Lewati ke konten
blabak.

'Loneliness Economy' China Tembus Rp17.000 Triliun, dari Karaoke Sendiri hingga Teman Sewaan

Bisnis kesepian di China tembus Rp17.000 triliun, dari karaoke sendiri sampai teman sewaan sejam. Indonesia mulai punya versinya—ini peluang & jebakannya.

Yusuf FS10 menit baca

Ringkasan Cepat

  • Belanja orang-orang lajang di China menembus lebih dari 1 triliun dolar AS pada 2025 (sekitar Rp17.000 triliun dengan kurs saat ini) — naik 50% hanya dalam dua tahun dari sekitar 667 miliar dolar AS (Rp11.800 triliun) di 2023, menurut lembaga riset Discovery Reports.

  • Uang itu mengalir ke bisnis-bisnis spesifik: bilik karaoke untuk satu orang (nilai pasar sekitar Rp8,3 triliun dari 20.000 unit lebih), jasa teman hiking Rp490 ribu–Rp1,5 juta per trip, sampai "pacar sewaan" yang tarifnya bisa tembus Rp4,9 juta per jam.

  • Indonesia belum sebesar itu, tapi bibitnya sudah tumbuh: startup seperti PinjemDoi menerima 200–300 pesanan teman jalan/pacar sewaan per minggu, sementara rumah tangga beranggota satu orang di RI masih 3,64% — jauh di bawah China (sekitar 20%) apalagi Korea Selatan (36%).

  • Angka pernikahan Indonesia berada di titik terendah dalam satu dekade, dan 71% anak muda usia 16–30 tahun masih melajang pada 2025 — bibit permintaan atas produk dan layanan "untuk satu orang" ini nyata, meski bentuknya beda dari China.

  • Ekonom dan psikolog sama-sama mengingatkan: sebagian dari "pasar triliunan dolar" ini sebenarnya cuma memindahkan pekerjaan yang dulu dilakukan keluarga secara gratis ke transaksi berbayar — bukan kekayaan baru yang murni.

Satu Triliun Dolar dari Orang yang Makan Sendiri

Angkanya memang bikin berhenti sejenak: belanja orang lajang di China tembus lebih dari 1 triliun dolar AS sepanjang 2025. Ini data global/China, bukan angka gabungan Asia, dan berasal dari riset Discovery Reports yang dikutip berbagai media bisnis termasuk CNN dan South China Morning Post. Sebagai pembanding, angka ini naik 50% hanya dalam dua tahun — dari sekitar 667 miliar dolar AS di 2023. Kecepatan pertumbuhan itu yang bikin ekonom lebih heboh dibanding besaran mutlaknya.

Tapi angka "1 triliun dolar" ini sendiri licin kalau tidak dijelaskan cakupannya. Riset lain yang lebih sempit — hanya menghitung kategori inti seperti makanan porsi satu, hiburan solo, dan jasa teman berbayar — memproyeksikan pasar 2026 "hanya" 210–280 miliar dolar AS (sekitar Rp3.700–5.000 triliun). Begitu kategori pet care dan "mini-appliance" (alat rumah tangga mini untuk hidup sendiri, seperti rice cooker satu porsi atau mesin cuci mini) dimasukkan, angkanya melonjak ke sekitar 700 miliar dolar AS (Rp12.400 triliun). Jadi bukan berarti datanya salah — tapi definisi "loneliness economy" ini elastis, dan makin luas cakupannya, makin besar angkanya.

Di baliknya ada pergeseran demografi yang nyata. Hampir 20% penduduk China tinggal di rumah tangga satu orang pada 2024, dan proporsi ini diproyeksikan naik jadi lebih dari 30% — setara 150–200 juta orang — pada akhir dekade ini. Menurut analisis Asia Times, sekitar 125 juta orang China saat ini hidup sendirian, atau 1 dari 4 rumah tangga. Ini bukan fenomena unik China: Korea Selatan sudah mencatat 36% rumah tangga single, angka tertinggi di dunia, sementara Jepang ada di 38% pada 2020 dan diproyeksikan naik ke 44% pada 2050.

Dari Bilik Karaoke Sampai Sewa Pacar per Jam

Yang membuat "loneliness economy" beda dari sekadar statistik kependudukan adalah betapa spesifiknya bisnis yang lahir darinya. Bilik karaoke mini seukuran telepon umum — cukup untuk satu orang, dilengkapi AC dan headset — kini bertebaran di mal, bioskop, bahkan stasiun kereta di seluruh China. Setidaknya 20.000 unit sudah beroperasi, dengan nilai pasar tahunan sekitar 3,18 miliar yuan atau setara Rp8,3 triliun. Bilik kaca ini bukan cuma soal privasi bernyanyi — tapi juga melindungi penyanyi dari rasa malu dinilai orang lain, gangguan yang justru sering muncul di karaoke ramai-ramai.

