Lewati ke konten
blabak.

Daya Beli RI Akhirnya Lepas dari Zona Merah ke 3,17 — tapi Kenapa Minimarket dan Mal Masih Sepi Transaksi?

Indeks Daya Beli naik ke 3,17, pertama kali positif dalam 2 kuartal. Tapi di baliknya, kelas menengah justru makin pelit dan pilih yang murah.

Yusuf FS10 menit baca

Ringkasan Cepat

  • Indeks Daya Beli (IDB) — komponen dari survei triwulanan Kontan ke 30 CEO perusahaan besar — naik ke 3,17 pada Oktober 2026, pertama kali melewati ambang netral 3,0 setelah dua kuartal bertahan di zona pesimis.

  • Tapi ini indeks persepsi bos-bos korporasi, bukan survei rumah tangga. Indeks daya beli riil berbasis data transaksi dari BRI justru masih negatif: kelas bawah -1,0 dan kelas menengah -0,9 pada April 2026, keduanya makin dalam dibanding setahun sebelumnya.

  • Ekonomi dan konsumsi rumah tangga melambat dua kuartal beruntun: pertumbuhan ekonomi dari 5,61% jadi 5,29%, konsumsi rumah tangga dari 5,52% jadi 5,06% (dibanding periode sama tahun lalu).

  • Downgrading sudah konkret di lapangan: penjualan minuman kemasan di Alfamart turun sekitar 20% dibanding tahun lalu, sementara mal tetap ramai dikunjungi tapi transaksi fashion tidak ikut naik.

  • Kelas menengah hanya 66,35% dari populasi Indonesia, tapi menyumbang 81,49% dari total belanja rumah tangga — jadi begitu mereka mengerem, seluruh ekonomi ikut terasa dampaknya.

Yang Naik Itu Optimisme Bos Besar, Bukan Isi Dompet Semua Orang

Angka 3,17 ini pantas bikin orang menoleh. Selama dua kuartal terakhir, Indeks Daya Beli yang disusun Kontan lewat Indonesia CEO Confidence Index (ICCI) — survei triwulanan terhadap 30 bos perusahaan besar lintas sektor — tertahan di bawah 3,0, level yang jadi ambang batas antara optimis dan pesimis. Oktober 2026 jadi kuartal pertama indeks ini balik ke atas garis itu.

Tapi sebelum kamu menyimpulkan "oh, berarti orang Indonesia sudah mulai berani belanja lagi", ada satu hal penting yang jarang disorot: IDB ini bukan hasil wawancara ke jutaan rumah tangga. Ia adalah persepsi tiga puluh orang yang memimpin perusahaan-perusahaan besar, tentang bagaimana mereka melihat prospek daya beli konsumen — persepsi yang sangat dipengaruhi oleh apa yang terjadi di laporan keuangan perusahaan mereka sendiri.

Nah, di sinilah letak paradoksnya. Coba bandingkan dengan indeks lain yang dihitung bukan dari persepsi, tapi dari data transaksi nasabah secara langsung: indeks daya beli milik Kantor Kepala Ekonom Bank BRI (BRI Office of Chief Economist). Per April 2026, indeks ini menunjukkan kelas bawah berada di level -1,0 (merosot dari -0,6 setahun sebelumnya) dan kelas menengah di -0,9 (juga turun dari -0,6). Angka negatif di sini berarti daya beli kelompok itu masih di bawah kondisi historis normalnya — jadi bukan sekadar melambat, tapi benar-benar belum pulih ke level wajar. Hanya kelas atas yang relatif stabil, di -0,1.

Dua indeks ini mengukur hal yang berbeda — satu persepsi bisnis besar, satu transaksi riil per kelas pendapatan — dan memang datanya tidak sinkron secara waktu (BRI merilis April, Kontan merilis Oktober). Tapi justru dari situ ceritanya jadi jelas: optimisme korporasi yang terekam di IDB kemungkinan besar didorong oleh kinerja segmen konsumen yang memang masih tumbuh kencang, yaitu kelas atas — bukan sinyal bahwa daya beli mayoritas masyarakat sudah kembali normal.

Huruf K yang Terbentuk: Atas Melesat, Tengah dan Bawah Jalan di Tempat

Istilah yang dipakai para ekonom untuk pola ini adalah pertumbuhan berbentuk K — dari satu titik yang sama, satu kaki naik tajam sementara kaki yang lain nyaris datar. Data OCE BRI untuk kuartal I 2026 menggambarkannya gamblang: kelas atas tumbuh 8,0% dibanding periode sama tahun lalu (naik dari 6,5% pada 2025), sementara kelas menengah hanya 3,5% dan kelas bawah 3,6%. Bandingkan dengan kondisi 2023-2025, saat kelas menengah-bawah biasanya masih tumbuh di kisaran 4,5%-4,9% — jadi sekarang mereka benar-benar melambat, bukan cuma kesan subjektif.

