Block Pangkas 40% Karyawan Gara-Gara AI, Sahamnya Malah Pesta — Ini yang Perlu Dicerna Bos-Bos Indonesia
Block (Square/Cash App) PHK 4.000 karyawan karena AI, saham melonjak 22%. Tapi studi Gartner bilang PHK akibat AI belum tentu bikin untung.
Daftar isi12 bagian
Ringkasan Cepat
Block — perusahaan induk Square dan Cash App — memangkas sekitar 4.000 karyawan (40% dari total lebih dari 10.000 orang) lewat surat resmi ke pemegang saham dari CEO Jack Dorsey pada Februari 2026, menyisakan kurang dari 6.000 orang.
Ini bukan PHK karena bangkrut: laba kotor Block tahun fiskal 2025 justru naik 17% dibanding tahun sebelumnya jadi US$10,36 miliar, dan sahamnya melonjak sampai 24% begitu pengumuman keluar — hari terbaiknya dalam sekitar empat tahun terakhir.
Alasan resmi: AI internal bernama "Goose" kini menyerap makin banyak tiket layanan pelanggan, dan sejak Juni AI ikut menulis serta mereview hampir seluruh perubahan kode produksi — produktivitas kode per engineer naik lebih dari 40%.
Klaim "PHK terbesar akibat AI dalam sejarah" perlu diberi konteks: ini terbesar dari sisi proporsi (40% workforce) dan keterusterangan CEO, bukan dari jumlah orang — Oracle di tahun yang sama memangkas 21.000 orang karena alasan serupa, lima kali lebih banyak secara absolut.
Studi Gartner terhadap 350 eksekutif perusahaan besar dunia menemukan: 80% yang memangkas karyawan gara-gara AI tidak menunjukkan korelasi dengan kenaikan keuntungan — yang justru untung adalah perusahaan yang pakai AI untuk memperkuat karyawan yang ada, bukan menggantikannya.
Dari 10.000 Jadi Kurang dari 6.000, dalam Satu Surat
Selasa akhir Februari 2026, karyawan Block yang login pagi itu menemukan dunia kerja mereka berubah lewat sepucuk surat pemegang saham. Jack Dorsey — pendiri Twitter yang kini fokus penuh di Block — menulis bahwa "perkakas kecerdasan (intelligence tools) telah mengubah apa artinya membangun dan menjalankan perusahaan." Kalimat itu adalah pembungkus halus untuk keputusan keras: memangkas sekitar 4.000 dari lebih 10.000 karyawan, jadi tinggal kurang dari 6.000.
Karyawan yang terkena dampak mendapat pesangon 20 minggu gaji ditambah satu minggu per tahun masa kerja, saham (equity) yang sudah vesting sampai akhir Mei tetap cair, enam bulan asuransi kesehatan, perangkat kerja jadi milik mereka, plus US$5.000 dana transisi. Paket yang tergolong layak — tapi tetap saja, hampir separuh kantor pergi dalam satu putaran.
Yang membuat langkah ini beda dari gelombang PHK teknologi lain sepanjang 2026: Dorsey tidak menyebutnya darurat. Ia menyebutnya bertaruh ke depan, dan memprediksi "sebagian besar perusahaan akan sampai pada kesimpulan yang sama" dalam setahun ke depan. Bagi perusahaan Indonesia yang sedang buru-buru pasang AI agent di layanan pelanggan atau tim IT, prediksi ini pantas jadi alarm — bukan karena pasti benar, tapi karena kalau eksekutif se-level Dorsey mengucapkannya di depan investor, kemungkinan itu jadi acuan buat bos-bos lain untuk mengambil keputusan serupa, terlepas dari apakah keputusan itu benar-benar tepat.
