Lewati ke konten
blabak.

Harga Cabai Meroket Tembus Rp155.400/Kg, Tekan Biaya Hidup dan Usaha Kuliner

Cabai keriting pecah rekor Rp155.400/kg, 4x lipat harga Nataru tahun lalu. Kenapa lonjakan ini berulang tiap tahun tanpa solusi permanen?

Yusuf FS9 menit baca

Ringkasan Cepat

  • Cabai merah keriting mencetak rekor harga nasional baru: Rp155.400/kg pada 13 Oktober 2026, menurut data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) β€” basis data harga pangan resmi yang dikelola Bank Indonesia. Hanya empat hari sebelumnya, harga komoditas ini masih Rp87.100/kg β€” artinya naik 79% dalam waktu kurang dari seminggu.

  • Ini bukan rekor pertama bulan ini. Awal Oktober, cabai rawit merah β€” varian yang biasanya lebih mahal dari keriting β€” sudah sempat menembus kisaran Rp118 ribuan. Yang mengejutkan sekarang: cabai keriting, si "adik murah", justru menyusul dan melampauinya.

  • Ada jurang yang jarang disorot: petani menjual cabai rawit hanya di kisaran Rp35.000–40.000/kg, tapi di pasar konsumen harganya bisa 4 kali lipat lebih. Artinya sebagian besar kenaikan ini "menguap" di rantai distribusi, bukan murni karena kebun kosong.

  • BPS sudah memberi peringatan: 314 dari sekitar 360 kabupaten/kota yang dipantau (87%) kompak mengalami kenaikan harga cabai merah pada minggu kedua Oktober β€” bukan gejolak lokal, tapi tekanan nasional yang ikut mendorong inflasi akhir tahun.

  • Ini siklus tahunan yang makin parah: Desember 2024, rata-rata nasional cabai rawit merah hanya Rp44.520/kg. Desember 2025, puncaknya naik ke Rp80.750/kg. Sekarang, dua bulan sebelum Nataru 2026 pun tiba, harganya sudah melewati kedua rekor itu.

Rekor yang Mematahkan Rekor Sebelumnya

Coba bayangkan kurva harga cabai bulan ini seperti roller coaster yang nggak pernah benar-benar turun ke titik aman. Pada 6 Oktober, cabai rawit merah sempat menyentuh Rp155.000/kg β€” angka yang saat itu sudah dianggap ekstrem. Dua hari berikutnya, cabai keriting "cuma" di Rp81.750/kg, naik 10,3% dibanding hari sebelumnya. Lalu pada 9 Oktober turun sedikit ke Rp87.100/kg.

Yang terjadi setelah itu adalah yang membuat rekor lama terlihat biasa. Dalam empat hari, cabai keriting melonjak 79% dan pada 13 Oktober bertengger di Rp155.400/kg β€” melampaui rekor cabai rawit yang baru dicetak sepekan sebelumnya. Di hari yang sama, cabai rawit merah berada di Rp112.500/kg, cabai merah besar Rp71.700/kg. Hanya cabai rawit hijau yang justru melandai, dari Rp76.500 ke Rp65.450/kg β€” pengingat bahwa pasar cabai bisa bergerak berlawanan arah dalam hitungan hari, tergantung varian dan daerah.

Soal daerah, di sinilah ketimpangannya kelihatan jelas. Data Indeks Perkembangan Harga (IPH) BPS β€” survei mingguan yang lebih luas ketimbang catatan harian PIHPS, makanya angkanya sering berbeda meski arah trennya sama β€” mencatat rata-rata nasional cabai merah Rp67.313/kg pada minggu kedua Oktober, naik 17,3% dari September. Tapi di Kabupaten Halmahera Timur, Maluku Utara, harganya tembus Rp193.333/kg β€” jauh di atas rata-rata nasional manapun. Daerah di ujung timur Indonesia, yang paling jauh dari sentra produksi cabai di Jawa dan Sulawesi, selalu kena pukulan paling keras setiap kali rantai pasok terganggu.

