HP Gratis buat 83 Juta Warga Unbanked: Anggaran Rp3,8 Triliun Itu Baru Cukup untuk Buka Rekening, Bukan Beli Ponselnya
Pemerintah mau bagi HP & rekening digital lewat BSI/BRI ke puluhan juta warga unbanked. Anggaran Rp3,8 T yang sudah diumumkan cuma cukup buka rekening.
Daftar isi9 bagian
Ringkasan Cepat
Utusan Khusus Presiden Hashim Djojohadikusumo mengumumkan rencana pemerintah membagikan ponsel plus rekening bank digital lewat BSI dan BRI untuk masyarakat yang belum punya rekening bank (unbanked) โ disebut sekitar 30% populasi, atau kira-kira 83 juta orang dari total 287,1 juta penduduk Indonesia pertengahan 2026.
Biaya pembukaan rekening Rp50.000 akan digratiskan, dan setiap rekening baru dapat saldo awal Rp50.000. Tapi anggaran Rp3,8 triliun yang sudah diumumkan sejak September 2026 itu dihitung cuma cukup untuk 76,8 juta rekening โ dan itu untuk urusan rekening, bukan untuk beli unit ponselnya.
Tidak ada satu pun sumber resmi, sejauh riset ini, yang menyebut siapa yang menanggung biaya pengadaan jutaan unit HP fisik โ padahal ini justru bagian paling mahal dari program.
Angka "30% unbanked" versi Hashim berbeda jauh dari data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) sendiri yang menyebut unbanked sudah turun ke 46,5 juta orang di 2025 dan menargetkan tinggal 13 juta di akhir 2026 โ tanpa program ini sekalipun.
Riwayat proyek pembagian perangkat oleh pemerintah punya rapor buruk: kasus korupsi BTS 4G Kominfo merugikan negara Rp8,03 triliun, dan data penerima bansos sendiri masih dipenuhi NIK fiktif serta penerima yang sudah meninggal.
Janji di Forum Kebijakan: Ponsel dan Rekening dalam Satu Paket
Pengumuman ini datang bukan dari rapat kabinet biasa, melainkan dari panggung Prasasti Indonesia Policy Forum 2026 di Jakarta, 13 Oktober 2026. Hashim Djojohadikusumo, adik kandung Presiden Prabowo Subianto yang menjabat Utusan Khusus Presiden, mengungkap bahwa pemerintah sedang menyiapkan skema pembagian telepon genggam yang dilengkapi rekening bank digital untuk warga yang selama ini berada di luar sistem perbankan formal.
Dua bank pelat merah ditugaskan menjalankan ini: Bank Syariah Indonesia (BSI) dan Bank Rakyat Indonesia (BRI). Keduanya akan memfasilitasi pembukaan rekening, dan biaya administrasi pembukaan yang biasanya Rp50.000 akan dihapus. "Pemerintah ingin mengubah ekonomi yang bergantung pada transaksi tunai menjadi ekonomi digital," kata Hashim, sembari menyinggung potensi negara menjaring aktivitas ekonomi yang selama ini tak tercatat โ alias ekonomi bayangan yang tidak kena pajak.
Niatnya jelas dua lapis: pertama, mendorong inklusi keuangan (akses masyarakat ke layanan perbankan dan keuangan formal) yang katanya masih mandek di kisaran 30% unbanked. Kedua, membenahi cara bansos disalurkan โ dari uang tunai atau sembako fisik yang rawan dipotong di jalan, menjadi transfer langsung ke rekening digital di ponsel masing-masing. Uji coba disebut akan mulai berjalan kuartal pertama 2027.
Yang menarik, detail "siapa dapat HP" sendiri masih kabur. Sebagian pemberitaan mengutip Hashim bilang "setiap warga negara akan diberikan ponsel", sebagian lain menulis itu khusus untuk kelompok unbanked. Pemerintah sendiri belum merilis dokumen resmi yang mengunci cakupan ini โ dan itu bukan detail kecil, karena selisihnya bisa puluhan juta orang.
