Lewati ke konten
blabak.

BI Tahan Bunga di 5,75% Meski The Fed Naik ke 4% dan Rupiah Tembus Rp17.800

RDG BI 22-23 September tahan BI Rate 5,75% meski The Fed naik ke 4% dan rupiah tembus Rp17.800. Ruang gerak BI menyempit — ini efeknya ke cicilanmu.

Yusuf FS10 menit baca

Ringkasan Cepat

  • Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia 22-23 September 2026 — keputusan pertama Destry Damayanti sebagai Gubernur BI definitif (bukan lagi pelaksana tugas) — menahan BI Rate di 5,75%, Deposit Facility di 4,75%, dan Lending Facility di 6,50%. Sudah empat bulan beruntun tak bergerak.

  • Keputusan ini diambil dua hari setelah The Fed menaikkan suku bunga acuannya 25 basis poin ke 3,75%-4% pada 16 September 2026 — kenaikan pertama The Fed sejak 2023, setelah tiga kali pangkas di sepanjang 2025.

  • Rupiah melemah ke kisaran Rp17.753-Rp17.800 per dolar AS begitu The Fed mengumumkan kenaikan — jauh di atas kisaran "normal" rupiah sepanjang 2024-2025 yang berkutat di Rp15.800-Rp16.200.

  • Angka yang jarang disorot: selisih bunga BI dan The Fed kini tinggal 1,75 poin persentase, level tersempit sejak BI mulai menaikkan bunga lebih dulu ketimbang The Fed pada Mei-Juni 2026 — ruang gerak BI makin sempit justru ketika ia paling dibutuhkan.

  • Di balik pertarungan menjaga kurs, manufaktur sudah lebih dulu terluka: PMI Agustus 2026 masuk zona kontraksi di 49,8, dan puluhan ribu pekerja sudah kena PHK sebelum keputusan bunga ini diambil.

RDG Perdana Destry Sebagai Gubernur Penuh — dan Hasilnya Sudah Bisa Ditebak

Ada simbolisme di RDG kali ini. Destry Damayanti resmi dilantik sebagai Gubernur BI periode 2026-2031 pada 2 September 2026, setelah DPR menyetujuinya lewat rapat paripurna sehari sebelumnya — menjadikannya perempuan pertama yang terpilih definitif memimpin bank sentral Indonesia. RDG Agustus lalu ia pimpin masih berstatus pelaksana tugas; RDG 22-23 September ini adalah keputusan aktual pertamanya sebagai gubernur penuh.

Tapi soal isi keputusan, nyaris tidak ada kejutan. Konsensus pasar sejak sepekan sebelumnya sudah condong ke satu arah: tahan. Ekonom ASEAN UOB, Enrico Tanuwidjaja, menyebutnya nyaris pasti — "Stay, iya, pasti stay" — karena BI sudah bergerak lebih dulu. Alasannya: BI menaikkan suku bunga acuan 100 basis poin (satu basis poin sama dengan 0,01%) secara kumulatif pada Mei-Juni 2026, empat bulan sebelum The Fed akhirnya ikut naik. Langkah antisipatif itu membuat BI merasa sudah "membeli asuransi" lebih dulu, sehingga tidak perlu buru-buru menambah kenaikan begitu The Fed bergerak.

Hasilnya konsisten dengan pola empat bulan terakhir: BI Rate bertahan di 5,75% sejak pertama kali menyentuh level itu pada Juni 2026, tak bergeser di RDG Juli, Agustus, maupun sekarang September. Deposit Facility — bunga yang BI bayar ke bank atas dana yang mereka parkir semalam di BI — tetap 4,75%. Lending Facility, bunga tertinggi yang BI kenakan saat bank butuh pinjaman darurat, tetap 6,50%.

Kenapa Ruang Gerak BI Makin Sempit, Bukan Makin Lega

Di sinilah letak persoalan yang tidak muncul di headline "BI tahan bunga". Menahan bunga terdengar seperti kabar netral, padahal secara matematis situasinya memburuk. Sebelum The Fed naik, selisih BI Rate dengan suku bunga The Fed cukup lebar untuk membuat aset berdenominasi rupiah — obligasi pemerintah, SRBI (Sekuritas Rupiah Bank Indonesia, instrumen BI untuk menyerap dan mengatur likuiditas rupiah) — tetap menarik bagi investor asing dibanding menyimpan dolar di AS. Begitu The Fed naik ke 3,75%-4%, selisih itu menyusut jadi tinggal 1,75 poin persentase, dihitung dari batas atas suku bunga The Fed. Itu level tersempit sejak BI mulai bergerak lebih dulu pertengahan tahun ini.