Layanan "teman berbayar" jauh lebih beragam dari sekadar karaoke. Ada "pei pa" — teman mendaki gunung — dengan tarif 200–600 yuan (sekitar Rp490 ribu–Rp1,5 juta) per trip. Ada "pei liao", teman ngobrol lewat chat atau video call, mulai dari 60 yuan (Rp147 ribu) untuk 15 menit chat teks sampai 1.080 yuan (Rp2,65 juta) untuk lima jam video call kelas premium. Yang paling ramai dibicarakan adalah "pacar sewaan": makan malam, ngobrol, main mahjong, sampai pijat kaki, dengan tarif mulai dari simbolis 1 yuan sampai 1.999 yuan (sekitar Rp2.500–Rp4,9 juta) per jam tergantung kelas layanan. Tagar terkait tren ini sudah ditonton lebih dari 100 juta kali di media sosial China sepanjang 2024.

Ada satu koneksi yang jarang disadari orang: melonjaknya penjualan mainan koleksi seperti boneka Labubu ikut ditopang fenomena yang sama. Produsennya, Pop Mart, membukukan pendapatan 5,4 miliar dolar AS (sekitar Rp95,6 triliun) dengan pertumbuhan 185% — sebagian besar didorong konsumen lajang yang mengaku membeli boneka koleksi sebagai "teman" di meja kerja atau rak kamar. Aplikasi cek keselamatan harian seperti "Are You Dead?" (Sileme) juga sempat jadi aplikasi berbayar terlaris di China, sebelum ditarik dari App Store — bukti bahwa hidup sendiri di China juga memunculkan kecemasan yang sangat konkret: siapa yang tahu kalau kamu sakit atau celaka sendirian di apartemen?

Kenapa Ini Terjadi, dan Kenapa Ekonom Skeptis

Tiga pendorong utama sering disebut analis: tekanan ekonomi yang bikin orang menunda pernikahan dan punya anak, melemahnya ikatan sosial tradisional di kota-kota besar, dan meningkatnya kekhawatiran soal keamanan serta kesehatan mental saat hidup sendirian. China juga menghadapi populasi menua dengan cepat — ekonomi lansia (silver economy) diproyeksikan tembus 4 triliun dolar AS pada 2035, jauh lebih besar dari loneliness economy hari ini, tapi berasal dari akar masalah yang sama: makin banyak orang menua tanpa anak atau pasangan di sekitar mereka.

Tapi ada suara kritis yang penting didengar, bukan cuma dirayakan sebagai peluang bisnis. Y. Tony Yang, akademisi yang dikutip Asia Times, membagi "ekonomi soliter" ini jadi tiga lapis: pasar riil dari belanja diskresioner orang lajang, artefak statistik (aktivitas yang dulu dilakukan gratis dalam keluarga — masak, menemani, merawat — kini jadi transaksi berbayar dan tercatat sebagai "pertumbuhan ekonomi"), dan kehilangan efisiensi karena jejak karbon per kapita rumah tangga satu orang lebih tinggi dari rumah tangga keluarga. Yang menulis: pasar itu jago "melepas ikatan" makan, hiburan, dan teman berbayar — tapi payah dalam melepas dua hal yang dulu dikerjakan keluarga dengan baik, yaitu perlindungan saat krisis dan perawatan di titik akhir hidup seseorang. China sendiri sudah menerapkan aturan ketat untuk layanan AI "antropomorfik" (yang meniru sifat manusia, termasuk pacar virtual AI) sejak Juli 2025 — sinyal bahwa pemerintah pun mulai waspada pada sisi gelap komersialisasi kesepian ini.

Jakarta, Bandung, dan Bibit Loneliness Economy ala Indonesia

Sekarang pertanyaan yang lebih relevan buat kamu: apakah ini juga terjadi di Indonesia? Jawabannya campuran ya dan belum. Data BPS 2025 menunjukkan rumah tangga beranggotakan satu orang di Indonesia hanya 3,64% — kelompok minoritas terkecil dari seluruh struktur rumah tangga, jauh di bawah China maupun Korea Selatan. Budaya tinggal bersama orang tua sampai menikah masih sangat kuat di sini, jadi "hidup sendiri secara fisik" belum jadi norma seperti di China.

