Lewati ke konten
blabak.

China Melambat, Ekspornya Lari ke ASEAN — Kenapa Industri RI Harus Was-was Jelang Duel Dagang dengan Uni Eropa

China genjot ekspor ke ASEAN sambil hadapi UE 8 Oktober. Buat Indonesia, ini bukan kabar baik: pabrik lokal tertekan, komoditas terancam.

Yusuf FS10 menit baca

Ringkasan Cepat

  • Ekonomi China hanya tumbuh 4,3% pada kuartal II 2026 — paling lambat sejak akhir 2022 — ditarik ke bawah oleh krisis properti yang sudah lima tahun berjalan dan rumah tangga yang menahan belanja.

  • Karena pasar domestik lesu dan pintu Amerika Serikat makin tertutup tarif tinggi, China banting setir mengalihkan ekspornya ke ASEAN, yang melonjak 29,4% dibanding periode sama tahun lalu di awal 2026 — jauh lebih cepat dari pertumbuhan ekspor ke pasar lain.

  • Tanggal 8–9 Oktober 2026, pejabat dagang tertinggi Uni Eropa akan ke Beijing untuk babak kedua perundingan dagang, di tengah ancaman Jerman dan Prancis mendorong Uni Eropa membuat senjata tarif ala Section 301 Amerika Serikat yang disebut bisa "memutus China dari pasar Eropa dalam 24 jam."

  • Ekspor Indonesia ke China di atas kertas naik jadi 25,68% dari total ekspor nasional — tapi badan dagang PBB (UNCTAD) mencatat kenaikan ini lebih banyak didorong harga yang naik, bukan volume barang yang bertambah, sehingga rentan kalau harga komoditas global ikut terkoreksi.

  • Industri manufaktur dalam negeri sedang dihantam ampat tekanan sekaligus menurut Kementerian Perindustrian, dan sepanjang 2026 sudah ada puluhan ribu pekerja kena PHK — dengan data lapangan dari BPJS Ketenagakerjaan menunjukkan angka jauh lebih tinggi dari catatan resmi pemerintah.

Mesin Pertumbuhan China yang Makin Timpang

Ekonomi China tumbuh 4,3% pada kuartal II 2026 — di bawah target resmi pemerintah 4,5–5% dan lebih lambat dari perkiraan ekonom. Ini bukan angka yang jatuh tiba-tiba, melainkan akumulasi dari sektor properti yang sudah lima tahun terpuruk: penjualan rumah ambruk 65% dari puncaknya pada 2020, dan kontribusi sektor properti ke PDB (total nilai barang dan jasa yang diproduksi dalam setahun) merosot dari sekitar 12% pada 2021 jadi hanya sekitar 6% di awal 2026.

Yang membuat situasi lebih runyam, rumah tangga China juga menahan diri. Indeks kepercayaan konsumen — ukuran seberapa optimis orang terhadap kondisi keuangannya — turun ke 94,7 pada Agustus 2026, di bawah angka 100 yang menandakan pesimisme mulai mendominasi. Orang China yang khawatir harga rumahnya terus anjlok memilih menabung ketimbang belanja, dan itu menular ke semua lini: dari ritel sampai jasa.

Kombinasi properti ambruk dan konsumsi lesu memaksa pemerintah China makin bergantung pada satu mesin yang masih jalan: ekspor dan manufaktur. Masalahnya, pasar tradisional mereka mulai menyempit juga.

Kenapa ASEAN Jadi Pelarian Ekspor China

Amerika Serikat, lewat tarif tinggi yang masih berlaku sejak perang dagang era Trump, membuat ekspor China ke sana justru terkontraksi. Di sisi lain, pasar ASEAN tetap relatif terbuka. Hasilnya terlihat jelas pada data: ekspor China ke ASEAN melonjak 29,4% dibanding periode sama tahun lalu pada awal 2026, jauh melampaui laju pertumbuhan ke pasar manapun. Vietnam menyerap porsi terbesar, disusul Thailand, Malaysia, lalu Indonesia.

Yang menarik, komposisi barangnya juga bergeser. Ekspor mesin dan alat transportasi China — termasuk kendaraan listrik dan komponen baterai — tumbuh 24,3%, sementara tekstil dan alas kaki yang dulu jadi andalan justru menurun. Artinya China tidak sekadar membuang barang murah berlebih (industri China memang punya kelebihan kapasitas produksi besar di banyak sektor sekaligus — dari baja sampai elektronik), tapi juga menggeser diri ke produk bernilai tambah lebih tinggi, persis di segmen yang selama ini ingin dikejar industri ASEAN sendiri.

Ini sebabnya sejumlah pengamat menyebut fenomena ini sebagai "banjir yang naik kelas" — bukan cuma barang murahan, tapi juga produk teknologi menengah yang langsung bersaing dengan rencana hilirisasi dan industrialisasi negara-negara ASEAN, termasuk Indonesia.