Anggaran Rp3,8 Triliun: Buat Rekening, Bukan Buat Beli HP
Ini bagian yang perlu kamu pelototi baik-baik. Angka Rp3,8 triliun yang beredar sebenarnya bukan diumumkan bersamaan dengan rencana bagi-bagi HP. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartanto sudah menyebutnya sejak akhir September 2026 โ tiga minggu sebelum Hashim bicara soal ponsel โ sebagai anggaran untuk program pembukaan rekening gratis bagi warga usia 17 tahun ke atas yang belum punya rekening, dengan saldo awal Rp50.000 per orang, mulai 2027. Data kependudukan dari Dukcapil akan dicocokkan dengan sistem Bank Indonesia, memakai QRIS (kode pembayaran digital yang menyatukan dompet digital dan rekening bank dalam satu kode QR) sebagai jembatan transaksinya.
Kalau dihitung sederhana: Rp3,8 triliun dibagi Rp50.000 saldo awal per orang, hasilnya sekitar 76,8 juta rekening. Angka ini pas-pasan dengan klaim 83 juta unbanked โ tapi itu pun kalau seluruh dana benar-benar habis untuk saldo awal saja, tanpa menyisakan sepeser pun untuk biaya operasional bank, sistem IT, pelatihan petugas, atau โ ini yang paling krusial โ pengadaan unit ponselnya.
Sampai riset ini ditulis, tidak ada rilis resmi yang menyebut dari pos anggaran mana ponsel fisik akan dibeli, berapa unit yang dibutuhkan, atau skema pengadaannya lewat tender terbuka atau penugasan langsung ke produsen tertentu. Ini bukan detail sepele mengingat harga ponsel justru sedang naik. Produsen seperti Xiaomi dan Realme sudah memperingatkan kenaikan harga 10โ20% pada 2026 akibat lonjakan biaya chip dan RAM โ rata-rata harga jual ponsel global diproyeksikan naik dari sekitar Rp7,6 juta jadi Rp7,75 juta, sementara segmen ponsel murah di bawah Rp5 juta yang paling relevan untuk program ini justru yang kenaikannya paling tajam.
Sebagai gambaran kasar โ bukan angka resmi, cuma ilustrasi skala โ kalau pemerintah membeli ponsel entry-level seharga Rp600.000 per unit saja untuk 83 juta orang, itu sudah Rp49,8 triliun. Tiga belas kali lipat dari anggaran Rp3,8 triliun yang sejauh ini diumumkan untuk seluruh program. Bahkan kalau separuh penerima dianggap sudah punya ponsel bekas yang masih layak pakai dan hanya butuh rekening, kesenjangan anggarannya tetap besar. Pertanyaan paling mendasar dari program ini โ dari mana uang untuk beli jutaan unit HP โ belum terjawab di ruang publik sama sekali.
Angka 30% yang Ternyata Punya Banyak Versi
Klaim "30% penduduk Indonesia unbanked" kedengarannya presisi, tapi begitu dibandingkan dengan data lembaga lain, angka ini jadi berantakan โ dan itu penting karena menentukan seberapa besar sebenarnya masalah yang mau diselesaikan.
LPS (Lembaga Penjamin Simpanan, lembaga yang menjamin uang nasabah kalau banknya bangkrut) punya hitungannya sendiri: unbanked Indonesia turun dari 59,8 juta orang (2023) ke 53,2 juta (2024), lalu 46,5 juta di 2025 โ dan LPS menargetkan angka ini tinggal 13 juta di akhir 2026, sesuai arahan presiden, tanpa menyebut program bagi-bagi HP sama sekali. Kalau target LPS ini realistis, artinya "masalah" yang mau diselesaikan program HP gratis sudah menyusut sendiri lewat program-program yang sudah berjalan, jauh di bawah klaim 83 juta.
