Separuh Subsidi Gas Melon Ternyata Salah Sasaran, Pemerintah Siap Pangkas di 2027
BAKN DPR temukan separuh subsidi LPG 3 kg dinikmati kelompok mampu. Pemerintah siap pangkas subsidi 2027, ganti ke kompor listrik dan CNG.
Daftar isi10 bagian
Ringkasan Cepat
Badan Akuntabilitas Keuangan Negara (BAKN) DPR β badan di DPR yang mengaudit temuan BPK dan kinerja anggaran β menemukan sekitar 50% subsidi LPG 3 kg dinikmati rumah tangga desil 6β10, alias kelompok yang secara ekonomi sudah mampu. Sisanya, hanya 50% yang benar-benar jatuh ke desil 1β5 (kelompok miskin dan rentan yang jadi target subsidi), dengan 5% data konsumen belum terklasifikasi sama sekali.
Ini bukan temuan baru yang muncul tiba-tiba β DPR sudah mewanti-wanti soal gas melon salah sasaran sejak 2021, dan BPK bahkan menemukan 46,9 juta tabung senilai Rp1,359 triliun disalurkan ke NIK (nomor identitas kependudukan) yang tidak valid sepanjang 2025.
Untuk 2026, kuota subsidi LPG 3 kg nasional dipatok 8,31 juta ton dengan harga tetap Rp19.000 per tabung di pangkalan resmi sampai akhir tahun β tapi pemerintah dan DPR sudah menyepakati pemangkasan untuk RAPBN 2027: dari usulan awal 8,945 juta ton jadi hanya 8 juta ton, dengan anggaran subsidi BBM dan LPG turun Rp11,44 triliun jadi Rp131,39 triliun.
Pemerintah menyiapkan kompor listrik dan CNG (gas alam yang dikompresi, beda infrastruktur dari LPG) sebagai pengganti sebagian subsidi β tapi ekonom INDEF dan Celios menilai keduanya belum siap, terutama untuk rumah tangga miskin berdaya listrik kecil.
Angka di balik angka: kenaikan harga Bright Gas (LPG nonsubsidi) sekitar 18β19% awal 2026 justru mendorong lebih banyak rumah tangga menengah dan UMKM kuliner "turun kelas" memburu tabung melon subsidi β memperparah persis masalah yang ingin dibenahi pemerintah.
Separuh Subsidi Nyasar ke Kelompok yang Sebenarnya Mampu Beli Sendiri
Dalam kunjungan kerja ke PT Pertamina Patra Niaga akhir Oktoberβawal November 2026, BAKN DPR membedah data konsumen LPG 3 kg berdasarkan klasifikasi desil β pembagian rumah tangga ke dalam 10 kelompok berdasarkan tingkat pengeluaran, dari desil 1 (termiskin) sampai desil 10 (termampu). Hasilnya mengejutkan sekaligus tidak mengejutkan: separuh dari total subsidi yang digelontorkan negara justru dinikmati desil 6β10, kelompok yang menurut definisi pemerintah sendiri sudah tidak berhak menerima bantuan.
Wakil Ketua BAKN DPR Herman Khaeron menyebut akar masalahnya ada di cara subsidi ini disalurkan: harga Rp19.000 melekat pada barangnya β tabung gas 3 kg itu sendiri β bukan pada orangnya. Siapa pun yang datang ke pangkalan atau warung bisa membeli, tanpa verifikasi apakah dia memang masuk kategori miskin, petani, nelayan, atau pelaku usaha mikro. Herman mendorong agar penyaluran ke depan hanya merujuk pada satu basis data: DTSEN (Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional), data terpadu yang dipakai pemerintah untuk menentukan siapa berhak atas bantuan sosial dan subsidi.
Untuk ukuran skala masalahnya: total LPG yang disalurkan Pertamina Patra Niaga mencapai sekitar 8,1 juta ton, dan 96% dari itu adalah LPG subsidi 3 kg β hanya 4% yang komersial. Dengan proporsi subsidi yang sebesar itu, kebocoran 50 persen bukan angka recehan. Ini uang negara dalam skala triliunan rupiah yang, secara sederhana, dipakai menyubsidi orang yang tidak membutuhkannya.
Kenapa Tabung Melon Selalu Kehabisan: Subsidi Nempel di Barang, Bukan di Orang
Masalah ini punya sejarah panjang. DPR sudah membeberkan data serupa pada 2021 dan 2022, dan setiap tahun solusinya selalu sama: perketat data, integrasikan sistem, batasi pembelian. Tapi praktiknya, LPG 3 kg tetap jadi barang yang paling mudah dibeli siapa saja β dari rumah tangga miskin, pedagang kaki lima, sampai restoran besar dan rumah tangga mampu yang sekadar malas repot isi ulang Bright Gas.
