Lewati ke konten
blabak.

Creator Economy Tembus US$500 Miliar, Endorsement Mulai Ditinggalkan Demi Subscription

Ekonomi kreator global nyaris US$500 miliar, bergeser dari endorsement ke subscription. Apa artinya buat kreator Indonesia?

Yusuf FS9 menit baca

Ringkasan Cepat

  • Goldman Sachs memproyeksikan creator economy global tembus US$480 miliar pada 2027 β€” hampir dua kali lipat dari US$250 miliar di 2024 β€” dan sejumlah riset lain menyebut ambang US$500 miliar bisa dilewati lebih cepat dari itu.

  • Endorsement (brand deal) masih jadi sumber pendapatan terbesar kreator, tapi subscription/membership adalah yang tumbuh paling kencang β€” dan tiga platform besarnya (Whop, Substack, Patreon) sama-sama mencatat lonjakan tajam dalam setahun terakhir.

  • Di balik hype valuasi itu ada kenyataan pahit: dari 200 juta lebih kreator di seluruh dunia, hanya sekitar 2 juta yang benar-benar berpenghasilan enam digit (dolar) sebagai bisnis yang layak disebut bisnis.

  • Indonesia resmi mengakui "content creator" sebagai kategori pekerjaan lewat KBJI 2026 β€” tapi data soal berapa banyak kreator yang benar-benar untung masih simpang siur antara klaim pemerintah dan riset independen.

  • Ekonomi kreatif menyerap 27,4 juta tenaga kerja Indonesia di 2025, namun mayoritas kreator di dalamnya masih berstatus pekerja gig tanpa jaminan sosial yang jelas.

Dari $250 Miliar ke Ambang Setengah Triliun Dolar

Angka US$500 miliar yang belakangan jadi headline di mana-mana sebenarnya berasal dari proyeksi, bukan angka yang sudah tercapai. Goldman Sachs, dalam riset yang paling banyak dikutip soal ini, menaksir creator economy global ada di kisaran US$250 miliar pada 2024 dan bisa menembus US$480 miliar pada 2027 β€” hampir dua kali lipat dalam tiga tahun. Jumlah kreator aktif di seluruh dunia ditaksir sekitar 50 juta orang, tumbuh 10–20 persen per tahun.

Untuk gambaran seberapa besar itu: US$480 miliar setara lebih dari Rp7.500 triliun β€” kira-kira dua kali lipat total belanja negara Indonesia dalam satu tahun (APBN 2025 sekitar Rp3.600 triliun). Analis lain bahkan menyebut angka itu, kalau tercapai, akan melampaui gabungan industri musik dan film dunia.

Tapi perlu digarisbawahi: angka pastinya berbeda-beda tergantung siapa yang menghitung. Lembaga riset pasar seperti Grand View Research menaksir pasar ini "hanya" US$252 miliar di 2025 menuju US$310 miliar di 2026 β€” jauh lebih konservatif dari Goldman Sachs. Bedanya ada di metodologi: sebagian hanya menghitung pendapatan langsung kreator (brand deal, langganan, donasi), sebagian lain memasukkan seluruh ekosistem di sekelilingnya β€” platform, software manajemen konten, agensi talent. Jadi kalau kamu baca klaim "$500 miliar" di media, anggap itu sebagai titik proyeksi paling optimistis, bukan konsensus tunggal.

Kenapa Endorsement Mulai Kehilangan Pesonanya

Yang lebih menarik dari sekadar angka valuasi adalah ke mana arah pendapatan itu bergeser. Endorsement β€” brand membayar kreator sekali jalan untuk mempromosikan produk β€” masih jadi sumber pendapatan terbesar, sekitar separuh sampai dua pertiga total pendapatan kreator tergantung riset mana yang dipakai. Tapi subscription, alias pembaca atau penonton membayar langganan rutin langsung ke kreator, adalah segmen yang tumbuh paling cepat di antara semua model monetisasi β€” dan datanya konkret, bukan sekadar tren di atas kertas.

Whop, platform tempat kreator menjual produk digital dan langganan, mencatat pendapatan tahunan melonjak dari US$56 juta di akhir 2024 menjadi US$142 juta pada Oktober 2025 β€” naik 2,5 kali dalam kurang dari setahun, dengan total payout ke kreator di 144 negara tembus US$3 miliar. Substack, platform newsletter berbayar, punya 5 juta pelanggan berbayar per Maret 2025 dengan 40.000 kreator yang dibayar β€” naik dari 24.000 orang di 2023. Patreon memproses lebih dari US$2 miliar per tahun untuk 25 juta lebih member berbayar.

