Startup Indonesia Kering Modal, Singapura Borong 92% Dana Asia Tenggara
Pendanaan startup RI anjlok ke titik terkecil se-ASEAN dan tanpa unicorn baru sejak 2024. Ini alasan sebenarnya investor kini pilih Singapura.
Daftar isi10 bagian
Ringkasan Cepat
Sepanjang 2025, startup Indonesia hanya kebagian 6,3% dari total dana modal ventura (uang investor profesional yang dikumpulkan khusus untuk disuntikkan ke startup) se-Asia Tenggara senilai US$340 juta. Singapura โ negara berpenduduk sekitar 1/50 Indonesia โ menyerap 78,1%, setara US$4,2 miliar.
Sejak eFishery resmi jadi unicorn (startup bervaluasi di atas US$1 miliar) pada Mei 2023, tidak ada satu pun startup Indonesia yang menyusul. Hampir 3,5 tahun kekosongan, kontras tajam dengan era 2018โ2022 yang melahirkan Gojek, Tokopedia, Traveloka, Bukalapak, OVO, Xendit, hingga J&T.
Gap itu makin lebar di 2026: dalam enam bulan pertama tahun ini saja, Singapura sendirian membawa pulang US$6,7 miliar (92% nilai kesepakatan se-kawasan), sementara Indonesia hanya dapat US$104 juta dari 17 transaksi โ tak satu pun startup RI masuk 20 pendanaan terbesar regional.
Investor tidak sedang "kabur" dari Indonesia โ mereka makin pilih-pilih. Skandal manipulasi laporan keuangan eFishery membuat investor dua kali lebih curiga pada startup yang cuma jago pamer angka tumbuh tanpa fundamental bisnis yang sehat.
Ironisnya, sebagian dana yang "lari" ke Singapura sebenarnya tetap membiayai startup yang produknya dipakai jutaan orang Indonesia โ hanya saja badan hukumnya terdaftar di Singapura demi pajak dan kepastian hukum yang lebih ramah.
Singapura Dapat 92%, Indonesia Kebagian Remah
Angka headline-nya sudah cukup menampar: dari US$5,37 miliar dana yang mengalir ke startup se-Asia Tenggara sepanjang 2025, Indonesia cuma kebagian US$340 juta dari 66 transaksi. Singapura menggondol US$4,2 miliar dari 283 transaksi โ hampir 13 kali lipat nilai yang didapat Indonesia, padahal jumlah transaksinya "cuma" 4 kali lipat. Artinya, nilai rata-rata per kesepakatan di Singapura juga jauh lebih besar.
Yang lebih mengkhawatirkan bukan angka tahunan itu, tapi tren jangka panjangnya. Pendanaan startup Indonesia pernah menyentuh puncak US$6,9 miliar pada 2021 โ era pesta bakar uang pasca-pandemi. Angka itu longsor ke US$694,6 juta pada 2024, lalu longsor lagi ke kisaran US$340โ358 juta pada 2025 (perbedaan kecil antar-laporan karena metode hitung yang tak seragam). Dalam empat tahun, pendanaan ke startup Indonesia susut lebih dari 95%.
Yang paling menyakitkan terjadi di paruh pertama 2025: untuk pertama kalinya, nilai investasi ke startup Indonesia (US$78,5 juta, turun 67% dibanding periode sama tahun sebelumnya) kalah dari Filipina (US$86,4 juta) โ negara yang selama ini dianggap lebih kecil ekosistem startup-nya. Vietnam melonjak 169% jadi US$275 juta, Malaysia dobel jadi US$196 juta. Indonesia, yang selama sewindu terakhir selalu disebut "raksasa digital Asia Tenggara", kini berada di papan bawah pertumbuhan regional sendiri.
Lalu di 2026, polanya makin tegas. Semester pertama tahun ini, pendanaan startup se-Asia Tenggara justru melonjak ke US$7,25 miliar โ rebound terkuat sejak H1 2022, hampir 4 kali lipat dibanding periode sama tahun lalu. Tapi rebound itu nyaris seluruhnya milik Singapura: US$6,7 miliar dan 145 transaksi, setara 92% nilai kesepakatan dan 67% volume transaksi se-kawasan. Indonesia hanya mencatat US$104 juta dari 17 transaksi.
Pemerintah punya versi angka yang sedikit lebih optimistis: Komdigi mengklaim per awal Oktober 2026 realisasi investasi startup domestik sudah US$392 juta, melampaui total sepanjang 2025. Ini bukan kontradiksi dengan data DealStreetAsia di atas โ beda periode (JanuariโJuni vs JanuariโOktober) dan beda metode hitung (Komdigi kemungkinan memasukkan jenis pendanaan yang lebih luas). Tapi sekecil apa pun selisihnya, kedua angka sepakat pada satu hal: nilainya tetap remah dibanding yang didapat Singapura dalam setengah tahun saja.
