Lewati ke konten
blabak.

AMRO Bilang Ekonomi RI Makin Kencang ke 5,3% di 2026, Tapi Kenapa IHSG Malah Ambruk 29%?

AMRO naikkan proyeksi ekonomi RI 2026 ke 5,3%, tapi IHSG anjlok 29% ytd. Ini kenapa dua sinyal ekonomi ini bisa bergerak berlawanan arah.

Yusuf FS10 menit baca

Ringkasan Cepat

  • AMRO (lembaga riset makroekonomi ASEAN+3) menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia 2026 jadi 5,3%, naik dari 5,0% yang mereka patok Juli lalu, didorong investasi terkait AI dan belanja pemerintah yang tetap kencang.

  • Di pekan yang sama, IHSG justru resmi tercatat ambles 29,24% sepanjang tahun ke level 6.118,86 — jauh dari rekor 8.748,13 yang baru dicetak dua hari setelah tahun baru 2026.

  • Biang kerok utamanya bukan ekonomi riil yang ambruk, tapi uang asing yang kabur: lebih dari Rp90 triliun net jual sepanjang tahun, dipicu kenaikan suku bunga The Fed dan ketidakpercayaan ke tata kelola Danantara (lembaga pengelola kekayaan negara).

  • Yang menahan IHSG supaya tidak jatuh lebih dalam justru investor ritel domestik — jumlah akunnya tembus 28,96 juta, naik 42,3% dalam setahun, dan kini menyumbang lebih dari separuh transaksi harian.

  • Klaim "tertinggi di ASEAN" perlu diluruskan: proyeksi 5,3% RI masih kalah jauh dari Vietnam yang diramal AMRO tumbuh 8% di 2026 — Indonesia ada di posisi kedua, bukan puncak.

Dua Kabar, Satu Minggu, Dua Arah Berlawanan

Pada 5 Oktober 2026, AMRO merilis pembaruan proyeksi ASEAN+3 Regional Economic Outlook dan menaikkan angka pertumbuhan Indonesia. Di hari yang nyaris sama, data resmi bursa menunjukkan IHSG sudah terkoreksi hampir 30% sejak awal tahun. Kalau kamu cuma baca judul berita, dua angka ini kelihatan saling membantah: satu bilang ekonomi Indonesia makin kuat, satu lagi bilang pasar sedang panik.

Keduanya sama-sama benar. Masalahnya, mereka mengukur dua hal yang berbeda — dan justru di celah perbedaan itu ada cerita yang lebih penting dari sekadar "ekonomi bagus vs bursa jelek".

Apa yang Sebenarnya Dilihat AMRO

AMRO menaikkan proyeksi pertumbuhan Indonesia 2026 dari 5,0% menjadi 5,3%, dan proyeksi 2027 dari 5,1% menjadi 5,2%. Pendorong utamanya, menurut lembaga ini, adalah konsumsi swasta yang tetap tahan banting, investasi yang kuat, serta belanja pemerintah untuk program-program prioritas. Ada satu faktor spesifik yang disebut berulang kali: investasi terkait kecerdasan buatan (AI). Revisi ke atas belanja modal perusahaan-perusahaan teknologi besar di Amerika Serikat, kata AMRO, mengindikasikan permintaan tinggi yang berkelanjutan terhadap kapasitas komputasi — mendorong permintaan data center dan produk elektronik, termasuk yang diproduksi di Indonesia.

Angka ini bukan proyeksi yang asal optimis. Data resmi BPS menunjukkan ekonomi Indonesia memang sedang tumbuh di atas 5% sepanjang semester pertama 2026: 5,61% di kuartal I dan 5,29% di kuartal II (dibanding periode sama tahun lalu). Jadi ketika AMRO menaikkan proyeksinya, mereka sebetulnya mengonfirmasi tren yang sudah terjadi di data riil, bukan menebak-nebak.

