Lewati ke konten
blabak.

The Fed Diperkirakan Tahan Bunga 28 Oktober, tapi Defisit AS Nyaris US$2 Triliun Bikin Yield Tetap Ganas ke SBN dan IHSG

The Fed mungkin tahan suku bunga 28 Oktober, tapi defisit AS yang melebar ke US$2 triliun bikin yield Treasury tetap tinggi — SBN dan IHSG RI kena getahnya.

Yusuf FS10 menit baca

Ringkasan Cepat

  • The Fed diperkirakan menahan suku bunga di 3,75%-4,00% pada pengumuman 28 Oktober — probabilitasnya sekitar 85% menurut data pasar CME FedWatch — tapi pasar juga memperkirakan kenaikan di Desember dengan probabilitas serupa, 85-89%. Jadi ini bukan sinyal pelonggaran, cuma jeda.

  • Defisit anggaran AS tahun fiskal 2026 tembus US$1,99 triliun, naik 12% dalam setahun. Ini tahun keempat beruntun defisit AS bertengger di kisaran US$2 triliun — dan bunga utangnya sendiri sudah melonjak jadi US$1,1-1,36 triliun per tahun, lebih besar dari anggaran militer AS.

  • Masalahnya bukan cuma soal naik-turun suku bunga acuan: biar The Fed diam, pemerintah AS tetap harus menerbitkan obligasi dalam jumlah raksasa untuk menutup defisit itu. Pasokan obligasi yang membanjir ini menahan yield (imbal hasil) Treasury 10 tahun di 5,29% — jauh di atas kisaran normal 2024-2025 yang biasanya 4%-4,7%.

  • Di Indonesia, selisih bunga SBN dengan Treasury AS menyempit, memicu proyeksi dana asing kabur dari pasar obligasi domestik sampai Rp60 triliun, rupiah tertekan ke sekitar Rp18.000/dolar (jauh di atas kisaran normal 2024-2025 di Rp15.800-16.200), dan IHSG sempat ambruk 11,57% dalam sehari pekan ini — penurunan harian terdalam sejak krisis 1998.

  • Bank Indonesia menggelar Rapat Dewan Gubernur pada 20-21 Oktober, tepat sebelum keputusan The Fed, dan dihadapkan pilihan sulit: naikkan BI Rate demi menjaga rupiah, atau tahan dan menanggung risiko dana asing kabur lebih banyak.

Kabar Baiknya The Fed Mau Diam. Kabar Buruknya, Itu Saja Nggak Cukup

Kalau kamu cuma baca judul, kabar dari Washington minggu ini kedengarannya melegakan. The Fed, di bawah Ketua baru Kevin Warsh, dijadwalkan mengumumkan keputusan suku bunga pada 28 Oktober, dan hampir semua analis — 13 dari 14 lembaga riset besar — memperkirakan suku bunga ditahan di 3,75%-4,00%. Alasannya masuk akal: data tenaga kerja AS yang dirilis awal Oktober jauh lebih lemah dari perkiraan. Payroll September cuma bertambah 29.000 lapangan kerja, meleset jauh dari estimasi 84.000-90.000, sementara tingkat pengangguran naik ke 4,2% dari 4,1% bulan sebelumnya. Data Juli dan Agustus bahkan direvisi turun, menandakan pasar kerja AS melambat lebih dalam dari yang terlihat di permukaan.

Tapi jangan buru-buru menarik napas lega. Warsh sendiri, saat berbicara di pertemuan tahunan IMF dan Bank Dunia di Bangkok, menolak memberi sinyal apa pun soal arah keputusan — "Saya tidak akan berspekulasi soal hasil rapat mana pun," katanya. Yang membuat pasar tetap waspada adalah jejak sikapnya: di pidato Jackson Hole Agustus lalu, Warsh menegaskan "tidak ada yang perlu disalahpahami" soal target inflasi 2% The Fed, yang ia sebut "sasaran yang tegas dan tetap." Pidato hawkish itu langsung diikuti keputusan The Fed menaikkan suku bunga secara bulat 12-0 di rapat September. Dengan rekam jejak seperti itu, pasar memperkirakan skenario paling mungkin bukan "The Fed berhenti mengetatkan," melainkan "The Fed menahan sebentar di Oktober, lalu naik lagi di Desember." Probabilitas kenaikan Desember ada di kisaran 85-89% — nyaris sama tingginya dengan probabilitas penahanan di Oktober.

Artinya, arah kebijakan moneter AS masih condong ketat sampai akhir tahun, bukan berbalik ke pelonggaran seperti yang banyak orang berharap begitu mendengar kata "tahan."