Lalu ada OJK (Otoritas Jasa Keuangan, pengawas sektor keuangan) yang baru merilis hasil survei literasi dan inklusi keuangan nasional 2025 bersama BPS: indeks inklusi keuangan sudah di 80,51%, naik dari 75,02% di 2024. Tapi indeks ini bukan cuma soal punya rekening bank โ ia menghitung semua akses ke layanan keuangan formal, termasuk dompet digital, pinjaman online berizin, asuransi, sampai pegadaian. Artinya banyak orang yang "sudah termasuk" dalam angka inklusi 80% itu sebenarnya tidak punya rekening bank konvensional โ mereka pakai e-wallet atau pinjol (pinjaman online) sebagai pintu masuk ke sistem keuangan. Indeks literasi keuangan (paham cara pakai produk keuangan, bukan cuma punya aksesnya) malah tertinggal jauh di 66,46% โ kesenjangan ini yang bikin orang rawan kena jebakan pinjol predator begitu mereka "melek digital" tapi belum melek risiko.
Data global dari World Bank (Bank Dunia) lebih lama tapi memberi baseline historis: kepemilikan rekening bank di Indonesia naik dari 20% (2011) ke 52% (2021) โ jadi tren jangka panjangnya memang naik terus, bukan stagnan sejak awal, meski lajunya melambat belakangan. Secara struktur, total aset keuangan Indonesia masih di bawah 90% dari PDB (Produk Domestik Bruto, nilai total output ekonomi), jauh di bawah Vietnam (sekitar 180%) dan Thailand (sekitar 260%) โ bukti bahwa sistem keuangan Indonesia memang secara struktural masih dangkal dibanding tetangga sekelas di ASEAN, bukan cuma soal belum sempat buka rekening.
Jadi klaim 30% unbanked versi Hashim dan 13 juta target LPS bukan kontradiksi yang harus dipilih salah satu โ keduanya mengukur hal berbeda: populasi total versus penduduk dewasa, rekening bank murni versus akses keuangan digital apa pun. Tapi beda definisi ini menentukan apakah program senilai puluhan triliun ini sedang menyelesaikan masalah 83 juta orang, atau cuma belasan juta yang tersisa.
Pelajaran dari BTS Kominfo dan Data Bansos yang Masih Berhantu
Kekhawatiran paling nyata bukan di angka, tapi di sejarah. Indonesia punya preseden buruk soal proyek pengadaan perangkat berskala nasional yang ditugaskan ke lembaga tertentu: kasus korupsi menara BTS 4G di Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) Kominfo periode 2020โ2022. Negara rugi ditaksir Rp8,03 triliun โ menara yang sudah dibayar tapi tak pernah dibangun secara fisik, mark-up harga barang, dan mantan Menteri Komunikasi dan Informatika Johnny G. Plate jadi salah satu terpidananya. Skalanya beda, tapi pola risikonya mirip: proyek pengadaan perangkat nasional yang besar, ditugaskan tanpa tender terbuka yang transparan, rawan dimainkan di level kontraktor.
Risiko kedua ada di data penerima. Audit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) terhadap BLT Desa pernah menemukan minimal 22,16% keluarga penerima di sampel desa yang diperiksa tidak memenuhi kriteria, sementara ribuan keluarga miskin yang semestinya berhak justru tidak masuk daftar โ nilainya ratusan miliar rupiah salah sasaran. Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS, basis data penerima bansos yang dikelola Kementerian Sosial) sendiri pernah ketahuan masih memuat Nomor Induk Kependudukan (NIK) ganda dan data penerima yang sudah meninggal dunia. Men-digitalkan cara bansos disalurkan tidak otomatis membersihkan data yang sejak awal sudah kotor โ kalau nama yang salah ada di dalam sistem, ponsel secanggih apa pun akan tetap mengirim uang ke orang yang salah, hanya dengan cara yang lebih rapi.