Anehnya, PHK Massal Ini Bikin Investor Pesta
Biasanya PHK massal bikin pasar gelisah — sinyal kalau perusahaan lagi kesulitan. Yang terjadi di Block justru sebaliknya: sahamnya melompat lebih dari 22% di sesi perdagangan sebelum pasar resmi buka, dan terus menguat sampai 24% pada hari yang sama, hari terbaiknya sejak 2022. Block juga menaikkan proyeksi laba bersih per lembar saham (EPS) 2026 jadi US$3,66 — jauh di atas perkiraan analis US$3,22, yang oleh sejumlah media dibingkai sebagai "pertumbuhan laba 62%".
Di sinilah letak kontradiksi yang perlu dijelaskan sekaligus, bukan dibiarkan menggantung: secara rata-rata, saham perusahaan yang mengumumkan PHK berbau AI sepanjang 2026 justru tertinggal sekitar 10% dari indeks Nasdaq dalam 30 hari perdagangan setelah pengumuman — investor lama-lama skeptis. Block adalah pengecualian di titik awal, karena reaksi positifnya terikat langsung ke angka konkret (proyeksi laba naik tajam), bukan cuma janji efisiensi AI yang abstrak. Investor bereaksi ke matematika laba jangka pendek, bukan ke cerita transformasi jangka panjang — dan itu dua hal yang berbeda, meski sering disatukan dalam satu judul berita.
Apa yang Sebenarnya Dikerjakan AI di Sana
Bagian paling dipotong adalah layanan pelanggan, tempat AI internal bernama "Goose" — awalnya diluncurkan akhir 2023 sebagai alat bantu tim customer service — kini menyerap porsi makin besar dari pertanyaan masuk. Bukan seratus persen, tapi cukup besar untuk membuat tim yang dulu dibutuhkan jadi jauh lebih kecil.
Di sisi teknik, Dorsey menulis bahwa sejak Juni 2026, "AI agentic membantu menulis dan mereview hampir seluruh perubahan kode produksi kami." Rangka kerja AI open-source bikinan Block, yang juga bernama Goose, diklaim mendongkrak jumlah kode produksi yang dikirim per engineer lebih dari 40% sejak September 2025. Ke pelanggan, Block juga meluncurkan Moneybot, asisten AI di Cash App yang diumumkan November 2025 — jadi bukan cuma soal memotong biaya internal, tapi juga produk baru yang dijual sebagai nilai tambah.
Titik pentingnya: yang dipangkas paling dalam bukan sembarang divisi, tapi persis divisi yang paling mudah diotomasi — layanan pelanggan bervolume tinggi dan sebagian pekerjaan coding rutin. Ini pola yang juga relevan buat perusahaan Indonesia: kalau tim kamu sebagian besar mengerjakan tugas berulang dan bervolume tinggi, itulah yang pertama kali dilirik saat perusahaan menghitung ulang kebutuhan orang.
"Terbesar dalam Sejarah" — Terbesar dari Sudut Mana?
Klaim bahwa ini PHK terbesar akibat AI dalam sejarah korporasi butuh catatan kaki. Dari jumlah orang, Block (4.000) kalah jauh dari Oracle yang di tahun yang sama memangkas sekitar 21.000 karyawan (13% dari total globalnya ~162.000), bahkan menulis eksplisit di laporan tahunannya bahwa "adopsi dan penerapan teknologi AI di seluruh operasi kami telah, dan mungkin akan terus, menghasilkan pengurangan tenaga kerja." Amazon memangkas 16.000 posisi korporat, Meta 8.000, IBM sampai 7.800.
Yang membuat Block dianggap "terbesar" adalah kombinasi dua hal: proporsinya paling ekstrem di antara perusahaan besar (40% dari total karyawan dalam satu putaran, dibanding Oracle 13% atau Amazon 9%), dan kejujuran — atau setidaknya kesediaan tampil jujur — CEO-nya menyebut AI sebagai alasan utama secara gamblang, tanpa dibungkus istilah "penyesuaian struktur organisasi" seperti kebanyakan perusahaan lain. Bedanya penting: satu perusahaan bicara soal skala kerusakan absolut, satu lagi bicara soal seberapa berani perusahaan itu bilang "AI menggantikan kalian" secara terang-terangan.
