IMOS 2026: Motor Menuju Rekor 11 Tahun, Tapi Siapa Sebenarnya yang Masih Berani Belanja?
AISI incar penjualan motor 6,5-6,7 juta unit di 2026, tertinggi sejak 2015. Tapi di balik rekor itu, kreditnya makin macet dan motor listrik malah ambruk.
Daftar isi11 bagian
Ringkasan Cepat
AISI (Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia) menargetkan penjualan motor nasional 6,5-6,7 juta unit sepanjang 2026 โ kalau tercapai, ini jadi angka tertinggi sejak 2015, alias rekor 11 tahun. Realisasi Januari-September sudah 5,16 juta unit, naik 3,7% dibanding periode sama 2025.
IMOS (Indonesia Motorcycle Show) 2026 digelar 20-29 November di ICE BSD City, Tangerang, menghadirkan lebih dari 70 merek (termasuk aksesori dan pembiayaan) dan 15 pabrikan sepeda motor โ dari Honda sampai produsen motor listrik โ sebagai etalase sekaligus pendorong penjualan akhir tahun.
Tapi 65% transaksi motor dilakukan lewat kredit, dan kredit macet (NPF, singkatan dari non-performing financing, alias porsi pinjaman yang gagal dibayar) di industri pembiayaan terus naik dari 2,72% pada Januari jadi 3,01% pada Juni 2026.
Justru motor listrik โ yang jadi sorotan utama di IMOS โ penjualannya ambruk 73%, dari 70.000 unit sepanjang 2025 jadi hanya 18.900 unit hingga Agustus 2026, karena pembeli menunggu kejelasan subsidi yang tak pernah datang.
Ekonom menilai motor justru indikator daya beli masyarakat yang lebih jujur dibanding mobil, karena pembelinya lebih luas โ tapi itu juga berarti rekor penjualan motor ini perlu dibaca sebagai sinyal soal siapa yang masih mampu bertahan, bukan bukti bahwa daya beli semua orang sudah pulih.
70 Merek, 15 Pabrikan, dan Dua Minggu di BSD
IMOS 2026 berlangsung lebih panjang dari biasanya: 10 hari, 20-29 November, di Hall 9 dan 10 ICE BSD City. Tiket dijual mulai Rp25.000 untuk online di hari kerja sampai Rp50.000 untuk on-site di akhir pekan, dengan promo beli-satu-gratis-satu untuk pelajar dan gratis masuk bagi pengemudi ojek online di hari kerja โ detail kecil yang sebenarnya menunjukkan siapa target penonton yang ingin digaet panitia.
Dari sisi peserta, lebih dari 70 merek hadir โ tapi penting dibedakan: itu termasuk merek aksesori, apparel, dan pembiayaan, bukan cuma pabrikan motor. Pabrikan sepeda motor murninya ada 15, terdiri dari lima anggota AISI dan sepuluh non-anggota, mulai dari Honda, Yamaha, Suzuki, Kawasaki, TVS, Royal Enfield, Harley-Davidson, Triumph, BMW Motorrad, hingga pemain motor listrik seperti Alva dan Polytron. Sebagai pembanding, edisi 2025 menarik 103.789 pengunjung hanya dalam lima hari โ jadi kalau pola serupa berulang di 10 hari tahun ini, Yosef Utama selaku Ketua Komersial AISI punya alasan kuat untuk optimistis acara ini bisa jadi pendorong penjualan di penghujung tahun.
Angka yang Mengejar Catatan 2015
Ketua Umum AISI Thomas Wijaya menyebut target tahun ini โ 6,5 hingga 6,7 juta unit โ berpotensi jadi "yang tertinggi hampir dalam satu dekade." Secara presisi, itu akan melampaui rekor 2015 sebanyak 6.480.155 unit, yang berarti belum terlampaui selama 11 tahun terakhir โ melewati masa pelemahan rupiah 2015, pandemi, dan perlambatan ekonomi pasca-pandemi.
Fondasinya cukup solid: penjualan 2025 sudah mencapai 6,41 juta unit (naik 1,3% dari 2024), dengan rata-rata bulanan sekitar 535.000 unit. Hingga September 2026, realisasinya 5,16 juta unit, tumbuh 3,7% dibanding periode sama tahun lalu. Thomas Wijaya mengaitkan ini dengan inflasi yang terjaga di kisaran 3% sepanjang sembilan bulan pertama tahun ini, yang menurutnya menjaga daya beli dan resiliensi masyarakat tetap stabil.
Perlu dicatat, ini adalah klaim dari asosiasi industri yang punya kepentingan untuk tampil optimistis menjelang IMOS. Tapi data makro yang beredar belakangan justru menceritakan versi yang lebih rumit soal daya beli โ dan di sinilah rekor ini jadi menarik untuk dibongkar.
