Lewati ke konten
blabak.

RBA ke 4,85%, BoE ke 4%: Tiga Bank Sentral Mengepung Rupiah dari Tiga Arah Sekaligus

RBA dan BoE ikut naikkan bunga bareng The Fed akibat inflasi energi perang Iran — bikin BI makin terjepit menurunkan BI-Rate meski inflasi RI terkendali.

Yusuf FS10 menit baca

Ringkasan Cepat

  • Reserve Bank of Australia (RBA) menaikkan suku bunga acuan 0,25 persen ke 4,85% pada 3 November 2026 — tertinggi sejak akhir 2008, dan kenaikan kelima sepanjang 2026.

  • Dua hari berselang, Bank of England (BoE) menaikkan bunga ke 4%, kenaikan pertamanya sejak 2023, sambil memperingatkan inflasi Inggris bisa menyentuh 5% pada pertengahan 2027.

  • Pemicunya sama: perang di Iran yang berjalan sejak Februari 2026 membuat harga minyak dunia melonjak, memaksa negara-negara maju net-importir energi menaikkan bunga di tengah ekonomi yang justru melambat — kombinasi yang ekonom sebut gejala stagflasi (harga naik, ekonomi melambat bersamaan).

  • Ini bukan sekadar "The Fed mau naik bunga Desember" seperti biasanya. Tiga bank sentral negara maju mengetatkan hampir bersamaan, menutup ruang Bank Indonesia menurunkan BI-Rate meski inflasi domestik 3,23% masih terkendali.

  • BI sudah menahan BI-Rate di 5,75% sejak awal tahun, dan rapat 17-18 November ini sebagian ekonom justru memperkirakan BI harus menaikkan, bukan menurunkan, bunganya.

Dari Teheran ke Canberra: Satu Perang, Tiga Bank Sentral

Perang di Iran yang meletus Februari 2026 awalnya terasa seperti berita geopolitik yang jauh dari dompet orang Indonesia. Tapi gangguan di Selat Hormuz — jalur pelayaran minyak paling sibuk di dunia — membuat harga minyak Brent melonjak hampir 40% dari level sebelum perang, menyentuh US$100,69 per barel pada Juli 2026, penutupan tertinggi dalam empat tahun. Goldman Sachs bahkan memproyeksikan Brent bisa tembus US$120 per barel di kuartal IV 2026 kalau gangguan di Hormuz berlanjut. Per 7 November, harga sudah terkoreksi ke US$98,15 setelah turun lebih dari 16% dalam sepekan — tapi tetap jauh di atas kisaran normal pra-perang di sekitar US$70-75 per barel.

Harga energi yang membara inilah yang mendorong RBA naikkan bunga. Keputusan 3 November itu diputuskan lewat voting terbelah 6-3: enam anggota dewan moneter memilih naik 25 basis poin (0,25 persen) ke 4,85%, tiga lainnya ingin menahan di 4,60%. RBA mengutip inflasi yang "persisten" meski harga rumah mulai melandai dan ekonomi melambat — kombinasi yang membuat kepala ekonom AMP, Shane Oliver, memperingatkan risiko resesi bisa naik hingga 45% kalau RBA terus mengetatkan. Yang membuat angka ini lebih berarti: setahun lalu, Agustus 2025, cash rate RBA justru berada di titik terendah 3,60% di tengah siklus pemangkasan. Dalam 15 bulan, RBA membalik arah total dan menaikkannya 125 basis poin.

Pola serupa terjadi di Inggris. Bank of England menaikkan bunga ke 4% pada 5 November lewat voting 8-1 — satu anggota malah ingin kenaikan 50 basis poin sekaligus ke 4,25%. Gubernur BoE Andrew Bailey menyatakan secara eksplisit: "Tanpa kemajuan nyata menuju penyelesaian konflik di Timur Tengah, risiko terhadap harga energi — dan karenanya terhadap inflasi — mengarah ke atas." Inggris sebagai net-importir energi diproyeksikan menghadapi inflasi 4,5% pada kuartal I 2027 dan mendekati 5% pada pertengahan 2027. Sama seperti RBA, ini adalah pembalikan arah: BoE baru saja menyelesaikan rangkaian pemangkasan bunga tiga kali sepanjang 2025, dari 4,5% ke 3,75%. Sekarang mereka terpaksa putar balik.

