Kelas Menengah Kehilangan 1,2 Juta Orang, Daya Beli Diproyeksi Makin Minus di 2026
Proyeksi indeks daya beli 2026 menunjukkan kelas menengah-bawah makin minus sementara kelas atas kian berjaya — ekonomi berbentuk K makin tajam.
Daftar isi10 bagian
Ringkasan Cepat
Lembaga riset LPEM UI memproyeksikan indeks daya beli kelas menengah-bawah bakal turun dari -0,53 (2025) menjadi -0,67 pada 2026, sementara kelas atas justru melesat dari +0,13 ke +0,56 — jarak kedua kelompok melebar dua kali lipat dalam setahun.
Mandiri Institute mencatat jumlah penduduk kelas menengah Indonesia menyusut 1,2 juta orang, dari 47,9 juta (2024) menjadi 46,7 juta (2025) — porsinya terhadap total penduduk turun dari 17,1% ke 16,6%.
Data riil kuartal I-2026 mengonfirmasi arah proyeksi ini: ekonomi kelompok atas tumbuh 8,0% dibanding periode sama tahun lalu, jauh di atas kelompok menengah (3,5%) dan bawah (3,6%).
Tabungan kelas bawah (di bawah Rp100 juta) rontok dari rata-rata Rp4,2 juta menjadi Rp1,7 juta, sementara simpanan kelas atas (di atas Rp5 miliar) melonjak mendekati Rp30 miliar — dan sebagian celah itu ditambal dengan utang pinjol dan paylater yang tembus Rp156 triliun per Februari 2026.
Penyebab utamanya bukan cuma inflasi, tapi kualitas lapangan kerja yang memburuk: hampir separuh lapangan kerja baru ada di sektor produktivitas rendah, dan porsi pekerja berpenghasilan kelas menengah anjlok dari 14,5% (2018) jadi cuma 7% (2025).
Angka yang Lebih Bicara daripada Sekadar "Daya Beli Melemah"
Kamu mungkin sudah sering dengar kalimat "daya beli masyarakat melemah". Tapi kalimat itu terlalu umum untuk menangkap apa yang sebenarnya terjadi di 2026. Yang lebih menggambarkan keadaan adalah dua angka proyeksi dari LPEM UI (Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Universitas Indonesia): indeks daya beli kelas menengah-bawah diperkirakan turun dari -0,53 di 2025 menjadi -0,67 di 2026, sedangkan indeks kelas atas naik dari +0,13 ke +0,56.
Indeks ini bukan skor mutlak, tapi ukuran deviasi dari kondisi normal — angka nol berarti daya beli sesuai kondisi historis rata-rata, angka negatif berarti di bawah normal, dan angka positif berarti sudah di atas normal. Dengan patokan itu, kelas atas di 2026 diproyeksikan berada jauh di atas kondisi normalnya, sementara kelas menengah-bawah makin jauh terperosok di bawah kondisi normal. Jarak antara keduanya, yang tahun lalu sekitar 0,66 poin, diperkirakan melebar jadi 1,23 poin tahun ini — hampir dua kali lipat.
Proyeksi ini bukan ramalan di ruang hampa. Data riil kuartal I-2026 sudah menunjukkan arah yang sama: pertumbuhan ekonomi kelompok atas mencapai 8,0% dibanding periode sama tahun lalu, sedangkan kelompok menengah hanya 3,5% dan kelompok bawah 3,6%. Pembacaan indeks per kuartal pun konsisten — kelompok bawah tercatat di -1,0 dan kelompok menengah -0,9, keduanya memburuk dari tahun sebelumnya. Ini yang oleh sejumlah ekonom disebut ekonomi berbentuk K: satu kaki naik, satu kaki turun, dari titik pangkal yang sama.
1,2 Juta Orang yang Hilang dari Kelas Menengah
Kalau indeks daya beli menjelaskan seberapa dalam tekanannya, laporan Mandiri Institute (Februari 2026) menjelaskan siapa yang kena. Jumlah penduduk kelas menengah Indonesia menyusut 1,2 juta orang hanya dalam setahun, dari 47,9 juta jiwa pada 2024 menjadi 46,7 juta jiwa pada 2025. Proporsinya terhadap total penduduk pun tergerus dari 17,1% menjadi 16,6%.