Motor Laku, tapi Siapa Sebenarnya yang Beli?
Di saat yang sama dengan optimisme AISI, data konsumsi rumah tangga nasional justru menunjukkan arah berbeda. Konsumsi rumah tangga kuartal II-2026 tumbuh 5,06%, melambat dari 5,52% pada kuartal sebelumnya โ yang oleh para ekonom disebut tren "downgrading", yakni kelas menengah beralih ke produk dan layanan yang lebih murah. Survei Konsumen Bank Indonesia Juli 2026 memperkuat itu: porsi pendapatan rumah tangga yang habis untuk konsumsi naik ke 72,7%, porsi untuk membayar cicilan utang naik ke 10,5% (dari 10%), sementara porsi yang berhasil ditabung turun ke 16,8% (dari 17%). Lembaga riset Celios, lewat model ekonometrika Three Stage Least Square, memperkirakan indeks daya beli kelas menengah-bawah justru memburuk dari -0,53 pada 2025 menjadi -0,67 pada 2026.
Bhima Yudhistira dari Celios menyebut ini sebagai "paradoks Chili" versi Indonesia: ekonomi nasional tumbuh 5,29% dibanding periode sama tahun lalu, tapi kelas menengah tetap merasa tertekan dan tidak puas, karena kebijakan yang ada belum cukup berpihak pada mereka.
Lalu kenapa motor tetap laku kalau daya beli kelompok ini sedang melemah? Jawabannya ada di pembandingnya: mobil. Penjualan mobil nasional Januari-September 2026 memang naik 21% dibanding periode sama 2025 (679.020 unit dari 561.405 unit), tapi Yusuf Rendy Manilet dari CORE Indonesia mengingatkan bahwa "mobil bukan barang yang dibeli oleh mayoritas rumah tangga Indonesia. Pembelinya didominasi kelompok menengah atas serta segmen korporat dan armada." Senada, ekonom INDEF M. Rizal Taufiqurahman menilai kenaikan penjualan mobil lebih banyak didorong efek basis rendah tahun lalu dan diskon agresif, bukan bukti daya beli pulih sepenuhnya. Logikanya jadi berbalik untuk motor: justru karena basis pembelinya jauh lebih luas dan tidak terkonsentrasi di kelas atas, penjualan motor adalah cermin daya beli yang lebih representatif โ dan karena itu, rekornya layak dibaca lebih serius, bukan lebih santai.
Kredit Mudah, Tapi Makin Rawan
Sebagian besar jawaban soal "siapa yang masih mampu beli motor" ada di cara mereka membayarnya: 65% transaksi motor di Indonesia dilakukan lewat kredit, bukan tunai. Menariknya, AISI sendiri mengakui perpanjangan kebijakan DP 0% (uang muka nol persen) tidak otomatis mengerek penjualan secara signifikan. Menurut mereka, keputusan membeli motor tetap lebih ditentukan oleh daya beli riil, stabilitas pekerjaan, dan kemampuan membayar cicilan ketimbang skema kredit yang murah. Ini sebenarnya kabar yang agak melegakan โ artinya pertumbuhan penjualan bukan cuma gelembung karena kredit digratiskan di muka, melainkan ada permintaan riil di baliknya.
Tapi "riil" bukan berarti tanpa risiko. Tingkat kredit macet (NPF) di industri pembiayaan terus naik sepanjang 2026: dari 2,72% di Januari, ke 2,89% di April, dan 3,01% di Juni. Pembiayaan motor sendiri tumbuh 2,74% jadi Rp113,07 triliun per April โ sementara pembiayaan mobil justru terkontraksi 3,25% dibanding tahun lalu jadi Rp230,47 triliun per Juni. Dua angka ini, dibaca bersama, menunjukkan pergeseran yang konsisten dengan tren "downgrading" di atas: orang yang punya anggaran terbatas memilih motor โ barang tahan lama yang lebih murah dan lebih esensial โ ketimbang mobil, sambil tetap mengandalkan cicilan yang risikonya pelan-pelan naik.
Panggung yang Sepi: Motor Listrik di Tengah Rekor
Di sinilah letak kontras paling tajam dari seluruh cerita ini. IMOS 2026 memamerkan 15 pabrikan termasuk pemain motor listrik sebagai bagian dari narasi masa depan industri. Tapi data penjualan menunjukkan arah sebaliknya: hingga Agustus 2026, motor listrik hanya terjual 18.900 unit โ anjlok 73% dari 70.000 unit sepanjang 2025. Penyebabnya bukan soal produk atau pilihan merek (ada 69 merek motor listrik yang terdaftar), tapi ketidakpastian kebijakan subsidi yang membuat calon pembeli memilih menunggu ketimbang membeli sekarang.