The Fed sendiri masih menahan bunga di kisaran 3,75%-4% pada rapat 28 Oktober (voting 10-2), tapi pasar memberi probabilitas sekitar 80-90% untuk kenaikan 25 basis poin pada rapat 9 Desember — didorong inflasi konsumen AS yang masih 3,7% secara tahunan, di atas target Fed.

Tembok Dolar Tiga Lapis: Kenapa Ini Beda dari Biasanya

Selama ini, narasi yang sering dibahas adalah selisih bunga BI-Rate dengan The Fed. Ketika selisih itu menyempit, uang investor asing (capital outflow) cenderung lari dari rupiah ke dolar yang menawarkan imbal hasil lebih menarik dengan risiko lebih rendah. Tapi sepanjang 2025, dinamikanya sebetulnya lebih longgar dari yang terlihat: saat The Fed menahan bunga, RBA dan BoE justru ramai-ramai memangkas bunga mereka — RBA dari 4,35% di akhir 2024 ke 3,60% pada Agustus 2025, BoE dari 4,75% ke 3,75% di akhir 2025. Artinya, dana global yang mencari parkir aman masih punya pilihan: masuk ke aset dolar Australia atau pound sekalipun imbal hasilnya menurun, karena masih ada ruang diversifikasi di luar dolar AS.

Sekarang ruang itu menutup bersamaan. Selisih BI-Rate dengan cash rate RBA menyempit jadi hanya 90 basis poin (5,75% lawan 4,85%) — level tersempit dalam waktu yang lama, dibandingkan 165 basis poin di akhir 2024. Dengan BoE, selisihnya justru melebar jadi 175 basis poin (sama dengan selisih BI terhadap Fed), tapi yang jadi sinyal penting bukan besaran gap-nya, melainkan arah pergerakannya: untuk pertama kalinya sejak 2023, ketiga bunga acuan mata uang negara maju utama — dolar AS, dolar Australia, dan pound sterling — bergerak naik secara serempak, bukan saling berlawanan arah seperti tahun sebelumnya.

Ini yang membuat tekanan terhadap rupiah berbeda karakternya. Bukan cuma soal "uang lari ke dolar AS", tapi soal tidak ada lagi tempat parkir alternatif di negara maju yang imbal hasilnya menurun relatif terhadap rupiah. Riset Peterson Institute for International Economics (PIIE) soal bank sentral negara berkembang menunjukkan pola struktural ini sebenarnya sudah ada sebelum episode ini: probabilitas tak bersyarat bank sentral negara berkembang mengikuti arah The Fed sekitar 60%, dan secara historis kenaikan 100 basis poin oleh Fed rata-rata diikuti kenaikan 50 basis poin di negara berkembang. Bedanya kali ini, tekanan itu datang serempak dari tiga arah, bukan satu. IMF dalam World Economic Outlook April 2026 — bertajuk "Ekonomi Global dalam Bayang-Bayang Perang" — merevisi turun proyeksi pertumbuhan negara berkembang (data global, bukan cuma ASEAN) dari 4,2% ke 3,9% untuk 2026, sementara proyeksi inflasi negara berkembang justru dinaikkan dari 4,8% ke 5,5%.

BI Terjepit: Kenapa Tidak Bisa Sekadar Menunggu

Di dalam negeri, datanya sebenarnya baik-baik saja. BPS mencatat inflasi tahunan Oktober 2026 di 3,23% (turun dari 3,28% di September), masih di dalam kisaran sasaran pemerintah, dengan inflasi inti — yang mengeluarkan harga pangan dan energi yang bergejolak — malah lebih rendah lagi di 2,84%. Ini data domestik Indonesia, dan secara teori memberi ruang bagi BI untuk memangkas bunga guna mendorong konsumsi dan kredit yang melambat.

Tapi ruang itu terkunci oleh tekanan dari luar. Rupiah sudah menembus Rp18.000 per dolar sejak pertengahan 2026 dan masih tertahan di kisaran Rp18.000-18.150 awal November — jauh di atas kisaran yang sempat dianggap "normal" sepanjang 2023-2024 di kisaran Rp15.000-16.500. Ekonom Danamon memproyeksikan rupiah bertahan di sekitar Rp18.032 hingga akhir 2026. Guru Besar FEB Unair, Rahma Gafmi, menyebut rupiah "seolah berada dalam posisi tanpa tameng yang memadai jika hanya mengandalkan instrumen pasif" — intervensi BI di pasar spot dan transaksi forward hanya berfungsi sebagai peredam kejut jangka pendek, bukan penangkal tren fundamental yang digerakkan pergerakan yield obligasi global.