8 Oktober: Babak Panas di Brussels

Di tengah pergeseran itu, China juga sedang menghadapi tekanan dari arah berlawanan: Eropa. Pada 8–9 Oktober 2026, Komisioner Dagang Uni Eropa Maros Sefcovic dijadwalkan terbang ke Beijing menemui Menteri Perdagangan China Wang Wentao untuk babak kedua perundingan dagang. Target Uni Eropa jelas: mempersempit defisit dagangnya yang timpang terhadap China, dari volume perdagangan gabungan barang dan jasa senilai €880 miliar tahun lalu.

Yang membuat pertemuan ini lebih tegang dari biasanya adalah manuver di belakang layar. Jerman dan Prancis sedang menyelesaikan surat bersama yang mendesak Komisi Eropa mempercepat pengembangan instrumen dagang sepihak mirip Section 301 — alat tarif yang selama ini dipakai Amerika Serikat untuk menghukum negara yang dianggap berdagang tidak adil. Salah satu pejabat Eropa bahkan menyebut alat ini bisa memberi Brussels kemampuan "memutus China dari pasar Eropa dalam 24 jam." Sasaran utamanya: industri otomotif, kendaraan listrik, dan baterai China yang dianggap membanjiri pasar Eropa dengan harga di bawah wajar.

Beijing sudah bereaksi keras sebelum pertemuan berlangsung. Kementerian Perdagangan China memperingatkan bahwa jika Eropa "secara bersamaan berdialog sambil terus menambah tekanan," langkah itu akan "merusak kepercayaan bersama, mengganggu proses konsultasi, dan memengaruhi keseluruhan kerja sama dagang China-Uni Eropa." China juga menegaskan akan memberikan "respons tegas" bila Eropa benar-benar memberlakukan pembatasan diskriminatif terhadap perusahaan atau produk China.

Bagi Indonesia, hasil pertemuan ini bukan sekadar berita luar negeri. Kalau Eropa benar-benar mengunci pasarnya lebih rapat, tekanan ekspor China ke ASEAN — termasuk Indonesia — berpotensi makin deras, karena China butuh tempat pelarian baru untuk kapasitas produksinya yang sudah terlanjur besar.

Bukan Kabar Baik Penuh Buat Pabrik RI

Di sinilah letak ironinya. Pergeseran ekspor China ke ASEAN sering dibingkai sebagai peluang — lebih banyak barang modal masuk, lebih banyak investasi pabrik relokasi. Tapi Kementerian Perindustrian sendiri menyebut industri nasional sedang dihantam empat tekanan sekaligus: banjir produk impor akibat kelebihan kapasitas produksi global di sektor baja, tekstil, keramik, plastik, dan elektronik; ketidakpastian geopolitik dari konflik di Timur Tengah dan Ukraina yang mengganggu rantai pasok dan ongkos logistik; harga minyak mentah Brent yang bertahan di kisaran US$101 per barel sejak Mei 2026, jauh menambah beban ongkos produksi; dan daya beli domestik yang melemah — padahal 78,39% output manufaktur Indonesia justru diserap pasar dalam negeri, bukan diekspor.

Dampaknya sudah terasa di lapangan. Bahan baku plastik (PE, PP, PVC, PET) impor dari China yang jauh lebih murah membuat pabrik lokal mengurangi jam kerja. Industri tekstil dan garmen, yang dulu jadi andalan penyerap tenaga kerja, makin terpukul oleh banjir pakaian jadi impor. Pola ini bukan cuma dialami Indonesia — Thailand, menurut riset Kasikorn Research Center, sudah kehilangan 4.300 pabrik dalam dua tahun terakhir di sektor furnitur, elektronik, garmen, otomotif, dan baja.

Ironi lain muncul dari sektor yang justru digadang jadi masa depan: kendaraan listrik. Pabrik kendaraan listrik berbasis investasi China di Thailand dilaporkan hanya beroperasi sekitar 20% dari kapasitas terpasangnya, dan di Indonesia bahkan kurang dari 15%. Artinya, sebagian investasi besar yang masuk ke kawasan ini sebenarnya belum dibarengi permintaan riil — investasi datang lebih cepat dari pasarnya sendiri.

Semua tekanan ini berujung pada angka tenaga kerja. Kementerian Ketenagakerjaan mencatat 53.490 kasus PHK lewat sistem klaim Jaminan Kehilangan Pekerjaan hingga Agustus 2026, dengan manufaktur sebagai penyumbang terbesar. Tapi angka itu kemungkinan masih meremehkan kondisi sesungguhnya: data BPJS Ketenagakerjaan, yang mencatat pekerja nonaktif akibat PHK secara lebih luas, menyebut angka sudah mencapai 126.000 orang hanya sampai Mei 2026 — lebih dari dua kali lipat catatan resmi pemerintah untuk periode yang lebih pendek.