Definisi kelas menengah versi BPS mengacu standar Bank Dunia: pengeluaran antara Rp2,04 juta hingga Rp9,9 juta per kapita per bulan. Sedikit di bawahnya ada kelompok "aspiring middle class" — calon kelas menengah dengan pengeluaran Rp874.398 hingga Rp2,04 juta — dan kelompok inilah yang justru bertambah 4,5 juta orang, kini mencakup 50,4% populasi. Artinya lebih dari separuh masyarakat Indonesia berada tepat di bawah ambang kelas menengah, rentan jatuh setiap kali ada guncangan seperti kenaikan harga pangan atau kehilangan pekerjaan.
Angka ini pun ada baiknya dibaca dengan sedikit kecurigaan. Bhima Yudhistira, Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios), pernah mengingatkan bahwa metodologi pengeluaran ala BPS sudah hampir lima dekade tidak banyak berubah, padahal garis kemiskinan sejatinya cuma "batas minimum agar tidak dikategorikan miskin", bukan batas hidup layak. Dengan kata lain, sebagian orang yang secara statistik masih tercatat "kelas menengah" sebenarnya hidup pas-pasan di ambang bawah kelompok itu — sehingga penyusutan riilnya, kalau diukur dengan standar kesejahteraan yang lebih ketat, bisa jadi lebih parah dari 1,2 juta orang.
Dampaknya ke ekonomi makro pun terukur: perkiraan menyebutkan berkurangnya 1–2 juta rumah tangga kelas menengah dapat menekan pertumbuhan ekonomi nasional 0,1 hingga 0,3 poin persentase, karena konsumsi rumah tangga menyumbang lebih dari separuh pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Dari Sawah dan Gig Economy: Kenapa Upah Tak Kunjung Naik
Pertanyaan yang lebih penting dari "berapa besar penurunannya" adalah "kenapa ini terjadi". Jawabannya bukan cuma inflasi atau suku bunga tinggi — meski keduanya berkontribusi — tapi persoalan struktural yang lebih dalam di pasar kerja.
Laporan Indonesia Economic Prospects Bank Dunia edisi Juni 2026 menyebut ekonomi Indonesia memang menciptakan lapangan kerja, tapi "tidak cukup pekerjaan produktif dan bergaji tinggi yang dibutuhkan untuk mempertahankan mobilitas sosial". Hampir 50% lapangan kerja baru terserap di sektor produktivitas rendah seperti pertanian dan akomodasi, sementara tingkat underemployment — orang yang bekerja kurang dari jam yang mereka inginkan — mencapai 32,7% pada 2025. Sejak 2018, upah riil pekerja berketerampilan menengah dan tinggi bahkan turun 1-2% per tahun, meski pendidikan mereka makin baik.
Efeknya kumulatif dan mengerikan kalau dilihat dalam rentang waktu panjang: porsi pekerja yang penghasilannya masuk kategori kelas menengah anjlok dari 14,5% pada 2018 menjadi hanya sedikit di atas 7% pada 2025 — susut hampir separuh dalam tujuh tahun. Ekonom LPEM UI, Teuku Riefky, merangkumnya dengan tajam: dalam periode ketika ekonomi tumbuh 4-5% per tahun, upah riil pekerja bahkan tak sampai naik 1%. Pertumbuhan ekonomi jalan terus, tapi hasilnya tidak turun ke kantong pekerja.
Ditambah lagi, 87,7 juta orang atau 59,4% angkatan kerja Indonesia bekerja di sektor informal, dengan upah rata-rata hanya sekitar 59% dari upah minimum regional pada 2025. Sektor ini nyaris tanpa jaring pengaman — tak ada pesangon, tak ada jaminan kesehatan otomatis, tak ada kepastian pendapatan bulan depan. Angka pengangguran muda usia 18-24 tahun yang mencapai 16-17% — tertinggi di antara kelompok usia lain — melengkapi gambaran bahwa pintu masuk ke pekerjaan formal makin sempit justru untuk generasi yang seharusnya jadi mesin konsumsi masa depan.
