Wellness Dunia Tembus $6,8 Triliun — Padel Jakarta Booming, tapi Siapa yang Benar-Benar Mampu?
Pasar wellness global capai $6,8 triliun, kalahkan pariwisata dunia. Di Jakarta padel dan gym mewah meledak — tapi kelas menengah justru makin terjepit.
Daftar isi10 bagian
Ringkasan Cepat
Global Wellness Institute mencatat pasar wellness dunia tembus $6,8 triliun di 2024, tumbuh 7,9% dari tahun sebelumnya, dan diproyeksikan naik ke $9,8 triliun pada 2029 — lebih besar dari industri pariwisata global ($5 triliun) dan hampir empat kali lipat industri farmasi dunia ($1,8 triliun).
"Ekonomi longevity" dan "ekonomi wellness" sering dianggap sinonim di headline, padahal dua ukuran berbeda — satu soal pasar produk kesehatan preventif, satu soal daya beli penduduk usia 50 tahun ke atas yang nilainya bisa jauh lebih besar lagi.
Di Jakarta, versi lokal dari booming ini kelihatan di lapangan padel yang tumbuh 74% per tahun (tercepat di Asia Tenggara) dan menjamurnya fitness boutique premium seperti Alder, RIDE, dan Empire Fit Club.
Tapi di balik sewa lapangan dan membership gym yang makin mahal itu, kelas menengah Indonesia menyusut 1,1 juta orang hanya dalam setahun, dan hampir separuh sisanya mengaku daya belinya turun.
Satu jam bermain padel di Jakarta bisa setara penghasilan beberapa hari pekerja upah rendah — jadi pertanyaannya bukan apakah wellness sedang booming, tapi booming ini sebenarnya ditumpangi berapa banyak orang.
Angka yang Mengalahkan Pariwisata dan Farmasi Dunia
Setiap dua tahun, Global Wellness Institute (GWI) — lembaga riset nirlaba yang jadi rujukan utama industri kesehatan gaya hidup dunia — merilis "Global Wellness Economy Monitor". Edisi 2025 yang keluar akhir tahun lalu menyebut pasar wellness global sudah dua kali lipat sejak 2013, dan kini bernilai $6,8 triliun pada 2024. Ini angka global, bukan angka satu negara atau satu kawasan.
Supaya kebayang besarnya: angka itu melampaui industri olahraga dunia ($2,7 triliun), pariwisata global ($5 triliun), bahkan ekonomi hijau ($5,1 triliun) dan sektor IT ($5,3 triliun). Pasar wellness juga hampir empat kali lipat industri farmasi dunia yang "cuma" $1,8 triliun, dan sudah setara 60% dari total belanja kesehatan global (termasuk belanja pemerintah) yang mencapai $11,2 triliun. GWI memproyeksikan pasar ini tumbuh 7,6% per tahun sampai 2029, jadi $9,8 triliun — tambahan sekitar $3 triliun hanya dalam lima tahun.
Tapi "wellness" dalam riset ini bukan cuma gym dan spa. GWI membagi pasar ini jadi 11 sektor, dari wisata kesehatan sampai pengobatan tradisional. Dua sektor yang tumbuh paling kencang lima tahun terakhir adalah wellness real estate — properti yang dirancang khusus untuk kesehatan penghuninya, mulai dari sirkulasi udara sampai fasilitas olahraga bawaan — yang naik 19,5% per tahun, dan mental wellness (layanan kesehatan mental, dari terapi sampai aplikasi meditasi) yang naik 12,4% per tahun.
Yang menarik, tidak semua sektor ikut naik. Layanan penurunan berat badan konvensional justru menyusut, didesak oleh masuknya obat suntik pelangsing berbasis GLP-1 (awalnya obat diabetes, kini dipakai luas untuk menurunkan berat badan) yang mengubah cara orang menangani obesitas — dari gaya hidup jadi resep medis. Wellness di tempat kerja juga melemah karena makin banyak perusahaan meninggalkan program formal seiring tren kerja remote dan gig economy. Jadi di balik judul besar "wellness meledak", ada pergeseran struktural: uang pindah dari gaya hidup ke klinik dan pil.
Longevity Bukan Sekadar Sinonim Wellness
Ini bagian yang jarang dijelaskan: "ekonomi longevity" yang sering disebut bergandengan dengan angka $6,8 triliun itu sebenarnya konsep yang berbeda, bukan cuma istilah lain untuk hal yang sama.