Menariknya, data Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur — indikator bulanan kesehatan sektor pabrik — justru berayun tajam: kontraksi ke 49,8 pada Agustus, lalu melompat ke 52,4 pada September, level ekspansi tertinggi dalam tujuh bulan. Tapi lonjakan ini didorong oleh pesanan ekspor baru, bukan pulihnya daya beli domestik yang masih tertekan harga minyak tinggi dan banjir barang impor. Jadi dua arus berlawanan ini terjadi bersamaan: sebagian pabrik yang berorientasi ekspor (termasuk yang jadi bagian rantai pasok relokasi dari China) kebanjiran order, sementara industri yang bersaing head-to-head dengan barang jadi China di pasar domestik — plastik, tekstil, keramik — terus tergerus.

Nikel, Batu Bara, dan CPO: Siapa Paling Rentan

Di luar soal kompetisi manufaktur, ada risiko yang lebih mendasar: China adalah pembeli terbesar komoditas andalan ekspor Indonesia. Ekonom Center of Economics and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira, menghitung China menyerap sekitar sepertiga dari total ekspor batu bara, nikel, dan minyak sawit mentah (CPO) Indonesia. Kalau ekonomi China terus melambat, dampaknya langsung terasa di pendapatan ekspor negara — tapi tidak merata di tiga komoditas ini.

Batu bara sudah lebih dulu kena pukul. Ekspor batu bara Indonesia turun 7,27% pada Januari–April 2026, dipicu produksi domestik China yang justru meningkat plus pemangkasan kuota dan tarif ekspor di dalam negeri. Proyeksi impor batu bara China sepanjang 2026 malah diperkirakan turun 5,1% menjadi 465 juta ton. Beberapa importir China bahkan dilaporkan menunda pembelian — pukulan ganda bagi eksportir batu bara RI yang sudah menghadapi harga global lesu.

Nikel punya kerentanan yang lebih tersembunyi. Banyak smelter nikel di Indonesia dibangun dengan investasi dan teknologi dari China, dan hasil olahannya — terutama untuk baterai kendaraan listrik dan baja tahan karat — pada akhirnya kembali mengalir ke rantai pasok manufaktur China sendiri. Jadi meski ekspor nikel olahan RI secara nilai masih tumbuh, permintaan akhirnya tetap bergantung pada seberapa kencang konstruksi dan manufaktur China berjalan — dua sektor yang justru paling terpukul oleh krisis properti dan pelemahan daya beli saat ini.

CPO, uniknya, justru tampak paling tahan banting — ekspornya naik 16,59% secara nilai dan 20,38% secara volume pada Januari–April 2026. Tapi jangan buru-buru menyimpulkan CPO "kebal" dari perlambatan China. Kenaikan ini terutama ditopang permintaan dari pasar lain seperti India serta pasokan minyak nabati global yang sedang ketat, bukan karena China mengerek pembelian. China memang bukan pembeli dominan CPO Indonesia dibanding batu bara atau nikel — itu sebabnya pelemahan ekonominya belum banyak terasa di angka ekspor CPO, setidaknya untuk saat ini.

Yang lebih mengkhawatirkan justru ada di balik angka pangsa ekspor RI ke China yang terlihat naik jadi 25,68% dari total ekspor nasional pada paruh pertama 2026. Menurut UNCTAD, kenaikan ketergantungan dagang Indonesia terhadap China — tertinggi di antara negara yang mereka pantau — lebih banyak didorong oleh kenaikan harga komoditas, bukan oleh pertambahan volume barang yang benar-benar dijual. Artinya, kalau harga komoditas global ikut terkoreksi seiring ekonomi China melambat (dan China adalah penentu harga buat banyak komoditas dunia), angka ekspor RI ke China yang kelihatan "tumbuh" di atas kertas bisa cepat berbalik arah.

Apa Artinya Buat Kamu

Kalau Kamu Masih Karyawan dan Ingin Mulai Usaha

Hindari dulu masuk ke sektor yang head-to-head langsung dengan barang jadi impor China berharga murah — plastik hilir, tekstil garmen massal, keramik, dan elektronik rakitan sederhana. Risiko kompetisi harga di segmen ini sedang di titik paling berat, dan tren ini kemungkinan belum reda dalam waktu dekat. Kalau tertarik ke sektor yang terkait rantai pasok ekspor (misalnya jasa pendukung logistik, pengemasan, atau komponen untuk industri yang justru kebanjiran order ekspor), cek dulu apakah permintaannya digerakkan pasar domestik yang riil atau cuma ikut arus relokasi investasi yang kapasitasnya masih jauh dari terisi — seperti kasus pabrik EV yang disebut di atas.