Sementara Itu, Kelas Atas Makin Berjaya
Di sisi lain garis K, ceritanya berbanding terbalik. Simpanan kelompok atas (di atas Rp5 miliar) melonjak dari kisaran normal menjadi hampir Rp30 miliar rata-rata per rekening. Data deposito April 2026 makin menegaskan pola ini: simpanan kelompok atas (di atas Rp2 miliar) tumbuh 15,99% dibanding tahun lalu, jauh melampaui pertumbuhan simpanan kelompok menengah-atas (Rp500 juta-Rp2 miliar) yang hanya 3,04% dan kelompok menengah-bawah (Rp100 juta-Rp500 juta) di 3,15%.
Pola belanja juga berubah bentuk. Penjualan barang non-esensial — kategori yang biasanya diisi barang mewah, elektronik premium, liburan, gaya hidup — tumbuh 28,93% pada kuartal I-2026 dibanding periode sama tahun lalu. Bandingkan dengan penjualan barang esensial seperti sembako dan kebutuhan dasar yang hanya tumbuh 3,65% pada periode sama. Ini bukan berarti ekonomi Indonesia sedang sehat-sehat saja, tapi kesehatannya sangat bergantung pada segelintir orang yang belanjanya makin agresif, sementara mayoritas menahan diri atau bahkan mengetatkan ikat pinggang.
Bagi pelaku usaha, sinyal ini penting: pertumbuhan permintaan sekarang lebih banyak datang dari kategori premium ketimbang massal. Tapi bergantung sepenuhnya pada segmen atas juga berisiko — basis konsumennya jauh lebih kecil dan lebih sensitif terhadap gejolak pasar modal atau kebijakan pajak.
Ketika Tabungan Habis, Utang Jadi Jalan Keluar
Kalau kelas menengah-bawah tidak lagi punya tabungan untuk menopang konsumsi, dari mana uangnya datang? Sebagian jawabannya ada di data OJK: outstanding utang masyarakat lewat pinjaman online (pinjol) dan paylater tembus lebih dari Rp156 triliun per akhir Februari 2026. Rinciannya, saldo pinjol mencapai Rp100,69 triliun (tumbuh 25,75% dibanding tahun lalu), sementara paylater tumbuh jauh lebih agresif, 86,7% dibanding tahun lalu.
Pertumbuhan utang konsumtif yang secepat ini, ditopang gaya hidup masyarakat urban kelas menengah, justru bisa mempercepat fenomena penyusutan kelas menengah itu sendiri — rumah tangga yang menumpuk cicilan pinjol dan paylater jadi jauh lebih rentan jatuh ke kelompok bawah begitu ada guncangan sekali lagi, entah kenaikan harga pangan atau PHK. Menariknya, OJK justru menurunkan batas maksimal bunga pinjaman konsumtif tahun ini jadi 0,1% per hari — turun dari 0,2% di 2025 dan 0,3% di 2024 — sebuah pengakuan implisit bahwa kelompok berpenghasilan rendah butuh perlindungan lebih dari jerat bunga tinggi.
Meski begitu, gambarannya belum sepenuhnya suram. Ekonom INDEF, M. Rizal Taufikurahman, mencatat pertumbuhan konsumsi rumah tangga pada kuartal II-2026 masih positif di 5,06% dibanding periode sama tahun lalu — meski melambat dari 5,52% di kuartal sebelumnya — dan tetap menyumbang 2,67 poin dari total pertumbuhan ekonomi 5,29%. Konsumsi belum ambruk, tapi momentumnya melemah, dan Taufikurahman mengingatkan pemerintah untuk menjadikan penguatan daya beli kelas menengah-bawah sebagai prioritas di kuartal III dan IV 2026 — lewat pengendalian inflasi pangan, bantuan tepat sasaran, dan insentif transportasi. Ia juga mewanti-wanti: stimulus konsumsi tanpa perbaikan pendapatan hanya akan membuat rumah tangga makin menguras tabungan atau menambah utang — persis pola yang sudah terlihat di data pinjol dan paylater hari ini.
Apa Artinya Buat Kamu
Kalau kamu masih karyawan dan ingin mulai usaha
Jangan buka usaha yang mengandalkan volume tinggi dari konsumen kelas menengah-bawah kalau kamu belum punya efisiensi biaya yang ketat — margin di segmen ini makin tipis karena daya beli konsumennya sendiri sedang tertekan. Kalau modal terbatas, incar ceruk yang menjual solusi hemat biaya (repair, isi ulang, barang bekas berkualitas, makanan hemat porsi) ketimbang produk gaya hidup yang bergantung pada uang lebih. Dan sebelum resign, pastikan tabungan daruratmu sendiri aman — data menunjukkan tabungan kelas bawah-menengah justru menipis, jadi jangan ikut arus itu.