Tapi ada klaim yang perlu diluruskan di sini. Proyeksi 5,3% ini memang di atas rata-rata ASEAN yang dipatok 4,9%, tapi bukan yang tertinggi di kawasan. Vietnam — yang pertumbuhannya sudah 8,2% di semester I 2026 — diproyeksikan AMRO tumbuh 8% sepanjang tahun ini, jauh meninggalkan Indonesia. Jadi posisi Indonesia lebih tepat disebut "tertinggi kedua di ASEAN", bukan juara. Detail kecil ini penting karena menunjukkan bahwa optimisme AMRO terhadap Indonesia sebetulnya moderat, bukan ekstrem — dan itu relevan untuk memahami kenapa pasar tidak ikut euforia.

AMRO sendiri tidak menutup mata pada risiko. Mereka menyebut beberapa ancaman konkret: ketergantungan pada permintaan AI global yang bisa berbalik arah, gangguan energi dari konflik Timur Tengah, inflasi pangan akibat El Niño yang bisa berlanjut sampai 2027, gejolak pasar keuangan, dan kebijakan dagang proteksionis dari negara-negara besar.

Dari Rekor ke Reruntuhan: Yang Terjadi di Bursa

Untuk mengerti kenapa IHSG bisa anjlok separah ini, kamu perlu tahu dari mana ia jatuh. Sepanjang 2025, IHSG mencetak 24 kali rekor tertinggi sepanjang sejarah, ditutup naik 22,1% dalam setahun ke posisi 8.644,25, dengan kapitalisasi pasar sempat menembus Rp16.004 triliun pada 8 Desember 2025. Dua hari masuk tahun 2026, indeks bahkan sempat mencatat rekor baru lagi di 8.748,13.

Dari puncak itulah kejatuhan dimulai. IHSG menyentuh titik terendah tahun ini di 5.342,14 pada 8 Juni 2026 — sebuah penurunan sekitar 39% dari puncak awal tahun, jauh di atas ambang batas yang biasa disebut pasar beruang (20%). Setelah itu indeks berangsur pulih, tapi per 5 Oktober 2026 masih berada di 6.118,86, turun 29,24% dari penutupan akhir 2025 di 8.646,94. Pelemahan ini jauh lebih dalam dari krisis-krisis kecil yang biasa dialami IHSG, meski menurut OJK masih lebih dangkal dibanding krisis 2008 atau hantaman Covid-19 Maret 2020.

Penyebabnya berlapis. Dari sisi global, investor asing mencatatkan net jual kumulatif lebih dari Rp90 triliun sepanjang tahun berjalan — angka ini terus membengkak, dengan September saja mencatat outflow Rp10,24 triliun setelah The Fed menaikkan suku bunga acuan 25 basis poin ke kisaran 3,75%-4,00% pertengahan bulan itu. Rupiah ikut tertekan, menembus Rp18.000 per dolar AS pada akhir September — jauh di atas kisaran normalnya sepanjang 2024-2025 yang berkutat di Rp15.800-16.200. Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah tenor 10 tahun ikut terdorong naik ke sekitar 7,2%, membuat biaya utang pemerintah dan korporasi makin mahal.

Tapi sentimen domestik justru lebih sering disebut sebagai pemicu yang lebih dalam. Direktur Celios, Bhima Yudhistira Adhinegara, menyebut penurunan IHSG sebagai anomali karena terjadi saat bursa-bursa Asia lain justru hijau — kondisi yang menurutnya menempatkan pasar modal Indonesia dalam status "yellow alert". Ia menunjuk kinerja fiskal yang kurang meyakinkan, revisi Undang-Undang TNI, skeptisisme terhadap tata kelola Danantara, dan melemahnya daya beli masyarakat sebagai faktor-faktor yang membedakan Indonesia dari tetangganya.

Danantara sendiri — lembaga pengelola kekayaan negara yang diklaim membawahi aset senilai ribuan triliun rupiah — jadi sorotan karena belum terdaftar di forum sovereign wealth fund internasional (IFSWF) dan belum mengadopsi Prinsip Santiago, standar global soal independensi, transparansi, dan akuntabilitas pengelolaan dana negara. Ekonom INDEF, Andry Satrio Nugroho, mencatat pasar bereaksi negatif begitu lembaga ini diluncurkan, tepatnya karena investor mempertanyakan transparansi soal besaran dana yang dikelola dan sumber pendanaannya. Survei publik awal 2026 bahkan mencatat skor kepercayaan transparansi Danantara hanya 2,96 dari 5, dan tata kelola 2,90 dari 5.

