Lewati ke konten
blabak.

Banggar DPR Sepakati RAPBN 2027, Defisit Dijaga 2,4% PDB Menuju Paripurna 29 September

Banggar DPR kunci RAPBN 2027: belanja naik Rp9,1 T, defisit 2,4% PDB. Tapi asumsi rupiah dan harga minyaknya sudah kalah start dari kondisi riil hari ini.

Yusuf FS9 menit baca

Ringkasan Cepat

  • Banggar DPR dan pemerintah resmi mengunci postur RAPBN 2027 pada 24 September 2026: belanja negara naik Rp9,1 triliun menjadi Rp4.106,3 triliun, sementara defisit tetap dijaga di Rp671,2 triliun atau 2,4% PDB (Produk Domestik Bruto, total nilai barang dan jasa yang dihasilkan negara dalam setahun).

  • Kesepakatan ini tinggal menunggu ketok palu di Rapat Paripurna DPR, Selasa 29 September 2026 β€” empat hari dari sekarang.

  • Masalahnya: asumsi yang jadi fondasi seluruh perhitungan ini β€” rupiah Rp17.500/US$ dan harga minyak (ICP) US$75/barel β€” sudah kalah start. Rupiah riil hari ini sudah di Rp17.905/US$, dan harga minyak Brent dunia sudah tembus US$106/barel karena eskalasi perang di Timur Tengah.

  • Pengalaman APBN 2026 jadi preseden yang gelisah: defisit yang dirancang 2,68% PDB sudah melebar ke proyeksi 2,85% PDB gara-gara kombinasi persis yang sama β€” rupiah, minyak, dan geopolitik.

  • Subsidi energi 2027 malah dipangkas Rp11,44 triliun menjadi Rp261,5 triliun, tepat di saat harga minyak dunia sedang melonjak β€” sebuah taruhan yang bisa berbalik cepat.

Apa yang Sebenarnya Disepakati

Setelah pembahasan empat Panitia Kerja (Panja) β€” soal pertumbuhan ekonomi, defisit-penerimaan, belanja pusat, dan transfer daerah β€” Badan Anggaran (Banggar) DPR dan pemerintah akhirnya klop soal angka final RAPBN 2027. Ketua Banggar Said Abdullah menyebutnya siap dibawa ke rapat paripurna untuk disahkan jadi undang-undang.

Angkanya begini: belanja pemerintah pusat naik dari Rp3.362,1 triliun menjadi Rp3.371,2 triliun β€” kenaikan Rp9,1 triliun yang jadi headline. Tapi di balik angka bersih itu ada tarik-menarik yang lebih menarik: anggaran kementerian/lembaga justru naik Rp52 triliun (dari Rp1.504,7 triliun ke Rp1.556,8 triliun), sementara belanja non-kementerian/lembagaβ€”pos yang menampung subsidi, bunga utang, dan belanja lain-lainβ€”dipangkas Rp43 triliun. Artinya, kenaikan belanja headline sebenarnya menutupi pergeseran prioritas: lebih banyak untuk program kementerian, lebih sedikit untuk pos-pos "otomatis" seperti subsidi.

Transfer ke daerah dipatok tetap di Rp735 triliun tanpa perubahan. Untuk membiayai kenaikan belanja tanpa mengganggu defisit, pendapatan negara ikut dinaikkan Rp9,1 triliun menjadi Rp3.435,1 triliun β€” berasal dari pajak (+Rp2 triliun), kepabeanan dan cukai (+Rp2 triliun), serta penerimaan negara bukan pajak alias PNBP (+Rp5,1 triliun). Hasilnya, defisit tetap terkunci di Rp671,2 triliun, persis 2,4% PDB seperti usulan awal pemerintah. Menteri Keuangan Suahasil Nazara menegaskan angka itu "akan kami jaga dengan sebaik-baiknya."

Belanja pegawai juga naik Rp20 triliun menjadi Rp378,9 triliun, tapi bukan untuk kenaikan gaji pokok merata β€” arahnya ke tunjangan kinerja (tukin) berbasis capaian reformasi birokrasi per instansi. Aparatur sipil negara dipastikan tetap dapat THR dan gaji ke-13 tahun depan.

