Startup Makin Sulit Dapat Dana, tapi yang Lolos Pulang dengan Cek Jauh Lebih Besar
Modal ventura dunia makin menumpuk di startup raksasa. Startup early-stage Indonesia makin sulit naik dari seed ke Series A. Ini sebab dan solusinya.
Daftar isi10 bagian
Ringkasan Cepat
Modal ventura global (dana yang dikumpulkan investor profesional untuk disuntikkan ke startup) makin menumpuk di segelintir perusahaan raksasa: sepanjang 2025, 65% dari total $307 miliar modal ventura dunia mengalir ke 738 "mega-round" โ putaran pendanaan jumbo senilai $500 juta (sekitar Rp8 triliun) atau lebih, jumlahnya melonjak 77% dibanding tahun sebelumnya.
Turunkan ambang batasnya ke $100 juta, konsentrasinya makin tajam: di Amerika Serikat saja, 70% dana ventura 2025 โ lebih dari $200 miliar โ hanya mengalir ke 389 perusahaan, sementara sekitar 6.000 startup lain berebut sisa 30%-nya.
Di Indonesia, efeknya berlipat ganda: total pendanaan startup nasional 2025 cuma $355,7 juta (sekitar Rp5,7 triliun), anjlok 49% dibanding 2024 dan jauh di bawah puncak 2021 senilai $6,9 miliar (~Rp110 triliun).
Hanya sekitar 1 dari 6-7 startup tahap seed di Indonesia yang berhasil naik ke Series A tahun ini; skandal manipulasi laporan keuangan eFishery di awal 2025 jadi salah satu pemicu investor makin waspada.
Yang membedakan startup yang lolos seleksi sekarang bukan lagi "ide bagus" atau "pertumbuhan pengguna cepat", tapi jalur jelas ke untung, hitungan untung-rugi per pelanggan yang sehat, dan tata kelola yang bisa dipertanggungjawabkan.
Dunia Jadi "Barbel": Uang Menumpuk di Dua Ujung, Tengahnya Kering
Bayangkan neraca pendanaan startup dunia sebagai barbel โ beban berat di dua ujung, batang di tengahnya kosong. Itu persis yang terjadi pada industri modal ventura global sepanjang 2025. Perusahaan riset PitchBook mencatat 487 mega-deal (putaran pendanaan super besar) hanya 3,2% dari total jumlah transaksi, tapi menyedot 67% dari seluruh nilai dolar yang beredar di industri ini.
Tren ini bukan kejadian satu tahun. Porsi dana yang mengalir ke putaran di atas $50 juta naik dari 56,9% di 2019 menjadi 68,7% di 2024 โ dan terus memanjat sepanjang 2025. Pemicu utamanya satu kata: AI. Perusahaan seperti OpenAI dan Anthropic menyedot puluhan miliar dolar dalam satu putaran, membuat investor makin percaya diri menaruh cek besar di segelintir nama besar ketimbang menyebar ke ratusan startup kecil.
Dampaknya ke startup tahap awal nyata. Andreessen Horowitz โ salah satu firma modal ventura paling rajin menulis cek seed dan Series A di dunia โ hanya menyelesaikan 74 investasi di dua tahap itu pada semester pertama 2026, dibanding lebih dari 300 investasi serupa di 2024 dan 2025. Pembentukan dana ventura baru oleh pemain baru (first-time fund) pun ambruk 78% sejak 2022. Ketika pemain paling royal di tahap awal mengerem, efek berantainya sampai ke pencari dana paling kecil di Jakarta sekalipun.
Asia Tenggara: Late-Stage Naik 140%, Seed Ambruk 72% โ di Semester yang Sama
Pola barbel ini kelihatan sangat jelas di Asia Tenggara, dan anehnya dua angka yang tampak bertolak belakang ini sama-sama terjadi di semester yang sama โ semester pertama 2025. Pendanaan late-stage (startup yang sudah mapan, biasanya sudah Series C ke atas) di seluruh kawasan melonjak 140% dibanding periode sama tahun lalu, mencapai $1,4 miliar. Di sisi lain, pendanaan seed โ modal paling awal yang biasanya dipakai bangun produk pertama dan cari pasar โ justru ambruk 72%, dari $386 juta menjadi cuma $110 juta.