Di sektor riil, tekanan juga terlihat: PMI manufaktur (indeks yang mengukur geliat pabrik lewat survei pesanan, produksi, dan tenaga kerja) sempat terkontraksi ke 49,1 pada April 2026 — level terendah dalam 9 bulan dan kontraksi pertama sejak Juli 2025 — dengan penyerapan tenaga kerja melemah tajam dan biaya produksi melonjak ke level tertinggi dalam empat tahun akibat gangguan rantai pasok global dari konflik Timur Tengah.

Siapa yang Menahan Bursa Ketika Asing Kabur

Kalau asing terus menjual dalam jumlah sebesar itu, kenapa IHSG tidak jatuh lebih dalam lagi? Jawabannya ada di komposisi investor yang berubah drastis sepanjang 2026. Kepemilikan saham asing di IHSG turun ke 36,4% — level terendah sejak data tersedia pada 2015. Sebagai gantinya, investor domestik, terutama ritel, masuk mengisi kekosongan itu.

Jumlah investor pasar modal (Single Investor Identification/SID) tembus 28,96 juta akun per akhir Juni 2026, naik 42,3% dibanding periode sama tahun lalu. Dari sisi transaksi harian, investor ritel domestik kini menyumbang sekitar 52% nilai transaksi — setara Rp16 triliun per hari — mengalahkan porsi investor asing yang hanya sekitar 30%. Justru pada saat harga saham sedang tertekan dalam-dalamnya itulah dana ritel domestik paling agresif masuk, memanfaatkan valuasi yang murah.

Inilah yang membuat Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK, Hasan Fawzi, cukup percaya diri menyebut ada "ruang untuk pemulihan" — IHSG sudah memantul 16,2% dari titik terendah Juni. Tapi perlu dicatat: pemulihan yang ditopang ritel domestik berbeda karakternya dengan pemulihan yang ditopang dana asing jangka panjang. Dana ritel lebih cepat bereaksi terhadap sentimen harian, dan bisa keluar secepat ia masuk kalau kepercayaan kembali goyah.

Kenapa Dua Sinyal Ini Bisa Bertolak Belakang

Sampai di sini, kamu bisa melihat kenapa proyeksi pertumbuhan ekonomi dan performa bursa tidak harus bergerak searah. Pertumbuhan ekonomi (PDB) mengukur total produksi dan belanja dalam satu tahun — angka yang relatif lambat berubah dan mencerminkan aktivitas ekonomi riil secara luas. Harga saham mengukur sesuatu yang berbeda: seberapa besar kepercayaan investor hari ini terhadap masa depan, dan seberapa deras atau kering aliran modal yang keluar-masuk pasar dalam hitungan hari.

Ada tiga hal yang menjelaskan kesenjangan ini lebih dalam. Pertama, rally IHSG sepanjang 2025 — 24 kali rekor, kapitalisasi pasar tembus Rp16.000 triliun — sebagian besar sudah kemahalan secara valuasi. Koreksi tajam di 2026 sebagian adalah pembalikan wajar dari harga yang sempat kepanasan, bukan semata cerminan ekonomi yang memburuk.

Kedua, mesin pertumbuhan yang dilihat AMRO — investasi terkait AI, ekspor, belanja pemerintah pada program prioritas — adalah pertumbuhan yang manfaatnya terkonsentrasi. Ia tidak otomatis mengalir merata ke perusahaan-perusahaan besar yang jadi pembobot utama IHSG, apalagi ke lapangan kerja secara luas. Data Kementerian Ketenagakerjaan mencatat 53.490 pekerja melapor terkena PHK lewat skema Jaminan Kehilangan Pekerjaan sepanjang Januari-Agustus 2026, dengan Jawa Barat menyumbang porsi terbesar (10.880 orang, lebih dari 20% total) — provinsi yang juga basis manufaktur padat karya yang justru sedang terkontraksi. Pertumbuhan PDB yang sehat di atas kertas berjalan beriringan dengan tekanan di sektor padat karya — dua hal yang tampak kontradiktif tapi sebenarnya bisa terjadi bersamaan karena sumber pertumbuhannya memang tidak merata.

