Lewati ke konten
blabak.

Daya Beli Kelas Menengah Terus Tergerus, Jumlahnya Menyusut ke 46,7 Juta Orang

Kelas menengah RI susut jadi 46,7 juta orang. Tapi angka yang lebih mengkhawatirkan ada di kelompok yang menampungnya: aspiring middle class 142 juta.

Yusuf FS10 menit baca

Ringkasan Cepat

  • Kelas menengah Indonesia menyusut dari 47,9 juta (2024) jadi 46,7 juta orang (2025) โ€” turun 1,1 juta orang, penurunan yang lebih dalam dibanding tahun sebelumnya yang "hanya" 0,4 juta. Sejak 2019, kelompok ini sudah kehilangan 10,6 juta orang.

  • Angka yang lebih mengkhawatirkan justru ada di kelompok penampungnya: aspiring middle class (kelas menengah "calon", belum cukup stabil disebut menengah tapi secara resmi juga tidak miskin) membengkak jadi 142 juta orang atau 50,4% penduduk Indonesia โ€” dan 67% dari mereka melaporkan daya beli menurun, lebih parah dari kelas menengah itu sendiri.

  • Pola konsumsi kelas menengah berubah bentuk: belanja makanan cuma naik 0,9%, sementara transportasi melonjak 22,5% dan smartphone 31,2% โ€” bukan tanda makmur, tapi tanda kebutuhan wajib yang tak bisa ditawar (kerja, akses gig economy) menggeser makanan sebagai pos yang dikorbankan.

  • Di baliknya ada gelombang PHK sektor padat karya (tekstil, garmen, sepatu) yang melumat lebih dari 126.000 pekerja hingga Oktober 2025, dan pergeseran dari "makan tabungan" ke "makan utang" untuk menutup kebutuhan sehari-hari.

  • Bisnis ritel dan FMCG yang selama ini bertumpu pada kelas menengah sebagai basis pasar mulai merasakannya: emiten department store seperti RALS dan LPPF mencatat penjualan turun dua digit sepanjang 2025.

Enam Tahun, 10,6 Juta Orang Menghilang dari Kelas Menengah

Coba bayangkan begini: jumlah orang yang keluar dari kelas menengah Indonesia sejak 2019 sampai 2025 itu hampir sama dengan seluruh penduduk Jakarta. Itu skala penyusutannya โ€” dan ini bukan angka dari satu media atau satu laporan, tapi dari data BPS yang diolah Mandiri Institute.

Definisi kelas menengah di sini bukan sembarang tebak-tebakan. BPS menghitungnya berdasarkan pengeluaran per kapita per bulan sebesar 3,5 sampai 17 kali garis kemiskinan. Dengan garis kemiskinan nasional Rp609.160 (Maret 2025), rentang kelas menengah jadi sekitar Rp2,1 juta sampai Rp10,3 juta per orang per bulan โ€” bukan per keluarga. Kalau pengeluaranmu di kisaran itu, secara statistik kamu masuk kelompok ini.

Tahun 2019, kelas menengah masih 57,33 juta orang, setara 21% populasi. Di 2025, tinggal 46,7 juta atau 16,6% populasi. Yang membuat data terbaru ini lebih genting dari sekadar "tren yang sudah lama diketahui": laju penurunannya mempercepat. Tahun 2024 kelas menengah cuma turun 0,4 juta orang โ€” masih terasa seperti stagnasi. Tahun 2025, penurunannya melompat jadi 1,1 juta orang. Ini bukan pelambatan biasa, ini akselerasi ke arah yang salah.

Ke Mana Perginya Mereka? Setengah Indonesia Kini "Menggantung"

Pertanyaan yang lebih penting dari sekadar "berapa banyak yang turun" adalah: mereka jatuh ke mana? Jawabannya sebagian besar ke kelompok yang disebut aspiring middle class โ€” secara resmi bukan orang miskin, tapi juga belum cukup stabil untuk disebut kelas menengah. Kelompok ini yang tahun 2024 berjumlah 137,5 juta orang, di 2025 membengkak jadi 142,0 juta โ€” naik 4,5 juta orang dan kini mencakup 50,4% dari seluruh penduduk Indonesia.

Penting digarisbawahi: tidak semua pertambahan 4,5 juta itu berasal langsung dari kelas menengah yang turun kasta โ€” sebagian juga dari kelompok rentan yang naik kelas, dan pertumbuhan penduduk itu sendiri. Tapi arah pergerakannya jelas: makin banyak orang Indonesia yang hidup di zona abu-abu ini, di ambang antara aman dan rentan.