Washington Lagi Boros: Defisit Hampir US$2 Triliun, Bunga Utang Lampaui Anggaran Militer

Di saat perhatian pasar tersedot ke rapat The Fed, ada angka lain yang kalah tenar tapi dampaknya lebih dalam: defisit anggaran pemerintah AS. Data yang dirilis pertengahan Oktober menunjukkan defisit fiskal AS untuk tahun anggaran 2026 (yang berakhir September) mencapai US$1,99 triliun — naik 12% dari US$1,775 triliun tahun sebelumnya. Pendapatan negara tercatat US$5,403 triliun, sementara belanja US$7,396 triliun. Selisihnya setara sekitar 6% dari produk domestik bruto (PDB) AS, menjadikannya defisit terbesar kedua dalam sejarah AS setelah era pandemi 2020-2021, dan terbesar dalam lima tahun terakhir.

Yang lebih mengkhawatirkan ketimbang angka totalnya adalah komposisinya. Pembayaran bunga utang AS saja melonjak 12% jadi rekor US$1,36 triliun sepanjang tahun fiskal 2026 — naik US$144 miliar hanya dari ongkos bunga. Angka ini sekarang jadi pos belanja terbesar kedua pemerintah AS setelah program jaminan sosial (Social Security), melampaui anggaran kesehatan Medicare dan bahkan anggaran militer sekaligus. Bayangkan: uang pajak yang dikumpulkan pemerintah AS, porsi terbesarnya sekarang dipakai cuma untuk membayar bunga utang lama, bukan untuk belanja produktif baru. Utang nasional AS pun sudah menembus US$40,3 triliun per Agustus 2026.

Pejabat pemerintahan Trump menyebut kenaikan defisit ini "sementara," sebagian disebabkan putusan Mahkamah Agung AS yang mewajibkan pengembalian tarif impor senilai US$144,6 miliar ke importir. Tapi klaim "sementara" ini perlu dicurigai: ini sudah tahun keempat berturut-turut defisit AS bertengger di kisaran US$2 triliun. Lembaga pengawas anggaran memproyeksikan, tanpa perubahan kebijakan, defisit bisa membengkak ke US$3,1 triliun pada 2036. Ini bukan lagi soal satu kebijakan tarif, tapi pola struktural: AS terus membelanjakan jauh lebih banyak dari yang diterimanya, tahun demi tahun.

Kenapa Yield Treasury Tetap Tinggi Walau The Fed Diam

Di sinilah dua kabar ini — rencana The Fed menahan bunga dan defisit AS yang melebar — bertemu dan menciptakan sesuatu yang lebih berbahaya daripada masing-masing sendirian. Intuisi orang kebanyakan: kalau The Fed tahan atau bahkan nanti menurunkan suku bunga acuan, maka seluruh biaya pinjaman di AS akan ikut turun, termasuk yield obligasi pemerintah (Treasury). Logika ini keliru untuk situasi sekarang.

Suku bunga acuan The Fed cuma mengatur biaya pinjam-meminjam jangka pendek antar bank. Yield Treasury jangka panjang — terutama tenor 10 dan 20 tahun — ditentukan oleh permintaan dan pasokan obligasi di pasar. Dan pasokannya sedang membanjir, karena pemerintah AS harus menerbitkan utang baru dalam jumlah raksasa setiap bulan hanya untuk menutup defisit US$2 triliun itu. Makin banyak obligasi yang diterbitkan, makin besar "diskon" yang harus ditawarkan pemerintah AS ke investor supaya obligasi itu tetap laku terjual — dan diskon itu, dalam bahasa pasar obligasi, muncul sebagai yield yang naik.

Hasilnya terlihat jelas di pasar: yield Treasury 10 tahun AS berada di 5,29% dan tenor 20 tahun di 5,68% pada Oktober 2026 — jauh di atas kisaran normalnya sepanjang 2024-2025 yang bergerak di bawah 4,7%, bahkan pernah serendah 3,97% setahun lalu. Artinya, biaya pinjaman jangka panjang di AS tetap mahal, bahkan kalau The Fed memutuskan diam di 28 Oktober. Analis menyebut ini sebagai salah satu alasan The Fed sendiri condong menahan bunga acuannya: yield Treasury yang sudah tinggi akibat defisit itu sejatinya sudah ikut mengetatkan kondisi keuangan AS, tanpa The Fed perlu menaikkan bunga acuan lagi.

Bagi negara berkembang seperti Indonesia, kombinasi "The Fed menahan bunga tapi yield Treasury tetap tinggi" ini justru lebih sulit dihadapi dibanding skenario The Fed jelas-jelas menaikkan bunga. Setidaknya kalau The Fed menaikkan bunga, arahnya jelas dan bisa diantisipasi. Yang terjadi sekarang adalah tekanan yang datang dari jalur berbeda — bukan dari kebijakan moneter, tapi dari kebutuhan pembiayaan fiskal AS — dan itu bisa bertahan lama, independen dari apa pun yang diputuskan The Fed di ruang rapatnya.