Selisih yang menyempit berarti daya tarik rupiah untuk investor asing ikut berkurang — semakin kecil selisihnya, semakin kecil pula insentif mereka menahan uang di aset rupiah ketimbang memindahkannya ke dolar yang kini menawarkan imbal hasil lebih tinggi dan dianggap lebih aman. Kalau BI ikut menahan bunga sementara The Fed terus naik, gap ini bisa terus menciut dan tekanan pada rupiah pun berlanjut. Untuk pengelola BI, ini semacam permainan menyeimbangkan diri di atas tali yang makin sempit: naikkan bunga terlalu agresif, kredit domestik makin mahal dan ekonomi yang sudah melambat bisa makin tertekan; tahan terlalu lama, rupiah berisiko terus melemah dan mendorong inflasi impor naik.

Bukan berarti BI kehabisan amunisi sama sekali. Cadangan devisa — simpanan dolar dan aset valuta asing milik negara yang bisa dipakai BI untuk "membeli" rupiah di pasar dan menahan pelemahannya — tercatat US$146,5 miliar per akhir Agustus 2026, setara membiayai 5,4 bulan impor, jauh di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan. BI juga punya opsi intervensi pasar valas langsung, pengelolaan SRBI, dan insentif transaksi lindung nilai (hedging, mengunci nilai tukar di awal supaya tidak rugi kalau rupiah melemah lebih jauh) sebelum harus menyentuh tuas suku bunga. Tapi semua instrumen itu punya batas, dan instrumen bunga tetap yang paling ampuh justru yang paling mahal untuk dipakai sekarang.

Kritik yang Tak Ikut Bersorak: "Masalahnya Bukan di Bunga"

Tidak semua ekonom puas dengan narasi "BI sudah antisipatif jadi aman". Ekonom senior INDEF, Prof. Didik J. Rachbini, menyoroti akar masalah yang menurutnya lebih dalam dari sekadar selisih suku bunga: ia memperkirakan rupiah tidak akan menguat signifikan dalam lima tahun ke depan karena persoalan struktural ekonomi Indonesia — pergantian kepemimpinan di BI, katanya, belum cukup untuk memperkuat rupiah kalau fondasi di baliknya tidak dibenahi.

Ekonom CELIOS, Bhima Yudhistira, mengambil sudut yang berbeda tapi sama tajamnya: ia menilai akar masalah rupiah ada di kebijakan fiskal, bukan moneter. Menaikkan bunga acuan lebih tinggi lagi hanya akan membuat biaya pinjam makin mahal untuk rumah tangga dan pelaku usaha, sementara efeknya ke penguatan rupiah terbatas selama pemerintah belum memangkas belanja yang dinilai tidak produktif. Dengan kata lain, menurut kubu ini, BI sedang dituntut menyelesaikan pekerjaan rumah yang sebenarnya bukan sepenuhnya wewenangnya.

Dua kritik ini penting justru karena datang dari sudut berlawanan: satu bilang bunga tidak akan pernah cukup, satu lagi bilang menaikkan bunga lebih jauh justru kontraproduktif. Keduanya sepakat pada satu titik — menahan bunga di 5,75% bukan solusi, hanya jeda.

Di Pabrik, Gelombang Ini Sudah Lebih Dulu Datang

Sementara semua mata tertuju ke kurs dan suku bunga, sektor riil sudah menunjukkan retakan lebih dulu. Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur Indonesia versi S&P Global — indikator yang mengukur apakah aktivitas pabrik sedang tumbuh atau menyusut, di atas 50 berarti ekspansi, di bawah 50 berarti kontraksi — jatuh ke 49,8 pada Agustus 2026, dari 50,2 di Juli. Analis S&P Global, Maryam Baluch, mencatat penurunan pada produksi dan lapangan kerja ini membalikkan perbaikan yang sempat tercatat bulan sebelumnya. Faktornya: persaingan yang makin ketat, permintaan yang masih lesu, dan harga bahan baku yang justru naik.

Angka ketenagakerjaan yang menyertainya lebih mengkhawatirkan. Kementerian Ketenagakerjaan mencatat puluhan ribu pekerja — versi datanya berkisar 32.000 hingga 43.000 orang — sudah kena PHK sampai Juni 2026, dengan manufaktur menyumbang sekitar 35% dari total. BPJS Ketenagakerjaan mencatat cakupan yang lebih luas: 126.000 pekerja berstatus nonaktif akibat PHK hingga Mei 2026. Pelaku industri sendiri mewanti-wanti ancaman gelombang PHK lanjutan di paruh kedua 2026, seiring utilisasi kapasitas pabrik yang terus merosot akibat pesanan yang lambat.