Pindah Alamat, Bukan Cuma Pindah Hati
Di sinilah bagian yang sering hilang dari headline: tidak semua "kemenangan" Singapura berarti kekalahan Indonesia secara harfiah. Banyak startup yang produknya dipakai jutaan pengguna di Jakarta, Surabaya, atau Makassar sebenarnya berbadan hukum di Singapura โ fenomena yang dalam dunia startup disebut "Singapore flip": tim dan pasar tetap di Indonesia, tapi entitas induk (holding company) didaftarkan di Singapura.
Alasannya murni kalkulasi pajak dan kepastian hukum. Kalau seorang founder memegang perusahaan Indonesia secara langsung, total beban pajak efektifnya bisa mencapai 37,6% dari setiap dolar keuntungan โ gabungan pajak badan 22%, pajak dividen (withholding tax, pajak yang dipotong negara dari penghasilan yang dibayarkan ke pihak asing) 20%, plus pajak saat exit (menjual kepemilikan) hingga 5% dari nilai transaksi. Kalau strukturnya dilewatkan entitas Singapura yang memegang minimal 25% saham, perjanjian pajak RI-Singapura (tax treaty) memotong pajak dividen itu jadi 10% saja โ total beban efektif turun ke 29,8%. Singapura sendiri tidak memungut pajak atas capital gain (keuntungan dari jual-beli saham sama sekali), dan pajak badannya dipatok maksimal 17%, sering lebih rendah lagi lewat insentif.
Tambahkan faktor non-pajak: sistem hukum Singapura dianggap lebih cepat, lebih dapat diprediksi, dan lebih ramah bagi penyelesaian sengketa investor-founder lewat arbitrase internasional. Bagi venture capital global yang menaruh modal dalam jumlah besar, kepastian semacam ini bukan detail kecil โ ini syarat dasar sebelum tanda tangan.
Faktor lain yang jarang disorot: kesenjangan talenta dan infrastruktur AI (kecerdasan buatan). Sejak 2020, Singapura sudah punya lebih dari 495 startup AI aktif, sementara Indonesia baru 45 โ selisih lebih dari 11 kali lipat. Startup AI menyerap lebih dari US$2,3 miliar atau 32% dari total dana swasta yang masuk ke Asia Tenggara sepanjang 2025. Ketika arus dana global sedang berat-berat ke AI, Singapura secara struktural lebih siap menangkapnya: akses talenta global lebih mudah, infrastruktur komputasi lebih matang, dan regulasi data lintas-negara lebih jelas.
Rem Mendadak Setelah Pesta Bakar Uang
Pergeseran ini bukan cerita lokal Indonesia saja โ ini gelombang global. Pendanaan startup AI mendominasi lebih dari separuh total modal ventura dunia sepanjang 2025, dan porsinya terus naik di 2026. Konsekuensinya, modal yang tersedia untuk startup non-AI, terutama yang masih di tahap awal (seed hingga Series B), makin seret. Di Asia Tenggara, pendanaan tahap awal regional jatuh ke titik terendah dalam enam tahun: hanya 219 transaksi senilai US$1,1 miliar sepanjang 2025 โ sinyal bahwa investor kini mengutamakan efisiensi modal ketimbang ekspansi cepat.
Joan Yao, General Partner di Kickstart Ventures, menyebut kehati-hatian ini mencerminkan "tantangan makroekonomi dan pengawasan ketat terhadap standar governance (tata kelola perusahaan)". Kalimat itu penting karena menegaskan bahwa yang berubah bukan sekadar jumlah uang yang tersedia, tapi standar yang harus dipenuhi untuk mendapatkannya.
Wakil Direktur Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Eko Listiyanto, menambahkan nuansa yang jarang dibahas: banyak startup Indonesia terlalu fokus mengejar status unicorn tanpa membangun tata kelola yang benar dari awal. Menurutnya, startup yang benar-benar menawarkan solusi atas kebutuhan nyata masyarakat tetap punya peluang menarik investor โ meski selektivitas pendanaan makin tinggi. Ini bukan "investor kabur", ini "investor naik standar".
Luka eFishery yang Belum Kering
Kalau ada satu peristiwa yang paling banyak mengubah cara investor global memandang Indonesia, itu adalah skandal eFishery. Startup budidaya ikan ini sempat dilaporkan mencatat laba US$16 juta dalam sembilan bulan pertama 2024 โ padahal belakangan terungkap perusahaan justru merugi US$35,4 juta pada periode yang sama. Lebih dari 75% angka yang dilaporkan diduga dipalsukan, lewat dua set laporan keuangan berbeda: satu untuk konsumsi internal, satu untuk dipamerkan ke investor.
