekadar wacana yang menguap seperti banyak rencana konsolidasi industri sebelumnya.
Penutup
Yang menarik dari arahan ini bukan soal bahan baku atau Pertek-nya, tapi pengakuannya: pemerintah akhirnya menyebut langsung bahwa musuh eksportir Indonesia bukan cuma Trump dan tarifnya yang 19%. Tarif itu, nyatanya, sudah paling ringan di antara kompetitor ASEAN. Yang pelan-pelan menggerogoti pabrik tekstil dari dalam adalah aturan rumit buatan sendiri dan barang dumping yang masuk lewat pintu yang sama longgarnya. Deregulasi kali ini akan jadi ujian apakah pemerintah serius membenahi rumah sendiri β atau cuma jadi daftar niat baik lain yang kalah cepat dari laju PHK di lapangan.
Sumber
CNBC Indonesia β "Pemerintah Sisir Aturan Penghambat Ekspor, Ada Kebijakan Baru!"
Liputan6 β "Prabowo Minta Syarat Bahan Baku Tekstil Ditinjau, Barang Impor Ilegal Ditindak"
Indikator Bisnis β "Pemerintah Longgarkan Pertek Impor Bahan Baku Tekstil, PKWT Diatur Ulang"
Sawit Indonesia β "Presiden Prabowo Dorong Penyederhanaan Aturan Ekspor Indonesia"
CNN Indonesia β "Serikat Pekerja Taksir Korban PHK RI Tembus 90 Ribu Orang Tahun Ini"
CNN Indonesia β "Banjir Produk China, Ini 5 Negara Paling Banyak Impor ke RI"
Katadata β "Tarif AS untuk RI Lebih Kecil dari Vietnam dan Thailand, Daya Saing akan Unggul?"
Jakarta Globe β "US Tariff Cut Gives Indonesia Edge Over Vietnam, Bangladesh in Textile Exports"
Tempo β "KADI Bersurat ke WTO terkait Dumping Impor Benang Cina"
Bisnis Indonesia β "Pengusaha Sebut Utilitas Pabrik Tekstil Hanya 50% Imbas Banjir Barang Impor"
Media Indonesia β "Sebanyak 6.604 Pekerja di Jateng Terkena PHK, Industri Tekstil dan Garmen Dominan"
Investor Trust / BPS β Data ekspor Indonesia Januari-September 2026
JPNN / Investor Trust β Catatan kritis Celios terhadap perjanjian dagang AS-RI (ART)
BeritaSatu β "Tarif Impor ke AS Turun Jadi 19 Persen, Industri Garmen RI Diuntungkan"
Liputan6 / Detik β Profil penutupan PT Sri Rejeki Isman (Sritex) dan PHK karyawannya