Lewati ke konten
blabak.

Cabai Tembus Rp118.150/Kg — tapi Alarm Sesungguhnya Ada di Beras dan Bawang yang Naik Bersamaan

Cabai pecah rekor Rp118.150/kg, bawang merah +17,54%, beras naik 8-10% — serentak. Bukan lonjakan cabai biasa, ini pola inflasi pangan yang beda jelang Nataru.

Yusuf FS9 menit baca

Ringkasan Cepat

  • Cabai merah keriting tembus Rp118.150/kg secara nasional pada 5 Oktober 2026 — rekor baru yang melampaui lonjakan-lonjakan sebelumnya di bulan September, naik 5,48% hanya dalam semalam dan lebih dari 70% dibanding tiga hari sebelumnya.

  • Yang membedakan episode ini: bawang merah ikut naik 17,54% dan beras naik 8-10% dalam rentang waktu yang hampir sama — bukan lonjakan cabai sendirian seperti pola yang biasa terjadi.

  • Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi "bergejolak" (kelompok harga pangan yang gampang berubah karena faktor cuaca dan musim, bukan kebijakan pemerintah) melompat ke 5,03% dibanding periode sama tahun lalu per September 2026 — naik tajam dari 2,52% di Juli, jauh lebih cepat dari laju inflasi umum yang 3,28%.

  • Penyebabnya bercampur: cuaca panas ekstrem membuat petani gagal panen, sementara di sisi lain pemerintah sendiri mengklaim stok pangan nasional surplus — ironi yang sampai membuat Kementerian Dalam Negeri meminta investigasi.

  • Harga yang diterima petani jauh di bawah harga di meja makan: cabai dari petani Rp53.000-65.000/kg bisa melonjak jadi Rp90.000-95.000/kg di tangan konsumen — selisih yang tidak sepenuhnya kembali ke orang yang menanamnya.

Bukan Cabai Doang: Tiga Komoditas Naik Serentak

Kalau kamu mengikuti berita harga pangan beberapa tahun terakhir, lonjakan cabai itu sudah jadi semacam ritual musiman — hampir selalu terjadi, hampir selalu sendirian, dan hampir selalu karena hal yang sama: kemarau panjang di sentra produksi, lalu harga meroket beberapa minggu sebelum pasokan baru datang dan harga turun lagi. Itu pola yang sudah dikenal pedagang pasar maupun pembuat kebijakan.

Yang terjadi awal Oktober 2026 ini berbeda. Berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Bank Indonesia — yang mengumpulkan rata-rata harga dari pasar tradisional di seluruh provinsi — tiga komoditas pokok naik hampir bersamaan. Cabai merah keriting memimpin dengan Rp118.150/kg, bawang merah naik 17,54% jadi Rp43.900/kg, dan hampir semua jenis beras naik 5-11% dalam hitungan hari. Cabai rawit merah pun ikut naik 3,61% ke Rp103.250/kg, sementara gula premium naik 14,5% dan minyak goreng naik 9,07%.

Kenapa ini penting dibedakan dari lonjakan cabai tunggal? Karena cabai tunggal biasanya hanya mengganggu uang belanja harian, cepat terasa lalu cepat hilang begitu pasokan normal lagi. Tapi kenaikan serentak di tiga komoditas pokok yang masing-masing punya bobot besar di keranjang belanja rumah tangga — cabai, bawang, beras — adalah pola yang lebih mirip tekanan inflasi pangan struktural, bukan gangguan musiman satu komoditas. Dan itu yang membuat BPS sampai mengeluarkan peringatan khusus soal dampaknya ke inflasi Desember.

Dari Rp69.250 ke Rp118.150 dalam Tiga Hari

Headline "naik 5,48%" di hari itu sebenarnya menyembunyikan angka yang lebih mengkhawatirkan. Data PIHPS pada 2 Oktober 2026 mencatat cabai merah keriting nasional masih di Rp69.250/kg. Tiga hari kemudian, pada 5 Oktober, angkanya sudah Rp118.150/kg. Itu artinya harga naik lebih dari 70% hanya dalam tiga hari — kenaikan harian 5,48% yang jadi headline media sebenarnya cuma lonjakan terakhir dari tren yang sudah berlangsung sepekan lebih.

