Inflasi September Tembus 3,35%, Cabai Rawit Jadi Biang Kerok, dan BI-Rate Makin Terjepit
Inflasi RI naik ke 3,35% di September, didorong cabai rawit melonjak 30% dan minyak goreng. Simak kenapa ruang BI-Rate makin sempit.
Daftar isi11 bagian
Ringkasan Cepat
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi tahunan Indonesia naik ke 3,35% di September 2026, dari 3,19% di Agustus β kenaikan bulanan dari 0,21% jadi 0,30%, dan ini kenaikan dua bulan beruntun setelah sempat turun di Juli.
Cabai rawit nasional melonjak 30,3% jadi rata-rata Rp81.634/kg, sementara di sejumlah pasar besar cabai rawit merah bahkan tembus Rp100 ribuan per kilogram menjelang akhir bulan.
Minyak goreng ikut naik, tapi penyebabnya bukan cuma cuaca β ada kebijakan biodiesel B50 yang menyedot 3,5 juta ton minyak sawit mentah (CPO) dari rak dapur ke tangki kendaraan.
Yang menarik: inflasi inti (harga di luar makanan bergejolak dan energi, indikator tekanan permintaan jangka panjang) justru melambat ke 0,13% β tanda bahwa ini murni gejolak pangan musiman, bukan ekonomi yang memanas.
Dengan inflasi mepet ke batas atas target Bank Indonesia (BI) di 3,5% dan rupiah yang sudah melemah 7,74% sepanjang tahun, ruang BI untuk memangkas BI-Rate dari 5,75% makin sempit β bahkan sebagian ekonom mulai bicara soal kemungkinan kenaikan, bukan penurunan.
Angka yang Menanjak Dua Bulan Berturut-turut
Kalau kamu merasa belanja bulanan makin berat sejak pertengahan tahun, datanya mengonfirmasi perasaan itu. Ini data inflasi nasional Indonesia, bukan perbandingan dengan negara lain β dan polanya zig-zag naik sejak Mei: 3,08% di Mei, melompat ke 3,34% di Juni, turun ke 2,88% di Juli, lalu naik lagi ke 3,19% di Agustus, dan sekarang 3,35% di September.
Dua kenaikan terakhir ini yang bikin ekonom was-was, karena polanya beda dengan Juni. Lonjakan Juni waktu itu dipicu kenaikan BBM nonsubsidi dan harga emas perhiasan β faktor yang relatif temporer dan langsung mereda di Juli begitu pasokan pangan membaik. Kenaikan Agustus-September ini sumbernya lebih terus-menerus: pangan bergejolak (volatile food, kelompok harga pangan yang gampang naik-turun karena faktor cuaca dan musim) yang tak kunjung reda jelang akhir tahun, justru musim ketika permintaan pangan biasanya ikut naik karena Natal dan Tahun Baru.
Kelompok pangan bergejolak ini mencatat inflasi bulanan 1,77% di September β hampir dua kali lipat dari 0,88% di Agustus. Beras pun ikut terseret, naik 0,76% secara bulanan, lebih dari dua kali lipat kenaikan Agustus yang hanya 0,27%. Tapi bintang utamanya, sudah bisa ditebak: cabai.
Cabai yang Benar-benar Bikin Pedas
Harga cabai rawit rata-rata nasional menembus Rp81.634 per kilogram di September, melonjak 30,3% dari Rp62.631 di Agustus. Cabai merah besar juga naik 23,4% jadi Rp62.991/kg. Angka-angka ini angka rata-rata nasional yang jadi basis hitung BPS β tapi di lapangan, terutama untuk varian cabai rawit merah yang paling pedas dan paling dicari untuk sambal, harga di sejumlah pasar besar bahkan tembus Rp102.850β109.000 per kilogram pada akhir September. Jadi kalau kamu lihat angka Rp100 ribuan di berita harga pasar harian, itu bukan kontradiksi dengan angka BPS β itu harga di pasar-pasar tertentu untuk varian paling premium, sementara rata-rata nasional mencakup semua wilayah dan semua jenis cabai rawit.
Penyebabnya bukan cuma satu hal. Fenomena El Nino (pola cuaca yang bikin musim kemarau lebih panjang dan kering dari biasanya) membuat sentra-sentra cabai mengalami krisis air di tengah panas ekstrem. Tanaman cabai yang kekurangan air mengalami gagal bunga β berhenti berbunga sehingga produksi buahnya anjlok. Di beberapa daerah, petani juga melaporkan serangan hama yang memperparah gangguan panen. Musim hujan 2026/2027 yang diperkirakan datang lebih lambat dari biasanya membuat pemulihan pasokan belum terlihat dalam waktu dekat.