Ketiga, pasar saham memberi harga pada risiko tata kelola yang sama sekali tidak masuk dalam hitungan PDB. Danantara yang belum transparan, revisi UU TNI, dan ketidakpastian kebijakan fiskal adalah risiko ekor (tail risk) yang sulit dimasukkan ke model pertumbuhan makro, tapi sangat nyata bagi investor yang mempertaruhkan uang hari ini.

Yang juga penting diketahui: proyeksi AMRO bukan satu-satunya suara, dan bukan yang paling optimis. Bank Dunia memasang proyeksi lebih konservatif di 4,7%, Bank Indonesia di kisaran 4,7%-5,5% dengan titik tengah 5,02%, dan INDEF memperkirakan pertumbuhan tertahan di 5,0% — semuanya di bawah target pemerintah 5,4% (bahkan Menteri Keuangan Purbaya sempat menyebut potensi 6%). AMRO, bersama Standard Chartered dan DBS, justru berada di kelompok yang sedikit lebih optimis dengan angka 5,3%. Jadi yang terjadi bukan "AMRO optimis sendirian melawan pasar yang pesimis" — melainkan sekumpulan lembaga yang berbeda pandangan soal seberapa kuat ekonomi Indonesia, berhadapan dengan pasar yang untuk saat ini memilih percaya pada sinyal risiko jangka pendek ketimbang proyeksi tahunan.

Apa Artinya Buat Kamu

Kalau kamu masih karyawan dan ingin mulai usaha

Angin makro memang relatif mendukung — konsumsi domestik masih tumbuh di atas 5% dan ada peluang nyata di rantai pasok terkait AI, data center, dan elektronik ekspor. Tapi jangan resign dengan modal proyeksi saja. Tunggu konfirmasi dari data PDB kuartal III yang akan dirilis BPS sekitar 5 November — kalau momentum 5,6%/5,29% di dua kuartal sebelumnya berlanjut, itu sinyal yang lebih meyakinkan daripada proyeksi lembaga mana pun.

Kalau usahamu akan bergantung pada bahan baku impor, hitung betul risiko kurs. Rupiah yang masih liar di atas Rp18.000 membuat biaya impor naik tajam dibanding kisaran normal Rp15.800-16.200 di tahun-tahun sebelumnya — pertimbangkan hedging (mengunci nilai tukar di awal supaya tidak kaget kalau rupiah makin lemah) sejak hari pertama, bukan setelah rugi.

Kalau kamu sudah punya bisnis

Kalau rencanamu mencari modal lewat IPO atau right issue, ini bukan waktu yang murah — valuasi pasar sedang tertekan dan investor asing masih skeptis, meski investor ritel domestik cukup aktif menyerap saham-saham murah. Pertimbangkan menunda aksi korporasi non-mendesak sampai sentimen lebih stabil, atau siap menerima valuasi yang lebih rendah dari yang kamu harapkan setahun lalu.

Kalau bisnismu berorientasi ekspor atau terhubung ke rantai pasok elektronik/data center, kamu sedang berada di jalur yang sama dengan pendorong pertumbuhan yang dilihat AMRO — manfaatkan. Tapi kalau bisnismu mengandalkan konsumsi domestik kelas menengah-bawah atau sektor padat karya, pantau data PHK dan PMI manufaktur bulanan lebih ketat dari biasanya, karena tekanan di situ nyata dan belum tentu tercermin di angka PDB nasional.

