Lewati ke konten
blabak.

TEI 2026 Digelar Pekan Ini: 8.000 Buyer, 113 Negara, dan PR Besar Biar UMKM Tak Cuma Jadi Pajangan

TEI ke-41 di ICE BSD incar transaksi US$17,5 miliar dari 1.533 eksibitor. Tapi data TEI 2025 menunjukkan porsi UMKM cuma secuil. Ini cara memanfaatkannya.

Yusuf FS9 menit baca

Ringkasan Cepat

  • Trade Expo Indonesia (TEI) ke-41 digelar 14–18 Oktober 2026 di ICE BSD City, Tangerang, dengan 1.533 eksibitor (termasuk UMKM) dan target 8.000 buyer dari 113 negara.

  • Target transaksi tahun ini US$17,5 miliar (sekitar Rp293 triliun) β€” tapi angka ini justru lebih rendah dari realisasi TEI 2025 yang tembus US$22,8 miliar. Pemerintah terlihat lebih hati-hati memasang target di tengah gejolak tarif Amerika Serikat (AS).

  • Angka yang jarang disorot: dari US$22,8 miliar transaksi TEI 2025, kontribusi UMKM cuma US$474,7 juta β€” sekitar 2% dari total. UMKM dominan secara jumlah peserta, tapi masih kecil secara nilai transaksi.

  • Status tarif AS untuk produk Indonesia sudah berubah sejak kesepakatan 19% diteken awal 2026: putusan Mahkamah Agung AS membatalkan dasar hukumnya, dan sejak Juli 2026 tarif efektif untuk Indonesia turun ke 10% lewat jalur hukum berbeda β€” tapi ketidakpastian soal dasar hukum ini yang justru membuat buyer AS was-was menandatangani kontrak jangka panjang.

  • Ketua Koalisi UMKM Indonesia (KOPITU) justru mengkritik keras: TEI dinilai "minim output dan tidak tepat sasaran" kalau cuma jadi ajang pajangan tanpa sistem follow-up yang serius.

Pesta Dagang Terbesar Tahun Ini β€” dan Kenapa Timingnya Krusial

Minggu ini, ICE BSD City di Tangerang berubah jadi arena transaksi raksasa. Trade Expo Indonesia ke-41 β€” pameran dagang tahunan terbesar yang digelar Kementerian Perdagangan β€” berlangsung 14 sampai 18 Oktober 2026 di atas lahan pameran 16.656 meter persegi. Temanya "The Ultimate Hub for Global Sourcing", semacam ambisi untuk menempatkan Indonesia sebagai simpul pencarian pemasok (sourcing) dunia, bukan cuma peserta pasif dalam perdagangan global.

Skalanya tidak kecil. Per akhir September 2026, sudah ada 1.533 eksibitor terdaftar β€” melampaui target awal 1.500 β€” dengan buyer terdaftar dari 113 negara. Lima negara dengan jumlah buyer terbanyak tahun lalu adalah India, China, Nigeria, Malaysia, dan Mesir, pola yang diperkirakan berulang tahun ini. Dari sisi sektor, makanan-minuman dan produk pertanian paling dominan dengan 754 eksibitor, disusul fesyen dan kerajinan tangan 448, produk manufaktur dan jasa 183, furnitur dan dekorasi rumah 85, serta kawasan industri 63.

Yang membuat momentum ini terasa lebih mendesak dibanding tahun-tahun sebelumnya: TEI 2026 berlangsung di tengah ekspor Indonesia yang masih dibayangi tekanan dari kebijakan tarif AS dan perlambatan permintaan global β€” kombinasi yang, menurut sejumlah lembaga riset, sudah mulai terasa di data ketenagakerjaan sektor manufaktur berorientasi ekspor sepanjang tahun ini.

Target yang Direm Sendiri: Membaca Angka US$17,5 Miliar

Pemerintah menetapkan target transaksi TEI 2026 sebesar US$17,5 miliar, naik 6% dari target TEI 2025 yang dipatok US$16,5 miliar. Di atas kertas, ini terdengar seperti ambisi yang terus naik. Tapi di sinilah angka yang jarang dibaca orang: realisasi TEI 2025 sebenarnya sudah tembus US$22,8 miliar (setara Rp376,2 triliun) β€” jauh melampaui targetnya sendiri, dengan rincian US$17,9 miliar dari perdagangan barang, US$443,7 juta dari jasa, dan US$4,37 miliar dari komitmen investasi.