Perlambatan ini kelihatan juga di angka makro. Pertumbuhan ekonomi Indonesia melambat dua kuartal beruntun, dari 5,61% di kuartal I 2026 ke 5,29% di kuartal II. Konsumsi rumah tangga — motor utama ekonomi Indonesia — ikut melambat dari 5,52% ke 5,06% di periode yang sama. Angka-angka ini masih tumbuh positif, jadi secara teknis ekonomi tidak mengalami resesi. Tapi arah lajunya jelas: makin lambat, bukan makin cepat.

Kenapa ini penting banget diperhatikan? Karena kelas menengah di Indonesia — berdasarkan definisi dan data BPS 2024 — mencakup 66,35% dari total populasi dan menyumbang 81,49% dari seluruh pengeluaran rumah tangga nasional. Kelompok inilah yang jadi mesin konsumsi negara. Begitu mereka menahan belanja meski cuma sedikit, efeknya menjalar ke mana-mana: dari rak minimarket sampai pendapatan pajak.

Downgrading: Dari Minuman Kemasan sampai Baju yang Dilipat Dulu

Istilah "downgrading" belakangan ramai dibicarakan, dan maknanya sederhana: orang pindah dari produk/jasa yang biasa mereka beli ke versi yang lebih murah, bukan karena gaya hidup berubah, tapi karena penyesuaian keuangan. Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (APRINDO) mencatat loyalitas merek mulai pudar — konsumen kini mengutamakan fungsi dasar produk dan dengan mudah berpindah ke barang lebih terjangkau demi menjaga alokasi tabungan harian mereka tetap aman.

Buktinya konkret. Penjualan minuman kemasan siap minum (ready-to-drink) di gerai Alfamart tercatat turun sekitar 20% dibanding tahun lalu — kategori yang dulunya termasuk belanja impulsif yang mudah dibeli, kini jadi salah satu pos pertama yang dicoret. Di sisi lain, Ketua Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) melaporkan fenomena yang terdengar kontradiktif tapi sebenarnya saling melengkapi: trafik pengunjung mal tetap ramai, tapi nilai transaksi tidak ikut naik. Penjelasannya sederhana — orang masih jalan-jalan ke mal karena itu gratis dan menyenangkan, tapi kategori fesyen dan barang non-esensial mengalami tekanan karena memang tidak ada kebutuhan mendesak untuk membelinya.

Perilaku defensif ini juga kelihatan dari cara orang menyimpan uang. Data BRI OCE mencatat proporsi tabungan terhadap pendapatan naik ke 18,2% pada April 2026, dari 13,7% pada September 2025 — tanda orang lebih menahan diri untuk jaga-jaga, bukan tanda mereka lebih kaya. Tapi penumpukan tabungan ini juga tidak merata: rekening di atas Rp2 miliar tumbuh 15,99%, sementara rekening kelas Rp100 juta-Rp500 juta — yang lebih mewakili kelas menengah — hanya tumbuh 3,15%. Bahkan dalam hal menabung pun, jaraknya makin lebar.

Apa yang Mendorong Orang Jadi Pelit

Ada beberapa pemicu konkret di balik tren ini, dan sebagian memang terasa langsung di kantong. Pada 10 Juni 2026, harga BBM nonsubsidi Pertamax naik 32%, dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter. Center of Economic and Law Studies (CELIOS) memperingatkan kenaikan sebesar ini akan menekan lebih jauh daya beli kelas menengah-bawah dan kelompok yang baru merintis jadi kelas menengah, sekaligus mendorong kenaikan harga pangan karena ongkos distribusi ikut naik.

Di pasar kerja, gelombang pemutusan hubungan kerja di sektor manufaktur padat karya sejak 2024 membuat banyak pekerja yang kehilangan pekerjaan formal akhirnya terdampar di sektor informal — yang kini menampung 87,7 juta pekerja atau 59,4% dari total angkatan kerja, dengan pendapatan rata-rata hanya sekitar 59% dari upah minimum regional. Ini bukan sekadar statistik abstrak: ia menjelaskan kenapa daya beli di lapisan bawah sulit pulih meski headline ekonomi tumbuh positif.

