Lewati ke konten
blabak.

Trump Nyaris Setop Ekspor Solar AS, RI yang Baru "Merdeka Impor" Terancam Kena Getah Lagi

Trump pertimbangkan larangan ekspor solar AS 90 hari saat harga tembus $6,53/galon. RI yang baru setop impor solar berisiko kena getahnya lagi.

Yusuf FS11 menit baca

Ringkasan Cepat

  • Pemerintahan Trump mempertimbangkan larangan ekspor solar (diesel) AS selama 90 hari untuk meredam harga domestik yang tembus rekor US$6,53 per galon pada pekan 21 September 2026 — naik sekitar 74% dibanding periode sama tahun lalu yang cuma US$3,75.

  • Kebijakan ini masih tarik-ulur: Trump bilang setuju di depan Sidang Umum PBB, tapi Gedung Putih membantahnya sebagai "berita bohong" dan Menteri Energi Chris Wright menyebut larangan penuh "tidak akan bekerja".

  • Kalangan usaha AS — Chamber of Commerce, American Petroleum Institute, Business Roundtable, dan puluhan asosiasi lain — mengirim surat bersama menolak, dengan alasan larangan justru bikin harga BBM domestik AS makin mahal karena kilang akan mengerem produksi.

  • Indonesia baru pertama kali "lulus" dari impor solar sejak 1 Juli 2026 lewat mandat B50 (bahan bakar dengan 50% campuran biodiesel sawit), tapi diam-diam masih mengimpor sekitar 175.000 barel solar premium jenis CN51 per hari — jenis yang tidak tersentuh oleh biodiesel sawit.

  • APBN Indonesia sudah kena getah duluan: belanja subsidi dan kompensasi energi melonjak Rp113,4 triliun hingga Agustus 2026 akibat harga minyak dan rupiah yang meleset jauh dari asumsi — sementara anggaran 2027 yang baru dipangkas menjadi Rp261,5 triliun dirancang dengan asumsi yang jauh lebih adem dari kenyataan sekarang.

Solar Termahal dalam Sejarah AS, dan Solusi yang Bisa Bikin Masalah Lebih Runyam

Harga solar di Amerika Serikat sudah menembus level yang belum pernah terjadi sebelumnya. Menurut data mingguan pemerintah AS, rata-rata nasional mencapai US$6,53 per galon pada pekan yang berakhir 21 September 2026 — American Automobile Association mencatat angka harian serupa, US$6,505, beberapa hari sebelumnya. Bandingkan dengan US$3,75 pada pekan yang sama tahun lalu: itu lonjakan 74% dalam setahun, dan sudah melampaui rekor lama yang tercatat tahun 2022.

Penyebabnya bukan misteri. Perang Iran yang sudah berjalan delapan bulan memutus jalur ekspor minyak dan BBM dari Timur Tengah, sementara drone Ukraina terus menghantam kilang-kilang minyak Rusia. Kombinasi keduanya memangkas pasokan ekspor BBM dari dua pusat penyulingan besar dunia sebesar kira-kira 2 juta barel per hari — masing-masing. Akibatnya, cadangan solar AS sendiri diproyeksikan turun di bawah 100 juta barel bulan ini, level terendah sejak 2003.

Di tengah tekanan itu, dan dengan pemilu paruh waktu (midterm) AS tinggal sekitar sebulan lagi pada 3 November 2026, Trump melempar solusi yang terdengar sederhana: setop saja ekspornya. "Saya sudah bilang, jangan kirim solar ke luar. Kita produksi banyak," katanya di sela Sidang Umum PBB. Politico melaporkan pemerintahannya tengah menyiapkan kerangka hukum untuk larangan 90 hari, dan Menteri Keuangan Scott Bessent mengonfirmasi opsi itu sedang dikaji — baik versi penuh maupun sebagian.