Kenapa Ini Terjadi Lagi β€” dan Lagi

Penyebabnya bukan misteri baru. Menteri Perdagangan Budi menyebut harga pasar cabai rawit (Rp81.252/kg per 9 Oktober, sebelum lonjakan terbaru) sudah 2,8 kali lipat dari harga acuan pemerintah (HAP) β€” patokan harga yang ditetapkan negara sebagai batas wajar, sebesar Rp55.000–57.000/kg tergantung jenis cabai. Faktor utamanya: kemarau panjang bulan-bulan sebelumnya menekan produksi, lalu disusul musim hujan deras di sentra-sentra produksi yang justru memicu kelembapan tinggi β€” kondisi ideal bagi penyakit patek yang menyerang tanaman cabai. Jadi cabai ini kena pukulan dari dua arah cuaca yang berlawanan dalam satu musim.

Tapi ada detail yang lebih mengejutkan, diungkap Ketua Asosiasi Agribisnis Cabai Indonesia (AACI) Abdul Hamid awal tahun ini β€” dan polanya terus berulang: kenaikan harga bukan karena stok benar-benar hilang. "Pertanamannya ada, cuma karena musim hujan, dia nggak bisa dipanen. Jadi jumlahnya sedikit yang dipanen," katanya. Cabai ada di lahan, tapi terjebak di sana karena cuaca bikin panen berisiko busuk atau rusak di jalan. Ditambah lonjakan permintaan menjelang masa libur panjang Natal dan Tahun Baru, ketidakseimbangan pasokan-permintaan jadi makin tajam.

Lapisan ketiga adalah yang paling struktural dan paling jarang dibahas di headline: rantai pasok cabai di banyak daerah sangat bergantung pada pasokan dari luar wilayah, terutama Sulawesi dan Palu, sementara produksi lokal tidak pernah benar-benar diperkuat. Begitu kapal terlambat atau cuaca di jalur distribusi buruk, stok di daerah tujuan langsung terputus β€” dan begitu barang sedikit, harga langsung melonjak, bahkan sebelum ada kelangkaan nyata di tingkat produsen.

Siklus yang Berulang, Basis yang Terus Naik

Yang membuat cerita tahun ini berbeda bukan sekadar "cabai mahal lagi" β€” itu sudah terjadi setiap tahun. Yang berbeda adalah seberapa cepat dan seberapa tinggi basisnya naik dari tahun ke tahun. Desember 2024, rata-rata nasional cabai rawit merah di kisaran Rp44.520/kg. Desember 2025, pada puncak musim Nataru, harganya naik ke Rp80.750/kg sebelum terkoreksi turun jelang akhir bulan. Sekarang, di pertengahan Oktober 2026 β€” dua bulan sebelum Nataru bahkan mulai β€” harga sudah melewati kedua rekor itu. Rata-rata tahunan cabai rawit merah secara nasional pun sudah naik dari Rp56.873/kg (2024) menjadi Rp65.753/kg (2025), kenaikan 15,6% dalam setahun, sebelum lonjakan ekstrem tahun ini terjadi.

Kenapa solusi permanen belum muncul meski pola ini sudah terbaca bertahun-tahun? Dua lembaga riset punya jawaban yang saling melengkapi. INDEF menilai kebijakan stabilisasi harga pangan selama ini masih berfokus di sisi permintaan β€” pasar murah, subsidi transportasi β€” yang sifatnya temporer dan baru muncul setelah harga sudah telanjur naik. Tanpa perbaikan distribusi dan penguatan produksi dari hulu, tekanan harga akan terus kembali setiap musim, bahkan setelah periode puncak seperti Nataru atau Ramadan lewat.

Celios melangkah lebih jauh dengan kritik yang lebih tajam: lonjakan harga tahunan ini bukan semata soal permintaan naik, melainkan cermin dari manajemen stok pangan pemerintah yang "berantakan." Klaim stok tinggi dari pemerintah kerap berbeda dengan kondisi riil di lapangan, dan ada ketidaksinkronan data antara Kementerian Pertanian dan Kementerian Perdagangan β€” yang berisiko membuat kebijakan impor atau mobilisasi stok salah sasaran, entah jadi kebanjiran pasokan atau malah kekurangan akut. Intervensi pemerintah pun sering datang terlambat: Badan Pangan Nasional (Bapanas) memang menjalankan program mobilisasi stok dari daerah surplus ke daerah kurang β€” disebut Food Distribution Facilitation β€” dan Gerakan Pangan Murah sudah digelar 9.333 kali di 38 provinsi sepanjang Januari–Oktober 2026. Tapi program-program ini baru jalan setelah harga di pasar sudah meroket, bukan mencegahnya sejak awal.