Suara Skeptis: AI-Washing atau Beneran AI?
Tidak semua orang percaya cerita ini murni soal teknologi. Analis SDM Josh Bersin mencatat bahwa dari tujuh karyawan Block yang ia wawancarai, tidak satu pun bisa menjelaskan dengan jelas bagaimana transformasi bisnis ini sebenarnya akan dijalankan — indikasi bahwa PHK ini bisa jadi cara rapi untuk "membersihkan bagan organisasi" sambil memakai AI sebagai pembenaran ke publik dan investor.
Bersin juga membedah hitung-hitungan biayanya: mengganti satu agen call center bergaji sekitar US$35.000 setahun dengan AI cuma menghemat 50–60% biaya operasional — bukan menghilangkannya sepenuhnya, karena AI tetap butuh biaya komputasi dan pengawasan. Untuk pekerjaan yang lebih kompleks seperti menulis kode, biaya operasional AI kadang justru lebih mahal dari gaji seorang engineer. Ia juga membandingkan profitabilitas Block yang jauh tertinggal dari Visa, Mastercard, atau Shopify pada skala serupa — sinyal bahwa Block sebenarnya belum efisien sejak awal, dan PHK ini mungkin lebih soal mengejar ketertinggalan struktural ketimbang lompatan transformasi AI murni.
Ada pola yang lebih luas di baliknya: dari seluruh PHK teknologi tahun 2025, hanya 4,5% yang benar-benar mengutip AI sebagai alasan, sementara 59% manajer perekrutan mengaku AI dipakai sebagai kedok untuk PHK yang sebenarnya dipicu kelebihan tenaga kerja pasca-pandemi, tekanan biaya, atau disfungsi organisasi. Ini pas dengan riwayat Block sendiri: jumlah karyawannya melonjak dari 3.835 orang akhir 2019 jadi lebih dari 12.000 di puncak masa pandemi, sempat dipangkas sekitar 10% pada 2024, lalu dipotong lagi bertahap sebelum putaran besar Februari 2026. Menyebut AI sebagai alasan tunggal membuat cerita ke investor terdengar seperti visi masa depan, bukan koreksi atas keputusan rekrutmen masa lalu yang berlebihan.
Studi Gartner: PHK Belum Tentu Bikin Untung
Ini bagian yang paling penting buat perusahaan mana pun yang tergoda meniru langkah Block, termasuk di Indonesia. Gartner mensurvei 350 eksekutif di perusahaan-perusahaan besar dunia dengan pendapatan minimal US$1 miliar, dan menemukan bahwa 80% perusahaan yang menguji coba AI melaporkan pengurangan karyawan — tapi tidak ada korelasi antara seberapa besar PHK-nya dengan seberapa besar kenaikan keuntungan.
Helen Poitevin, analis di Gartner, menyimpulkannya tegas: "Mengejar nilai hanya lewat pengurangan karyawan kemungkinan besar membawa sebagian besar organisasi ke jalan dengan hasil yang terbatas." Perusahaan dengan return on investment (ROI, keuntungan dibanding biaya yang dikeluarkan) tertinggi justru bukan yang paling banyak PHK — melainkan yang memakai AI untuk "people amplification": memperkuat kapasitas karyawan yang sudah ada, bukan menggantikannya.
Ada juga jurang persepsi yang mengungkap kenapa banyak proyek AI gagal memberi hasil: survei Great Place to Work menemukan 82% eksekutif yakin perusahaan mereka menyediakan alat AI yang berguna, tapi hanya 38% karyawan biasa yang sepakat. Kalau alat yang dibanggakan manajemen ternyata tidak dipakai atau tidak membantu di lapangan, memangkas orang di sekitarnya bukan solusi — itu cuma memindahkan beban kerja ke tim yang lebih kecil dengan alat yang belum terbukti.
