Lewati ke konten
blabak.

Pasar Kini Taruh Peluang 70-78% The Fed Justru Naikkan Bunga di Desember, Bukan Pangkas

CPI AS 3,7% dan data kerja Oktober yang meledak membalik ekspektasi pasar: dari Fed pangkas jadi Fed naikkan bunga 9 Desember. Rupiah dan BI-Rate kena imbas.

Yusuf FS10 menit baca

Ringkasan Cepat

  • Pasar membalik total arah taruhannya. Beberapa minggu lalu konsensus masih yakin The Fed (bank sentral AS) akan memangkas bunga menjelang akhir tahun. Sekarang, lewat indikator pasar seperti CME FedWatch dan platform prediksi Kalshi serta Polymarket, peluang The Fed justru menaikkan bunga 25 basis poin (0,25 persentase poin) pada pertemuan 9 Desember 2026 melonjak ke kisaran 70-78%.

  • Dua data AS jadi pemicu: inflasi (CPI) September tercatat 3,7% dibanding setahun sebelumnya โ€” di atas perkiraan ekonom 3,6% โ€” dan laporan tenaga kerja Oktober yang baru rilis Jumat (6/11) menunjukkan penambahan 165.000 lapangan kerja, lebih dari dua kali perkiraan 65.000, dengan pengangguran tetap rendah di 4,1%.

  • Ironisnya, sinyal hawkish (condong ke arah menaikkan bunga demi menekan inflasi) ini datang dari Ketua The Fed yang baru, Kevin Warsh โ€” orang yang dipilih Presiden Trump dengan ekspektasi justru akan memangkas bunga.

  • Rupiah sudah jadi mata uang paling lemah di Asia sepanjang 2026, melemah sekitar 8% sejak awal tahun, dan Bank Indonesia sudah mengeluarkan Rp135 triliun untuk membeli Surat Berharga Negara (SBN, obligasi pemerintah) di pasar sekunder sampai Oktober demi menahan laju pelemahannya.

  • Ruang gerak BI-Rate (suku bunga acuan Bank Indonesia, kini 5,75%) makin sempit, dan keputusan Rapat Dewan Gubernur BI pada 17-18 November akan diambil lebih dulu โ€” sebelum The Fed sendiri mengumumkan sikapnya.

Tiga Minggu yang Membalik Arah

Coba tarik garis waktunya. Pada September, seluruh 12 anggota voting FOMC (Komite Pasar Terbuka Federal, yang menentukan suku bunga AS) sepakat bulat menaikkan bunga 25 basis poin ke level 3,75-4,00%. Itu keputusan yang biasa-biasa saja โ€” sampai rapat berikutnya datang.

Di rapat 28 Oktober, The Fed menahan bunga di level yang sama. Tapi ada yang berubah: keputusan itu diambil dengan suara 10-2, bukan bulat lagi. Dua anggota, Gubernur Lisa Cook dan Presiden Fed Cleveland Beth Hammack, justru ingin menaikkan bunga lagi saat itu juga. Ini tanda pertama bahwa kubu hawkish (condong ke pengetatan) di dalam Fed sedang menguat, bukan melemah seperti yang diharapkan pasar.

Lalu data CPI September โ€” yang baru dirilis pertengahan Oktober akibat jadwal yang mundur โ€” menunjukkan inflasi 3,7% dibanding tahun sebelumnya, ditarik naik oleh harga bensin yang melonjak 9,1% dan sektor energi naik 5,2%. Dalam satu hari perdagangan setelah rilis itu, ekspektasi pasar untuk kenaikan bunga melompat dari sekitar belasan persen ke 43%.

Pukulan ketiga baru datang kemarin. Data tenaga kerja Oktober yang molor rilisnya akibat gangguan pengumpulan data saat shutdown pemerintah AS, begitu keluar, isinya mengejutkan: 165.000 lapangan kerja baru, jauh di atas rata-rata 12 bulan terakhir yang hanya 48.000 per bulan. Dengan kata lain, angka Oktober itu lebih dari tiga kali lipat tren normal setahun terakhir โ€” pasar tenaga kerja AS ternyata jauh lebih kuat dari yang dikira, dan itu memberi The Fed alasan tambahan untuk tidak terburu-buru melonggarkan kebijakan.