Kenapa pergeseran ini terjadi? Karena endorsement makin tidak bisa diandalkan sebagai fondasi bisnis. Riset Aspire.io mencatat 76 persen kreator TikTok dan 46,2 persen kreator Instagram cuma mendapat kurang dari 1.000 tayangan per unggahan β€” artinya jangkauan organik makin seret, dan brand jadi lebih pelit membayar mahal untuk endorse yang jangkauannya tak terjamin. Sebanyak 59 persen kreator sendiri mengaku khawatir soal kejenuhan feed, dan 62 persen khawatir bersaing dengan influencer virtual (karakter yang dibuat AI, bukan manusia). Satu kampanye bisa laris, bulan depan belum tentu ada tawaran lagi β€” itu yang bikin pendapatan endorsement rapuh sebagai sandaran hidup.

Subscription menawarkan hal berbeda: pendapatan berulang dari audiens yang sudah terbukti mau membayar, tidak bergantung pada mood satu brand atau algoritma satu platform. Di Amerika Serikat, kreator yang berpenghasilan US$10 ribu–US$100 ribu setahun β€” disebut "creator middle class" β€” kini mencapai 45,6 persen dari total kreator, dan pertumbuhannya didorong justru oleh model membership ini: kamu tidak perlu jadi superstar dengan jutaan follower, cukup komunitas kecil yang loyal.

Tapi jangan buru-buru menyimpulkan subscription itu solusi ajaib. Linktree, lewat Creator Commerce Report-nya, menemukan 70 persen kreator masih berpenghasilan di bawah US$49 ribu setahun, dengan rata-rata pendapatan cuma US$0,61 per pengguna terdaftar dari 70 juta penggunanya β€” kesenjangan monetisasi yang masih sangat lebar. Dan di sisi konsumen, 87 persen orang mengaku mengalami "subscription fatigue" (kelelahan karena terlalu banyak langganan) di 2025, sampai rata-rata rumah tangga Amerika memangkas jumlah langganannya dari 4,1 ke 2,8 layanan dalam setahun. Jadi subscription bukan jaminan pendapatan otomatis β€” ia cuma lebih stabil kalau kamu sudah punya audiens yang cukup loyal untuk membayar, dan itu butuh waktu membangunnya.

Delapan Juta atau Cuma 14 Persen yang Cuan?

Di Indonesia, menilai seberapa sehat ekonomi kreator justru lebih rumit karena datanya sendiri belum sepakat. Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya menyebut ada 17 juta kreator konten di Indonesia, 8 juta di antaranya menjadikan ini profesi utama, dan 63 persen dari yang 8 juta itu berpenghasilan di atas UMR (upah minimum regional). Kemenekraf bahkan memproyeksikan jumlah kreator bisa tumbuh 3–5 kali lipat dalam enam tahun ke depan.

Tapi ada angka lain yang jauh lebih suram, dikutip dari studi Linktree lewat data IMF: dari basis sekitar 8 juta kreator konten saat ini (proyeksi ke 17 juta di 2027), hanya 14 persen yang benar-benar "cuan" alias profitable, dan 59 persen kreator pemula belum mencatat laba sama sekali. Kedua angka ini sama-sama soal kreator Indonesia, tapi hasilnya nyaris berlawanan β€” dan itu bukan berarti salah satunya bohong. Kemungkinan besar keduanya mengukur hal berbeda: klaim Menekraf soal "63 persen di atas UMR" dihitung dari 8 juta orang yang sudah menjadikan konten sebagai profesi utama β€” kelompok yang sudah tersaring dan relatif mapan. Sementara angka "14 persen cuan" dihitung dari basis yang jauh lebih luas, termasuk jutaan orang yang baru mencoba peruntungan tanpa strategi bisnis jelas. Keduanya bisa benar sekaligus β€” yang justru itu menunjukkan betapa lebarnya jurang antara kreator yang "populer" dan kreator yang benar-benar "profitable", bahkan di level data resminya saja belum ada kesepakatan.