Bagaimana dengan Indonesia?
Indonesia sudah punya gelombang PHK sendiri yang berjalan paralel, meski sebagian besar belum secara eksplisit menyebut AI sebagai kambing hitam seperti Block. Data Kementerian Ketenagakerjaan mencatat lebih dari 42.000 pekerja kena PHK sepanjang semester I 2025, naik 32,19% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya — kenaikan yang lebih banyak dipicu tekanan ekonomi dan efisiensi biaya ketimbang otomasi murni.
Tapi fondasinya sudah terpasang: 87% pemimpin bisnis di Indonesia mengaku familiar dengan konsep AI agent, jauh di atas 56% karyawan yang berada di level pemahaman serupa — kesenjangan yang mirip dengan temuan Gartner soal gap persepsi eksekutif-karyawan. Riset INDEF memperkirakan sekitar 50–60% jenis pekerjaan berpotensi terdampak otomasi termasuk AI, dengan sektor paling rentan adalah ritel, jasa, manufaktur, dan pekerjaan administrasi perkantoran. Contoh konkretnya sudah ada: sejumlah bank dan platform e-commerce besar di Indonesia sudah mengalihkan sebagian layanan pelanggan mereka ke chatbot AI.
Bedanya dengan Block: adopsi AI di Indonesia, terutama di HR dan layanan pelanggan, masih sebagian besar bersifat asisten — bukan otonom penuh — sehingga manusia masih diperlukan untuk mengawasi keputusan akhir (human-in-the-loop). Artinya jendela waktu sebelum pola seperti Block muncul di sini masih ada, tapi tidak selamanya terbuka.
Apa Artinya Buat Kamu
Kalau kamu masih karyawan dan ingin mulai usaha
Biaya untuk memulai bisnis jasa kini jauh lebih murah berkat AI agent — satu atau dua orang bisa menangani volume pelanggan yang dulu butuh satu tim. Tapi jangan asal pasang AI lalu berharap untung otomatis: hitungan Bersin menunjukkan penghematan dari AI seringkali cuma 50–60%, bukan penghapusan biaya total, apalagi untuk pekerjaan yang butuh keahlian.
Ada peluang nyata di sisi lain cerita ini: Bersin mencatat karyawan Block sendiri kesulitan menjelaskan bagaimana transformasi AI mereka benar-benar dijalankan. Banyak perusahaan ingin ikut tren ini tapi tidak tahu cara meredesain proses kerjanya dengan benar, bukan sekadar memangkas orang lalu memasang chatbot. Kalau kamu paham cara membenahi alur kerja dengan AI — bukan cuma jual "AI-nya", tapi jual cara memakainya dengan tepat — di situ ada pasar yang belum terlalu ramai.
Kalau kamu sudah punya bisnis
Jangan tiru langkah Block mentah-mentah hanya karena sahamnya naik. Kenaikan itu terikat ke proyeksi laba konkret, bukan ke PHK-nya sendiri — dan data Gartner tegas: 80% perusahaan yang PHK karena AI tidak mendapat kenaikan ROI yang sepadan. Sebelum memangkas orang, audit dulu proses mana yang benar-benar bisa diotomasi penuh, dan mana yang "kelihatannya bisa" tapi sebenarnya masih butuh pengawasan manusia yang mahal.
Kalau kamu memang mengadopsi AI di layanan pelanggan atau pengembangan software, pantau ketat metrik kualitasnya, bukan cuma metrik penghematan biaya. Ingat juga jurang persepsi 82% vs 38% dari studi Great Place to Work — jangan asumsikan tim kamu merasakan manfaat AI yang sama besarnya dengan yang kamu bayangkan di ruang rapat direksi. Dan secara hukum ketenagakerjaan di Indonesia, PHK berbasis alasan efisiensi teknologi punya konsekuensi pesangon dan proses yang berbeda dari PHK biasa — konsultasikan dengan tepat sebelum mengambil keputusan, apalagi di tengah sentimen publik yang sudah sensitif soal gelombang PHK 2025.
