Lewati ke konten
blabak.

Trump Ultimatum The Fed: Pangkas Bunga atau Saya Setop Dagang — Kenapa RI Ikut Masuk Radar

Trump ancam setop dagang kecuali The Fed pangkas bunga 16 September. Ini beda dari tarif 19% RI, dan kenapa eksportir tekstil-sawit tetap harus waspada.

Yusuf FS10 menit baca

Ringkasan Cepat

  • Pada 4 September 2026, Trump mengunggah ancaman di Truth Social: The Fed harus memangkas suku bunga, atau ia akan menyetop perdagangan dengan semua negara yang punya surplus dagang terhadap AS — termasuk Meksiko, Kanada, China, Taiwan, Jerman, Korea Selatan, dan Uni Eropa.

  • Ironisnya, ancaman ini muncul justru setelah kabar baik: data ketenagakerjaan AS Agustus mencatat 162.000 lapangan kerja baru, hampir tiga kali lipat dari perkiraan analis (sekitar 55.000). Data sekuat ini malah menaikkan peluang The Fed menaikkan, bukan memangkas, bunga pada pertemuan 16 September.

  • Ini beda mekanisme dari babak tarif 19% yang sudah lebih dulu diteken Indonesia dengan AS Februari 2026. Tarif itu soal angka pungutan impor yang dirundingkan bertahap. Ancaman kali ini soal setop dagang total, digantungkan ke keputusan bank sentral yang bahkan Trump sendiri tak sepenuhnya kendalikan.

  • Indonesia belum masuk delapan nama negara defisit dagang terbesar yang ramai disebut media AS. Tapi eksportir tekstil, alas kaki, dan produk turunan sawit tetap masuk radar risiko — karena begitulah pola tarif resiprokal dulu bermula: mengancam secara luas, lalu turun jadi angka per negara.

  • Rupiah sudah tertekan ke kisaran Rp17.750 per dolar AS awal September, jauh di atas asumsi makro APBN 2026 sebesar Rp16.200–Rp16.800, dan investor asing tercatat net sell di pasar saham dalam beberapa hari terakhir.

Kabar Baik yang Berubah Jadi Ancaman

Begini kronologinya. Jumat, 4 September 2026, Departemen Tenaga Kerja AS merilis data payroll (angka penyerapan tenaga kerja formal) Agustus: 162.000 pekerjaan baru tercipta, jauh di atas perkiraan analis yang cuma sekitar 55.000. Dalam kondisi normal, ini kabar bagus — ekonomi AS masih kuat, tidak ada tanda resesi.

Tapi bagi pasar suku bunga, kabar baik ini justru bikin runyam. Sebelum data dirilis, banyak pelaku pasar sudah cukup yakin The Fed bakal memangkas bunga bulan ini untuk menopang lapangan kerja. Begitu angka justru melonjak jauh di atas ekspektasi, argumen "ekonomi butuh stimulus" jadi lemah. Probabilitas The Fed menaikkan (bukan memangkas) bunga pada pertemuan 15–16 September melonjak ke kisaran 58–60% menurut data CME FedWatch — indikator yang menghitung ekspektasi pasar terhadap keputusan suku bunga dari harga kontrak berjangka.

Beberapa jam setelah data itu keluar, Trump naik pitam di Oval Office lalu menulis di Truth Social: "LOWER THE RATE OR I'LL STOP TRADING WITH COUNTRIES WITH WHICH WE HAVE A DEFICIT, which the U.S. Supreme Court, in its ridiculous and very costly Tariff decision, strongly acknowledged 'the President' has an absolute right to do." Terjemahan bebasnya: turunkan suku bunga, atau saya setop dagang dengan negara-negara yang punya surplus dagang terhadap kami — dan menurutnya, Mahkamah Agung AS sudah mengakui presiden punya hak mutlak melakukan itu.

Perhatikan urutannya: bukan data buruk yang memicu ancaman, tapi data bagus yang mempersempit ruang gerak The Fed untuk menuruti keinginan Trump. Itu sebabnya ancaman ini terasa lebih emosional dan kurang terukur dibanding kebijakan tarif yang biasanya melalui proses negosiasi berbulan-bulan.

Kenapa Trump Ngotot Soal Bunga, Padahal Ekonomi Sedang Kencang

Kalau ekonomi AS baik-baik saja — bahkan terlalu panas menurut data payroll — kenapa Trump tetap memaksa The Fed memangkas bunga? Di sinilah "angka di balik angka"-nya. Sejumlah laporan finansial mengaitkan dorongan ini bukan dengan kebutuhan stimulus, melainkan dengan ongkos utang pemerintah AS sendiri: Trump dilaporkan menargetkan penghematan bunga hingga sekitar US$1 triliun dari pemangkasan suku bunga acuan. Setiap kali suku bunga acuan turun, ongkos bunga yang harus dibayar pemerintah AS untuk surat utang yang jatuh tempo dan diterbitkan ulang ikut turun. Ini soal anggaran negara, bukan sekadar soal menolong pengangguran.