Manajer Riset Sekretariat Nasional Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (FITRA), Badiul Hadi, menegaskan ini: "Pemerintah harus memastikan bahwa teknologi benar-benar menyelesaikan persoalan penyaluran bantuan, bukan sekadar mengubah cara masyarakat menerima uang." Menurutnya, ukuran sukses program ini seharusnya bukan berapa banyak ponsel dibagikan atau rekening dibuka, melainkan apakah bansos jadi lebih tepat sasaran. FITRA juga mengingatkan risiko kelompok rentan โ lansia, penyandang disabilitas, dan warga di daerah terpencil โ yang mungkin dapat ponsel tapi tak paham memakainya atau tak punya sinyal internet yang stabil. Ironisnya, program yang dirancang untuk membantu warga miskin ini justru menambah syarat baru: harus punya ponsel yang mumpuni dan koneksi internet yang stabil, dua hal yang justru paling langka dimiliki kelompok yang paling butuh bantuan.
Apa Artinya Buat Kamu
Kalau kamu masih karyawan dan ingin mulai usaha
Program ini, kalau benar jalan di 2027, berarti puluhan juta orang akan punya ponsel dan rekening digital untuk pertama kalinya โ pasar yang selama ini nyaris tak tersentuh layanan keuangan digital. Ini peluang nyata untuk jadi agen branchless banking (perbankan tanpa kantor cabang, biasa disebut agen laku pandai) BSI atau BRI di wilayah yang belum terlayani, atau membangun layanan kecil yang menyasar orang yang baru pertama kali punya rekening โ dari produk tabungan mikro sampai literasi keuangan sederhana lewat video pendek.
Tapi jangan buru-buru taruh semua modal di sini. Timeline program ini sendiri sudah berubah-ubah dalam hitungan minggu โ anggaran disebut lebih dulu, cakupan HP menyusul belakangan, dan detail pengadaan ponsel masih kosong. Tunggu dokumen resmi seperti Peraturan Presiden atau petunjuk teknis sebelum mengubah rencana bisnis secara signifikan berdasarkan rencana yang masih berupa pernyataan di forum kebijakan.
Kalau kamu sudah punya bisnis
Pelaku fintech, e-commerce, dan penyedia pembayaran digital perlu menyiapkan produk yang ramah untuk pengguna yang benar-benar baru โ bukan sekadar baru pindah dari bank lain, tapi baru pertama kali pegang ponsel pintar dan rekening sama sekali. Ini berarti antarmuka sesederhana mungkin, edukasi anti-penipuan yang eksplisit (karena kelompok ini paling rentan jadi sasaran modus "petugas bansos palsu"), dan dukungan bahasa daerah kalau menyasar wilayah tertentu.
Kalau bisnismu bergerak di distribusi atau perakitan ponsel, perhatikan bahwa belum ada kejelasan soal skema tender pengadaan โ jangan terlanjur menambah kapasitas produksi atau menandatangani komitmen pasokan besar sebelum ada pengumuman resmi tentang siapa pemenang proyek dan berapa volumenya, mengingat anggaran yang terbuka ke publik sejauh ini belum mencakup pos pembelian unit ponsel sama sekali.
Dampak ke masyarakat luas
Kalau kamu termasuk 30-an juta orang yang berpotensi jadi penerima, dua hal perlu diwaspadai dari sekarang: pertama, modus penipuan mengatasnamakan program ini kemungkinan besar akan muncul sebelum program resminya sendiri jalan โ jangan pernah memberi data pribadi atau kode OTP (kode sekali pakai untuk verifikasi) ke siapa pun yang mengaku "petugas pendaftaran HP gratis" lewat telepon atau WhatsApp. Kedua, punya rekening bukan otomatis berarti paham cara memakainya dengan aman โ ingat, indeks literasi keuangan nasional masih 14 poin di bawah indeks inklusinya. Kalau dapat ponsel dan rekening baru, luangkan waktu belajar dasar keamanan digital sebelum aktif bertransaksi, karena justru kelompok yang baru pertama kali kenal layanan ini yang paling sering jadi sasaran penipuan siber.
Yang Perlu Dipantau
Dokumen resmi anggaran pengadaan HP โ apakah akan muncul dalam revisi APBN 2027 atau Peraturan Presiden terpisah, dan berapa totalnya di luar Rp3,8 triliun yang sudah diumumkan.