Kalau kamu bekerja di sektor rentan (layanan pelanggan, admin, entri data, testing software)
Pola di Block dan daftar perusahaan lain yang PHK karena AI sepanjang 2026 konsisten: yang paling dulu dan paling dalam dipotong adalah pekerjaan bervolume tinggi dan berulang. Riset INDEF menyebut sektor serupa di Indonesia — ritel, jasa, administrasi perkantoran — sebagai yang paling rentan.
Langkah realistis: geser fokus ke kemampuan yang AI belum bisa gantikan dengan baik — menangani kasus pengecualian, mengambil keputusan yang butuh konteks, atau mengawasi hasil kerja AI itu sendiri. Bahkan di Block, AI "menyerap porsi yang makin besar" dari pertanyaan pelanggan, bukan seratus persen — masih ada celah untuk peran yang menangani sisanya, asal kamu punya keahlian untuk isi celah itu.
Yang Perlu Dipantau
Laporan keuangan kuartal ketiga Block, dijadwalkan 5 November 2026 — akan terlihat apakah produktivitas dan kualitas layanan bertahan pasca-PHK, atau justru ada tanda keretakan yang membenarkan kritik Bersin.
Apakah prediksi Dorsey — "sebagian besar perusahaan akan mengikuti dalam setahun" — benar-benar terjadi di industri fintech dan teknologi lain menjelang awal 2027.
Studi lanjutan Gartner atau lembaga riset lain soal ROI PHK berbasis AI sepanjang 2026–2027, untuk melihat apakah temuan "tidak ada korelasi" ini konsisten atau berubah.
Rilis data Kemnaker untuk semester II 2025 dan semester I 2026, khususnya tren PHK di sektor jasa dan teknologi Indonesia.
Sinyal kualitas layanan di Cash App dan Square pasca-PHK — keluhan pelanggan yang meningkat akan jadi bukti nyata apakah AI benar-benar menggantikan fungsi manusia atau cuma menutupi kekurangan tenaga.
Penutup
Cerita Block bukan cuma soal berapa banyak orang yang kehilangan pekerjaan — itu soal siapa yang percaya duluan pada narasinya: investor yang menyambut gembira lewat kenaikan saham, bukan pelanggan yang harus berurusan dengan chatbot, atau karyawan yang tersisa dengan beban kerja tim yang separuh lebih kecil. Kalau kamu memegang bisnis dan tergoda memakai kalimat "ini demi AI" saat memangkas orang, tanya jujur dulu ke diri sendiri: apa yang sebenarnya kamu benahi, atau cuma kamu tutupi?
Sumber
CNN Business — Block lays off nearly half its staff because of AI, CEO predicts most companies will do the same
CNBC — Block shares soar as much as 24% as company slashes workforce by nearly half
Fortune — Block CEO Jack Dorsey lays off nearly half of his staff because of AI
Fortune — AI isn't paying off in the way companies think, layoffs driven by automation failing to generate returns (studi Gartner)
Josh Bersin — Is Block's Decision to Layoff 40% of Its Workforce a Bellwether or Not?
Medium (Gil Pignol) — Block's Layoffs Reveal the Great AI-Washing of Corporate America
TechCrunch — The running list: major tech layoffs in 2026 that have name-checked AI
CX Today / DQ India — Oracle cuts workforce by 21,000, warns AI may drive further layoffs
CNBC Indonesia — Tren Karyawan Manusia Diganti AI: Daftar Perusahaan PHK 2026
IDN Research Institute — AI dan Risiko PHK di Indonesia 2025–2026
Talenta — AI in HR 2026: Reality Check Adopsi AI di Perusahaan Indonesia