Lewati ke konten
blabak.

Prompt Engineer Usang Sebelum Setahun: Giliran Skill Apa Lagi yang Bakal Menyusul?

Skill yang baru masuk Prakerja Mei 2026 kini mulai digantikan "agentic workflow". Data lengkap siapa untung, siapa rugi, dan skill apa yang sebenarnya aman.

Yusuf FS9 menit baca

Ringkasan Cepat

  • Lima bulan lalu, Blabak menulis soal prompt engineering masuk kurikulum Kartu Prakerja (27 Mei 2026) sebagai skill AI yang dibayar mahal. Sekarang, skill itu sudah mulai dianggap usang β€” bukan karena sia-sia, tapi karena perannya diserap ke dalam disiplin yang lebih besar: agentic workflow (sistem AI yang merencanakan dan menjalankan rangkaian tugas sendiri, bukan cuma menjawab satu perintah).

  • Di database karier RezScore (AS, Januari 2026), dari 66.785 resume yang dianalisis, cuma 5 yang mencantumkan "Prompt Engineer" sebagai jabatan resmi β€” tapi 7.359 lowongan tetap menyebut skill itu sebagai syarat, biasanya menempel di jabatan lain.

  • Skill pengganti yang kini jadi rebutan: agent orchestration (mengatur beberapa AI agent bekerja sama tanpa macet). Secara global, porsi lowongan yang menyebut skill agentic naik dari 0,06% (2024) jadi 0,23% (2025) β€” sekitar 90.000 lowongan di AS saja.

  • Di Indonesia, BPS mencatat tingkat pengangguran terbuka 4,65% per Mei 2026, setara sekitar 7,2 juta orang dari 155,41 juta angkatan kerja β€” dan program reskilling pemerintah baru menjangkau sekitar 2 juta dari 140 juta pekerja aktif.

  • Twist keduanya: skill "agentic workflow" yang sekarang digadang-gadang sebagai penyelamat karier pun diprediksi Gartner bakal mengalami masa suram β€” lebih dari 40% proyek agentic AI diperkirakan dibatalkan korporasi pada akhir 2027 karena biaya membengkak dan nilai bisnisnya tidak jelas.

Dari "Skill Mahal" Jadi "Skill Standar" dalam Lima Bulan

Mei lalu ceritanya masih sederhana: ChatGPT dan sejenisnya butuh orang yang pintar merangkai kalimat perintah (prompt) supaya hasilnya maksimal, dan pemerintah menganggap itu cukup penting untuk dimasukkan ke kurikulum Kartu Prakerja. Logikanya masuk akal β€” saat itu, siapa yang bisa "berbicara" dengan AI secara efektif punya nilai jual lebih.

Lima bulan kemudian, logika itu sudah berubah. Bukan karena menulis prompt jadi tidak berguna, tapi karena modelnya sendiri sudah terlalu pintar untuk butuh "penerjemah ahli". RezScore, basis data karier yang menganalisis puluhan ribu resume di Amerika Serikat, menemukan bahwa pada Januari 2026 hanya 5 dari 66.785 resume yang mencantumkan "Prompt Engineer" sebagai jabatan sungguhan. Bandingkan dengan 140.068 lowongan untuk posisi Software Engineer biasa β€” rasionya jomplang.

Tapi ini bukan berarti skill-nya mati. Studi lain mencatat judul pekerjaan "Prompt Engineer" turun sekitar 30% antara 2024–2026, sementara tag skill "prompt engineering" di LinkedIn justru naik sekitar 250% pada periode yang sama. Kontradiksi ini sebenarnya cocok logis: perusahaan berhenti merekrut spesialis tunggal yang cuma bisa menulis prompt, dan mulai menuntut skill itu menempel di peran lain β€” developer, data scientist, product manager, bahkan desainer UX. Prompt engineering berubah dari jabatan jadi "bumbu wajib", bukan hidangan utama.

Dari Satu Kalimat Perintah ke Satu Sistem yang Jalan Sendiri

Yang menggantikan posisinya bukan skill tunggal lain, melainkan satu lompatan level: dari menulis instruksi ke merancang sistem. Inilah yang disebut agentic workflow β€” rangkaian AI agent yang bisa merencanakan langkah, memanggil alat (tool) lain seperti kalender atau database, mengerjakan tugas berurutan, dan baru berhenti atau meminta persetujuan manusia kalau menemui situasi di luar batas yang sudah ditentukan.