Ketua yang Dipilih untuk Melunak, Tapi Bicara Keras

Bagian paling ganjil dari cerita ini ada di kursi Ketua The Fed. Kevin Warsh resmi dilantik pada 22 Mei 2026 menggantikan Jerome Powell, setelah Presiden Trump berbulan-bulan menekan Powell agar memangkas bunga dan akhirnya memilih penggantinya sendiri. Logikanya sederhana: Trump ingin ketua yang lebih mudah diajak memangkas bunga.

Realitasnya terbalik. Dalam konferensi pers setelah rapat 28-29 Oktober, Warsh justru menegaskan sikap keras: masyarakat Amerika "masih berhadapan dengan inflasi yang berjalan di atas target Komite selama hampir enam tahun." Ia berjanji The Fed akan "mengantarkan stabilitas harga" โ€” kalimat standar seorang hawk, bukan dove.

Ini bukan berarti Warsh membelot dari siapa yang menominasikannya. Tapi ini pengingat penting: ketua The Fed cuma satu suara dalam 12 suara FOMC, dan data ekonomi yang keras kepala punya kuasa lebih besar daripada preferensi politik siapa pun yang duduk di kursi itu โ€” termasuk preferensi presiden yang menominasikannya.

Rupiah Sudah Keok Duluan

Di sinilah bagian yang sering terlewat dari narasi "Fed akan naikkan bunga, makanya rupiah melemah." Faktanya, rupiah sudah jadi mata uang paling lemah di seluruh Asia sepanjang 2026 โ€” bahkan sebelum ada kejelasan soal arah Desember. Depresiasinya sejak awal tahun sampai akhir Oktober tercatat sekitar 8%, mengalahkan baht Thailand yang melemah 6,72%, sementara ringgit Malaysia dan yuan China justru jadi mata uang terkuat di kawasan.

Rupiah pernah menembus level psikologis Rp18.000 per dolar untuk pertama kali dalam sejarah pada awal Juni 2026, bahkan sempat menyentuh Rp18.040. Memasuki November, rupiah bergerak di kisaran Rp17.900-an โ€” sedikit lebih kuat dari rekor terlemahnya, tapi jauh di atas kisaran normalnya di 2024-2025 yang berada di Rp15.800-16.200. Lembaga riset INDEF memproyeksikan rupiah akan bertahan di rentang Rp18.000-18.100 sepanjang kuartal IV 2026 โ€” artinya, kembali mendekati rekor terlemah bukan skenario ekstrem lagi, tapi sudah jadi perkiraan dasar.

Untuk menahan laju itu, Bank Indonesia sudah turun tangan besar-besaran: membeli SBN senilai Rp135 triliun di pasar sekunder sampai Oktober, plus kombinasi intervensi di pasar spot, forward luar negeri (NDF), dan forward domestik (DNDF). Cadangan devisa (simpanan dolar milik negara) per September tercatat US$146,3 miliar โ€” masih di atas ambang aman menurut standar umum, tapi terus tergerus oleh biaya menahan rupiah.

Ada satu angka yang terlihat kontradiktif kalau dibaca sepintas: selisih imbal hasil (yield) SBN tenor 10 tahun dengan US Treasury justru melebar, dari 1,81 poin persentase pada akhir September menjadi 2,81 poin persentase pada 2 November โ€” yield SBN 10 tahun tembus 7,707%, tertinggi sepanjang 2026. Biasanya, selisih yang lebih lebar menarik investor asing karena imbal hasil lebih menggiurkan. Tapi dalam kasus ini sebaliknya: pelebaran itu terjadi karena investor asing justru melepas SBN, mendorong harganya turun dan yield-nya naik โ€” bukan karena permintaan beli yang masuk. Ini diperparah ancaman reklasifikasi status pasar modal Indonesia oleh MSCI ke kategori "standalone", yang ikut memicu arus keluar dari SBN (-Rp7,44 triliun per 29 Oktober) dan saham (-Rp13,07 triliun per 30 Oktober).

