Houthi Serang Hormuz, Minyak Tembus $107: Tagihan Tersembunyi buat APBN, Rupiah, dan IHSG
Serangan Houthi ke Hormuz dorong Brent ke $107/barel. Ini hitungan nyata ke subsidi APBN, rupiah menuju Rp18.000, dan IHSG yang jebol 6.000.
Daftar isi10 bagian
Ringkasan Cepat
Houthi menyerang dua bandara di Arab Saudi pada 8 Oktober 2026 (3 tewas, 36 luka), lalu rentetan serangan terhadap kapal tanker minyak, LNG, dan LPG di Selat Hormuz berlanjut β puncaknya pada 13 Oktober ketika sebuah tanker dan kapal kontainer dihantam proyektil tak dikenal, bagian dari minimal 12 serangan kapal sejak akhir September.
Brent sempat melonjak 1,8% ke $107/barel β tertinggi sejak pertengahan September 2026 dan naik sekitar 70% dibanding periode sama tahun lalu β sebelum terkoreksi tipis ke kisaran $105β106 ketika pasar mencerna apakah pasokan benar-benar terganggu.
Harga minyak mentah Indonesia (ICP) September sudah $112,81/barel, jauh di atas asumsi APBN 2026 sebesar $70/barel β membuat subsidi energi sudah terpakai 84,3% dari total alokasi setahun, padahal kuartal keempat belum selesai.
Rupiah bergerak di kisaran Rp17.850β17.950 per dolar AS, mendekati psikologis Rp18.000 β jauh di atas kisaran normalnya di 2024β2025 yang ada di Rp15.800β16.200; IHSG sempat jebol level 6.000 dan ditutup di 5.925,98 pada 13 Oktober.
Pertamina menahan harga Pertamax dan avtur bulan ini meski harga global melonjak β artinya tagihan kenaikan minyak tidak hilang, cuma dipindahkan ke pos subsidi APBN.
Dari Bandara Riyadh ke Selat Hormuz dalam Lima Hari
Eskalasi ini tidak datang dari satu insiden, tapi dari rentetan yang saling menyambung. Pada 8 Oktober, Houthi β kelompok bersenjata di Yaman yang disokong Iran β menembakkan proyektil ke dua bandara di Arab Saudi: King Khalid International di Riyadh (1 tewas, 8 luka) dan Abha International di selatan (2 tewas, 28 luka). Juru bicara Houthi, Yahya Saree, memperingatkan maskapai penerbangan "untuk kali terakhir" agar berhenti terbang di wilayah udara Saudi.
Serangan ini bukan kejadian berdiri sendiri. Houthi sedang menggelar ofensif darat besar-besaran untuk merebut kembali wilayah strategis di sekitar Selat Bab el-Mandeb, jalur sempit di pintu selatan Laut Merah. Koalisi pimpinan Saudi membalas dengan klaim telah menghancurkan 82 situs militer Houthi, sambil mencari dukungan tambahan dari Turki, Pakistan, dan Suriah.
Lima hari kemudian, titik panasnya berpindah ke Selat Hormuz β koridor sempit antara Iran dan Oman yang jadi jalur lewat sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Pada 13 Oktober, badan maritim Inggris (UKMTO) mencatat sebuah tanker dan kapal kontainer dihantam proyektil tak dikenal. Ini melengkapi rentetan minimal 12 serangan terhadap kapal tanker minyak, LNG, dan LPG sejak akhir September β termasuk satu hari Minggu dengan enam kapal diserang sekaligus, salah satunya kapal berbendera Panama "Gem No 2" yang dihantam drone dekat perairan Uni Emirat Arab (22 kru selamat). Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) memperingatkan kapal yang mengabaikan "keamanan dan aturan" selat akan "menghadapi nasib serupa".
Menariknya, tidak semua pihak sepakat soal seberapa parah gangguannya. Lalu lintas Hormuz memang tercatat turun ke level terendah dalam dua bulan, tapi Kementerian Luar Negeri AS membantah klaim bahwa pasokan minyak benar-benar terhambat, menyebut "aliran minyak hampir sama seperti sebelum konflik". Artinya, sebagian dari lonjakan harga yang terjadi adalah premi risiko β pasar membayar lebih mahal karena takut, bukan selalu karena barangnya benar-benar langka.