Spesialisasi yang muncul untuk mengelola sistem ini disebut agent orchestration β€” kira-kira seperti dirigen orkestra yang memastikan satu agent menyerahkan tugas ke agent berikutnya tanpa tabrakan atau macet di tengah jalan. Di Amerika Serikat, skill ini kini jadi yang paling dicari di antara seluruh skill terkait AI untuk 2026, menurut data LinkedIn, dengan pertumbuhan lowongan sekitar 280% dalam setahun. Developer yang menguasai LangGraph β€” salah satu framework agent paling populer β€” mencatat median gaji US$209.500 per tahun, jauh di atas median gaji software engineer umum di AS yang biasanya di kisaran US$120 ribuan.

Konsep turunannya juga berubah nama: alih-alih "prompt engineering", sekarang orang menyebutnya context engineering β€” merancang seluruh informasi, alat, dan batasan yang dilihat AI sebelum ia bertindak, bukan cuma menulis satu kalimat perintah yang rapi. Prompt yang dulu jadi pusat kerja, sekarang cuma satu komponen kecil dari sistem yang jauh lebih rumit.

Angka yang Tidak Muncul di Headline

Di sinilah bagian yang justru lebih mengkhawatirkan daripada sekadar "skill lama digantikan skill baru". Gartner β€” lembaga riset teknologi yang rutin memetakan hype siklus teknologi β€” merilis Hype Cycle khusus untuk Agentic AI pada April 2026, dan menempatkan teknologi ini tepat di titik "puncak ekspektasi berlebihan" yang mulai menukik ke "lembah kekecewaan" (fase ketika orang sadar teknologinya belum semulus yang dijanjikan).

Gartner memprediksi lebih dari 40% proyek agentic AI di perusahaan akan dibatalkan sebelum akhir 2027, karena biaya operasionalnya membengkak, nilai bisnisnya tidak jelas, dan kontrol risikonya belum matang. Lebih tajam lagi: dari ribuan vendor yang mengklaim produknya "agentic", Gartner memperkirakan hanya sekitar 130 yang benar-benar memenuhi definisi agen otonom β€” sisanya cuma chatbot atau skrip otomatisasi lama yang dibungkus ulang, praktik yang mereka sebut "agent washing".

Artinya, skill yang hari ini dibayar mahal sebagai penyelamat karier pasca-prompt-engineering pun tidak otomatis aman dari nasib yang sama. Riset McKinsey Global Institute memperkirakan AI akan memangkas permintaan sekitar 36 juta pekerjaan di Amerika Serikat pada 2035, sambil menciptakan sekitar 41 juta pekerjaan baru β€” tapi dari jumlah yang berpindah pekerjaan, cuma satu dari tujuh pekerja yang punya jalur langsung ke pekerjaan baru tanpa pelatihan ulang besar-besaran. Hambatannya bukan jumlah lowongan baru yang kurang, tapi infrastruktur mobilitas kariernya yang tidak siap.

Indonesia: Gegap Gempita di Atas, Kenyataan yang Lebih Pelan di Bawah

Semua angka gaji fantastis di atas perlu ditakar ulang begitu dipindah ke konteks Indonesia. Lowongan AI Engineer dan AI Agent Engineer di Jakarta memang ada dan nyata β€” rentang gaji yang beredar di JobStreet dan Indeed sekitar Rp17–30 juta per bulan untuk posisi agentic AI/RAG (sistem yang menggabungkan pencarian data dengan jawaban AI). Itu lima sampai sembilan kali lipat dari rata-rata upah buruh nasional yang menurut BPS per Mei 2026 ada di Rp3,39 juta per bulan. Tapi pembandingnya curang kalau tidak disebutkan: lowongan semacam ini masih sangat terbatas jumlahnya, mayoritas butuh skill coding yang tidak dipunya kebanyakan pencari kerja.

Sementara itu, lowongan "Prompt Engineer" sendiri di Indonesia masih ada β€” sekitar 317 posting di JobStreet per Mei 2026 dan 93 di Indeed per Juni 2026 β€” tapi datanya sulit dibandingkan secara historis karena belum ada seri waktu yang dipublikasikan resmi. Yang jelas, angkanya kecil dibanding skala angkatan kerja Indonesia yang mencapai 155,41 juta orang.