Yang jelas dan terverifikasi dari BPS: ekonomi kreatif Indonesia menyerap 27,4 juta tenaga kerja di 2025, naik dari 26,48 juta di 2024 β€” tambahan 920 ribu pekerja dalam setahun, dan itu setara 18,7 persen dari total angkatan kerja nasional. Sebanyak 63 persen pekerjanya Gen Z dan milenial, dengan Jawa Barat sebagai provinsi penyumbang terbesar (6,24 juta pekerja). Angka ini mencakup seluruh sektor ekonomi kreatif, bukan cuma kreator konten, tapi menunjukkan skalanya memang sudah masuk kategori sektor ekonomi besar, bukan sekadar hobi segelintir orang.

Yang baru dan cukup penting: lewat Peraturan BPS Nomor 7 Tahun 2026 yang diundangkan 14 September 2026, "content creator" resmi masuk Klasifikasi Baku Jabatan Indonesia (KBJI) β€” rujukan tunggal untuk sensus dan basis data ketenagakerjaan pemerintah. Ini sinyal bahwa negara mulai mengakui profesi ini secara formal, dan Sensus Ekonomi 2026 untuk pertama kalinya akan mendata kreator konten sebagai pelaku usaha, termasuk yang bekerja dari rumah. Tapi pengakuan administratif saja belum berarti perlindungan konkret β€” belum ada kejelasan apakah ini otomatis membuka akses BPJS Ketenagakerjaan atau kemudahan kredit usaha bagi kreator.

Pekerja Gig Tanpa Jaring Pengaman

Di balik semua statistik pertumbuhan itu, ada satu fakta yang jarang masuk headline: mayoritas kreator konten, sebesar apa pun followernya, secara status ketenagakerjaan adalah pekerja gig β€” bukan karyawan dengan hak jaminan sosial standar. Data INDEF mencatat jumlah pekerja gig di Indonesia (termasuk kreator digital, bukan cuma driver ojek online) naik dari 2,2 juta di 2019 menjadi 4,3 juta di 2024 β€” lebih dari dua kali lipat dalam lima tahun.

Direktur Eksekutif INDEF, Esther Sri Astuti, mengingatkan bahwa pekerja gig rentan terhadap goncangan ekonomi dan rawan stres akibat jam kerja yang tidak jelas batasnya. Rekomendasinya ke pemerintah dua hal: bangun skema perlindungan pekerja (jaminan hari tua, keselamatan kerja, standar upah, perlindungan sosial), dan perbaiki akses pendidikan supaya pekerja gig tidak terjebak di pekerjaan berketerampilan rendah selamanya. Direktur Ekonomi Celios, Nailul Huda, punya sudut pandang sedikit berbeda: menurutnya pemerintah seharusnya tidak sekadar "khawatir" soal fenomena gig economy, tapi aktif mendukung pekerjanya lewat infrastruktur digital yang memadai serta peningkatan literasi teknologi dan keuangan.

Ironisnya, infrastruktur lokal untuk model subscription pun masih tertinggal. Platform dukungan kreator paling populer di Indonesia seperti Saweria, Trakteer, dan SociaBuzz, mayoritas masih berbasis donasi sekali jalan (Saweria memotong komisi 5 persen dari setiap donasi), bukan langganan berulang otomatis seperti Patreon atau Substack. Artinya kreator Indonesia yang mau serius membangun model subscription sering kali harus memakai platform asing β€” dengan konsekuensi urusan pajak lintas negara dan pembayaran valuta asing yang lebih ribet daripada rekan-rekan mereka di Amerika atau Eropa.

Apa Artinya Buat Kamu

Kalau kamu masih karyawan dan ingin mulai usaha konten

Jangan masuk dengan asumsi endorsement adalah model bisnis β€” anggap itu bonus, bukan fondasi. Dari awal, bangun daftar audiens yang benar-benar kamu "miliki": nomor WhatsApp, email, atau grup komunitas kecil, bukan cuma jumlah follower di platform yang algoritmanya bisa berubah kapan saja. Sebelum resign, uji dulu apakah ada orang yang mau membayar β€” meski cuma Rp10.000–Rp25.000 sebulan β€” untuk konten eksklusifmu; kalau belum ada yang mau bayar sepeser pun di skala kecil, itu sinyal jujur bahwa audiensmu belum siap jadi basis bisnis, berapa pun jumlah followernya.

