Tabungan Kelas Bawah Makin Terkikis: Membedah Angka di Balik "Ekonomi Berbentuk K" Kuartal III-2026
Survei BI September 2026: belanja naik ke 74,9% dari pendapatan, tabungan tergerus ke 15,4%. Data terbaru ungkap siapa sebenarnya menanggung bebannya.
Daftar isi9 bagian
Ringkasan Cepat
Survei Konsumen Bank Indonesia September 2026 mencatat porsi pendapatan masyarakat yang habis untuk konsumsi naik ke 74,9% β tertinggi tahun ini β sementara porsi yang berhasil ditabung tergerus ke 15,4%, turun lima bulan beruntun sejak puncaknya 18,2% pada April 2026.
Laju pengikisan tabungan ini mempercepat tajam: dari hanya turun 0,6 poin persentase sepanjang kuartal II-2026, jadi longsor 1,6 poin persentase sepanjang kuartal III-2026 β hampir tiga kali lebih cepat dalam satu kuartal.
Ekonom PermataBank memproyeksikan konsumsi rumah tangga nasional tumbuh 5,16% dibanding periode sama tahun lalu di kuartal III-2026, sedikit naik dari 5,06% di kuartal II β tapi angka resmi dari Badan Pusat Statistik (BPS) baru terbit 5 November, dan ekonom yang membuat proyeksi itu sendiri bilang kenaikannya "belum mencerminkan pemulihan daya beli yang kuat."
Di balik rata-rata nasional itu ada jurang yang lebih tajam: indeks tabungan kelompok berpendapatan bawah versi Mandiri Spending Index jatuh ke titik terendah sepanjang data sejak Januari 2024, sementara indeks tabungan kelompok atas justru naik.
PHK terus bertambah β 63.789 pekerja terkena pemutusan hubungan kerja sejak Januari hingga September 2026 β persis saat para bos perusahaan bilang konsumen makin pelit dan selektif dalam berbelanja.
Angka yang Sama, Dua Cerita Berbeda
Kalau kamu cuma baca judul-judul berita minggu ini, ekonomi Indonesia kelihatan baik-baik saja. Konsumsi rumah tangga β mesin utama ekonomi RI yang menyumbang lebih dari separuh Produk Domestik Bruto (PDB, total nilai barang dan jasa yang diproduksi dalam negeri) β diproyeksikan ekonom PermataBank tumbuh 5,16% secara tahunan di kuartal III-2026 (JuliβSeptember), sedikit lebih kencang dibanding 5,06% di kuartal sebelumnya. Angka ini masih proyeksi, bukan rilis resmi: BPS baru akan mengumumkan pertumbuhan ekonomi kuartal III-2026 pada 5 November, dan kisaran proyeksi para ekonom cukup rapat di 5,0%β5,3%.
Tapi angka pertumbuhan yang "naik tipis" itu menyembunyikan cerita yang jauh lebih runcing kalau kamu masuk ke data bulanan Survei Konsumen Bank Indonesia β survei rutin yang menanyakan langsung ke ribuan rumah tangga: dari setiap Rp100 ribu yang kamu terima, berapa yang kamu belanjakan, berapa yang kamu tabung, dan berapa yang dipakai bayar cicilan? Di September 2026, jawabannya: 74,9% habis untuk belanja, 15,4% masuk tabungan, sisanya untuk cicilan utang. Porsi konsumsi itu naik dari 74,2% di Agustus, dan tabungan turun dari 15,8%. Ini bukan lompatan satu bulan β ini ujung dari tren lima bulan berturut-turut yang konsisten searah: makin banyak dibelanjakan, makin sedikit ditabung.
Semua data di atas adalah data Indonesia, bukan global atau ASEAN β penting disebut karena beberapa negara tetangga seperti Malaysia justru melaporkan perlambatan ekonomi dengan pola yang berbeda di periode yang sama.
Lima Bulan Beruntun Memakan Tabungan β dan Lajunya Makin Cepat
Di sinilah letak kuantifikasi baru yang belum banyak dibahas. Rasio tabungan rumah tangga nasional sebenarnya sempat membaik di awal 2026: dari 17,7% di Februari, naik ke puncaknya 18,2% di April β momentum pasca-Lebaran biasanya membuat orang menahan diri berbelanja besar setelah musim mudik. Dari titik itu, trennya berbalik dan tidak pernah pulih. Di akhir kuartal II-2026 (Juni), rasio tabungan sudah turun ke sekitar 17%. Tiga bulan kemudian, di akhir kuartal III-2026 (September), rasio itu ambruk lebih jauh ke 15,4%.