Asumsi yang Kalah Start dari Kenyataan

Di sinilah bagian yang jarang disorot media: seluruh postur di atas dibangun di atas asumsi makro yang sudah disepakati lebih dulu β€” pertumbuhan ekonomi 6%, inflasi 2,5%, nilai tukar rupiah Rp17.500 per dolar AS, harga minyak mentah Indonesia (ICP) US$75 per barel, dan suku bunga surat utang negara 6,9%. Masalahnya, saat Banggar mengetuk kesepakatan ini pada 24 September 2026, dunia nyata sudah menjauh dari asumsi itu β€” bukan nanti pas 2027 berjalan, tapi hari ini juga, sebelum undang-undangnya bahkan disahkan.

Rupiah, misalnya. Hari yang sama Banggar sepakat, kurs rupiah justru melemah 0,62% ke Rp17.905 per dolar AS, bergerak di kisaran Rp17.800–17.920 dengan kecenderungan makin melemah menuju Rp17.860. Itu sekitar 2,3% lebih lemah dari asumsi Rp17.500 yang jadi patokan seluruh perhitungan subsidi dan pembayaran utang luar negeri. Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuannya di 5,75% akhir September, tapi tekanan datang dari luar: indeks dolar AS mendekati level tertinggi delapan minggu karena sinyal hawkish (kecenderungan menaikkan suku bunga) dari bank sentral AS.

Harga minyak lebih ekstrem lagi. Brent crude β€” patokan harga minyak dunia β€” diperdagangkan di US$106,39 per barel pada 24 September 2026, naik 3,21% dalam sehari, 21,9% dalam sebulan, dan 55% dibanding periode sama tahun lalu. Bandingkan dengan asumsi ICP US$75 per barel yang dipakai RAPBN 2027: gapnya lebih dari 40%. ICP historisnya bergerak dekat dengan Brent dengan diskon tipis, jadi kemungkinan besar harga minyak mentah Indonesia hari ini sudah di atas US$95–100 per barel β€” jauh melampaui asumsi yang baru saja dikunci.

Lonjakan ini bukan kebetulan. Sejak 28 Februari 2026, perang antara AS-Israel dan Iran memicu Iran menutup Selat Hormuz β€” jalur pelayaran tempat sekitar seperlima pasokan minyak dunia lewat. Harga Brent sempat melonjak ke US$117 per barel di April, sempat mereda lewat gencatan senjata, lalu naik lagi September ini setelah serangan Houthi ke Arab Saudi dan negosiasi AS-Iran yang belum tuntas soal pembukaan blokade tanker. Indonesia, yang produksi minyaknya cuma sekitar 600 ribu barel per hari sementara kebutuhan nasional 1,5–1,6 juta barel per hari, harus mengimpor sekitar 1 juta barel per hari untuk menutup selisihnya β€” artinya setiap kenaikan harga minyak dunia langsung jadi beban devisa dan subsidi sekaligus, bukan cuma angka di atas kertas.

Pelajaran yang Belum Diambil dari APBN 2026

Yang membuat gap asumsi 2027 ini layak dikhawatirkan bukan cuma soal angka, tapi soal pola yang berulang. APBN 2026 dirancang dengan defisit 2,68% PDB (Rp698,15 triliun). Tapi Suahasil Nazara sendiri mengakui pada 24 September 2026 β€” hari yang sama dengan kesepakatan RAPBN 2027 β€” bahwa defisit 2026 diproyeksikan melebar ke 2,85% PDB di akhir tahun. Penyebabnya, katanya, "dinamika ekonomi global," "ketegangan geopolitik," dan "fluktuasi harga komoditas serta kurs" β€” persis tiga faktor yang sedang terjadi sekarang, di depan mata, saat asumsi 2027 baru saja dikunci.

Realisasi defisit APBN 2026 sampai Agustus memang baru Rp240,1 triliun atau 0,93% PDB β€” masih longgar. Tapi itu justru menunjukkan pola pelebaran defisit biasanya menumpuk di kuartal-kuartal akhir tahun, saat subsidi energi harus dibayar sesuai harga riil yang sudah telanjur naik duluan. Bandingkan dengan 2024, yang defisitnya "hanya" 2,29% PDB (Rp507,8 triliun), dan 2025 yang dijaga di kisaran 2,48–2,53%. Tren defisit historis Indonesia sebenarnya menurun perlahan β€” tapi 2026 jadi tahun di mana tren itu terganggu oleh syok eksternal yang di luar kendali Jakarta.