Dan di sinilah "angka di balik angka" yang sebenarnya lebih menakutkan dari sekadar 46,7 juta itu: dalam survei tiga tahun terakhir, 67% aspiring middle class melaporkan penurunan daya beli โ€” jauh lebih tinggi dari 49% di kalangan kelas menengah sendiri. Kelompok yang justru semakin besar dan kini menampung separuh penduduk Indonesia, adalah kelompok yang paling menderita. Ini bukan cuma soal kelas menengah menyusut โ€” ini soal fondasi konsumsi nasional yang makin rapuh justru di titik yang paling luas.

Penurunan ini juga tidak merata secara geografis. Mandiri Institute mencatat kelas menengah tumbuh di Jawa Barat (+358 ribu orang), Jawa Timur (+152 ribu), dan DI Yogyakarta (+63 ribu), tapi menyusut di Sumatera Selatan, Banten, dan Jawa Tengah. "Tekanan regional memerlukan pendekatan kebijakan yang berbeda-beda โ€” daerah yang tumbuh perlu menjaga momentum, daerah yang menyusut perlu fokus pada kualitas pekerjaan dan penguatan daya beli," kata Chief Economist Mandiri Institute Andry Asmoro.

Beli Kuota, Tunda Beli Daging

Kalau kamu penasaran seperti apa rasanya jadi bagian dari statistik ini, lihat bagaimana kelas menengah membelanjakan uangnya di 2025. Pertumbuhan konsumsi per kapita kelompok ini cuma 4,1% dibanding tahun sebelumnya โ€” angka terendah di antara semua kelompok pendapatan: kelompok miskin tumbuh 4,7%, aspiring middle class 4,8%, kelompok rentan 5,0%, dan kelas atas 6,8%. Kelas menengah yang selama ini jadi mesin konsumsi nasional, justru paling lambat pertumbuhan belanjanya.

Tapi yang lebih menarik ada di rinciannya, dan ini butuh dijelaskan sekaligus karena kelihatannya kontradiktif. Belanja transportasi kelas menengah naik 22,5% dan belanja smartphone naik 31,2% โ€” kedengarannya seperti tanda hidup makin nyaman. Padahal bukan. Belanja makanan di kelompok yang sama cuma naik 0,9%, jauh melambat dari biasanya. Yang terjadi: transportasi dan ponsel bukan konsumsi gaya hidup, tapi alat kerja โ€” buat ojol, buat jualan online, buat tetap terhubung dengan sumber penghasilan tambahan di tengah upah yang stagnan. Justru makanan, pos yang paling gampang ditekan tanpa kelihatan drastis, jadi korban pertama: porsi dikurangi, kualitas diturunkan, atau frekuensi makan di luar dipangkas. Ini downsizing konsumsi versi rumah tangga โ€” bukan perusahaan yang mengecilkan kemasan, tapi keluarga yang mengecilkan piring.

Dari Pabrik Tekstil ke Sektor Informal

Salah satu penyebab struktural di balik semua ini adalah gelombang PHK yang justru menghantam sektor padat karya โ€” tempat kelas menengah bawah biasanya bekerja. Konfederasi Serikat Pekerja Nasional (KSPN) mencatat lebih dari 126.000 anggotanya kehilangan pekerjaan hingga Oktober 2025, dengan 79% berasal dari industri tekstil, garmen, dan sepatu. Sritex sendiri mem-PHK lebih dari 10.000 karyawan; pabrik tekstil PT Yihong Novatex di Cirebon merumahkan 1.126 pekerja.

Masalahnya bukan cuma kehilangan pekerjaan, tapi ke mana mereka pergi setelahnya. Riset Carnegie Endowment mencatat 80% lapangan kerja baru yang tercipta di Indonesia sepanjang 2019โ€“2024 berasal dari sektor informal โ€” dengan upah rata-rata sekitar Rp1,9 juta per bulan, jauh di bawah upah formal yang sekitar Rp2,9 juta. Pekerja yang di-PHK dari pabrik tekstil formal jarang mendapat pekerjaan setara; kebanyakan berakhir di sektor informal seperti berdagang atau bertani tanpa upah tetap. Ini bukan penurunan sementara, tapi turun kasta struktural yang sulit dibalik dalam waktu singkat.

Semua ini terjadi di atas fondasi upah riil (upah yang sudah disesuaikan dengan inflasi, jadi mencerminkan daya beli sesungguhnya) yang nyaris tidak bergerak sejak 2017. Ekonom LPEM UI Teuku Riefky mencatat, dalam periode itu ekonomi Indonesia tumbuh 4โ€“5% per tahun, tapi pertumbuhan upah riil tidak sampai menyentuh 1%. Ekonomi membesar, tapi porsi yang sampai ke kantong pekerja nyaris tidak bertambah.