Kalau dihitung per kuartal, penurunannya cuma 0,6 poin persentase sepanjang kuartal II. Tapi sepanjang kuartal III, penurunannya 1,6 poin persentase β hampir tiga kali lebih cepat. Rumah tangga Indonesia tidak cuma terus memakan tabungan; mereka memakannya dengan kecepatan yang makin kencang setiap kuartal berjalan, tanpa sinyal pengereman dari kenaikan upah atau penciptaan lapangan kerja yang sepadan.
Ada satu nuansa yang wajib ditambahkan biar datanya tidak menyesatkan: dibanding setahun lalu, rasio tabungan September 2026 (15,4%) justru masih lebih tinggi dibanding September 2025 (13,7%). Jadi secara tahunan, rasio tabungan "membaik". Tapi itu karena September 2025 memang titik yang sangat buruk β bukan patokan sehat. Yang lebih relevan untuk melihat arah terkini adalah tren dalam tahun yang sama: dari puncak 18,2% di April ke 15,4% di September, turun 2,8 poin persentase dalam lima bulan, dan percepatan penurunannya baru terasa justru di kuartal III. Dua fakta ini β membaik dibanding tahun lalu, tapi memburuk cepat dibanding beberapa bulan terakhir β sama-sama benar dan sama-sama penting dibaca bersamaan.
Rata-Rata Itu Menipu: yang Benar-Benar "Makan Tabungan" Cuma Kelas Bawah
Angka 74,9%/15,4% di atas adalah rata-rata nasional β digabung dari semua kelas pendapatan. Masalahnya, rata-rata gampang menyembunyikan ketimpangan. Begitu datanya dipecah per kelas pendapatan, baru kelihatan siapa yang sebenarnya menanggung beban.
Mandiri Spending Index β indeks belanja dan tabungan berbasis data transaksi nasabah Bank Mandiri β mencatat indeks tabungan kelompok berpendapatan bawah jatuh ke 69,5 pada pekan pertengahan September 2026, level terendah sepanjang rangkaian data yang tersedia sejak Januari 2024. Angka ini turun dari 73,3 pada September 2025, dan sudah merosot jauh dari 83,2 di September 2024 β artinya dalam dua tahun, kemampuan menabung kelompok bawah susut lebih dari 16%. Sementara itu, indeks tabungan kelompok atas malah naik tipis ke 94,4, dari 94,0 setahun sebelumnya β nyaris stagnan di level tinggi, jauh di atas kelompok bawah.
Pola yang sama muncul dari riset ekonom BRI (Office of Chief Economist/OCE BRI): di kuartal I-2026, pertumbuhan konsumsi kelompok atas mencapai 8,0% dibanding periode sama tahun lalu, sementara kelompok menengah hanya 3,5% dan kelompok bawah 3,6%. Indeks daya beli (ukuran seberapa jauh kemampuan belanja suatu kelompok dari kondisi normalnya, di mana nol berarti normal) kelompok bawah pada April 2026 berada di -1,0 β memburuk dari -0,6 di April 2025. Kelompok menengah juga memburuk dari -0,6 ke -0,9. Kelompok atas relatif stabil di -0,1, nyaris tak tergoyang.
Inilah yang dimaksud para ekonom sebagai "ekonomi berbentuk K": satu kaki grafik β kelompok atas β terus naik, kaki yang lain β kelompok menengah ke bawah β terus turun, membentuk huruf K kalau digambar bersebelahan dalam satu grafik. Konsumsi rumah tangga nasional kelihatan tumbuh karena yang naik ditarik oleh kelompok yang jumlahnya lebih kecil tapi belanjanya jauh lebih besar per orang, sementara mayoritas penduduk β kelompok menengah ke bawah β justru menggerus simpanan mereka sendiri demi menutup belanja harian.
Kenapa Ini Bisa Terjadi: dari Harga, Gaji, hingga PHK
Ada tiga benang yang saling berkait. Pertama, kenaikan harga kebutuhan pokok dalam beberapa tahun terakhir belum sepenuhnya diimbangi kenaikan gaji riil, terutama untuk pekerja bergaji tetap. Kepala Ekonomi PermataBank, Josua Pardede, menjelaskan intinya sederhana: "pertumbuhan pendapatan tidak mampu mengimbangi kenaikan biaya hidup." Meski inflasi tahunan sempat melandai ke 2,88% di Juli 2026 dari 3,34% di Juni, rumah tangga tetap menanggung beban harga yang sudah naik sebelumnya dan belum turun kembali.