Ironisnya, di tengah risiko ini, subsidi energi 2027 justru dipangkas Rp11,44 triliun dari usulan awal Rp272,95 triliun menjadi Rp261,5 triliun β€” terdiri dari subsidi BBM dan LPG 3 kg Rp131,39 triliun serta subsidi listrik Rp130,18 triliun. Alasannya disiplin fiskal. Tapi kalau harga minyak dunia bertahan tinggi karena perang di Timur Tengah belum benar-benar reda, riset Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Universitas Indonesia (LPEM UI) memperingatkan defisit APBN berpotensi melebar melampaui batas 3% PDB β€” ambang yang diharamkan Undang-Undang Keuangan Negara β€” tanpa ada penyesuaian kebijakan atau revisi anggaran di tengah jalan.

Dua Kubu Ekonom, Dua Kekhawatiran Berbeda

Menariknya, kritik terhadap RAPBN 2027 justru datang dari dua arah yang saling bertolak belakang, keduanya dari lembaga riset CORE Indonesia. Ekonom Dipo Satria Ramli menilai rencana belanja hampir Rp4.100 triliun "sangat-sangat agresif" β€” istilahnya sendiri β€” di tengah kecenderungan negara-negara maju menahan ekspansi fiskal. Ia juga menyoroti risiko restitusi pajak (pengembalian kelebihan bayar pajak ke wajib pajak) yang bisa menggerus sampai 10% dari target pendapatan, membuat target pajak yang dipakai untuk menutup kenaikan belanja jadi lebih rapuh dari kelihatannya.

Sebaliknya, Direktur Eksekutif CORE Indonesia M Faisal justru bilang seluruh indikator postur RAPBN 2027 β€” pertumbuhan belanja yang cuma 3,9%, defisit yang menyusut, keseimbangan primer yang melemah β€” menunjukkan sinyal pengetatan, bukan ekspansif seperti diklaim pemerintah. Menurutnya, risiko fiskal sesungguhnya justru bersembunyi di luar postur resmi: subsidi energi yang bisa jebol, mandat investasi lembaga pengelola aset negara seperti Danantara, penempatan Saldo Anggaran Lebih (SAL, sisa dana APBN tahun sebelumnya) di bank-bank BUMN, dan skema berbagi beban (burden sharing) dengan Bank Indonesia. Paradoksnya: defisit turun tapi utang negara justru naik β€” indikasi pemerintah menarik utang lebih besar dari kebutuhan defisit resminya, kemungkinan untuk cadangan kas atau kebutuhan off-budget yang tidak terlihat di angka Rp671,2 triliun itu.

Apa Artinya Buat Kamu

Kalau kamu masih karyawan dan ingin mulai usaha

Belanja kementerian/lembaga yang naik Rp52 triliun dan belanja modal yang diarahkan ke ketahanan pangan-energi, infrastruktur sosial, dan transformasi digital membuka celah tender dan proyek turunan β€” terutama di daerah, mengingat transfer ke daerah tetap dijaga Rp735 triliun. Tapi jangan buru-buru optimistis soal daya beli konsumen: dengan rupiah yang sudah lebih lemah dari asumsi dan harga minyak dunia bergejolak, biaya hidup dan ongkos produksi berisiko naik lebih cepat dari yang direncanakan pemerintah. Kalau rencana usahamu bergantung pada bahan baku impor atau energi, hitung ulang proyeksi biaya dengan skenario rupiah di atas Rp17.800, bukan Rp17.500 yang dipakai pemerintah.

Kalau kamu sudah punya bisnis

Perhatikan dua hal konkret. Pertama, subsidi energi yang dipangkas berarti risiko penyesuaian harga BBM bersubsidi atau tarif listrik jadi lebih tinggi kalau harga minyak dunia bertahan mahal β€” dampaknya langsung ke biaya logistik dan operasional, apalagi buat bisnis manufaktur atau distribusi. Kedua, kalau bisnismu mengandalkan belanja pemerintah (kontraktor, pengadaan, vendor K/L), fokus ke kementerian yang anggarannya naik β€” bukan ke pos non-K/L yang justru dipangkas Rp43 triliun. Ini saat yang tepat untuk mengunci kontrak dengan klausul penyesuaian harga (price adjustment) kalau kurs atau harga energi bergerak jauh dari asumsi, karena sejarah 2026 menunjukkan pelebaran itu nyata dan bisa terjadi cepat.