Kuncinya bukan kontradiksi, tapi memang itulah barbel: uang yang sama jumlahnya di satu kawasan, tapi makin terpusat ke ujung yang sudah terbukti, dan makin kering di ujung yang masih spekulatif. Kuartal ketiga 2025 bahkan tercatat sebagai kuartal terlemah untuk pendanaan ekuitas di Asia Tenggara dalam lebih dari enam tahun โ cuma 112 transaksi, dan nihil putaran di atas $100 juta sepanjang tiga bulan itu. Volume deal tahap awal (pre-seed dan seed) di kawasan ini turun 20% dibanding periode sama tahun lalu, dengan ukuran median tiap putaran yang ikut menyusut.
Pasar Digital Rp1.600 Triliun, Tapi Cuma Kebagian 8% Modal Regional
Di sinilah posisi Indonesia jadi ironis. Menurut laporan e-Conomy SEA 2025 (riset tahunan Google, Temasek, dan Bain soal ekonomi digital Asia Tenggara), nilai transaksi ekonomi digital Indonesia nyaris menembus $100 miliar (sekitar Rp1.600 triliun) tahun ini โ pasar digital terbesar di kawasan. Tapi dari seluruh modal ventura yang masuk ke Asia Tenggara, Singapura menyerap 92%-nya, sementara Indonesia โ dengan pasar digital terbesar sekalipun โ hanya kebagian 8%.
Dua angka ini memang terlihat kontradiktif, tapi penjelasannya satu: besar pasar dan besar aliran modal ventura adalah dua hal berbeda. Investor regional lebih suka menaruh kantor dan entitas hukum investasinya di Singapura karena kepastian regulasi dan kemudahan keluar modal (exit), lalu dari sana menyalurkan dana ke perusahaan-perusahaan yang sudah besar dan terbukti โ bukan startup kecil di Jakarta yang masih mencari arah. Contoh paling tajam ada di sektor AI: revenue dari aplikasi berbasis AI di Indonesia tumbuh 127% dibanding tahun lalu โ pertumbuhan tercepat di Asia Tenggara โ tapi modal yang masuk ke sektor itu cuma $91 juta, dibanding $1,31 miliar yang mengalir ke startup AI Singapura. Pasarnya tumbuh lebih cepat, tapi uangnya tetap lari ke tempat lain.
Dari Seed ke Series A: Kenapa Cuma Segelintir yang Naik Kelas
Inilah titik paling menyakitkan buat founder Indonesia: hanya sekitar 15% startup tahap seed yang berhasil naik ke Series A pada 2025 โ kira-kira 1 dari 6-7 startup. Angkanya makin kentara kalau dilihat dari sisi uang: pre-seed dan seed mewakili 67% dari seluruh transaksi yang tercatat tahun ini, tapi memperebutkan porsi modal yang kecil. Sebaliknya, Series A sampai C hanya 28% dari jumlah transaksi, tapi menyerap sekitar 80% dari total dana yang disalurkan โ sekitar $290 juta mengalir ke segelintir startup yang sudah punya traksi (bukti pasar nyata, bukan sekadar proyeksi).
Salah satu pemicu krisis kepercayaan ini punya nama: eFishery. Startup akuakultur yang pernah jadi kebanggaan Indonesia ini terbukti menggelembungkan laporan keuangannya โ laporan internal periode Januari-September 2024 mencatat pendapatan Rp2,6 triliun, sementara laporan yang dipakai untuk menarik investor menyebut angka Rp12,3 triliun, 4,8 kali lebih besar. Dampaknya domino: menurut sejumlah analisis industri, pendanaan startup Indonesia anjlok sekitar 90% dari kuartal keempat 2024 ke kuartal pertama 2025 begitu skandal ini terbuka, karena investor mendadak curiga pada laporan keuangan startup lain yang belum teraudit dengan baik.