Akibatnya, penetrasi motor listrik di Indonesia masih di bawah 1% dari total populasi motor konvensional yang mencapai sekitar 145 juta unit, dengan populasi motor listrik nasional baru sekitar 70.000 unit โ jauh dari target penjualan 50.000 unit per tahun yang dipatok untuk 2026 saja. Jadi sementara IMOS menjual cerita elektrifikasi sebagai masa depan, konsumen justru memperlakukan motor listrik sebagai barang yang "nice to have" dan bisa ditunda, berbeda dengan motor konvensional yang terus dibeli karena fungsinya tidak bisa ditunda-tunda.
Dari Ojol sampai Luar Jawa: Siapa yang Masih Berani Beli
Ada godaan untuk menyimpulkan bahwa lonjakan penjualan motor ini didorong gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) yang membuat orang beralih jadi pengemudi ojek online. Direktur Marketing Astra Honda Motor justru membantah korelasi itu secara langsung, dan menyebut pertumbuhan lebih mencerminkan kebutuhan mobilitas serta daya beli dari dua kelompok: pembeli motor pertama kali dan pembeli berulang yang terus bertambah secara organik.
Tapi gambaran ketenagakerjaan nasional sendiri memang dua kecepatan. Di satu sisi, PMI Manufaktur Indonesia (indeks yang mengukur aktivitas pabrik lewat survei manajer pembelian) melesat ke 54,0 pada Oktober 2026 โ tertinggi sejak Maret 2024, dengan pesanan ekspor tertinggi sejak survei ini dimulai tahun 2011. Di sisi lain, sektor padat karya seperti tekstil, garmen, dan sepatu justru jadi korban PHK terbesar: dari sekitar 63.789 pekerja yang melapor lewat sistem Jaminan Kehilangan Pekerjaan Kemnaker sepanjang Januari-September 2026, hingga proyeksi KSPI yang menyebut angka itu bisa menembus 90.000 orang pada akhir tahun. Artinya, pembeli motor yang mendorong rekor ini kemungkinan besar bukan korban PHK tekstil yang kehilangan pendapatan โ melainkan kelompok dengan pekerjaan atau sumber penghasilan yang relatif masih stabil, termasuk pekerja sektor ekspor yang justru sedang moncer, dan pekerja gig economy yang pendapatannya terverifikasi lewat data transaksi harian di platform digital.
Secara geografis, Jawa Barat masih kontributor terbesar diikuti Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Yogyakarta โ tapi pertumbuhan tercepat justru datang dari Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi, yang penetrasi motornya memang masih punya ruang tumbuh. Soal model, dominasi matic entry-level seperti Honda BeAT yang konsisten jadi motor terlaris menunjukkan arah yang sama: pembeli memilih unit paling terjangkau dan paling murah biaya perawatannya, bukan model premium.
Apa Artinya Buat Kamu
Kalau kamu masih karyawan dan ingin mulai usaha
Kalau rencana kamu adalah beli motor sebagai modal kerja โ ojol, kurir, jasa antar โ pemerintah lewat Perpres No. 27/2026 sudah membuka akses Kredit Usaha Rakyat (KUR) berbunga 6% per tahun untuk peremajaan motor dan modal usaha pengemudi platform digital, dengan syarat statusmu usaha mikro dan tidak punya riwayat kredit macet di SLIK OJK. Aturan turunannya ditargetkan rampung akhir Desember 2026, jadi ini layak dipantau serius kalau kamu termasuk target penerimanya.
Tapi jangan tergoda ambil kredit motor baru hanya karena ada promo DP 0% di IMOS. AISI sendiri mengakui DP murah tidak otomatis membuat orang mampu bayar cicilan โ yang menentukan tetap kestabilan pendapatanmu. Dengan NPF yang terus naik, hitung dulu proyeksi penghasilan harian secara realistis sebelum menandatangani kontrak kredit. Untuk motor listrik, tunda dulu kalau tujuannya cari nafkah โ ketidakjelasan subsidi membuat nilai jual kembali dan infrastruktur pengisian dayanya masih berisiko tinggi; motor matic konvensional entry-level masih pilihan paling aman dari sisi purna jual dan jaringan servis.
Kalau kamu sudah punya bisnis
Dealer, bengkel, dan showroom punya momentum nyata di sisa 2026 โ tapi arahkan promo ke segmen matic entry-level dan layanan purna jual (spare part, servis rutin), karena di situlah permintaan paling solid, bukan di segmen premium yang masih tertekan bersama kelas menengah atas yang berhati-hati.