Kenapa $107 Itu Penting β dan Kenapa Bisa Turun Lagi
Brent menembus $107/barel bukan cuma soal Hormuz. Badai di Teluk Meksiko ikut menutup produksi 605.000 barel per hari β sekitar 30% produksi AS di kawasan itu β menambah ketegangan pasokan diesel global yang sudah sempit. Analis ING mencatat pasar kini lebih fokus ke risiko Teluk Persia ketimbang gencatan senjata energi Rusia-Ukraina yang sebelumnya jadi perhatian utama.
Tapi ada baiknya menahan diri sebelum menyimpulkan harga $107 ini permanen. Sebelum rentetan serangan Oktober ini pecah, survei Reuters terhadap 31 ekonom dan analis justru memangkas proyeksi rata-rata Brent 2026 menjadi $84,50/barel β turun dari estimasi bulan sebelumnya $90,44. Alasannya: pasokan minyak dari Timur Tengah terbukti bisa pulih cepat setiap kali ketegangan mereda, seperti terjadi pada pertengahan tahun ketika lalu lintas Hormuz normal kembali dan analis ramai-ramai menurunkan target harga. Analis komoditas PVM, Tamas Varga, mewanti-wanti bahwa pasar "belum yakin peningkatan ekspor minyak Timur Tengah belakangan ini bisa bertahan" β kalimat yang berlaku dua arah: harga bisa naik lagi kalau serangan berlanjut, tapi juga bisa anjlok cepat kalau ada tanda de-eskalasi.
Dengan kata lain, $107/barel adalah angka tertinggi sejak pertengahan September, bukan level baru yang stabil. Pelaku pasar β termasuk pembuat kebijakan di Jakarta β harus bersiap untuk dua skenario sekaligus, bukan cuma satu arah.
Tagihan yang Dibayar Diam-Diam
Di sinilah bagian yang jarang dibahas: Indonesia adalah net importer BBM dan elpiji, jadi setiap kenaikan harga minyak dunia langsung menjalar ke APBN lewat dua jalur berlawanan. Kementerian Keuangan punya rumus kasar: setiap kenaikan $1 pada ICP menambah penerimaan negara sekitar Rp3,5 triliun dari sektor hulu migas, tapi di sisi lain menambah beban subsidi energi sekitar Rp10,3 triliun. Hasil bersihnya, tekanan defisit sekitar Rp6,8 triliun untuk setiap kenaikan $1.
Sekarang bayangkan ICP September sudah $112,81/barel β melonjak $23,38 dari Agustus yang $89,43 β sementara asumsi APBN 2026 cuma $70/barel. Selisihnya lebih dari $40. Kalau rumus di atas dipakai konsisten, tekanan fiskal bersihnya bisa tembus Rp270β290 triliun hanya dari selisih ICP tahun ini. Angka ini sejalan dengan hitungan CELIOS (Center of Economic and Law Studies) yang mendesak revisi APBN dengan kebutuhan tambahan subsidi energi sekitar Rp340 triliun agar defisit tidak melebar tanpa utang baru.
Realisasinya sudah terlihat: belanja subsidi dan kompensasi energi mencapai Rp376,8 triliun hingga akhir September 2026 β melonjak 54,1% dibanding periode sama tahun lalu yang Rp244,6 triliun β dan itu setara 84,3% dari total alokasi subsidi energi sepanjang 2026. Artinya, anggaran subsidi setahun hampir terkuras padahal tiga bulan masih tersisa, dan harga minyak dunia belum menunjukkan tanda melandai permanen.
Yang membuat ini makin halus terlihat: Pertamina justru menahan harga Pertamax (tetap Rp15.950/liter sejak Agustus) dan avtur sepanjang Oktober ini, meski harga minyak global melonjak. Konsumen di SPBU tidak merasakan kenaikan apa pun. Tapi itu bukan berarti ongkosnya hilang β ongkos itu dipindahkan ke pos subsidi dan kompensasi di APBN, dibayar lewat ruang fiskal yang makin sempit, bukan lewat dompetmu langsung hari ini. Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara sendiri sudah mengaku mengantisipasi lonjakan subsidi-kompensasi BBM ini.