Angka $6,8 triliun GWI mengukur pasar produk dan jasa wellness — apa yang dibeli orang untuk hidup lebih sehat. Sementara itu, "longevity economy" dalam definisi AARP dan Oxford Economics mengukur hal yang lebih besar: total aktivitas ekonomi yang digerakkan oleh penduduk usia 50 tahun ke atas, termasuk pendapatan, belanja, dan pekerjaan yang mereka topang — bukan cuma yang mereka beli untuk kesehatan. Di Amerika Serikat saja, kelompok usia ini menghasilkan $12,5 triliun aktivitas ekonomi pada 2024 — setara ekonomi terbesar ketiga dunia setelah AS dan China sendiri — dan diproyeksikan hampir dua kali lipat jadi $24 triliun pada 2060 seiring populasi menua.
Dua angka ini sering dicampur di media karena kedengarannya mirip-mirip: sama-sama soal "hidup lebih lama, lebih sehat". Tapi satu adalah ukuran pasar produk, satu adalah ukuran daya beli demografis. Membedakan ini penting karena mempengaruhi cara baca kita soal siapa yang sebenarnya "menggerakkan" boom ini — bukan cuma anak muda ikut tren padel, tapi juga populasi menua yang punya tabungan dan waktu untuk dibelanjakan pada kesehatan jangka panjang.
Dari Dua Omset Itu, Berapa yang Mendarat di Jakarta
Kalau $6,8 triliun itu angka global, berapa porsi Indonesia? Menurut data GWI, ekonomi wellness Indonesia tercatat $56 miliar dengan pertumbuhan 5,1% dalam pemeringkatan negara terbaru — naik dari $35 miliar pada 2017 dan $36,4 miliar pada 2020, saat itu menempatkan Indonesia di posisi ke-19 dari 218 negara yang diukur, dan ke-7 di Asia Pasifik. Artinya, Indonesia memang kebagian kue wellness global, tapi porsinya kurang dari satu persen dari total pasar dunia.
Versi paling kelihatan dari booming ini di Jakarta bukan di spa atau klinik, tapi di lapangan padel dan studio fitness boutique. Menurut Indonesia Padel Report 2025, jumlah klub padel di Indonesia naik 295% sepanjang tahun, dengan tingkat pertumbuhan tahunan 74% — menjadikan Indonesia pasar padel yang tumbuh tercepat di Asia Tenggara. Permintaan sewa lapangan naik 80% dalam 12 bulan terakhir, dan okupansi di venue-venue mapan Jakarta dan Bali berkisar 70-99%, jauh di atas ambang break-even kebanyakan operator.
Di sisi fitness, nama-nama seperti Alder Fitness Boutique, RIDE Plaza Indonesia, Empire Fit Club, SOULBOX, dan Hustle House jadi destinasi gaya hidup baru kelas menengah atas Jakarta — model bisnisnya bertumpu pada membership premium, personal training, dan kelas tematik berbayar, bukan sekadar alat angkat beban. Jaringan gym yang lebih terjangkau seperti K Fitness pun ikut ekspansi, menargetkan 10 cabang baru dalam setahun lewat skema kemitraan — menunjukkan permintaan tidak hanya datang dari segmen termahal.
Padel dan Gym Mewah: Boom yang Mulai Retak di Pinggirnya
Tapi angka-angka manis itu punya catatan kaki yang jarang masuk headline. Soal jumlah lapangan padel di Jakarta sendiri, datanya bervariasi tergantung sumber — ada laporan yang menyebut sekitar 500 unit se-Jabodetabek dari hampir 1.000 unit nasional, ada pula laporan bisnis yang mencatat hanya sekitar 60 lapangan yang benar-benar menghasilkan revenue stabil di kuartal terakhir 2025. Perbedaan ini kemungkinan soal cakupan — "dibangun" versus "benar-benar berjalan dan untung" adalah dua hal yang berbeda, dan kesenjangan antara keduanya justru jadi sinyal paling jujur soal arah tren ini.
Lebih serius lagi: pada awal 2026, ditemukan 46,6% lapangan padel di Jakarta beroperasi tanpa izin bangunan (PBG) yang sah, dan sejumlah fasilitas berdiri di ruang terbuka hijau (RTH) milik negara yang seharusnya tak untuk komersial. Urban Poor Consortium menyebut ledakan pembangunan ini sebagai bentuk penyerobotan tata ruang — di baliknya ada pekerja perempuan berupah rendah, toko buku yang digusur, dan warga miskin kota yang harus berdamai dengan kebisingan lapangan di sekitar rumah mereka.