Jadi ketika BI bilang "kami tahan bunga demi stabilitas", itu benar dari sisi kurs. Tapi biaya kredit yang tetap mahal — akibat bunga acuan yang belum turun — juga ikut menahan pemulihan sektor yang justru sedang butuh suntikan modal murah untuk bertahan. Ini bukan kontradiksi yang salah satu pihak bohong; ini dua tarikan kepentingan yang sama-sama nyata dan sama-sama sah, dan BI harus memilih mana yang didahulukan.

Efeknya ke Kredit dan Cicilanmu

Di sinilah pertanyaan paling praktis muncul: kalau BI Rate tidak berubah, apakah bunga KPR dan cicilan kreditmu ikut diam saja? Jawabannya tidak sesederhana itu, dan justru di titik ini banyak orang salah paham.

BI Rate cuma acuan. Bank menentukan bunga kredit dan deposito berdasarkan biaya dana mereka sendiri (cost of fund — biaya yang bank keluarkan untuk menghimpun dana, misalnya lewat bunga deposito), kondisi likuiditas, risiko debitur, dan strategi bisnis masing-masing bank — bukan mengikuti BI Rate secara otomatis dan seketika. Data terbaru justru menunjukkan hal yang tampak kontradiktif: kredit perbankan tumbuh 13,58% dibanding periode sama tahun lalu per Juli 2026, mencapai Rp9.135 triliun, sementara margin bunga bersih bank (NIM — selisih antara bunga yang bank terima dari kredit dan bunga yang mereka bayar untuk dana) justru tertekan ke 4,32% dari 4,57% setahun sebelumnya. Artinya bank tetap menyalurkan kredit dalam jumlah besar, tapi keuntungan dari bunga makin tipis karena mereka harus membayar mahal untuk dana yang mereka himpun di tengah suku bunga acuan tinggi.

Khusus KPR, ada sinyal beragam. Pertumbuhannya melambat di Juli 2026 karena bunga dana bank masih tinggi. Tapi Direktur Utama BTN justru optimistis KPR bisa kembali tumbuh mulai September 2026 — bukan karena BI Rate turun, melainkan karena persaingan antarbank untuk menghimpun dana mereda dan biaya dana perbankan mulai turun secara alami. Ini contoh nyata kenapa "BI tahan bunga" dan "bunga KPR bisa membaik" bisa terjadi bersamaan tanpa saling meniadakan: keduanya digerakkan mekanisme yang berbeda.

Bagi peminjam baru, praktiknya: bunga KPR dan kredit kendaraan kemungkinan besar masih bertahan di level yang sama untuk beberapa bulan ke depan, dengan kemungkinan tipis penurunan dari bank-bank yang punya likuiditas longgar. Bagi yang sudah punya cicilan dengan bunga mengambang (floating), belum ada alasan bagi bank untuk memangkas bunga secara agresif selama BI Rate diam di 5,75%.

Apa Artinya Buat Kamu

Kalau kamu masih karyawan dan ingin mulai usaha

Modal usaha lewat kredit bank masih akan terasa mahal untuk beberapa waktu ke depan — ini bukan momen ideal untuk membuka bisnis yang bergantung besar pada pinjaman berbunga tinggi di awal. Kalau memang berencana mulai usaha sekarang, pertimbangkan modal sendiri dulu atau skema yang tidak terlalu bergantung utang bank, sambil menunggu sinyal lebih jelas soal arah bunga di kuartal mendatang. Kalau usahamu berhubungan dengan bahan baku impor, harga dolar yang mahal (Rp17.800-an) berarti biaya produksi ikut naik — hitung ulang margin sebelum benar-benar mulai, dan jangan asumsikan rupiah akan cepat kembali ke Rp16.000-an.

Kalau kamu sudah punya bisnis

Kalau bisnismu bergantung bahan baku impor, rupiah di kisaran Rp17.800 bukan situasi sementara yang bisa ditunggu saja — ini kemungkinan besar level baru untuk beberapa bulan ke depan. Pertimbangkan lindung nilai (hedging) untuk pembelian bahan baku ke depan, atau negosiasi ulang kontrak dengan pemasok dalam skema yang lebih tahan gejolak kurs. Kalau kamu punya kredit modal kerja dengan bunga mengambang, jangan berharap cicilan turun dalam waktu dekat — justru ini saat yang tepat untuk menghitung ulang cash flow dengan asumsi bunga tetap tinggi sampai akhir tahun, bukan berharap ada penurunan mendadak.

Buat masyarakat luas

Kalau kamu bekerja di sektor yang sensitif suku bunga — properti, otomotif, atau manufaktur padat karya — situasi saat ini bukan sinyal aman. PMI yang kontraksi dan angka PHK yang sudah puluhan ribu sebelum keputusan bunga ini diambil berarti tekanan di sektor ini kemungkinan berlanjut, terlepas dari apa yang BI putuskan soal bunga. Ini bukan alasan panik, tapi alasan realistis untuk mulai menyiapkan dana darurat lebih tebal dari biasanya kalau pekerjaanmu ada di sektor-sektor tersebut.