Data Bank Dunia menambah gambaran struktural ini: proporsi pekerja Indonesia yang berpendapatan setara kelas menengah turun dari 14,5% pada 2018 menjadi hanya sedikit di atas 7% pada 2025 — artinya sekitar 11 juta orang telah bergeser dari kelas menengah ke kelas menengah-bawah dalam periode tersebut. Bhima Yudhistira, Direktur Eksekutif CELIOS, menilai penyusutan jumlah kelas menengah ini berpotensi menghambat pertumbuhan konsumsi nasional secara keseluruhan, karena kelompok inilah yang paling diandalkan untuk menggerakkan roda konsumsi.

Wisnu Setiadi Nugroho, dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Gadjah Mada, menyebut fenomena ini seharusnya jadi alarm bahaya bagi pemerintah jika meluas — terutama karena dua faktor yang saling bertumpuk: pendapatan riil yang stagnan sementara harga kebutuhan dasar seperti pangan, pendidikan, dan energi terus naik, ditambah ekspektasi ekonomi yang menurun karena kekhawatiran soal keamanan pekerjaan ke depan. Menurutnya, downgrading yang terjadi pada rumah tangga usia produktif dengan komposisi keluarga utuh adalah sinyal tekanan ekonomi nyata, bukan sekadar perubahan selera.

Klaim Pemerintah vs yang Terlihat di Lapangan

Pemerintah punya bacaan yang lebih optimistis. Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Dradjad Hari Wibowo menyatakan daya beli tidak melemah, dengan argumen pendapatan emiten konsumer diperkirakan naik hampir 6% pada kuartal III 2026. Penjualan sepeda motor — produk yang jadi proksi daya beli kelas menengah-bawah karena jadi kendaraan harian mayoritas pekerja — pada September 2026 mencapai 654.343 unit, tertinggi tahun ini dan naik 9,7% dari Agustus.

Tapi sinyal yang lebih granular justru melukiskan gambar yang lebih berhati-hati. Mandiri Spending Index, yang melacak transaksi belanja nasional secara mingguan, tercatat turun 0,05% selama empat pekan beruntun hingga pertengahan September 2026 (berada di level 123,5). Secara kuartalan pun, pertumbuhan belanja melambat jadi 5,9% dibanding periode sama tahun lalu di kuartal III 2026 — lebih rendah dari dua kuartal sebelumnya — dengan angka September 2026 di 5,5%, yang jadi laju pertumbuhan paling lambat sejak November 2025.

Dalam opininya di Katadata, ekonom Mohammad Nur Rianto Al Arif membedakan dua jenis downgrading: yang sifatnya pilihan sadar ("voluntary") dan yang terpaksa karena tekanan ekonomi ("forced"). Ia mengingatkan bahwa pertumbuhan ekonomi yang positif "tidak selalu identik dengan meningkatnya keleluasaan masyarakat untuk berbelanja" — kalimat yang menangkap persis kenapa indeks bisa naik sementara dompet orang kebanyakan tetap terasa tipis. Dengan kata lain, dua klaim ini sebenarnya bisa sama-sama benar: pendapatan beberapa emiten konsumer memang naik, tapi kenaikan itu kemungkinan besar datang dari kelas atas yang belanjanya memang tumbuh 8%, sementara mayoritas konsumen di kelas menengah-bawah menahan diri.

Apa Artinya Buat Kamu

Kalau kamu masih karyawan dan ingin mulai usaha

Jangan terlena oleh angka IDB 3,17 lalu buru-buru luncurkan produk atau jasa berposisi premium. Data di lapangan menunjukkan segmen yang justru bertahan dan tumbuh adalah yang menawarkan value-for-money — harga wajar dengan kualitas yang jelas, bukan embel-embel prestise. Kalau kamu sedang menyiapkan modal usaha sampingan, validasi dulu di segmen harga menengah-bawah sebelum naik ke premium, dan siapkan margin yang realistis karena konsumen sekarang jauh lebih sensitif terhadap selisih harga sekecil apa pun. Jangan juga langsung resign dari pekerjaan utama — dengan sektor formal yang masih tertekan PHK, pendapatan tetap tetap jadi jangkar penting sambil usaha baru dirintis pelan-pelan.