Bagi pelaku usaha kuliner, ini bukan sekadar statistik. Sambal adalah komponen hampir di setiap warung makan, rumah makan Padang, hingga gerai ayam geprek β dan ketika harga bahan bakunya naik 30% dalam sebulan, margin yang biasanya sudah tipis langsung tergerus.
Minyak Goreng: Soal Pangan yang Ternyata Soal Energi
Di sinilah bagian yang jarang muncul di headline. Minyak goreng juga ikut naik di September β minyak goreng curah naik tipis ke Rp20.500/kg β tapi kenaikan harga minyak goreng sepanjang tahun ini punya akar yang tidak banyak dibahas: kebijakan biodiesel B50.
Sejak 1 Juli 2026, pemerintah mulai menerapkan program biodiesel B50 β bahan bakar solar yang dicampur 50% minyak sawit. Program ini butuh pasokan CPO (crude palm oil, minyak sawit mentah sebelum diolah jadi minyak goreng) dalam jumlah sangat besar, diperkirakan menyedot sekitar 3,5 juta ton CPO yang sebelumnya bisa dialokasikan untuk kebutuhan pangan, kini beralih ke tangki bahan bakar kendaraan. Ditambah lagi, eskalasi konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran dan Amerika Serikat sejak awal tahun membuat harga minyak dunia naik, dan itu justru mendorong CPO makin dilirik sebagai bahan bakar nabati alternatif β harganya di pasar global naik dari sekitar US$1.165 ke US$1.440 per ton pada April, dengan proyeksi terus naik ke US$1.783 per ton pada Juni.
Jadi ketika kamu membayar lebih mahal untuk minyak goreng, sebagian dari kenaikan itu sebenarnya adalah persaingan antara dapur rumah tanggamu dan tangki bahan bakar kendaraan untuk memperebutkan komoditas yang sama. Pemerintah sudah menaikkan HET (harga eceran tertinggi, batas atas harga jual yang ditetapkan pemerintah) MinyaKita dari Rp15.700 per liter beberapa bulan sebelumnya, dan tren ini belum menunjukkan tanda akan berbalik arah dalam waktu dekat.
Kenapa Inflasi Inti Malah Melambat
Ini bagian yang kelihatan kontradiktif kalau tidak dijelaskan sekaligus: di tengah lonjakan harga pangan, inflasi inti (komponen harga yang relatif stabil dan mencerminkan tekanan permintaan jangka panjang di ekonomi, di luar makanan bergejolak dan harga yang diatur pemerintah seperti BBM dan listrik) justru melambat ke 0,13% secara bulanan di September, dari 0,21% di Agustus.
Ini bukan berarti data pangan dan data inti saling membantah β keduanya memang bisa bergerak berlawanan arah karena mengukur hal berbeda. Perlambatan inflasi inti terutama didorong oleh turunnya harga emas perhiasan sekitar 2,2% dan penguatan rupiah sekitar 0,54% selama bulan September β meski perlu dicatat, penguatan ini hanya terjadi dalam rentang bulan itu saja. Secara akumulasi sepanjang tahun, rupiah tetap melemah 7,74% dibanding awal 2026. Jadi gambarannya: tekanan harga September 2026 ini sangat spesifik soal pangan β cabai dan minyak goreng β bukan tanda ekonomi yang memanas secara menyeluruh atau konsumsi yang meledak.
BI-Rate Terjepit di Antara Rupiah dan Inflasi
Sekarang bagian yang paling relevan buat kantongmu dalam beberapa bulan ke depan: apa yang akan dilakukan Bank Indonesia?
BI menaikkan BI-Rate secara bertahap dari 4,75% sejak September 2025 hingga mencapai 5,75% pada 18 Juni 2026, dan sejak itu menahannya β termasuk pada Rapat Dewan Gubernur 22β23 September lalu, tepat sebelum data inflasi September ini keluar. Artinya, BI sebenarnya sudah lebih dulu "mengetatkan" kebijakan jauh sebelum inflasi pangan ini memuncak, bukan baru akan mulai.
Target inflasi BI untuk 2026 adalah 2,5% plus-minus 1%, alias rentang 1,5%β3,5%. Angka 3,35% di September ini secara teknis masih di dalam rentang itu β tapi hanya berjarak 0,15 poin persentase dari batas atas. Itu ruang yang sangat tipis, apalagi tren tiga bulan terakhir menunjukkan arah naik, bukan turun.