Masalahnya, dalam waktu kurang dari 24 jam, cerita ini berbalik jadi kontradiksi terbuka. Gedung Putih membantah laporan itu sebagai "berita bohong". Menteri Energi Chris Wright — yang justru berasal dari kubu Trump sendiri — menyebut "alat kasar berupa larangan ekspor solar jelas tidak akan bekerja", dan menyarankan opsi yang lebih halus: batas ekspor sukarela. Logikanya kontraintuitif tapi masuk akal: kalau kilang tidak bisa lagi menjual solar ke luar negeri, tangki penyimpanan mereka akan cepat penuh, memaksa mereka mengurangi produksi keseluruhan — termasuk bensin dan bahan bakar pesawat. Harga BBM domestik AS, alih-alih turun, malah bisa naik lebih jauh.

Inilah argumen yang dipakai koalisi bisnis raksasa AS — Chamber of Commerce, Business Roundtable, American Petroleum Institute, National Association of Manufacturers, dan puluhan asosiasi lain — dalam surat bersama ke Trump. Mereka menulis bahwa larangan itu akan "menyebabkan produksi bahan bakar lebih sedikit, pasokan lebih ketat, dan biaya lebih tinggi bagi keluarga, petani, dan sopir truk Amerika", dan berisiko memicu balasan dagang dari mitra AS. Riset TD Cowen malah menilai opsi yang lebih realistis bukan larangan penuh, melainkan kuota ekspor jangka pendek — misalnya pembatasan dua bulan yang diperkirakan bisa menurunkan harga solar sekitar US$16 per barel. Sampai artikel ini ditulis, keputusan final belum diambil. Tapi justru di situlah risikonya bagi Indonesia: kebijakan ini masih hidup, bisa muncul kapan saja dalam beberapa minggu ke depan, dan pasar global sudah bereaksi duluan sebelum kepastian datang.

RI Sudah Declare "Merdeka Impor" Solar — Tapi Ada Celah Bernama CN51

Di tengah kegaduhan itu, Indonesia sebenarnya baru saja merayakan sebuah pencapaian. Sejak 1 Juli 2026, pemerintah resmi menyetop impor solar untuk kebutuhan domestik, ditopang mandat B50 — solar dengan campuran 50% biodiesel berbasis sawit, menjadikan Indonesia negara pertama yang mengimplementasikan blending sebesar itu. Pemerintah mengklaim langkah ini menghemat devisa sekitar Rp170 triliun (sekitar US$9,5 miliar) per tahun. Masa transisi dari B40 ke B50 penuh berakhir 30 September 2026 — artinya empat hari dari sekarang, seluruh distribusi solar di Indonesia wajib memenuhi standar B50.

Tapi ada satu detail yang tidak muncul di headline seremoni "swasembada solar" itu: Indonesia ternyata masih mengimpor solar jenis CN51 — solar dengan angka setana (cetane number) tinggi, dipakai untuk mesin dan alat berat tertentu di sektor tambang serta kebutuhan industri spesifik yang tidak bisa dipenuhi campuran biodiesel sawit biasa. Menurut estimasi praktisi industri energi, dari total impor BBM Indonesia sekitar 350.000 barel per hari, kira-kira separuhnya — sekitar 175.000 barel per hari — adalah solar atau gasoil impor jenis ini.

Dengan kata lain, narasi "RI tidak lagi impor solar" itu benar untuk solar bersubsidi yang dipakai jutaan rakyat di SPBU, tapi tidak sepenuhnya benar untuk solar premium yang menggerakkan alat berat tambang, kapal, dan sebagian sektor logistik industri. Celah inilah yang membuat Indonesia tetap terhubung langsung ke gejolak (volatilitas) pasar diesel dunia — termasuk ke ancaman larangan ekspor AS. Sektor yang paling terpapar: logistik, pertambangan, dan transportasi berat, yang selama ini mengandalkan pasokan CN51 impor untuk menjaga mesin mereka tetap jalan sesuai spesifikasi.