Kalau kamu sudah punya bisnis

Perhatikan urutan tekanan yang dialami produsen barang konsumsi: margin tergerus dulu, baru volume ikut turun — kombinasi yang paling sulit dikelola karena biaya produksi tidak otomatis ikut turun saat harga jual terpaksa ditekan. Jika bisnismu di ritel, FMCG, atau jasa yang menyasar kelas menengah, saatnya meninjau ulang portofolio produk: siapkan varian ukuran lebih kecil dengan harga lebih terjangkau, pertimbangkan bundling, dan pantau ketat rasio pelanggan loyal versus pelanggan yang gampang pindah karena harga. Jangan dulu memangkas tenaga kerja sebagai jalan pintas menjaga margin — pelajari dulu apakah penurunan ini bersifat sementara (siklus musiman) atau struktural (downgrading yang menetap), karena strategi responsnya sangat berbeda.

Kalau kamu cuma ingin tahu dampaknya buat keuanganmu sendiri

Jangan baca "daya beli naik" sebagai lampu hijau untuk mengendurkan anggaran. Indeks ini dibentuk dari persepsi segelintir eksekutif perusahaan besar, bukan cermin langsung kondisi dompetmu. Kalau kamu merasa pendapatanmu stagnan sementara harga kebutuhan pokok terus naik, kamu tidak sendirian — itu persis pola yang dicatat dalam data kelas menengah dan kelas bawah di atas. Pertimbangkan menambah pos tabungan darurat, bukan karena kamu akan jatuh miskin, tapi karena ketidakpastian soal pekerjaan dan harga energi masih berlanjut setidaknya sampai akhir tahun ini.

Yang Perlu Dipantau

  • Rilis data pertumbuhan ekonomi kuartal III 2026 dari BPS, biasanya keluar awal November 2026 — jadi penentu apakah tren perlambatan dua kuartal beruntun akan berlanjut atau berbalik.

  • Indeks Keyakinan Konsumen Bank Indonesia edisi berikutnya (akhir November 2026), untuk melihat apakah penurunan dari 127 di Januari ke 118,1 di September berlanjut atau mulai stabil.

  • Survei ICCI Kontan kuartal berikutnya (sekitar Januari 2027), untuk memastikan apakah IDB 3,17 ini awal tren atau sekadar lonjakan satu kuartal.

  • Pergerakan Mandiri Spending Index mingguan menjelang musim belanja Natal dan Tahun Baru — periode yang biasanya jadi uji nyata apakah konsumen benar-benar kembali longgar belanja atau tetap berhemat meski musim liburan.

  • Data ketenagakerjaan Kemnaker soal penyerapan sektor formal versus informal, sebagai indikator apakah gelombang PHK di manufaktur mulai mereda atau masih berlanjut ke sektor lain.

Penutup

Indeks naik bukan berarti semua orang sudah bisa bernapas lega soal uang. Angka 3,17 itu nyata, tapi ia menceritakan optimisme di ruang rapat direksi, bukan di meja makan kelas menengah yang masih menghitung ulang belanja bulanannya. Downgrading bukan tren gaya hidup yang akan hilang begitu ekonomi "pulih" di atas kertas — ia adalah cara jutaan rumah tangga bertahan selagi pendapatan mereka belum benar-benar mengejar kenaikan harga. Membaca pemulihan ekonomi lewat kacamata yang tepat berarti menerima bahwa dua hal ini bisa sama-sama benar: korporasi besar boleh jadi makin optimis, tapi dompet kebanyakan orang masih memilih yang murah dulu — dan itu bukan tanda krisis, tapi tanda kewarasan finansial yang sedang bekerja.

Sumber

  • Kontan Insight — "Daya Beli Masyarakat Mulai Pulih, Tapi CEO Sebut Konsumen Makin Selektif"

  • CNBC Indonesia — "Pemerintah Klaim Warga RI Punya Duit buat Belanja, Bagaimana Faktanya?"

  • Feedberry — "Downgrading Kelas Menengah — Konsumsi Melambat ke 5,06%"

  • Investor Trust / BRI Office of Chief Economist — "Ekonomi Indonesia Ditopang Kelas Atas, Daya Beli Menengah Bawah Kian Tertekan"

  • Katadata (Opini) — Mohammad Nur Rianto Al Arif, "Kelas Menengah yang Dipaksa Berhemat"

  • Kontan — "Harga Pertamax Naik 32%, Celios: Daya Beli Kelas Menengah Bakal Kian Terpukul"

  • Investor Trust — "Ancaman Ekonomi 2026: Daya Beli Turun, Kelas Menengah Menyusut"

  • Yogya Pos — "Dosen UGM: Fenomena Downgrading Jadi Alarm Bahaya bagi Kelas Menengah"

  • Antara News / Investor Trust — Hasil Survei Konsumen Bank Indonesia, September 2026

  • Liputan6 / CNBC Indonesia — Data Pertumbuhan Ekonomi Kuartal II 2026 (BPS)