BPK bahkan menemukan masalah yang lebih teknis: sepanjang 2025, sekitar 46,9 juta tabung senilai Rp1,359 triliun disalurkan ke konsumen dengan NIK yang terbukti tidak valid atau anomali β 2.351.420 NIK bermasalah ditemukan dalam audit. Akar persoalannya bukan cuma soal siapa yang "layak" secara ekonomi, tapi juga soal data kependudukan yang tidak sinkron antara Pertamina Patra Niaga, Kementerian ESDM, dan Dukcapil.
Di sinilah ada hal yang jarang disorot headline: kenaikan harga LPG nonsubsidi sebenarnya memperparah masalah salah sasaran, bukan membantu menguranginya. Awal 2026, Pertamina Patra Niaga menaikkan harga Bright Gas β LPG nonsubsidi untuk kelas menengah β sekitar 18β19%. Bright Gas 12 kg naik dari sekitar Rp192.000 jadi sekitar Rp228.000, dan Bright Gas 5,5 kg naik dari sekitar Rp90.000 jadi sekitar Rp107.000β111.000, tergantung wilayah. Begitu harga nonsubsidi melonjak, logika rasional rumah tangga menengah dan pelaku UMKM kuliner adalah: kenapa bayar mahal kalau tabung melon Rp19.000 masih bisa dibeli tanpa ditanya-tanya? Kenaikan harga di sisi nonsubsidi, secara tidak langsung, justru mendorong lebih banyak orang "turun kelas" memburu subsidi yang sebetulnya bukan haknya.
Dari Usulan Naik Jadi Dipangkas: Isi Rencana RAPBN 2027
Untuk tahun anggaran 2026 yang sedang berjalan, kuota subsidi LPG 3 kg nasional β ini data untuk seluruh Indonesia, bukan wilayah tertentu β ditetapkan 8,31 juta ton, dan Kementerian ESDM memastikan harga Rp19.000 per tabung di pangkalan resmi bertahan sampai akhir tahun lewat alokasi APBN. Tapi di balik kepastian harga itu, tren konsumsi tetap jadi lampu kuning: sepanjang tahun ini sempat ada proyeksi konsumsi riil bisa tembus hingga 8,67 juta ton β jauh di atas pagu awal 8 juta ton yang disepakati setahun sebelumnya, dan berpotensi jebol sekitar 677 ribu ton atau 8,46%. Dua angka ini β kuota 8,31 juta ton yang "aman" versus proyeksi konsumsi 8,67 juta ton yang mengkhawatirkan β menggambarkan hal yang sama dari dua sisi waktu: pemerintah sudah menaikkan kuota dari tahun sebelumnya, tapi laju konsumsi riil tetap mengancam melampauinya.
Untuk 2027, arahnya justru berbalik. Usulan awal RAPBN 2027 sempat mematok kuota LPG 3 kg naik lagi jadi 8,945 juta ton. Tapi dalam pembahasan dengan Badan Anggaran DPR, pemerintah dan DPR akhirnya menyepakati pemangkasan ke 8 juta ton β lebih rendah dari kuota 2026. Total alokasi subsidi BBM dan LPG untuk 2027 dipatok Rp131,39 triliun, turun Rp11,44 triliun dari usulan awal Rp142,84 triliun. Rinciannya: Rp28,34 triliun untuk BBM tertentu (Pertalite dan Solar bersubsidi), dan Rp103,05 triliun untuk LPG 3 kg.
Sekretaris Jenderal Kementerian ESDM Ahmad Erani Yustika menjelaskan tiga alasan di balik pengurangan ini: mengurangi ketergantungan terhadap impor LPG, mempertimbangkan kapasitas pasokan dalam negeri, dan menjaga stabilitas harga ke depan. Alasan ini tidak lepas dari kondisi pasar gas dunia yang sedang tidak murah β harga kontrak propana dan butana dari Saudi Aramco (dua komponen utama LPG) naik empat bulan berturut-turut sampai awal November 2026, masing-masing ke US$720 dan US$780 per metrik ton, sementara harga acuan gas Asia (JKM) bertahan di rekor 12 bulan US$32,93 per MMBtu karena Eropa dan Asia berebut kargo LNG menjelang musim dingin. Selama Indonesia masih mengimpor sebagian besar bahan baku LPG-nya, tiap kenaikan harga dunia itu langsung menekan anggaran subsidi negara.
Ekonom CORE Indonesia, Mohammad Faisal, memperingatkan bahwa pemangkasan ini punya konsekuensi yang sulit dihindari: "pada suatu titik di 2027 akan ada kenaikan harga, baik Pertalite, Solar, maupun LPG 3 kg." Sementara ekonom Syafrudin Karimi menekankan pentingnya memisahkan dua isu yang sering dicampur jadi satu: membenahi kebocoran subsidi itu urusan tata kelola data, tapi melindungi kelompok rentan dari dampak pemangkasan itu urusan lain yang butuh transisi bertahap dengan linimasa yang jelas β bukan dipangkas sekaligus lalu diserahkan ke pasar.