Kalau bisnismu bergerak di pembiayaan atau leasing, data NPF yang naik dari 2,72% ke 3,01% sepanjang tahun ini adalah sinyal untuk memperketat underwriting (proses penilaian kelayakan kredit calon peminjam) ke segmen berpenghasilan tidak stabil, dan lebih mengandalkan data transaksi terverifikasi โ misalnya dari platform gig โ ketimbang sekadar slip gaji formal. Dan kalau usahamu justru berada di sektor padat karya seperti tekstil atau garmen yang sedang menghadapi gelombang PHK, jangan baca rekor penjualan motor ini sebagai sinyal bahwa konsumsi sudah pulih menyeluruh โ ini kebutuhan mobilitas kerja yang spesifik, bukan tanda daya beli untuk barang non-esensial sudah membaik.
Yang Perlu Dipantau
Rilis data penjualan motor Oktober dan November dari AISI (biasanya awal bulan berikutnya) โ untuk melihat apakah IMOS benar-benar mengerek angka akhir tahun.
Realisasi penuh 2026 versus target 6,5-6,7 juta unit, yang akan diumumkan AISI awal Januari 2027 โ penentu apakah rekor sejak 2015 benar-benar pecah.
Tren NPF industri multifinance kuartal IV 2026 dari OJK โ indikator apakah kredit kendaraan makin rawan atau mulai stabil.
Kejelasan skema subsidi motor listrik untuk 2027, yang akan menentukan apakah penjualan EV bisa pulih dari titik rendahnya saat ini.
Aturan turunan (Peraturan Menteri) dari Perpres No. 27/2026 soal KUR ojol, ditargetkan selesai akhir Desember 2026 โ krusial bagi jutaan pengemudi platform yang ingin ganti motor.
Penutup
Rekor penjualan motor 2026 itu nyata, dan IMOS akan jadi panggung yang sah untuk merayakannya. Tapi angka ini bukan tanda bahwa dompet orang Indonesia tiba-tiba menebal โ ini tanda bahwa buat jutaan orang, motor sudah lama berhenti jadi barang konsumsi biasa dan berubah jadi alat produksi yang tetap harus dibeli, dengan cara apa pun, termasuk berutang di tengah kredit yang makin rawan macet. Rayakan datanya, tapi baca pesannya dengan hati-hati: yang sedang dibeli bukan kemewahan, melainkan cara untuk tetap bisa berangkat kerja besok pagi.
Sumber
Liputan6 โ IMOS 2026 Diharapkan Dongkrak Penjualan Motor, AISI Bidik Angka Segini
CNN Indonesia โ IMOS 2026 Bakal Digelar 10 Hari, Harga Tiket Mulai Rp25 Ribu
Katadata (Otomotif) โ AISI Optimistis Penjualan Motor Tembus 6,5 Juta Unit di 2026
Kompas (Otomotif) โ Hingga Agustus 2026, Penjualan Motor Listrik Cuma 19.000 Unit
Detik Finance โ Subsidi Motor Listrik Tak Jelas, Penjualan 2026 Anjlok ke 18.900 Unit
Kompas Money โ Daya Beli Kelas Menengah Tertekan, Uangnya Lari ke Mana?
Feedberry โ Downgrading Kelas Menengah: Konsumsi Melambat ke 5,06%
Bisnis Indonesia (Ekonomi) โ Celios Soroti Chilean Paradox, Tekanan dan Ketidakpuasan Kelas Menengah Indonesia
Kontan (Keuangan) โ NPF Naik Jadi 2,89% per April 2026, OJK Minta Multifinance Lakukan Upaya Ini
Kontan (Keuangan) โ Pembiayaan Kendaraan Multifinance Turun 1,44% Jadi Rp402,49 Triliun per Mei 2026
Bisnis Indonesia (Finansial) โ Pembiayaan Motor Multifinance Sentuh Rp113,07 Triliun pada April 2026
CNN Indonesia โ Penjualan Mobil Baru September 2026 Turun 2,7 Persen
Bisnis Indonesia (Otomotif) โ Gaikindo Sebut Penjualan Mobil Sulit Tembus 1 Juta Unit pada 2026
Kontan (Nasional) โ Penjualan Mobil Naik, Ekonom: Belum Jadi Bukti Daya Beli Masyarakat Pulih
Antara News โ Menteri UMKM: Ojol Bisa Akses KUR untuk Beli Motor dan Modal Usaha
Detik Oto โ Fenomena Kenaikan Penjualan Motor di Indonesia, Apa Pendorongnya?
Bisnis Indonesia (Ekonomi) โ PMI Manufaktur Indonesia Melesat ke Level 54,0 pada Oktober 2026
Pikiran Rakyat โ Kemenaker Mitigasi Gelombang PHK Manufaktur yang Mencapai 43.000 Pekerja
Bisnis Insight โ KSPI Perkirakan Korban PHK Tembus 90 Ribu Orang hingga Akhir 2026