Rupiah di Ambang Rp18.000
Tekanan ke APBN berjalan beriringan dengan tekanan ke rupiah. Importir energi seperti Pertamina dan PLN harus menukar triliunan rupiah menjadi dolar AS setiap bulan untuk membeli minyak dan gas impor β makin mahal harga minyak, makin besar permintaan dolar itu. Ditambah lagi, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun yang mendekati puncaknya sejak 2007 membuat uang investor asing terus kabur dari pasar negara berkembang termasuk Indonesia, karena selisih keuntungan memegang obligasi AS versus Indonesia makin menyempit.
Hasilnya, rupiah bergerak di kisaran Rp17.850β17.966 sepanjang awal-pertengahan Oktober, berulang kali mendekati level psikologis Rp18.000 sebelum sedikit menguat lagi ke Rp17.900-an. Ini jauh di atas kisaran normalnya di 2024β2025, yang biasanya berada di Rp15.800β16.200. Bank Indonesia masih punya penyangga: cadangan devisa (simpanan dolar milik negara) sebesar $146,5 miliar, cukup untuk membiayai lebih dari 6 bulan impor β jadi ini belum krisis, tapi ruang geraknya menyempit.
Defisit transaksi berjalan (selisih negatif antara uang yang masuk dan keluar dari transaksi perdagangan serta jasa dengan luar negeri) kuartal II 2026 sudah tercatat $12,5 miliar atau 3,3% dari PDB β dan itu sebelum lonjakan harga minyak Oktober ini. Kalau neraca migas memburuk lagi di kuartal III-IV karena ongkos impor BBM naik, defisit ini punya ruang untuk melebar lebih jauh. Bank Indonesia sejauh ini menahan suku bunga acuan di 5,75% sejak Mei 2026, tapi kalau rupiah terus didorong ke arah Rp18.000, ruang untuk mempertahankan level itu β bukan menaikkannya β akan makin sempit.
Saat IHSG Ikut Diuji
Pasar saham ikut merespons. IHSG ditutup menguat 1,04% ke 6.093,76 pada Jumat 9 Oktober, tapi berbalik arah begitu eskalasi Hormuz memanas: jebol ke 5.936 pada Senin 12 Oktober, lalu melemah lagi 0,17% ke 5.925,98 pada Selasa 13 Oktober β hari yang sama dengan serangan tanker di Hormuz. Selain harga minyak, ada juga isu pembobotan ulang MSCI Indonesia yang ikut membebani sentimen, meski faktor minyak dan gejolak Timur Tengah tetap jadi sorotan utama analis pasar.
Dampaknya tidak merata ke semua sektor. Emiten pertambangan batu bara, minyak, dan perkebunan sawit justru diuntungkan karena pendapatan dolar mereka saat dikonversi ke rupiah makin besar. Sebaliknya, emiten konsumer, farmasi, dan pakan ternak β yang bahan bakunya banyak diimpor dalam denominasi dolar tapi penjualannya dalam rupiah β mengalami tekanan margin ganda dari pelemahan rupiah dan ongkos energi yang naik.
Apa Artinya Buat Kamu
Kalau kamu masih karyawan dan ingin mulai usaha
Ini bukan waktu ideal untuk memulai usaha yang bergantung besar pada bahan baku impor berdenominasi dolar atau konsumsi energi tinggi β logistik, percetakan skala besar, atau manufaktur berbasis petrokimia β tanpa punya rencana lindung nilai (hedging, mengunci kurs di awal agar tidak rugi kalau rupiah makin melemah). Kalau memang mau mulai, pertimbangkan model usaha yang pendapatannya ikut terkerek harga komoditas global (turunan sawit, batu bara, produk ekspor) atau yang biaya operasionalnya minim energi dan impor. Jangan asal pindah karier ke sektor yang sedang dihantam margin compression (tekanan keuntungan karena biaya naik lebih cepat dari harga jual) seperti maskapai atau logistik udara, kecuali kamu paham betul model bisnisnya.
Kalau kamu sudah punya bisnis
Kalau bisnismu bergantung pada avtur, solar, atau bahan baku petrokimia impor, saatnya renegosiasi kontrak pemasok dan cek apakah biaya energi sudah terkunci atau mengikuti harga pasar harian. Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) sudah memperingatkan biaya penerbangan domestik termasuk salah satu yang termahal di dunia β kalau kamu di sektor logistik udara atau penerbangan, hitung ulang margin dengan asumsi avtur tetap tinggi sampai minimal akhir tahun, meski Pertamina menahan harga bulan ini. Jangan terjebak optimisme karena harga di pompa belum naik β itu cuma soal waktu, bukan soal apakah akan naik. Untuk eksportir komoditas (sawit, batu bara), ini momen menguntungkan dari sisi kurs, tapi tetap waspada kalau ada kebijakan pajak ekspor dadakan untuk menambal defisit APBN.