Dari Dapur Rumah ke Meja Warteg

Dampaknya menjalar ke dua arah sekaligus, dan keduanya nyata. Di rumah tangga, cabai adalah bahan yang hampir mustahil dihindari dari menu harian masyarakat Indonesia β€” sambal bukan pelengkap, tapi kebutuhan. Itu sebabnya BPS mencatat cabai rawit dan cabai merah jadi penyumbang terbesar inflasi bulanan, masing-masing 0,08 dan 0,06 poin persentase β€” gabungan keduanya menyumbang hampir separuh dari total kenaikan inflasi bulanan nasional. LPEM Universitas Indonesia bahkan memproyeksikan inflasi tahunan Oktober 2026 bisa mencapai 3,25%–3,31%, dengan cabai sebagai salah satu pendorong utamanya.

Di sisi usaha, pelaku kuliner kecil yang paling telanjang terkena dampaknya. Ketua Koordinator Warteg Nusantara (Kowantara) Mukroni menyebut harga ideal cabai rawit merah untuk operasional warteg ada di kisaran Rp70.000–75.000/kg β€” jauh di bawah level sekarang. Sejumlah pedagang warteg melaporkan uang belanja harian yang dulu cukup Rp300.000 kini membengkak jadi Rp600.000–700.000, sebagian besar habis untuk sayur dan bumbu. Posisi mereka serba salah: menaikkan harga makanan berisiko kehilangan pelanggan, mengurangi porsi sambal berisiko memicu komplain, jadi kebanyakan pedagang memilih menyerap sendiri kenaikan biaya β€” yang berarti keuntungan harian mereka yang tergerus langsung, bukan harga jualnya.

Ironinya, ini terjadi justru menjelang periode yang biasanya jadi musim ramai bagi usaha kuliner dan katering β€” jelang Nataru, permintaan makanan untuk acara keluarga dan kantor biasanya naik. Tahun ini, kenaikan permintaan itu berbarengan dengan biaya bahan baku yang justru pada titik tertingginya sepanjang catatan, bukan pada titik normal musim ramai seperti tahun-tahun sebelumnya.

Apa Artinya Buat Kamu

Kalau kamu masih karyawan dan ingin mulai usaha

Kalau rencana usahamu berbasis menu yang bergantung berat pada cabai segar β€” warung sambal, katering pedas, menu balado β€” jangan mulai dengan asumsi harga bahan baku stabil. Cek dulu pola harga musiman minimal satu tahun ke belakang lewat data PIHPS atau Bapanas sebelum menetapkan harga jual standar, supaya kamu tidak kaget di bulan pertama buka saat harga melonjak seperti sekarang. Pertimbangkan juga kontrak harga tetap langsung dengan kelompok tani atau koperasi, bukan beli harian di pasar β€” ini semacam mengunci harga di awal supaya tidak kena gejolak mendadak, dan biasanya cuma bisa dilakukan kalau kamu membangun hubungan dengan pemasok jauh sebelum musim sulit tiba.

Kalau kamu sudah punya bisnis

Diversifikasi pemasok adalah langkah paling realistis sekarang β€” jangan bergantung pada satu daerah atau satu distributor, karena justru itulah yang membuat harga di banyak daerah rentan melonjak saat satu jalur distribusi terganggu. Pertimbangkan juga reformulasi menu jangka pendek: memisahkan sambal sebagai item berbayar opsional, bukan fasilitas gratis tak terbatas, adalah langkah yang sudah dilakukan banyak warung tanpa harus menaikkan harga menu utama. Yang paling penting: komunikasikan kenaikan harga secara transparan ke pelanggan kalau memang terpaksa menyesuaikan, daripada diam-diam mengurangi porsi atau kualitas β€” pelanggan warung biasanya lebih memaklumi kenaikan Rp1.000–2.000 yang dijelaskan ketimbang porsi yang terasa "menyusut" tanpa penjelasan.

Buat masyarakat secara umum

Kalau kamu mengelola belanja dapur rumah tangga, momen ini layak jadi alasan untuk mulai menyimpan cabai kering atau bubuk cabai sebagai cadangan β€” harganya jauh lebih stabil karena diproses dan disimpan sebelum musim sulit, bukan dibeli segar saat harga sedang di puncak. Pantau juga Gerakan Pangan Murah di daerahmu; meski sifatnya sementara, selisih harganya cukup signifikan β€” dalam satu operasi di Jawa Tengah, cabai yang biasanya Rp65.000/kg dijual Rp45.000/kg untuk tiga kilogram.