Ruang BI yang Makin Sempit

Bank Indonesia sejatinya sudah agresif merespons sepanjang 2026: menaikkan BI-Rate 50 basis poin ke 5,25% pada Mei, lalu 25 basis poin lagi ke 5,75% pada Juni โ€” keduanya diambil sebagai langkah pre-emptive (mengambil langkah lebih dulu sebelum tekanan makin parah) di tengah gejolak geopolitik Timur Tengah yang mendongkrak harga energi dan dolar. Sejak itu, BI-Rate ditahan di 5,75%, termasuk pada rapat Oktober, sambil BI justru mulai menurunkan secara bertahap Giro Wajib Minimum (GWM, porsi dana bank yang wajib disimpan di BI) mulai 1 November โ€” cara BI melonggarkan likuiditas perbankan tanpa harus menyentuh suku bunga acuan yang dijaga tetap tinggi untuk alasan stabilitas kurs.

Masalahnya, trik itu punya batas. Ekonom BCA dan Bank Permata memperkirakan BI kemungkinan harus menaikkan lagi BI-Rate 25 basis poin ke 6,00% pada November โ€” bukan karena inflasi domestik yang mengkhawatirkan (inflasi umum Oktober justru turun jadi 3,23% dibanding setahun sebelumnya), tapi semata untuk menjaga selisih suku bunga dengan AS agar rupiah tidak makin dijauhi investor. Beberapa analis bahkan memproyeksikan BI-Rate bisa menyentuh 6,25% di 2027 kalau The Fed benar menaikkan bunga Desember dan mempertahankannya "lebih tinggi lebih lama" (higher for longer) tahun depan.

Ini dilema klasik bank sentral negara berkembang: menaikkan bunga demi rupiah berarti menahan pertumbuhan kredit dan ekonomi domestik yang sudah melambat; membiarkan rupiah terus melemah berarti mengimpor inflasi lewat barang dan bahan baku yang makin mahal. RDG BI pada 17-18 November โ€” sebelum keputusan The Fed sendiri pada 9 Desember โ€” akan jadi penentu arah BI merespons situasi ini lebih dulu, berdasarkan data yang ada saat itu, tanpa menunggu kepastian dari Washington.

Siapa Kena Getahnya

Dampaknya tidak merata. Eksportir yang pendapatannya dalam dolar โ€” batu bara, kelapa sawit (CPO), nikel โ€” relatif diuntungkan saat menukar dolar ke rupiah, meski harga komoditas global yang melemah akibat perlambatan ekonomi dunia bisa menggerus keuntungan itu dari sisi lain. Sebaliknya, importir bahan baku dan barang modal langsung kena pukulan ganda: rupiah lemah membuat harga dolar yang mereka bayar makin mahal, sementara margin usaha tertekan karena mereka sulit menaikkan harga jual secepat kenaikan biaya.

Sektor yang paling rentan justru UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah). Rasio kredit bermasalah (NPL) di segmen UMKM sudah 4,53% per Agustus 2026 โ€” lebih dari dua kali lipat NPL perbankan secara keseluruhan yang hanya 2,17%. Pertumbuhan kredit UMKM pun jauh tertinggal, hanya 2,68% dibanding setahun sebelumnya per September, sementara kredit perbankan secara total tumbuh dua digit. Artinya, saat suku bunga tinggi bertahan lebih lama, bank makin selektif, dan yang paling dulu dipersulit aksesnya ke kredit baru adalah usaha kecil โ€” bukan korporasi besar.

Bagi karyawan dengan KPR atau kredit kendaraan bunga mengambang (floating rate), dampaknya tidak instan. Peneliti CORE, Yusuf Rendy Manilet, mengingatkan transmisi dari kenaikan BI-Rate ke bunga kredit biasanya baru terasa dalam tiga sampai enam bulan โ€” jadi kalau BI benar menaikkan bunga November ini, cicilan baru mulai naik sekitar awal 2027.