Siapa yang bilang ini soal cuaca, benar — tapi ceritanya lebih rumit dari "kemarau, jadi mahal". Tunov Mondro Atmojo, Ketua Asosiasi Cabai Champion Indonesia, menjelaskan penyebabnya murni faktor cuaca: suhu panas ekstrem dikombinasikan dengan fenomena El Nino (pola cuaca yang membuat sebagian wilayah Indonesia lebih kering dari biasanya) menghabiskan persediaan air di lahan tanam. Akibatnya tanaman cabai gagal berbunga, dan petani terpaksa hanya mengandalkan tanaman yang sudah matang tanpa bisa menanam baru. Di beberapa sentra produksi seperti Jombang dan Kediri, panen memang masih ada tapi "volumenya dilaporkan sangat minim".

Yang jarang disorot: siapa yang sebenarnya menikmati harga Rp118.150 itu. Dari penelusuran di lapangan, harga di tingkat petani untuk cabai berkisar Rp53.000-65.000/kg. Begitu masuk pasar induk, harganya sudah Rp70.000-75.000/kg. Baru di tangan pedagang eceran konsumen membayar Rp90.000-95.000/kg — dan itu pun angka sebelum lonjakan ke Rp118.150 yang tercatat PIHPS belakangan. Selisih besar antara harga petani dan harga konsumen ini menunjukkan rantai distribusi menyerap sebagian besar kenaikan, bukan sepenuhnya mengalir ke orang yang menanggung risiko gagal panen.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman merespons dengan memerintahkan Deputi Stabilisasi untuk turun langsung ke lapangan mengecek kondisi harga di berbagai daerah. "Jangan sampai harga di tingkat konsumen tinggi padahal tingkat produsen rendah," katanya — pernyataan yang justru mengonfirmasi bahwa persoalan distribusi, bukan cuma pasokan, ada di balik angka ini.

Beras: Sembilan Bulan Inflasi Beruntun yang Jarang Jadi Headline

Kalau cabai cepat jadi berita karena angkanya dramatis, beras justru naik diam-diam — dan itu yang membuatnya lebih berbahaya buat daya beli jangka panjang. BPS mencatat inflasi beras secara tahunan (dibanding periode sama tahun lalu) sudah di level 3,73% per September 2026, dan ini merupakan bulan kesembilan beruntun beras mengalami inflasi. Bukan lonjakan sesaat, tapi tren yang terus menanjak pelan-pelan selama tiga perempat tahun.

Di minggu pertama Oktober 2026, BPS mencatat 116 kabupaten/kota masih mengalami kenaikan harga beras di semua kelas kualitas. Beras medium nasional naik 0,16% jadi rata-rata Rp14.676/kg, melampaui harga eceran tertinggi (HET, batas atas harga jual yang ditetapkan pemerintah) untuk sejumlah zona. Kenaikan paling tajam justru di Indonesia timur — Biak Numfor di Papua mencatat lonjakan 9,32%, jauh di atas rata-rata nasional.

Ateng Hartono, Deputi Statistik Distribusi dan Jasa BPS, memberi peringatan yang lebih spesifik soal Desember: harga beras sekarang sudah melampaui harga acuan, dan jika tren ini berlanjut, perbandingannya dengan Desember 2025 yang masih di kisaran Rp15.000 akan menciptakan apa yang disebut "efek basis rendah" — ketika harga tahun lalu rendah, kenaikan tahun ini jadi terlihat lebih besar secara persentase, dan itu bisa memicu inflasi tahunan yang signifikan tepat di musim Natal dan Tahun Baru (Nataru), saat permintaan pangan biasanya sudah naik sendiri.

Badan Pangan Nasional (Bapanas) tidak diam. Kepala Bapanas Amran menambah alokasi program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) — beras bersubsidi yang digelontorkan lewat Bulog untuk menekan harga pasar — sebanyak 74.180 ton, setara 14,83 juta kemasan 5 kilogram. Ini jumlah yang besar, tapi perlu diingat SPHP sifatnya meredam, bukan menghilangkan tekanan: ia menambah pasokan di pasar tanpa mengubah penyebab dasar kenaikan harga gabah di tingkat petani dan penggilingan.