Tapi jangan buru-buru simpulkan pasarnya tidak ada. Angka pernikahan Indonesia berada di titik terendah dalam satu dekade — dari 2,11 juta pernikahan pada 2014 turun jadi 1,48 juta pada 2024, dengan penurunan 6,3% hanya dalam setahun terakhir (2023 ke 2024) sebelum sedikit naik lagi di 2025. Dan pada 2025, 71% anak muda usia 16–30 tahun di Indonesia berstatus belum menikah menurut BPS. Artinya: banyak orang Indonesia melajang secara status, meski secara fisik masih serumah dengan keluarga — bentuk kesendirian yang lebih psikologis dan sosial ketimbang literal tinggal sendirian, tapi kebutuhannya tetap nyata: butuh teman ngobrol, teman jalan, ruang privat untuk diri sendiri.

Dan bisnisnya sudah ada, meski masih kecil dan senyap. PinjemDoi, didirikan Florence Ghea Priscilla, menerima 200–300 pesanan per minggu dari pelanggan di seluruh Indonesia yang menyewa salah satu dari 30 mitra layanannya — mulai dari chat, video call, sleep call, sampai ditemani nonton, ke kafe, bahkan diajak ke acara formal seperti wisuda dan pernikahan sebagai "pacar pinjaman". Platform sejenis seperti JasaTeman.com dan Ruang Berdua menawarkan layanan curhat dan teman ngobrol berbayar dengan model serupa. Solo dining pun mulai bergeser — meski makan sendiri di restoran masih sering dicibir di media sosial Indonesia, sejumlah restoran di Jakarta mulai mendesain meja bar chef atau sudut individual untuk tamu yang datang sendirian, mengikuti tren yang lebih dulu diterima di Jepang (23% penduduknya nyaman makan sendiri di depan umum) dan Jerman (kenaikan 18% solo dining).

Konteks tempat kerja juga menarik: survei yang dikutip Kompas awal 2026 menemukan Gen Z jadi generasi paling kesepian di kantor — 56% berharap perusahaan menyediakan kesempatan bersosialisasi, dan 85% yang punya teman kerja mengaku merasa lebih terlibat. Ini menjelaskan kenapa tempat seperti M Bloc Space, Pos Bloc, dan Conclave di Jakarta laris sebagai hybrid coworking-komunitas — orang datang bukan cuma untuk kerja, tapi untuk merasa "ditemani" tanpa harus berkomitmen sosial penuh.

Apa Artinya Buat Kamu

Kalau kamu masih karyawan dan ingin mulai usaha

Jangan langsung meniru mentah-mentah model China yang paling viral (sewa pacar), karena di Indonesia risiko reputasi dan hukumnya lebih besar — batas antara "teman sewaan" dan jasa yang dianggap tidak pantas secara sosial sangat tipis, dan bisa cepat viral secara negatif. Lebih aman mulai dari kebutuhan yang jelas dan tidak ambigu: jasa "teman ke acara" untuk wisuda, medical check-up, atau ke rumah sakit (banyak orang butuh pendamping tapi keluarganya jauh atau sibuk), teman jalan untuk lansia yang tinggal sendiri, atau layanan pendamping belanja/urus dokumen untuk perantau baru di kota besar.

Kalau tertarik ke sisi digital, jasa teman ngobrol berbayar seperti model PinjemDoi butuh sistem verifikasi mitra dan aturan main yang jelas sejak awal — bukan cuma soal keamanan pengguna, tapi juga supaya bisnismu tidak otomatis dicap sebagai "kedok prostitusi terselubung" seperti yang kadang dituduhkan ke jasa serupa. Mulai dari komunitas kecil (grup kampus, RT/RW, komunitas hobi) jauh lebih realistis ketimbang langsung menyasar skala nasional.

Kalau kamu sudah punya bisnis

Kalau kamu punya kafe atau resto, coba audit menu dan layout tempat dudukmu: apakah ada opsi solo dining yang nyaman — meja bar chef, kursi menghadap jendela, porsi single yang tidak terasa "sisa" harga borongan? Ini investasi kecil dengan potensi menjangkau segmen yang selama ini merasa tidak diakomodasi.