Suara yang Bilang Ini Keliru

Tidak semua pihak setuju bahwa menaikkan bunga Desember adalah langkah yang tepat โ€” ini sumber kritis yang layak didengar sebelum ikut percaya konsensus pasar. Sejumlah analis memperingatkan bahwa menaikkan bunga Desember berisiko jadi kesalahan kebijakan (policy mistake), justru karena diambil saat pertumbuhan ekonomi riil AS mulai kehilangan tenaga dan ada tanda-tanda retakan di sektor kredit terkait investasi besar-besaran pada AI. Mengetatkan likuiditas di saat ekonomi sedang melambat, menurut argumen ini, adalah resep klasik memperparah pelemahan โ€” bukan menyembuhkan inflasi.

Ada juga keraguan soal kualitas data itu sendiri. Shutdown pemerintah AS yang berkepanjangan tahun ini mengganggu jadwal dan proses pengumpulan data oleh Biro Statistik Tenaga Kerja (BLS), termasuk laporan Oktober yang baru rilis belakangan dan menunjukkan lonjakan tajam dibanding tren bulanan setahun terakhir. Lonjakan sebesar itu, setelah periode gangguan pengumpulan data, bisa jadi sebagian mencerminkan efek "kejar ketinggalan" sementara, bukan sepenuhnya gambaran pasar kerja yang membaik secara struktural. Kalau benar demikian, keputusan Fed berisiko didasarkan pada satu titik data yang distorsinya belum selesai diukur.

Apa Artinya Buat Kamu

Kalau kamu masih karyawan dan ingin mulai usaha

Ini bukan waktu ideal untuk mengandalkan utang berbunga tinggi sebagai modal awal, terutama kalau rencana bisnismu bergantung pada bahan baku impor. Kalkulasi margin yang kamu buat bulan lalu kemungkinan sudah tidak relevan kalau rupiah terus di kisaran Rp17.900-18.100 โ€” hitung ulang dengan asumsi kurs yang lebih lemah, bukan kurs saat ini. Kalau model bisnismu justru berbasis ekspor atau menghasilkan devisa, momentum ini relatif lebih ramah โ€” tapi tetap siapkan rencana kalau harga komoditas global ikut melemah bersamaan.

Kalau kamu sudah punya bisnis

Periksa dua hal segera: eksposur utang dalam dolar (kalau ada pinjaman atau pembiayaan dalam dolar yang belum di-hedging โ€” dikunci nilainya di awal supaya tidak rugi kalau rupiah makin melemah โ€” ini saatnya mempertimbangkannya) dan ketergantungan pada bahan baku impor. Kalau kamu di segmen UMKM dan punya rencana pengajuan kredit baru, ajukan lebih cepat daripada menunggu โ€” bank cenderung makin selektif, bukan makin longgar, dalam beberapa bulan ke depan. Importir sebaiknya mulai front-loading pembelian โ€” beli stok lebih banyak sekarang karena khawatir harga dan kurs makin mahal nanti โ€” untuk kebutuhan yang memang pasti terpakai, bukan spekulasi.

Kalau kamu punya cicilan atau simpanan dalam rupiah

Kalau KPR atau kredit kendaraanmu berbunga mengambang, siapkan ruang di cashflow bulanan untuk kemungkinan kenaikan cicilan sekitar awal 2027 โ€” bukan panik sekarang, tapi juga bukan mengabaikannya. Bagi yang punya simpanan dalam SBN ritel atau reksadana pendapatan tetap, kenaikan yield yang sedang terjadi memang pahit untuk harga di pasar sekunder, tapi justru membuat instrumen yang baru diterbitkan jadi lebih menarik imbal hasilnya โ€” pertimbangkan kapan kamu masuk, bukan hanya apakah masuk.

Yang Perlu Dipantau

  • 17-18 November 2026 โ€” Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia, keputusan soal BI-Rate yang diambil lebih dulu dari The Fed.