Dari Wall Street ke Lantai BEI: SBN dan IHSG Kena Getahnya

Dampaknya ke Indonesia sudah terasa, dan datang dari dua jalur sekaligus. Jalur pertama: pasar obligasi. Yield SBN (Surat Berharga Negara) tenor 10 tahun yang sempat turun ke 6,41% awal tahun ini — dari rata-rata 6,81% sepanjang 2024 — kini terdorong balik ke kisaran 7,1%-7,2%, dengan tenor 5 tahun di 7,02%. Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan INDEF, M. Rizal Taufikurahman, memproyeksikan yield SBN bisa terus naik sampai akhir tahun ke 6,9%-7,4% untuk tenor 10 tahun, karena selisih bunga antara SBN dan Treasury AS makin menyempit — membuat investor asing melihat lebih sedikit alasan untuk menahan obligasi Indonesia dibanding memindahkan uangnya ke Treasury AS yang kini menawarkan imbal hasil hampir setara tapi dianggap lebih "aman." INDEF menyusun tiga skenario: outflow moderat Rp15-30 triliun, dan skenario berat Rp40-60 triliun, tergantung seberapa jauh tekanan eksternal berlanjut.

Jalur kedua: rupiah dan saham. Rupiah melemah ke sekitar Rp18.000-18.052 per dolar AS pertengahan Oktober — jauh di atas kisaran normalnya sepanjang 2024-2025 di Rp15.800-16.200, level yang bahkan belum pernah disentuh dalam dua tahun terakhir. IHSG lebih dramatis lagi: pada 16 Oktober, indeks ambruk 678,67 poin atau 11,57% dalam sehari ke level 5.185,10 — penurunan harian terdalam sejak krisis 1998. Pemicu utamanya sebenarnya bukan The Fed secara langsung, melainkan rencana MSCI mengevaluasi penurunan status pasar modal Indonesia dari "emerging market" ke "standalone market" akibat kekhawatiran soal transparansi kepemilikan saham dan dugaan praktik perdagangan terkoordinasi. Tapi guncangan MSCI ini terjadi tepat di tengah tekanan yield Treasury yang tinggi dan kecemasan jelang keputusan The Fed — membuat investor asing, yang sudah mencatat net jual kumulatif Rp88,19 triliun di BEI sepanjang 2026, makin mudah menarik dananya sekaligus dari saham dan obligasi Indonesia secara bersamaan. Estimasi potensi outflow lanjutan pun sangat liar — dari US$4,8 miliar versi JPMorgan sampai tambahan US$15 miliar versi UBS — menunjukkan bahkan bank-bank besar pun belum sepakat seberapa parah ini akan berlanjut.

Di tengah tekanan ganda ini, Bank Indonesia menggelar Rapat Dewan Gubernur pada 20-21 Oktober — sehari dua hari dari sekarang, dan lebih dulu dari keputusan The Fed sendiri. BI Rate saat ini bertahan di 5,75%. Sebagian analis, termasuk dari Citi, memperkirakan BI mungkin perlu menaikkan BI Rate 25 basis poin ke 6,00% sebagai "langkah antisipasi" mencegah outflow menjalar lebih jauh ke pasar obligasi. Tapi ini berseberangan dengan sinyal awal dari jajaran BI sendiri, yang sebelumnya memperkirakan The Fed bakal menahan bunga sepanjang 2026 sehingga BI juga punya ruang untuk tetap menahan. Perbedaan pandangan ini sendiri adalah sinyal: bahkan otoritas moneter RI belum punya satu suara jelas soal langkah paling aman untuk menghadapi tekanan dari luar.

Apa Artinya Buat Kamu

Kalau kamu masih karyawan dan ingin mulai usaha

Ini bukan waktu ideal untuk memulai usaha yang bergantung besar pada barang impor atau pinjaman dalam dolar — biaya trade finance dan pinjaman luar negeri tetap mahal selama yield global bertahan tinggi, dan rupiah yang lemah membuat ongkos produksi berbasis impor makin mahal sebelum kamu sempat untung. Kalau rencana usahamu memang butuh modal dolar, tunda eksekusi besar sampai arah BI Rate dan hasil FOMC 28 Oktober lebih jelas — bukan karena harus menunggu "sinyal sempurna," tapi karena dua minggu ke depan ini volatilitasnya memang tinggi dan bisa mengubah hitungan margin kamu signifikan. Usaha yang justru lebih aman dimulai sekarang adalah yang basis bahan baku dan pasarnya domestik, karena tidak terkena langsung oleh fluktuasi kurs.