Karena menaikkan BI-Rate berisiko mencekik kredit dan konsumsi yang sudah melambat, sementara menurunkannya berisiko mempercepat pelarian modal, BI memilih jalan tengah lewat instrumen di luar suku bunga acuan. Mulai November 2026, BI menurunkan Giro Wajib Minimum (GWM — dana wajib yang harus diparkir bank di BI) bank konvensional secara bertahap dari 9% jadi 7%, dan bank syariah dari 7,5% jadi 5,5%, menyuntikkan tambahan likuiditas sekitar Rp190 triliun ke sistem perbankan. Ini cara BI melonggarkan kondisi kredit tanpa harus memangkas bunga acuan yang bisa memperlebar tekanan ke rupiah. Sementara itu, BI juga tercatat membeli Surat Berharga Negara (SBN) senilai Rp135 triliun di pasar sekunder sampai Oktober 2026 untuk menahan gejolak pasar obligasi akibat investor asing yang terus melepas aset Indonesia.

Pada rapat 17-18 November, 38 ekonom dan analis yang disurvei terbelah: 19 memperkirakan BI menahan di 5,75%, 17 memperkirakan naik ke 6%, dan 2 memperkirakan naik lebih jauh ke 6,25%. Tidak ada satu pun yang memperkirakan penurunan — padahal di awal tahun arah ekspektasinya justru sebaliknya.

Pabrik Garmen Jawa Barat di Tengah Dua Angka yang Tampak Bertentangan

Di lapangan, tekanan ini punya wajah yang konkret. Kementerian Ketenagakerjaan mencatat 72.336 pekerja terkena PHK sepanjang Januari-Oktober 2026, dengan Jawa Barat sebagai provinsi paling terdampak — pusat industri padat karya seperti tekstil, garmen, dan alas kaki yang sebagian besar produknya diekspor, termasuk ke Inggris dan Australia. Ekspor furnitur Indonesia sendiri turun 12,1% pada kuartal I 2026, meski tekstil justru naik 12% berkat diversifikasi pasar ke Afrika.

Angka ini tampak bertentangan dengan data lain: PMI manufaktur Indonesia (indeks aktivitas industri, di atas 50 berarti ekspansi) justru melesat ke 54,0 pada Oktober 2026 — tertinggi sejak Maret 2024, dengan pesanan baru tumbuh paling cepat sejak Oktober 2021. Bagaimana mungkin industri manufaktur secara agregat ekspansif sementara PHK terus bertambah? Jawabannya ada di komposisi sektor: ekspansi PMI banyak digerakkan permintaan domestik dan sektor-sektor yang tidak padat karya, sementara justru subsektor padat karya berorientasi ekspor ke negara maju — tekstil, garmen, alas kaki, furnitur — yang paling terpukul oleh kombinasi pelemahan daya beli konsumen Inggris dan Australia (akibat bunga tinggi di negara mereka sendiri) dan ketidakpastian kurs yang membuat pembeli asing menahan kontrak jangka panjang. Industri yang bertumbuh dan industri yang mem-PHK karyawan adalah industri yang berbeda.

Konsumen domestik juga terkena getahnya, meski lebih halus: minyak dunia yang mahal menambah beban subsidi energi pemerintah dan berisiko merembes ke harga barang berbasis impor, mulai dari bahan baku plastik hingga komponen elektronik.

Apa Artinya Buat Kamu

Kalau kamu masih karyawan dan ingin mulai usaha

Ini bukan waktu ideal untuk memulai usaha yang bahan bakunya 100% impor atau targetnya ekspor ke Inggris/Australia — dua pasar itu sedang mengalami pengetatan daya beli di level domestik mereka. Kalau rencana usahamu memang harus impor, mulai dari skala kecil dan beli bertahap, jangan all-in di satu waktu saat kurs sedang buruk. Tunggu kejelasan dari RDG BI 17-18 November dan keputusan The Fed 9 Desember sebelum mengambil keputusan modal besar — dua minggu ke depan akan menentukan arah BI-Rate setidaknya untuk kuartal pertama 2027. Kalau kamu masih berstatus karyawan di sektor manufaktur padat karya ekspor (tekstil, garmen, alas kaki, furnitur), ini saatnya membangun dana darurat lebih tebal dari biasanya — data PHK menunjukkan sektor ini yang paling rentan, bukan cerita motivasi, tapi fakta dari Kemnaker sendiri.