Artinya, target tahun ini β€” US$17,5 miliar β€” justru lebih rendah dari apa yang sudah benar-benar tercapai tahun lalu. Ini bukan berarti TEI 2026 diperkirakan lebih sepi. Pemerintah kemungkinan sengaja memasang target konservatif karena sadar tahun ini medannya lebih berat: permintaan global yang melambat, harga komoditas yang tertekan, dan ketidakpastian tarif AS yang belum sepenuhnya mereda. Mendag Budi Santoso sendiri menyebut optimistis target bisa dilampaui dengan "persiapan yang lebih komprehensif" β€” bahasa halus untuk mengakui bahwa tahun ini perlu kerja lebih keras untuk hasil yang sama.

Satu angka lagi yang lebih penting untuk pelaku usaha kecil: dari US$22,8 miliar transaksi TEI 2025, kontribusi UMKM cuma US$474,7 juta, atau sekitar Rp7,8 triliun. Dihitung dengan transaksi total, itu kurang dari 2,5%. Padahal UMKM adalah kelompok yang paling banyak disebut dalam setiap materi promosi TEI β€” jumlah pesertanya besar, tapi porsi nilai transaksinya kecil sekali. Ini bukan soal UMKM gagal, tapi soal gap antara "diikutkan ke pameran" dan "benar-benar closing deal" yang masih lebar.

Tarif AS yang Berubah-ubah: Dari 19% ke 10%, Tapi Ketidakpastian yang Tersisa Justru Lebih Berat

Narasi yang beredar luas bulan-bulan terakhir adalah "tarif AS 19% menekan ekspor Indonesia". Faktanya lebih berlapis, dan penting untuk diluruskan karena memengaruhi cara pelaku usaha menilai risiko.

Kronologinya: pertengahan 2025, AS awalnya mengancam tarif resiprokal setinggi 32% untuk produk Indonesia, lalu lewat negosiasi diturunkan jadi 19% β€” disertai fasilitas tarif 0% untuk 1.819 pos tarif produk Indonesia (termasuk tekstil dan apparel lewat skema kuota khusus/TRQ). Kesepakatan ini diformalkan lewat 11 nota kesepahaman (MoU) senilai sekitar US$38,4 miliar yang diteken Februari 2026.

Tapi tak lama setelah itu, pada 20 Februari 2026, Mahkamah Agung AS dengan suara 6-3 memutuskan Presiden Trump sebenarnya tidak berwenang mengenakan tarif global berdasarkan undang-undang darurat ekonomi (IEEPA) yang jadi dasar hukum tarif 19% tersebut. Tarif itu gugur. Pemerintah AS lalu memakai dasar hukum lain: sempat 10% untuk semua negara lewat Section 122 (24 Februari–24 Juli 2026), lalu sejak 24 Juli 2026 Indonesia dikenai 10% lewat Section 301 β€” sementara negara lain bisa sampai 12,5%. Jadi per pekan ini, tarif efektif AS untuk sebagian besar produk Indonesia adalah 10%, bukan 19%.

Di titik ini terlihat kontradiksinya: tarif turun, tapi kekhawatiran pelaku usaha tidak otomatis ikut turun. Alasannya, dasar hukum tarif yang berubah tiga kali dalam setahun membuat buyer AS ragu menandatangani kontrak jangka panjang β€” mereka tidak tahu aturan mana yang akan berlaku enam bulan ke depan. Lembaga riset CORE menilai putusan Mahkamah Agung ini justru membuka ruang bagi Indonesia untuk bernegosiasi ulang, tapi manfaatnya sangat bergantung pada daya saing industri dalam negeri β€” bukan cuma soal angka tarif di atas kertas. Bagi UMKM sendiri, dampaknya lebih banyak terasa tidak langsung: lewat harga bahan baku impor (kedelai, tepung terigu) yang ikut bergerak mengikuti dinamika dagang global ini, ketimbang lewat ekspor langsung ke AS β€” karena kontribusi UMKM ke ekspor nasional memang masih kecil, baru sekitar 15% dari total ekspor Indonesia, dan baru 15,7% UMKM yang pernah menembus pasar ekspor sama sekali.

