Lewati ke konten
blabak.

Tembaga Dunia Pecah Rekor $14.617/Ton, tapi Setoran Freeport ke Negara Malah Anjlok — Ini Sebabnya

Harga tembaga dunia tembus rekor $14.617/ton dipicu ancaman tarif Trump dan longsor Grasberg — tapi setoran Freeport ke negara justru diproyeksi turun 39%.

Yusuf FS10 menit baca

Ringkasan Cepat

  • Harga tembaga di London Metal Exchange (LME, bursa logam acuan dunia) tembus rekor sepanjang sejarah $14.617 per ton awal September 2026, naik beruntun beberapa hari terakhir — dipicu aksi borong pembeli AS yang takut kena tarif baru, bukan oleh kepastian kebijakan.

  • Pasokan dunia seret dari dua arah berbeda: Chile mencatat produksi tembaga kuartal II 2026 terlemah dalam 19 tahun, sementara Freeport-McMoRan global anjlok akibat longsor di tambang bawah tanah Grasberg, Papua, yang genap setahun pada 8 September 2025.

  • Ironisnya, justru di tengah harga rekor, proyeksi setoran Freeport Indonesia ke kas negara turun 39,5% menjadi US$2,6 miliar pada 2026 — karena volume produksi ambruk 68% dari target awal, jauh lebih besar dari kenaikan harga yang bisa menutupnya.

  • Smelter kedua Freeport di Manyar, Gresik, baru kembali beroperasi September ini setelah lumpuh sembilan bulan — persis berbarengan dengan momentum harga tertinggi dalam sejarah, plus smelter tembaga baru Amman Mineral di Sumbawa yang juga baru rampung Juli lalu.

  • Industri hilir seperti kabel dan elektronik nasional menanggung getahnya: biaya bahan baku naik hingga 45% dalam hitungan bulan, diperparah rupiah yang melemah jauh dari kisaran yang diproyeksikan Bank Indonesia sendiri.

Rekor yang Ditopang Ketakutan, Bukan Kepastian

Awal September 2026, harga tembaga di LME menembus $14.617 per ton — rekor tertinggi sepanjang sejarah kontrak ini diperdagangkan. Ini angka global, patokan yang dipakai trader dan smelter di seluruh dunia, termasuk yang menentukan harga jual konsentrat Freeport dari Papua. Yang bikin rekor ini ganjil adalah pemicunya: bukan lonjakan permintaan riil yang tiba-tiba, melainkan pembeli-pembeli di Amerika Serikat yang buru-buru menimbun tembaga sekarang — istilah pasarnya front-loading, alias beli lebih banyak hari ini karena takut harganya makin mahal atau malah kena tarif besok.

Ketakutan itu bukan tanpa alasan. Trump sudah mengenakan tarif 50% untuk produk tembaga setengah jadi — kabel berinsulasi, pipa, sambungan pipa — sejak Agustus 2025. Tapi saat itu ia sengaja mengecualikan tembaga mentah dan tembaga olahan murni (refined copper, katoda tembaga hasil pemurnian) supaya industri manufaktur AS tidak makin terbebani. Sekarang pasar was-was pengecualian itu bakal dicabut. Laporan investigasi keamanan nasional (dikenal sebagai Section 232) yang seharusnya terbit 30 Juni sudah molor lebih dari dua bulan tanpa kejelasan — dan ketidakpastian itu sendiri, bukan kebijakan yang sudah pasti, yang justru menggerakkan harga naik. Gedung Putih bahkan sempat memberi sinyal tarif tembaga olahan bisa dimulai dari 15% pada 2027 dan naik ke 30% pada 2028.

Di atas drama tarif ini, ada fondasi yang lebih struktural: tembaga sudah naik 17% sepanjang 2026, didorong permintaan jangka panjang dari pusat data kecerdasan buatan (AI), jaringan listrik, dan kendaraan listrik yang semuanya rakus tembaga. Satu pabrik AI berkapasitas 1 gigawatt saja butuh sekitar 50.000 ton tembaga — dan dunia sedang membangun sekitar 15 gigawatt kapasitas semacam itu per tahun.