  • 9 Desember 2026 โ€” Keputusan FOMC The Fed, penentu apakah bunga AS naik ke 4,00-4,25% atau tetap di 3,75-4,00%.

  • 10 Desember 2026 โ€” Rilis data CPI AS untuk November, angka terakhir yang akan dilihat The Fed sebelum keputusan Desember (perhatikan juga kemungkinan jadwal mundur lagi).

  • Hasil lelang SBN berikutnya dan pergerakan spread yield 10 tahun โ€” jika spread terus melebar karena harga SBN terus turun (bukan karena permintaan naik), itu sinyal arus keluar belum berhenti.

  • Keputusan reklasifikasi status pasar Indonesia oleh MSCI โ€” faktor terpisah dari The Fed yang ikut menentukan arus modal asing ke SBN dan bursa saham dalam beberapa bulan ke depan.

Penutup

Yang berubah dalam tiga minggu terakhir bukan cuma angka probabilitas di papan pasar โ€” tapi pengingat bahwa ekspektasi "The Fed pasti akan melonggarkan" selalu rentan dibalik oleh dua rilis data yang keras kepala. Buat Indonesia, pelajarannya lebih tajam lagi: rupiah sudah paling lemah di Asia dan BI sudah menghabiskan ratusan triliun rupiah untuk menahannya, jauh sebelum The Fed benar-benar mengetuk palu Desember nanti. Yang bisa kamu kendalikan bukan arah kebijakan Washington, tapi seberapa siap posisi keuanganmu โ€” pribadi maupun usaha โ€” menghadapi skenario bunga tinggi yang bertahan lebih lama dari yang semua orang kira.

Sumber

  • CME Group FedWatch โ€” proyeksi probabilitas kenaikan suku bunga Desember 2026

  • Kalshi & Polymarket โ€” data pasar prediksi soal keputusan FOMC Desember

  • Bloombit โ€” "Fed December Rate-Hike Odds Fall to 67% After U.S. Midterms"

  • Kitco News โ€” "Fed will hike once more in December before slowing growth and falling energy ease inflation"

  • CNBC โ€” "Fed interest rate decision October 2026: Fed holds rates steady"

  • Berbagai media (Tochieye, Verified Investing, Global Trading Outlook) โ€” rincian hasil voting FOMC Oktober 2026 (10-2, dua dissen)

  • Benzinga, BLS Employment Situation Summary, mlq.ai โ€” data nonfarm payrolls Oktober 2026

  • Bursa & riset pasar (Belajargold, Rikopedia Research, Pintu News) โ€” data CPI AS September-Oktober 2026

  • NPR, CNN, Al Jazeera โ€” pelantikan Kevin Warsh sebagai Ketua The Fed dan sikap kebijakannya

  • CNBC Indonesia โ€” "Bunga Obligasi AS Tertinggi 23 Tahun, Spread SBN RI Justru Makin Tipis" dan "Ringgit Jadi Raja, Pimpin Asia Tendang Dolar: Rupiah-Won Paling Merana"

  • Investing.com Indonesia โ€” data spread yield SBN-Treasury 10 tahun November 2026

  • Investor Daily (investor.id) โ€” "Capital Outflow Berlanjut, BI Siagakan Intervensi Berlapis" dan proyeksi BI-Rate ke 6%

  • Kontan โ€” proyeksi BI-Rate ke 6,25% di 2027 dan data arus keluar SBN/saham terkait MSCI

  • CNBC Indonesia โ€” proyeksi ekonom soal tekanan inflasi dan BI-Rate November 2026

  • Bank Indonesia (bi.go.id) โ€” siaran pers kenaikan BI-Rate Mei-Juni 2026 dan jadwal RDG 2026

  • Kontan & Infobanknews โ€” data NPL UMKM dan pertumbuhan kredit UMKM 2026

  • CORE Indonesia (Yusuf Rendy Manilet) โ€” estimasi lag transmisi BI-Rate ke bunga kredit

  • Celios (Bhima Yudhistira) dan INDEF (Tauhid Ahmad) โ€” proyeksi dan dampak pelemahan rupiah kuartal IV 2026