Kedua, keyakinan konsumen mulai goyah justru menjelang akhir kuartal III. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) BI di September 2026 ada di 118,1, turun dari 118,5 di Agustus β masih di atas ambang optimis 100, tapi arahnya melemah. Sub-indeks yang mengukur persepsi terhadap kondisi ekonomi saat ini (bukan ekspektasi masa depan) melemah lebih tajam, dari 109,4 ke 107,5. Penjualan eceran bulanan diproyeksikan terkontraksi 2,3% dibanding bulan sebelumnya di September, berbalik dari pertumbuhan 0,8% di Agustus β dipicu terutama oleh melemahnya penjualan makanan, minuman, dan tembakau. Indeks transaksi bisnis BCA (Intrabiz) pun melambat dari 9,4% jadi 8,4% dibanding tahun lalu.
Ketiga, dan ini yang paling nyata dirasakan pekerja: gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) tidak berhenti. Kementerian Ketenagakerjaan mencatat 63.789 pekerja terkena PHK sejak Januari hingga September 2026 berdasarkan laporan klaim Jaminan Kehilangan Pekerjaan (JKP, semacam asuransi yang mencairkan dana bantuan saat pekerja ter-PHK). Jawa Barat menyumbang angka terbanyak dengan 13.044 orang, diikuti Banten (7.733) dan Jawa Timur (6.154). Angka ini kemungkinan masih akan direvisi naik karena pekerja yang ter-PHK punya waktu hingga enam bulan untuk mengajukan klaim β artinya data enam bulan terakhir belum final.
Lembaga riset INDEF (Institute for Development of Economics and Finance) bahkan menyebut pertumbuhan ekonomi awal 2026 sebagai pertumbuhan "semu" β didorong lonjakan belanja pemerintah 21,8% yang sebagian besar bersifat musiman (THR, gaji ke-13 pegawai negeri, momentum Ramadan), bukan transformasi struktural ekonomi. Konsumsi rumah tangga, menurut INDEF, masih sangat bergantung pada stimulus Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) seperti program makan bergizi gratis dan bantuan sosial β bukan dari pendapatan riil masyarakat yang tumbuh sendiri.
Direktur Eksekutif CELIOS (Center of Economic and Law Studies), Bhima Yudhistira, menyoroti kelompok yang paling sering terlupakan dalam narasi K-shape ini: kelas menengah yang "terlalu kaya untuk dapat bantuan sosial atau subsidi BBM dan listrik, tapi terlalu rendah untuk dianggap sebagai kelompok atas." Menurutnya, ketimpangan ini kelihatan nyata di lapangan: mal yang sepi, sementara transaksi judi online dan pinjaman online (pinjol) justru naik β karena uang hanya berputar di antara kalangan yang sama.
Apa Artinya Buat Kamu
Kalau kamu masih karyawan dan ingin mulai usaha
Jangan buru-buru keluar kerja berbekal optimisme dari judul "daya beli pulih." Data IKK dan IKE yang melemah di September, plus kontraksi penjualan eceran bulanan, menunjukkan momentum belanja sedang goyah β bukan waktu ideal untuk bisnis yang mengandalkan belanja spontan kelas menengah-bawah seperti kafe baru atau toko fashion kasual. Kalau tetap mau mulai usaha, arahkan ke segmen yang terbukti tumbuh di tengah tekanan ini: kebutuhan dasar dengan harga kompetitif, atau layanan yang menyasar kelompok atas yang terbukti konsumsinya stabil bahkan naik. Pastikan juga kamu punya penyangga tabungan pribadi minimal 6 bulan biaya hidup sebelum melepas gaji tetap β mengingat PHK masih berlangsung dan klaim JKP bisa diajukan hingga enam bulan setelah kena PHK, tanda bahwa risiko kehilangan pekerjaan masih nyata di banyak sektor.
Kalau kamu sudah punya bisnis
Segmentasi produkmu harus makin tajam, bukan makin lebar. Survei ICCI Oktober 2026 β jajak pendapat CEO soal keyakinan bisnis β menunjukkan Indeks Daya Beli konsumen memang naik ke 3,17 dari posisi di bawah netral dua kuartal berturut-turut, tapi para bos bisnis sendiri yang bicara: konsumen makin selektif. Artinya daya beli yang membaik itu tidak otomatis berarti konsumen royal; mereka memilih lebih hati-hati ke mana uang dibelanjakan. Untuk FMCG dan ritel, ini momen memperkuat lini produk kemasan kecil dan harga terjangkau (value-for-money) untuk menjaga volume dari kelompok menengah-bawah, sembari tetap merawat lini premium untuk kelompok atas yang konsumsinya terbukti lebih tahan banting. Pantau juga arus kas ketat β kalau pelangganmu banyak dari kelas menengah-bawah, siapkan skema cicilan atau promo yang membantu mereka tetap bertransaksi tanpa menambah beban cicilan yang porsinya sudah di atas 10% dari pendapatan.