Surplus di Atas Kertas, Mahal di Pasar

Di sinilah letak kejanggalan yang paling mengganggu dari episode ini. Bapanas memproyeksikan neraca pangan nasional — perhitungan total produksi dikurangi konsumsi — akan surplus untuk cabai maupun beras hingga akhir 2026. Cabai rawit diproyeksikan surplus 60.283 ton, sementara stok beras akhir tahun diperkirakan mencapai 16,06 juta ton. Secara angka di atas kertas, Indonesia tidak kekurangan pangan.

Tapi kenyataan di pasar berkata lain: harga dua komoditas itu justru melonjak tajam di minggu yang sama proyeksi surplus itu diumumkan. Kejanggalan ini cukup besar sampai Kementerian Dalam Negeri meminta Bapanas dan pemerintah daerah menyelidiki penyebabnya. Paradoks "surplus di atas kertas, mahal di pasar" ini sebetulnya cerita lama soal distribusi pangan Indonesia: surplus nasional tidak otomatis berarti pasokan merata sampai ke titik yang membutuhkan, apalagi kalau sentra produksi dan sentra konsumsi terpisah jarak jauh dan infrastruktur logistiknya tidak selalu mulus.

Esther Sri Astuti, Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), menilai masalahnya memang bukan soal jumlah stok tapi soal ketepatan respons kebijakan. "Pengendalian inflasi pangan tidak perlu spesifik diarahkan ke komoditas, tapi yang penting menjaga supply," katanya, sambil menambahkan bahwa instrumen moneter (kebijakan suku bunga Bank Indonesia) jauh lebih efektif untuk inflasi yang dipicu permintaan berlebih — bukan untuk inflasi yang sebenarnya dipicu gangguan pasokan seperti sekarang. Dari sisi lain, Center of Economic and Law Studies (Celios) sudah lebih dulu mewanti-wanti target inflasi pemerintah untuk tahun-tahun mendatang terlalu optimistis kalau faktor cuaca ekstrem dan ketergantungan pada harga impor tidak dihitung lebih serius.

Kedua lembaga riset ini sepakat pada satu titik kritis: respons pemerintah selama ini terlalu reaktif — menambah stok SPHP dan menyuruh pejabat turun ke lapangan setelah harga sudah telanjur meroket — padahal akar masalahnya ada di efisiensi rantai distribusi dan transparansi data produksi yang seharusnya bisa dideteksi lebih awal.

Apa Artinya Buat Kamu

Kalau kamu masih karyawan dan ingin mulai usaha

Episode kenaikan harga pangan serentak seperti ini bukan alasan untuk menghindari bisnis F&B (makanan dan minuman) sama sekali, tapi jelas alasan untuk tidak masuk tanpa rencana mitigasi biaya. Kalau kamu sedang merancang warung, katering, atau usaha makanan rumahan, hitung dulu seberapa besar porsi biaya bahan baku dari harga jualmu — kalau cabai dan bawang menyumbang lebih dari 15-20% biaya produksi, kenaikan 50-70% pada komoditas itu bisa menghapus margin yang biasanya kamu andalkan. Pertimbangkan mulai dari skala kecil dengan menu yang fleksibel terhadap harga bahan (bisa diganti bumbu alternatif), bukan menu yang terkunci pada satu komoditas volatil. Ini bukan waktu ideal untuk komitmen kontrak harga jual jangka panjang ke pelanggan korporat tanpa klausul penyesuaian harga bahan baku.

Kalau kamu sudah punya bisnis

Kalau usahamu di F&B, katering, atau warung makan, kamu kemungkinan sudah merasakan ini — seperti Rasmi, pemilik warteg di Cipayung yang biaya belanja hariannya naik dari Rp300.000 jadi Rp600.000-700.000, tapi tetap menahan harga nasi Rp6.000 dan sayur Rp2.000-3.000 karena takut kehilangan pelanggan. Pilihannya memang berat: menaikkan harga dan berisiko kehilangan pembeli, atau menahan harga dan menggerus margin sampai nyaris tidak ada sisa untuk diri sendiri. Opsi ketiga yang lebih realistis: sesuaikan porsi atau variasi menu secara halus (bukan menaikkan harga nominal tapi mengurangi porsi bahan yang sedang mahal), cari pemasok langsung dari sentra produksi atau kelompok tani untuk memotong satu-dua mata rantai distribusi, dan mulai diversifikasi menu yang tidak terlalu bergantung pada cabai dan bawang sebagai bahan utama selama dua-tiga bulan ke depan sampai pasokan normal — yang menurut prediksi petani biasanya mulai pulih sekitar November.