Dunia Kehabisan Tembaga dari Dua Front Berbeda

Kalau permintaan naik, biasanya pasokan bisa menyesuaikan — masalahnya sekarang pasokan justru seret dari dua penghasil terbesar dunia, dengan sebab yang sama sekali berbeda.

Di Chile, negara yang memasok hampir seperempat kebutuhan tembaga dunia, Codelco (perusahaan tambang milik negara Chile) mencatat produksi nasional kuartal II 2026 hanya 1,27 juta ton — turun 7,7% dibanding periode sama tahun lalu, dan merupakan produksi April–Juni terlemah dalam data yang tercatat sejak 2007, alias 19 tahun terakhir. Penyebabnya struktural: kadar bijih (ore grade, kandungan logam per ton batuan yang ditambang) di tambang-tambang tua kian menipis, ditambah cuaca ekstrem dan perawatan rutin yang menahan produksi.

Di Indonesia, ceritanya bencana, bukan penuaan tambang. Setahun lalu, tepatnya malam 8 September 2025, terjadi longsor berupa aliran lumpur di tambang bawah tanah Grasberg Block Cave, Papua Tengah — menjebak tujuh pekerja. Pencarian 27 hari berujung duka: seluruh korban ditemukan meninggal dunia. Infrastruktur yang rusak akibat longsor itu melumpuhkan akses ke blok-blok tambang lain, dan dampaknya masih terasa setahun kemudian. Produksi tembaga global Freeport-McMoRan (induk usaha Freeport Indonesia) anjlok 22,3% dan emasnya merosot 66,2% pada kuartal I 2026 — mayoritas karena Grasberg belum pulih.

Ironi di Balik Rekor: Kenapa Kas Negara Justru Lebih Tipis

Di sinilah bagian yang paling penting buat dipahami, dan paling gampang salah dibaca sebagai kabar baik otomatis. PT Freeport Indonesia (PTFI) istimewa karena 51,2% sahamnya dimiliki negara lewat MIND ID sejak 2018 — dulu dibeli seharga US$3,85 miliar. Artinya, sebagian besar untung dan rugi Freeport, secara langsung, adalah untung-rugi negara.

Akibat longsor, PTFI merevisi rencana kerja tahunannya (RKAB) untuk 2026: target produksi tembaga dipangkas dari 700.000 ton menjadi hanya 478.000 ton — turun 32% — dan emas dari 45 ton menjadi 26 ton. Data kuartal I 2026 menunjukkan betapa dalamnya luka itu: produksi tembaga cuma 95 juta pon, anjlok 67,9% dari 296 juta pon di periode yang sama tahun lalu. Volume yang terjual pun ikut ambruk dari 290 juta pon menjadi 82 juta pon.

Memang harga jual rata-rata ikut terangkat, ke $5,89 per pon (setara sekitar $12.984 per ton) pada kuartal I 2026 — sudah lebih tinggi dari asumsi harga yang dipakai Freeport sendiri dalam RKAB revisi, yaitu $4,75 per pon (sekitar $10.472 per ton), naik dari asumsi awal $3,75 per pon. Tapi bandingkan dengan rekor spot sekarang, $14.617 per ton atau setara $6,63 per pon — bahkan asumsi revisi Freeport pun sudah ketinggalan 26% dari harga pasar riil hari ini. Masalahnya, harga setinggi apa pun tidak berguna kalau barangnya tidak ada yang dijual. Penurunan volume produksi jauh lebih besar dari kenaikan harga yang bisa menebusnya.