Kalau kamu punya investasi di saham atau reksadana

Kalau kamu melihat nilai portofolio atau dana pensiunmu turun akibat koreksi IHSG, jangan panik jual di titik terendah — data menunjukkan justru investor domestik yang bertahan dan membeli saat harga murah yang akhirnya menahan laju kejatuhan. Tapi juga jangan terlena oleh optimisme makro semata: diversifikasi tetap penting, mengingat saham-saham yang paling dijual asing selama ini terkonsentrasi di nama-nama big caps tertentu.

Yang Perlu Dipantau

  • 20-21 Oktober 2026 — Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia, keputusan suku bunga di tengah rupiah yang masih tertekan dekat Rp18.000.

  • 27-28 Oktober 2026 — Pertemuan FOMC The Fed, penentu arah lanjutan suku bunga AS yang jadi biang utama outflow dana asing dari pasar Indonesia.

  • Sekitar 5 November 2026 — Rilis PDB kuartal III 2026 oleh BPS, konfirmasi apakah momentum pertumbuhan 5,61% (Q1) dan 5,29% (Q2) masih berlanjut.

  • Transparansi dan audit Danantara — desakan publik dan sejumlah ekonom agar BPK mengaudit dan lembaga ini merilis laporan keuangan tahunan, faktor kunci pemulihan kepercayaan pasar.

  • PMI manufaktur bulanan — apakah kontraksi yang sempat terjadi April 2026 kembali berulang atau benar-benar sudah terlewati.

  • Data PHK Kemnaker bulanan — apakah tren pemutusan kerja di Jawa Barat dan Banten meluas ke provinsi lain atau mulai mereda.

Penutup

Angka 5,3% dari AMRO bukan angka bohong, dan penurunan 29% di IHSG juga bukan kepanikan berlebihan — keduanya benar, cuma menjawab pertanyaan yang berbeda. Satu bicara soal ke mana arah ekonomi Indonesia berjalan dalam setahun ke depan; yang lain bicara soal seberapa besar kepercayaan investor hari ini untuk menaruh uangnya di jalan itu. Selama Danantara belum transparan dan rupiah masih liar di atas Rp18.000, jawaban kedua akan terus bergerak lebih lambat dan lebih gelisah daripada jawaban pertama — dan itu bukan alasan untuk panik, melainkan alasan untuk lebih selektif menaruh uang dan harapanmu.

Sumber

  • AMRO (ASEAN+3 Macroeconomic Research Office) — ASEAN+3 Regional Economic Outlook Update, Oktober 2026

  • Kontan — "AMRO Naikkan Proyeksi Ekonomi Indonesia 2026 Jadi 5,3%"

  • CNBC Indonesia — "AMRO Revisi Pertumbuhan Ekonomi RI 2026-2027, Makin Tumbuh Kencang!"

  • Jawa Pos / Antara Jatim — "OJK Optimistis IHSG Pulih Usai Tertekan Kombinasi Sentimen di 2026"

  • Investor.id — "IHSG Anjlok 29% Sejak Awal Tahun, OJK Optimistis Ada Ruang Pemulihan"

  • Katadata — "Koreksi IHSG 2026: Asing Keluar Rp92,4 Triliun, Siapa Penahannya?"

  • CNBC Indonesia — "IHSG Kembali ke 6.000 di 2026: Siapa Pembeli Saat Asing Keluar?"

  • Tempo — "IHSG Anjlok Setelah Peluncuran Danantara, Ekonom INDEF: Trust Investor Jadi PR Pemerintah"

  • Jawa Pos — "Danantara Banjir Kritik karena Dinilai Tak Transparan Kelola Dana"

  • Ajaib / Bisnis.com — "PMI Manufaktur Indonesia Turun ke 49,1 pada April 2026, Masuk Fase Kontraksi"

  • Bisnis.com — "53.490 Pekerja Kena PHK hingga Agustus 2026, Terbanyak di Jabar"

  • Bloomberg Technoz — "Deretan Proyeksi Ekonomi RI 2026: Realistis atau Ambisius?"

  • Badan Pusat Statistik (BPS) — Rilis Pertumbuhan Ekonomi Triwulan I dan II 2026

  • Media Indonesia — "Rupiah Tembus Rp18.000, BI Ungkap Faktor Pemicunya"