Ekonom dari CORE Indonesia menilai akar masalahnya bukan cuma soal jumlah modal yang mengalir, tapi fondasi bisnis yang memang rapuh โ banyak startup masih berorientasi ekspansi dengan bakar duit padahal fondasi profitabilitas dan tata kelolanya belum kuat. INDEF menambahkan catatan lain: Indonesia masuk 6 besar dunia dari segi jumlah startup, tapi kualitas ekosistemnya tertinggal, dan keterbatasan pendanaan membuat startup di luar Jakarta makin sulit berkembang โ ekosistem modal ventura Indonesia masih sangat terpusat di Jawa.
Apa yang Membedakan Startup yang Lolos Seleksi Sekarang
Kalau dulu investor mau dengar cerita soal total addressable market dan kecepatan akuisisi pengguna, sekarang yang mereka minta lebih membosankan tapi lebih keras: bukti. Untuk startup tahap awal, benchmark yang dipakai investor sekarang termasuk margin kotor di atas 40%, masa balik modal pelanggan (payback period) di bawah 6 bulan, dan churn (pelanggan yang berhenti pakai) di bawah 10% per bulan. Untuk startup tahap pertumbuhan, standarnya naik ke rasio LTV:CAC (nilai total yang dihasilkan satu pelanggan dibanding biaya untuk mendapatkannya) di atas 3:1.
Contoh nyata: Pintarnya, platform rekrutmen tenaga kerja informal, berhasil menutup Series A senilai $16,7 juta (sekitar Rp273 miliar) pada 2025, dipimpin Square Peg dengan partisipasi Vertex Ventures Southeast Asia & India dan East Ventures. Yang membuat investor mau masuk bukan valuasi atau narasi besar, tapi pendapatan yang tumbuh hampir lima kali lipat dibanding tahun lalu dan target jelas mencapai titik impas pada akhir 2025.
Managing Partner East Ventures, Melisa Irene, bilang fokus mereka sekarang ke tim yang membangun produk bagus untuk pasar besar โ dengan pendiri yang punya integritas dan kesadaran diri, bukan sekadar pitching meyakinkan. Ketua Dewan Pengawas Asosiasi Fintech Indonesia, Rudiantara, meringkasnya lebih blak-blakan: "Dulu mereka bakar duit untuk dapat pengguna, dan sejak Covid-19 investor mulai melihat ini bakal untung atau tidak." Sementara dari Mandiri Capital Indonesia, Dennis Pratistha menegaskan mereka sebisa mungkin menghindari perusahaan yang tidak transparan โ dan siap keluar lebih cepat kalau strategi perusahaan mulai tidak jelas. Sebagian startup yang tidak lolos jalur ekuitas ini kini beralih ke venture debt (pinjaman khusus startup, bukan suntikan modal saham) โ tahun ini tercatat $264 juta mengalir lewat 8 transaksi utang semacam itu, tanda startup mulai punya arus kas cukup stabil untuk dipinjami, meski tak cukup menarik untuk diberi ekuitas baru.
Apa Artinya Buat Kamu
Kalau kamu masih karyawan dan ingin mulai usaha
Lupakan asumsi era 2018-2021 bahwa modal seed mudah didapat modal investor asal ide dan tim kelihatan menjanjikan. Sekarang, buktikan dulu dengan uangmu sendiri atau pendapatan awal sebelum mengetuk pintu investor โ bangun produk minimum yang sudah menghasilkan uang, bukan sekadar prototipe. Kalau butuh modal awal, pertimbangkan dulu jalur di luar VC: dana hibah pemerintah, program akselerator, atau pinjaman modal kerja kecil โ karena cek seed yang kamu kejar sekarang jauh lebih sedikit dan jauh lebih pemilih dibanding tiga tahun lalu. Kalau akhirnya bertemu investor, siapkan jawaban untuk pertanyaan paling membosankan tapi paling penting: kapan bisnis ini berhenti rugi?
Kalau kamu sudah punya bisnis
Kalau startup-mu sedang menggalang dana, ubah fokus dari kecepatan tumbuh jadi memperpanjang runway (berapa lama kas perusahaan bertahan sebelum habis) dan menurunkan burn rate (kecepatan menghabiskan kas). Rapikan laporan keuanganmu jauh sebelum due diligence (pemeriksaan menyeluruh calon investor) dimulai โ pasca-eFishery, investor jauh lebih curiga pada angka yang tidak teraudit. Pertimbangkan venture debt atau kemitraan strategis sebagai jembatan sebelum terpaksa menerima down round (pendanaan dengan valuasi lebih rendah dari babak sebelumnya) yang bisa merusak cap table-mu dalam jangka panjang.