Dampak buat masyarakat luas

Kalau harga minyak dunia terus tinggi dan pemerintah tetap ingin menjaga defisit di 2,4% PDB, salah satu jalan keluar paling gampang adalah menahan atau mengurangi subsidi energi lebih lanjut β€” yang ujungnya bisa berarti harga BBM bersubsidi atau tarif listrik naik lebih cepat dari perkiraan. Kelompok berpendapatan menengah-bawah biasanya paling kena dampak duluan karena porsi pengeluaran untuk energi dan transportasi lebih besar dari total penghasilan mereka.

Yang Perlu Dipantau

  • Selasa, 29 September 2026 β€” Rapat Paripurna DPR mengesahkan RAPBN 2027 jadi undang-undang. Perhatikan apakah ada catatan revisi menit terakhir soal asumsi makro.

  • Pergerakan harga minyak Brent dan ICP β€” kalau bertahan di atas US$100 per barel sampai akhir tahun, tekanan revisi subsidi energi 2027 akan muncul lebih cepat dari perkiraan siapa pun.

  • Kurs rupiah terhadap dolar AS β€” level Rp17.900–18.000 yang bertahan lama akan memaksa evaluasi ulang beban bunga utang luar negeri dan subsidi berdenominasi dolar.

  • Realisasi defisit APBN 2026 di akhir tahun β€” apakah benar mendarat di 2,85% PDB seperti proyeksi Suahasil Nazara, karena itu jadi indikator paling nyata soal seberapa realistis target 2,4% PDB untuk 2027.

  • Perkembangan gencatan senjata dan negosiasi AS-Iran soal Selat Hormuz β€” ini variabel geopolitik yang, kalau memburuk, langsung menjalar ke ICP, rupiah, dan akhirnya ke APBN Indonesia dalam hitungan minggu, bukan bulan.

Penutup

RAPBN 2027 akan segera jadi undang-undang dengan defisit yang di atas kertas terlihat lebih disiplin dari tahun-tahun sebelumnya. Tapi angka yang dijaga rapi di Rp671,2 triliun itu dibangun di atas asumsi rupiah dan harga minyak yang, pada hari kesepakatan itu diketuk, sudah terbukti meleset dari kenyataan. Pengalaman 2026 sudah menunjukkan jalan ceritanya: defisit yang dirancang ketat bisa melebar diam-diam sepanjang tahun begitu subsidi harus dibayar sesuai harga pasar yang sesungguhnya. Kalau kamu ingin tahu apakah anggaran negara tahun depan benar-benar aman, jangan tunggu palu paripurna 29 September β€” tunggu angka realisasi kuartal pertama 2027, karena di situlah asumsi bertemu kenyataan.

Sumber

  • Bisnis Indonesia β€” "DPR Segera Mengesahkan RAPBN 2027 jadi UU, Defisit APBN 2,4% PDB"

  • Bisnis Indonesia β€” "Banggar DPR-Pemerintah Sepakat Hasil Panja RAPBN 2027, Belanja Naik Rp9,1 Triliun"

  • CNBC Indonesia β€” "Lengkap! Asumsi Makro RAPBN 2027: Ekonomi 6%, Kurs Rp17.500/US$"

  • Antara News β€” "Banggar DPR RI Sepakati Asumsi Makro dan Postur RAPBN 2027"

  • Pintu News β€” "Kurs Rupiah Hari Ini 24 September 2026: Melemah 0,62% ke Rp17.905/USD"

  • Rikopedia Research β€” "Brent Crude Tembus $105, Negosiasi AS-Iran Buntu"

  • LPEM FEB UI β€” "Dampak Perang Iran-AS terhadap Perekonomian Indonesia"

  • Fortune Indonesia β€” "Subsidi Energi Dipangkas Jadi Rp261,50 Triliun pada 2027"

  • Fortune Indonesia β€” "Outlook APBN 2026: Defisit 2,85% dari PDB, Belanja Negara Meningkat"

  • Suara.com β€” "Suahasil Akui Defisit APBN 2026 Bisa Melebar ke 2,85% PDB, Ini Biang Keroknya"

  • Bisnis Indonesia β€” "Belanja RAPBN 2027 Tembus Rp4.000 Triliun, Ekonom CORE: Terlalu Agresif"

  • iNews β€” "Ekonom Soroti Pengetatan RAPBN 2027, Defisit Turun tapi Utang Naik"

  • CNBC Indonesia β€” "Belanja Pegawai Bertambah Rp20 Triliun di 2027, Gaji PNS Bakal Naik?"

  • Kompas β€” "Defisit APBN 2024 Capai Rp507,8 Triliun, 2,29 Persen dari PDB"