Krisis yang Merembet: Dari Diesel ke Bensin, dari AS ke Rupiah

Kalau larangan ekspor AS benar-benar jalan, dampaknya tidak berhenti di solar saja. Goldman Sachs sudah mengubah rekomendasi tradingnya dari solar ke bensin, karena kilang-kilang di seluruh dunia mengalihkan produksi minyak mentah mereka ke solar untuk menangkap harga premium — otomatis membuat pasokan bensin ikut menipis. Bagi Indonesia yang juga net importir BBM jenis bensin, ini berarti krisis yang tadinya spesifik ke solar bisa merembet ke seluruh keranjang impor bahan bakarnya.

Ada juga faktor penyeimbang yang perlu dicatat biar gambarannya tidak sepihak: India, eksportir solar lewat laut terbesar kedua dunia tahun ini, sudah menyatakan tidak akan ikut-ikutan membatasi ekspornya kalau AS jadi melarang. "Kami menghormati komitmen kami," kata Menteri Perminyakan India Hardeep Puri, merujuk pada kontrak-kontrak ekspor yang sudah berjalan. Dengan kapasitas kilang yang belakangan diperluas, India punya ruang untuk menambal sebagian kekosongan pasokan global — terutama untuk pasar Asia yang selama ini juga bergantung pada solar Rusia yang kini terbatasi sanksi.

Tapi penyeimbang itu butuh waktu untuk terasa, sementara harga bergerak duluan. Rupiah sendiri sedang berjalan di atas rata-rata "normal" 2024–2025 yang berkisar Rp15.800–16.200 per dolar AS: pada 22–23 September 2026, rupiah diperdagangkan di kisaran Rp17.818–17.884 per dolar, setelah harga minyak dunia sempat melonjak hingga US$132 per barel akibat eskalasi perang Timur Tengah sebelum turun kembali ke bawah US$100 pada 22 September. Kombinasi rupiah yang lebih lemah dan ICP (Indonesian Crude Price, harga rata-rata minyak mentah acuan Indonesia) yang lebih mahal inilah yang membuat setiap gejolak di pasar energi global — termasuk drama larangan ekspor solar AS — otomatis lebih mahal ongkosnya kalau dikonversi ke rupiah, baik untuk impor CN51 maupun untuk biaya freight (ongkos angkut kapal) BBM secara umum.

APBN Sudah Kena Getah Duluan, dan Anggaran 2027 Dirancang Lebih Tipis dari Kenyataan

Ini bagian yang paling jarang dibahas, padahal paling relevan buat kantong negara. Sepanjang 2026, sebelum drama larangan ekspor solar AS ini bahkan muncul, realisasi belanja subsidi dan kompensasi energi Indonesia sudah melonjak ke Rp331,4 triliun per akhir Agustus 2026 — naik 52,1% dibanding periode sama tahun lalu yang Rp218 triliun. Kenaikan Rp113,4 triliun itu disebabkan dua hal: ICP rata-rata US$89,2 per barel, 27,4% di atas asumsi APBN sebesar US$70; dan rupiah rata-rata Rp17.415 per dolar, 5,5% lebih lemah dari asumsi Rp16.500. Ini menunjukkan seberapa sensitif keuangan negara terhadap persis jenis gejolak yang sedang dipicu ancaman kebijakan Trump.

Yang membuat situasi ini makin genting: Badan Anggaran DPR baru saja menyepakati pemangkasan alokasi subsidi energi RAPBN 2027 menjadi Rp261,5 triliun — turun Rp11,44 triliun dari usulan awal Rp272,95 triliun. Di dalamnya, subsidi BBM tertentu dan LPG 3 kg dipatok Rp131,39 triliun, dengan subsidi BBM tertentu sendiri sebesar Rp28,34 triliun untuk volume solar bersubsidi 19 juta kiloliter dan subsidi tetap Rp1.000 per liter. Angka-angka ini dihitung berdasarkan asumsi kurs dan ICP yang jauh lebih moderat dari kenyataan pahit 2026.