Ekonom CELIOS (Center of Economic and Law Studies), Bhima Yudhistira, punya kriteria tegas soal pekerjaan mana yang paling rentan: pekerjaan yang repetitif, berproses panjang tapi bisa disederhanakan, dan β€” ini yang sering dilupakan β€” pekerjaan "kreatif" yang ternyata kini bisa dibantu AI. Dalam daftarnya: content creator, scriptwriter, copywriter, jurnalis digital, digital marketing, dan riset pasar. Pekerja semi-skill juga masuk kategori rawan.

Yang lebih mengkhawatirkan Bhima bukan skill individunya, tapi kesiapan negara. Direktur INDEF untuk kajian makro, Rizal Taufiqurrahman, menilai pemerintah masih bersikap reaktif, bukan proaktif, menghadapi disrupsi ini β€” sambil mencatat bahwa pengangguran sudah menyentuh sekitar 7,2 juta orang (sejalan dengan rilis TPT 4,65% BPS Mei 2026) dan program vokasi nasional masih stagnan. Data ILO yang ia kutip lebih tajam lagi: lebih dari 60% pekerja di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, belum punya skill digital dasar untuk beradaptasi dengan ekonomi berbasis AI. Program reskilling andalan pemerintah β€” Digital Talent Scholarship dan Kartu Prakerja Digital β€” baru menjangkau sekitar 2 juta orang dari total 140 juta pekerja aktif. Itu kurang dari 1,5% populasi pekerja.

Soal klaim "50.000 pekerja Indonesia kena PHK akibat AI" yang beredar dari pernyataan pejabat Kemenparekraf β€” perlu dibaca hati-hati. Sumber data primernya tidak pernah dirinci publik, beda dengan data resmi Kemnaker yang mencatat 43.805 pekerja terdampak PHK sepanjang Januari–Juli 2026 secara umum (bukan spesifik karena AI). Klaim besar soal AI sebagai penyebab PHK sering lebih mudah dijual sebagai narasi ketimbang dibuktikan dengan data yang bisa ditelusuri β€” itu sendiri satu pelajaran penting sebelum ikut panik massal.

Di sisi lain, pemerintah tidak diam saja. Kemnaker menggandeng Indosat dan Wadhwani Foundation menargetkan 1 juta talenta digital dan 100.000 pengusaha domestik lewat 24 Balai Latihan Kerja, mengintegrasikan platform AI JobReady dan Genie AI ke sistem SIAPKerja. Menteri Ketenagakerjaan Yassierli sendiri mengakui AI "akan mengubah dunia kerja secara masif" β€” tapi antara pengakuan dan skala masalah (7,2 juta pengangguran, 155 juta angkatan kerja) ada jarak yang masih jauh.

Apa Artinya Buat Kamu

Kalau kamu masih karyawan dan ingin mulai usaha

Jangan buru-buru ambil kursus "agentic workflow specialist" dan berharap itu tiket aman seumur hidup β€” catatan Gartner soal 40% proyek agentic yang bakal dibatalkan 2027 adalah pengingat bahwa label skill bisa berubah lagi dalam hitungan bulan, bukan tahun. Yang lebih tahan lama adalah kemampuan mengevaluasi hasil kerja AI (apakah jawabannya benar, apakah logikanya masuk akal) dan memahami biaya operasional sebuah sistem otomatis β€” dua skill yang disebut tetap relevan di hampir semua peran baru terkait AI, dari AI Trainer sampai AI Operations Manager.

Kalau kamu berniat membuka usaha berbasis AI β€” jasa otomatisasi, konsultasi workflow, atau reseller tool AI untuk UMKM β€” pasar lokal memang nyata tapi masih sempit. Lowongan agentic engineer di Jakarta masih terhitung ratusan, bukan ribuan. Mulai dari skala kecil: tawarkan otomatisasi proses spesifik (misalnya alur customer service atau rekonsiliasi laporan) ke bisnis yang kamu kenal langsung, bukan jasa generik "bikin AI agent" yang sulit dijual ke UMKM awam.

Kalau kamu sudah punya bisnis

Jangan buru-buru ganti seluruh tim konten atau customer service dengan sistem agentic hanya karena sedang tren. Gartner mencatat kegagalan proyek agentic di perusahaan besar sering berakar dari biaya tersembunyi dan kontrol risiko yang diremehkan β€” kalau perusahaan sekelas Oracle, Amazon, dan Salesforce (yang ikut memangkas puluhan ribu karyawan dengan alasan efisiensi AI sepanjang 2026) masih kesulitan menghitung ROI-nya, bisnis kecil berisiko lebih besar kalau asal ikut-ikutan tanpa ukuran yang jelas.