Ironi lain: Kevin Warsh, Ketua The Fed saat ini, adalah orang yang dulu dipilih sendiri oleh Trump untuk menggantikan Jerome Powell — dengan harapan Warsh akan lebih mudah diajak memangkas bunga. Kenyataannya, begitu resmi menjabat, Warsh justru menegaskan independensinya dan lebih menyoroti pengendalian inflasi (yang di pertengahan 2026 sudah berada di atas 4%, dua kali lipat target The Fed sebesar 2%). Warsh sendiri berulang kali menyatakan tekanan Gedung Putih "tidak memengaruhi" keputusannya.

Yang membuat episode ini terasa berbeda dari sekadar cuitan biasa: dalam sepekan terakhir, bukan cuma Trump yang bersuara. Wakil presiden, Menteri Keuangan, dan salah satu penasihat ekonomi senior Gedung Putih ikut kompak mendesak The Fed untuk tidak menaikkan bunga — kampanye tekanan publik yang tergolong luar biasa luas bahkan menurut standar Trump yang memang lama berseteru dengan bank sentral. Dan karena menyerang Warsh secara langsung tampaknya tak lagi efektif, Trump memilih senjata baru: mengancam mitra dagang, bukan mengancam pejabat bank sentral.

Bukan Soal Tarif, Tapi Soal "Setop Dagang" Sepenuhnya

Ini yang membuat ancaman 4 September beda secara mendasar dari drama tarif 19% yang sudah lebih dulu ramai dibahas. Tarif resiprokal adalah soal angka pungutan impor — bisa 10%, 19%, atau 32% — yang dirundingkan produk per produk, dan biasanya berujung pada kesepakatan tertulis. Ancaman kali ini berbeda: setop dagang total, bukan menaikkan pungutan, dan syaratnya bukan hasil negosiasi dagang, melainkan keputusan independen bank sentral yang secara hukum tidak berada di bawah kendali presiden.

Trump bahkan menyinggung putusan Mahkamah Agung AS soal kewenangan tarif darurat presiden — yang ia sendiri sebut "konyol dan sangat mahal" — sebagai dasar klaim bahwa ia tetap punya hak mutlak menyetop perdagangan sepenuhnya. Artinya, setelah ruang geraknya di jalur tarif dibatasi pengadilan, Trump tampak beralih ke jalur ancaman yang lebih ekstrem: bukan menaikkan harga barang impor, tapi mengancam menutup akses pasar sama sekali.

Skala ancamannya juga besar. Defisit dagang barang AS sepanjang 2025 mencapai US$1,24 triliun secara global. Mitra dengan kontribusi defisit terbesar yang disebut media AS antara lain Meksiko, China, Taiwan, Jerman, Jepang, Korea Selatan, Kanada, dan India — dengan Meksiko saja mencatat defisit sekitar US$27,5 miliar dan Vietnam US$23,3 miliar hanya dalam sebulan (Juli 2026), serta Uni Eropa sekitar US$8,9 miliar. Ekonom di Federal Reserve Bank of Dallas sendiri mengingatkan agar defisit dagang tidak otomatis dianggap buruk — defisit bisa mencerminkan derasnya aliran modal asing yang justru menopang investasi dan belanja fiskal AS. Kritik lain lebih tajam: gangguan terhadap independensi The Fed demi kepentingan politik jangka pendek berisiko merusak kredibilitas institusi itu sendiri dan justru memicu inflasi yang lebih liar di masa depan.

Radar Indonesia: Belum Disebut Namanya, Tapi Bukan Berarti Aman

Indonesia memang tidak masuk delapan nama besar yang eksplisit disebut media AS soal defisit dagang. Tapi ada alasan kuat untuk tetap waspada. Indonesia adalah salah satu dari tiga mitra dagang tempat Indonesia mencatat surplus terbesar — bersama India dan Malaysia — dan AS adalah tujuan ekspor terbesar kedua Indonesia, senilai US$19,19 miliar sepanjang Januari–Juli 2026, atau sekitar 11,99% dari total ekspor nasional (BPS). Komoditas andalannya persis yang disebut dalam angle ini: mesin dan perlengkapan elektrik, alas kaki, produk garmen rajutan, plus produk turunan sawit seperti oleokimia.