Kalau Kamu Sudah Punya Bisnis

Kalau bisnismu bergantung pada bahan baku impor dari China yang kini lebih murah, manfaatkan momentum ini untuk margin jangka pendek, tapi jangan lupa hitung skenario kalau Eropa jadi menutup pasarnya rapat-rapat setelah 8 Oktober — itu bisa membuat volume ekspor China yang "tersisa" makin deras masuk ke Indonesia dan menekan harga lebih jauh, sekaligus menandakan ketidakpastian harga bahan baku ke depan. Kalau kamu eksportir komoditas ke China, terutama batu bara atau nikel, mulai diversifikasi pembeli sekarang — jangan menunggu sampai data ekspor bulan depan benar-benar merah. Pelaku usaha manufaktur yang bersaing langsung dengan barang China sebaiknya segera mengecek skema perlindungan dagang yang tersedia (bea masuk anti-dumping, safeguard) dan tidak menunggu kondisi makin parah untuk mengajukan.

Dampak yang Lebih Luas ke Masyarakat

Buat masyarakat umum, dua hal ini saling berkait: harga barang konsumsi dari China yang murah memang menguntungkan daya beli jangka pendek, tapi kalau itu datang dengan ongkos PHK massal di sektor manufaktur padat karya, dampak bersihnya terasa di lapangan kerja — terutama di kota-kota industri seperti kawasan Jawa Barat yang selama ini jadi basis pabrik tekstil dan elektronik. Sementara itu, daerah penghasil batu bara dan nikel perlu bersiap kalau pendapatan daerah dari royalti dan pajak ekspor ikut tertekan bila permintaan China terus melemah.

Yang Perlu Dipantau

  • Hasil konkret dari pertemuan Sefcovic-Wang Wentao pada 8–9 Oktober 2026 — apakah ada kesepakatan meredakan tensi atau justru eskalasi menuju pemberlakuan instrumen ala Section 301.

  • Keputusan final Komisi Eropa soal pengembangan instrumen dagang sepihak baru tersebut, termasuk cakupan sektor yang disasar (otomotif, EV, baterai).

  • Rilis data PDB China kuartal III 2026, yang biasanya diumumkan pertengahan Oktober — akan jadi indikator apakah perlambatan berlanjut atau mulai stabil.

  • Data ekspor-impor Indonesia bulan September 2026 dari BPS, biasanya rilis sekitar tanggal 15 bulan berikutnya — perhatikan apakah kenaikan nilai ekspor ke China masih didorong harga atau mulai ada pertambahan volume riil.

  • Data PHK bulanan dari Kemnaker dan BPJS Ketenagakerjaan, serta PMI manufaktur Indonesia edisi Oktober — untuk melihat apakah rebound September berlanjut atau cuma lonjakan sesaat.

Penutup

Pergeseran ekspor China ke ASEAN bukan sekadar cerita tentang pabrik yang pindah atau kontainer yang berganti tujuan — itu cermin dari satu kenyataan yang lebih sulit: Indonesia menjadi tempat China menjual kelebihan produksinya sekaligus tempat China membeli hasil tambang dan kebunnya, dan kedua peran itu sama-sama rentan kalau ekonomi raksasa itu terus melambat. Bersikap realistis berarti berhenti melihat "ekspor RI ke China naik" sebagai kabar baik otomatis, dan mulai bertanya: naik karena harga, atau karena benar-benar laku lebih banyak?

Sumber

  • SCMP — Beijing kritik dorongan UE kembangkan instrumen dagang ala Section 301

  • CNBC — China peringatkan Eropa soal tekanan dagang jelang pertemuan Oktober

  • Zetik News — Ketegangan dagang UE-China jelang perundingan senilai €880 miliar

  • China Briefing — Ekspor China Januari-April 2026 dan implikasi rantai pasok

  • WITA (World Trade Institute Alliance) — ASEAN terjepit antara lonjakan ekspor China dan de-risking global

  • Suara.com — Empat badai hantam industri manufaktur nasional

  • Kompas — Ekspor batu bara RI diprediksi menurun, permintaan China dan India melandai

  • Bisnis Indonesia — BPS: ekspor CPO melonjak 16,59%, batu bara masih tertekan

  • Kompas Money — Ketergantungan perdagangan Indonesia ke China makin besar (data UNCTAD)

  • Bloomberg Technoz — Tiga negara tujuan ekspor RI Januari-Juni 2026: China, AS, India

  • CNBC Indonesia — PMI manufaktur RI kontraksi, PHK naik (Agustus-September 2026)

  • IDX Channel / Bisnis Indonesia — Data PHK Kementerian Ketenagakerjaan 2026

  • Kontan — Perlambatan ekonomi China dan risikonya ke Indonesia (analisis Celios)