Harga sewa juga sudah mulai longsor: dari sekitar Rp500.000 per jam, sejumlah venue kini menawarkan Rp250.000 per jam seiring makin banyak pemain baru masuk tanpa riset pasar matang — ciri klasik gelembung ekonomi. Ini mengulang apa yang terjadi di Swedia, di mana lonjakan investasi padel pasca-pandemi menciptakan kelebihan pasokan yang berujung kebangkrutan sejumlah perusahaan besar, dengan kerugian ditaksir mencapai 500 juta euro. Di Bandung, pengamatan warganet di platform media sosial mencatat sejumlah lapangan yang dulu selalu penuh kini mengalami penurunan okupansi 20-30% — yang bertahan hanya yang punya basis komunitas kuat dan positioning jelas, bukan sekadar ikut tren.
Siapa yang Benar-Benar Mampu Membeli Kesehatan Ini
Di sinilah pertanyaan inti dari judul besar "ekonomi longevity meledak" harus dijawab jujur: meledak buat siapa? Data makro Indonesia menunjukkan ekonomi sedang berbentuk K — dua kaki huruf K yang bergerak berlawanan arah. Pertumbuhan konsumsi kelompok atas tercatat 8% (dibanding periode sama tahun lalu) pada kuartal I-2026, sementara kelompok menengah dan bawah hanya tumbuh 3,5-3,6%. Saldo tabungan nasabah kaya (di atas Rp5 miliar) tumbuh 18,2% dibanding tahun lalu, sementara rata-rata sisa saldo tabungan masyarakat bawah cuma Rp1,7 juta.
Sementara itu, jumlah kelas menengah Indonesia turun dari 47,9 juta orang pada 2024 menjadi 46,7 juta pada 2025 — susut 1,1 juta orang dalam setahun, penurunan yang lebih dalam dibanding tahun sebelumnya yang hanya turun 0,4 juta. Kelompok "aspiring middle class" alias calon kelas menengah yang belum sampai, justru naik dari 137,5 juta jadi 142 juta orang, kini mencakup 50,4% populasi nasional — tanda nyata pergeseran status ekonomi ke bawah, bukan ke atas. Survei Indonesia Market Outlook 2025 mencatat 49% kelas menengah mengalami penurunan daya beli, dan 85% dari kelompok itu menyalahkan kenaikan harga kebutuhan pokok seperti makanan, energi, dan transportasi.
Gejala ini melahirkan apa yang ekonom sebut "lipstick effect" — orang menahan belanja besar seperti rumah atau mobil, tapi tetap menyisihkan uang untuk kesenangan kecil yang terasa bermakna, dari kopi premium sampai kelas yoga sekali seminggu. Ekonom menegaskan ini bukan tanda konsumsi kuat, melainkan sinyal tekanan daya beli — downtrading, alih-alih benar-benar royal. Fenomena serupa kelihatan di tulisan kritis Magdalene.co: satu mangkuk healthy bowl seharga Rp80.000-120.000 setara beberapa kali makan di warteg, dan satu jam padel seharga Rp400.000-600.000 setara penghasilan beberapa hari bagi sebagian pekerja. Wellness, dalam konteks ini, bukan cuma soal sehat — tapi soal siapa yang punya akses untuk menjadikannya gaya hidup rutin, dan siapa yang cuma bisa menonton dari linimasa.
Apa Artinya Buat Kamu
Kalau kamu masih karyawan dan ingin mulai usaha
Jangan masuk bisnis padel atau fitness boutique hanya karena linimasa penuh konten "booming". Periksa dulu status izin lahan dan bangunan sebelum deal sewa tempat — 46,6% lapangan tak berizin di Jakarta bukan statistik abstrak, itu risiko konkret penyegelan atau penggusuran yang bisa menghapus modalmu dalam semalam. Hitung ulang proyeksi balik modal dengan skenario harga sewa turun 50% seperti yang sudah terjadi di sejumlah venue, bukan dengan asumsi okupansi terbaik yang dipakai brosur investor. Kalau tetap mau masuk, cari niche yang bertahan karena komunitas dan brand, bukan sekadar lokasi strategis — itu yang membedakan venue yang masih penuh dari yang sudah sepi di Bandung.