Hasil uji coba kuartal I 2027 โ apakah benar-benar dimulai sesuai target, dan di wilayah mana pilot project ini berjalan lebih dulu.
Update data unbanked LPS โ rilis berkala LPS menuju target 13 juta unbanked di akhir 2026, sebagai pembanding independen terhadap klaim 83 juta.
Pengumuman vendor/tender ponsel โ termasuk apakah ada syarat Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN, ketentuan minimal komponen produksi lokal) yang akan menentukan siapa produsen yang kebagian proyek ini.
Pengawasan BPK dan KPK terhadap proses pengadaan, mengingat riwayat kasus BTS Kominfo dan data DTKS yang masih bermasalah.
Penutup
Program ini punya niat yang sulit disalahkan โ lebih banyak orang Indonesia punya akses ke sistem keuangan formal jelas bukan ide buruk. Tapi sejarah proyek pembagian perangkat dan penyaluran bansos di negeri ini mengajarkan satu hal yang konsisten: masalahnya hampir tidak pernah ada di niatnya, selalu ada di rincian anggaran yang tak pernah selesai dihitung dan data penerima yang tak pernah benar-benar bersih. Sebelum ikut bersorak atau ikut sinis, tunggu satu dokumen yang paling sederhana tapi paling jujur: rincian resmi dari mana uang untuk beli jutaan unit ponsel itu akan datang. Kalau dokumen itu belum ada, programnya pun belum benar-benar ada โ baru sebatas janji di atas panggung forum kebijakan.
Sumber
Liputan6 โ "Hashim Ungkap Rencana Pemerintah Bagi-Bagi HP Buat Warga Unbanked" dan "Top 3: Pemerintah Mau Bagi-Bagi HP"
Kompas (money.kompas.com) โ "Hashim Sebut Pemerintah Mau Bagi HP Gratis ke Warga RI buat Bansos"
CNBC Indonesia โ "Rekening Gratis Rp50 Ribu Dibuka Massal 2027, Anggarannya Rp3,8 T" dan "Hashim Sebut Warga RI Akan Dapat HP Gratis Buat Bansos, Ini Tujuannya!"
Kontan (nasional.kontan.co.id) โ "Pemerintah Akan Bagi Ponsel Gratis untuk Digitalisasi Bansos, FITRA: Harus Dikaji"
Periskop.id โ "Pemerintah Mau Bagikan HP dengan Rekening Digital, Buat Apa?"
Okezone Economy โ "4 Fakta Rekening Gratis Rp50.000 untuk Warga 17 Tahun, Anggaran Rp3,8 Triliun hingga Dimulai 2027"
Waspada.id โ "Hashim Ungkap Rencana Pemerintah Bagi-Bagi HP dan Rekening Digital untuk Warga Belum Punya Rekening"
Kompas TV โ "LPS: Masih Ada 46,5 Juta Penduduk Indonesia Belum Memiliki Rekening Bank"
CNBC Indonesia โ "LPS Targetkan Masyarakat Tanpa Rekening Bank Turun Jadi 13 Juta Orang"
OJK (Otoritas Jasa Keuangan) โ Siaran Pers Bersama OJK-BPS, Hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025
World Bank โ data dan publikasi Global Findex terkait kepemilikan rekening bank dan kedalaman sistem keuangan Indonesia dibanding Vietnam dan Thailand
Katadata โ "Penyebab Harga HP Berpotensi Naik Besar-besaran pada 2026"
BPS (Badan Pusat Statistik) โ data proporsi pekerja informal Agustus 2025 dan proyeksi penduduk Indonesia pertengahan 2026
Warta BPK (Badan Pemeriksa Keuangan) โ "Data tak Valid, Penyaluran BLT Desa Berisiko Salah Sasaran"
Kompas / NU Online โ pemberitaan kasus korupsi proyek BTS 4G BAKTI Kominfo
X (media sosial) โ kritik publik soal syarat kepemilikan ponsel dan sinyal internet untuk penerima bansos