Kalau kamu di bisnis coworking atau ruang usaha bersama, pertimbangkan menambah "quiet pod" atau membership harian untuk satu orang yang tidak mengharuskan komitmen bulanan — target pekerja lepas dan karyawan yang butuh ruang fokus tanpa keramaian kantor. Kalau kamu di properti (kos, apartemen studio), jangan cuma jual unit — tawarkan juga elemen komunitas ringan seperti event bulanan penghuni, supaya penyewamu yang tinggal sendirian tidak makin terisolasi, sekaligus jadi nilai jual yang membedakan propertimu dari kompetitor.

Kalau kamu peduli dampak sosialnya

Ini bukan cuma soal peluang bisnis. Prevalensi kesepian pada lansia Indonesia sudah tercatat 10,3% pada 2022 menurut policy brief Kemendukbangga/BKKBN dan UNFPA, dan sekitar 7,1% lansia RI tinggal sendirian berdasarkan Susenas BPS 2023. Psikolog Agustina Twinky Indrawati mengingatkan, jasa teman sewaan berisiko memicu ketergantungan emosional dan menggeser makna hubungan sosial jadi transaksional — solusi jangka panjang tetap membangun relasi otentik dan, kalau sudah mengganggu keseharian, mencari bantuan profesional seperti psikolog klinis, bukan berlangganan jasa teman ngobrol.

Yang Perlu Dipantau

  • Rilis data Susenas BPS berikutnya soal struktur rumah tangga dan kondisi lansia, biasanya dipublikasikan awal tahun berjalan — akan menunjukkan apakah tren rumah tangga kecil di Indonesia makin cepat.

  • Data pernikahan BPS/Kemenag untuk tahun 2026, untuk melihat apakah kenaikan tipis 2025 berlanjut atau kembali menurun.

  • Perkembangan regulasi AI companion/chatbot emosional di Indonesia — China sudah mengetatkan aturan sejak Juli 2025, dan tekanan serupa mulai muncul di sejumlah negara bagian AS.

  • Apakah startup rent-a-friend lokal seperti PinjemDoi berhasil mendapat pendanaan atau tetap jadi bisnis niche kecil — indikator apakah pasar ini benar-benar bisa diskalakan di Indonesia.

  • Survei kesepian Gen Z dan lansia berikutnya dari lembaga riset lokal, untuk melihat apakah tren "kesepian di tempat kerja" makin melebar ke generasi lain.

Penutup

Loneliness economy bukan cerita tentang kesepian yang akhirnya selesai — ini cerita tentang kesepian yang akhirnya punya price tag. Buat pelaku usaha di Indonesia, sinyal dari China ini bukan ajakan untuk buru-buru menjual jalan pintas mengisi kekosongan orang lain, tapi undangan untuk mengisi celah nyata yang selama ini dianggap tabu untuk dibicarakan, apalagi dijual secara terbuka. Yang membedakan bisnis yang bertahan dari yang sekadar numpang tren adalah satu hal sederhana: apakah dia membantu orang terhubung lagi ke dunia, atau cuma membuat kesendirian mereka makin nyaman untuk terus dipertahankan.

Sumber

  • CNN Business — "Karaoke for one: China's $1 trillion 'loneliness economy' gives a glimpse of the world's future"

  • South China Morning Post — "'Loneliness economy': how China is adapting to a rapid rise in solo living"

  • Asia Times — "Asia's lonely economy of one"

  • Sixth Tone — "The Bearable Loneliness of China's Solo Karaoke Booths"

  • South China Morning Post — "China's newest trend: mini karaoke booths at shopping malls"

  • CNA Indonesia — "Bisnis 'teman bayaran' berkembang pesat di China, obat kesepian bagi anak-anak muda?"

  • ABC News Indonesia — "'Your dream partner': Inside the booming industry of rental girlfriends and boyfriends"

  • Badan Pusat Statistik (BPS) — Statistik Struktur Rumah Tangga Indonesia 2025 dan data Persentase Pemuda Menurut Status Perkawinan

  • CNN Indonesia — "Angka Pernikahan di Indonesia Turun"

  • Kompas.com — "Survei Ungkap, Gen Z Jadi Generasi Paling Kesepian di Kantor"

  • Kompas Megapolitan — "Jasa Teman Curhat, Psikolog Ingatkan Risiko Self Diagnosis dan Ketergantungan Emosional"

  • CNN Indonesia — "Kesepian dan Depresi Lansia, Tantangan RI saat Populasi Kian Menua"

  • Detik Food — "Ini Sebabnya Makan Sendirian di Restoran Kini Jadi Tren"

  • VOA Indonesia — "Teman Virtual, Peluang Bisnis Layani Kesepian"