Kalau kamu sudah punya bisnis
Kalau bisnismu menyasar kelas menengah atas (fitness premium, klinik estetik, produk kesehatan mahal), jangan buta terhadap data: pelangganmu yang sebenarnya makin menyusut secara jumlah, bahkan jika belanja per kapita mereka terlihat naik — ini pasar yang makin sempit dan makin terkonsentrasi di kelompok atas. Pertimbangkan model membership bertingkat yang menangkap gejala lipstick effect: paket murah untuk "sesekali menikmati" di samping paket premium, karena konsumen kelas menengah bawah tetap mau beli wellness, hanya dalam porsi kecil dan jarang. Kalau bisnismu di hulu (operator lapangan, suplemen, developer wellness real estate), jangan abaikan sektor yang justru tumbuh di data global seperti mental wellness dan personalized medicine — permintaannya lebih tahan banting dibanding tren olahraga musiman.
Untuk masyarakat luas
Normalisasi "wellness sebagai gaya hidup wajib" di media sosial bisa membuat orang merasa gagal secara pribadi kalau tak sanggup ikut tren padel atau makan sehat ala boutique — padahal ini soal struktur harga dan daya beli, bukan soal niat atau kedisiplinan semata. Kesehatan dasar (gizi cukup, waktu istirahat, akses layanan kesehatan publik) tetap jadi fondasi yang jauh lebih penting dan jauh lebih terjangkau daripada ikut tren yang sedang viral.
Yang Perlu Dipantau
Rilis Global Wellness Economy Monitor edisi berikutnya dari GWI (biasanya akhir tahun) — untuk melihat apakah tren wellness real estate dan mental wellness tetap jadi lokomotif, atau disusul segmen lain.
Data BPS soal jumlah dan komposisi kelas menengah Indonesia untuk 2026, yang akan menunjukkan apakah tren penyusutan 1,1 juta orang/tahun berlanjut atau mulai membalik.
Hasil audit perizinan bangunan (PBG) lapangan padel di DKI Jakarta — akan menentukan apakah gelombang penutupan/pembongkaran lapangan ilegal benar-benar terjadi tahun ini.
Perkembangan harga sewa lapangan padel di kota-kota besar; kalau tren Rp500.000 ke Rp250.000 per jam berlanjut ke kota lain, itu konfirmasi tambahan soal gelembung yang mulai pecah.
Perluasan akses obat GLP-1 oral di Indonesia — kalau harga turun dan distribusinya meluas, segmen fitness dan penurunan berat badan konvensional bisa ikut tergerus seperti yang sudah terjadi di pasar global.
Penutup
Angka $6,8 triliun itu nyata, dan tren wellness memang sedang jadi salah satu mesin ekonomi terbesar dunia — tapi di Jakarta, mesin itu baru menyalakan satu lajur jalan tol yang sempit, bukan jalan raya buat semua orang. Padel dan fitness boutique bukan bukti bahwa Indonesia sudah masuk era longevity; itu bukti bahwa sebagian kecil orang Indonesia sudah masuk, sementara yang lain masih menghitung ongkos makan minggu ini. Sebelum ikut arus "hidup sehat itu investasi", cek dulu kamu sedang berdiri di kaki K yang mana.
Sumber
Global Wellness Institute — 2025 Global Wellness Economy Monitor
Beautymatter — The $6.8 Trillion Glow-Up: Wellness Owns Beauty
AARP & Oxford Economics — The Longevity Economy / Global Longevity Economy Outlook
Brookings — The Age of the Longevity Economy
Indonesia Padel Report 2025 (dikutip via BusinessHub Asia dan Withasa)
Konde.co — Padel Elite Dibangun di Tengah Rakyat Sulit
Fakta Pers Media — Padel di Indonesia: Antara Tren Baru dan Potensi Risiko "Gelembung Padel" Seperti di Swedia
Kontan — Jumlah Kelas Menengah Turun Lebih Dalam di 2025
Tempo — Daya Beli 49 Persen Kelas Menengah Turun
Investor Trust — Ekonomi Indonesia Ditopang Kelas Atas, Daya Beli Menengah Bawah Kian Tertekan
Kompas Money — Lipstick Effect di Indonesia, Bukan Tanda Konsumsi Masyarakat Kuat
Magdalene.co — Ada Bias Kelas dalam Maraknya "Wellness Industry"
Bisnis.com — Peluang Kemitraan K Fitness yang Bidik Buka 10 Cabang Baru Tahun Ini