Baru tujuh bulan lalu, Februari 2026, Indonesia dan AS meneken Perjanjian Dagang Resiprokal yang memangkas tarif dari 32% menjadi 19%, dengan sejumlah produk unggulan — sawit, kakao, kopi, karet — mendapat pembebasan tarif 0%. Tekstil mendapat keringanan lewat mekanisme kuota tarif (TRQ): sejumlah volume tertentu bisa masuk dengan tarif rendah atau nol, tapi begitu kuota habis, tarif normal 19% kembali berlaku. Alas kaki, furnitur, dan sekitar 18 kelompok produk lain masih dalam proses negosiasi pengecualian tarif hingga kini.

Di sinilah letak masalahnya. Eksportir RI baru saja menyesuaikan diri dengan kerangka 19% yang susah payah dirundingkan selama lebih dari setahun. Sekarang mereka harus menghadapi kemungkinan bahwa seluruh kerangka itu bisa terguncang bukan karena pelanggaran dagang, bukan karena negosiasi ulang tarif — tapi karena perselisihan Trump dengan bank sentralnya sendiri soal suku bunga. Ekonom CELIOS Bhima Yudhistira menghitung bahwa setiap penurunan 1% pertumbuhan ekonomi AS bisa menekan pertumbuhan ekonomi Indonesia sekitar 0,08%, dan menilai tarif 19% saja sudah berisiko tinggi bagi neraca dagang RI — apalagi kalau ditambah ancaman setop dagang. Ekonom senior INDEF Tauhid Ahmad menyoroti dampak paling langsung: produk seperti alas kaki yang mayoritas diekspor ke AS akan mengalami penurunan permintaan begitu ketidakpastian membuat pembeli AS menahan order. Rekan senegaranya di INDEF, Andry Satrio Nugroho, mengingatkan bahwa nasib jutaan tenaga kerja di sektor tekstil, alas kaki, elektronik, furnitur, dan pertanian ekspor ikut dipertaruhkan.

Dua Ketidakpastian yang Bertumpuk, Bukan Satu

Babak tarif 19% sebelumnya menyisakan satu jenis ketidakpastian: ke arah mana persentase tarif akan bergerak dan produk mana yang dikecualikan. Babak ini menumpuk ketidakpastian kedua di atasnya: ke arah mana suku bunga AS akan bergerak pada 16 September, yang berdampak langsung ke nilai tukar rupiah, biaya modal, dan selera investor asing terhadap aset Indonesia.

Efeknya sudah terasa. Rupiah melemah ke kisaran Rp17.750 per dolar AS pada awal September, jauh di atas asumsi makro APBN 2026 yang mematok kisaran Rp16.200–Rp16.800 — bahkan sempat menyentuh titik terlemah sepanjang sejarah di angka Rp18.171 pada Juni 2026. Investor asing tercatat melakukan aksi jual bersih di pasar modal dalam skala puluhan miliar rupiah pada satu hari perdagangan awal September, mencerminkan kegelisahan ganda: risiko ekspor tertekan tarif atau ancaman dagang di satu sisi, dan gejolak arah bunga The Fed di sisi lain. Kalau dulu pelaku pasar hanya perlu memantau satu variabel (tarif), sekarang mereka harus memantau dua variabel yang saling memengaruhi tapi bisa bergerak berlawanan arah.

Apa Artinya Buat Kamu

Kalau kamu masih karyawan dan ingin mulai usaha

Kalau rencana usahamu bertumpu pada ekspor ke AS di sektor padat karya seperti garmen, alas kaki, atau turunan sawit, ini bukan waktu ideal untuk taruhan besar di satu pasar. Bukan berarti batalkan rencana, tapi bangun model bisnis yang dari awal punya lebih dari satu pasar tujuan — ASEAN, Timur Tengah, atau Uni Eropa — supaya satu keputusan kebijakan di Washington tidak langsung mematikan cash flow-mu. Kalau butuh pembiayaan mesin atau bahan baku impor dalam dolar, hitung juga biaya bunga tambahan jika rupiah terus tertekan; jangan asumsikan kurs saat proposal dibuat akan sama saat pinjaman cair.

Kalau kamu sudah punya bisnis

Bagi eksportir yang order-nya sudah bergantung pada pasar AS, saatnya mempercepat, bukan menunda, diversifikasi pasar yang sebenarnya sudah lama direkomendasikan tapi sering ditunda karena AS masih menguntungkan. Tinjau ulang kontrak jangka panjang dengan buyer AS — masukkan klausul penyesuaian jika terjadi force majeure kebijakan dagang. Pertimbangkan hedging (mengunci nilai tukar di awal transaksi supaya tidak rugi kalau rupiah makin melemah saat pembayaran diterima) untuk kontrak ekspor bernilai besar, mengingat volatilitas (gejolak) ganda tarif dan bunga ini kemungkinan belum akan reda dalam waktu dekat. Jaga buffer kas lebih tebal dari biasanya — bukan karena ancaman ini pasti terjadi, tapi karena biaya menyiapkan diri jauh lebih murah dibanding biaya terkena kejutan mendadak.