Masalahnya jadi lebih rumit karena rupiah bersamaan tertekan. BI mencatat rupiah melemah 7,74% secara year-to-date sepanjang 2026, dipicu tiga sumber tekanan: ekspektasi pengetatan kebijakan moneter Amerika Serikat, lonjakan harga minyak dunia akibat konflik Timur Tengah, serta kebutuhan valuta asing dan arus keluar dana investor asing dari pasar modal domestik. Rupiah yang lemah membuat harga barang impor β termasuk bahan baku industri dan sebagian komponen pangan β makin mahal, yang pada gilirannya bisa menambah tekanan inflasi lebih jauh.
Posisi BI jadi serba sulit: menurunkan BI-Rate bisa membantu dunia usaha dengan kredit lebih murah, tapi berisiko makin melemahkan rupiah dan mendorong inflasi lebih tinggi. Menahan di 5,75% menjaga stabilitas rupiah, tapi berarti biaya pinjaman tetap mahal untuk dunia usaha yang sedang menghadapi tekanan biaya bahan baku. Sejumlah ekonom bahkan mulai mewacanakan kemungkinan BI menaikkan suku bunga lagi sebelum akhir tahun jika tekanan eksternal terus berlanjut β skenario yang beberapa bulan lalu nyaris tidak dibicarakan.
Siapa yang Paling Kena Getahnya
Di balik angka-angka makro ini ada cerita ketenagakerjaan yang lebih mengkhawatirkan. Hingga September 2026, jumlah pekerja yang terkena PHK sudah mendekati 40 ribu orang β dan ini di tengah tren pasca-pandemi di mana rata-rata PHK tahunan sudah naik ke lebih dari 50 ribu pekerja per tahun, lebih dari dua kali lipat rata-rata sebelum pandemi yang sekitar 20 ribu pekerja per tahun.
Dampaknya terasa di kelas menengah: populasi kelas menengah Indonesia (penduduk dengan pengeluaran Rp2 jutaβRp9,9 juta per bulan) menyusut dari 57,33 juta orang pada 2019 menjadi sekitar 46,7 juta orang saat ini β turun lebih dari 10 juta orang, atau sekitar 18,5%. Komposisi pekerja pun bergeser: 56% tenaga kerja sekarang berstatus informal, hanya 44% yang formal β artinya makin banyak orang bekerja tanpa jaring pengaman gaji tetap, pesangon, atau jaminan sosial yang layak.
Kombinasi ini pahit: harga pangan naik, tapi daya beli dari sisi pendapatan justru melemah karena lapangan kerja berkualitas makin langka. Buat kelompok menengah-bawah yang mayoritas pengeluarannya habis untuk kebutuhan pokok, inflasi pangan 1,77% dalam sebulan bukan angka abstrak β itu uang belanja harian yang harus ditarik dari pos lain.
Apa Artinya Buat Kamu
Kalau Kamu Masih Karyawan dan Ingin Mulai Usaha
Godaan buka usaha kuliner β warung sambal, katering, atau gerai gorengan β selalu besar karena modalnya relatif terjangkau. Tapi momen ini perlu kehati-hatian ekstra karena dua bahan baku paling umum, cabai dan minyak goreng, sedang dalam fase volatil yang kemungkinan belum reda sampai musim hujan benar-benar stabil. Kalau kamu tetap mau masuk, bangun dulu rencana pasokan yang tidak bergantung pada satu pemasok atau satu daerah penghasil cabai β pertimbangkan cabai kering atau bubuk cabai sebagai cadangan saat harga segar meroket, dan hitung harga jual dengan buffer margin minimal 15-20% dari proyeksi normal, bukan dari harga saat ini yang sedang murah. Jangan buru-buru menetapkan harga menu yang kaku untuk kontrak jangka panjang (misalnya katering acara bulan depan) tanpa klausul penyesuaian harga bahan baku.
Kalau Kamu Sudah Punya Bisnis
Kalau usahamu sudah berjalan dan bergantung pada cabai atau minyak goreng β rumah makan, katering, gerai gorengan, UMKM makanan olahan β ini saatnya aktif, bukan menunggu. Negosiasikan ulang kontrak dengan pemasok untuk periode lebih pendek supaya kamu tidak terkunci di harga puncak, dan jajaki sumber cabai dari lebih dari satu sentra produksi untuk mengurangi risiko gagal panen lokal. Untuk minyak goreng, pertimbangkan pembelian lebih awal dalam volume yang masih masuk akal secara cash flow, mengingat tren B50 kemungkinan terus menekan pasokan CPO ke pasar pangan. Soal harga jual, lebih baik transparan ke pelanggan β misalnya catatan kecil "harga menyesuaikan harga cabai" β daripada diam-diam mengecilkan porsi, karena yang terakhir biasanya lebih cepat merusak kepercayaan pelanggan jangka panjang.