Kompor Listrik dan CNG: Jalan Keluar atau Jebakan Energi Baru?
Sebagai pengganti sebagian subsidi LPG, Kementerian ESDM mendorong migrasi ke kompor listrik dan CNG. Di atas kertas, logikanya masuk akal: kompor listrik memanfaatkan surplus kapasitas listrik PLN terutama di Jawa, dan CNG memanfaatkan gas domestik yang tidak perlu diimpor.
Tapi dua lembaga riset independen punya catatan tajam. Ekonom INDEF, Abra Talattov, menilai pemerintah terbalik urutan kerjanya: "tiba-tiba ada pembagian kompor gratis tapi gak ada korelasinya dengan pengurangan subsidi LPG" β regulasi dan mekanisme semestinya matang dulu sebelum uji coba digelar di lapangan. INDEF juga menilai CNG, jaringan gas kota (jargas), dan kompor listrik belum punya kapasitas substitusi yang cukup untuk benar-benar menggantikan LPG secara nasional pada 2027 β paling realistis diterapkan selektif dan bertahap di wilayah tertentu, bukan serentak.
Direktur Celios, Bhima Yudhistira, menyoroti sisi yang lebih mendasar: program konversi kompor listrik tidak cocok diterapkan pada kelompok masyarakat miskin yang rata-rata hanya berdaya listrik 450β900 volt ampere (VA), karena kompor induksi butuh daya listrik yang jauh lebih besar untuk bisa menyala stabil. Artinya, justru kelompok yang paling bergantung pada tabung melon-lah yang instalasi listriknya paling tidak siap menampung penggantinya. Ada juga catatan fiskal yang sering terlewat: migrasi ke kompor listrik memang bisa menghemat devisa dari impor LPG, tapi tidak otomatis menghemat APBN β karena beban subsidi hanya berpindah dari pos subsidi elpiji ke pos subsidi listrik, bukan hilang.
CNG punya masalahnya sendiri. Metana, komponen utama CNG, adalah gas rumah kaca yang menjebak panas sekitar 36 kali lebih kuat dibanding karbon dioksida dalam jangka pendek β bertentangan dengan komitmen Indonesia di Global Methane Pledge untuk menurunkan emisi metana 30%. Cadangan gas bumi domestik juga terus menurun dan infrastrukturnya belum terintegrasi antarwilayah, sehingga konversi ini berisiko hanya memindahkan ketergantungan impor dari satu komoditas fosil ke komoditas fosil lain β mengulang pola yang sama seperti program konversi minyak tanah ke LPG di era 2000-an, yang juga butuh bertahun-tahun dan triliunan rupiah sebelum benar-benar tuntas.
Siapa yang Paling Rentan Kena Getahnya
Kalau semua benang ini ditarik jadi satu, yang paling rentan adalah justru kelompok yang seharusnya paling dilindungi: rumah tangga desil 1β5 yang betul-betul bergantung pada tabung melon untuk masak sehari-hari, dan pelaku usaha mikro kuliner β warung nasi, gorengan, angkringan β yang margin usahanya tipis dan sangat sensitif terhadap biaya bahan bakar.
Risikonya datang dari dua arah sekaligus. Pertama, kalau pembenahan data dan pembatasan pembelian dikejar cepat untuk menutup kebocoran 50% itu, ada kemungkinan rumah tangga miskin yang datanya belum masuk DTSEN (ingat, 5% data konsumen masih belum terklasifikasi) justru tersingkir dari sistem, bukan kelompok mampu yang jadi target sebenarnya. Kedua, kalau pemangkasan kuota 2027 berjalan sebelum alternatif energi benar-benar siap dan terjangkau, kelompok inilah yang paling dulu merasakan kelangkaan atau kenaikan harga β karena mereka tidak punya opsi "naik kelas" ke Bright Gas atau kompor listrik seperti rumah tangga menengah.
Apa Artinya Buat Kamu
Kalau kamu masih karyawan dan ingin mulai usaha
Kalau rencana usahamu adalah kuliner skala kecil β warung, gerobak, katering rumahan β jangan lagi menghitung biaya operasional dengan asumsi LPG 3 kg akan selalu ada dan selalu Rp19.000. Harga itu dijamin cuma sampai akhir 2026. Sebelum mulai, hitung dua skenario biaya bahan bakar: skenario normal (pakai subsidi, kalau kamu memang berhak dan datanya sudah masuk DTSEN) dan skenario harga nonsubsidi penuh. Kalau selisihnya membuat margin usahamu negatif, itu tanda rencana bisnismu perlu direvisi dari awal, bukan nanti setelah modal sudah keluar.