Persoalannya sederhana: 2026 sudah membuktikan bahwa asumsi makro APBN gampang jebol kalau harga minyak dan rupiah bergerak liar bersamaan. Kalau perang Iran berlanjut ke 2027 dan larangan (atau bahkan sekadar ancaman berulang) ekspor solar AS terus memperketat pasokan diesel dunia, anggaran subsidi energi yang baru saja "dihemat" ini berisiko mengulang skenario 2026 — pemerintah terpaksa menambah kompensasi di tengah jalan, sesuatu yang sudah pernah terjadi lewat skema pembayaran kompensasi bulanan yang membuat pos ini melonjak 125% dibanding 2025. Ini juga terjadi di tengah kondisi neraca dagang Indonesia yang sudah rapuh: Mei 2026 mencatat defisit perdagangan pertama sejak April 2020, memutus rekor surplus 72 bulan beruntun, dengan defisit migas menembus US$8,52 miliar akibat ICP yang melonjak 30% dibanding tahun sebelumnya. Ekonom CORE Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, secara terbuka menyebut lonjakan harga minyak sebagai pendorong utama pelebaran defisit itu — bukan sekadar fluktuasi musiman, tapi tekanan struktural yang mulai terlihat.

Apa Artinya Buat Kamu

Kalau kamu masih karyawan dan ingin mulai usaha

Kalau rencana usahamu menyentuh logistik, transportasi, atau apa pun yang bergantung pada solar (armada truk, jasa distribusi, alat berat sewaan), ini bukan waktu ideal untuk masuk tanpa mitigasi. Bukan berarti jangan mulai sama sekali, tapi hitung ulang struktur biayamu dengan asumsi harga BBM industri bisa naik tiba-tiba dalam hitungan minggu — bukan bulan. Cari model bisnis yang lebih tahan gejolak: kontrak jangka pendek yang mudah direvisi harganya, atau lini usaha yang tidak terlalu diesel-intensif dulu sampai kepastian kebijakan Trump dan transisi B50 di Indonesia benar-benar mengendap, idealnya tunggu sampai 90 hari masa krusial ini (atau keputusan resminya) lewat sebelum berkomitmen pada kontrak jangka panjang.

Kalau kamu sudah punya bisnis

Untuk pelaku logistik, tambang, perkebunan, atau manufaktur yang mengandalkan solar CN51 impor atau solar industri non-subsidi: sekarang saatnya menegosiasikan klausul eskalasi harga bahan bakar di kontrak-kontrak yang sedang berjalan, bukan menunggu sampai harga sudah naik dan kliennya menolak. Pertimbangkan hedging (mengunci harga BBM di kontrak pembelian jangka menengah sekarang, supaya tidak kelabakan kalau harga melonjak tiba-tiba nanti) lewat kontrak pasokan dengan Pertamina atau trader BBM industri. Diversifikasi pemasok juga masuk akal — dengan India menyatakan tetap akan ekspor, ada opsi sumber alternatif di luar AS yang layak dijajaki lebih awal, bukan saat krisis sudah telanjur terjadi. Siapkan juga buffer arus kas (cashflow) untuk mengantisipasi masa transisi penuh ke B50 mulai 1 Oktober 2026, kalau-kalau ada gangguan pasokan jangka pendek di lapangan.

Kalau kamu masyarakat umum

Solar bersubsidi di SPBU kemungkinan besar tetap stabil harganya di kertas karena disokong subsidi tetap pemerintah — tapi risiko sebenarnya bukan di harga pompa, melainkan di APBN yang menanggungnya. Kalau tekanan ini berlanjut, ruang fiskal untuk belanja lain (termasuk program yang menyentuh langsung ke masyarakat) bisa makin sempit karena tersedot ke kompensasi energi, seperti yang sudah terjadi sepanjang 2026. Efek yang lebih cepat terasa: ongkos distribusi barang yang naik gara-gara solar industri mahal biasanya merembet ke harga kebutuhan sehari-hari, terutama untuk barang yang rantai pasoknya panjang dan bergantung pada truk.

Yang Perlu Dipantau

  • Keputusan final pemerintahan Trump soal larangan ekspor solar — apakah jadi larangan 90 hari penuh, kuota terbatas ala usulan TD Cowen, atau dibatalkan sepenuhnya seperti sinyal terbaru dari Gedung Putih.