Kalau kamu bukan pelaku usaha ekspor

Dampak episode ini tidak berhenti di ruang rapat eksportir. Sektor padat karya berorientasi ekspor mempekerjakan jutaan pekerja di Indonesia, dan riwayat tarif 32%-ke-19% tahun lalu sudah menunjukkan bagaimana ketidakpastian kebijakan bisa menunda investasi pabrik baru dan memicu efisiensi tenaga kerja. Kalau kamu bekerja atau punya keluarga yang bekerja di industri garmen, alas kaki, atau elektronik berorientasi ekspor, ini saatnya memantau berita ketenagakerjaan sektor itu lebih dekat, bukan menunggu sampai muncul pengumuman PHK.

Yang Perlu Dipantau

  • 16 September 2026 — pengumuman keputusan suku bunga The Fed pukul 14.00 waktu AS bagian Timur, plus reaksi Trump jika The Fed justru menaikkan bunga seperti yang diperkirakan pasar.

  • Data inflasi AS (CPI) yang rilis menjelang pertemuan itu — inflasi yang masih di atas 4% adalah alasan utama Warsh menahan diri untuk memangkas bunga, dan angka ini akan jadi penentu argumen mana yang menang.

  • Kelanjutan negosiasi pengecualian tarif untuk alas kaki, furnitur, dan sekitar 18 kelompok produk Indonesia lain yang masih dibahas pemerintah RI dengan AS.

  • Pergerakan rupiah pasca-keputusan The Fed — apakah kembali mendekati rekor terlemah Rp18.171 (Juni 2026) atau justru menguat jika The Fed menahan atau memangkas bunga.

  • Respons — atau justru ketiadaan respons — dari negara-negara yang disebut eksplisit oleh Trump (Meksiko, China, Uni Eropa, Kanada), karena preseden bagaimana mereka bernegosiasi bisa jadi cetak biru buat posisi tawar Indonesia berikutnya.

Penutup

Rekam jejak Trump menunjukkan ancaman semacam ini sering berfungsi sebagai alat tawar, bukan aksi yang benar-benar dieksekusi sampai tuntas — pola yang sama persis terlihat sebelum tarif akhirnya turun dari 32% ke 19%. Tapi yang berubah kali ini adalah jenis kepastian yang hilang: dulu eksportir menunggu angka tarif final, sesuatu yang bisa dihitung dan dinegosiasikan. Sekarang syaratnya bergantung pada keputusan bank sentral yang independen, yang bisa bergerak berlawanan arah dari keinginan presidennya sendiri. Kalau kepastian kebijakan dagang RI ternyata ikut ditentukan oleh perdebatan suku bunga di Washington yang bahkan Trump sendiri tak bisa kendalikan penuh, maka strategi "tunggu sampai jelas" sudah basi sebelum kejelasan itu datang — dan itulah alasan kenapa diversifikasi pasar sekarang bukan lagi pilihan, tapi keharusan.

Sumber

  • CNBC — "Trump doubles down on threat to halt trade with top partners unless Fed cuts rates"

  • CNBC — "Trump pushes Fed to cut rates ahead of pivotal September decision"

  • CNN Business — "Trump says he will cease trading with top partners unless Fed lowers rates"

  • Yahoo Finance — "Trump Issues Ultimatum to Fed: Cut Rates or Face Trade War With the World"

  • CNBC Africa — "Trump tells Fed to slash rates or he'll end trade with countries with U.S. surpluses"

  • CBS News — "The Fed was expected to hike interest rates in September. Don't bet on that now, economists say"

  • Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian RI — FAQ Perjanjian Dagang Resiprokal Indonesia–Amerika Serikat

  • CNBC Indonesia — "Tarif AS Bisa 18%, RI Tetap Kejar Tekstil-Furnitur Dikecualikan"

  • BPS — data ekspor-impor Januari–Juli 2026

  • Kementerian Perdagangan RI — siaran pers surplus dagang 2025

  • JPNN — "Ekonom CELIOS Ungkap Tarif Trump 19% Berisiko Tinggi Bagi Indonesia"

  • Tempo — "Tanggapan Sejumlah Ekonom Soal Tarif Impor Trump yang Berdampak Bagi Indonesia"

  • CNBC Indonesia — "IHSG-Rupiah Mencoba Bangkit di Tengah Gempuran Kabar Buruk dari AS"

  • Antara News — "Rupiah melemah seiring ancaman tarif Trump terhadap UE dan Meksiko"