Buat kamu yang sekadar belanja harian

Kalau kamu bukan pelaku usaha dan cuma mengurus dapur sendiri, efeknya langsung terasa di uang belanja bulanan — apalagi kalau pendapatanmu di kelompok menengah-bawah yang porsi pengeluaran untuk pangan jauh lebih besar dibanding kelompok berpendapatan tinggi. Strategi paling realistis bukan menghindari cabai dan beras sama sekali (keduanya kebutuhan dasar yang sulit disubstitusi total), tapi memanfaatkan program SPHP beras bersubsidi dari Bulog yang sedang digelontorkan lebih banyak, serta memantau harga di pasar-pasar yang dikelola Bapanas lewat skema kemitraan distribusi — biasanya harganya lebih stabil dibanding pasar eceran biasa.

Yang Perlu Dipantau

  • Rilis data IPH (Indeks Perkembangan Harga) mingguan BPS — indikator paling cepat untuk melihat apakah tren kenaikan cabai dan beras berlanjut atau mulai mereda sebelum data inflasi bulanan keluar.

  • Inflasi Oktober 2026 dari BPS, biasanya dirilis awal November — ini akan menunjukkan apakah lonjakan awal Oktober benar-benar tercermin di angka resmi atau sempat mereda di pertengahan bulan.

  • Realisasi penyaluran SPHP beras Bapanas sebanyak 74.180 ton — perlu dicek apakah benar-benar sampai ke pasar dan menekan harga, atau tersendat di jalur distribusi seperti kritik INDEF.

  • Pola cuaca dan prediksi panen cabai November — petani memperkirakan pasokan mulai mencukupi kembali bulan depan; kalau prediksi ini molor, harga Nataru bisa makin tertekan.

  • Perbandingan harga Desember 2026 dengan Desember 2025 — ini kunci "efek basis rendah" yang diwanti-wanti BPS untuk inflasi beras di akhir tahun.

Penutup

Yang membuat episode ini layak diwaspadai bukan angka Rp118.150 itu sendiri — harga cabai memang selalu naik-turun drastis dan akan turun lagi begitu pasokan baru datang. Yang lebih layak kamu ingat adalah bahwa tiga komoditas pokok bisa naik bersamaan di tengah klaim resmi bahwa stok nasional surplus, dan itu adalah sinyal bahwa masalahnya ada di jalur antara sawah dan meja makanmu, bukan di jumlah total pangan yang tersedia. Kalau distribusi yang jadi akar masalah, maka solusinya juga harus di situ — bukan sekadar menunggu cuaca membaik.

Sumber

  • Suara.com — "Harga Cabai Merah Keriting Tembus Rp118 Ribu per Kg, Bawang Merah Naik 17,54 Persen"

  • Suara.com — "Cabai Tembus Rp118 Ribu, Mentan Tak Mau Harga Pangan Lepas Kendali"

  • Fortune Indonesia — "Harga Pangan Hari Ini, 5 Oktober 2026: Cabai Merangkak Naik"

  • Liputan6 — "Harga Pangan 2 Oktober 2026: Daging Sapi Tembus Rp150 Ribu per Kg"

  • Kompas.id — "Neraca Pangan Surplus, tetapi Harga Beras dan Cabai Kian Menyengat"

  • Kompas.id — "Tren Inflasi Beras Berlanjut, Sudah Sembilan Bulan Beruntun"

  • Infobanknews — "Harga Beras Kembali Naik, BPS Soroti Tekanan Harga Awal Oktober"

  • Antara News — "INDEF: Kendali Inflasi Pangan Perlu Sesuai dengan Sumber Tekanan Harga"

  • CNBC Indonesia — "BPS Biang Kerok Inflasi September: Cabai Rawit-Merah & Daging Ayam"

  • Detik Finance — "Petani Ungkap Penyebab Harga Cabai Melesat hingga Tembus Rp90 Ribu/Kg"

  • Suara.com — "Cabai, Jengkol, Ayam Kompak Naik! Pedagang Warteg: Omzet Turun, Rp700 Ribu Habis Buat Sayur"

  • Kumparan Bisnis — "Cabai Merah dan Beras Naik, BPS Ingatkan Efek Inflasi pada Desember"

  • Infobanknews — "Celios: Target Inflasi 2027 Terlalu Optimistis"