  • Kelancaran transisi penuh ke mandat B50 di Indonesia mulai 1 Oktober 2026, khususnya pasokan solar CN51 impor untuk sektor tambang dan industri.

  • Rilis data neraca perdagangan BPS periode Agustus–September 2026 (biasanya awal bulan berikutnya), untuk melihat apakah defisit migas melebar lagi.

  • Pembahasan dan pengesahan final RAPBN 2027 di DPR, termasuk apakah asumsi ICP dan kurs di dalamnya direvisi menyesuaikan realita harga minyak terkini.

  • Data cadangan solar mingguan AS (EIA Weekly Petroleum Status Report) dan pergerakan harga minyak mentah global seiring perkembangan perang Iran dan serangan drone ke kilang Rusia — dua faktor yang langsung memengaruhi harga di pompa bensin AS maupun ongkos impor BBM Indonesia.

Penutup

Indonesia sempat merayakan "merdeka impor solar" seolah itu tameng penuh dari gejolak energi dunia — padahal yang berubah cuma bagian mana dari kebutuhan diesel nasional yang masih bergantung pada pasokan luar negeri, bukan ketergantungannya itu sendiri. Selama sektor tambang, logistik, dan industri berat masih butuh solar CN51 yang tidak bisa digantikan sawit, setiap kebijakan energi yang diputuskan di Washington tetap akan sampai ke neraca Pertamina dan APBN kita, cepat atau lambat. Sikap yang paling realistis bukan menunggu kepastian kebijakan Trump selesai, tapi mulai mengelola biaya seolah kepastian itu tidak akan pernah datang tepat waktu.

Sumber

  • CNBC — Oil industry warns a diesel export ban will raise fuel prices as Trump weighs restrictions

  • CNBC — Big business warns Trump against diesel export ban in joint letter

  • US News/Politico — Trump Administration Prepares Plan for 90-Day Diesel Export Ban

  • Reuters via US News/The Hill — White House Denies Report US Is Considering a Diesel Export Ban

  • OilPrice.com — White House Rules Out Diesel Export Ban as Prices Surge Above $6.50

  • Bloomberg — US Weighs 90-Day Diesel Export Ban to Tackle Record Fuel Prices

  • Yahoo Finance/Fortune — Data harga solar AS US$6,53/galon dan perbandingan tahun lalu

  • Bloomberg Technoz — Harga Diesel AS Tembus US$6,5/Galon, Stok Solar Dunia Kian Kritis

  • Bloomberg Technoz — Masih Impor Solar CN51, RI Berisiko Terdampak Krisis Diesel Dunia

  • Bloomberg Technoz — Data Impor BBM RI Saat Krisis Diesel Dunia Merembet ke Bensin

  • Bloomberg Technoz — India Bakal Terus Jualan Diesel Saat AS Kaji Pelarangan Ekspor

  • Bloomberg Technoz — Cadangan Diesel AS Merosot ke Level Terkritis Sejak 2003

  • Investing.com — TD Cowen: Kuota Ekspor Diesel Lebih Mungkin dari Larangan Penuh

  • Kompas TV / CNBC Indonesia / Antara — Indonesia Setop Impor Solar Mulai 1 Juli 2026 dengan Mandat B50

  • Kementerian ESDM RI — Realisasi Mandatori B40 Berhasil Tekan Impor Solar

  • Tirto / detikFinance / Fortune Indonesia — Subsidi Energi RAPBN 2027 Dipangkas Jadi Rp261,5 Triliun

  • Bisnis Indonesia / Buletin Finansial — Belanja Subsidi dan Kompensasi Energi Melonjak Rp113 Triliun per Agustus 2026

  • Katadata — Defisit Neraca Dagang Pertama dalam 6 Tahun, CORE Sebut Ini Awal Tekanan

  • Media Indonesia / Investor Daily — Pergerakan Rupiah dan Harga Minyak Dunia akibat Konflik Iran-AS, September 2026