Hasilnya, proyeksi setoran Freeport ke negara — gabungan pajak, dividen, dan penerimaan negara bukan pajak (PNBP) dari royalti — diperkirakan turun 39,5% menjadi US$2,6 miliar pada 2026, dari realisasi US$4,3 miliar di 2025. Rinciannya: pajak sekitar US$1 miliar, dividen US$1,1 miliar, dan PNBP US$500 juta. (PTFI dalam materi korporatnya sendiri menyebut kontribusi total — termasuk komponen lain — bisa mencapai Rp47 triliun; angka ini tidak sepenuhnya apple-to-apple dengan proyeksi setoran negara di atas, tapi keduanya sama-sama menunjukkan tren melemah dibanding rekor 2025.) Ini pelajaran yang gampang terlewat: harga komoditas dunia pecah rekor tidak otomatis berarti windfall (untung tak terduga) buat negara produsennya — kalau produsen utamanya sedang paling sedikit stoknya untuk dijual.

Smelter Manyar Bangkit Persis di Tengah Badai Harga

Ada satu kabar yang lebih menjanjikan. Smelter kedua PTFI di kawasan industri JIIPE, Manyar, Gresik — yang sempat berhenti total sejak kuartal IV 2025 karena pasokan konsentrat dari Papua terganggu longsor — mulai menerima kembali aliran konsentrat sejak Agustus 2026, dan ditargetkan mengolahnya lagi mulai September ini. Kapasitas totalnya 1,7 juta ton konsentrat per tahun, tapi pemanfaatannya bertahap: sekitar 65% di akhir 2026, 75% pertengahan 2027, baru mendekati penuh di akhir 2027.

Timing-nya kebetulan pas: smelter ini hidup lagi persis ketika harga tembaga dunia sedang di rekor tertinggi sepanjang sejarah — artinya setiap ton konsentrat yang berhasil diolah sekarang bernilai jauh lebih tinggi dibanding kalau smelter ini beroperasi normal setahun lalu. Tapi jangan buru-buru menghitung untung besar: volume yang bisa diolah masih dibatasi oleh pasokan konsentrat dari Grasberg sendiri, yang belum pulih penuh dari longsor.

Momentum hilirisasi (proses mengolah bahan mentah jadi produk bernilai tambah di dalam negeri, alih-alih diekspor mentah) juga meluas di luar Freeport. Amman Mineral, penambang tembaga dan emas dari Batu Hijau-Elang, Sumbawa, baru merampungkan smelter tembaganya sendiri pada 24 Juli 2026, berkapasitas 900.000 ton konsentrat per tahun dan sudah beroperasi di kapasitas maksimum sejak Juni. Artinya Indonesia kini punya dua smelter tembaga raksasa yang baru saja hidup nyaris bersamaan, tepat saat harga dunia sedang menggila — kombinasi yang seharusnya memperkuat daya tarik investasi hilirisasi tembaga ke depan.

Tapi ada catatan skeptis yang wajib disertakan. Riset INDEF (Institute for Development of Economics and Finance) mencatat nilai ekspor produk hilir tembaga Indonesia baru sekitar US$282 juta, dengan kontribusi ke produk domestik bruto hanya US$34,9 juta — kecil dibanding skala investasi triliunan rupiah yang sudah digelontorkan dan potensi cadangan tembaga nasional. Proyek smelter sekelas Freeport di Gresik yang menelan investasi puluhan triliun rupiah pun hanya menyerap sekitar 2.000 lapangan kerja baru — jauh dari signifikan untuk skala pasar tenaga kerja nasional. Hilirisasi memang menutup celah ekspor konsentrat mentah, tapi belum tentu otomatis menghasilkan nilai tambah ekonomi yang sepadan dengan biayanya — apalagi kalau pasokan bahan baku di hulu sendiri masih serapuh yang dialami Freeport tahun ini.

Yang Kena Getahnya: Industri Kabel, Elektronik, dan Konstruksi

Sementara penambang dan smelter menikmati sisi baik dari harga tinggi, industri yang memakai tembaga sebagai bahan baku menanggung sisi sebaliknya. Sejak longsor Grasberg pada September 2025, harga tembaga sudah naik sekitar 35% dalam 3,5 bulan — dan sekarang makin liar setelah pecah rekor. Produsen kabel listrik melaporkan kenaikan harga bahan baku tembaga dan aluminium sekitar 40%, PVC sekitar 40%, dan XLPE (bahan isolasi kabel) melonjak 80–100%. Ditotal, kenaikan biaya produksi kabel sudah mencapai sekitar 45% dalam waktu yang relatif singkat.