Yang lebih realistis: mulai dari satu proses yang paling repetitif dan paling mahal biayanya, uji sistem agentic di situ dulu, baru perluas kalau terbukti hemat biaya nyata β€” bukan sekadar terasa canggih. Pekerja yang terdampak penyederhanaan proses sebaiknya dialihkan ke peran yang butuh judgment manusia (review kualitas, hubungan klien), bukan langsung dirumahkan β€” selain alasan etis, biaya rekrutmen ulang saat kebutuhan berubah lagi biasanya lebih mahal dari biaya menahan karyawan yang sudah paham bisnis kamu.

Kalau kamu pekerja atau pencari kerja biasa

Realitas paling jujur: skala disrupsi ini di Indonesia masih jauh lebih kecil dari narasinya, tapi kesenjangan kesiapannya nyata. Dengan program reskilling pemerintah yang baru menjangkau sekitar 1,5% dari total pekerja aktif, jangan menunggu pelatihan gratis datang β€” ambil kursus dasar yang murah atau gratis dulu (banyak platform MOOC menawarkan modul context engineering dan evaluasi AI tanpa bayar), fokus ke kemampuan memverifikasi output AI di bidang kerjamu sendiri, bukan sekadar hafal istilah baru yang viral.

Yang Perlu Dipantau

  • 5 Agustus 2026 β†’ rilis TPT berikutnya oleh BPS (biasanya Februari, Mei, Agustus, November) β€” perhatikan apakah tren underemployment (33,2% pekerja tidak penuh per Mei 2026) membaik atau memburuk.

  • Akhir 2027 β€” titik yang disebut Gartner sebagai batas waktu realisasi prediksi 40% proyek agentic AI dibatalkan korporasi; kalau prediksi ini benar, ekspektasi gaji tinggi untuk spesialis agentic bisa ikut terkoreksi.

  • Progres target Kemnaker-Indosat-Wadhwani mencetak 1 juta talenta digital via 24 BLK β€” pantau apakah angka realisasinya dipublikasikan rutin atau cuma klaim seremonial.

  • LinkedIn "Skills on the Rise" edisi berikutnya (biasanya awal tahun) β€” untuk melihat apakah agent orchestration masih memuncak atau sudah mulai digantikan skill lain yang lebih baru lagi.

  • Data PHK Kemnaker triwulanan β€” untuk mengecek konsistensi klaim "PHK akibat AI" dengan data resmi yang bisa ditelusuri, bukan sekadar pernyataan pejabat.

Penutup

Prompt engineering tidak mati karena gagal β€” ia mati karena berhasil terlalu cepat diserap jadi standar, dan giliran berikutnya sudah mengantre sebelum yang lama sempat dirayakan lama-lama. Pelajaran sesungguhnya bukan "cepat-cepat kuasai agentic workflow sebelum telat", karena skill itu pun punya tanggal kedaluwarsanya sendiri menurut proyeksi Gartner. Yang sebenarnya perlu kamu kuasai adalah kebiasaan untuk terus curiga pada setiap skill yang disebut "wajib dikuasai sekarang" β€” sambil tetap membangun kemampuan menilai, bukan sekadar mengoperasikan, apa pun alat yang sedang tren hari ini.

Sumber

  • RezScore β€” analisis data resume dan lowongan prompt engineering 2026

  • LinkedIn β€” laporan "Skills on the Rise" 2026 dan data pertumbuhan skill agent orchestration

  • Gartner β€” Hype Cycle for Agentic AI, April 2026

  • McKinsey Global Institute β€” riset future of jobs dan perpindahan tenaga kerja akibat AI

  • World Economic Forum β€” "Four Futures for Jobs in the New Economy" dan laporan Davos 2026

  • Badan Pusat Statistik (BPS) β€” rilis Tingkat Pengangguran Terbuka Mei 2026

  • CELIOS β€” pernyataan ekonom Bhima Yudhistira soal pekerjaan berisiko digantikan AI

  • INDEF β€” pernyataan Rizal Taufiqurrahman soal kesiapan reskilling pemerintah

  • Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) β€” data PHK Januari–Juli 2026 dan program pelatihan AI bersama Indosat dan Wadhwani Foundation

  • CNBC Indonesia, Kompas, Telset, iNews β€” kompilasi data PHK korporasi global terkait AI 2026

  • JobStreet dan Indeed Indonesia β€” data lowongan prompt engineer dan AI/agentic engineer 2026