Yang Perlu Dipantau

  • Rilis data inflasi BPS awal November 2026 β€” akan mengonfirmasi seberapa besar andil cabai terhadap inflasi Oktober secara resmi.

  • Harga cabai pekan ketiga dan keempat Oktober β€” apakah tren masih naik atau mulai terkendali lewat intervensi Gerakan Pangan Murah dan mobilisasi stok Bapanas.

  • Realisasi tanam baru di Jawa Timur seluas sekitar 8.000 hektare yang dimulai Oktober–November, dengan hasil panen diperkirakan baru terasa menekan harga menjelang Ramadan 2027, bukan Nataru tahun ini.

  • Harga puncak selama periode Nataru akhir Desember 2026 dibandingkan dengan puncak Desember 2025 (Rp80.750/kg) β€” jika pola tahun ini berlanjut, rekor baru bukan tidak mungkin.

  • Sinkronisasi data stok pangan antara Kementerian Pertanian dan Kementerian Perdagangan, yang jadi sorotan kritik Celios β€” perbaikan di sini akan jadi indikator paling jujur apakah pemerintah serius membenahi masalah struktural, bukan cuma memadamkan kebakaran musiman.

Penutup

Setiap tahun, cerita ini datang dengan judul yang hampir sama β€” cabai mahal, pedagang mengeluh, pemerintah gelar pasar murah β€” dan setiap tahun, basisnya naik sedikit lebih tinggi dari tahun sebelumnya. Itu bukan nasib buruk yang kebetulan berulang, melainkan tanda bahwa akar masalahnya β€” ketergantungan pada pasokan antar daerah yang rapuh dan minimnya cadangan olahan β€” belum pernah benar-benar disentuh. Rp155.400/kg bukan angka yang akan jadi rekor terakhir kalau pola ini dibiarkan sama; pertanyaannya bukan lagi apakah cabai akan mahal lagi tahun depan, tapi seberapa tinggi rekor barunya nanti.

Sumber

  • Liputan6 β€” "Harga Pangan 13 Oktober 2026: Cabai Merah Keriting Tembus Rp 155.400 per Kg"

  • Fortune Indonesia β€” "Harga Pangan Hari Ini 8 Oktober 2026: Cabai Kembali Naik"

  • Medcom β€” "Update Harga Pangan 6 Oktober: Cabai Rawit Merah Tembus Rp155 Ribu"

  • CNN Indonesia β€” "Harga Cabai Merah Naik di 314 Daerah, Tertinggi Rp193 Ribu per Kg"

  • CNBC Indonesia β€” "Harga Cabai Makin Mahal, BPS Ungkap Efek Horornya ke Warga RI Ini"

  • CNBC Indonesia β€” "Harga Cabai di Pasar Naik Tinggi, Petani Ungkap Hal Tak Terduga"

  • Periskop.id β€” "Mendag Budi Soroti Harga Cabai yang Melampaui Harga Acuan"

  • Periskop.id β€” "Harga Cabai Naik Lagi, Rawit Merah Melonjak 85% dalam Setahun"

  • Suara.com β€” "Cabai, Jengkol, Ayam Kompak Naik! Pedagang Warteg: Omzet Turun"

  • Detik Finance β€” "Pedagang Warteg Serba Salah Gara-gara Harga Cabai Mahal"

  • BorneoFlash β€” "Rantai Pasok Rapuh dan Minim Intervensi Pemerintah, Harga Cabai di Tenggarong Kembali Melejit"

  • Bloomberg Technoz β€” "Petani Prediksi Harga Cabai Tinggi Saat Nataru, Pulih di Ramadan"

  • Antara News β€” "Indef: Kendali Inflasi Pangan Perlu Sesuai dengan Sumber Tekanan Harga"

  • Investor.id β€” "Kritik Manajemen Stok Pangan, Celios: Klaim Pemerintah Sering Beda dengan Realita"

  • Kompas.tv β€” "Harga Pangan 10 Desember 2025: Cabai Rawit Meroket... Jelang Nataru"

  • Suara Jateng β€” "Harga Cabai Tembus Rp90 Ribu per Kg, Pemprov Jateng Gelar Pasar Murah"