Ini diperparah oleh rupiah yang melemah lebih dalam dari yang diperkirakan. Bank Indonesia sendiri memproyeksikan rupiah 2026 berkisar Rp16.000–Rp16.500 per dolar AS, tapi kenyataannya awal September 2026 rupiah justru bergerak di kisaran Rp17.600–Rp17.744 per dolar — jauh lebih lemah dari proyeksi resmi. Kombinasi ini adalah contoh data yang tampak kontradiktif tapi sebenarnya wajar dijelaskan bersamaan: bagi eksportir tembaga seperti Freeport, rupiah lemah justru menguntungkan karena setiap dolar dari penjualan tembaga dikonversi jadi lebih banyak rupiah. Tapi bagi produsen kabel yang mengimpor komponen dan bahan penolong dalam dolar, rupiah lemah menambah beban di atas kenaikan harga tembaga itu sendiri — dua pukulan sekaligus dari sisi yang berlawanan.

Apa Artinya Buat Kamu

Kalau kamu masih karyawan dan ingin mulai usaha

Jangan tergoda ikut-ikutan masuk usaha jual-beli scrap tembaga atau logam hanya karena harganya sedang rekor — harga setinggi ini historis rawan koreksi begitu laporan tarif AS akhirnya terbit (entah dikonfirmasi atau dibatalkan) atau begitu Grasberg dan tambang-tambang Chile pulih normal. Rekor sebelumnya di Mei 2025 sempat menyentuh $10.954 per ton lalu turun sebelum akhirnya pecah lagi sekarang — pasar ini jelas volatil (bergejolak), bukan tren satu arah yang pasti.

Kalau kamu tetap tertarik dengan sektor terkait, pertimbangkan jasa pendukung yang risikonya lebih rendah dibanding spekulasi harga logam mentah — misalnya jasa efisiensi instalasi kabel, konsultasi penghematan material untuk kontraktor kecil, atau daur ulang kabel dan komponen tembaga bekas, yang marginnya justru makin menarik ketika harga tembaga baru tinggi.

Kalau kamu sudah punya bisnis

Kalau bisnismu berbasis tembaga sebagai bahan baku — produsen kabel, komponen elektronik, kontraktor listrik — segera cek ulang kontrak dengan klienmu, terutama apakah ada klausul penyesuaian harga mengikuti acuan LME. Kontrak harga tetap jangka panjang di tengah kenaikan biaya 45% bisa menghabiskan margin dalam hitungan bulan. Pertimbangkan juga hedging — mengunci harga beli tembaga di depan lewat kontrak forward supaya tidak rugi kalau harga makin liar — meski ada biayanya, ini sepadan di tengah gejolak setinggi sekarang.

Kalau kamu justru bergerak di sektor pertambangan atau smelter tembaga, momentum ini bagus untuk ekspansi atau refinancing. Tapi pelajaran Freeport tahun ini penting: jangan berasumsi harga tinggi otomatis berarti untung besar tanpa memastikan volume produksi dan rantai pasok tetap aman — perusahaan sebesar Freeport pun kehilangan momentum windfall karena satu bencana operasional.

Dampak yang lebih luas

Buat masyarakat umum, ada dua hal yang perlu diperhatikan. Pertama, proyeksi setoran Freeport yang turun berarti pemerintah pusat dan daerah penghasil (Papua Tengah, khususnya Mimika, yang mendapat bagi hasil) perlu bersiap terhadap kemungkinan shortfall penerimaan di 2026, meski harga komoditas dunia sedang bagus-bagusnya. Kedua, harga barang berbasis tembaga — kabel rumah, AC, motor listrik, material konstruksi — berpotensi naik ke depan seiring harga bahan baku dunia dan rupiah yang sama-sama menekan biaya produksi. Ini relevan kalau kamu berencana renovasi rumah atau membeli properti baru dalam waktu dekat.