Makan Tabungan, Lalu Makan Utang

Ketika penghasilan stagnan tapi kebutuhan terus naik, orang mencari cara bertahan โ€” dan pola itu berubah drastis belakangan ini. Josua Pardede, Chief Economist Permata Bank, menyebutnya pergeseran dari "makan tabungan" menjadi "makan utang": rumah tangga yang dulu menutup kekurangan dengan mengorek tabungan, sekarang beralih ke kredit konsumtif โ€” paylater, pinjol, kartu kredit โ€” untuk mempertahankan gaya hidup yang sama. Ini masuk akal kalau melihat rata-rata saldo tabungan masyarakat yang tinggal Rp1,7 juta โ€” tipis, nyaris sudah habis jadi bantalan.

Konsekuensinya mulai kelihatan di data kredit. Loan at risk atau LAR (kredit yang berpotensi macet) tumbuh 10,3% per tahun, melampaui pertumbuhan kredit sehat yang cuma 5,6%. Artinya kualitas kredit konsumsi memburuk lebih cepat daripada penyalurannya bertambah โ€” tanda peringatan bahwa makin banyak rumah tangga yang menggali lubang lebih dalam dari kemampuan menutupnya. Pembelian rumah dan barang tahan lama mulai ditunda, biasanya indikator paling awal saat rumah tangga mulai berhati-hati.

Di sinilah ada satu data yang perlu diluruskan supaya tidak menyesatkan. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) versi Bank Indonesia justru berada di level optimis sepanjang 2026 โ€” Agustus 2026 tercatat 118,5, naik dari 116,8 di Juli. Ini kelihatannya bertentangan dengan seluruh cerita di atas. Tapi kuncinya ada di rinciannya: keyakinan tertinggi disumbang oleh kelompok belanja rumah tangga di atas Rp5 juta per bulan (123,9) โ€” bukan kelompok yang sedang dibahas di artikel ini. IKK adalah indeks agregat nasional yang bisa "terangkat" oleh optimisme kelompok atas, sementara separuh penduduk di bawahnya sedang menahan diri dan menggeser prioritas belanja. Dua data ini tidak saling meniadakan โ€” mereka menggambarkan Indonesia yang makin terbelah antara yang stabil dan yang menahan napas.

Apa Kata Rak-Rak Toko

Semua tekanan ini akhirnya bermuara ke tempat paling nyata: kasir toko. Penjualan ritel modern melambat sepanjang 2025, dengan mayoritas emiten hanya mencatat pertumbuhan satu digit di kuartal III. Kategori yang paling keras kena adalah yang sifatnya non-esensial: PT Ramayana Lestari Sentosa (RALS) mencatat penjualan turun 11,15% year-on-year, PT Matahari Department Store (LPPF) turun 9,98% โ€” keduanya bermain di fashion, kategori pertama yang dicoret saat rumah tangga mengencangkan ikat pinggang. Sebaliknya, peritel household seperti PT Aspirasi Hidup Indonesia (ACES) masih tumbuh, meski tipis, karena produknya lebih dekat ke kebutuhan fungsional ketimbang gaya hidup.

Pola konsumen yang muncul disebut trading down: bukan berhenti belanja sama sekali, tapi mencari substitusi yang lebih murah, beralih ke merek lokal, atau keluar total dari kategori yang dianggap tidak esensial. Perusahaan FMCG dan ritel merespons dengan memperkecil ukuran kemasan dan menambah varian ekonomis, memperbanyak tingkatan harga alih-alih hanya bermain di segmen premium, dan memperkuat kehadiran di e-commerce tempat konsumen kini lebih leluasa membandingkan harga sebelum membeli.

Apa Artinya Buat Kamu

Kalau kamu masih karyawan dan ingin mulai usaha

Hati-hati dengan asumsi lama bahwa "kelas menengah itu pasar yang tebal dan stabil." Data di atas menunjukkan yang tebal sekarang justru aspiring middle class โ€” 142 juta orang yang sangat sensitif harga tapi tetap butuh belanja setiap hari. Peluang riil ada di melayani kelompok ini dengan produk yang terasa "worth it", bukan sekadar murah asal-asalan โ€” ukuran kecil dengan harga masuk akal, bukan kualitas yang dikorbankan habis-habisan.

Kalau kamu baru kena PHK dari sektor padat karya dan berencana pakai pinjaman untuk modal usaha, pikir dua kali. Data LAR yang naik 10,3% per tahun menunjukkan makin banyak orang gagal bayar cicilan di tengah penghasilan yang tidak pasti โ€” jangan menambah beban cicilan tetap di atas pemasukan yang belum stabil. Kalau memungkinkan, cek juga lokasi: daerah dengan kelas menengah yang masih tumbuh seperti Jawa Barat, Jawa Timur, atau DI Yogyakarta punya daya beli yang relatif lebih tertahan dibanding daerah yang kelas menengahnya menyusut seperti Banten atau Jawa Tengah.