Dampaknya langsung dan brutal. eFishery memangkas sekitar 98% dari 1.500 karyawannya awal 2025 โ sekitar 1.470 orang kehilangan pekerjaan dalam satu pukulan. Angka ini penting untuk konteks ketenagakerjaan: dari sekitar 1.000 pekerja startup dan teknologi Indonesia yang terkena PHK sejak awal 2025 (jauh lebih kecil dibanding 90.471 pekerja sektor serupa yang di-PHK secara global pada periode sama), porsi terbesarnya berasal dari satu skandal tunggal โ bukan pemangkasan biaya menyebar seperti yang terjadi di perusahaan teknologi raksasa global. Ini gambaran yang berbeda dari narasi "startup Indonesia kolektif gagal": yang terjadi lebih mirip satu ledakan besar yang menghancurkan kepercayaan banyak pihak sekaligus.
Kasus ini bahkan merembet lintas negara โ regulator Malaysia ikut menyelidiki dugaan manipulasi laporan keuangan terkait eFishery senilai sekitar RM200 juta. Bagi investor global yang sudah lebih berhati-hati akibat funding winter (periode ketika dana modal ventura mengetat secara luas), eFishery jadi bukti nyata bahwa proses uji tuntas (due diligence) standar pun bisa gagal mendeteksi kebohongan sistematis. Hasilnya: investor kini menuntut verifikasi lebih dalam, laporan audit independen, dan bukti nyata arus kas โ bukan cuma proyeksi di atas slide pitch deck.
Banyak Startup, Tapi Kualitasnya Dipertanyakan
Ironi terbesar ekosistem startup Indonesia ada di angka yang jarang dibahas bersamaan: Indonesia adalah rumah bagi lebih dari 3.100 startup aktif, menempatkannya di peringkat keenam dunia dari segi jumlah. Tapi dari segi kualitas ekosistem, Global Startup Ecosystem Index 2026 menempatkan Indonesia hanya di peringkat ke-45 dunia. Banyak secara kuantitas, tapi tertinggal jauh secara kedalaman โ mulai dari akses modal, jalur exit (cara investor mencairkan keuntungan, lewat IPO atau akuisisi), sampai kualitas tata kelola.
Fintech masih jadi sektor paling diminati investor (US$631 juta dari 57 transaksi pada H1 2025), healthtech dobel jadi US$108 juta, dan startup iklim/energi terbarukan mencatat 34 transaksi. Tapi pola ini justru menegaskan pergeseran: dana mengalir ke sektor dengan model bisnis yang sudah terbukti menghasilkan pendapatan riil, bukan ke janji disrupsi besar-besaran.
Alexander Rusli, yang lama berkecimpung di industri telekomunikasi dan investasi digital, menyebut Indonesia sekarang butuh "dragon" โ startup dengan fundamental keuangan sehat dan model bisnis yang diterima pasar โ bukan sekadar "unicorn" yang valuasinya tinggi karena bakar uang. "Investor masih punya uang untuk investasi, tapi sangat selektif," katanya. Pergeseran bahasa dari "unicorn" ke "dragon" ini sendiri adalah sinyal: ukuran sukses startup Indonesia sedang didefinisikan ulang, dari valuasi ke profitabilitas.
Apa Artinya Buat Kamu
Kalau kamu masih karyawan dan ingin mulai usaha
Jangan mulai dengan asumsi "nanti ada investor yang bakal nombok burn rate (kecepatan perusahaan menghabiskan modal) sampai untung". Era itu sudah selesai. Bangun model bisnis yang bisa menunjukkan unit economics (apakah satu transaksi/pelanggan sudah menghasilkan untung sebelum dikalikan skala besar) sejak hari pertama, karena sekarang investor memintanya sebelum pendanaan Series A, bukan setelahnya.
Pertimbangkan juga keputusan struktur badan hukum secara sadar, bukan ikut-ikutan tren "flip ke Singapura". Mendirikan entitas di Singapura memang memberi efisiensi pajak dan kepastian hukum, tapi juga berarti kehilangan akses ke insentif domestik seperti pendanaan Komdigi atau program inkubasi pemerintah yang mensyaratkan badan hukum Indonesia. Timbang trade-off ini berdasarkan rencana skala bisnismu, bukan sekadar ikut-ikutan.
Kalau kamu sudah punya bisnis
Prioritaskan jalan ke arus kas positif di atas pertumbuhan pengguna yang spektakuler. Investor sekarang menyaring lebih keras โ bukti laba atau setidaknya jalur realistis ke sana jauh lebih berharga daripada grafik pertumbuhan pengguna yang curam tapi bakar uang terus-menerus.