Yang Perlu Dipantau

  • RDG BI berikutnya, diperkirakan berlangsung sekitar pertengahan-akhir Oktober 2026 — perhatikan apakah BI mulai bergeser dari sikap "tahan" jika rupiah terus melemah.

  • FOMC The Fed 27-28 Oktober 2026 — dot plot The Fed sendiri mengisyaratkan kemungkinan satu kali kenaikan lagi di 2026, yang bisa kembali menekan selisih bunga BI-Fed lebih sempit lagi.

  • Level rupiah di kisaran Rp17.850-Rp18.200 — sejumlah ekonom menyebut ini zona kritis: kalau rupiah tembus level ini disertai defisit transaksi berjalan (current account deficit) melebar di atas 1,5% PDB, opsi BI menaikkan bunga ke 6% mulai realistis.

  • Rilis inflasi September 2026 dari BPS, dijadwalkan awal Oktober — inflasi tahunan Agustus sudah di 3,19%, naik dari 2,88% bulan sebelumnya dan mendekati batas atas target BI di 3,5%.

  • PMI manufaktur September 2026, rilis awal Oktober — akan menunjukkan apakah kontraksi Agustus berlanjut atau sekadar koreksi sesaat.

Penutup

BI tidak salah menahan bunga di 5,75% — di atas kertas, langkah antisipatif mereka bulan Mei-Juni memang membuat mereka lebih siap ketimbang bank sentral lain saat The Fed akhirnya bergerak. Tapi "siap" bukan berarti "aman", dan selisih bunga yang kini tinggal 1,75 poin persentase adalah pengingat bahwa ruang itu terus menyempit setiap kali The Fed bergerak lebih dulu. Yang perlu kamu pegang bukan optimisme bahwa krisis sudah terkendali, melainkan kesadaran bahwa bunga mahal dan rupiah lemah kemungkinan besar masih akan jadi latar belakang ekonomi Indonesia sampai beberapa bulan ke depan — jadi rencanakan cash flow dan cicilanmu sesuai kenyataan itu, bukan sesuai harapan bahwa semuanya akan segera membaik.

Sumber

  • Kompas Money — "BI Rate Diproyeksi Tetap 5,75 Persen meski The Fed Naikkan Suku Bunga"

  • Kompas Money — "The Fed Naikkan Suku Bunga, Rupiah Berisiko Tembus Rp 18.000 Per Dollar AS"

  • Kompas.id — "Apa Kira-kira Respons BI Setelah Fed Rate Naik?"

  • Bloomberg Technoz — "Destry Pimpin RDG, Bank Sentral Tahan BI Rate Tetap 5,75%"

  • Bloomberg Technoz — "Menebak BI Rate di Rapat Perdana Destry Damayanti sebagai BI-1"

  • CNBC Indonesia — "The Fed Sudah Mengerek Suku Bunga, Apakah BI Rate Ikutan Naik?"

  • CNBC Indonesia — "Kabar Buruk Awal September: PMI Manufaktur RI Kontraksi, PHK Naik"

  • IDN Times — "Suku Bunga The Fed Naik, Rupiah Dibuka Melemah ke Rp17.737 per dolar AS"

  • CNBC (AS) — "Fed rate decision September 2026: Rates rise to 3.75%-4%"

  • Jurnas — "Prof. Didik: Pergantian Kepemimpinan BI Belum Cukup Perkuat Rupiah"

  • Detik Finance — "Destry Damayanti Resmi Dilantik Jadi Gubernur BI"

  • CNN Indonesia — "Cadangan Devisa RI Naik Jadi US$146,5 M per Agustus 2026"

  • CNBC Indonesia — "BPS: Inflasi Agustus 2026 Tembus 0,21%"

  • Republika — "BPS Catat Inflasi Tahunan Indonesia pada Agustus 2026 Capai 3,19 Persen"

  • IDX Channel — "PMI Manufaktur Indonesia Turun Tipis ke 49,8 pada Agustus 2026"

  • Kontan — "Bank Himbara Pertahankan Target Pertumbuhan Kredit Meski Suku Bunga Masih Tinggi"

  • Harian Energi — "Peluang Pertumbuhan KPR Terbuka Mulai September 2026 Efek Bunga Dana"

  • Harian Jogja — "Kredit Tumbuh 13,58 Persen, NIM Bank Berpotensi Tertekan"

  • Republika — "Rupiah Tembus Rp 17.700-an, Bank Indonesia Bakal Naikkan Suku Bunga?"