Kalau kamu sudah punya bisnis
Cek ulang segmentasi pelangganmu: kalau basis konsumenmu didominasi kelas menengah-bawah, jangan kaget kalau pertumbuhan penjualan melambat meski kamu tidak melakukan kesalahan apa pun — ini tekanan struktural, bukan cuma soal strategi pemasaran. Pertimbangkan lini produk yang lebih terjangkau atau skema cicilan yang wajar (bukan bunga tinggi) untuk menjaga volume, sambil menjajaki apakah ada ruang untuk menyasar segmen atas yang justru sedang ekspansif. Yang perlu dihindari adalah menaikkan harga secara agresif tanpa membaca sinyal ini — risikonya kehilangan pelanggan yang memang sudah menahan belanja.
Untuk masyarakat luas
Kalau kamu merasa kondisi keuangan makin sesak dibanding tahun-tahun sebelumnya, kamu tidak sendirian — datanya memang menunjukkan itu bukan cuma perasaan. Hindari menutup kebutuhan sehari-hari dengan pinjol atau paylater kecuali benar-benar darurat dan kamu yakin bisa melunasi tepat waktu; pertumbuhan utang konsumtif yang sangat cepat justru jadi tanda bahaya, bukan solusi jangka panjang. Kalau memungkinkan, ini saatnya membangun keterampilan yang membuatmu lebih kompetitif di sektor formal bergaji lebih baik, karena data menunjukkan pintu ke sana makin sempit dan kompetitif.
Yang Perlu Dipantau
Rilis pertumbuhan ekonomi kuartal III-2026 dari BPS, diperkirakan awal November 2026 — kunci untuk melihat apakah perlambatan konsumsi kuartal II berlanjut atau membaik.
Data bulanan OJK soal outstanding pinjol dan paylater — kalau pertumbuhannya terus di atas 25% per tahun, itu sinyal ketergantungan utang makin dalam.
Pengumuman upah minimum provinsi 2027, biasanya pertengahan-akhir November 2026, akan jadi penentu apakah tren stagnasi upah riil berlanjut.
Realisasi stimulus daya beli pemerintah untuk kuartal III-IV 2026 seperti yang direkomendasikan INDEF — bantuan pangan, insentif transportasi, dan penguatan UMKM.
Laporan lanjutan Mandiri Institute atau Indonesia Economic Prospects Bank Dunia edisi berikutnya, biasanya akhir tahun, untuk melihat apakah jumlah kelas menengah terus menyusut atau mulai stabil.
Penutup
Ekonomi yang tumbuh 5% di atas kertas bisa menyembunyikan cerita yang sangat berbeda tergantung siapa yang kamu tanya — dan tahun ini, jawabannya kian tajam terbelah dua. Kalau kamu berada di sisi kaki K yang menurun, ini bukan waktunya menunggu keadaan membaik dengan sendirinya; ini waktunya melindungi tabunganmu, menjauh dari jerat utang konsumtif, dan membaca ulang di mana posisimu di ekonomi yang makin tidak merata ini sebelum keadaan memutuskan untuk kamu.
Sumber
Investor Trust — "Ancaman Ekonomi 2026: Daya Beli Turun, Kelas Menengah Menyusut"
Investor Trust — "Ekonomi Indonesia Ditopang Kelas Atas, Daya Beli Menengah Bawah Kian Tertekan"
CNN Indonesia — "Kelas Menengah Menyusut, Alarm Kerawanan Sosial Kian Nyaring"
Kompas Money — "Bank Dunia Ungkap Penyebab Kelas Menengah Indonesia Terus Menyusut" (mengutip laporan Indonesia Economic Prospects, Bank Dunia, Juni 2026)
Antara News — "Ekonom: Daya Beli Kelas Menengah Bawah Kunci Ekonomi Semester II" (INDEF)
Tempo — "BPS: 9,48 Juta Penduduk Kelas Menengah Turun ke Ambang Rentan Miskin"
Laporan Mandiri Institute, Februari 2026
Laporan LPEM UI, November 2025