Kalau kamu sudah punya bisnis

Audit ulang berapa persen pendapatanmu bergantung pada kelas menengah yang stabil, dan berapa persen sudah bergeser ke aspiring middle class yang lebih rentan. Kalau bisnismu ada di kategori non-esensial โ€” fashion, gadget premium, layanan gaya hidup โ€” data RALS dan LPPF adalah peringatan konkret bahwa kategori ini pertama kena saat rumah tangga menahan diri, jadi promo dan diferensiasi harga bukan lagi opsional.

Kalau bisnismu menyediakan skema cicilan atau kredit ke konsumen, ini saat yang tepat untuk memperketat proses screening, bukan melonggarkannya demi kejar volume โ€” tren LAR nasional yang naik berlaku lintas sektor, bukan cuma perbankan besar. Dan jangan taruh seluruh strategi di segmen premium yang stabil (tumbuh 6,8%) sambil mengabaikan 142 juta orang di aspiring middle class โ€” pasar itu besar, tapi harus didekati dengan harga dan kemasan yang benar-benar disesuaikan, bukan versi murahan dari produk lama.

Kalau kamu merasa makin sulit napas secara finansial

Kalau kamu sudah mulai pakai paylater atau pinjol untuk menutup kebutuhan harian โ€” bukan untuk hal produktif โ€” itu bukan aib pribadi, itu pola yang sedang terjadi di skala nasional. Data menunjukkan kamu tidak sendirian, tapi itu juga berarti jangan menunggu sampai LAR pribadimu ikut memburuk seperti tren nasional. Kalau bekerja di sektor padat karya yang rawan PHK seperti tekstil atau garmen, mulai bangun keterampilan atau jaringan cadangan sebelum gelombang berikutnya datang โ€” sinyalnya sudah cukup jelas dari data PHK 2025.

Yang Perlu Dipantau

  • Pertumbuhan ekonomi kuartal III-2026 โ€” rilis BPS awal November 2026, untuk melihat apakah perlambatan dari 5,61% (Q1) ke 5,29% (Q2) berlanjut.

  • Survei Konsumen BI edisi September 2026 โ€” jangan hanya lihat angka headline IKK, tapi breakdown per kelompok pengeluaran untuk melihat apakah jarak antara kelompok atas dan bawah melebar atau menyempit.

  • Data kelas menengah BPS-Mandiri Institute edisi 2026 โ€” biasanya dirilis pertengahan tahun berikutnya, akan mengonfirmasi apakah tren penyusutan 2025 berlanjut atau mulai membalik.

  • Kinerja emiten ritel dan FMCG kuartal III-2026 โ€” rilis Oktober-November, indikator paling cepat apakah trading down makin dalam atau mulai mereda.

  • Data PHK Kemnaker dan realisasi investasi sektor tekstil โ€” untuk melihat apakah gelombang PHK padat karya sudah mereda atau justru berlanjut ke 2026.

Penutup

Angka 46,7 juta itu gampang dibaca sebagai statistik dan dilupakan begitu saja. Tapi di baliknya ada jutaan keputusan kecil yang diambil tiap hari: motor tetap dipakai ke tempat kerja meski ongkosnya naik, tapi porsi nasi di meja makan dikurangi dulu. Kalau bisnismu, tabunganmu, atau rencana kariermu masih berasumsi kelas menengah Indonesia itu tebal dan stabil seperti satu dekade lalu, sekarang saat yang tepat untuk mengecek ulang asumsi itu โ€” sebelum kenyataan yang mengoreksinya duluan.

Sumber

  • Mandiri Institute / BPS, dikutip Kontan โ€” "Jumlah Kelas Menengah Turun Lebih Dalam di 2025 Tertekan Daya Beli dan Konsumsi"

  • Investor Trust โ€” "Ancaman Ekonomi 2026: Daya Beli Turun, Kelas Menengah Menyusut"

  • Fortune Indonesia โ€” "Penurunan Kelas Menengah Kian Nyata, Masyarakat Mulai Makan Utang"

  • Carnegie Endowment for International Peace โ€” "Indonesia's Fragile Middle Class"

  • Sigma Research โ€” "Kelas Menengah Menyusut: Dampaknya bagi Strategi Bisnis"

  • T-Rec โ€” "Menavigasi 2025: Daya Beli Kelas Menengah dan Strategi FMCG serta Retail"

  • Kontan โ€” "Krisis PHK 2025: 126.000 Pekerja Kehilangan Pekerjaan, Sektor Tekstil Paling Parah"

  • The Prakarsa โ€” "Mengatasi Kombinasi Mematikan: PHK dan Turunnya Kelas Menengah"

  • Shoesmart/data pasar modal โ€” kinerja penjualan emiten ritel kuartal III-2025 (RALS, LPPF, ACES)

  • Bank Indonesia โ€” Survei Konsumen Agustus 2026

  • BPS โ€” data garis kemiskinan dan pengeluaran per kapita 2025