Kalau Kamu Pekerja atau Pencari Kerja
Dengan PHK yang mendekati 40 ribu orang hingga September dan kelas menengah yang terus menyusut, prioritaskan dana darurat ketimbang gaya hidup, terutama kalau kamu bekerja di sektor yang sedang mengalami pelambatan atau efisiensi. Belanja kebutuhan pokok di musim seperti ini akan lebih hemat kalau kamu memanfaatkan program operasi pasar atau pasar murah yang biasanya digelar pemerintah daerah saat harga pangan tertentu melonjak tajam β cek informasi dari dinas perdagangan atau Badan Pangan Nasional (Bapanas) di kotamu. Kalau kamu berencana resign untuk usaha sendiri, pertimbangkan timing-nya: masuk ke bisnis makanan tepat saat bahan baku utama sedang mahal-mahalnya bukan keputusan yang salah, tapi butuh modal cadangan yang lebih besar dari biasanya.
Yang Perlu Dipantau
Rilis inflasi Oktober 2026 β biasanya diumumkan BPS awal November; perhatikan apakah cabai mulai mereda seiring potensi awal musim hujan, atau justru minyak goreng yang mengambil alih sebagai pendorong utama.
Rapat Dewan Gubernur BI berikutnya, sekitar minggu ketiga Oktober 2026 β ini penentu apakah BI tetap menahan di 5,75%, atau mulai memberi sinyal arah berbeda.
Pergerakan rupiah terhadap dolar AS β jika terus melemah dari level sekitar Rp17.500-an, tekanan impor pangan dan BBM nonsubsidi bisa makin terasa di harga eceran.
Realisasi kuota dan implementasi B50 β kebijakan ini masih baru berjalan sejak Juli 2026, dan arah alokasi CPO ke sektor energi vs pangan akan langsung memengaruhi harga minyak goreng beberapa bulan ke depan.
Data ketenagakerjaan (Sakernas) dan angka PHK bulanan β jadi indikator apakah tekanan terhadap kelas menengah ini mereda atau justru memburuk jelang akhir tahun.
Penutup
Inflasi 3,35% itu sendiri bukan angka yang menakutkan β masih di dalam target BI, dan inflasi inti yang melambat menunjukkan ekonomi tidak sedang memanas secara luas. Yang lebih layak kamu waspadai adalah kombinasinya: harga pangan yang naik justru ketika daya beli dari sisi pendapatan sedang melemah akibat PHK dan menyusutnya kelas menengah, dan ruang kebijakan BI untuk membantu lewat suku bunga lebih rendah justru makin sempit karena rupiah tertekan. Kalau kamu menunggu sinyal bahwa semuanya akan segera membaik, sinyal itu belum ada β yang ada justru alasan untuk mulai menyesuaikan anggaran dan strategi usahamu sekarang, sebelum angka-angka ini berubah jadi kejutan di akhir tahun.
Sumber
Warta Finansial β "BPS Umumkan Inflasi September 2026, Cabai Naik 30% Jadi Biang Kerok"
Finansial Insight β "BPS Umumkan Inflasi September 2026 Hari Ini, Cabai Rawit Naik 30%"
Investor Daily β "Inflasi September Diprediksi Merangkak Naik ke 3,35%"
CNBC Indonesia β "Siap-Siap! Besok Ada Pengumuman Penting, Bisa Jadi Bukan Kabar Baik"
Bisnis Indonesia β "Breaking: Bank Indonesia Tahan BI Rate 5,75% di Era Suku Bunga Tinggi"
Investor Daily β "BI Beberkan Biang Kerok Pelemahan Rupiah Hingga Rp17.900"
detikFinance β "BI Sebut Rupiah Melemah 7,74% Sepanjang 2026"
Antara News β "Ekonom: Pasokan dan Distribusi Pangan Kunci Kendalikan Inflasi" (INDEF, Celios)
Suara.com β "Harga Pangan 29 September: Cabai Rawit Merah Tembus Rp109 Ribu"
Liputan6 β "Harga Pangan 30 September 2026: Cabai Rawit Merah Tembus Rp102.850 per Kg"
Kompas Money β "Pemerintah Putuskan Naikkan Harga MinyaKita, Ini Alasannya"
Tempo β "HET MinyaKita Naik, Kemendag: Karena Permintaan CPO Dunia Turun"
MSN/sumber ekonomi ketenagakerjaan β "Daya Beli Kelas Menengah Tergerus: Ini Pemicu Ancaman PHK 2026"
Bank Indonesia β Target Inflasi 2,5%Β±1% 2026 (bi.go.id)