Kalau kamu sudah punya bisnis atau aktif sebagai kreator

Audit sekarang juga: berapa persen pendapatanmu bulan ini yang datang dari endorsement dibanding sumber lain? Kalau angkanya di atas 80 persen, kamu sedang menjalankan bisnis orang lain (brand), bukan bisnismu sendiri. Mulai pilot kecil β€” bisa produk digital (ebook, kelas singkat), komunitas berbayar, atau kombinasi donasi plus konten premium lewat platform lokal yang sudah ada β€” sambil tetap jalankan endorsement sebagai pendapatan tambahan, bukan dihapus total. Karena profesi ini sekarang resmi tercatat lewat KBJI 2026, siap-siap juga urusan pajak dan pencatatan keuangan makin diperhatikan otoritas β€” ini saat yang tepat untuk mulai mencatat penghasilan secara rapi dan, kalau skalanya sudah besar, mempertimbangkan badan usaha resmi supaya bisa mengakses kredit dan perlindungan formal.

Kalau kamu pelaku UMKM atau brand yang biasa pakai jasa endorse

Pergeseran ini juga mengubah kalkulasi pemasaranmu. Membayar kreator besar untuk satu unggahan sekali jalan makin berisiko karena jangkauan organik yang terus menyusut β€” uangmu belum tentu sampai ke audiens yang relevan. Pertimbangkan kemitraan jangka lebih panjang dengan kreator niche yang audiensnya lebih kecil tapi loyal (dan biasanya tarifnya lebih murah per kepala); konversinya seringkali lebih baik ketimbang kreator besar dengan jutaan follower yang separuhnya pun tak menonton kontenmu.

Yang Perlu Dipantau

  • Hasil awal Sensus Ekonomi 2026 dari BPS β€” untuk pertama kalinya akan mendata kreator konten sebagai pelaku usaha, termasuk yang bekerja dari rumah.

  • Aturan turunan KBJI 2026, khususnya apakah status resmi "content creator" ini akan dibarengi akses ke BPJS Ketenagakerjaan atau skema kredit usaha mikro.

  • Perkembangan RUU atau regulasi perlindungan pekerja gig di DPR, mengingat populasi pekerja gig Indonesia sudah hampir dua kali lipat sejak 2019.

  • Laporan tahunan berikutnya dari lembaga riset seperti Goldman Sachs atau Influencer Marketing Hub soal valuasi creator economy global β€” akan jadi penanda apakah tren US$480–500 miliar benar-benar terjadi atau direvisi turun.

  • Apakah platform lokal seperti Saweria atau Trakteer mulai menambah fitur subscription berulang, bukan cuma donasi sekali jalan β€” ini penanda penting soal kesiapan infrastruktur kreator Indonesia untuk model baru ini.

Penutup

Angka US$500 miliar itu menarik untuk headline, tapi bukan itu yang sebenarnya penting buat kreator di Indonesia. Yang penting adalah pertanyaan paling sederhana: kalau brand yang biasa membayarmu berhenti besok pagi, apa kamu masih punya penghasilan lusa? Endorsement membuat kreator jadi karyawan tak tetap bagi brand orang lain; subscription β€” sekecil apa pun skalanya β€” membuat kreator akhirnya punya bisnis sendiri yang mereka kendalikan. Sebelum ikut euforia valuasi setengah triliun dolar itu, pastikan dulu kamu bukan satu dari jutaan orang yang populer tapi belum tentu punya bisnis.

Sumber

  • Goldman Sachs β€” The creator economy could approach half-a-trillion dollars by 2027

  • Grand View Research / Precedence Research β€” proyeksi pasar creator economy 2025–2026

  • Brick Research β€” The Creator Economy Just Crossed $250 Billion

  • Whop, Substack, Patreon β€” data pendapatan dan pertumbuhan platform subscription 2025–2026

  • Linktree β€” Creator Commerce Report

  • Aspire.io β€” 2026 Influencer Marketing Predictions

  • BPS (Badan Pusat Statistik) β€” rilis tenaga kerja ekonomi kreatif 2025 dan Peraturan BPS No. 7/2026 (KBJI 2026)

  • Kementerian Ekonomi Kreatif (Menekraf) β€” pernyataan jumlah kreator konten dan penghasilan di atas UMR

  • Liputan6 β€” Ada 8 Juta Kreator Konten, Tapi Baru 14 Persen yang Cuan

  • INDEF (Esther Sri Astuti) dan Celios (Nailul Huda) β€” analisis gig economy dan perlindungan pekerja digital Indonesia