Kalau kamu sudah punya bisnis
Kalau dapurmu saat ini jalan dengan LPG 3 kg subsidi, lakukan dua hal sekarang, bukan menjelang 2027. Pertama, pastikan NIK dan data usahamu sudah terdaftar benar di DTSEN β ini bukan cuma soal kepatuhan, tapi soal keberlangsungan akses subsidi itu sendiri, mengingat arah kebijakannya jelas menuju verifikasi yang lebih ketat. Kedua, mulai simulasikan biaya kalau harus pindah ke Bright Gas atau alternatif lain, dan sisihkan sedikit demi sedikit untuk buffer kenaikan biaya energi β jangan tunggu sampai 2027 datang dan kamu kaget dengan selisih harga yang tiba-tiba harus ditanggung sendiri.
Kalau kamu rumah tangga biasa yang mengandalkan tabung melon
Cek status DTSEN keluargamu sekarang, bukan nanti β ini bisa dilakukan lewat kantor desa/kelurahan atau aplikasi pemerintah terkait data kesejahteraan sosial. Kalau kamu memang masuk desil 1β5 tapi belum terdata dengan benar, urus sekarang selagi masih ada waktu sebelum aturan diperketat. Jangan panik borong tabung kalau mendengar wacana pembatasan β justru fokuskan energi untuk memastikan datamu akurat, karena di situlah pintu masuk sebenarnya ke subsidi yang tepat sasaran.
Yang Perlu Dipantau
Aturan turunan pembatasan pembelian LPG 3 kg berbasis DTSEN β kapan resmi diberlakukan dan seberapa ketat verifikasinya di lapangan.
Realisasi konsumsi LPG 3 kg sampai akhir 2026 β apakah tetap di bawah 8,31 juta ton atau justru jebol seperti proyeksi pertengahan tahun.
Progres uji coba kompor listrik dan CNG β lokasi pilot project, jumlah rumah tangga yang disasar, dan apakah daya listrik mereka benar-benar disesuaikan sebelum konversi.
Pembahasan teknis RAPBN 2027 di Komisi VII dan Banggar DPR β apakah angka 8 juta ton dan Rp103,05 triliun untuk LPG tetap final atau masih bisa direvisi menjelang pengesahan.
Skema pengganti berbasis NIK/transfer tunai yang sempat diwacanakan sebagai alternatif subsidi barang β ini akan menentukan apakah rumah tangga miskin tetap dapat bantuan dalam bentuk lain kalau subsidi tabung benar-benar dikurangi.
Penutup
Masalah subsidi LPG 3 kg tidak pernah soal kurangnya anggaran β anggarannya triliunan rupiah dan terus mengalir setiap tahun. Masalahnya adalah subsidi itu menempel pada tabung, bukan pada orang yang membutuhkannya, sehingga siapa pun bisa ikut menikmati separuhnya tanpa pernah ditanya apakah dia berhak. Pemangkasan kuota di 2027 dan migrasi ke kompor listrik atau CNG tidak akan menyelesaikan apa-apa kalau urutannya terbalik β kalau subsidi dikurangi duluan sementara data penerima dan infrastruktur penggantinya belum siap, yang kena getah justru rumah tangga yang paling bergantung pada tabung melon, bukan kelompok mampu yang selama ini diam-diam menikmati separuh subsidinya. Yang perlu kamu pantau bukan cuma harga tabungnya, tapi apakah pemerintah membenahi datanya dulu sebelum memangkas anggarannya.
Sumber
Listrik Indonesia β "Subsidi LPG 3 Kg Tahun 2026 Ditetapkan 8,31 Juta Ton"
Listrik Indonesia β "Subsidi LPG 3 Kg Masih Tidak Tepat Sasaran, Apa yang Perlu Dibenahi"
Industry.co.id β "Harga LPG dan Gas Alam Dunia 3 November 2026"
IDX Channel β "Pemerintah Pangkas Subsidi LPG 3 Kg di 2027, Bakal Diganti Kompor Listrik dan CNG"
CNN Indonesia β "Kuota BBM-LPG 3 Kg Dipangkas 2027, Beban Energi Pindah ke Rakyat?"
Monitor Indonesia β "Rp1,35 T Subsidi LPG 3 Kg Tak Tepat Sasaran? BPK Soroti Data Konsumen"
Transisi Energi Berkeadilan β "Jebakan di Balik Rencana Menteri Bahlil Mengganti LPG dengan CNG"
Koran Jakarta β "50% Subsidi LPG 3 Kg Salah Sasaran, BAKN DPR Desak Integrasi DTSEN"
Katadata β "Pemerintah Prediksi Kuota Subsidi LPG 3 Kg Jebol 8% Tahun Ini"
Tirto β "Harga LPG Non-Subsidi Naik, UMKM & Resto Putar Otak Atur Siasat"