Kalau kamu sudah punya bisnis

Kalau bisnismu punya eksposur dolar — baik sebagai importir, punya utang valas, atau belanja bahan baku impor — kunci nilai tukar lewat hedging (mengunci kurs di muka supaya tidak kena dampak kalau rupiah makin melemah) untuk kebutuhan 1-3 bulan ke depan, jangan menunggu sampai rupiah makin jebol. Kalau kamu eksportir, situasi ini justru bisa jadi angin baik jangka pendek karena rupiah lemah membuat produkmu lebih kompetitif di luar negeri — tapi hati-hati, biaya bahan baku impor untuk produksi ekspor juga ikut naik, jadi hitung ulang margin bersihnya, bukan cuma nilai penjualan kotor dalam dolar. Kalau kamu punya obligasi korporasi yang akan diterbitkan dalam waktu dekat, pertimbangkan menunda atau menegosiasikan kupon lebih tinggi, karena yield SBN yang naik akan ikut menaikkan acuan biaya pinjaman korporasi.

Kalau kamu masyarakat umum

Rupiah yang melemah ke Rp18.000-an akan merembes ke harga barang impor — mulai dari elektronik, bahan baku obat, sampai komponen kendaraan — dengan jeda beberapa minggu sampai bulan sebelum terasa di rak toko. Ini bukan alasan panik beli, tapi alasan realistis untuk menunda pembelian barang impor besar yang bisa ditunda, dan memprioritaskan produk lokal untuk kebutuhan jangka pendek.

Yang Perlu Dipantau

  • 20-21 Oktober 2026 — Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia: akankah BI Rate ditahan di 5,75% atau dinaikkan ke 6,00%?

  • 27-28 Oktober 2026 — Keputusan FOMC The Fed dan nada konferensi pers Kevin Warsh, termasuk sinyal eksplisit atau tidak soal arah Desember.

  • Hasil lelang SBN dalam dua-tiga pekan ke depan — perhatikan apakah yield terus naik dan apakah porsi serapan investor asing menyusut.

  • Keputusan final MSCI soal status pasar modal Indonesia (tetap emerging market atau diturunkan ke standalone), karena ini bisa memicu outflow tambahan terlepas dari arah The Fed.

  • Rilis data payroll AS periode Oktober, awal November — akan jadi penentu kuat apakah probabilitas kenaikan Desember tetap di atas 85% atau mengendur.

Penutup

Yang perlu kamu pegang dari semua ini bukan "apakah The Fed naik atau tahan bunga di 28 Oktober" — itu cuma satu keping kecil dari gambar yang lebih besar. Gambar besarnya adalah: pemerintah AS sedang membelanjakan uang yang jauh lebih banyak dari yang dipunya, empat tahun berturut-turut, dan ongkos dari kebiasaan itu — dalam bentuk yield obligasi yang tetap tinggi — akan terus mengalir ke pasar negara berkembang seperti Indonesia, apa pun yang diputuskan The Fed di ruang rapatnya. Kalau kamu menunggu "The Fed tahan bunga" sebagai sinyal bahwa tekanan ke rupiah dan SBN akan segera mereda, kamu menunggu hal yang salah.

Sumber

  • Kompas.com (Money) — "Defisit Anggaran AS Hampir 2 Triliun Dollar AS, Belanja Terus Naik"

  • Kontan (Internasional) — "Defisit Anggaran AS Tembus US$ 1,99 Triliun pada 2026, Tertinggi dalam Lima Tahun"

  • Kontan (Investasi) — "Yield SBN Berisiko Naik hingga 7,4%, Dana Asing Bisa Keluar Rp 60 Triliun"

  • Kontan (Nasional) — proyeksi kenaikan BI-Rate pada RDG Oktober 2026

  • CNBC Indonesia (Research) — "RI di Bibir Jurang! IHSG Rawan ke Bawah 5.000, Rupiah Menanti Jurus BI"

  • CNBC Indonesia (News) — pernyataan Bank Indonesia soal proyeksi arah The Fed

  • CNBC — laporan sikap Kevin Warsh soal keputusan suku bunga Oktober

  • Admiral Markets — analisis "Fed Rate Decision October 2026: Hike or Hold on 28 Oct?"

  • Invezz — "Fed rate-hold odds jump to 85% even as Warsh offers no clues on policy path"

  • Investing.com (Reuters Factbox) — proyeksi kenaikan suku bunga The Fed di Desember oleh brokerage besar

  • Roic.ai / Morningstar — data payroll AS September 2026 dan tingkat pengangguran

  • INDEF — proyeksi dan simulasi skenario yield SBN dan outflow dana asing oleh M. Rizal Taufikurahman