Kalau kamu sudah punya bisnis

Kalau bisnismu mengimpor bahan baku dalam dolar, pertimbangkan hedging (mengunci nilai tukar di awal transaksi supaya tidak kaget kalau rupiah makin melemah) untuk kontrak jangka menengah — jangan menunggu rupiah "membaik dulu", karena tiga bank sentral besar bergerak serempak dan ruang BI untuk membalik tren ini terbatas. Kalau kamu ekspor ke Inggris atau Australia, mulai diversifikasi pasar seperti yang dilakukan industri tekstil ke Afrika — jangan taruh seluruh portofolio ekspor di dua negara yang konsumennya sedang terjepit bunga tinggi sendiri. Kalau kamu punya pinjaman berdenominasi dolar, hitung ulang proyeksi cashflow dengan skenario rupiah di kisaran Rp18.000-18.500, bukan skenario optimis Rp17.000-an.

Buat kamu yang sekadar konsumen biasa

Awasi harga barang berbahan baku impor dan BBM nonsubsidi — rupiah yang lemah plus minyak dunia yang mahal adalah kombinasi yang biasanya merembes ke harga di rak toko dalam 1-3 bulan. Kalau kamu bekerja di industri padat karya berorientasi ekspor, update CV dan jaringanmu sekarang, bukan setelah surat PHK datang.

Yang Perlu Dipantau

  • 17-18 November 2026 — RDG Bank Indonesia: tahan di 5,75% atau naik ke 6%? Pasar sudah terbelah hampir rata.

  • 9 Desember 2026 — Rapat FOMC The Fed: probabilitas kenaikan ke 4,00-4,25% sudah di atas 80%.

  • 7-8 Desember 2026 — Rapat RBA berikutnya, akan menentukan apakah 4,85% jadi puncak siklus atau masih ada kenaikan keenam.

  • 17 Desember 2026 — Rapat BoE berikutnya; pasar memberi probabilitas sekitar 25% untuk kenaikan lanjutan.

  • Harga minyak Brent dan situasi Selat Hormuz — Goldman Sachs memperingatkan potensi tembus US$120/barel di kuartal IV 2026 kalau gangguan pelayaran berlanjut; ini variabel yang paling menentukan arah semua bank sentral di atas.

  • Data PHK Kemnaker dan inflasi BPS bulan November — rilis awal Desember, akan jadi penentu apakah pelonggaran GWM BI cukup menahan perlambatan tanpa memicu lonjakan harga baru.

Penutup

Yang berubah bukan cuma angka di papan suku bunga — yang berubah adalah peta pilihan. Selama ini BI punya ruang bernapas karena ketika satu bank sentral besar mengetatkan, biasanya ada bank sentral besar lain yang melonggarkan, dan uang global masih punya tempat lain untuk singgah selain dolar AS. Sekarang ketiganya menutup pintu di waktu yang hampir sama, didorong perang yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan ekonomi Indonesia. Inflasi rendah di dalam negeri, yang biasanya jadi modal BI untuk melonggarkan, kini cuma jadi bukti bahwa masalahnya bukan di dalam negeri — dan justru karena itu, BI tidak bisa menyelesaikannya sendirian lewat satu angka di layar.

Sumber

  • ABC News Australia — liputan langsung keputusan RBA 3 November 2026

  • Reserve Bank of Australia — siaran pers Monetary Policy Board

  • CNBC — liputan keputusan Bank of England menaikkan bunga ke 4%

  • Federal Reserve (H.15 Selected Interest Rates) dan FRED — data suku bunga The Fed

  • IMF — World Economic Outlook April 2026, "Global Economy in the Shadow of War"

  • IMF — Global Financial Stability Report April 2026

  • Peterson Institute for International Economics (PIIE) — analisis bank sentral negara berkembang mengikuti The Fed

  • Badan Pusat Statistik (BPS) — rilis inflasi Oktober 2026

  • Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) — data PHK Januari-Oktober 2026

  • S&P Global / Katadata — rilis PMI Manufaktur Indonesia Oktober 2026

  • Bank Indonesia — siaran pers RDG dan ketentuan GWM

  • Kontan — wawancara ekonom soal "tameng" rupiah dan proyeksi BI-Rate

  • Bisnis.com, CNBC Indonesia — proyeksi dan dilema kebijakan BI-Rate

  • Sindonews, Kalderanews — data pembelian SBN BI dan arus keluar modal asing