Kalau kamu merasa makin sulit menabung belakangan ini
Kamu tidak sendirian, dan data di atas membuktikannya bukan cuma perasaan. Kalau kamu merasa gaji terasa makin cepat habis dibanding dua-tiga tahun lalu, itu sejalan dengan tren nasional: rasio tabungan rumah tangga Indonesia memang sedang pada lintasan menurun tercepat sejak awal 2026. Langkah paling realistis bukan menabung lebih banyak secara mendadak β itu sulit kalau kenaikan harga memang di luar kendalimu β tapi memastikan prioritas belanja benar-benar pada kebutuhan, menghindari cicilan konsumtif baru di tengah tren porsi utang yang juga naik, dan kalau memungkinkan, mencari sumber pendapatan tambahan yang tidak bergantung pada satu majikan saja, mengingat tren PHK yang belum mereda.
Yang Perlu Dipantau
5 November 2026: rilis resmi BPS untuk pertumbuhan ekonomi dan konsumsi rumah tangga kuartal III-2026 β akan mengonfirmasi atau mengoreksi proyeksi 5,16% dari ekonom PermataBank.
Awal November 2026: rilis Survei Konsumen BI untuk Oktober 2026 β apakah rasio tabungan terus menurun atau mulai menemukan titik stabil setelah lima bulan beruntun melemah.
Data PHK Kemnaker via JKP bulanan: musim akhir tahun biasanya rawan efisiensi korporasi; perhatikan apakah angka 63.789 orang terus naik signifikan menjelang Desember.
Mandiri Spending Index dan BCA Intrabiz mingguan: indikator real-time belanja musim Natal dan Tahun Baru, termasuk apakah jurang tabungan kelompok bawah-atas melebar lagi.
Realisasi APBN kuartal IV 2026: apakah stimulus pemerintah (bansos, program makan bergizi gratis) tetap deras menjelang pergantian tahun, mengingat konsumsi rumah tangga disebut INDEF masih sangat bergantung pada suntikan ini.
Penutup
Headline "konsumsi rumah tangga tumbuh lebih kencang" dan kenyataan "rakyat kebanyakan makin kesulitan menabung" bisa sama-sama benar di waktu yang sama β karena yang pertama cerita tentang jumlah uang yang berputar, dan yang kedua cerita tentang siapa yang memutarnya. Selama pertumbuhan konsumsi nasional masih bisa dikerek naik oleh segelintir rumah tangga kelas atas sementara mayoritas lainnya diam-diam menghabiskan tabungan tiga kali lebih cepat dari kuartal sebelumnya, angka pertumbuhan yang terlihat sehat itu lebih cocok dibaca sebagai alarm yang ditunda, bukan tanda aman.
Sumber
Bank Indonesia β Survei Konsumen September 2026 (proporsi konsumsi, tabungan, dan cicilan rumah tangga)
Investor Trust β "Ekonomi Indonesia Ditopang Kelas Atas, Daya Beli Menengah Bawah Kian Tertekan"
CNBC Indonesia β "Tabungan Warga Miskin Makin Tipis, Anjlok ke Level Terendah" (Mandiri Spending Index)
Money Kompas β "Daya Beli Kelas Menengah Tertekan, Uangnya Lari ke Mana" dan "Siap-siap Konsumsi Rumah Tangga Melemah di Paruh Kedua 2026, Indef Soroti Tekanan Ini"
Kontan Insight β "Daya Beli Masyarakat Mulai Pulih, Tapi CEO Sebut Konsumen Makin Selektif" (survei ICCI)
Kontan Nasional β "Konsumsi dan Daya Beli Tertekan di Kuartal III, Pertumbuhan Ekonomi Bisa Melambat" dan rangkaian berita Survei Konsumen BI bulanan
CNN Indonesia / Media Indonesia β "Kemnaker: 63.789 Orang Kena PHK hingga September 2026, Jabar Terbanyak"
BPS (Badan Pusat Statistik) β rilis pertumbuhan ekonomi Triwulan I dan II 2026
Fajar / Fortune Indonesia β kutipan Bhima Yudhistira, Direktur Eksekutif CELIOS, soal ketimpangan kelas menengah