Perkuat tata kelola perusahaan sebelum diminta, bukan setelah ketahuan bermasalah. Laporan keuangan teraudit oleh pihak independen, pemisahan jelas antara laporan internal dan eksternal, serta dewan penasihat yang bukan sekadar formalitas โ semua ini sekarang jadi syarat lolos due diligence, bukan nilai tambah opsional. Pertimbangkan juga kolaborasi dengan korporasi besar domestik (corporate venture capital dari grup seperti perbankan, telekomunikasi, atau konglomerasi konsumer) yang masih menaruh modal strategis di Indonesia, serta ekspansi ke pasar ekspor sebagai bukti daya saing regional โ dua jalur yang disebut riset sebagai cara menarik minat investor yang makin disiplin.
Kalau kamu pekerja di industri digital secara umum
Pasar kerja startup mengetat, tapi tidak merata โ fintech, AI terapan, dan manufaktur digital tetap jadi sektor yang diminati investor sehingga lebih mungkin terus merekrut. Posisi generalis seperti growth hacker atau tim pertumbuhan pengguna yang dulu jadi andalan era bakar uang, kini paling rentan kena efisiensi. Sebelum menerima tawaran dari startup bervaluasi tinggi, cek dulu kesehatan keuangannya โ tanyakan soal audit, runway (berapa lama kas perusahaan bisa bertahan tanpa pendanaan baru), dan siapa auditornya. Pasca-eFishery, pertanyaan semacam ini bukan lagi berlebihan.
Yang Perlu Dipantau
Laporan bulanan DealStreetAsia SE Asia Deals Barometer โ rilis rutin setiap awal bulan, akan jadi indikator apakah tren pendanaan Indonesia membaik atau terus tertinggal sepanjang sisa 2026.
Realisasi target Komdigi Rp1 triliun โ program pendanaan startup pemerintah baru mencapai 40% (sekitar Rp400 miliar) per Oktober 2026; pantau apakah gelaran Bali Tech Week berhasil menutup selisih Rp600โ700 miliar sebelum akhir tahun.
Status hukum kasus eFishery โ proses investigasi dan kemungkinan putusan di Indonesia maupun Malaysia akan memengaruhi berapa lama "efek jera" ini membekas di benak investor global.
Laporan eConomy SEA 2026 (Google, Temasek, Bain & Company) โ biasanya rilis akhir tahun, akan mengonfirmasi apakah dominasi AI dalam pendanaan regional makin menjauhkan Indonesia atau justru membuka ceruk baru.
Kelahiran unicorn baru (jika ada) sebelum tutup tahun 2026 โ penanda simbolis apakah kekosongan 3,5 tahun ini akhirnya berakhir, atau justru menjadi rekor baru yang lebih panjang.
Penutup
Startup Indonesia tidak kalah karena pasarnya mengecil โ 280 juta penduduk masih di sana, transaksi digital masih tumbuh setiap tahun. Yang mengecil adalah kepercayaan bahwa "besar" otomatis berarti "sehat". Singapura menang bukan karena punya pasar lebih besar โ jelas tidak โ tapi karena menawarkan kepastian yang investor butuhkan ketika mereka sudah kena luka dari skandal dan pasar yang mendadak dingin. Sampai ekosistem Indonesia bisa membuktikan bahwa pertumbuhan dan tata kelola bisa berjalan bersamaan, modal akan terus mendarat di Singapura dulu โ dan baru menyeberang ke Jakarta kalau masih ada sisa.
Sumber
Katadata โ "Nasib Startup RI: Investasi Tertinggal Jauh dari Singapura, Tanpa Unicorn Baru"
Katadata โ "Pertama Kalinya Investasi Startup Indonesia Kalah dari Filipina"
Katadata โ "90 Ribu Karyawan Startup dan Perusahaan Teknologi Di-PHK Sejak Awal 2025"
Katadata โ "Investasi Startup Baru 40% dari Target 2026 Sebesar Rp1 Triliun"
Katadata โ "Fraud eFishery Dinilai Bikin Investor Takut Investasi di Startup Indonesia"
Kontan โ "Ekosistem Startup Indonesia Tertinggal, INDEF Soroti Masalah Pendanaan"
Investor.id โ "Siap-Siap Booming Start-up Jilid II: Indonesia Butuh Dragon, Bukan Unicorn"
DealStreetAsia โ Southeast Asia Startup Funding Report (Full Year 2025) & SE Asia Deals Barometer (laporan bulanan 2025โ2026)
e27 โ "SEA Startup Funding Jumps to US$7.25B, But Most Founders Are Still Waiting"
Google, Temasek, Bain & Company โ "e-Conomy SEA 2025"