Kalau kamu bekerja โ atau berencana melamar โ di startup
Dengan 24.036 kasus PHK startup tercatat hingga April 2026 โ lebih dari sepertiga total kasus sepanjang 2024 โ cek dulu kapan startup incaranmu terakhir mendapat pendanaan dan berapa lama runway yang mereka klaim masih tersisa sebelum menerima tawaran kerja. Startup tahap seed yang belum profit sekarang jauh lebih rentan ditutup dibanding dua tahun lalu, jadi kalau diberi pilihan antara gaji tunai lebih tinggi atau opsi saham lebih besar di startup kecil yang belum untung, pertimbangkan baik-baik โ opsi saham di perusahaan yang tidak sampai Series A nilainya nol.
Yang Perlu Dipantau
Laporan pendanaan startup Indonesia kuartal penuh 2026 dari DealStreetAsia Dealsbarometer dan Tracxn โ biasanya rilis di awal kuartal berikutnya.
Kelanjutan proses hukum skandal eFishery dan dampaknya ke kepercayaan investor di sektor agritech serupa.
Jumlah dan ukuran dana ventura baru yang berhasil ditutup oleh pemain lokal seperti East Ventures, AC Ventures, dan MDI Ventures โ sinyal apakah "dry powder" (dana terkumpul yang belum disalurkan) regional mulai kembali ke startup tahap awal.
Angka resmi PHK startup nasional sepanjang 2026 dari Kemnaker atau asosiasi startup, untuk melihat apakah gelombang efisiensi mulai mereda.
Edisi e-Conomy SEA berikutnya, untuk melihat apakah pangsa Indonesia terhadap modal ventura Asia Tenggara โ saat ini 8% โ membesar atau malah menyusut lagi.
Penutup
Pesan dari semua angka ini sederhana tapi tidak enak didengar: era di mana cerita bagus dan pertumbuhan pengguna cepat cukup untuk menarik cek pertama sudah tutup buku, dan tidak akan kembali dalam waktu dekat. Uang masih ada โ bahkan jumlahnya di level global sedang mencetak rekor โ tapi sekarang nyaris semuanya berbaris di depan pintu startup yang sudah bisa membuktikan diri untung, dan mengantre panjang di depan pintu yang masih berisi janji. Kalau kamu di sisi yang masih berjanji, satu-satunya jalan bukan mencari investor yang lebih sabar, tapi membuat bisnismu tidak butuh kesabaran mereka.
Sumber
Crunchbase News โ "Venture Capital Is Concentrating Faster Than Ever. What Happens To Everyone Else?"
PitchBook-NVCA Venture Monitor Q3 2025
CB Insights โ "State of Venture, Global" Q3 2025
DealStreetAsia โ Dealsbarometer Asia Tenggara, laporan kuartalan 2025
Hyphen Partners โ "Southeast Asia's Tech Funding Is Getting Bigger and More Concentrated"
e-Conomy SEA 2025 (Google, Temasek, Bain)
Jakarta Globe โ "Indonesia Startup Funding Falls to $355.7M in 2025 Amid Global Tightening"
Katadata โ "Investasi ke Startup Indonesia Anjlok 67%, Bagaimana Tren Pendanaan 2025?"
Kontan โ "Banyak PHK di Start Up, Modal Ventura Lebih Selektif Beri Pendanaan Jangka Panjang"
Kontan โ "Jumlah Startup di RI Belum Diimbangi Kualitas, Ekonom Sorot Kepercayaan Investor"
Bisnis Indonesia โ "Pendanaan Masih Lesu, Modal Ventura Minta Startup Berbenah Diri" dan "Startup Pintarnya Raup Pendanaan Seri A Rp273 Miliar"
Insights4VC โ "The New Venture Cycle Belongs to the Largest Funds"
SBM ITB dan Kompas โ analisis dampak skandal eFishery terhadap kepercayaan investor startup