Yang Perlu Dipantau

  • Laporan Section 232 tembaga dari Departemen Perdagangan AS — sudah telat lebih dari dua bulan dari tenggat 30 Juni; begitu terbit, ini penentu apakah rally harga berlanjut atau berbalik koreksi tajam.

  • Progres ramp-up smelter Manyar — target utilisasi 65% di akhir 2026 sebagai indikator konkret pemulihan pasokan konsentrat dari Grasberg.

  • Laporan produksi Freeport-McMoRan/PTFI kuartal III 2026 — apakah pemulihan tambang bawah tanah Grasberg Block Cave sesuai jadwal atau kembali molor.

  • Data produksi Chile kuartal III 2026 dari statistik nasional Chile — untuk melihat apakah tren 19-tahun-terendah itu membaik atau memburuk.

  • Pergerakan rupiah — kalau makin melemah dari kisaran Rp17.600 saat ini, tekanan biaya impor industri hilir tembaga nasional akan makin berat.

Penutup

Rekor harga tembaga dunia biasanya dibaca sebagai kabar baik otomatis buat Indonesia sebagai salah satu produsen terbesarnya — lebih banyak devisa, lebih banyak royalti, lebih menarik buat investor smelter. Tahun ini cerita itu tidak sesederhana itu: Freeport sedang membuktikan bahwa harga tinggi tidak ada gunanya kalau kamu sedang tidak punya cukup barang untuk dijual. Yang menentukan siapa yang benar-benar diuntungkan dari rekor ini bukan sekadar "harganya naik berapa", tapi "siapa yang masih punya stok saat harga itu naik" — dan untuk saat ini, Indonesia sedang berdiri di sisi yang lebih rapuh dari pertanyaan itu.

Sumber

  • Bloomberg — "Copper Surges to All-Time High as Tariff Turmoil Rocks Market"

  • Bloomberg — "Copper Price Record High: How Tariff Fears Are Driving a Supply Squeeze"

  • MINING.COM — "Copper price surges to all-time high as tariff turmoil rocks market"

  • Business Standard — "Copper hits record high as tight supply, US tariff fears boost prices"

  • Bloomberg — "AI Data Center Boom, Power Grids Strengthen Investment Case for Copper"

  • The White House — Fact Sheet dan proklamasi tarif Section 232 tembaga

  • Kompas — "Freeport Mulai Kirim Konsentrat Tembaga ke Smelter Manyar, Target Beroperasi Lagi September 2026"

  • CNBC Indonesia — "Smelter ke-2 Freeport di Gresik Akan Beroperasi Lagi di September 2026"

  • Bisnis.com — "Produksi Tembaga & Emas Freeport Anjlok 67% pada Kuartal I/2026"

  • IMA (Indonesian Mining Association) — "Setoran Freeport Kepada Negara Diproyeksi Turun 39,5% pada 2026"

  • CNBC Indonesia — "Freeport Targetkan Kontribusi ke Negara Tembus Rp47 Triliun di 2026"

  • Antara News — "PT Freeport targetkan produksi tembaga 478 ribu ton di 2026"

  • Kompas — "Seluruh Korban Longsor Tambang Grasberg Ditemukan, Freeport Akhiri Pencarian Setelah 27 Hari"

  • Amman Mineral — Siaran Pers "Smelter Tembaga AMMAN Resmi Rampung"

  • Alinea.id — "Hilirisasi Tembaga, Potensi atau Beban Ekonomi?" (data INDEF)

  • Discovery Alert / Rio Times — "Chile's Weakest Copper Output in 19 Years"

  • Antara News — "BI Prakirakan Rupiah Berada di Kisaran Rp16.000–Rp16.500 pada 2026"

  • Media Indonesia / Pintu News — kurs rupiah harian awal September 2026