Buat masyarakat umum
Harga BBM dan tiket pesawat belum naik bulan ini, tapi anggaran yang menahannya makin tipis. Kalau eskalasi Hormuz berlanjut sampai kuartal IV dan subsidi energi benar-benar jebol dari alokasi, opsi yang tersisa pemerintah terbatas: menambah utang, memangkas belanja lain, atau pada titik tertentu menyesuaikan harga BBM bersubsidi. Ini bukan prediksi pasti, tapi risiko yang masuk akal untuk disiapkan β mulai dari menjaga pengeluaran transportasi dan listrik, sampai tidak kaget kalau ada pengumuman penyesuaian harga energi di awal 2027.
Yang Perlu Dipantau
Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia, 17β18 November 2026 β akan menentukan apakah BI Rate tetap di 5,75% atau mulai bergerak merespons tekanan rupiah.
Pertemuan OPEC+, inti pada 1 November dan ministerial penuh pada 29 November 2026 β keputusan soal kuota produksi akan langsung memengaruhi arah harga Brent.
Pengumuman ICP awal November β akan mengonfirmasi apakah harga minyak Indonesia Oktober tetap di atas $100/barel atau mulai melandai ke kisaran $98β103 seperti proyeksi pemerintah.
Data neraca transaksi berjalan kuartal III 2026 dari Bank Indonesia, biasanya dirilis awal November β kunci untuk melihat apakah defisit sudah melebar dari 3,3% PDB di kuartal II.
Perkembangan konflik HouthiβSaudi dan status keamanan Selat Hormuz β tanda de-eskalasi (atau eskalasi lanjutan) akan jadi pemicu utama arah harga minyak dalam beberapa minggu ke depan.
Penutup
Harga di SPBU belum berubah, kursmu di aplikasi bank belum jauh dari biasanya, dan IHSG masih di level yang terasa "normal" buat kebanyakan orang. Tapi di balik ketenangan itu, APBN sudah membayar lebih dari tiga perempat anggaran subsidi energi setahun β dengan tiga bulan tersisa dan harga minyak yang bisa naik lagi kapan saja selama kapal-kapal masih dihantam di Hormuz. Yang perlu kamu pahami bukan "apakah harga akan naik", tapi "siapa yang sedang menahannya naik, dan sampai kapan mereka mampu".
Sumber
Tradingpedia β Crude Oil Rises on Geopolitical and Storm Risks
The National News β Strait of Hormuz Attacks Surge as Iran Steps Up Campaign Against US-Backed Oil Shipping
TIME β Saudi Arabia-Yemen Houthi Rebels Airport Attacks War
TASS β Price of Brent Oil Up Above $107 Per Barrel on ICE First Since September 29
Kontan Insight β Lonjakan Harga Minyak Dunia Terus Menekan APBN
Kompas Money β Lonjakan Harga Minyak Tekan APBN 2026, Pemerintah Perlu Jaga Subsidi dan Kurs
Antara News / Kumparan / Detik Finance β Harga Minyak Mentah Indonesia Naik Tembus US$112,81/Barel
Infobanknews β Harga Minyak Terancam Melonjak, Celios Dorong Transisi Energi dan Revisi APBN
Bisnis.com β Rupiah Dibuka Melemah ke Rp17.948 per Dolar AS, Dipicu Harga Minyak Dunia
Rikopedia Research β Rupiah Dekati Rp18.000: Menghitung Daya Tahan Pasar
Rikopedia Research β Minyak Melonjak Tajam, IHSG Terkoreksi Uji Level Kunci 6.000
Jawa Pos / IDN Financials β OPEC dan IEA Pangkas Proyeksi Permintaan; Hormuz Kembali Normal, Analis Pangkas Proyeksi Harga Minyak 2026
Kompas Otomotif / VOI β Pertamina Tahan Harga Pertamax dan Avtur pada Oktober, Geopolitik Masih Jadi Tekanan
Koran Jakarta β Harga Avtur Melambung, Bisnis Penerbangan Kian Terjepit
Investortrust β BI Tahan Suku Bunga Acuan di 5,75%
Infobanknews β Jadwal Lengkap Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia Sepanjang 2026