Pajangan vs Transaksi Nyata: Kritik yang Perlu Didengar, Bukan Cuma Dirayakan

Bukan semua pihak menyambut TEI dengan optimisme penuh. Yoyok Pitoyo, Ketua Umum Koalisi UMKM Indonesia (KOPITU), secara terbuka mengkritik TEI sebagai acara yang "minim output dan tidak tepat sasaran" jika pola penyelenggaraannya tidak berubah. Tiga keluhannya spesifik: kualitas produk dan jasa yang ditampilkan banyak yang belum sampai standar internasional sehingga buyer global ragu bertransaksi; fasilitas dan layanan di lapangan kadang kurang profesional sehingga meninggalkan kesan buruk; dan promosi acara ke buyer internasional sering terbatas karena dukungan dana yang minim.

Inti kritiknya sebenarnya satu kalimat: hasil yang diumumkan ke publik β€” angka transaksi besar-besaran β€” sering tidak mencerminkan dampak nyata yang dirasakan UMKM kecil di lapangan. Ukuran keberhasilan sejatinya bukan berapa banyak MoU ditandatangani di atas podium, tapi berapa banyak buyer yang benar-benar kembali memesan tiga, enam, dua belas bulan setelah pameran selesai. Pitoyo mengusulkan model "pentahelix" β€” lima pihak yang harus bergerak bersama: Kementerian Perdagangan dan lembaga terkait, asosiasi pengusaha dan UMKM, bank Himbara untuk akses modal kerja, KBRI/ITPC/Trading House untuk membuka jalur pasar, dan UMKM sendiri yang harus proaktif berinovasi β€” bukan menunggu ditarik ke pameran lalu pulang tanpa tindak lanjut.

Kritik ini relevan karena menunjukkan di mana letak risiko sebenarnya buat pelaku usaha kecil yang ikut TEI 2026: ongkos mengikuti pameran (transportasi, booth, sampel, waktu) riil, tapi hasilnya tidak otomatis. Buyer internasional, menurut pelaku ekspor berpengalaman, tidak membeli "niat baik" atau produk sampel β€” mereka membeli kepastian: spesifikasi stabil, kapasitas produksi yang bisa dipenuhi berulang, legalitas usaha yang lengkap, dan jadwal pengiriman yang bisa dipercaya.

Apa Artinya Buat Kamu

Kalau kamu masih karyawan dan ingin mulai usaha

TEI bukan tempat yang pas untuk "coba-coba" tanpa persiapan β€” pameran ini dirancang untuk transaksi B2B (business-to-business, antar perusahaan) dalam skala besar, bukan etalase hobi. Kalau kamu baru berencana merintis usaha berorientasi ekspor, manfaatkan TEI dulu sebagai riset pasar gratis: datang sebagai pengunjung, amati booth sejenis dengan produk yang kamu incar, catat harga, kemasan, dan cara mereka bicara dengan buyer asing. Perhatikan juga sesi forum bisnis dan konsultasi ekspor yang biasanya digelar paralel β€” ini sumber informasi kebijakan dan tren pasar yang gratis dan jarang dimanfaatkan. Jangan buru-buru sewa booth tahun ini kalau produkmu belum punya kapasitas produksi stabil dan dokumen legalitas lengkap; buyer serius akan langsung menanyakan itu, dan jawaban yang tidak siap bisa menutup pintu sebelum sempat terbuka.

Kalau kamu sudah punya bisnis

Kalau kamu eksibitor TEI 2026, kerja sebenarnya baru dimulai setelah 18 Oktober, bukan berhenti di hari itu. Siapkan katalog produk dan daftar harga ekspor dalam bahasa Inggris sebelum datang, bukan dadakan di lokasi. Saat business matching, jangan menunggu buyer menyapa duluan β€” ajukan pertanyaan ringan, ceritakan proses produksi dan nilai tambah produkmu (bahan baku, keberlanjutan, cerita di balik produk), karena buyer internasional sering mencari nilai cerita selain kualitas. Yang paling krusial: follow-up cepat. Buyer global biasa bekerja dengan ritme balas email dalam hitungan jam, bukan minggu β€” kalau kamu baru membalas tujuh hari setelah pameran, kemungkinan besar mereka sudah closing dengan eksibitor lain. Siapkan juga simulasi biaya pengiriman dan kapasitas produksi riil sebelum berangkat, supaya saat ditanya "bisa penuhi order 10.000 unit per bulan?" kamu punya jawaban konkret, bukan perkiraan kasar.

Buat yang bukan pelaku usaha langsung

TEI 2026 juga punya relevansi bagi kamu yang hanya bekerja sebagai karyawan di sektor manufaktur atau logistik berorientasi ekspor. Data Kementerian Ketenagakerjaan mencatat 43.805 pekerja terkena PHK sepanjang Januari–Juli 2026, dengan sektor manufaktur β€” khususnya industri padat karya berorientasi ekspor β€” sebagai penyumbang terbesar, akibat pelemahan permintaan pasar global. Kalau transaksi TEI 2026 benar-benar terealisasi jadi order produksi berkelanjutan (bukan cuma MoU di atas kertas), dampaknya bisa menahan laju PHK di sektor ini. Tapi kalau pola tahun-tahun sebelumnya berulang β€” transaksi besar diumumkan tapi realisasi order lanjutannya lambat β€” jangan berharap ini otomatis membuka lowongan kerja baru dalam waktu dekat.

Yang Perlu Dipantau

  • 18 Oktober 2026 β€” penutupan TEI ke-41; perhatikan angka realisasi akhir dibandingkan target US$17,5 miliar, dan khususnya rincian kontribusi UMKM dibanding kontribusi korporasi besar.

  • Rilis data ekspor BPS pertengahan November 2026 β€” untuk melihat apakah momentum TEI tercermin pada data ekspor bulanan riil, bukan cuma angka MoU di atas kertas.

  • Perkembangan status tarif Section 301 AS terhadap Indonesia β€” apakah tetap 10% atau ada perubahan lanjutan pasca putusan Mahkamah Agung, mengingat dasar hukumnya masih bisa digugat ulang.

  • Realisasi MoU investasi US$38,4 miliar dari kesepakatan dagang RI-AS Februari 2026 β€” berapa persen yang benar-benar terealisasi jadi investasi fisik di Indonesia.

  • Data PHK Kemnaker kuartal IV 2026 β€” indikator apakah tekanan di sektor manufaktur ekspor mereda atau justru memburuk pasca TEI.

Penutup

TEI 2026 memang bukan sekadar pajangan β€” tapi juga bukan jaminan otomatis. Infrastrukturnya sudah di sana: 1.533 eksibitor, buyer dari 113 negara, forum bisnis, sesi konsultasi ekspor, sampai fasilitas tarif 0% untuk ribuan pos tarif ke AS. Yang menentukan apakah pameran ini jadi pintu masuk ekspor nyata atau cuma angka seremonial di penutupan acara bukan skala eventnya, tapi apa yang kamu β€” atau pelaku usaha di sekitarmu β€” lakukan di hari ke-19, ke-30, dan ke-90 setelah booth dibongkar. Angka US$17,5 miliar akan terus jadi berita baik di headline; yang jarang diberitakan adalah berapa dari UMKM yang hadir hari ini akan masih punya buyer yang sama di TEI 2027.

Sumber

  • Investor Trust β€” "Jaring Antusiasme Menuju TEI 2026: Buyer dari 113 Negara dan 1.500 Ekshibitor Siap Berpartisipasi"

  • UKM Indonesia β€” "Trade Expo Indonesia ke-41 Dibuka Oktober 2026: Ini Alasan UMKM Ekspor Wajib Hadir"

  • Bisnis.com β€” "Mendag Targetkan Transaksi Trade Expo Indonesia 2026 Naik 6%, Tembus Rp293 Triliun"

  • Bloomberg Technoz β€” "Target Transaksi Trade Expo Indonesia 2026 Dipatok US$17,5 Miliar"

  • Kontan β€” "Capaian Trade Expo Indonesia 2025 Tembus US$22,8 Miliar, Lampaui Target Awal"

  • Antara News β€” "Mendag: Transaksi TEI 2025 Capai 22,8 Miliar Dolar AS"

  • UKM Indonesia β€” "Tarif RI-AS 2026 Berubah Lagi: 19%, 10%, atau 0%? Apa Dampaknya bagi UMKM"

  • Antara News β€” "CORE: Putusan MA AS Memungkinkan Indonesia Renegosiasi Tarif"

  • Putra Indonews β€” "Kritik Ketua KOPITU atas Trade Expo Indonesia (TEI): Minim Output dan Tidak Tepat Sasaran"

  • Medcom.id β€” "UMKM Indonesia Banyak, Tapi Baru 15,7% yang Tembus Pasar Ekspor"

  • Tempo β€” "Hampir 53.000 Tenaga Kerja Kena PHK, Kemnaker: Terbanyak dari Sektor Manufaktur"

  • CNBC Indonesia β€” "43.805 Warga RI Kena PHK, Buruh dan Pengusaha Ungkap Hal Tak Terduga"